25.2.14

Dari Jurnalis ke Blogger Lalu Biarlah Mengalir

25.2.14
Zuhana Anibuddin Zuhro
"Saya ingin menjadi seperti Bob. Minum kopi pahit lalu menulis. Menulis sambil mendengarkan lagu Iwan Fals. Saya juga ingin mengenang Almarhum Bibin Bintariadi lewat tulisan ini."

JURNALISTIK adalah dunia yang pernah lekat dalam mimpi saya sewaktu kecil. Entahlah, mungkin karena sering melihat keseharian Bob yang memang bekerja sebagai jurnalis. Mimpi itu tak kemudian membuat saya bercita-cita untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang khusus tentang dunia menulis berita. Sewaktu SMA, saya mengutarakan maksud untuk melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Jogjakarta. Memilih jurusan Sastra Indonesia. Bob orang yang demokratis, dia mengerti atas semua pilihan saya. Namun Ibu mengkhawatirkannya karena pilihan saya jatuh pada Universitas Sanata Dharma. Sebelum mengutarakan hal tersebut, saya sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat sensitif untuk dibicarakan di lingkungan keluarga saya. Setelah menimbang, akhirnya saya memutuskan untuk menerima program PMDK di sebuah universitas negeri di sebuah kota kecil yang tak pernah saya tahu sebelumnya. Ya, Jember. Kota yang ternyata teramat jauh jaraknya dari kampung halaman saya. Tapi, saya suka. Ini adalah petualangan baru untuk menemukan diri sendiri. Dari kota kecil inilah semuanya berawal, pada pertengahan 2004.

Jember, kota kecil berhati luas.

Saya menjalani kuliah sambil bekerja. Setahun mengajar kemudian dua tahun menjadi operator sebuah warnet. Setelah itu menikmati jeda sejenak. Ingin menikmati hari baru dan beraktivitas dengan dulur-dulur pencinta alam. Beberapa bulan menikmati waktu jeda, mimpi semasa kecil datang lagi. Terbersit kembali mimpi untuk menekuni jalan seperti Bob. Itu terus mengusik saya, hingga akhirnya bermuara pada takdirnya. Datang sebuah tawaran untuk membantu menulis berita di sebuah media lokal yang berpusat di Surabaya. Saya kebagian nulis di wilayah Jember.

Apa yang mau saya beritakan? Nyarinya dimana? Ketiban tugas mendadak membuat saya bingung harus memulainya dari mana. Akhirnya seorang kawan mengajak saya untuk ikut liputan acara peringatan ulang tahun di Kejaksaan Negeri Jember. Disana, saya banyak bertemu dengan teman-teman dari media lain.

Pelajaran pertama, dinamika wartawan bodrek di instansi-instansi. Pelajaran berikutnya, bahwa pada kenyataannya sekarang ini bukan wartawan yang mencari berita tapi malah kebalikannya. Ada yang bilang, keduanya adalah sebentuk simbiosis mutualisme. Apa benar demikian? Tapi rasanya kok ada yang kurang sreg. Misal, bila esok pagi akan ada demo, tiba-tiba malam sebelumnya sudah ada sms masuk memberitahukan lokasi dan waktunya. Iya, semua itu memang pilihan. Memang butuh ada yang menyuarakan suara-suara mereka yang tertindas. Namun, rasanya gak pas aja kalau itu hanya karena pesanan. Entahlah, saya tak menemukan pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan semua itu.

Cerita seputar amplop dan lemahnya independensi dalam menulis berita sudah seringkali saya dengar. Seringkali saya melihatnya secara langsung. Kadang amplop itu menghampiri. Saya menyikapinya dengan santun, berharap si pemberi tidak tersinggung. Tentang budaya amplop, banyak yang meresahkan, meski ada saja yang memakluminya.

Sebenarnya, hal yang paling patut diingatkan dalam permasalahan amplop ini adalah perusahaan media. Kesejahteraan wartawan yang kurang membuat mereka rela melakukan itu. Ngomongin soal kesejahteraan wartawan di daerah, miris banget. Apalagi mereka yang mengabdi sebagai kontributor di sebuah instansi pemerintah. Contohnya media radio plat merah. Per berita, ketika disiarkan honornya tidak sampai Rp.5000. Kalau untuk karyawan tetap, saya sendiri tak tahu pasti dengan honor mereka. Tentu lebih banyak, karena mendapatkan tunjangan ini dan itu. Biasanya para reporter yang lebih senior meminta rekaman pada mereka yang lebih muda, yang lagi semangat-semangatnya liputan meski gajinya kecil. Belum lagi tuyul-tuyul yang dibayar semena-mena oleh kontributor berita televisi. Duh, miris banget.

Ada banyak jalan untuk menerima amplop, tapi tak ada jalan pintas untuk menjadi penulis yang baik.

Mereka menerima amplop atas pertimbangan yang sangat dilematis. Amplop ibarat sebuah candu. Kadang, uang yang mereka dapat dari pejabat -ketika liputan- jauh lebih besar dari gaji mereka sebulan. Dimanakah perusahaan media yang menaungi mereka, sampai tidak memastikan karyawannya dalam kondisi yang sejahtera? Sejahtera yang saya maksud adalah cukup, baik bagi keselamatan kerja dan kebutuhan mereka agar bisa terus ada di lapangan mencari berita. Bukan masalah uang semata saya menuliskan ini, bukan pula untuk memaklumkan kebiasaan mereka. Ini hanya tentang keadilan yang pincang. Karena saya tahu, ketika menerima amplop tersebut, mereka bahkan lupa bahwa uang itu hanya akan melemahkan independensinya saat menuliskan berita.

Independensi adalah sebuah pertanyaan besar pada semua media mainstream di Indonesia.

Tapi tak jarang, medianya sendiri yang melemahkan independensi jurnalis dengan menerima iklan dari beberapa perusahaan yang jelas-jelas punya banyak masalah. Atau pejabat-pejabat yang hendaknya mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Pendanaan media disupport habis-habisan. Media dan karyawannya jadi sejahtera. Dengan catatan, hanya boleh nulis tentang mereka yang memasang iklan.

Dimanakah letak independensi?

Pada waktu-waktu menjelang pileg dan pilpres seperti sekarang ini, kerap muncul media-media kampanye. Apa yang ingin kita suarakan kalau ternyata semua itu hanya pesanan? Menulis hanya dari satu sudut pandang yang telah ditentukan oleh donatur. Mau mengakui atau tidak, ini memang benar-benar ada di Indonesia. Kenyataan yang pahit.

Saya menyadari bahwa mimpi yang dulu pernah saya rasakan pada kenyataannya tak selalu manis. Tentu saja butuh terus memahami dan belajar tentang mimpi itu sendiri. Alhamdulillah, saya bertemu orang-orang yang tepat, mendampingi saya belajar dan sebagai pengingat ketika lelah. Mereka juga mempertemukan saya dengan komunitas bergizi untuk belajar memahami seluk beluk dunia jurnalistik.

Kini, tiba-tiba saya merindukan seseorang. Hari ini, tepat dua tahun yang lalu, saya kehilangan seorang kakak, teman, dan guru di bidang jurnalistik lingkungan. Namanya Bibin Bintariadi. Saya biasa memanggilnya Mas Bibin.

Ketika mulai menggeluti dunia jurnalistik, saya sering berdiskusi dengannya. Tentang liputan, berita, memilih narasumber dan segala hal tentang dunia jurnalistik. Ia menjawab semua pertanyaan dengan telaten dan sabar. Ia juga yang menyarankan saya untuk bergabung di Aliansi Jurnalis Independen di Jember. Dengan harapan agar saya bisa belajar. Dari AJI, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan jurnalistik lingkungan di Surabaya dan Malang. Setelah itu, saya lebih intens menulis tentang lingkungan dibanding berita-berita yang lain. Rasanya, saya menemukan kekuatan baru disana. Jurnalis senior Tempo wilayah Malang ini selalu support dengan terus melibatkan saya di beberapa kegiatan lingkungan di wilayah Jawa Timur. Tentu saya bahagia.

Suatu hari di awal tahun 2012, saya memutuskan untuk menjadi seorang blogger saja. Di media personal ini, saya menemukan secercah kebahagiaan yang sulit didapat ketika masih menjadi jurnalis, dimana media tempat saya bekerja kurang memberi ruang tentang lingkunga. Ia juga menyulitkan saya untuk menjadi independen.

Saya tahu, menjadi blogger tak serta merta membuat saya menulis dengan lebih baik. Kadang saya juga menulis genre fiksi, sesekali review. Namun blog tetaplah sebuah media alternatif yang menggiurkan, dimana ia menuntut saya untuk mengenal batas-batas kebebasan, etika komunikasi, serta membiarkan saya untuk merawat independensi.
Ada banyak kenangan yang terlintas pagi ini. Saya tak kuat menuliskannya satu per satu. Terima kasih saya ucapkan untuk seorang Bibin Bintariadi. Tentu, selalu ada doa terbaik. Juga untuk Bob Ayah saya, terima kasih. Saya sempat mengecup mimpi itu dan bahagia pernah belajar di dalamnya.

Suatu saat nanti, ketika ada media yang terbuka pada genre jurnalistik lingkungan, dan tentu saja yang membebaskan saya untuk merawat independensi, itu adalah kabar bahagia. Setidaknya untuk saya sekeluarga, Bob dan Almarhum Bibin Bintariadi.

Salam saya, Zuhana Anibuddin Zuhro.

22.2.14

Janet Steele: Struktur Itu Penting

22.2.14

Saya, Janet Steele, dan Dieqy Hasbi Widhana

Meskipun Janet Steele sering mengulang-ulang kata maaf atas keterbatasan bahasanya, tentu saya salut. Ia lancar sekali berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia.

"Biasanya setelah empat jam, Bahasa Indonesia saya sudah mulai habis. Maaf."

Janet Steele bilang, struktur itu penting. Ia ibarat bangunan rumah yang memudahkan penulis dalam membedakan mana pondasi, mana lantai, mana ruang tamu, dan mana atap.

Mulanya saya mengira, jenis struktur yang paling Steele sukai adalah tulisan berstruktur kronologis yang dimulai dari bagian awal, menuju bagian akhir. Runtut. Ternyata tidak juga. Steele banyak menerangkan perihal struktur dengan membuat bagan-bagan di kertas karton yang sudah tersedia. Selagi dia menerangkan, kami para peserta kelas narasi menyimak di kursi masing-masing yang deretannya sengaja dibentuk menyerupai tapal kuda, nyaman dan terkesan akrab.

Ia bicara tentang tiga struktur yang lazim digunakan. Jika hendak menulis dengan dengan struktur kronologis, hendaknya penulis menggunakan engine yang kuat untuk memikat pembaca. Begitu juga ketika kita menulis dengan gaya anti-klimaks. Jika memulai tulisan dari bagian akhir tulisan, sebaiknya pilih bagian yang sangat menarik dan mudah diingat. Sebab, menulis dengan gaya mundur ke masa lalu, kemudian kembali maju hingga konflik selesai, butuh detail yang kuat.

