30.1.14

Selama di Jakarta

30.1.14

Selama di Jakarta

Turun dari kereta api, saya langsung membatin. Ini dia Pasar Senen, sebuah tempat di sudut Jakarta yang pernah cukup lekat dengan dunia premanisme. Setidaknya dulu, ketika kelompok Cobra pimpinan Bang Pi'i masih melegenda. Pria kelahiran 1923 ini masyhur karena berhasil mengorganisir preman-preman di kawasan Senen. Sosoknya mengingatkan saya pada Robin Hood. Ya, barangkali serupa itu. Bang Pi'i meninggal dunia karena sakit, di usia 47 tahun.

Lalu apa yang Mas Hakim lakukan selama di Pasar Senen?

Mencari si Bagus, kita sudah janjian. Setelah jumpa, lalu kita bertiga ngopi, menikmati malam di antara lalu lalang kendaraan. Ketika Dieqy bilang, "Sebentar lagi Mas Arys nyusul," kami memilih untuk bergeser ke pojok, di areal parkir motor.

Dan?

Dan, tak lama kemudian yang ditunggu datang. Kami berempat, dua motor, meluncur ke khost Arys di Jalan Gajah Mada, tepatnya di daerah Sawah Besar, tak jauh dari Harmoni Central Busway, Jakarta Pusat.

"Wah, itu kan tempatnya kupu-kupu malam menjajakan cinta?"

Arys tertawa mendengar ucapan spontan dari Bagus. Saya melongo, Arys mengangguk mengiyakan. Esok malamnya, ketika melintas sendirian menuju khost si Arys, barulah saya paham apa yang dimaksud. Wew, dunia malam. Mungkin ini ada hubungannya dengan keberadaan Sociëteit Harmonie di masa yang lalu, tempat berkumpulnya orang Belanda untuk cangkruk'an, berdansa dan berpesta. Gedung yang berdiri di awal-awal abad 19 ini pada akhirnya dirobohkan -tahun 1985- demi perluasan jalan dan tempat parkir kantor Sekretariat Negara.

Esok harinya, Fawaz datang menjemput ke Yayasan Pantau, di perempatan Tepekong, dikenal juga dengan daerah Gang Seha. Tepatnya di Jalan Kebayoran Lama 18 CD. Jadilah hari itu saya dan Dieqy meluncur ke Rawa Belong, di rumah keluarga Fawaz. Di sinilah kami berteduh, di tanah si Pitung. Terima kasih, takkan terlupa.

Di hari yang lain, Bagus membawa saya mengelilingi Jakarta dari ujung ke ujung, dengan menunggangi motor bebek merk Jepang. Lihai sekali dia mengendarai motor, maklum sudah hampir delapan tahun dia tinggal di Jakarta. Asalnya dari Banyuwangi. Dia menetap di Jakarta sebab istrinya, Mulianty Deasy, tinggal di kota ini.

"Ojo usreg ae Mas."

Iya, waktu itu sulit bagi saya untuk duduk manis di jok belakang Bagus. Apalagi ketika melewati samping Ancol. Kadang di samping kanan ada truk gandeng, jaraknya dekat sekali dengan motor kami. Saya pikir, semisal kami bersenggolan sedetik saja, maka ceritanya akan menjadi sangat mengenaskan. Ah, rasanya seperti sedang dilirik oleh malaikat pencabut nyawa. Bagaimana bisa duduk tenang?

Pertama kali melewati Sarinah, saya bergumam, "Gedung ini dulu pernah sangat keren." Ya, Sarinah adalah pusat perbelanjaan dan pencakar langit pertama di Jakarta. Dibangun tahun 1963 di atas tanah yang terlalu lembek hingga butuh tiang beton yang panjang, dan baru diresmikan pada empat tahun berikutnya. Kini, bangunan setinggi 74 meter dengan 15 lantai ini tidak ada apa-apanya dibanding bangunan-bangunan baru yang lebih menjulang.

Kadang saya iri dengan Jakarta yang di setiap sudutnya sarat sejarah masa lalu, tak hanya didominasi dengan Kota Tua saja. Tapi saya heran, kenapa Jakarta Raya baru ditetapkan sebagai Ibukota Negara pada 1964?

Bukankah di sana selalu diintai oleh banjir?

Iya. Parah ya. Sebagai etalase sebuah negeri, idealnya Jakarta bebas dari banjir dan kemacetan. Ini penting, agar kita tak minder di pergaulan bangsa-bangsa. Masih ingat cerita dari Om Willy kan? Dia tinggal di Jepang. Setiap kali ada acara kenegaraan, Om Willy hampir selalu menemani mereka sebagai penerjemah. Siapapun dia temani, mulai orang kedutaan hingga Presiden. Katanya, "Utusan dari Indonesia, kalau sudah ada acara kumpul bersama seperti prasmanan, bisa dipastikan mereka akan ngruntel di pojokan dan berbincang-bincang sendiri."

Sangat disayangkan.

