30.1.14

Selama di Jakarta

30.1.14

Selama di Jakarta

Turun dari kereta api, saya langsung membatin. Ini dia Pasar Senen, sebuah tempat di sudut Jakarta yang pernah cukup lekat dengan dunia premanisme. Setidaknya dulu, ketika kelompok Cobra pimpinan Bang Pi'i masih melegenda. Pria kelahiran 1923 ini masyhur karena berhasil mengorganisir preman-preman di kawasan Senen. Sosoknya mengingatkan saya pada Robin Hood. Ya, barangkali serupa itu. Bang Pi'i meninggal dunia karena sakit, di usia 47 tahun.

Lalu apa yang Mas Hakim lakukan selama di Pasar Senen?

Mencari si Bagus, kita sudah janjian. Setelah jumpa, lalu kita bertiga ngopi, menikmati malam di antara lalu lalang kendaraan. Ketika Dieqy bilang, "Sebentar lagi Mas Arys nyusul," kami memilih untuk bergeser ke pojok, di areal parkir motor.

Dan?

Dan, tak lama kemudian yang ditunggu datang. Kami berempat, dua motor, meluncur ke khost Arys di Jalan Gajah Mada, tepatnya di daerah Sawah Besar, tak jauh dari Harmoni Central Busway, Jakarta Pusat.

"Wah, itu kan tempatnya kupu-kupu malam menjajakan cinta?"

Arys tertawa mendengar ucapan spontan dari Bagus. Saya melongo, Arys mengangguk mengiyakan. Esok malamnya, ketika melintas sendirian menuju khost si Arys, barulah saya paham apa yang dimaksud. Wew, dunia malam. Mungkin ini ada hubungannya dengan keberadaan Sociƫteit Harmonie di masa yang lalu, tempat berkumpulnya orang Belanda untuk cangkruk'an, berdansa dan berpesta. Gedung yang berdiri di awal-awal abad 19 ini pada akhirnya dirobohkan -tahun 1985- demi perluasan jalan dan tempat parkir kantor Sekretariat Negara.

Esok harinya, Fawaz datang menjemput ke Yayasan Pantau, di perempatan Tepekong, dikenal juga dengan daerah Gang Seha. Tepatnya di Jalan Kebayoran Lama 18 CD. Jadilah hari itu saya dan Dieqy meluncur ke Rawa Belong, di rumah keluarga Fawaz. Di sinilah kami berteduh, di tanah si Pitung. Terima kasih, takkan terlupa.

Di hari yang lain, Bagus membawa saya mengelilingi Jakarta dari ujung ke ujung, dengan menunggangi motor bebek merk Jepang. Lihai sekali dia mengendarai motor, maklum sudah hampir delapan tahun dia tinggal di Jakarta. Asalnya dari Banyuwangi. Dia menetap di Jakarta sebab istrinya, Mulianty Deasy, tinggal di kota ini.

"Ojo usreg ae Mas."

Iya, waktu itu sulit bagi saya untuk duduk manis di jok belakang Bagus. Apalagi ketika melewati samping Ancol. Kadang di samping kanan ada truk gandeng, jaraknya dekat sekali dengan motor kami. Saya pikir, semisal kami bersenggolan sedetik saja, maka ceritanya akan menjadi sangat mengenaskan. Ah, rasanya seperti sedang dilirik oleh malaikat pencabut nyawa. Bagaimana bisa duduk tenang?

Pertama kali melewati Sarinah, saya bergumam, "Gedung ini dulu pernah sangat keren." Ya, Sarinah adalah pusat perbelanjaan dan pencakar langit pertama di Jakarta. Dibangun tahun 1963 di atas tanah yang terlalu lembek hingga butuh tiang beton yang panjang, dan baru diresmikan pada empat tahun berikutnya. Kini, bangunan setinggi 74 meter dengan 15 lantai ini tidak ada apa-apanya dibanding bangunan-bangunan baru yang lebih menjulang.

Kadang saya iri dengan Jakarta yang di setiap sudutnya sarat sejarah masa lalu, tak hanya didominasi dengan Kota Tua saja. Tapi saya heran, kenapa Jakarta Raya baru ditetapkan sebagai Ibukota Negara pada 1964?

Bukankah di sana selalu diintai oleh banjir?

Iya. Parah ya. Sebagai etalase sebuah negeri, idealnya Jakarta bebas dari banjir dan kemacetan. Ini penting, agar kita tak minder di pergaulan bangsa-bangsa. Masih ingat cerita dari Om Willy kan? Dia tinggal di Jepang. Setiap kali ada acara kenegaraan, Om Willy hampir selalu menemani mereka sebagai penerjemah. Siapapun dia temani, mulai orang kedutaan hingga Presiden. Katanya, "Utusan dari Indonesia, kalau sudah ada acara kumpul bersama seperti prasmanan, bisa dipastikan mereka akan ngruntel di pojokan dan berbincang-bincang sendiri."

Sangat disayangkan.

Jember bisa bercermin dari Jakarta, untuk tidak mencontoh Rencana Tata Ruang Wilayah yang eksploitatif tanpa mengindahkan kaidah lingkungan. Jika tidak, 20 tahun lagi kota ini mungkin akan menyerupai Jakarta dalam hal bencana dan keruwetan di bidang transportasi.

Jadi, bagaimana kisah selama mengikuti Kelas Jurnalisme Sastrawi?

Wew, Prit, itu tema yang berbeda. Tapi santai saja, sudah ada rencana menuliskannya di lain waktu. Lagi pula, minggu ini kita akan membicarakan itu -Jurnalisme Sastrawi- di acara CLBK on air. Tunggulah, sepertinya akan menjadi obrolan yang sangat menarik.

Yang menyenangkan ketika di Jakarta kemarin, ada kesempatan kopdar dengan rekan-rekan blogger. Awalnya berjumpa dengan Cacak'e Kiki, kemudian Mas Yoswa, kemudian sowan ke rumah Bunda Lily, dilanjut mampir ke rumah Bu Asita, kemudian kopdar rame-rame di rumah Bunda Lahfy; bersama Ami Osar, Mas Ridwan, dan Taufik. Kepada mereka saya bercerita tentang banyak hal, termasuk keterangan data diri saya di lembar absen. Di sana terpampang nama saya, RZ Hakim, dan di kolom keterangan ada tertulis, blogger dari Jember.

Tidak adakah kejadian konyol selama di Jakarta?

Ahaha, tentu saja ada. Jangan sekarang, ceritanya nanti saja. Butuh persiapan mental khusus untuk menuliskannya.

Hmmm, sudah ya.

Silahkan bertanya apa saja di kolom komentar, akan saya jawab semampu yang saya bisa. Terima kasih.

28.1.14

Nikmat Apa Yang Kau Dustakan

28.1.14

Berhasratlah pada sesuatu. Jatuh cintalah. Jalan-jalan, menikmati lagu, membuat buku, membaca lirik-lirik punk, atau apapun. Tidak baik jika terlalu sering memaki.