Steele juga menambahkan, sebagai penulis, kita harus menulis sesuai fakta, apapun struktur tulisan yang kita gunakan.

"Tulisan yang jujur akan menghidupkan kepercayaan pembaca."

Menurut Steele, narasi juga menggunakan 5W1H, namun tidak kaku. Masing-masing dari 5W1H lebih dideskripsikan secara detail dan mendalam. Ada bagian-bagian yang diramu lebih luas, misalnya pada unsur how. Tentu kita juga harus pandai merangkai kosakata yang baik, unik, dan diharap bisa memikat pembaca dengan tidak mengurangi tujuan, yaitu menyampaikan pesan. Ia juga menerangkan tentang bagaimana kutipan yang baik, memasukkan unsur dialog dalam tulisan kita, dan bagaimana membuat detail yang padat serta ekspresif. Satu lagi, tentang merangkai konflik dalam tulisan untuk memancing rasa ingin tahu pembaca.

Saya jadi ingat ucapan Andreas Harsono pada 18 Desember 2013, di sebuah diskusi narasi di Jember. Ia pernah membicarakan perihal struktur tulisan. Menurut Andreas, jika harus dirangkum, di dunia ini hanya ada tiga struktur berita; piramida terbalik, feature, dan narasi. Dieqy Hasbi Widhana juga pernah menambahkan di acara CLBK on air, narasi adalah struktur feature yang ditumpuk-tumpuk.

Struktur itu penting, ia bertugas untuk menjaga irama tulisan.

Ketika telah memahami struktur, yang harus kita pelajari berikutnya adalah bagaimana cara mengisi bagian-bagian itu. Kita butuh engine, ia adalah mesin kepenulisan yang dibutuhkan agar kita bisa menggerakkan emosi pembaca. Dengan begitu, diharapkan alur narasi kita tidak monoton melainkan berirama. Selain tentang engine, Steele juga mengingatkan pada seluruh peserta Kelas Jurnalisme Sastrawi XXII akan pentingnya makna.

"Tulisan butuh makna dan mesin. Semua tulisan punya makna. Kalau tidak punya makna, mengapa menulis? Tapi tidak semua tulisan punya mesin. Makna saja tidak cukup, kita butuh alat seperti narrative."

Jika struktur berfungsi sebagai penjaga gelombang irama, maka makna dan engine adalah senjata untuk menguatkan tulisan.

Mengenai nama kursus itu sendiri, Steele lebih suka menyebutnya narrative dibandingkan dengan sastrawi. Baginya, jurnalisme sastrawi adalah istilah yang tidak tepat. Kata sastrawi di belakang jurnalisme seolah-olah genre ini dipandang sebagai aliran yang tidak setia pada fakta, seolah menyilangkan antara fakta dan fiksi.

"Tidak ada pernikahan antara jurnalisme dan sastra. Itulah kenapa saya lebih senang menggunakan istilah Jurnalisme Narrative."

Sedangkan jurnalisme sastrawi, ia dibangun berdasarkan rangkaian fakta, tidak ada tempat untuk khayalan penulis. Satu-satunya kemiripan antara laporan jurnalisme sastrawi dengan novel, ia bisa setebal karangan fiksi, dan sama-sama tampil memikat. Itulah kenapa genre ini disebut juga dengan teknik menulis panjang.

Kata Andreas Harsono, walaupun genre ini memakai kata 'sastra' tapi ia tetap jurnalisme. Jika tertarik, silahkan baca artikelnya yang berjudul, Tujuh Pertimbangan Jurnalisme Sastrawi.

Saya suka ketika Steele menjelaskan panjang lebar mengenai laporan pendek Anthony Shadid, berjudul A Boy Who was Like a Flower. Menurutnya, Shadid terbilang cemerlang dalam merangkai sisi lain perang yang terjadi di Irak secara detail pada pembaca. Di saat itu, belum ada wartawan yang menyuguhkan berita seperti yang ditulis Anthony Shadid, apalagi di Washington Post.

"Saya diyakinkan oleh penulis."

Janet mengatakan itu, kemudian kembali menjelaskan tentang kekuatan tulisan Anthony Shadid. Apa yang dipaparkan oleh Shadid bukan melulu tentang Bush dan Saddam, bukan tentang pro Amerika atau Irak, melainkan tentang tewasnya Arkan Daif. Bocah berusia 14 tahun itu tewas akibat bom di Irak, akhir Maret, sebelas tahun yang lalu. Shadid juga berhasil menggambarkan bagaimana orang Islam ketika melakukan pemakaman, memperlakukan jenasah untuk terakhir kalinya. Bagi umat muslim, tentu berita mengenai pemakaman dianggap sederhana dan biasa saja. Tapi ketika kisah tersebut dibaca oleh warga Amerika, efeknya akan menjadi berbeda. Dimata Steele, deskripsi Shadid terbilang sederhana, kuat, dan langka.

Kepada kami yang mengikuti kelas jurnalisme sastrawi, Janet Steele menyarankan untuk memperhatikan struktur dan dialog yang digunakan oleh Shadid. Saya pribadi cukup terkesan dengan kutipan, "Makanan kami lebih enak dari makanan mereka." Sederhana saja kutipan itu, tapi berhasil membangun kekuatan kisah, bahwa rakyat Irak tidak suka dengan terjadinya perang. Mereka tidak mau anak-anak mereka mati oleh bom.

Shadid bukan orang muslim. Keluarganya tidak ada yang berbahasa Arab. Ia seorang warga Amerika kelahiran Oklahoma City, keturunan Lebanon, dan belajar sendiri Bahasa Arab. Liputannya soal Irak memenangkan Pulitzer tahun 2004. Penghargaan yang sama juga kembali ia terima tahun 2010, dua tahun sebelum ia meninggal dunia. Shadid menggunakan kutipan sebagai engine yang dapat menggerakkan emosi pembaca. Tulisannya juga terasa bergelombang, tidak statis. Tulisannya berani tampil beda, dimana saat itu tidak ada seorang pun jurnalis Washington Post yang mengabarkan perang sebagaimana hasil tulisan Shadid. Ia berhasil memperlakukan kebenaran dengan baik, bahkan meskipun kejadian ini kecil sekali, hanya sedikit korban, dan tidak diperhatikan oleh pemerintah.

Menurut Steele, Shadid mengingatkan kita bahwa sesuatu yang kecil, jika dituliskan dengan baik dan sesuai fakta, maka hasilnya akan baik.

Tentu saya senang berkesempatan belajar dari Janet Steele. Meskipun waktu kami dengannya terbilang singkat -hanya dua hari- namun saya membuat catatan yang panjang tentang dirinya, terlebih di pertemuan hari pertama.

"Biasanya saya tidak memberi materi yang banyak di hari pertama. Tapi waktu saya sedikit, hari Rabu --8 Januari 2014-- saya sudah harus pulang."

Ketika saya harus mengingat seorang Janet Steele, yang saya ingat bukan segala penampilannya di hari kedua, seperti yang tampak dalam foto di atas, melainkan perjumpaan pertama, sebab saya mencatatnya.

Cuplikan catatan saya tentang Janet Steele:

Steele mengenakan pakaian dengan warna padu putih atas bawah. Sepatunya berwarna coklat muda keperakan. Tampak serasi dengan warna rambutnya. Di tangan kanannya ada tiga gelang warna nikel, seperti warna sendok. Terasa pas dengan jam tangan yang ia kenakan di tangan kiri. Ia berkacamata bening, dengan frame biru tua. Dari jauh, frame itu tampak seperti berwarna hitam, dengan ujung gagang frame yang sembunyi dibalik rambut pirangnya. Di saat santai, ia lebih senang membuka kacamatanya. Sesekali Steele menyelipkan rambutnya di balik telinga, membuat anting-anting yang ia kenakan tampak mencolok. Bentuk antingnya seperti gunung, warnanya bening, dengan lubang besar di tengahnya.

Masih ada banyak lagi catatan-catatan saya tentang Janet Steele selama mengikuti kelas menulis di Yayasan Pantau. Tidak semuanya saya tuliskan kembali, sebab itu hanyalah catatan ketika saya belajar menulis deskripsi pendek secara detail.

Janet Steele adalah dosen George Washington University, Washington DC. Dia menulis kolom rutin Email dari Amerika pada 2007-2011 di harian Surya, Surabaya. Steele juga menulis buku sejarah majalah Tempo Wars Within: The Story of Tempo an Independent Magazine in Soeharto's Indonesia. Buku tersebut sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Steele lancar menulis dalam Bahasa Indonesia, biasa mengajar kursus menulis di Yayasan Pantau, setiap tahun, sejak tahun 2001. Sumber dari sini.

Berbeda dengan Janet Steele yang lebih menekankan pada struktur tulisan, Andreas Harsono melanjutkan kelas narasi dengan mengajak para peserta untuk belajar mengisi struktur dengan tulisan yang memikat. Ia senang melemparkan pertanyaan lalu mengajak semua peserta untuk bersama-sama mencari jawabannya.

Contoh pertanyaan. Kenapa sedikit orang di Indonesia yang bisa menulis dengan berkualitas? Sebab di negeri ini, pola pendidikannya tidak mengajak kita untuk berpikir kritis, yang ada hanyalah sistem pendidikan dogmatis. Kenapa narasi jarang dipakai? Karena mahal. Liputannya bisa berbulan-bulan. Pemimpin media mana yang mau membiayai liputan narasi?

Jurnalisme sastrawi adalah tentang tulisan panjang yang padat dan memikat. Namun, kebanyakan penulis takut dan menghindari kalimat panjang. Itu dirasa membosankan dan membuat pembaca lelah. Di dunia blogger, artikel panjang termasuk yang tidak populer juga seringkali dihindari. Kata Andreas, "Jangan takut kalimat panjang, jangan takut pula menulis panjang." Namun ia juga mengingatkan, tidak baik memanjang-manjangkan tulisan pendek.

Jadi, tulisan narasi adalah tentang liputan yang mendalam dan detail, tentang riset, reportase, setia kepada fakta, memaparkan dengan cara bercerita, dan tak ada tempat untuk fiksi.

Lewat struktur tulisan, Janet Steele mengajarkan pada saya untuk bisa berpikir secara struktural. Sedangkan Andreas Harsono, ia menyegarkan kembali ingatan saya untuk tak takut berpikir kritis. Ketika saya bertanya tentang ford, ia menanggapinya dengan hati luas dan kritis.

Terima kasih.

Salam saya, RZ Hakim.

15.2.14

Hutan Indonesia: Lambang Cinta Yang Lara

15.2.14
Mata saya selalu berbinar ketika mendapati uang logam 100 rupiah tahun 1978. Dibanding koin keluaran sebelumnya, 1973, bentuknya memang lebih tipis, dengan gambar rumah gadang dan gunungan wayang yang dilingkari tulisan, "Hutan Untuk Kesejahteraan." Kadang istri saya bertanya, buat apa menyimpan uang logam itu? Saya tahu, ini adalah koin yang sudah tak laku lagi. Tapi saya suka, atas nama kenangan, dan atas nama pesan yang dibawanya.

