1.1.14

Jember, 1 Januari 2014

1.1.14
Ini tentang pertanyaan-pertanyaan Prit kepada saya. Pertanyaan yang banyak, tidak semua bisa saya jawab, dan tidak semua saya tuliskan di sini. Tentang Jember, sungai Bedadung, lagu, Gumuk, capung, hutan, lautan, pelangi, tembakau, kopi, orang-orang Jember tempo dulu, dan tentang mertuanya sendiri. Tulisan yang ringan saja, sekaligus untuk menyambut datangnya tahun baru masehi.

"Mas, katanya, tanggal 1 Januari ini, Jember merayakan hari lahirnya yang ke-85. Apa benar?"

Saya mengulum senyum, tak segera menjawab pertanyaan Prit. Memang, sejarah Kabupaten Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928. Itu dijadikan dasar hukum, dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1929. Tanggal pemberlakuan ini kemudian disepakati menjadi Hari Lahir Kabupaten Jember.

Saya bilang, "Selama itu masih disepakati bersama, dihargai saja Nduk."

"Ohya Mas, kenapa sih ada cerita rakyat tentang Bedadung? Apa benar, jika pendatang mandi di sana, dia akan berjodoh dengan warga Jember?"

Kali ini saya tidak mengulum senyum lagi, melainkan terkekeh. Jadi ingat guyonan anak-anak khost, "Ati-ati, ojok adhus nang Bedadung mengko kecantol wong Njember." Kepada Prit saya katakan, setiap folklor itu bersifat mirip dengan cerita-cerita rakyat di daerah lain. Karena sifatnya yang tutur tinular dan kadang di luar logika, sulit untuk menerjemahkan cerita rakyat di ranah publik. Jadi, kita harus memandangnya dari berbagai sisi. Kadang, sebuah riset folklor bisa menarik riset-riset yang lain, yang bersifat ilmiah.

Sisi yang bisa kita ambil dari cerita rakyat adalah pesan moral dan filosofinya. Kita juga harus bisa menafsirkannya secara kaya. Misal, kata 'berjodoh' dengan orang Jember. Jika kita hanya memahami kata 'berjodoh' secara sempit saja, maka hasilnya juga akan terlihat sempit.

"Di lagu ciptaan Mas Hakim, ada yang berjudul Ai eLof Jember. Kenapa harus membuat lagu tentang Jember?"

Saya katakan pada Prit, menciptakan lagu itu seperti mengembara ke dalam hutan. Jika waktunya tepat dan sedang bersemangat, semua tampak indah dan mudah. Asal tidak lalai dan meninggalkan sampah di sembarang tempat. Lagu itu mendapat apresiasi. Ada kritik, ada pula kritik pedas. Ada yang bilang, kenapa di lirik lagu itu harus ada Persidmania, Musik Tradisional Patrol, dan Tari Lahbako? Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari lagu tersebut, terutama oleh penciptanya. Iya, saya sendiri. Dalam dunia kekaryaan, refleksi bukan hanya baik, tapi sebuah kebutuhan.

"Bagaimana dengan Gumuk?"

Jika Gumuk di Jember terus ditambang secara membabi buta dan penyelenggara daerah tidak melakukan apa-apa, itu sama artinya mereka sedang memberikan ancaman keselamatan pada warganya. Gumuk, atau bukit-bukit kecil, atau gundukan yang menjulang ke langit, atau apalah namanya, sangat lekat dengan kondisi geografis Jember yang berada di antara Gunung Raung dan Argopuro. Dari 31 Kecamatan yang ada di Jember, sedikitnya 6 Kecamatan berbatasan langsung dengan Laut Selatan. Itu adalah Tempurejo, Wuluhan, Ambulu, Puger, Gumukmas dan Kencong. Wilayah ketinggian Jember ada di bagian Utara. Di sini gumuknya menjulang lebih tinggi. Jika gumuk-gumuk di sini juga habis, maka pengaruhnya akan sangat dahsyat untuk wilayah Jember keseluruhan, tak terkecuali Jember Selatan. Dampak yang paling mudah dirasakan adalah dari sektor pertanian. Ketika angin tak lagi ramah, maka kabar tentang gagal panen akan semakin sering kita dengar.