Prit memang tidak sedang memaki, dia bukan tipe perempuan seperti itu. Kalimat di atas hanyalah deretan kata usang yang pernah saya terbitkan di sosial media. Tapi melihat Prit yang resah sejak semalam, saya merasa butuh menenangkannya. Anggap saja kalimat usang itu hanyalah salah satu obat penenang yang semoga saja mujarab.

Ya, ini tentang #50FinalisSB2014. Prit tampak bahagia ketika mendengar kabar dirinya menjadi salah satu Finalis Srikandi Blogger 2014. Bahagia sekaligus cemas. Saya yang tadinya cuek melihat kecemasannya, akhirnya luluh juga.

"Apa yang harus aku ceritakan?"

Rupanya dia mencemaskan salah satu kewajibannya sebagai finalis. Menceritakan diri sendiri. Ini bersifat promosi, dan Prit merasa sulit untuk melakukannya. Entah karena tidak terbiasa, atau karena tidak percaya diri. Saya bilang, "Kenapa tak kau ceritakan saja tentang saat-saat ketika mengajar di MTS As-Syukriah Jember pada delapan tahun yang lalu? Satu tahun setengah, bukan pengabdian yang sangat panjang, tapi juga tidak bisa dikatakan sebentar." Prit menggeleng lemah.

"Atau kau ceritakan saja pengalamanmu selama menjadi sukarelawan bencana spesialis dapur umum." Lagi-lagi Prit menggeleng.

Semakin sering saya menawarkan ide, semakin sering pula Prit menggeleng. Aneh. Memang, tidak semua aktivitas sehari-hari bisa kita tuliskan dengan mudah di dalam blog, sekalipun blog adalah sebuah hardisk maya yang bisa kita jadikan bank data. Barangkali itu yang dirasakan Prit.

Selanjutnya, saya tak lagi urun ide pada Prit. Saya hanya mengatakan padanya, "Kau harus berani menulis. Tentu saja dengan tetap memberi penghargaan pada kebenaran, sekalipun itu hanya sebuah catatan sederhana."

Kali ini Prit tersenyum, manis sekali. Jadi ingat senyumnya kemarin malam, ketika dia menemani Mbak Etty Dharmiyatie memandu acara CLBK on air di Prosatu RRI Jember. Malam yang layak dikenang, kita bicara tentang pengalaman seorang Dian Susanto yang bertahan hidup di Gunung Semeru selama enam hari lima malam, di akhir bulan November 2006.


Prit dan Mbak Etty Dharmiyatie

Malam itu, ada banyak pelajaran hidup yang bisa saya petik dari Dian. Saya bahkan membuat prakata yang panjang di jejaring sosial, sesaat sebelum on air. Akan saya catatkan kembali di sini dalam format spoiler.

Tersesat dan Survive:

Kisah Pendaki Yang Bertahan Hidup Di Mahameru


"Apa yang membuat Anda bertahan hidup?" Pertanyaan itu saya lontarkan pada seorang pria muda kelahiran 20 Oktober 1984, Dian Susanto. Anggota Mahapala yang akrab dipanggil Stempel ini diam sejenak, lalu menjawab mantab.

"Karena saya memang harus bertahan hidup."

Jawaban singkat tersebut saya kejar dengan pertanyaan lain yang membola salju. "Apakah karena makan dedaunan? Apakah karena meneguk air di ujung daun? Apakah karena tidur di bawah pohon dengan kaki sengaja dipendam ke dalam tanah?" Dian Susanto tak segera mengangguk.

Ternyata ada yang lebih dari itu. Yang lebih membuatnya bersemangat untuk bertahan hidup. Dan itu adalah sebuah cerita tersendiri.

"Saya seperti mengalami halusinasi. Apalagi saat saya dalam kondisi antara masih terjaga dan hendak memejamkan mata. Semua dongeng yang pernah dikisahkan Ibu, terpampang kembali. Seperti sebuah slide"

"Cerita saat saya lagi kumpul-kumpul di sekret, kisah kawan-kawan saat mendaki, dan apa yang saya dapatkan saat mengikuti DIKLAT Mahapala, itu semua juga kembali saya ingat. Saya sudah pasrah seandainya Tuhan tidak memberi jalan untuk pulang. Tapi saya harus tetap ikhtiar, berdoa dan berusaha. Saya harus kembali pulang. Saya rindu berbagi cerita dengan saudara-saudara saya. Saya merindukan Ibu. Saya juga harus menemui Mia. Saya benar-benar ingin berbincang dengannya."

Itulah beberapa kalimat yang dulu pernah disampaikan Dian Susanto kepada saya. Tak ada yang menyangka jika pada akhirnya Dian Susanto menikah dengan Mia, seseorang yang begitu ia rindukan ketika tersesat selama 6 hari 5 malam di Gunung Semeru, di akhir bulan November 2006. Akhir yang manis.

Dari Dian saya belajar, bahwa menjadi pencinta alam adalah tentang mempersiapkan diri menghadapi hari-hari yang sulit, ketika uang tak lagi berguna.

Kembali ke Prit..

"Nah Prit, kau kan juga seorang pencinta alam. Bersiap-siaplah untuk menghadapi sesuatu yang sulit, ketika rasa percaya dirimu tenggelam, disaat kau membutuhkan keberanian untuk menceritakan diri sendiri. Tulis saja seperti biasanya kau menulis. Anggap kau sedang menulis tentang Bob Marley, Iwan Fals, atau Gabriel Omar Batistuta."

Sama halnya dengan meracik kopi, menulis juga butuh takaran yang pas dan efektif. Namun terlepas dari itu semua, satu hal yang paling kita butuhkan. Berani. Jika secara teori kita telah memahami bagaimana cara meracik kopi, maka akan menjadi sia-sia ketika kita tidak pernah berani memulai untuk membuatnya.

Wew, tulisan kali ini cerewet sekali. Tak apalah, sekali-kali, hehe.

Tuhan melengkapi diri kita dengan berbagai macam rasa. Takut, resah, minder, dan entah apalagi. Di saat kita bisa meramunya dengan pas, maka rasa takut bisa kita jadikan media untuk menempa diri hingga menjadi berani, minder berubah wujud menjadi percaya diri, dan hari-hari akan menjadi lebih indah.

Ketika kita telah sampai di puncak nurani, segalanya akan terlihat luas. Maka, nikmat apa yang kau dustakan?

Bersenang-senanglah Prit. Anggap saja kau sedang meracik kopi rasa rindu.

20.1.14

Marjolein van Pagee: Dulu Kakek Seorang Pejuang

20.1.14

Saya, Marjolein, dan Irma Devita. Dokumentasi oleh Dieqy Hasbi Widhana

Senja kemarin, di sebuah cafe di Jalan Antara, Pasar Baru, saya berkenalan dengan Marjolein van Pagee. Mengenakan kaos merah hati berpadu dengan baju lapisan tipis lengan panjang warna putih, dia terlihat anggun. Celana hitamnya tampak ketat seperti celana rocker, serasi dengan sepatu kets warna hitam. Gadis yang lincah, murah senyum, kidal, dan mancung. Melihat penampilannya yang enerjik, siapapun percaya jika dia bersemangat dalam melakukan perburuan tentang masa lalu kakeknya. Tapi ada satu hal yang membuat saya bertanya-tanya. Kenapa Marjolein van Pagee melakukannya? Apakah dia hanya sekedar iseng, ataukah ini yang dinamakan hasrat alami untuk berkenalan dengan hukum keadaan?