Dulu, saya menggunakan sekeping uang ini untuk membeli bakso di warung Pak Misdi, semangkuknya 50 rupiah. Pak Misdi adalah seorang tukang kebun di SDN Patrang 1 Jember yang rumahnya di dalam areal sekolah. Kadang kalau beruntung, saya bisa makan bakso sambil mendengar lagu Isabella dari radio milik keluarga Misdi. Ketika itu, rasanya tak ada dari kami yang tak suka menyanyikan Isabella.

"Dia Isabella lambang cinta yang lara.."

Ada sederet kisah antara saya dengan koin 100 rupiah berbahan Cupro Nikel ini. Di usia SD saya telah paham apa itu hutan, dan secara kasar mengerti akan arti sejahtera. Namun saya tidak benar-benar tahu apa arti dari kalimat, hutan untuk kesejahteraan.

Hingga masuk SMA kelas satu, hubungan saya dengan koin ini semakin dekat. Waktu itu tiket angkot untuk pelajar 100 rupiah. Setahun berikutnya Indonesia diterjang krismon, berdampak pada harga angkot Lin dan Bus DAMRI di Jember. Naik seratus persen. Tentu, saya masih akrab dengan si koin, namun belum berpikir luas pada pesan yang dibawanya.

Tahun berikutnya, proses kelulusan saya di SMA diwarnai dengan kisah lengsernya Pak Harto. Ketika itu saya menontonnya di rumah Pakde Jumali, Kreongan. Para Mahasiswa bersorak. Ada yang tertangkap kamera sedang menitikkan air mata.

Berkumpul bersama para tetangga di kampung Kreongan sambil menatap layar televisi 12 inchi, tiba-tiba saya merasa bodoh. Ada apa dengan Indonesia? Memang, sedari awal Maret hingga Mei 1998, saya mendengar adanya sederet kejadian di Jakarta, namun saya tidak berpikir lebih jauh. Saya rasa, pendidikan yang saya dapat sedari SD hingga SMA tak serta merta membuat saya berpikir kritis, memikirkan bangsa ini.

Sepertinya ada yang salah dengan cara saya belajar.

Hari berganti, saya tumbuh bersama sang waktu. Kini, saya senang mengingat kisah tentang nostalgia bakso Pak Misdi, lagu Isabella, kenangan ketika naik Bus DAMRI dalam kota, hingga koin kesayangan.

"Jadi, dulu Mas sering bawa koin ke telepon umum cuma untuk request lagu di radio?"

Istri saya tersenyum saat saya menceritakannya. Kepadanya, saya ceritakan juga tentang sekotak mesin game bernama dingdong.

Hutan Untuk Kesejahteraan

Kalimat yang pernah merakyat. Ia benar-benar ada di tangan rakyat, berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, tapi tak semua rakyat tergugah kesadaran kritisnya. Uang dilempar sebelum tercipta infrastruktur yang kuat, atau sudah kuat tapi dipelintir, seperti dipelintirnya statement Gus Dur perihal 'hutan untuk rakyat.'

Sebagian hutan di Indonesia menjelma menjadi kebun dan tambang, sebab manfaat ekonominya tidak dikelola secara benar. Penyakitnya masih sama, mental korupsi dan buruknya tata kelola hutan.

Lalu saya teringat wejangan dari Profesor Rato.

"Nenek moyang kita tinggalnya di hutan, sedang Belanda tidak memiliki hutan. Mereka mengadopsi UU Kehutanan dari Jerman, padahal karakter hutannya tidak sama. Hutan di Indonesia bisa ditinggali, sementara di sana tidak. Begitu UU itu diterapkan, maka kacau. Corak UU tersebut sangat kapitalistik, sementara adat-adat di Indonesia lebih filosofis."

Ah, kita hanya menambal sulam UU Kehutanan yang sedari awal sudah kacau.

Nilai penting hutan tergeser oleh pertimbangan ekonomi semata, tak lagi berfilosofi Protect Paradise. Lihat saja cara Indonesia memperlakukan perkebunan kelapa sawit. Di satu sisi bangga bisa memproduksi bahan bakar nabati berkarbon rendah, di sisi lain itu berawal dari penggundulan hutan yang justru menjadi sumber emisi terbesar di Indonesia.

Penanganan hutan secara keliru tentu berdampak pada hak dasar manusia yang paling vital, oksigen. Setelah oksigen, air menduduki peringkat berikutnya. Hak asasi manusia atas air merupakan prasyarat untuk realisasi hak dasar lainnya. Tentu, air sangat berkaitan erat dengan fungsi hutan sebagai water regulator.

Penutup

Tak sedikit dongeng kuno yang mengkisahkan bahwa hutan adalah tempat bagi para pendekar untuk menempa diri. Ketika telah tiba saatnya, ia akan keluar dari hutan dan menumpas kejahatan. Kini hutan menjadi semakin sempit, dimana para pendekar-pendekar itu?

Kembali saya menatap koin kenangan, uang logam 100 rupiah tahun 1978. Ia adalah lambang cinta yang lara.

Salam saya, RZ Hakim.

14.2.14

Erupsi Kelud di Secangkir Wedang Uwuh

14.2.14

Wedang Uwuh - Dokumentasi oleh Dedie, 13 Februari 2014 pukul 23.17

Tadinya, semua baik-baik saja. Saya dan Prit sedang menikmati wedang uwuh di angkringan pojok RRI Jember. Ini pertama kalinya saya menikmati wedang uwuh, tak heran jika saya banyak bertanya. Kenapa ada daunnya? Kok warnanya merah cerah? Kata Crescent Luna, uwuh terbuat dari banyak bahan, mulai dari secang, cengkeh, pala, jahe, dan gula batu.

Yang menarik, uwuh itu artinya sampah. Ia adalah minuman tradisional nusantara yang populer di Jogja.

Di angkringan pojok RRI Jember tersebut ada disediakan juga tivi untuk pengunjung. Ketika salah seorang dari kami memindah channel, ketika itulah saya baru mengerti tentang apa yang terjadi dengan Kelud. Tentu saya terkejut. Saya bukan penikmat aktif televisi dan hanya update informasi dari radio, blog, juga jejaring sosial. Itu juga kalau saya sedang berselancar maya.

"Ayo Mas kita pulang."

Begitulah, tak lama setelah mendengar berita Erupsi Kelud, saya menuruti ajakan Prit untuk bersegera pulang. Sementara kami pulang, kawan-kawan yang lain, Yongki Loho, Dedie Handoko, Achmad Bachtiar, dan lain-lain, masih bertahan di sana sembari melahap berita dari televisi.

Selama perjalanan naik motor dari RRI Jember menuju panaongan, Prit banyak bercerita tentang letusan Gunung Kelud tahun 1990, hampir seperempat abad yang lalu. Ketika itu Prit masih bocah, ia baru berusia 4 tahun. Sebelia itu, Prit sudah bisa mengingat akan suasana Desa Rengel, Tuban, di siang hari. Rengel adalah tempat dimana ia lahir dan bertumbuh.

"Jangan keluar-keluar, lagi ada hujan abu. Gunung Kelud mbledos. Begitu kata Mbah Dok kepada saya. Mbah Dok adalah Nenek saya dari pihak Bapak. Ketika saya melongok keluar jendela dan menatap langit, saya melihat sesuatu yang pekat, ibarat mendung tebal di hari yang telah senja."

Memang hanya itu yang bisa Prit ingat. Keren. Saya justru tidak ingat, sedang apakah di hari itu.

Barusan saya googling, letusan Gunung Kelud pada 10 Februari 1990 -berlangsung selama 45 hari- bersamaan dengan dibebaskannya pejuang anti diskriminasi di Afsel, Nelson Mandela. Esoknya, dunia olahraga mencatat bahwa Mike Tyson ternyata bisa dikalahkan. Ia KO di tangan James Douglas pada ronde ke-10.

Sumber: dari mesin pencari google, dengan kata kunci; sejarah 10 Februari 1990.

Tiba di rumah, saya segera menyalakan laptop, memasang modem, kemudian update tentang kondisi terkini penduduk di sekitar titik erupsi. Di media sosial twitter, ada banyak informasi yang saya retweet. Saya rasa, sementara hanya doa dan memperkaya data saja yang bisa saya lakukan. Namun, bersamaan dengan data yang semakin terkumpul, datang kabar-kabar lain yang simpang siur.

Foto hoax dimana-mana. Kok tega ya?

Ibaratnya sedang mengayak pasir, saya mulai menyaring semua data yang sudah saya dapatkan. Dari Kang Pakies, saya memperoleh gambaran yang lebih sederhana namun detail, juga humanis. Ia mendengar kabar tentang Erupsi sejak sehari sebelumnya, 13 Februari 2014 pukul sebelas malam. Ia memulai infonya dari update status pada 14 Februari 2014 pukul 00.49 WIB.

"Tempatku sekarang hujan pasir, semua orang mengungsi. Mohon do'anya ya dulur-dulur blogger."

Kang Pakies sekeluarga tadinya terlelap. Ia kemudian bangun sebab teringat si anak yang nomor dua, Ikhsan Kamal, saat itu berada di asrama -boarding school- sekolah yang berada di daerah Bence - Garum, Blitar. Kang Pakies tampak sangat khawatir, sebab daerah Bence sangat dekat dengan jalan lahar Erupsi. Tidak menunggu lama, ia segera meluncur menjemput Ikhsan Kamal. Jarak yang harus ditempuh sekitar 23 kilometer.

Ketika telah meluncur menuju ke arah timur, lalu lintas jalan raya sudah sangat ramai. Hampir semua kendaraan mengarah ke kampungnya di Srengat. Hanya kendaraan Kang Pakies dan mobil ambulance Kecamatan yang menuju kota Blitar.

"Srengat adalah salah satu tempat tujuan evakuasi dan tempat mengungsi warga sekitar, termasuk sebagian warga Blitar. Ini karena di Srengat ada Gunung Pegat yang Insya Allah dapat memberikan rasa aman jika sewaktu-waktu terjadi lelehan lava dari Gunung Kelud. Apalagi, sejarah letusan Gunung Kelud terparah tahun 1960an, melewati daerah Poluan Srengat yang kira-kira jaraknya sekitar 5 km dari daerah saya, Srengat."

Endingnya, Kang Pakies berhasil menjemput putranya yang nomor dua.

Di tengah perjalanan pulang, ketika mereka sampai di daerah Tugu Rante, body kendaraan Kang Pakies diterpa oleh hujan pasir. Ia lalu mengurangi kecepatan laju kendaraan. Sebab dengan kondisi jalan berpasir, ditambah hambatan pandangan, mudah bagi kendaraan untuk tergelencir. Pengemudi harus ekstra berhati-hati. Kata Kang Pakies, kondisi yang lebih parah adalah daerah Pare, Wates, di sana bukan lagi hujan pasir, melainkan kerikil. Karena jalan berpasir, di beberapa tempat ada motor selip, terpeleset.