Kita ingat-ingat saja, selain sebagai daerah resapan air, ruang hidup keanekaragaman hayati, rekreasi, gumuk juga penetralisir atau pemecah angin yang alami.

Ada baiknya untuk memahami gumuk tidak sebatas pada nilai gumuknya saja, melainkan memahaminya secara keseluruhan. Baik dari sisi ekonomi, ekologi, politik, budaya, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Mari kita sama-sama mencari konsep ekonomi pembangunan berkelanjutan, tanpa harus meratakan gumuk.

"Huff.."

Prit menghela napas, lalu terdiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Tiba-tiba saya teringat pesan rekan-rekan blogger. Prit tidak baik jika ada di kondisi tertekan, nanti asmanya kumat. Kemudian, saya sudah sibuk menghiburnya. Lebih tepatnya, menjahilinya.

"Kenapa Mas Hakim senang menceritakan masa kecil dan orang-orang terdekat?"

Gantian, sekarang saya yang menghela napas. Kepada Prit saya katakan, saya tidak suka sejarah. Prit melongo sambil berkata, "Lhoo.."

Iya saya mengerti, dia terlihat heran dengan jawaban saya. Padahal latar belakang pendidikan saya sejarah. Selama ini dia tahunya saya suka sejarah. Saya lekas-lekas meralat kalimat sebelumnya. Saya katakan, saya tidak suka sejarah pada umumnya, dimana yang tampak seakan-akan hanya hal-hal yang berbau politik, pergantian kepemimpinan, kenegaraan, kerajaan, dan perang. Lihat, semua itu tampak sangat menyebalkan. Lebih sebal lagi jika data-data yang tercatat sama sekali tidak memberi kehormatan kepada kebenaran.

Saya ingin sesuatu yang lebih fresh, dimana sejarah terlihat sedikit seksi. Meskipun tetap memperhatikan ruang dan waktu, dan tetap (harus) memegang teguh kebenaran, ketika dibaca tidak terkesan kaku. Jika sudah seperti ini, akan lebih mudah memperkenalkan sejarah pada generasi setelah kita. Apalagi jika mereka tahu bahwa itu tidak bohong. Bagaimanapun, kita butuh tahu cara memperlakukan masa lalu, agar bisa menatap hari ini (dan masa depan) dengan lebih mesra.

"Mas, hari ini Bapak ulang tahun yang ke-64 ya?"


Katanya, tahun tidak pernah berulang? Saya menggoda Prit. Dia buru-buru meralat ucapannya. Kata ulang tahun dia ganti menjadi hari lahir.  Hehe, padahal saya hanya bercanda.

Iya benar. Sebagai kadonya adalah sebuah tulisan berjudul Durahem. Di KTP tertulis hari lahirnya, 1 Januari 1950. Angka yang cantik. Bapak terlahir prematur, perkembangan masa balitanya memprihatinkan. Kerdil, dan baru bisa berjalan ketika berusia antara 6 hingga 7 tahun. Namun begitu, Bapak masih percaya bahwa dia ada di dalam kandungan selama 12 bulan.

"Apalagi yang Mas Hakim tahu tentang Bapak?"

Dia pensiunan PNS. Dulu bekerja di DPU Bina Marga Seksi Jember, sejak 1972. SK baru turun tahun 1980, dan pelantikan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 April 1981, dengan NIP. 510059228.

"Jangan yang angka-angka dong Mas."

Hmmm.. Ketika remaja, dia rajin berolahraga. Mungkin malu, perkembangan tubuhnya lambat. Tak dinyana, dia pandai bermain sepak bola. Tubuhnya berkembang normal, mengejar pertumbuhan tubuh kawan-kawan seusianya.

Oleh Bapaknya, Sura'i, dia dipaksa untuk berlatih pencak. Dia tidak suka, tapi tak berani mengatakan itu secara langsung. Ketika dia sudah besar, menikah, dan memiliki dua orang anak, perempuan dan laki-laki, anak lelakinya dia paksa juga untuk mempelajari pencak. Hanya sebelas jurus katanya. Anaknya tak menolak, tak juga mengiyakan. Hanya saja, si anak pandai menghindar setiap rabu malam datang. Rabu malam adalah malam pesta pora para penjudi Porkas (SDSB), juga malam berlatih pencak.