"Cepat atau lambat, kau akan rindu ingin mengerti sejarah kampung halamanmu sendiri, sebab itu adalah hukum keadaan."

Saya pernah menuliskan itu di twitter. Itu sudah setengah tahun yang lalu. Kini, saya mendapati gambaran tersebut pada seorang perempuan berambut pirang. Marjolein van Pagee datang ke Indonesia hanya untuk menelusuri sepak terjang kakeknya di era Agresi Militer - 1948 - ketika sang kakek melakoni hidup sebagai prajurit dari pihak Belanda. Tentu saja Marjolein harus ke Indonesia. Di negeri Belanda, cerita perang di jaman van Mook tak pernah diceritakan, dan tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Jika mereka melakukan pengakuan tentang aksi polisional tersebut, tentu bakal merugi. Ya, mereka terbukti sedang menggempur sebuah negara yang sudah merdeka.

"Itulah kenapa, pengakuan tanggal kemerdekaan Indonesia oleh Belanda adalah pada 27 Desember 1949, bukan pada saat Proklamasi dikumandangkan. Mereka kan nggak mau rugi." Kata-kata tersebut diucapkan oleh seorang Irma Devita, Notaris dan penulis buku-buku bertema hukum, sekaligus pemerhati sejarah di masa Agresi Militer. Pengakuan kedaulatan Indonesia baru dilakukan pada 16 Agustus 2005, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot. Di tahun yang sama, Jan van Pagee, kakek Marjolein, meninggal dunia.

Pada sang Ayah, Marjolein bertanya tentang kakeknya. Sayang sekali ayahnya hanya tahu bahwa si kakek pernah bekerja di Indonesia tepatnya di Jawa Timur, ketika usia kakek masih 20 tahun. Terlambat, rasa ingin tahu Marjolein van Pagee bertumbuh justru ketika Jan van Pagee telah tiada. Kelak, pada 2010, Marjolein melakukan perjalanan perdana ke Indonesia hanya demi memenuhi panggilan nuraninya. Dua tahun kemudian, dia kembali lagi ke Indonesia. Kunjungan berikutnya adalah saat ini, dimana saya berkesempatan untuk berkenalan dengannya.

Sebenarnya, perkenalan saya dengan seorang Marjolein dimulai pada awal 2011 yang lalu, di sebuah blog milik sahabat dari Jember. Dia biasa dipanggil Ajeng Herliyanti. Dalam catatan berjudul Bangunkan Aku di Bulan September, saya mengenal sosok Marjolein. Saya bahkan sempat berkomentar di sana. Dari situ, saya mulai memahami kenapa dia harus bersusah payah ke Indonesia dan menjadi detektif untuk masa lalu kakeknya sendiri.

Dari Ajeng Herliyanti;

"Saya masih ingat antusiasme Marjolein waktu bercerita tentang proyek ini. Salah satu ceritanya adalah bahwa tentara Belanda dilempari dengan senjata api oleh pribumi dari bukit landai antara Jember - Bondowoso. Yang menarik dari kisah tersebut adalah bahwa setelah kami berjalan pulang pergi melewati Jember - Bondowoso, beberapa bukit atau dataran yang kami jumpai mustahil untuk dijadikan tempat bersembunyi apalagi untuk menembaki Belanda. Tapi tiap ada dataran tinggi dalam perjalanan Jember-Bondowoso, dia tetap mengambil gambar. Kami hanya bisa berdalih, bahwa waktu telah merubah topografi daerah tersebut. Marjolein bersemangat dan terus bercerita kepada saya tentang kakeknya. Dia merasa bahwa kehidupan kakeknya yang belum pernah dia temui adalah juga bagian sejarah dalam hidupnya. Saya kagum dengan cara pandangnya. Kakek saya sendiri bernama Abdul Sukur. Beliau meninggal waktu saya berumur 9 tahun. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang bisa saya ketahui kecuali namanya, dan cerita-cerita tentang falsafah hidupnya dari Ibu saya."

Komentar saya di tulisan Ajeng Herliyanti;

"Tentu saja senang baca artikel ini. Mengingatkan kalau aku mbiyen kuliahe nang Sastra Ilmu Sejarah tapi untuk melacak jejak sejarah keluarga masih kalah jauh sama si Marjolein."

Kisah tentang Marjolein van Pagee sangat inspiratif. Dia semakin membuat saya percaya bahwa sejarah adalah bidang ilmu yang bisa dipelajari oleh semua orang. Hanya saja, institusi pendidikan membuatnya terlihat mahal. Ini belum selesai, sedikit lagi. Saya masih ingin bercerita tentang seseorang bernama Irma Devita.

Dulu Kakek kita seorang pejuang..

Irma Devita kecil nampak bangga ketika mengerti bahwa patung di pelataran PEMKAB Jember adalah sosok kakeknya. Rukmini, nenek Irma Devita, senang sekali menceritakan segala hal tentang suaminya, alias kakek Irma. "Dulu kakekmu seorang pejuang. Dia gugur di medan perang pada 8 Februari 1949, bersama dengan dr. Soebandi dan lain-lain."

"Nek, saat besar nanti, Irma janji akan menuliskan kisah tentang Kakek." Itu diucapkannya bertahun-tahun yang lalu, ketika Irma ada dalam gendongan Neneknya. Kini, ketika Irma Devita telah bertumbuh dewasa, menjadi seorang Ibu untuk Khalida Rachmawati, dia telah hampir merampungkan sebuah buku tentang perjalanan Letkol Moch. Sroedji, Kakeknya. Meski Neneknya telah meninggal hampir 14 tahun yang lalu, tapi Irma Devita tetaplah mewujudkan janji kecil dan mimpinya ketika masih bocah.

Hakekatnya, antara Irma Devita dan Marjolein van Pagee adalah sama. Mereka, dua perempuan yang sama-sama hendak memperlakukan masa lalu sang Kakek, dengan sebenar-benarnya. Bedanya, Kakek Irma Devita ada di pihak Indonesia, sedang Kakek Marjolein di pihak yang berseberangan. Dulu Kakek mereka saling bertempur, saling mengacungkan senjata. Senja kemarin, Irma Devita dan Marjolein van Pagee saling bercanda di suasana yang menyenangkan. Ada sebuah adegan dimana tangan kiri Irma Devita tak sengaja nyampluk cangkir berisi minuman hangat. Duduk di samping kirinya si Marjolein yang sedang melahap mie. Air dalam cangkir pun tumpah, mengenai kemeja Marjolein. Irma Devita sibuk meminta maaf, Marjolein sibuk melempar senyum sambil berkata, it's Ok.