"Jalan raya penghubung Blitar – Kediri sudah sangat sepi seiring terjadi peningkatan hujan pasir yang terjadi. Suara pasir yang jatuh begitu sangat deras dan gemerisik. Dan kondisi hujan pasir ini sudah mulai mereda sekitar pukul 02.00 tadi."

Kang Pakies menuliskan itu semua di blog pribadinya, di sini, sedari pukul 02:21 WIB dan terposting 28 menit kemudian.

Sebelum membaca catatan blog milik Kang Pakies, saya juga berkomunikasi dengan dua keluarga tamasya yang ada di Kota Kediri, Eli Suriana dan Bagus Adi Susanto. Dari Eli Suriana saya mendapat balasan sms pukul 01.28, sedangkan dari Bagus Adi Susanto, pesan saya terima pukul 02.21, bersamaan dengan saat Kang Pakies mulai menulis.

"Hujan pasir dan kerikil, suara dentumannya terdengar terus dari tadi, sudah sekitar dua jam."

Itu kabar dari Eli Suriana atau biasa saya panggil Elis. Tentu saya khawatir, ia dan suaminya adalah sahabat kami. Mereka kawan Prit satu angkatan dan sama-sama pernah berproses di Dewan Kesenian Kampus Fakultas Sastra Universitas Jember. Baru dua belas hari yang lalu mereka pulang dari panaongan dan kembali ke Kediri. Elis menghabiskan waktu beberapa hari refreshing di Jember, tidurnya di rumah kecil kami.

Selanjutnya warta dari Bagus Adi Susanto.

"Hujan kerikil kecil sekali kok mas, cuman tadi deras disertai guntur sekarang udah tenang mas."

Semoga apa yang disampaikan Bagus benar adanya, semoga dia tidak sedang menghibur saya. Tadinya saya tidak mengira jika si Bagus lagi ada di Pare, Kediri. Sebab seminggu lalu ia masih mengantarkan buku pada saya.

Kabar lain saya dapat dari Mas Naim Ali, penggagas dan penggerak Taman Baca Mahanani di Kediri. Lokasi Mahanani sendiri jaraknya dari Gunung Kelud kurang lebih satu jam perjalanan.

"Ketebalan pasir 2 cm. Kami aman, semoga warga Kelud juga aman. Amin."

"Ya, kami sempat kelabakan selamatkan buku. Tapi kami yakin warga Kelud amat sangat lebih kelabakan. Mari berdoa untuk keselamatan mereka."

"Sesekali terdengar suara batang pohon patah, juga sesuatu yang rubuh."

"Kilatan-kilatan Kelud tadi seperti di Mortal Combat, semacam adegan portal mulai terbuka. Indah, ngeri, dahsyat."


Jember pagi ini, cerah yang berbalut warna mendung - Dijepret pukul 07.06

Pagi ini kedahsyatan warna pink terkalahkan oleh warna-warni Erupsi Gunung Kelud, seperti saat tersungkurnya Mike Tyson oleh James Douglas. Pijar bara apinya, yang saya lihat dari foto-foto kiriman warga dunia maya, itu juga mengingatkan saya pada warna wedang uwuh semalam. Secara imajiner, saya seperti sedang melihat Erupsi Gunung Kelud di secangkir wedang uwuh.

Pray for Kelud.

Mendung pekat, sisa-sisa kerikil, tebaran abu, dan sebuah pesan dari Rindang Anggraeni Putri, enam jam yang lalu. Dia bilang, setidaknya butuh 35 ribu masker untuk wilayah Kediri dan Batu.

Tadi pagi pukul 04.17 bersamaan dengan suara adzan, ada saya dengar juga suara gemuruh. Istri saya juga mendengarnya. Apakah itu berasal dari Gunung Kelud? Atau hanya perasaan saya saja, sebab terlalu larut memikirkan bagaimana kini nasib warga di sekitar Sinabung? Bagaimana pula dengan mereka yang menjadi korban banjir, apakah sudah baik-baik saja? Belum lagi usai semuanya, kabar duka datang dari Kediri - Blitar dan sekitarnya.

Doa terbaik untuk semuanya; untuk warga sekitar Kelud, untuk mereka di Sinabung, untuk semua yang tertimpa bencana, doa untuk mereka yang tergilas ketidak-adilan, doa untuk Indonesia, doa untuk warga dunia.

Salam saya, RZ Hakim.

12.2.14

Mohamat Solihin

12.2.14

Mohamat Solihin a.k.a Pije

Seorang lelaki muda pengendara sepeda motor vixion letter T dengan warna tangki merah tiba-tiba memarkir motornya di pelataran rumah singgah panaongan. Saya tidak mengenalnya, begitu juga dengan istri saya. Setelah bertegur sapa, ia memperkenalkan diri dengan nama Vj Lie. Nama yang sulit untuk lidah orang Jember, mungkin itu cikal bakal kenapa kemudian saya terbiasa memanggilnya Pije. Kelak saya mengerti, nama sebenarnya adalah Mohamat Solihin. Vj Lie lahir dari sebutan kawan-kawannya.

Ia masih muda, usianya tak sampai seperempat abad. Perawakannya kurus, kulit kuning langsat, tinggi badannya 176 cm, dengan berat badan 55 kilogram, dan rambut lurus cepaknya, membuat ia mudah diingat.

"Mas, Mbak, saya dari Jambearum, Puger, Jember Selatan. Apa benar ini markasnya CLBK?"

Wew, kaget juga kami mendengar kata markas. Tidak terbiasa. Terlebih, ketika itu logat bicaranya asing, tak menandakan bahwa ia anak Njemberan. Namun pada akhirnya saya mengangguk juga. Saya jelaskan kepadanya, rumah kami biasa disinggahi kawan-kawan, biasa pula disebut dengan rumah singgah panaongan.

"Di sini tempat kumpul-kumpulnya keluarga tamasya. Mereka punya program sederhana, mengumpulkan botol-botol kosong, kini dikenal CLBK, Cangkruk'an Lewat Botol Kosong. Tak selamanya panaongan ramai. Hanya saat-saat tertentu saja. Kadang sepi, hanya ada saya dan istri, ya seperti sekarang ini."

Jeda sejenak.

Pije membuka tas deypack-nya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Beberapa botol kosong, dan buku tulis untuk kawan-kawan Sekolah Dasar. Iya, memang hanya beberapa saja, tapi saya mengagumi prosesnya. Kagum dengan cara dia menempuh perjalanan dari Jambearum menuju Patrang, 37 km, hanya untuk mengantarkan itu. Pije bilang, ia mengerti tentang keberadaan CLBK dari media sosial.

Perkenalan yang unik jika kembali diingat saat ini, 16 bulan kemudian.

Hari berganti, Pije semakin sering ke rumah singgah panaongan, dan saya semakin mengenalnya.

"Sejak lulus STM Negeri Jember tahun 2008, saya langsung hijrah ke Karawang. Di sana saya bekerja di sebuah perusahaan kawat baja, PT. Bekaert Indonesia. Ia adalah perusahaan dari Belgia. Tahun itu saya masih ikut outsourcing selama enam bulan. Kemudian saya keluar dari perusahaan lantaran krisis moneter 2009. Enam bulan kemudian, Juli 2009, saya kembali bekerja di tempat yang sama, masih sebagai karyawan outsourcing. Pada Agustus 2010 ada pengangkatan karyawan tetap, termasuk saya. Karier saya semakin menanjak. Di akhir tahun 2011, bersama kawan-kawan yang lain saya ikut mendirikan serikat pekerja dengan nama FSPMI, Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. Gagasan yang pertama kali kami ususng adalah tuntutan kehidupan yang layak untuk karyawan, baik karyawan tetap apalagi outsourcing."

Keren juga sepak terjang si Pije, meski ia harus membayar mahal dengan semua itu.

"Kalau berkisah tentang FSPMI, ngenes Mas. Perusahaan memecat 30 pendiri pertama, termasuk saya. Itu terjadi setelah tiga bulan pendirian Federasi. Februari 2012 adalah kenangan pahit tersendiri bagi saya dan kawan-kawan FSPMI. Tidak langsung dipecat sih, masih ada proses skorsing satu tahun, itu juga termasuk negosiasi pengadilan. Masa-masa skorsing lebih banyak saya habiskan di Jember selama sembilan bulan. Baru tahu ada program CLBK itu awal Oktober. Pada November 2012 saya berinisiatif merapat, soalnya ada saya dengar CLBK mau mengadakan acara bedah buku dan BHSB -Blogger Hibah Sejuta Buku- pada 15 November 2012."

Lalu Pije bercerita tentang proses tukar guling yang ditawarkan perusahaan. Mereka menawarkan hendak menyelesaikan masalah-masalah yang diajukan oleh FSPMI, antara lain; membubarkan serikat tandingan di dalam perusahaan yang diciptakan oleh perusahaan, namanya Bamus alias Badan Musyawarah. Mereka juga menyetujui adanya FSPMI, dan usulan tentang diangkatnya karyawan kontrak menjadi karyawan tetap. Helper, karyawan yang sudah mengabdi 5 sampai 10 tahun langsung diangkat menjadi karyawan tetap tanpa uji coba. Untuk masalah kesehatan dan kesejahteraan, juga akan menjadi poin utama perusahaan, mereka sepakat untuk melakukan peningkatan.

Apa harga yang harus dibayar demi itu semua? Tidak lain, para pendiri FSPMI semuanya dipecat dari perusahaan termasuk Pije.

Momen tersebut kemudian dikenal dengan tukar guling, mengikuti istilah-istilah sebelumnya untuk kasus yang kurang lebihnya serupa. Kabar baiknya, FSPMI masih ada sampai sekarang, dan segala yang pernah dijanjikan oleh perusahaan benar-benar mereka laksanakan. PT. Bekaert Indonesia tidak sedang berbohong.

"Mangkane PT. Bekaert Indonesia iku wani mbayar larang Mas. Setelah saya menandatangani surat keputusan berhenti, lima hari kemudian saya mendapat pesangon sebesar 42 juta rupiah. Rata-rata 30 pendiri FSPMI mendapatkan pesangon segitu. Lumayan, saya bisa menyelesaikan kredit vixion, beli laptop, kamera DSLR, dan perabotan lain."

Iya, saya masih ingat di awal-awal perkenalan kami. Pije bingung hendak dibagaimanakan uang pesangon itu. Mulanya ia hendak bisnis kuliner, jualan nasi goreng di Jember. Namun urung. Saya hanya menganjurkan padanya untuk melakukan sesuatu yang ia suka, dan menjadikan itu sebagai sumber penghasilan. Ketika Pije sering berkunjung ke panaongan, ia juga mengenal sosok Faisal Korep, seorang fotografer landscape. Ia adik saya di pencinta alam SWAPENKA. Bersama Faisal Korep, Pije mendiskusikan banyak hal tentang dunia fotografi.

