28.1.14

Nikmat Apa Yang Kau Dustakan

28.1.14

Berhasratlah pada sesuatu. Jatuh cintalah. Jalan-jalan, menikmati lagu, membuat buku, membaca lirik-lirik punk, atau apapun. Tidak baik jika terlalu sering memaki.

Prit memang tidak sedang memaki, dia bukan tipe perempuan seperti itu. Kalimat di atas hanyalah deretan kata usang yang pernah saya terbitkan di sosial media. Tapi melihat Prit yang resah sejak semalam, saya merasa butuh menenangkannya. Anggap saja kalimat usang itu hanyalah salah satu obat penenang yang semoga saja mujarab.

Ya, ini tentang #50FinalisSB2014. Prit tampak bahagia ketika mendengar kabar dirinya menjadi salah satu Finalis Srikandi Blogger 2014. Bahagia sekaligus cemas. Saya yang tadinya cuek melihat kecemasannya, akhirnya luluh juga.

"Apa yang harus aku ceritakan?"

Rupanya dia mencemaskan salah satu kewajibannya sebagai finalis. Menceritakan diri sendiri. Ini bersifat promosi, dan Prit merasa sulit untuk melakukannya. Entah karena tidak terbiasa, atau karena tidak percaya diri. Saya bilang, "Kenapa tak kau ceritakan saja tentang saat-saat ketika mengajar di MTS As-Syukriah Jember pada delapan tahun yang lalu? Satu tahun setengah, bukan pengabdian yang sangat panjang, tapi juga tidak bisa dikatakan sebentar." Prit menggeleng lemah.

"Atau kau ceritakan saja pengalamanmu selama menjadi sukarelawan bencana spesialis dapur umum." Lagi-lagi Prit menggeleng.

Semakin sering saya menawarkan ide, semakin sering pula Prit menggeleng. Aneh. Memang, tidak semua aktivitas sehari-hari bisa kita tuliskan dengan mudah di dalam blog, sekalipun blog adalah sebuah hardisk maya yang bisa kita jadikan bank data. Barangkali itu yang dirasakan Prit.

Selanjutnya, saya tak lagi urun ide pada Prit. Saya hanya mengatakan padanya, "Kau harus berani menulis. Tentu saja dengan tetap memberi penghargaan pada kebenaran, sekalipun itu hanya sebuah catatan sederhana."

Kali ini Prit tersenyum, manis sekali. Jadi ingat senyumnya kemarin malam, ketika dia menemani Mbak Etty Dharmiyatie memandu acara CLBK on air di Prosatu RRI Jember. Malam yang layak dikenang, kita bicara tentang pengalaman seorang Dian Susanto yang bertahan hidup di Gunung Semeru selama enam hari lima malam, di akhir bulan November 2006.


Prit dan Mbak Etty Dharmiyatie

Malam itu, ada banyak pelajaran hidup yang bisa saya petik dari Dian. Saya bahkan membuat prakata yang panjang di jejaring sosial, sesaat sebelum on air. Akan saya catatkan kembali di sini dalam format spoiler.

Tersesat dan Survive:

Kisah Pendaki Yang Bertahan Hidup Di Mahameru


"Apa yang membuat Anda bertahan hidup?" Pertanyaan itu saya lontarkan pada seorang pria muda kelahiran 20 Oktober 1984, Dian Susanto. Anggota Mahapala yang akrab dipanggil Stempel ini diam sejenak, lalu menjawab mantab.

"Karena saya memang harus bertahan hidup."

Jawaban singkat tersebut saya kejar dengan pertanyaan lain yang membola salju. "Apakah karena makan dedaunan? Apakah karena meneguk air di ujung daun? Apakah karena tidur di bawah pohon dengan kaki sengaja dipendam ke dalam tanah?" Dian Susanto tak segera mengangguk.

Ternyata ada yang lebih dari itu. Yang lebih membuatnya bersemangat untuk bertahan hidup. Dan itu adalah sebuah cerita tersendiri.