"Mertuamu, Abdul Rohim dan Almarhummah Kardiyati, mereka menikah pada 21 Januari 1974. Akad nikah bertempat di Genteng, Banyuwangi, dengan Mahar berupa uang 1000 rupiah dibayar tunai."

Prit diam. Tampak sekali jika dia sangat menikmati kisah yang saya tuturkan.

"Harusnya, 21 Januari nanti adalah 40 tahun usia pernikahan mereka ya Mas."

Saya katakan kepada Prit, itu hanyalah tentang angka-angka. kepadanya saya ingatkan sebuah kalimat yang sangat saya sukai, bahwa satu jam yang dimanfaatkan secara manis dan benar, itu akan lebih berarti dibanding sepuluh tahun tanpa berbuat apa-apa.

Ada jeda yang panjang. Kami masih di atas kasur, saling bicara. Kini diam. Hening. Masing-masing dari kami sibuk menatap langit-langit kamar. Lalu, dengan kalimat yang tidak panjang, Prit menyudahi percakapan kami.

"Mas, ayo kita ngopi."

28 komentar:

  1. Jember itu anang Hermansyah ya?? Eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi.. Sekarang ini nama Anang sering disebut-sebut di Jember, terkait acara Ngunduh Mantu tanggal 6 Juli 2012 yang lalu.

      Ketika SMP, saya suka sekali lagu-lagu Anang di album perdananya, bertajuk 'Biarkanlah.' Saya pinjam kaset milik teman sekolah namanya Yudi, masih kaset pita, lalu saya dengarkan berulang-ulang di tape recorder merk roadstar. Selain lagu berjudul Biarkanlah, ada beberapa lagi yang saya suka di album tersebut. Judulnya, Merpati, Takkan, dan satu lagi tapi saya lupa judulnya.

      Eh, malah cerita Anang Hermansyah :)

      Hapus
  2. Sik Mas, saya blm baca post rebelumnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lama-lama saya kok kepingin ngopi bareng sampeyan ya Cak. Ketok'e kenek diajak blakrak'an sampeyan iki, ahaha.. Ayo Cak, ngopi nang Njember. Mengko tak ajak mlaku-mlaku nang kali bedadung, bengine ndelok'i lampu-lampu nang alun-alun, ahaha...

      Hapus
    2. Dan satu jgn lupa Mas, saya yg nyalakan korek. Ok

      Hapus
  3. Terakhirnya kok ayo ngopi? Nggak nyambung sama settingnya. *penonton memaksa heheheee.... Salam utk nyonyah ya. Kemesraan kalian sungguh manis ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata Prit, dia butuh sesruput kopi untuk melancarkan pernapasannya. Cuma sesruput kok Mbak, hehe...

      Barusan saya mampir di blog sampeyan. Hmmmm, ngiler lihat ada jagung bakar di sana.

      Makasih ya Mbak Lusi.

      Hapus
  4. dari postingan ini terlihat sekali mas itu ngemong banget ya....
    romantis deh ih....jadiin film aja donk..hihih

    soal bedadung ituh...saya berjodoh dengan arek2 jember loh..hohohohoho...
    dan jujur ni ye..saya nge fans dengan kehidupan dan hari2 yang mas hakim alami loh...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebalik Nduk, Mbak Prit tuh yang ngemong. Dia terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Saya terlahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara. Logikanya, si bungsu akan bersikap manja pada si sulung, hihi...

      Hmmm, ya ya.. Jadi, berjodoh yaaa....

      Sama dong kayak Anggi Alfonso si blogger Balikpapan, sepertinya dia berjodoh dengan orang Jember. Padahal dia nggak mandi di sungai bedadung, hanya memandang saja, ahaha..

      Makasih ya Chel. Jadi kangen ngopi bareng-bareng lagi. Eh, ada salam nih dari Mbak Prit, kangen katanya.