"Beberapa saat setelah lulus STM jurusan mesin, saya juga pernah punya kamera, Nikon Coolpix. Tapi tak lama saya memegangnya. Kamera itu kemudian saya jual untuk biaya transportasi ke Karawang."

Kini, Pije telah enjoy dengan dunianya, menjadi seorang fotografer. Baginya, setiap hari adalah hari bahagia. Meski demikian, ia juga menyimpan selembar kisah sedih.

Pije adalah tiga bersaudara, ia nomor dua. Ia punya seorang kakak perempuan bernama Aulia Milasari, telah menikah dengan Fathur Rohman. Mereka memiliki dua orang anak, Aura dan Farel. Pije sangat menyayangi mereka, begitu pula dengan kedua orang tua Pije, Sumali dan Sumila. Adik Pije bernama Ahmad Amanu, kelahiran tahun 1993. Nu, begitu biasanya Pije memanggilnya. Tentu, ia juga sangat mencintai adik lelakinya ini.

Nu meninggal dunia pada 14 November 2013 yang lalu. Ia menutup mata selama-lamanya di pangkuan kakak lekakinya, Pije. Terpukul? Tentu saja. Sehari sebelumnya Pije menghabiskan waktu di panaongan. Tak dinyana, detik-detik itu Nu sedang merindukannya. Ah, sulit sekali menceritakan bagian ini. Baiknya saya kutipkan saja apa yang telah diceritakan oleh Pije.

"Saat itu Nu memberi saya kode-kode yang aneh, kode yang membuat saya secara otomatis beranjak dari kursi empuk, mendekatinya sembari memegang tangannya yang gemetar karena sakit. Sedari pagi ia belum sembuh. Saya ikuti tarikan tangannya, seakan ia mengajak saya untuk memeluk tubuh bongsornya. Ah, saya tidak mengerti bahasa isyarat itu. Namun saya belajar memahaminya. Saya kira Nu meminta minum karena gerah dalam ruang kamar. Air minum saya sodorkan dengan dekap yang masih erat. Saya menjaganya. Sendok demi sendok air telah Nu telan dengan susah payah. Saya mencoba tenag, dan saya masih memelukmu sambil setia menuangkan air untuk Nu. Namun tak habis satu gelas, Nu memberi saya kejutan. Badannya lemas. Ia perlahan tak bernapas. 'Nu, jangan bercanda saat keadaan seperti ini,' gurau saya. Namun Nu tetap diam, diam, dan diam. Ia masih dalam pelukan saya ketika memejamkan mata."

Ah..

Belum lagi 40 hari kepergian Nu, Pije turut jalan-jalan ke Jogja, di acara Blogger Nusantara. Saya mencoba menahannya. Ia bilang, sedang butuh bertamasya hati. Lalu kami rombongan kecil Jember, berangkat menuju kota gudeg.

Kini Pije telah terlihat fresh. Ia senang melakoni hobinya keluyuran kesana kemari sambil menenteng kamera. Ketika ia bersentuhan dengan komunitas Backpacker Jember, hobi jalan-jalannya semakin tersalurkan. Ia punya banyak teman dengan kesukaan yang sama. Seringkali Pije datang ke rumah saya sembari mengajak teman dari luar kota. Sangat menyenangkan melihatnya gembira. Lebih menyenangkan, saya turut menjadi saksi atas proses fotografi seorang Mohamat Solihin, sedari dia tak sepandai sekarang dalam mencari angle.

Pije juga seorang blogger. Ia menyimpan beberapa catatannya di sini.

Pije, selamat berproses, selamat berdansa dengan kehidupan. 

Salam saya, RZ Hakim.

11.2.14

Tan Malaka Bicara Cinta

11.2.14

Padi tumbuh tak berisik - Tan Malaka

Harusnya kemarin saya menemani Prit ke Aula Fakultas Sastra Universitas Jember. Iya, jurusan Ilmu Sejarah lagi punya gawe. Mereka menggelar kelas kuliah umum dan menghadirkan Dr. Harry A. Poeze, seorang peneliti sejarah asal Belanda dan juga mantan Kepala Penerbit KITLV di Leiden. Prit bergairah sekali untuk hadir.

"Ini tentang Tan Malaka Mas!"

Wajahnya berseri ketika mengatakan itu. Saya diam. Tak saya katakan kepadanya jika kepala ini sedang pening. Jangan sampai istri saya tahu jika suaminya ini sedang tidak enak badan. Saya tidak ingin membunuh mimpinya, tak ingin mendengar kalimat, "Aku di sini saja menemani Mase." Ada satu mimpinya yang belum bisa saya berikan. Tentunya, saya tidak ingin menjadi penghalang untuk mimpi-mimpinya yang lain.

Prit istri saya yang mungil, ia ingin sekali mengunjungi Stadion Artemio Franchi di Firenze Italia. Ia memelihara mimpi untuk bisa meniti jejak dan kenangan seorang legendaris bernama Gabriel Omar Batistuta. Saya belum bisa mengantarkannya ke sana, manalah mungkin saya tega membunuh satu mimpi yang lebih mudah untuk dijangkau?

"Jika Tuhan mengijinkan, akan ada saatnya kita ke Itali."

Prit tidak tahu banyak tentang siapa dan bagaimana pemikiran Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, lelaki yang dilahirkan pada 117 tahun yang lalu dan gugur pada 65 tahun yang lalu ini. Baru tiga hari kemarin ia tertarik untuk mengenal siapa dan bagaimana Tan Malaka, justru karena ada penolakan bedah buku Tan Malaka oleh FPI di Surabaya. Terlepas dari semuanya, kiranya pantas bagi saya untuk berterima kasih kepada yang membuat Prit terinspirasi untuk berpikir lebih luas.

Terima kasih FPI.

Perihal mimpi mengunjungi Stadion Artemio Franch, Prit pernah menuliskannya di blog miliknya, berjudul; Batistuta, Kamar Bola, dan Mimpi Untuk Kesana. Bagi saya, itu adalah artikel yang oke. Kalimat pendek 'antarkan aku ke tempat itu' benar-benar menggugah kesadaran saya untuk bisa menjadi suami yang baik dengan menemaninya menghirup udara di Firenze. Namun saya menyayangkan satu hal, di sana juga ada komentar-komentar miring, satu diantaranya membuat Prit menangis. Saya katakan kepadanya, "Kita telah ada di jaman komunikasi yang berbeda, dan ini masyarakat dunia maya. Mereka mudah dan bebas untuk memberikan komentar apapun, kadang lupa diri. Jadi jangan menangis Prit, semua baik-baik saja. Berterimakasih sajalah pada komentator."

Komentar Yang Membuat Prit Menangis:

Komentar dari seorang blogger dengan nama Sofyan, sayang ia serupa Anonim. Kita tak bisa berkunjung balik untuk sekedar meminta maaf semisal tulisan istri saya membuatnya tidak nyaman.

Begini komentarnya:

Hmmm…. satu penilaianku,, “cinta yang berlebihan dan kelewat batas, bahkan kepada orang yang tidak tepat”..

Lihatlah siapa yang anda puja.. apa agamanya? sebagian besar pesepakbola non-muslim, atau kalo islam pun bukan orang yg shalih. Bahkan orang shalih pun dilarang dipuja berlebihan. Yang paling pantas kita jadikan idola adalah rasulullah dan para pengikutnya dari kalangan orang shalih dan patut kita kenal dan teladani.

Mari kita intropeksi sudahkah kita mengenal dengan baik rasulullah dan para sahabatnya???

Kalo anda ditanya siapa pemain MU, chealse, real madrid, maka dengan tanpa berpikir panjang anda bisa menyebutkannya. Tapi kemungkinan besar orang-orang pemuja bola tidak akan bisa menjawab siapa saja nama 10 sahabat yang dijamin masuk surga??? Bagaiman kisah perjalanan dakwah rasulullah dan generasi islam setelahnya..

Marilah kita bersikap adil dan proporsional terhadap agama kita.. Dunia hanya sebentar, sudah selayaknya mengisinya dengan sesuatu yg besar dan bermanfaaat utk bekal kehidupan akhirat.. Kalo anda begitu bersemangat menabung untuk pergi ke ITALI dan ARGENTINA, akan lebih baik dan berpahala jika diniatkan untuk naik haji…

Maafkan saya jika membuat anda tersinggung.. saya punya kewajiban mengingatkan sebagai sesama muslim… jika tidak berkenan silakan diabaikan..

Akan lebih baik jika kita mengidolakan tokoh-tokoh islam seperti imam abu hanifah, imam malik, imam syafi’ie, imam ahmad, dan yang lainnya. Profil merekalah yg sangat pantas utk dikenali dan dipelajari serta diteladani..
Prit berangkat menuju ke Aula Sastra dengan mengendarai motor. Saya mengantarkannya hingga ke seberang jalan. Jalanan ramai sekali. Maklum rumah kami ada di tepi jalan antar kota, menghubungkan Jember dengan Kabupaten Bondowoso dan Situbondo. Sebelum berlalu, Prit mengajak saya bercanda.

"Kalau aku diculik FPI piye Mas? hihi."

Saya tertawa. Saya katakan kepada Prit, itu tidak mungkin sebab acara digelar di dalam kampus yang memang tempat untuk melakukan kajian ilmiah. Ada saya baca di regional kompas, salah satu alasan FPI menolak bedah buku di Surabaya juga karena itu, sebab acaranya digelar di luar kampus, selain tentu saja karena keterkaitan Tan Malaka dengan paham komunisme.

Kemudian Prit berlalu. Dari tepi jalan, saya memandangnya hingga ia benar-benar tak terlihat.

Ketika Prit Pulang

"Di sana ramai sekali Mas. Acara dibuka oleh Pak Hairus Salikin, Dekan Fakultas Sastra. Aku duduk di samping Iyan. Mendekati akhir acara, Iyan bertanya. Sekali ngomong langsung tiga pertanyaan. Yang pertama, 'bagaimana sosok Tan Malaka di Belanda? Kenapa hingga menjadikan Anda tertarik untuk meneliti lebih dalam tentang jejak Tan Malaka?' Lalu Iyan bertanya lagi, 'Mengapa acara ini hanya diadakan di seputaran Jawa Timur? Kenapa tidak diadakan di Jakarta? Ada apa dengan Jawa Timur?' Terakhir, Iyan bertanya tentang tujuan acara. "Output dari acara ini apa? Apa hanya sebatas wacana bagi mahasiswa?' Gitu Mas."

"Lalu bagaimana tanggapan Harry A. Poeze?"

"Dia merangkum semua pertanyaan Iyan dengan jawaban yang panjang. Ia bilang, Tan Malaka adalah sosok yang menginspirasi tokoh-tokoh Nusantara lainnya. Akan menjadi tidak patut bila perjalanan hidup dan pemikirannya dihilangkah dari khasanah sejarah, bahkan meskipun dia dianggap kiri. Apa lagi ya? Aku lupa Mas."