Jember bisa bercermin dari Jakarta, untuk tidak mencontoh Rencana Tata Ruang Wilayah yang eksploitatif tanpa mengindahkan kaidah lingkungan. Jika tidak, 20 tahun lagi kota ini mungkin akan menyerupai Jakarta dalam hal bencana dan keruwetan di bidang transportasi.

Jadi, bagaimana kisah selama mengikuti Kelas Jurnalisme Sastrawi?

Wew, Prit, itu tema yang berbeda. Tapi santai saja, sudah ada rencana menuliskannya di lain waktu. Lagi pula, minggu ini kita akan membicarakan itu -Jurnalisme Sastrawi- di acara CLBK on air. Tunggulah, sepertinya akan menjadi obrolan yang sangat menarik.

Yang menyenangkan ketika di Jakarta kemarin, ada kesempatan kopdar dengan rekan-rekan blogger. Awalnya berjumpa dengan Cacak'e Kiki, kemudian Mas Yoswa, kemudian sowan ke rumah Bunda Lily, dilanjut mampir ke rumah Bu Asita, kemudian kopdar rame-rame di rumah Bunda Lahfy; bersama Ami Osar, Mas Ridwan, dan Taufik. Kepada mereka saya bercerita tentang banyak hal, termasuk keterangan data diri saya di lembar absen. Di sana terpampang nama saya, RZ Hakim, dan di kolom keterangan ada tertulis, blogger dari Jember.

Tidak adakah kejadian konyol selama di Jakarta?

Ahaha, tentu saja ada. Jangan sekarang, ceritanya nanti saja. Butuh persiapan mental khusus untuk menuliskannya.

Hmmm, sudah ya.

Silahkan bertanya apa saja di kolom komentar, akan saya jawab semampu yang saya bisa. Terima kasih.

25 komentar:

  1. tentunya seru ya mas, kalo ke jakarta, selain menikmati ibukota, bisa kopdar,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar Mas Yadi. Bisa kopdar dengan mereka adalah sepenggal kisah yang membahagiakan. Waktu itu saya juga sempat hampir kopdar bareng Kajol, sayang dia terjebak banjir :)

      Hapus
  2. Senang juga bertemu dengan Mas Hakim ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada anak bungsunya Bunda Lahfy, ahaha.. Jadi, kapan ke Jember Mas?

      Hapus
  3. Jadi selama ini sampeyan jalan-jalan terus ya
    Whahaha saya gak diajak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Mas kita jalan-jalan ke pinggir sawah, terus ngopi, hehe...

      Hapus
  4. ditunggu yang konyol-nya aja deh mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, jadi cerita apa nggak ya? Malu. Nantilah, saya pikir-pikir dulu :)

      Hapus
  5. wah mbak prit gak ikutan ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Lidya, dia di rumah.

      Hapus
  6. bunda lahfy udah jarang nongol.di fb maupun blog..., gmna kabarnya..???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kabar beliau baik. Ketika saya ada di rumahnya, si kecil pulang ke rumah membawa sebuah piala, ternyata dia juara satu lomba mewarnai. Keren. Bunda Lahfy tampak bahagia. Rata-rata putra putri Bunda Lahfy memiliki prestasi di bidangnya masing-masing.

      Yang bikin saya betah di kediaman Bunda Lahfy adalah cara beliau memperlakukan saya dan Dieqy. Wajar, apa adanya, penuh persaudaraan, dan meja makan yang penuh masakan hasil racikan sendiri. Wew, keluarga yang biutipul :)

      Terima kasih Bunda Lahfy.

      Hapus
  7. sebenernya aku males komen n baca disini..
    abis ga ada cerita di bandung nya :(

    balik lagi ajah :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan doooong. Khusus buat Mbak Nchie, saya mau cerita tentang saat-saat ketika saya berkunjung ke rumah Bunda Lily, di Perumahan Japos.

      "Haaiiii, Aim.."

      Itu sapaan pertama Bunda Lily, ketika dia sibuk membuka pintu samping rumah, untuk kemudian membuka pintu pagar. Rumah yang asri, bersih, dan tampak anggun, seanggun penghuninya.

      Baru masuk rumah, saya yang waktu itu diantar Bagus, adik sepupu, langsung disambut seekor kucing berwarna salju. Di sampingnya masih ada satu kucing lagi, warnanya kuning sabut kelapa. Si kuning lebih agresif dibanding si salju.

      Lalu kami berbincang, berhaha-hihi. Bunda Lily tampak segar. Sebentar-sebentar dia menanyakan ini itu. Iya, banyak yang Bunda tanyakan. Saya bersyukur bisa langsung terlibat aktif di sebuah obrolan yang mesra. Rasanya, saya sedang ngobrol dengan Ibu kandung sendiri. Semisal Bunda tidak menanyakan banyak hal, mungkin saya akan 'mbrabak' demi mengingat kembali beberapa tulisan Bunda Lily yang menyentuh hati.

      Ada acara makan bersama. Bunda Lily tahu bagaimana caranya agar kami tidak sungkan.