Di waktu yang lain, Irma Devita menerjemahkan banyak hal, baik kepada saya maupun kepada si Marjolein. Sepatah dua patah kata, Marjolein van Pagee mulai bisa mengucapkan sesuatu dalam Bahasa Indonesia. Saya jadi teringat Janet Steele, seorang profesor perempuan berwarga negara AS yang pandai berbahasa Indonesia. Kiranya, saya juga butuh memahami bahasa mereka.

"Marjolein, bisa jadi dulu Kakek kita saling baku tembak dalam sebuah pertempuran di Jawa Timur."

Marjolein van Pagee manggut-manggut, tersenyum. Lalu kami semua tertawa renyah. Max van Der Werff, seorang peneliti masalah War Crime yang duduk di samping saya, dia juga ikut tertawa. Tidak mudah merangkai sejarah dari dua sisi, duduk dalam satu meja, dan hanya disatukan oleh sebuah bross kecil yang melambangkan bendera Indonesia yang bersanding dengan bendera Belanda. Tapi mereka bisa. Salut buat Ady Setyawan ST, dari Komunitas Roode Brug Soerabaia, dan rekan-rekan lain dari Jakarta, Bandung, Bekasi, dari Jakarta Post, serta yang lain lagi, saya lupa tidak mencatat dari komunitas mana saja mereka.

Mereka berkumpul dan saling menyulam sejarah. Indah sekali.

Sekitar pukul setengah delapan, diskusi tersebut usai. Anhar Gonggong urung datang. Namun salah seorang dari peserta diskusi mengingatkan bahwa diskusi kecil ini tetap mendapat dukungan moral sepenuhnya dari Anhar.

Acara yang bergizi. Senang bisa menjadi bagian diantara mereka. Terima kasih Mbak Irma. Kiranya tepat sekali keputusan saya dan Dieqy untuk menunda kepulangan ke Jember. Untuk Marjolein van Pagee, kawan-kawan Jember menanti kehadiranmu. Kabar baik ini juga telah terdengar oleh Ajeng Herliyanti, orang yang pernah menemanimu melakukan riset hingga ke Bondowoso tiga tahun yang lalu.

"Waktu kita tidak banyak, para penutur sejarah semakin sedikit. Adalah tugas kita untuk melakukan pencatatan sebaik mungkin, dan dengan sebenar-benarnya."

Sudah. Saya dan Dieqy hendak packing. Beberapa saat lagi, kami akan meluncur pulang ke Jember, sebuah kota kecil yang sungainya pernah berwarna merah, di suatu masa yang lampau.

19.1.14

Namanya Romey Daniel

19.1.14
"Dipegang militer aja nggak bener apalagi dipegang sama bukan militer," betul kan Mas? Sambil mengemudi, Romey Daniel tampak bersemangat mengatakan itu. Saya diam, tidak berusaha menimpali argumentasi lelaki Jakarta keturunan Batak ini. Sesekali, saya memandang argo yang terus berjalan.

Sebenarnya saya tidak mengenalnya. Mengetahui namanya saja dari identitas karyawan Taksi Express yang terpampang di sisi kiri depan dekat kaca mobil. Romey Daniel, itu dia namanya. Romey adalah lelaki yang mudah sekali diajak bicara. Ketika saya menanyakan pendapatnya tentang bagaimana kinerja Jokowi, dia bilang, Jokowi orang yang baik, dan dia layak diberi waktu untuk menata Jakarta. Tidak baik untuk menempatkan Jokowi sebagai Presiden di saat warga Jakarta masih membutuhkannya. Apalagi, Jokowi orang sipil. Musuh politiknya banyak yang dari militer.

Romey sempat bercerita tentang sosok Almarhum Ayahnya yang seorang Kapten AL. Kiranya inilah alasan kenapa Romey berkata, dipegang militer aja nggak bener apalagi dipegang sama bukan militer. Entah kenapa, waktu itu saya sedang tidak bersemangat untuk menimpali argumentasinya. Satu-satunya yang ingin saya lakukan - kemarin - hanyalah menjadi penumpang taksi yang baik, dari Kemanggisan menuju Cempaka Putih.

Jakarta banjir di beberapa titik. Romey tampak sibuk mencari rute terbaik untuk menghindari luapan air. Dia menghindari jalan ke arah Tanah Abang, dan lebih memilih untuk masuk tol Slipi 2. Saya diam pasrah. Sepertinya Dieqy juga begitu. Dia duduk di belakang, sulit untuk mencari tahu bagaimana ekspresi wajahnya.

Masuk gerbang tol, saya merogoh duit 8000 rupiah. Di atas jalan tol itulah Romey kembali bercerita tentang dirinya.

"Saya baru tiga bulan aja sih pegang taksi ini. Enak Mas, sistemnya kredit. Tiap hari saya harus setor 350 ribu. Ntar kalau dah 6 tahun, mobil ini dah jadi milik saya. Plat diganti yang warna item. Ntar pasti orang Jember pada mau beli mobil ini."

"Ohya, Mbak Niken itu siapa Mas? Tadi yang pesen taksi atas nama Mbak Niken kan?"

Lalu saya bercerita pada Romey Daniel tentang dunia blog. Tentang perjumpaan beberapa blogger sebelum saya naik taksi, tentang keluarga Mbak Niken a.k.a Bunda Lahfy, tentang Ami Osar, tentang Mas Ridwan, tentang Mas Taufiq, dan tentang apa yang biasanya ditulis oleh seorang blogger.

"Cobalah untuk membuat blog."

Romey tertawa renyah, dengan pandangan tetap fokus ke depan. Dia senang membaca tapi tidak tertarik untuk menulis.

"Kalau saya senang menulis, pastilah saya akan menjadi penulis. Pertanyaannya sama dengan begini. Kenapa saya jadi sopir taksi? Karena saya hobi nyetir Mas."

Benar. Apapun yang kita kerjakan dengan senang hati pastilah akan mendatangkan kebahagiaan. Lelaki berusia 40an yang senang mengenakan kacamata dan tampil necis ini mengingatkan saya sambil nyetir.

"Kenapa Mas nggak coba menulis dari sini saja? Jakarta kan lebih menjanjikan. Istri bisa ditinggal di Jember sementara waktu. Nanti kalau Mas sudah sukses kan tiap dua minggu sekali bisa PP Jakarta - Jember. Atau sekalian keluarga diboyong di sini. Mas pernah dengar nama Alberthiene? Dia langganan saya. Kemana-mana naik taksi, saya yang anter. Lumayan, sekali kasih duit bisa 400 sampai 500 ribu. Dia itu penulis yang sukses lho. Dia senang menulis biografi orang-orang terkenal. Kabarnya sekarang dia lagi sibuk menulis buku untuk istrinya SBY. Coba deh Mas."

Saya tidak kasih komentar, hanya tersenyum saja.