Prit diantara Alifah Zaki Rodliya dan Poeze. Dokumentasi oleh Fahmi IDEAS

Kemudian Prit bercerita tentang orang-orang yang hadir di acara tersebut. Rupanya dia senang bisa berjumpa dengan sahabat-sahabatnya dulu, ketika ia masih aktif menulis di media dan terlibat erat dengan AJI, Aliansi Jurnalis Independen untuk wilayah Jember.

"Ada yang menarik Mas, tentang kisah percintaan Tan Malaka."

Prit menceritakan tentang apa yang ia dengar dari Poeze. Ketika itu ada sebuah foto terpampang di layar proyektor. Dari beberapa orang yang ada di foto tersebut, Poeze menunjuk pada salah seorang perempuan cantik. Ini adalah pacar Tan Malaka. Saya mewawancarainya ketika berusia 80 tahun. Dia bilang, Tan Malaka pernah mengirimkan surat cinta kepadanya. Namun surat itu tak pernah dibalas. Menurutnya, Tan Malaka adalah orang gila. Sayangnya menurut Prit, Poeze tak menyebutkan siapa namanya. Barangkali yang dimaksud adalah Syaripah Nawawi, teman sekolah Tan Malaka semasa di Kweek School di Bukittinggi. Ia putri seorang guru Bahasa Melayu dan satu-satunya guru pribumi di sekolah itu, namanya Nawawi Sutan Makmur.

Satu lagi perempuan yang disinggung oleh Poeze dalam acara tersebut, namanya Paramita Abdul Rahman. Pada 1945, saat Tan Malaka pulang lagi ke Indonesia dia tinggal di rumah seorang Menteri Luar Negeri, Subarjo Djoyohadisuryo. Dan disana ada keponakan Subarjo yang cantik. Paramita cinta pada Tan Malaka, tapi seperti kisah cintanya sebelumnya. Tak pernah ada perkawinan.

"Tan Malaka sosok yang sangat miskin, ia hidup prihatin dan hanya memiliki barang-barang yang sedikit. Tan hidup untuk revolusi."

"Apa kau juga menanyakan sesuatu pada Poeze?"

Prit menggeleng lemah. Dia bilang, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, hanya saja Prit segan. Prit hanya mengerti Tan Malaka secuil saja. Di matanya, Tan sejajar dengan Ernesto Guevara Lynch de La Serna. Dia menebak, bisa jadi Che pernah membaca pemikiran-pemikiran Tan Malaka.

"Tan Malaka itu pernah menempuh perjalanan selama empat puluh hari, dari Hindia Belanda menuju Moscow. Di sana ia berpidato, di acara Kongres Komunis Internasional ke-empat. Itu sudah 92 tahun yang lalu."

"Mas kok tahu, googling ya?"

"Haha, iya."

"Ada yang mencatat pidatonya, diterjemahkan oleh Ted Sprague pada Agustus 2009. Ia mengusung mimpi adanya kerja sama antara kekuatan komunis dan Islam dalam memerangi penjajahan dan kapitalisme, dan hal itu ia katakan di depan para tokoh komunis sejagat. Ia juga melawan thesis yang didraf oleh Lenin perihal Pan-Islamisme. Kata Lenin, Pan-Islamisme harus dilawan. Menurut Tan Malaka, bukan begitu caranya. Kerja sama adalah sebuah keharusan. Tan Malaka merasa punya program yang dipandang bagus, namun mereka tidak bisa memberikan sesuatu bernama surga."

"Mbulet Mas, salbut! Tak bikinkan secangkir kopi aja ya?"

Saya tertawa bahagia mendengar tawaran secangkir kopi, sekaligus malu pada diri sendiri. Saya terlalu lancip bicara, ngglethek googling. Ya sudah, kita ngopi saja, lalu kembali berbincang.

Tan Malaka lahir dari keluarga Islam yang taat. Ia pun menempa dirinya mempelajari Islam di surau, di sebuah desa tempat dimana ia dilahirkan, di sudut Sumatera Barat. Ketika ia berkata, "Berpikir besar kemudian bertindak," sebenarnya Tan sedang mengadopsi gaya hidup dan pola pikir Nabi Muhammad SAW, yang berjuang di tengah-tengah masyarakat, berpikir luas serta bertindak nyata, dan memandang sebuah persoalan dari berbagai sisi. Itulah kenapa, dalam penggalan pidatonya di depan para pembesar komunis di Moscow tahun 1922, ia berkata lantang.

"Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka."

Sedikit Tambahan

Ketika kita sedikit membaca, atau membaca sepenggal, namun sudah berani berkomentar, maka seringkali apresiasi yang kita berikan menjadi sangat berbeda. Tidak nyambung. Sama seperti ketika Prit berkisah tentang Batistuta, atas nama masa kecil dan kenangan pada kamarnya yang penuh poster, ada saja komentar yang menghakimi. Jika ia berjiwa besar, pastilah akan meninggalkan identitas yang jelas agar mudah bagi penulis untuk meminta maaf dan atau mengadakan diskusi berkelanjutan.

Mengutip kata-kata Tan Malaka di karyanya yang berjudul Semangat Muda, yang ia tulis di Tokyo pada bulan Januari 1926, ia berkata, "Janganlah segan belajar dan membaca!"

Janganlah segan belajar dan membaca! Pengetahuan itulah perkakasnya Kaum Hartawan menindas kamu. Dengan pengetahuan itulah kelak kamu bisa merebut hakmu dan hak Rakyat. Tuntutlah pelajaran dan asahlah otakmu dimana juga, dalam pekerjaanmu, dalam bui ataupun buangan! Janganlah kamu sangka, bahwa kamu sudah cukup pandai dan takabur mengira sudah kelebihan kepandaian buat memimpin dan menyelamatkan 55 juta manusia, yang beribu-ribu tahun terhimpit itu. Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan. Ada kalanya kelak dari kamu, Rakyat melarat itu akan menuntut segala macam pengetahuan, seperti dari satu perigi yang tak boleh kering. Bersiaplah !! | Tan Malaka.

Selain misteri dan hal-hal yang membuatnya kiri, sosok Tan Malaka penuh cinta. Ia membicarakan rakyat dan masa depan negeri ini seakan-akan sedang jatuh cinta.

Salam saya, RZ Hakim.

9.2.14

Kalisat dan Celana Dalam Yang Basah

9.2.14
Ketika hendak berangkat menuju lokasi diskusi di Kalisat, saya memandang langit yang pekat. "Semoga tidak hujan," ujar saya kepada Prit. Lalu kami berangkat menunggangi motor dan sengaja tak membawa jas hujan. Tiba di Desa Biting, hujan turun dengan derasnya. Keadaan itu mengantarkan saya pada sebuah ruko yang tutup. Ya, kami berteduh. Saya terlalu meremehkan cuaca, inilah harga yang harus saya bayar.

Terdampar di sebuah desa bernama Biting mengingatkan saya pada saat melakukan riset sejarah lisan di Kalisat. Enam bulan yang lalu, saya menemui seorang Kepala Kampung di Desa Glagahwero, Kalisat. Oleh orang-orang di sekitar rumahnya, ia akrab dipanggil Pak Husen. Tapi saya sudah terlanjur nyaman memanggilnya dengan sebutan Pak Kampung.

Ia mengawali obrolan dengan kalimat, "Saya ini penggemar ludruk Mas. Sayang sekarang di Kalisat sudah tidak ada ludruk."

Dari ludruk, tema pembicaraab berpindah ke sejarah Desa Sumber Jeruk tempo dulu. Pak Kampung membenarkan asal usul Sumber Jeruk yang dimulai dengan kata Sumber Jeru, selaras dengan nama wilayah Kalisat atau Kali-Sat, atau sungai yang kering. Tapi ia sedikit mengoreksi.

"Begini Mas Hakim, jadi dulu yang tinggal di daerah ini adalah orang-orang berbahasa Osing. Mereka menyebut tempat ini dengan nama Sumber Jerau. Seiring berlalunya waktu dan datangnya orang Eropa ke wilayah Sumber Jerau, perubahan pun tak terelakkan. Apalagi saat mereka membangun tempat agraris -tembakau- yang mula-mula didirikan di Sukowono. Mereka membawa serta orang-orang Madura sebagai tenaga kerja. Terjadilah gesekan. Lidah Madura sulit untuk mengucapkan Sumber Jerau, jadinya ya seperti sekarang ini. Sumber Jeruk."

"Apakah di sini masih tertinggal orang-orang Osing?"

Pak Kampung menggeleng pelan. "Sepertinya tidak ada Mas. Kecuali di desa Biting."

"Ohya Pak, bicara tentang Desa Biting, apa benar nama itu dimulai dengan Benteng? Mengingat dulu di sana pernah ditemukan barang-barang era Majapahit."

"Tidak Mas, kami punya versi yang lain."

Menurut Pak Kampung, nama Biting diambil dari arti harfiah biting, yaitu lidi. Dari apa yang dituturkan Pak Kampung, saya jadi tahu bahwa di suatu masa, Desa Biting adalah wilayah yang dihuni oleh orang-orang yang pandai membuat ranjau dari lidi.

"Meskipun hanya terbuat dari lidi, tetap saja mematikan Mas. Setidaknya bisa memperlambat laju pergerakan musuh."

Kemudian Pak kampung coba menggambarkan proses pembuatan ranjau lidi, hingga cara meletakkannya di tanah. Beliau mewarisi kisah itu dari Kakeknya. Sambil mendengarkan cerita dari Pak kampung, sebentar-sebentar saya menyeruput kopi buatan istri Har, rekan saya. Ya, ketika itu saya ditemani Prit sedang ada di kediaman seorang rekan di Desa Sumber Jeruk.

Berbeda dengan apa yang saya lakukan, Pak kampung sebentar-sebentar memutus ceritanya. Tangannya sibuk meraih hape, menerima telepon, atau sekedar membaca sms. Saya melirik kalender di dinding rumah Har, sudah 31 Agustus 2013.

"Sibuk ya Pak?"

"Iya Mas, sejak tadi sore. Tadi kan ada karnaval rakyat. Hiburan itu dilanjut malam ini, ada pementasan jaranan di dekat POM bensin Mayang."

"Apa di Kalisat sudah sejak lama mengenal kesenian jaranan?

"Tidak juga. Ini trend baru Mas, tapi masyarakat antusias untuk menikmatinya."

Lalu kami kembali tenggelam dalam kisah desa Sumber Jeruk tempo dulu. Pak Kampung menyebutkan banyak nama-nama, mulai Tresno Pati hingga Ki Udan Panas. Kedua tokoh lokal ini namanya diabadikan menjadi nama jalan di daerah Sumber Jeruk. Melihat latar kisah yang dipaparkan, tebakan saya, kedua tokoh di atas hidup di abad 15, di era Majapahit yang mendekati masa kehancurannya.