"Saya seperti mengalami halusinasi. Apalagi saat saya dalam kondisi antara masih terjaga dan hendak memejamkan mata. Semua dongeng yang pernah dikisahkan Ibu, terpampang kembali. Seperti sebuah slide"

"Cerita saat saya lagi kumpul-kumpul di sekret, kisah kawan-kawan saat mendaki, dan apa yang saya dapatkan saat mengikuti DIKLAT Mahapala, itu semua juga kembali saya ingat. Saya sudah pasrah seandainya Tuhan tidak memberi jalan untuk pulang. Tapi saya harus tetap ikhtiar, berdoa dan berusaha. Saya harus kembali pulang. Saya rindu berbagi cerita dengan saudara-saudara saya. Saya merindukan Ibu. Saya juga harus menemui Mia. Saya benar-benar ingin berbincang dengannya."

Itulah beberapa kalimat yang dulu pernah disampaikan Dian Susanto kepada saya. Tak ada yang menyangka jika pada akhirnya Dian Susanto menikah dengan Mia, seseorang yang begitu ia rindukan ketika tersesat selama 6 hari 5 malam di Gunung Semeru, di akhir bulan November 2006. Akhir yang manis.

Dari Dian saya belajar, bahwa menjadi pencinta alam adalah tentang mempersiapkan diri menghadapi hari-hari yang sulit, ketika uang tak lagi berguna.

Kembali ke Prit..

"Nah Prit, kau kan juga seorang pencinta alam. Bersiap-siaplah untuk menghadapi sesuatu yang sulit, ketika rasa percaya dirimu tenggelam, disaat kau membutuhkan keberanian untuk menceritakan diri sendiri. Tulis saja seperti biasanya kau menulis. Anggap kau sedang menulis tentang Bob Marley, Iwan Fals, atau Gabriel Omar Batistuta."

Sama halnya dengan meracik kopi, menulis juga butuh takaran yang pas dan efektif. Namun terlepas dari itu semua, satu hal yang paling kita butuhkan. Berani. Jika secara teori kita telah memahami bagaimana cara meracik kopi, maka akan menjadi sia-sia ketika kita tidak pernah berani memulai untuk membuatnya.

Wew, tulisan kali ini cerewet sekali. Tak apalah, sekali-kali, hehe.

Tuhan melengkapi diri kita dengan berbagai macam rasa. Takut, resah, minder, dan entah apalagi. Di saat kita bisa meramunya dengan pas, maka rasa takut bisa kita jadikan media untuk menempa diri hingga menjadi berani, minder berubah wujud menjadi percaya diri, dan hari-hari akan menjadi lebih indah.

Ketika kita telah sampai di puncak nurani, segalanya akan terlihat luas. Maka, nikmat apa yang kau dustakan?

Bersenang-senanglah Prit. Anggap saja kau sedang meracik kopi rasa rindu.

31 komentar:

  1. kalau begitu mari kita mulai belajar mensykuri nikmat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Bang Joe, terima kasih. Segala nikmat ada di sekitar kita, mulai dari rasa gatal yang digaruk hingga nikmatnya ketika tulisan kita mendapat apresiasi dari para sahabat.

      Hapus
  2. semua teori harus dibuktikan, harus berani, harus dilakukan. karena manusia dianugerahi keunikan masing-masing, berbeda dengan yang lain. Hanya kita perlu memunculkannya saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar sekali, teori saja tidak cukup. Berani saja, tanpa mengerti harus bagaimana, itu juga kurang bijaksana. Berimbang dan wajar-wajar saja, itu yang lebih indah.

      Terima kasih apresiasinya Pak Mandoré

      Hapus
  3. Aku berat untuk twit satu jam penuh mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibikin santai saja Mbak. Anggap Mbak Lidya sedang bertamasya keliling dunia, hihi.