Selama perjalanan, saya melihat Romey marah beberapa kali. Contoh, ketika ada taksi beda warna yang mencipratkan air ke arah orang-orang di halte. "Juamput! Kurang ajar tuh. Gimana mau dapat rejeki kalau caranya aja nggak bener." Tentu saja saya kaget. Tadi dia bilang juamput. Kok? Kemudian saya menanyakannya. Dari Romey saya mendapat jawaban, dulunya dia pernah kerja antar mobil. Sering keluar kota. Malang, Jogja, Surabaya, dan lain-lain. Oh, pantes. Juamput!

Lengang. Saya memandang Jakarta dari dalam taksi. Di luar sana hujan belum puas menerpa wajah etalase Indonesia ini. Saya merenung. Kalau nggak banjir bukan Jakarta namanya. Benarkah? Ah, tidak. Saya tidak percaya. Masalah ini pasti bisa diselesaikan.

"Jokowi baru menjabat Gubernur, eh banjirnya sudah datang. Cepet banget. Belum lagi mikirin macet."

Lagi, saya hanya diam. Saya berpikir jauh ke belakang, di masa Gubernur Soemarno Sosroatmodjo. Selang sehari dari upacara pelantikan Soemarno sebagai Gubernur Jakarta pada 9 Februari 1960, terjadi banjir besar di Jakarta. Tujuh kelurahan terbenam banjir, dan 40.704 jiwa memerlukan bantuan. Curah hujan tercatat 75 mm dalam dua belas jam. Grogol, daerah perumahan baru, dan tempat tinggal para anggota Parlemen, justru menderita paling parah karena air masuk ke dalam kamar-kamar sampai sepinggang.

Sebelumnya, telah ada rencana pembuatan waduk Pluit sebagai sarana pencegahan banjir, tapi belum terlaksana hingga banjir kembali menerjang. Setelah itu, anggaran dana untuk Pluit mulai ditentukan, bahkan meliputi sarana-sarana lain seperti pengerukan sungai, dimulai dari muara sungai, dari laut naik ke hulu. Kapal keruk pun disediakan. Proyek Pluit sepenuhnya dikerjakan oleh Komando Proyek Pencegahan Banjir Jakarta Raya (Kopro Banjir), sedangkan pemindahan penduduk dilakukan bersama dengan Otorita Pluit. Pengerukan dan pembuatan tanggul Kali Angke pun dikerjakan, begitu pula pembuatan waduk Setiabudi, yang berfungsi sebagai tempat penahan air hujan untuk sementara. Konsekuensinya, waduk yang sedemikian itu secara berkala harus dibersihkan dan dirawat agar kedalamannya tetap, tidak menjadi dangkal. Proyek Pluit meliputi tanah seluas 495 hektar, 105 hektar diantaranya untuk waduk atau danau buatan, yang akan dipergunakan sebagai tempat rekreasi pula, 141 hektar untuk daerah industri, dan 66 hektar untuk tempat kediaman penduduk, terutama untuk penduduk yang tempat pekerjaannya berada di wilayah itu, seperti pabrik, kantor dagang, villa, dan sebagainya.Pembuatan tanggul laut, gedung pompa, saluran Gang Opek, jalan-jalan dan saluran-saluran kecil tercakup pula.

Jika dilihat dari jarak antara pelantikan dan datangnya banjir, tentunya jaman Soemarno lebih parah. Tapi dulu belum ada media online. Tak ada jejaring sosial. Kabar lebih lambat datang ke daerah-daerah. Tidak seperti sekarang, hidup menjadi serba cepat dan sedikit ribet. Bahkan ketika Jokowi jalan-jalan di Monas saja sudah menjadi berita.

Perihal penanganan banjir, barangkali kita bisa mencontoh apa yang dulu pernah dilakukan Soemarno. Tapi saat ini, orang-orang di Jakarta lebih senang membicarakan tentang film Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta setelah Soemarno Sosroatmodjo.

"Jancok!"

Taksi balik arah, menuju pos penjaga. Romey marah-marah pada security yang menjaga pos di Cempaka Putih karena salah memberi informasi tentang JL. Cempaka Putih tengah I, tapi si penjaganya sudah ngacir entah kemana. Saya tak jadi meneruskan perenungan tentang Jakarta tempo dulu. Romey bilang, "Ya begini ini Jakarta Mas, masih ada saja orang yang ngawur memberikan informasi." Dalam hati saya bersyukur, sejak pertama datang, selalu menemukan orang-orang yang ramah dan baik hati, sebaik Romey Daniel.

Saya kirim sms ke Mbak Irma Devita. Saya bilang saya lupa alamat rumahnya. Mbak Irma segera menelepon. Lima menit kemudian, taksi yang dikemudikan Romey berhasil mengantarkan saya dan Dieqy ke tujuan. Kami sedang menuju ke rumah keluarga Ibu Puji, putri bungsu Letkol Moch. Sroedji, orang yang ditokohkan di Jember, yang patungnya ada di pelataran PEMKAB.

Argo sudah saya bayar, tapi Romey tak lekas pergi. Belum ada yang membuka pintu pagar. Bel sudah saya pencet berkali-kali. Romey terlihat khawatir. Sesekali dia melirik kardus yang kami bawa, yang membasah oleh rintik hujan. Ketika saya bilang kami baik-baik saja, barulah Romey melajukan taksinya.

Ternyata mati lampu. Pantas bel tidak berfungsi. Syukurlah tadi saya sudah menghubungi Mbak Irma Devita. Oleh Mbak Irma, kedatangan kami disampaikan ke orang tuanya. Papanya Mbak Irma yang membukakan pintu pagar. Saya jadi sungkan.

"Tadi malam banjir Kim, airnya naik sampai ke lantai," kata Papanya Mbak Irma.

Saya ingat ketika Presiden Soekarno memetakan Cempaka Putih untuk menjadi sebuah kota tersendiri, dimana nanti akan ada villa, warung-warung, serta ruang perbelanjaan di dalam kompleks perumahan. Itu di awal tahun 1960an. Kini Cempaka Putih tampil mentereng. Tapi banjir tetap menyapanya. Setidaknya, akses menuju Cempaka Putih banyak yang terendam banjir. Saya bersyukur pernah menjadi penumpang di taksi yang dikendarai Romey Daniel. Dia handal mencari rute terbaik, dan sama sekali tidak terlihat sedang memolor-molorkan argo. Entahlah, tapi saya mempercayainya.

Semisal Romey punya blog, pastilah menarik. Dia bisa menulis tentang Indonesia dari balik kemudi. Bisa jadi, suatu hari nanti Presiden negeri ini adalah seorang sopir taksi yang berpengalaman, yang paham arah, dan mengerti kemana seharusnya membawa Indonesia.

3.1.14

Ketika Harus Mengingat Jakarta

3.1.14
Waktu itu Hutomo Mandala Putera masih buron, terkait kasus penembakan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita pada 26 Juli 2001. Suatu hari sepulang dari makan malam, saudara saya mengarahkan mobilnya di sekitaran bundaran Jalan Cendana. Maksudnya, hendak sekalian mengajak saya jalan-jalan. Oleh salah seorang Brimob, mobil yang saya tumpangi dianjurkan untuk kembali. Dari balik jendela mobil, bisa saya lihat dengan jelas bagaimana pasukan bersenjata dalam melakukan penjagaan. Terilihat sangat ketat, seperti adegan film saja.