      Menjelang Isya, putri Bunda Lily, namanya Nadya, dia baru datang. Nadya datang berdua dengan kawan dekatnya, namanya Agung. "Cantiknya putri Bunda Lily," saya membatin. Saya dan Agung begitu saja akrab, ketika dia mengetahui saya berasal dari Jember. Ternyata dia punya saudara di Jember. Setelah saya tanya, "Jember mana?" Eh ndilalah rumah saudaranya tak jauh dari tempat tinggal saya. Hanya berjarak 5 menit jalan kaki, hehe.

      Kepada Bagus Bunda Lily berkata, "Gini ini Gus kalau sesama blogger berjumpa. Tiba-tiba akrab, rasanya seperti sudah kenal puluhan tahun." Bagus tersenyum. Dia tampak senang ketika Bunda Lily memberinya beberapa buku. Malam harinya, Bagus menulis di dinding facebooknya, kisah tentang perjumpaannya dengan Bunda Lily. Panjang sekali.

      Tak lama kemudian, saya dan Bagus pamit ke Bunda Lily. "Mau kemana lagi nih sebentar lagi?" Saya bilang, masih mau berkunjung ke rumah Bu Asita, rumahnya di Ciledug, tak jauh dari kediaman Bunda Lily.

      Senang sekali, Bunda mengantarkan kami hingga di pelataran.

      Mbak Nchie yang cantik, tunggu kami. Saya dan Prit memang punya mimpi kecil untuk mengecup kota kembang, Insya Allah.

      Hapus
  8. wah,ke jakarta to,,pantesan disini sepi... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya Mbak. Kemarin dua minggu di sana, ada kelas menulis Jurnalisme Sastrawi.

      Hapus
  9. Sudah lamo sekali tak ke Jakarta...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga. Hanya bisa 'nonton' Jakarta dari media visual.

      Hapus
  10. Saya menunggu kisah konyolnya Mas Bro ...
    Jangan-jangan peristiwa nunggu lama di terminal Lebak Bulus itu berulang lagi ... hahaha
    (hanya saja berpindah tempat)

    Salam saya Mas Bro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Ada Om, tapi bukan kisah konyol yang seperti itu. Seorang kawan mengajak saya ke sebuah tempat mewah, classic hotel namanya. Di tempat yang asing itu, saya disarankan untuk masuk ke ruang musik, sementara sopirnya -Iwan- disuruh menemani saya. Lalu kami berdua masuk. Lama ditunggu, teman saya nggak datang-datang. Wew, saya melongo :) Semuanya serba asing, sementara suara musik membahana. Tiba-tiba kangen seseorang di rumah, haha...

      Hapus
  11. satu kerinduan terbayar saat saya bertemu denganmu kang, waktu itu. bukan karena kita saling mengenal dengan baik sebelumnya di dunia nyata, bahkan di dunia maya kita jarang bertegur sapa. satu kerinduan yang terobati itu , adalah tentang kerinduan pada bahasa ibu saya. bahasa madura. bahasa yang saya pakai sejak kecil selain bahasa indonesia. di jakarta, kabarnya banyak orang madura menetap, tapi mereka yang ada di sekeliling saya adalah orang orang yang tidak dilahirkan dari garis keturunan madura. makasih ya sudah menemani saya mengobati saru kerinduan itu... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cak Ridwan, terima kasih ya. Senang kopdar dengan sampean. Jangan melupakan satu hal, kalau pulang ke Bondowoso kabar-kabar, hehe.

      Bahasa Ibu saya Jawa. Ketika berbicara dengan Bapak, saya juga menggunakan Bahasa Jawa ngoko, bukan yang halus. Tapi saya bisa keduanya, Bahasa Jawa ngoko dan halus. Yang membuat saya bisa berbahasa Madura, selain dari pengaruh lingkungan, sejak kecil Nenek saya dari pihak Bapak selalu mengajak saya ngobrol menggunakan Bahasa Madura. Beliau memang dari sana, sama seperti Sura'i, kakek saya dari pihak Bapak.

      Hapus
    2. begitu ya mas,
      sama seperti teman saya yang di pati. kalau ke sana saya suka bingung. ayahnya pake bahasa madura, sedangkan si anak menjawab dengan bahasa jawa halus. begitu setiap hari yang terjadi, setiap saat. aneh tapi nyata.... :)

      Hapus
    3. Ahaha.. mereka adalah sebentuk keluarga yang keren.

      Hapus
  12. Makasih udah mau mampir masbro :) senang banget bisa ketemu,, aku udah pengen ketemu dikau, dari kurus sampai pelebaran jalan rampung hahhahaha,,, lain waktu, pengen ke Jember, pengen ngopi rasa rindu, ahahayy,, rasanya kaku nulis nih, padahal nulis komentar adalah hobiku dulu :( tulariiiinn aku nulis tiap hari lagi yaa hehehehe :)

    BalasHapus

acacicu © 2014