      Hapus
  4. Tugas Prit sudah selesai dan sukses. besok gantian diriku, nih. jam 2 siang. xixixi

    BalasHapus
  5. "Oh iya, kenapa minder menulis jejak yg pernah dibuat, mak ayu?" nitip pertanyaan ini ya... haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata Prit, "Ora ngerti Mbak, isin ae, hihihi..."

      Jadi mindernya otomatis gitu Mbak Sus, haha..

      Hapus
  6. kalo Mbak Prit berat menuliskannya, Sang Suami tercinta sudah secara tidak langsung mempromosiakannya....

    Ayooo Semangat Prit!!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... ini yang namanya promosi terselubung yo Mbak :)

      Terima kasih Mbak Elsa cantik.

      Hapus
  7. Aduhhh Prit, padahal banyak kelebihan yg dirimu punya dibandingkan aku.
    Tapi akhirnya lancar juga kan promosinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar. Dibanding Mbak Dey, Prit jauh lebih kecil, hihihi...

      Mbak Dey, terima kasih. Kemarin Prit bercerita tentang detik-detik ketika dia harus menulis, dan di saat itu, dimana rasa percaya dirinya menguap, dia ber-sms ria dengan Mbak Dey. Terima kasih transfer semangatnya. Akhirnya bisa juga Prit menyelesaikan tugas menulisnya.

      Salam buat Mas dan Fauzan.

      Hapus
    2. setiap orang mempunyai kelebihan n keunikannya masing2..
      so tetep jadi diri sendiri..pribadi yang sederhana :)

      pokoke tetep cemungud eeaa

      Hapus
    3. Sangat sependapat :)

      Sesuatu akan semakin terlihat biutipul jika dia mampu menampilkan kesederhanaannya, seperti Mama Olive, hehe...

      Hapus
  8. Anonim20.08.00

    Saya baca tulisan Prit di FB Grup KEB, dan seperti biasanya, saya selalu tersentuh. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Winny, terima kasih.

      Hapus
  9. Membuat kopi rasa rindu aja berani, mosok menulis tetang jati diri gak PD , hehehe, untungnya Masbro sedikit membuka tentang Mbak Pritt #semi promosi :D

    Sukses truss untuk pasangan bulan sebelas ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada Kang Sofyan, wong Patrang yang rumahnya persis di seberang Rumah Sakit dr. Soebandi Jember, hehe...

      Terima kasiiih...

      Hapus
  10. saya udah baca.... tulisan prit..., Salam lestari... begitu dia mengawalinya..., bagus banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, terima kasih ya Mbak Nova. Salam Lestari!

      Hapus
  11. tugas kita pada akhirnya cuma bercerita apa yang kita tahu dan menjalani apa yang kita pahami. gitu kata orang bijak, Mas. Jadi priit, bagi dong kopinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi Mas, silahkan merapat di rumah kecil kami, di sudut sebuah kota penuh gumuk, hehe...

      Eh, gumuknya tinggal dikit ding :)

      Hapus
  12. Isin piye to Priit...wong tulisanmu apik bingiiitt... salut untuk srikandi gumuk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha.. Bulik nggawe istilah anyar. Suka :)

      Hapus
  13. Bro..aku sudah lama kehilangan motivasi untuk menulis. Dua proyek blog aku terbengkalai. Horizon Budaya dan Goretan Kata sudah lama matisuri. Piye carane menjaga asa dan motivasi untuk tetep menulis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata orang bijak, banyak-banyaklah membaca, baik membaca buku maupun membaca kehidupan. Sih koh, haha.. Kamu pasti bisa Den, di sela-sela pekerjaanmu di Kemenko Kesra, cobalah untuk kembali menulis, dan temukan kegembiraan di sana.

      Hapus
  14. Bro..aku sudah lama kehilangan motivasi untuk menulis. Dua proyek blog aku terbengkalai. Horizon Budaya dan Goretan Kata sudah lama matisuri. Piye carane menjaga asa dan motivasi untuk tetep menulis?

    BalasHapus
  15. Fotone mbak Pritt ...maniseeee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada gadis Bali yang cantik :)

      Hapus

acacicu © 2014