Itu sudah hampir 13 tahun yang lalu. Setelahnya, saya tak pernah lagi ke Jakarta.

Sejarah Singkat Jakarta:

Perkenalan pertama saya dengan Jakarta dimulai ketika SD. Tadinya wilayah ini lebih dikenal sebagai kota pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa. Itu sudah lama sekali, di zaman kerajaan Hindu Pajajaran. Hanya itu yang saya ingat. Barusan saya googling, dan berjumpa dengan sebuah data yang mengatakan bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di Penjaringan, Jakarta Utara. Wilayah yang strategis, Portugis pun jatuh cinta dengan Sunda Kelapa.

22 Juni 1527 ditetapkan sebagai Hari Lahir Jakarta. Penetapan ini berdasarkan peristiwa pertempuran antara Portugis dan pasukan yang dipimpin oleh Fatahillah (Demak dan Cirebon). Portugis berhasil dipukul mundur oleh Fatahillah. Peristiwa ini juga ditandai dengan adanya nama baru bagi Sunda Kelapa, yaitu Jayakarta. Artinya, kemenangan yang sempurna.

Di masa pendudukan Belanda, Jayakarta dikenal dengan nama Batavia, dalam waktu yang sangat lama (sejak masa Jan Pieterszoon Coen pada 1619, ketika dia meratakan Jayakarta dan membangun kota baru, diberi nama Batavia). Ketika tanah air jatuh ke tangan Jepang, nama Batavia diganti lagi menjadi Jakarta. Bentuk bahasa Melayunya, yaitu Betawi, masih tetap lestari sampai sekarang.

Sejarah yang panjang. Paparan di atas hanyalah garis besarnya saja.

Kedatangan saya ke Jakarta pada 2001 adalah untuk menemani Almarhummah Ibu dan Kakak perempuan saya ke sebuah acara keluarga di Ciputat. Kami berangkat bertiga, naik bus Lorena. Di sana saya hanya bertahan dua minggu saja. Lalu pulang sendirian, naik Lorena. Ibu dan Kakak masih di Ciputat, bersama saudara. Nah, dari sini cerita dimulai.

Saya sudah tiba di Terminal Lebak Bulus pukul delapan pagi, satu jam sebelum keberangkatan. Saya tidak ingat, tanggal berapakah tepatnya. Yang saya ingat hanya satu, ketika itu hari minggu. Saya membeli harian kompas untuk menikmati waktu. Koran tersebut saya baca di dekat bus yang hendak saya naiki. Menyenangkan juga, duduk diantara karyawan bus sambil menenteng koran. Saya jadi memiliki sebuah alat sosialisasi, koran. Selanjutnya, saya baca kolom humaniora. Sisanya dibaca banyak orang. Ada dua orang berseragam Lorena, mereka saling berebut untuk membaca kolom sepak bola.

Sudah pukul sembilan pagi, kotak-kotak snack sudah dinaikkan ke atas bus, tapi kendaraan besar ini tak kunjung diberangkatkan. Aneh, pikir saya. Lebih aneh lagi, setelah hampir tiga jam menunggu, bus tak juga berangkat. Ketika saya tanyakan ke sopir, dia bilang masih menunggu satu penumpang lagi. Sudah dihubungi oleh pihak Lorena. Kata perwakilan keluarga, orang yang dimaksud telah meluncur ke lokasi sejak pagi.

"Maklum Mas, ini kan Jakarta. Mungkin terjebak macet. Kasihan kalau ditinggal."

Saya mengerti, lalu tak lagi bertanya-tanya. Tampak di sekitar saya wajah-wajah resah para calon penumpang tujuan Jember. Saya juga resah, gerah, sumuk. Lalu saya membuka jaket. Kini saya hanya menggunakan kemeja kotak-kotak dengan saku di sebelah kiri. Seorang kondektur menatap saku saya lekat-lekat. Ada apa ya? pikir saya. Di saku saya hanya ada tiket Lorena Jakarta - Jember berwarna merah. Si kondektur semakin menatap lekat-lekat ke arah saku kemeja yang saya kenakan. Saya salah tingkah. Tiba-tiba dia berkata lantang.

"Namanya Hakim ya?"

Saya mengangguk bingung. Kenapa dia tahu nama saya? Si kondektur bus melanjutkan ucapannya. Dia bertanya pada saya, apakah sudah daftar ulang? Saya semakin bingung. Ngapain daftar ulang? Saya toh tidak sedang mendaftar sekolah. Melihat ekspresi wajah saya, si kondektur mengambil sikap. Tiba-tiba saja dia merogoh saku kemeja saya, mengambil tiket, lalu mengajak saya menuju kotak kecil penjualan tiket. Kami berjalan seperti setan. Sesampainya di sana, ada beberapa lembar yang harus saya tanda tangani, lalu tiket warna merah berganti menjadi putih. Nah, tiket putih itu yang kemudian saya pegang.

Selesai. Kami kembali ke tempat. Si kondektur tidak berkata apa-apa ke saya. Dia hanya senyum-senyum sendiri, sesekali menggelengkan kepala. Sesampainya di lokasi, kami dianjurkan untuk segera naik ke dalam bus.

Banyak pasang mata yang memandang wajah saya. Saya menunduk, tak berani menatap wajah siapapun. Malu? Tentu saja. Bayangkan, orang yang disangka terjebak macet, yang sukses menahan mundur keberangkatan bus Lorena selama tiga jam, orang itu adalah saya.

Kursi yang saya duduki ada di nomor A-1, depan sendiri di pojok kiri. Sebelah saya kosong, hanya ditempati oleh koran yang sebelumnya menjadi media sosialisasi yang manis. Kemudian, apa yang saya lakukan? Saya pura-pura baca koran. Kadang pura-pura tiduran. Sesekali Pak Sopir mencuri pandang ke arah saya lewat kaca spion tepat di atas kemudi. Tingkahnya persis seperti kondektur yang mengerti nama saya. Senyum, dan geleng-geleng kepala. Tapi saya pura-pura tidak tahu.

Sekian lama saya tersiksa, menahan malu dan menahan rasa kebelet pipis, sungguh menyiksa lahir dan bathin. Ada kamar kecil di belakang sana. Untuk melangkah ke sana rasanya jauh. Syukurlah, akhirnya bus berhenti di sebuah rumah makan. Semua turun, kami makan di sana. Ini salah satu layanan bus.

Turun dari bus, saya tidak segera mengambil jatah makan, melainkan mencari kamar mandi. Ya, kamar mandi adalah sesuatu yang sangat saya rindukan saat itu. Alhamdulillah, nemu. Untuk sesaat, saya bisa tersenyum bahagia.

