3.1.14

Ketika Harus Mengingat Jakarta

3.1.14
Waktu itu Hutomo Mandala Putera masih buron, terkait kasus penembakan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita pada 26 Juli 2001. Suatu hari sepulang dari makan malam, saudara saya mengarahkan mobilnya di sekitaran bundaran Jalan Cendana. Maksudnya, hendak sekalian mengajak saya jalan-jalan. Oleh salah seorang Brimob, mobil yang saya tumpangi dianjurkan untuk kembali. Dari balik jendela mobil, bisa saya lihat dengan jelas bagaimana pasukan bersenjata dalam melakukan penjagaan. Terilihat sangat ketat, seperti adegan film saja.

Itu sudah hampir 13 tahun yang lalu. Setelahnya, saya tak pernah lagi ke Jakarta.

Sejarah Singkat Jakarta:

Perkenalan pertama saya dengan Jakarta dimulai ketika SD. Tadinya wilayah ini lebih dikenal sebagai kota pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa. Itu sudah lama sekali, di zaman kerajaan Hindu Pajajaran. Hanya itu yang saya ingat. Barusan saya googling, dan berjumpa dengan sebuah data yang mengatakan bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di Penjaringan, Jakarta Utara. Wilayah yang strategis, Portugis pun jatuh cinta dengan Sunda Kelapa.

22 Juni 1527 ditetapkan sebagai Hari Lahir Jakarta. Penetapan ini berdasarkan peristiwa pertempuran antara Portugis dan pasukan yang dipimpin oleh Fatahillah (Demak dan Cirebon). Portugis berhasil dipukul mundur oleh Fatahillah. Peristiwa ini juga ditandai dengan adanya nama baru bagi Sunda Kelapa, yaitu Jayakarta. Artinya, kemenangan yang sempurna.

Di masa pendudukan Belanda, Jayakarta dikenal dengan nama Batavia, dalam waktu yang sangat lama (sejak masa Jan Pieterszoon Coen pada 1619, ketika dia meratakan Jayakarta dan membangun kota baru, diberi nama Batavia). Ketika tanah air jatuh ke tangan Jepang, nama Batavia diganti lagi menjadi Jakarta. Bentuk bahasa Melayunya, yaitu Betawi, masih tetap lestari sampai sekarang.

Sejarah yang panjang. Paparan di atas hanyalah garis besarnya saja.

Kedatangan saya ke Jakarta pada 2001 adalah untuk menemani Almarhummah Ibu dan Kakak perempuan saya ke sebuah acara keluarga di Ciputat. Kami berangkat bertiga, naik bus Lorena. Di sana saya hanya bertahan dua minggu saja. Lalu pulang sendirian, naik Lorena. Ibu dan Kakak masih di Ciputat, bersama saudara. Nah, dari sini cerita dimulai.

Saya sudah tiba di Terminal Lebak Bulus pukul delapan pagi, satu jam sebelum keberangkatan. Saya tidak ingat, tanggal berapakah tepatnya. Yang saya ingat hanya satu, ketika itu hari minggu. Saya membeli harian kompas untuk menikmati waktu. Koran tersebut saya baca di dekat bus yang hendak saya naiki. Menyenangkan juga, duduk diantara karyawan bus sambil menenteng koran. Saya jadi memiliki sebuah alat sosialisasi, koran. Selanjutnya, saya baca kolom humaniora. Sisanya dibaca banyak orang. Ada dua orang berseragam Lorena, mereka saling berebut untuk membaca kolom sepak bola.

Sudah pukul sembilan pagi, kotak-kotak snack sudah dinaikkan ke atas bus, tapi kendaraan besar ini tak kunjung diberangkatkan. Aneh, pikir saya. Lebih aneh lagi, setelah hampir tiga jam menunggu, bus tak juga berangkat. Ketika saya tanyakan ke sopir, dia bilang masih menunggu satu penumpang lagi. Sudah dihubungi oleh pihak Lorena. Kata perwakilan keluarga, orang yang dimaksud telah meluncur ke lokasi sejak pagi.

"Maklum Mas, ini kan Jakarta. Mungkin terjebak macet. Kasihan kalau ditinggal."

Saya mengerti, lalu tak lagi bertanya-tanya. Tampak di sekitar saya wajah-wajah resah para calon penumpang tujuan Jember. Saya juga resah, gerah, sumuk. Lalu saya membuka jaket. Kini saya hanya menggunakan kemeja kotak-kotak dengan saku di sebelah kiri. Seorang kondektur menatap saku saya lekat-lekat. Ada apa ya? pikir saya. Di saku saya hanya ada tiket Lorena Jakarta - Jember berwarna merah. Si kondektur semakin menatap lekat-lekat ke arah saku kemeja yang saya kenakan. Saya salah tingkah. Tiba-tiba dia berkata lantang.