      Hapus
    2. cuma,,,semanja2nya lelaki ragil mesti bisa ngemong juga kan mas,,kan kepala keluarga...
      eh siapa sih yg berjodoh sama anggi???
      ahh jadi pengen ke jember nih mas,,,heheheehe,,
      Hayuk kapan ada kesempatan ketemu nih??aq kmrn belom cobain kopinya mbak prit,,,,,
      iya salam kembali mas...aku sms mbak prit tadi masuk apa gak,,kangen juga sama mbak prit,mas hakim, pije, bang korep *modus*
      hahahahahaha..

      cepet sehat mbak prit

      Hapus
  5. Sedikit (sekali/banget) saya sudah tau apa itu gumuk Mas, berawal dr postnya Mas Anggi dan tulisan pean di Kompasiana.

    saya lebih tertuju dgn tulisan tengah sampai akhir Mas, saya paham sesuatu dr situ. Saya paham, kl saya blm mengenal betul siapa org2 disekeliling saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anggap saja gumuk itu sama seperti bukit Cak, biar mudah mengimajinasikannya. Dulu di Jember ada banyak sekali gumuk. Eksploitasi besar-besaran oleh manusia menyebabkan keberadaan gumuk terancam.

      Saya lebih mengenal orang-orang di sekitar saya dari bertanya, dan dari arsip-arsip keluarga. Foto lawas juga sangat membantu. Sayang, dahulu rumah saya pernah kebanjiran, stok foto menurun drastis. Ada yang hilang ada yang berjamur.

      Hapus
    2. nah!! mindset pertama kali waktu mas hakim nyeritain soal gumuk itu diotakku tergambar gumuk=bukit...

      Hapus
    3. Ttg foto, sedih saya Mas... Sedikit sekali dipunyai. Foto adalah barang langka. Seingat saya, saya hanya punya beberapa foto waktu kecil.

      @Buguru kecil. Saya parah pertama kali dengar Gumuk. Pikiran saya langsung tertuju pada oli bekas yg dipasang dirantai sepeda. Ditempat saya disebut 'gemuk'
      tp skrg alhamdulillah sudah mulai terang.

      Hapus
  6. Semoga Bapak selalu sehat,sejahtera dan bahagia lahir batin. Amiin
    Cara lain untuk menulis artikel yang ciamik.Model tanya jawab
    Jaga keponakanku nyang cantik itu ya Mas
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maturnuwun Pakde.. Terima kasih juga untuk artikel berjudul Sahabat Ketemu Gede

      Sebelumnya, saya pernah coba menulis lebih santai lagi catatan bergaya tanya jawab, di postingan berjudul Lalu Kami Menikah. Saya ikutkan Giveaway-nya Bulik Uniek, hehe.

      Catatan itu terinspirasi oleh tulisan ini.

      Salam dari kami di Jember

      Hapus
    2. ternyata kang hakim ngefans sama andreas harsono ya? kalau saya juga ngefans banget, tapi belum pernah ketemu dengan orangnya. beruntung mas hakim pernah ikut acaranya yang biasanya selalu berupa kursus jurnalisme sastrawi.

      saya sendiri paling hanya menikmati dari interaksi maya aja. sejak tahun 2007 saya melanggani milis pantau yang dikelola oleh mas andreas. tapi belakangan milisnya sudah sepi. padahal dulu ramai banget dengan tulisan2 yang indah dan berisi.

      lalu pernah juga mengikuti 2 edisi majalah pantau. malah ternyata ini adalah 2 edisi yang terakhir terbit. karena suatu sebab juga majalah itu tidak terbit lagi. padahal itu majalah yang keren banget menurut saya dari sisi tulisan2.

      paling sekarang sesekali mengunjungi blog mas andreas, kalau lagi ada tulisan baru.

      satu lagi yang membuat bangga, ternyata mas andreas asal dari njember. saya senang membaca salah satu esainya, lupa di majalah pantau atau di blog nya, atau di milis yang menulis tentang hoakiau (bener ga nulisnya) di jember. penuh dengan nilai sejarah yang ternyata itu adalah famili dari mas andreas...

      Hapus
    3. Pada 18 Desember 2013, ketika Andreas Harsono pulang ke Jember, saya sempat bertemu. Pertemuan yang singkat saja. Saya suka caranya mengisahkan sesuatu dalam bentuk tulisan.