Obrolan itu berlanjut pada dua hari berikutnya. Pak Kampung tidak bisa memenuhi janjinya untuk mengantarkan saya ke makam Tresno Pati dan Ki Udan Panas. Syukurlah ada Har, seorang rekan yang selama ini selalu membantu saya dalam melakukan riset mandiri, dari riset sejarah hingga riset capung.

Hari sudah sore ketika saya dan Prit meluncur ke desa Sumber Jeruk - Kalisat. Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit, maka sampailah di tujuan. Har menunggu kami di tepi jalan. Tangannya penuh dengan noda oli tap-tapan, ia baru saja usai service vespa. Lalu sepeda saya parkir di dekat bengkel milik rekan Har untuk kemudian berjalan kaki menuju makam Tresnopati dan Ki Udan Panas. Letaknya yang tepat di balik sebongkah gumuk besar, membuat lokasi pemakaman ini terlihat rimbun. Hamparan nisan dimana-mana.

"Letaknya dimana?"

"Itu, yang di atas."

Har mengatakan itu sambil tangannya menunjuk ke sebuah cungkup di atas gundukan tanah yang lumayan tinggi. Ada terlihat tangga menuju ke sana. Tepat di tangga yang pertama, ada sebuah gerbang bertuliskan Assalamualaikum Ya Ahli Kubur. Keren, tempat itu mengingatkan saya pada gerbang shaolin master.

Sesampainya di puncak, saya segera berdiri di depan cungkup lalu mengedarkan pandangan, menjelajahi areal sekitar makam. Ada ruangan beratap genting dengan ukuran kira-kira 3 x 4 meter. Di dalamnya terdapat dua nisan. Tepat di samping cungkup ada bangunan yang hampir serupa dengan cungkup. Di sana sudah tersedia tikar dari daun pandan. Tempat itu dimanfaatkan untuk berteduh dari hujan dan panas, juga untuk tempatnya orang ngaji di malam Jum'at manis.

Kata Har, yang di dalam itu adalah pesarean Tresnopati Nyi Sadima, istri Tresnopati. Nama Nyi Sadima mengingatkan saya pada tokoh novel karya G. Francis yang muncul tahun 1898, Nyi Dasima. Tapi mereka berbeda. Dikisahkan dalam novel, Nyi Dasima berlatar keluarga Jawa. Sedangkan Nyi Sadima istri Tresnopati, ia Putri dari seorang tokoh asal Batu Ampar, Madura. Penuturan itu saya dapat dari Pak Kampung. Tentu, penuturan itu masih bersifat sangat lemah dan butuh dilakukan kajian lebih mendalam lagi, tidak bisa dijadikan sandaran sejarah. Pak Kampung juga berkata, Nyi Sadima masih sanak famili dari Bujuk Lattong. Bagi saya, ini masih sebuah misteri.

Tabir sejarah butuh disingkap lebih mendalam lagi. Jika tidak, cukuplah kisah itu hanya bertahan pada kolom legenda saja.

Di luar cungkup atau rumah kecil beratap untuk menaungi kuburan, masih ada empat nisan besar. Orang-orang desa Sumber Jeruk meyakini bahwa itu adalah makam Ki Udan Panas beserta istri, dan makam Singojoyo beserta istri. Singojoyo sendiri adalah menantu dari Tresnopati. Sayang, tidak ada yang tahu siapakah nama putri Tresnopati yang dipersunting oleh Singojoyo. Begitu juga dengan nama istri Ki Udan Panas, warga setempat tidak ada yang mengerti. Ini berbeda dengan anak turun dari Ki Udan Panas, saya masih bisa melacaknya. Masih menurut Pak Kampung, Ki Udan Panas adalah utusan dari Kerajaan Blambangan yang ditempatkan di Sumber Jeruk. Ki Udan Panas memiliki tiga orang keturunan yang masing-masing bernama Raden Setiban, Raden Gede Isa, dan Raden Senisa.

Jika melihat posisi nisan Tresnopati yang ada di dalam cungkup sementara nisan Ki Udan Panas ada tepat di sisi luar bagian depan cungkup, jelas Tresnopati adalah atasan Ki Udan Panas. Ibaratnya, Tresnopati adalah kades, sementara Ki Udan Panas adalah cariknya. Hasil bincang-bincang saya dengan warga setempat, ada kecenderungan mereka lebih mudah mengingat Ki Udan Panas dibanding Tresnopati, meskipun secara struktural ia ada di bawah garis komando Tresnopati. Saya pikir ini berhubungan erat dengan legenda yang lestari secara tutur tinular tentang pesan Ki Udan Panas.

Sesama warga Sumber Jeruk dilarang carok atau bertengkar, sebab Ki Udan Panas tidak suka.

Hujan masih belum lagi reda, kami masih ndepis di pelataran ruko yang tutup. Kenangan riset kecil tentang Kalisat sedikit terganggu oleh cipratan air hujan yang diakibatkan oleh mobil yang melaju kencang. Ary Yanuar Hidayat, anak Jember yang kuliah di Malang yang juga turut berteduh bersama kami, ia memandang langit dan berucap, "Udane wes lumayan terang Mas." Lalu kami tancap gas. Belum lagi satu kilo saya memacu motor, hujan kembali turun. Tanggung, lagi pula waktu untuk berdiskusi semakin mepet. Tentu kami basah kuyup. Satu-satunya hal yang menenangkan saya adalah mendengar Prit bernyanyi-nyanyi riang. Rupanya dia menikmati betul suasana sore berpadu dengan hujan lebat.

Sepanjang jalan saya lihat ada banyak anak kecil yang bertelanjang dada, berbasah-basah ria menikmati hujan. Air meluap dari tepi jalan. Pasar Kalisat terendam air setinggi sepuluh senti.

Di akhir Abad 19, Kalisat adalah kota perdagangan, serupa dengan Ambulu. Pernah saya baca kutipan dari ANRI, pada 1888 telah dibuka pasar baru di distrik Kalisat, bersamaan dengan dibukanya pasar di Mayang dan Wuluhan. Pembangunan ini berhubungan erat dengan dibukanya jalur perkebunan dan pemasaran tembakau dari Jember ke Eropa, digagas oleh George Birnie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia yang pernah menikahi perempuan Jawa bernama Rabina. Mulanya, ia mengajak serta kedua rekannya, Mr. C. Sandenberg Matthiesen dan van Gennep. Mereka mengajukan ijin pada Pemerintah Hindia Belanda untuk membuka usaha di Jember. Ijin di-acc pada 21 oktober 1859, ditandai dengan didirikannya Landbouw Maatsccappij Oud Djember. Ia bergerak di bidang tembakau jenis Na Oogst.

Lima puluh tahun kemudian, ketika telah dirintis jalur kereta api menuju Pelabuhan Panarukan, mereka melebarkan sayap. Kini bukan hanya melulu tembakau, melainkan juga perkebunan aneka tanaman seperti kopi, kakao, dan karet.

Kalisat juga dilalui oleh jalur kereta api -dari Jember- tujuan Panarukan. Berikut adalah jalur yang dilewati kereta. Berangkat dari Stasiun Jember menuju Stasiun Kotok, Stasiun Kalisat, Stasiun Sukosari - Sukowono - Tamanan - Grujukan - Bondowoso - Tenggarang - Wonosari - Tangsil - Widuri - Bagur - Situbondo - Tribungan - baru kemudian tiba di Stasiun terakhir, Panarukan.

Dibukanya jalur kereta api membuat Kalisat semakin bersolek menjadi daerah potensial yang terus bertumbuh dan berkembang. Di sini ada berbagai suku, bukan hanya Jawa dan Madura saja. Anda boleh memeluk agama apa saja, memiliki warna kulit dan berbahasa apapun, sebab Kalisat adalah ladang subur bagi keberagaman. Ya, saya tidak menutup telinga dengan kabar Jember era 1990an hingga awal Abad Millenium. Ada banyak tersiar berita tentang konflik, sedari konflik agraria hingga ketidakterimaan masyarakat ketika Gus Dur dilengserkan. Konflik mudah sekali disulut di masa-masa seperti sekarang ini, mendekati Pemilu. Tapi saya tahu Kalisat tidak semudah itu. Sebab Ki Udan Panas tidak suka jika mereka bertengkar di atas tanah moyangnya sendiri.

Kami terlalu menikmati suasana hujan-hujanan. Seperti sedang melipat waktu, tiba-tiba motor yang saya joki sudah memasuki halaman Kalijejer di Desa Dawuhan, Kalisat. Di sinilah sebentar lagi kami akan berdiskusi. Masing-masing dari kami basah kuyup, kecuali tentu saja tidak bagi mereka yang tertib mengenakan jas hujan.

Tampak di sana-sini, banyak yang mengenakan kaos hijau muda lengan panjang. Mereka adalah adik-adik SMA Negeri 1 Kalisat yang tercatat sebagai sispala EXPA. Banyak yang bersalaman dengan saya. Ada juga yang bersalaman sambil mencium tangan. Saya menolak, mereka memaksa.

Dalam kondisi basah kuyup, saya memulai acara. Benar, kami mendiskusikan sejarah Jember di era Agresi Militer, dimana nama-nama seperti Letkol Moch. Sroedji dan Letkol dr. Soebandi sering saya sebutkan.

Namanya Arizona Rambi, kelas sepuluh SMA. Ia bertanya, "Sroedji asli mana? Kenapa harus ditokohkan di sini?"

Wew, pertanyaan yang cerdas dari seorang lelaki berwajah malu-malu yang mengenakan kaos hijau muda lengan panjang. Saya kira, Arizona Rambi kelak akan menjadi seorang lelaki yang berkarakter. Semoga benar begitu, Amin.

Saya katakan kepada Arizona Rambi dan kepada seluruh peserta diskusi yang lain, bahwa kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dimana, tetapi kita diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memilih berjuang dimana saja.

Ya, Sroedji memang tidak dilahirkan di Jember. Ia lahir di Bangkalan pada 1 Februari 1915 dan menjalani masa kecilnya di Kauman, Kediri. Kemudian ia berjuang di sini, dan gugur di medan perang di usianya yang masih sangat muda, 34 tahun. Sroedji meninggalkan seorang istri -Rukmini- dan empat orang anak yang masih kecil-kecil. Si bungsu masih berusia satu tahun lewat satu hari ketika ia gugur. Soebandi juga begitu, ia adalah seorang dokter perang yang lahir di Klakah, Lumajang, pada 17 Agustus 1917, dua tahun lebih muda dari Sroedji. Ia tidak dilahirkan di Jember. Tapi, siapa yang bisa request sebuah kampung halaman? Lagi pula, dalam sebuah perjuangan, tidak penting kita lahir di mana.

Lalu saya berkisah tentang Sroedji dari awal hingga tuntas.