"Namanya Hakim ya?"

Saya mengangguk bingung. Kenapa dia tahu nama saya? Si kondektur bus melanjutkan ucapannya. Dia bertanya pada saya, apakah sudah daftar ulang? Saya semakin bingung. Ngapain daftar ulang? Saya toh tidak sedang mendaftar sekolah. Melihat ekspresi wajah saya, si kondektur mengambil sikap. Tiba-tiba saja dia merogoh saku kemeja saya, mengambil tiket, lalu mengajak saya menuju kotak kecil penjualan tiket. Kami berjalan seperti setan. Sesampainya di sana, ada beberapa lembar yang harus saya tanda tangani, lalu tiket warna merah berganti menjadi putih. Nah, tiket putih itu yang kemudian saya pegang.

Selesai. Kami kembali ke tempat. Si kondektur tidak berkata apa-apa ke saya. Dia hanya senyum-senyum sendiri, sesekali menggelengkan kepala. Sesampainya di lokasi, kami dianjurkan untuk segera naik ke dalam bus.

Banyak pasang mata yang memandang wajah saya. Saya menunduk, tak berani menatap wajah siapapun. Malu? Tentu saja. Bayangkan, orang yang disangka terjebak macet, yang sukses menahan mundur keberangkatan bus Lorena selama tiga jam, orang itu adalah saya.

Kursi yang saya duduki ada di nomor A-1, depan sendiri di pojok kiri. Sebelah saya kosong, hanya ditempati oleh koran yang sebelumnya menjadi media sosialisasi yang manis. Kemudian, apa yang saya lakukan? Saya pura-pura baca koran. Kadang pura-pura tiduran. Sesekali Pak Sopir mencuri pandang ke arah saya lewat kaca spion tepat di atas kemudi. Tingkahnya persis seperti kondektur yang mengerti nama saya. Senyum, dan geleng-geleng kepala. Tapi saya pura-pura tidak tahu.

Sekian lama saya tersiksa, menahan malu dan menahan rasa kebelet pipis, sungguh menyiksa lahir dan bathin. Ada kamar kecil di belakang sana. Untuk melangkah ke sana rasanya jauh. Syukurlah, akhirnya bus berhenti di sebuah rumah makan. Semua turun, kami makan di sana. Ini salah satu layanan bus.

Turun dari bus, saya tidak segera mengambil jatah makan, melainkan mencari kamar mandi. Ya, kamar mandi adalah sesuatu yang sangat saya rindukan saat itu. Alhamdulillah, nemu. Untuk sesaat, saya bisa tersenyum bahagia.

Ketika masuk ruang rumah makan, hati saya ragu. Satu dua pasang mata memandang saya. Mungkin mereka masih sebal, atau lebih parah lagi, mendendam. Entahlah. Tapi perut saya sedang menuntut hak untuk diisi makanan. Lapar membuat saya berani menuju ke arah makanan yang disajikan secara prasmanan. Selesai. Saya sudah mengambil jatah makan. Tapi saya harus duduk dimana? Lalu saya melangkahkan kaki ini untuk keluar ruangan, berharap bisa menemukan tempat yang sepi.

"Mas Hakim, sini lho, gabung."

Suara itu datangnya dari seorang perempuan paruh baya. Dia sedang duduk di sebuah meja bersama suami dan kedua anaknya. Mereka semua tersenyum ke arah saya. Saya membalas kebaikan mereka dengan menuju ke mejanya dan urung mencari tempat yang sepi. Ah, ternyata semua penumpang mengerti nama saya. Bersama mereka, saya tidak banyak bicara. Hanya ketika mereka bertanya, saya jawab dengan ramah, tapi dengan kalimat-kalimat yang singkat. Saya masih malu.

Bus kembali berangkat menuju Terminal Tawang Alun Jember. Saya kembali ke posisi, di bangku depan sendiri nomor A-1. Di tengah perjalanan, saya kebelet pipis. Mau melangkah ke belakang, malu. Kalau rasa ini tak segera dituntaskan, mungkin dampaknya akan lebih buruk lagi. Ngompol. Ah tidak, saya tidak ingin berada di posisi yang semakin runyam. Lalu saya memberanikan diri untuk menoleh. Hmmm, rupanya hampir semua penumpang memejamkan mata. Segera saya menuju ke belakang, ke kamar kecil di atas bus. Iya, hampir semuanya memejamkan mata. Ruang 'bebas merokok' juga kosong. Suasana yang baik untuk saya. Segera saya masuk kamar kecil untuk memenuhi panggilan alam. Selesai. Alhamdulillah, lega. Ketika hendak membuka pintu kamar kecil, ada sesuatu terjadi pada bus.

"Ciiiiiit...!"