Ketika masuk ruang rumah makan, hati saya ragu. Satu dua pasang mata memandang saya. Mungkin mereka masih sebal, atau lebih parah lagi, mendendam. Entahlah. Tapi perut saya sedang menuntut hak untuk diisi makanan. Lapar membuat saya berani menuju ke arah makanan yang disajikan secara prasmanan. Selesai. Saya sudah mengambil jatah makan. Tapi saya harus duduk dimana? Lalu saya melangkahkan kaki ini untuk keluar ruangan, berharap bisa menemukan tempat yang sepi.

"Mas Hakim, sini lho, gabung."

Suara itu datangnya dari seorang perempuan paruh baya. Dia sedang duduk di sebuah meja bersama suami dan kedua anaknya. Mereka semua tersenyum ke arah saya. Saya membalas kebaikan mereka dengan menuju ke mejanya dan urung mencari tempat yang sepi. Ah, ternyata semua penumpang mengerti nama saya. Bersama mereka, saya tidak banyak bicara. Hanya ketika mereka bertanya, saya jawab dengan ramah, tapi dengan kalimat-kalimat yang singkat. Saya masih malu.

Bus kembali berangkat menuju Terminal Tawang Alun Jember. Saya kembali ke posisi, di bangku depan sendiri nomor A-1. Di tengah perjalanan, saya kebelet pipis. Mau melangkah ke belakang, malu. Kalau rasa ini tak segera dituntaskan, mungkin dampaknya akan lebih buruk lagi. Ngompol. Ah tidak, saya tidak ingin berada di posisi yang semakin runyam. Lalu saya memberanikan diri untuk menoleh. Hmmm, rupanya hampir semua penumpang memejamkan mata. Segera saya menuju ke belakang, ke kamar kecil di atas bus. Iya, hampir semuanya memejamkan mata. Ruang 'bebas merokok' juga kosong. Suasana yang baik untuk saya. Segera saya masuk kamar kecil untuk memenuhi panggilan alam. Selesai. Alhamdulillah, lega. Ketika hendak membuka pintu kamar kecil, ada sesuatu terjadi pada bus.

"Ciiiiiit...!"

Entah karena apa, tiba-tiba bus berhenti mendadak. Saya terjungkal keluar dengan posisi yang memalukan. Diantara kaki-kaki para penumpang, saya berusaha sesegera mungkin untuk berdiri. Semua penumpang terbangun tapi tidak ada seorang pun yang sempat membantu saya. Mereka sibuk tertawa, seperti tak peduli pada apa yang terjadi dengan bus. Ya, mereka tertawa sebab saya terjungkal, tengkurap, berusaha berdiri, terhuyung, dan hampir terjatuh lagi. Hiks. Satu-satunya zona nyaman selama perjalanan adalah bangku A-1, kesanalah saya melangkah.

Ketika telah duduk di pangkuan A-1, ada saya dapati sopir bus sedang memperhatikan saya lewat spion. Dia terkekeh, sepertinya bahagia. Itu adalah tawa kolektif yang mereka tahan sejak berjam-jam yang lalu. Saya mencoba mengerti, tapi rasa malu tak bisa saya enyahkan.

Siksaan malu masih belum juga usai ketika bus sudah parkir di Terminal Tawang Alun Jember. Keluarga yang tadi mengajak saya duduk satu meja saat makan, menyalami saya. Anaknya yang paling kecil, perempuan, dia mencubit pipi saya. Kata Ibunya, si kecil gemas. Ah..

Dua orang penumpang yang tadi duduk tepat di seberang saya, laki-laki dan perempuan, mereka menawarkan diri untuk mengantar saya hingga ke tujuan. Mereka bilang, ada saudara yang menjemput naik mobil. Saya menggeleng lemah sambil mengucapkan terima kasih.

Pak sopir menghampiri saya, mengulurkan telapak tangan kanannya. Saya menerima uluran jabat tangannya. Dia tidak berkata apa-apa, hanya bersalaman, lalu pergi. Saya bahkan tidak tahu apa maksud jabat tangan itu.

Aneh, banyak orang tiba-tiba ramah kepada saya. Padahal, saya telah merampok waktu berharga mereka, tiga jam. Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa kembali, dan tidak bisa dihargai dengan apapun. Tapi mereka seperti telah melupakan kekonyolan 'tidak terencana' yang saya ciptakan.

Kemudian saya pulang.

Beberapa jam lagi, saya dan Dieqy meluncur ke Jakarta, menuju Yayasan Pantau di JL Kebayoran Lama 18 CD, seperti yang saya tuliskan di sini. Saya memilih untuk naik kereta api saja, hehe.

Dan saat ini, dikala sedang menikmati secangkir kopi, tiba-tiba saya kembali teringat di masa yang lalu, ketika ada di bangku Lorena nomor A-1.

Salam saya, RZ Hakim.

1.1.14

Jember, 1 Januari 2014

1.1.14
Ini tentang pertanyaan-pertanyaan Prit kepada saya. Pertanyaan yang banyak, tidak semua bisa saya jawab, dan tidak semua saya tuliskan di sini. Tentang Jember, sungai Bedadung, lagu, Gumuk, capung, hutan, lautan, pelangi, tembakau, kopi, orang-orang Jember tempo dulu, dan tentang mertuanya sendiri. Tulisan yang ringan saja, sekaligus untuk menyambut datangnya tahun baru masehi.

"Mas, katanya, tanggal 1 Januari ini, Jember merayakan hari lahirnya yang ke-85. Apa benar?"

Saya mengulum senyum, tak segera menjawab pertanyaan Prit. Memang, sejarah Kabupaten Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928. Itu dijadikan dasar hukum, dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1929. Tanggal pemberlakuan ini kemudian disepakati menjadi Hari Lahir Kabupaten Jember.

Saya bilang, "Selama itu masih disepakati bersama, dihargai saja Nduk."

"Ohya Mas, kenapa sih ada cerita rakyat tentang Bedadung? Apa benar, jika pendatang mandi di sana, dia akan berjodoh dengan warga Jember?"

Kali ini saya tidak mengulum senyum lagi, melainkan terkekeh. Jadi ingat guyonan anak-anak khost, "Ati-ati, ojok adhus nang Bedadung mengko kecantol wong Njember." Kepada Prit saya katakan, setiap folklor itu bersifat mirip dengan cerita-cerita rakyat di daerah lain. Karena sifatnya yang tutur tinular dan kadang di luar logika, sulit untuk menerjemahkan cerita rakyat di ranah publik. Jadi, kita harus memandangnya dari berbagai sisi. Kadang, sebuah riset folklor bisa menarik riset-riset yang lain, yang bersifat ilmiah.

Sisi yang bisa kita ambil dari cerita rakyat adalah pesan moral dan filosofinya. Kita juga harus bisa menafsirkannya secara kaya. Misal, kata 'berjodoh' dengan orang Jember. Jika kita hanya memahami kata 'berjodoh' secara sempit saja, maka hasilnya juga akan terlihat sempit.

"Di lagu ciptaan Mas Hakim, ada yang berjudul Ai eLof Jember. Kenapa harus membuat lagu tentang Jember?"