      Benar, dia dilahirkan di Jember, Agustus 1965. Satu bulan kemudian, suasa Politik di Jember sedang tidak menentu. Efek peristiwa komunisme merambah hingga Rasialisme anti-Cina. Masa yang sulit untuk Andreas kecil.

      Mas Kamal kapan pulang kampung?

      Barusan saya baca tulisan lawas Mas Kamal, Jember Tidak Punya Bupati, hehe.. Tulisan sederhana tapi sukses mengawetkan sejarah.

      Terima kasih.

      Hapus
    4. ya saya juga kagum dengan mas andreas kalau menceritakan sesuatu lewat tulisan. salah satu favorit saya adalah tulisannya tentang berlibur di pantai papuma dengan anaknya. sebuah tema tentang jalan2 yg sepele, tapi ditulis dengan lumayan panjang dan kaya informasi.

      walau tulisannya panjang, tapi saya betah membacanya hingga habis. bahkan pernah saya baca ulang. barangkali mungkin 'mudah' membuat tulisan panjang, tapi tulisan yang panjang dan enak dibaca hanya sedikit orang yg bisa melakukannya. dan ini juga yang saya kagumi dari mas andreas.... he he he semoga beliau ga kedutan ya telinganya karena kita omongin di komentar ini...

      saya biasanya setahun sekali pulang ke (pinggiran) jember. terakhir bulan oktober 2013 kemarin. itu pun cuma 3 hari. 1 hari buat keliling jember dan sisanya untuk silaturahim dengan saudara2.

      tadinya pengen gitu pas lagi di kota jember terus silaturahim dengan sampeyan. tapi waktunya sangat mepet. nanti kalau ke jember lagi dan agak sedikit leluasa pengen silaturahim dengan sampeyan :-)

      Hapus
  7. Selamat milad buat bapak. Masih gondrongkah? Semoga sehat selalu ya.
    Saya suka berbincang-bincang sambil rebahan, Mas, entah di kasur atau di mana saja. Terasa santai sekali dan mungkin semua cerita bisa keluar dengan lancar.
    Semoga lain kali teman ngobrol saya adalah suami :D #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beliau masih gondrong Kak. Warna rambutnya masih putih kecoklatan, panjangnya melebihi bahu. Jika hendak shalat, rambut itu diikatnya. Warna giginya hampir sama dengan warna rambutnya, putih kecoklatan. Gara-gara melakoni hidup sebagai perokok berat.

      Hehe, Amin YRA. Semoga lain kali teman ngobrol Kakak Akin adalah suami tercinta. Selalu ada doa untuk itu.

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. DPU? DPU sama PUD sama nggak ya mas? Yang kantornya dekat SMP 1 Jember itu? Sama atau tidak... Aku malah jadi ingat almarhum Kakek, yang meninggal tepat di hari ke-2 Kopdar BlogNus 2013 kemarin. Beruntung aku gak jadi ke jogja karena jarum infus menancap lembut di tangan kiriku, aku pun tak sempat melihat jenazah kakek karena belum diizinkan pulang oleh dokter.
    Kakek bekerja di PUD sejak... sejak kapan aku tak tau, yang jelas pensiun tahun 1996. Beliau sempat menjadi mandor aspal lalu pindah ke bagian perlengkapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. DPU Bina Marga itu Dinas Perusahaan Umum yang menangani jalan-jalan Propinsi, jalan antar kota. Jika PUD itu Perusahaan Umum daerah yang menangani jalan-jalan di luar wilayah itu. Misal, jalan menuju ke desa, dan lain-lain.

      Sama Mas, Bapak juga pernah berperan sebagai mandor jalan, seperti yang pernah saya tuliskan di sebuah lirik lagu berjudul Untuk Bapak.

      Terima kasih.

      Hapus
  10. tadi baca postingan pakde tentang sahabat ketemu gede ternyata mengarah kesini postingannya. Beruntungnya mba prit punya suami yang suka menghibur ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beruntung saya dan istri mengenal Mbak Lidya, jadi bisa belajar banyak hal tentang hidup berumah tangga. Terima kasih ya Mbak :)

      Hapus
  11. Apapun obrolan kalian itu bisa jadi romantis ya, bikin iri ...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bapak selalu sehat ya ..

      Hapus

acacicu © 2014