Entah karena apa, tiba-tiba bus berhenti mendadak. Saya terjungkal keluar dengan posisi yang memalukan. Diantara kaki-kaki para penumpang, saya berusaha sesegera mungkin untuk berdiri. Semua penumpang terbangun tapi tidak ada seorang pun yang sempat membantu saya. Mereka sibuk tertawa, seperti tak peduli pada apa yang terjadi dengan bus. Ya, mereka tertawa sebab saya terjungkal, tengkurap, berusaha berdiri, terhuyung, dan hampir terjatuh lagi. Hiks. Satu-satunya zona nyaman selama perjalanan adalah bangku A-1, kesanalah saya melangkah.

Ketika telah duduk di pangkuan A-1, ada saya dapati sopir bus sedang memperhatikan saya lewat spion. Dia terkekeh, sepertinya bahagia. Itu adalah tawa kolektif yang mereka tahan sejak berjam-jam yang lalu. Saya mencoba mengerti, tapi rasa malu tak bisa saya enyahkan.

Siksaan malu masih belum juga usai ketika bus sudah parkir di Terminal Tawang Alun Jember. Keluarga yang tadi mengajak saya duduk satu meja saat makan, menyalami saya. Anaknya yang paling kecil, perempuan, dia mencubit pipi saya. Kata Ibunya, si kecil gemas. Ah..

Dua orang penumpang yang tadi duduk tepat di seberang saya, laki-laki dan perempuan, mereka menawarkan diri untuk mengantar saya hingga ke tujuan. Mereka bilang, ada saudara yang menjemput naik mobil. Saya menggeleng lemah sambil mengucapkan terima kasih.

Pak sopir menghampiri saya, mengulurkan telapak tangan kanannya. Saya menerima uluran jabat tangannya. Dia tidak berkata apa-apa, hanya bersalaman, lalu pergi. Saya bahkan tidak tahu apa maksud jabat tangan itu.

Aneh, banyak orang tiba-tiba ramah kepada saya. Padahal, saya telah merampok waktu berharga mereka, tiga jam. Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa kembali, dan tidak bisa dihargai dengan apapun. Tapi mereka seperti telah melupakan kekonyolan 'tidak terencana' yang saya ciptakan.

Kemudian saya pulang.

Beberapa jam lagi, saya dan Dieqy meluncur ke Jakarta, menuju Yayasan Pantau di JL Kebayoran Lama 18 CD, seperti yang saya tuliskan di sini. Saya memilih untuk naik kereta api saja, hehe.

Dan saat ini, dikala sedang menikmati secangkir kopi, tiba-tiba saya kembali teringat di masa yang lalu, ketika ada di bangku Lorena nomor A-1.

Salam saya, RZ Hakim.

42 komentar:

  1. Blm bisa baca sekarang Mas. Tar nyari waktu yg pas dulu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke Cak :)

      Barusan dapat kabar dari Fawaz Al Batawy, per 1 Januari 2014, Terminal Lebak Bulus sudah ditutup. Berarti kenangan memalukan milik saya juga layak ditutup, hehe...

      Hapus
  2. Hahaha
    Mss, mas, untung saya tidak ikut jadi penumpang juga pada waktu itu.. :)
    Oh ya, barangkali sopirnya minta maaf itu mas., karena tadi telah menghentikan bus mendadak dan menjatuhkan mas Hakim..
    Saya hanya gag kebayang, bagaimana tersiksanya mas Hakim pada waktu itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sampeyan jadi salah satu penumpang di bus itu, wah payah Mas, saya se todus. Malu, hahaha...

      Rasanya seperti sedang dihampiri bidadari yang datang membawa nampan berisi secangkir kopi di tangan kanannya, sementara di bawah nampan, tangan kirinya sedang memegang belati, siap menghunus. Duh, nulis apa saya ini :)

      Hapus
  3. heheehe... sumpah mas aku guyu dewe moco iki..apik. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, iik. Masih di Tangerang? Ayo ngopi...

      Hapus
    2. iyo mas, ngopi nang kene ae yo mas..hehhehe

      Hapus
    3. mas iik ajari nulis ta mas :) pengen loh :)

      Hapus
    4. Yo sip, nanti belajar bersama-sama yo..

      Hapus
  4. wah.. mas mau belajar jurnalistik sastrawi sama om andreas ya? pingin banget ikutan.. :)
    sayang masih belum berpengalaman.. hehe
    salam aja ya mas buat om andreas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kita belajar Jurnalisme Sastrawi bareng-bareng ya..

      Hapus
  5. Selalu memberikan cerita menarik.
    Berebut baca kolom sepakbola ... selalu favorit tuh saya dan anak saya kadang rebutan wkwkwkwk.
    Btw selamat beracara di Jakarta ya Mas ... semoga lancar dan sukses acaranya. Salam hangat untuk keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Yayat, terima kasih atas semuanya. Bahagia mengenal Kang Yayat sekeluarga.