Saya katakan pada Prit, menciptakan lagu itu seperti mengembara ke dalam hutan. Jika waktunya tepat dan sedang bersemangat, semua tampak indah dan mudah. Asal tidak lalai dan meninggalkan sampah di sembarang tempat. Lagu itu mendapat apresiasi. Ada kritik, ada pula kritik pedas. Ada yang bilang, kenapa di lirik lagu itu harus ada Persidmania, Musik Tradisional Patrol, dan Tari Lahbako? Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari lagu tersebut, terutama oleh penciptanya. Iya, saya sendiri. Dalam dunia kekaryaan, refleksi bukan hanya baik, tapi sebuah kebutuhan.

"Bagaimana dengan Gumuk?"

Jika Gumuk di Jember terus ditambang secara membabi buta dan penyelenggara daerah tidak melakukan apa-apa, itu sama artinya mereka sedang memberikan ancaman keselamatan pada warganya. Gumuk, atau bukit-bukit kecil, atau gundukan yang menjulang ke langit, atau apalah namanya, sangat lekat dengan kondisi geografis Jember yang berada di antara Gunung Raung dan Argopuro. Dari 31 Kecamatan yang ada di Jember, sedikitnya 6 Kecamatan berbatasan langsung dengan Laut Selatan. Itu adalah Tempurejo, Wuluhan, Ambulu, Puger, Gumukmas dan Kencong. Wilayah ketinggian Jember ada di bagian Utara. Di sini gumuknya menjulang lebih tinggi. Jika gumuk-gumuk di sini juga habis, maka pengaruhnya akan sangat dahsyat untuk wilayah Jember keseluruhan, tak terkecuali Jember Selatan. Dampak yang paling mudah dirasakan adalah dari sektor pertanian. Ketika angin tak lagi ramah, maka kabar tentang gagal panen akan semakin sering kita dengar.

Kita ingat-ingat saja, selain sebagai daerah resapan air, ruang hidup keanekaragaman hayati, rekreasi, gumuk juga penetralisir atau pemecah angin yang alami.

Ada baiknya untuk memahami gumuk tidak sebatas pada nilai gumuknya saja, melainkan memahaminya secara keseluruhan. Baik dari sisi ekonomi, ekologi, politik, budaya, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Mari kita sama-sama mencari konsep ekonomi pembangunan berkelanjutan, tanpa harus meratakan gumuk.

"Huff.."

Prit menghela napas, lalu terdiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Tiba-tiba saya teringat pesan rekan-rekan blogger. Prit tidak baik jika ada di kondisi tertekan, nanti asmanya kumat. Kemudian, saya sudah sibuk menghiburnya. Lebih tepatnya, menjahilinya.

"Kenapa Mas Hakim senang menceritakan masa kecil dan orang-orang terdekat?"

Gantian, sekarang saya yang menghela napas. Kepada Prit saya katakan, saya tidak suka sejarah. Prit melongo sambil berkata, "Lhoo.."

Iya saya mengerti, dia terlihat heran dengan jawaban saya. Padahal latar belakang pendidikan saya sejarah. Selama ini dia tahunya saya suka sejarah. Saya lekas-lekas meralat kalimat sebelumnya. Saya katakan, saya tidak suka sejarah pada umumnya, dimana yang tampak seakan-akan hanya hal-hal yang berbau politik, pergantian kepemimpinan, kenegaraan, kerajaan, dan perang. Lihat, semua itu tampak sangat menyebalkan. Lebih sebal lagi jika data-data yang tercatat sama sekali tidak memberi kehormatan kepada kebenaran.

Saya ingin sesuatu yang lebih fresh, dimana sejarah terlihat sedikit seksi. Meskipun tetap memperhatikan ruang dan waktu, dan tetap (harus) memegang teguh kebenaran, ketika dibaca tidak terkesan kaku. Jika sudah seperti ini, akan lebih mudah memperkenalkan sejarah pada generasi setelah kita. Apalagi jika mereka tahu bahwa itu tidak bohong. Bagaimanapun, kita butuh tahu cara memperlakukan masa lalu, agar bisa menatap hari ini (dan masa depan) dengan lebih mesra.

"Mas, hari ini Bapak ulang tahun yang ke-64 ya?"


Katanya, tahun tidak pernah berulang? Saya menggoda Prit. Dia buru-buru meralat ucapannya. Kata ulang tahun dia ganti menjadi hari lahir.  Hehe, padahal saya hanya bercanda.

Iya benar. Sebagai kadonya adalah sebuah tulisan berjudul Durahem. Di KTP tertulis hari lahirnya, 1 Januari 1950. Angka yang cantik. Bapak terlahir prematur, perkembangan masa balitanya memprihatinkan. Kerdil, dan baru bisa berjalan ketika berusia antara 6 hingga 7 tahun. Namun begitu, Bapak masih percaya bahwa dia ada di dalam kandungan selama 12 bulan.

"Apalagi yang Mas Hakim tahu tentang Bapak?"

Dia pensiunan PNS. Dulu bekerja di DPU Bina Marga Seksi Jember, sejak 1972. SK baru turun tahun 1980, dan pelantikan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 April 1981, dengan NIP. 510059228.

"Jangan yang angka-angka dong Mas."

Hmmm.. Ketika remaja, dia rajin berolahraga. Mungkin malu, perkembangan tubuhnya lambat. Tak dinyana, dia pandai bermain sepak bola. Tubuhnya berkembang normal, mengejar pertumbuhan tubuh kawan-kawan seusianya.

Oleh Bapaknya, Sura'i, dia dipaksa untuk berlatih pencak. Dia tidak suka, tapi tak berani mengatakan itu secara langsung. Ketika dia sudah besar, menikah, dan memiliki dua orang anak, perempuan dan laki-laki, anak lelakinya dia paksa juga untuk mempelajari pencak. Hanya sebelas jurus katanya. Anaknya tak menolak, tak juga mengiyakan. Hanya saja, si anak pandai menghindar setiap rabu malam datang. Rabu malam adalah malam pesta pora para penjudi Porkas (SDSB), juga malam berlatih pencak.

"Mertuamu, Abdul Rohim dan Almarhummah Kardiyati, mereka menikah pada 21 Januari 1974. Akad nikah bertempat di Genteng, Banyuwangi, dengan Mahar berupa uang 1000 rupiah dibayar tunai."

Prit diam. Tampak sekali jika dia sangat menikmati kisah yang saya tuturkan.

"Harusnya, 21 Januari nanti adalah 40 tahun usia pernikahan mereka ya Mas."

Saya katakan kepada Prit, itu hanyalah tentang angka-angka. kepadanya saya ingatkan sebuah kalimat yang sangat saya sukai, bahwa satu jam yang dimanfaatkan secara manis dan benar, itu akan lebih berarti dibanding sepuluh tahun tanpa berbuat apa-apa.

Ada jeda yang panjang. Kami masih di atas kasur, saling bicara. Kini diam. Hening. Masing-masing dari kami sibuk menatap langit-langit kamar. Lalu, dengan kalimat yang tidak panjang, Prit menyudahi percakapan kami.

"Mas, ayo kita ngopi."
acacicu © 2014