      Hapus
  6. tiga jam...., bukan waktu yang pendek.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi menunggu. Sementara yang ditunggu ternyata ada bersama mereka.. Memalukan sekali ya, hehe.

      Hapus
  7. Astaghfirlloh Mas...
    sepurane, saya gk bisa menahan tawa Mas...

    mungkin Dendam para penumpang luntur ketika pean jempalikan Mas :)

    wah, saya jg gk paham kl naik bis jarak jauh gtu Mas. Kl dr lumajang - surabaya - madiun - jogja. Masih lincah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... Tadi, waktu nulis, saya juga tertawa mengingat kekonyolan waktu itu.

      Hapus
  8. Kenangan tak terlupakan ya Mas
    Saya pertama kali ke Jakarta tahun 1971 je
    Semoga seger waras
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun 1971, DPR kita masih DPR Gotong Royong ya Pakde? Waktu itu, Bupati Jember masih dipegang oleh Letkol Abdul Hadi. 1971, Durahem baru saja menyelesaikan studinya di STM. Terus, saya masih berupa apa ya?

      Terima kasih Pakde, Amin Ya Robbal Alamin.

      Hapus
  9. bagian anak perempuan mencubit pipi itu kayaknya lucu deh mas :D hhehe,

    BalasHapus
  10. bagian anak perempuan mencubit pipi itu kayaknya lucu deh mas :D hhehe,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan itu adalah adegan yang paling mudah diingat, padahal hanya beberapa detik saja :)

      Hapus
  11. kapan ke Jakarta lagi mas? mampir ke Bekasi ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, tanggal 5 Januari 2014 pukul 02.30 WIB sudah sampai di Stasiun Pasar Senen Mbak.

      Hapus
  12. Pengalaman pertama di Jakarta sangat berkesan dengan kisah bus Lorena, semoga pengalaman berikutnya lebih berkesan dengan kisah Yayasan Pantau, macet gila-gilaan, plus kisah secangkir kopi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin. Hehe.. makasih Mas.

      Hapus
  13. semoga dimudahkan perjalanannya ya Mas Hakim dan besok 5 januari semua keperluannya jadi lancar. aaamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terima kasih...

      Hapus
    2. aamiin...hny bisa mendoakan, tdk bisa ngasih sangu :D

      Hapus
  14. haha, untung ga digebukin orang satu bus ya mas bro...
    Pengalaman pertama saya ke Jakarta juga menyedihkan, ketinggalan kereta. Saya berlari-lari mengejar kereta yang sudah mulai berjalan meninggalkan stasiun. Bus kaleeee, dikejar bisa berhenti. hikz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha, Alhamdulillah dulu saya nggak digebukin orang satu bus :)

      Seperti film India dong Mbak, haha...

      Hapus
  15. Terminal lebak bulus masih ada mas bro, tgl 6 januari sudah tidah melayani perjalanan antar kota antar propensi, karena tgl 7 pembangunan stasiun mrt dimulai, tp untuk transjakarta kopaja dan metro mini masih menggunakan terminal lebak bulus, tetapi frekuensinya dikurangi dan akhirnya lebak bulus di 2018 remsi menjadi stasiun mrt, jadi nanti terminal lebak bulus dan stadion lebak bulus akan jadi sejarah... selamat datang di jakarta mas bro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Informasi yang akurat, terima kasih :) Ayo ngopi, hehe..

      Hapus
    2. tpi terminalny terlihat semrawut

      Hapus
  16. Mungin saya termasuk yang kurang jalan2, baru pertamakali ke jakarta sejak 5 tahun yang lalu. Padahal sekarang ini sudah hampir kepala 4, hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, nggaka apa-apa kan :) Bukan sebuah kesalahan besar, heee.. Terima kasih apresiasinya Mas. Habis belikan mobil-mobilan remot kontrol buat si kecil ya Mas.

      Hapus
    2. wah harus lbih slow lgi bang, refrsing gitu :D

      Hapus
  17. Anonim22.14.00

    Nungguin org ternyata org ny ada disana... Hahahaha

    Salam
    Mari ikutan GA kolaborasi tentang impian di http://www.garammanis.com/2014/01/01/giveaway-kolaborasi-apa-impianmu/

    BalasHapus
  18. Pengalaman yang luar biasa itu, Mas... :)
    Saya terakhir ke Jakarta sekitar 20 tahun yang lalu.
    Ingggiiiin lagi ke Jakarta, hehe...

    BalasHapus
  19. hehe..pengalaman yang bikin keki orang satu bus
    bener..untung ga digebukin hehe..

    BalasHapus

acacicu © 2014