Seusai diskusi, seorang siswi berbaik hati membawakan saya sarung Bapaknya. Tentu saya bahagia. Kaki saya gemetar oleh dingin. Saat itu saya mengenakan jeans warna hitam, sulit sekali kering. Kaos yang saya kenakan, yang ada tulisan 'Manusia dan Alam Setara' di depannya, kini telah mengering. Jadi saya tidak butuh berganti kaos. Satu hal yang membuat saya terganggu sedari awal diskusi hingga usai, yaitu tentang celana dalam yang basah. Ini sungguh mengganggu, saya dibuatnya sulit untuk berkonsentrasi.

Ah, Kalisat, dikau membuat celana dalamku basah.

8.2.14

Always Anggur Kolesom

8.2.14
Sedianya hari ini saya hendak menuliskan sebuah narasi yang panjang. Ya, sudah jauh-jauh saya memikirkannya. Hari ini saya harus menulis tentang seseorang bernama Mochammad Sroedji, setidaknya untuk mengenang pertempuran hebat di sudut Kota Jember pada enam puluh lima tahun yang lalu. Sudah ada secangkir kopi dan segala hal yang saya butuhkan. Tentu, saya juga sudah melengkapi diri dengan data.

Untuk mempersegar suasana, berkumandanglah sebuah lagu berjudul Always yang dilantunkan Bon Jovi. Tak dinyana, lagu ini menciptakan masalah baru. Saya tidak jadi menulis. Buku-buku dan lembar catatan yang berserakan saya biarkan begitu saja. Banyak diantara buku itu yang masih dalam keadaan terbuka. Saya terbang kemana hati membawa, sebentar selonjor sebentar merebah sebentar bangkit lagi memandang laptop yang masih menyala. Ah, seandainya rokok tidak menjadikan sensitif bagi beberapa kalangan, untuk memperkuat tulisan, pastilah akan saya sertakan juga berapa batang yang telah saya habiskan. Sementara melayang, lagu itu sengaja saya putar berulang-ulang.

Tiba-tiba saya merindukan masa-masa yang telah lewat.

Saya butuh menulis, tentu saja saya menolak ada di situasi hati yang sentimentil. Lalu lagu tersebut saya matikan. Dan apakah saya berhasil? Sialnya, saya malah terperangkap dalam hening. Tak ada tombol off untuk kenangan yang menyeruak.

Saya merindukan Ibu.

Iya saya tahu, lagu yang dinyanyikan Bon Jovi tidak sedang bercerita tentang sosok Ibu. Ia lebih luas dari itu. Tentang sebuah rasa bernama cinta, tentang kesendirian, rindu, dengan sedikit sentuhan kata-kata yang merajuk.

When you say your prayers try to understand
I've made mistakes, i'm just a man


Di suatu sore yang hujan, saya baru saja bangun tidur. Lapar, tidak ada makanan di rumah, yang ada malah sesuatu yang memuakkan. Bapak dan Ibu, mereka bertengkar hebat layaknya bocah. Ada adegan saling melempar perabot rumah. Ketika melihat Kakak perempuan saya ndepis ketakutan di sudut ruang tengah, saya menghampirinya, tapi saya hanya berusaha ada di dekatnya dan tak berbuat apa-apa. Kami dua bersaudara, tidak ada pelindung lagi baginya. Saya hanya berharap, ketika saya ada di dekatnya maka dia akan merasa baik-baik saja. Entahlah saya tidak tahu, waktu itu saya hanyalah seorang bocah SMP Negeri 7 Jember yang sedang bersiap menghadapi EBTANAS.

Beberapa menit berlalu dan segalanya tidak menjadi lebih baik. Dengan mata yang berkaca-kaca, saya melangkah ke lompongan sebelah rumah, meraih BMX merk Oyama, lalu bergegas menerabas hujan. Saya marah. Ketika Ibu berteriak memanggil nama saya, kaki ini semakin kencang mengayuh pedal.

Rumah Nenek di Kreongan, itu tujuan saya. Jaraknya dari rumah antara lima sampai enam kilometer. Sesampainya di sana saya berganti pakaian, makan, lalu menghempaskan tubuh di ranjang. Nenek diam saja memandang tingkah cucu kesayangannya. Dia membuatkan saya segelas teh hangat. Sejak kepergian Kakek dua tahun lalu, Nenek tampak semakin sabar. Suaminya tercinta, Sura'i, ia meninggal dunia oleh kabel telanjang bertegangan 110 volt. Ketika itu Nenek ada tak jauh darinya. Barangkali kejadian itulah yang menempa Nenek untuk menjadi lebih bijaksana. Selain itu, wajahnya memang sudah menggurat keriput.

Ada radio kecil di dekat ranjang. Saya meraihnya, mencari gelombang radio yang sekiranya sedang memutar lagu. Yess! Saya berhasil. Sambil leyeh-leyeh saya dengarkan sebuah lagu yang sedang hits kala itu, Always by Bon Jovi. Dengan kekuatan imajinasi, saya membuat video klip sendiri. Lalu mata saya sembab. Saya teringat beberapa saat sebelumnya, ketika Ibu memanggil nama saya dalam derai hujan. Saya mengerti, ia sedang mencoba menahan anak lelakinya pergi. Semisal Ibu seorang Lady Rocker, mungkin ia juga akan menyanyikan lagu yang sama.

It's been raining since you left me
Now I'm drowning in the flood
You see I've always been a fighter
But without you I give up

Hujan telah berganti menjadi gerimis ketika saya memutuskan untuk segera pulang ke Patrang. Nenek diam saja. Tidak seperti Ibu, ia tak berusaha menahan saya pergi. Rupanya ia mengerti, saat itu saya sedang ingin menatap wajah Ibu apapun yang terjadi.

Sesampainya di rumah, sudah ada sebungkus nasi di meja makan. Kata Kakak, itu untuk saya. Dia mengatakannya dengan wajah yang biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Heran. Lebih heran lagi, rumah terasa sepi. Kemana mereka berdua?

"Bapak Ibu' nyusul Adik nang Kreyongan, goncengan numpak vespa."

Ah, keajaiban apa lagi ini? Bukankah tadi mereka bertengkar hebat? Sekrup sampah di sudut dapur buktinya. Di atas sekrup itu ada terlihat setumpuk pecahan beling.

Kelak barulah saya mengerti. Ketika itu Bapak sedang dalam suasana dompet yang buruk, sementara Ibu sudah tak nyaman dengan pemilik toko pracangan seberang rumah yang kabarnya sulit kulak'an sebab modalnya masih tersendat di beberapa pelanggan. Hmmm, itulah sebabnya kami tidak sarapan. Semua meledak di sore hari, saat hujan turun, ketika saya baru saja bangun tidur.

Di waktu yang lain ketika saya baru saja tercatat sebagai salah satu siswa SMAN 1 Arjasa, seorang saudara sepupu bernama Ees mengajak saya melakukan sesuatu yang menarik. Mabuk! Wew, ini keren, batin saya. Kami segera patungan untuk membeli barang yang dimaksud, Anggur Kolesom Cap Orang Tua. Saya lupa berapakah harganya, mungkin 3.000 rupiah. Harga eceran rokok Bentoel waktu itu 25 rupiah per batang.

Ees dua tahun lebih tua dari saya, dan baru saja naik ke kelas tiga di STM Negeri Jember. Ketika itu ia dan saya sama-sama ingin menikmati suasana mabuk sambil merokok. Anggur satu botol, Bentoel empat batang. Itu target kami meski pada akhirnya kami hanya membeli sebotol anggur saja, tak jadi membeli rokok. Rupanya Ees takut dilempar sapu lagi oleh Nenek.

"Gak usah rokok'an wes, bopong!"

Sesuai informasi dari Ees, kami berdua berjalan kaki dari rumah Nenek menuju sebuah toko di dekat Stasiun Kota Jember. Berhasil, kami pulang sambil membawa sebotol anggur di dalam tas merk Alpina. Jarak antara rumah Nenek dan stasiun sangat dekat, jadi kami sering berpapasan dengan orang-orang yang kami kenal. Setiap kali berpapasan dengan tetangga, setiap kali mereka bertanya 'dari mana,' setiap kali itu pula Ees berkata bangga, "Mari tuku Anggur." Berkebalikan dengan Ees, saya takut salah satu dari mereka menyampaikannya ke Bapak. Habislah saya kalau sampai Bapak tahu. Istilah lokalnya, tompes!

Seperti yang telah diskenariokan, akhirnya kami berdua meneguk anggur tersebut hingga tetes terakhir. Ees parah, dia terlalu banyak eksyen. Belum lagi botol dibuka, jalannya sudah dibuat sempoyongan. Haha, padahal kami sedang ada di kamar yang sempit. Tidak ada sosok lain di dalam kamar selain saya, Ees dan Tuhan.

"Sangar koen, koyok koboi."

Saya tertawa mendengar celoteh Ees.

Selesai. Kami berdua menyimpulkan bahwa kami sudah ada di kondisi mabuk yang hebat. Mata Ees merah, karena dia memang menguceknya. Kepala pusing, mulut saya sebah seperti habis menenggak segelas jamu pahit. Tak menunggu waktu lama, saya tertidur pulas. Esoknya dengan bangga Ees berkoar-koar pada teman sebaya bahwa dia telah mabuk bersama saya. Rumah Nenek ada di sebuah kampung yang padat, gosip lekas sekali menyebar. Ees bangga, saya khawatir berita ini sampai di telinga Bapak di Patrang.

Kemudian datanglah Sigit Edi Maryanto. Dia membawa kabar buruk. Sigit bilang, anggur yang kami minum bukan untuk mabuk-mabukan. Meski memiliki efek memusingkan, tapi mabuk tidak seperti itu.

"Iki kan ombean gawe Ibu-ibu hamil? Haha, mangkane rah ojok ya megaya."

Sambil memegang botol kosong, Sigit mengatakan itu. Dia tertawa keras, terbahak, bahagia melihat wajah melas saya dan Ees, dan entah apa lagi kata yang tepat untuk dapat menggambarkan ekspresi Sigit. Tak menunggu waktu lama, reputasi kami sebagai calon pemabuk hancur berkeping-keping. Sampai beberapa hari berikutnya, kami tak berani nongkrong di bangku dekat Poskamling kampung. Todus!

Seharusnya waktu itu kami tanya dulu mana yang anggur kolesom. Ah!

Sial, akhirnya sampai juga berita itu di telinga Bapak. Sebelum Bapak tiba di Kreongan, saya sudah packing beberapa baju, mempersiapkan hal paling buruk. Aneh, ia tidak marah. Kala itu Bapak hanya bilang, "Ibumu menangis." Seketika itu juga mata saya sembab. Tapi tentunya saya menyembunyikan itu dari pandangan Bapak.

Lalu saya pulang.

Dua tahun kemudian, Indonesia diterjang krismon. Diawali pada 1 Agustus 1997, ketika kurs rupiah terhadap kurs dollar Amerika semakin melemah. Ini berdampak pada kepercayaan Internasional terhadap Indonesia yang juga ikut menurun. Di kampung, tiba-tiba kami sudah akrab dengan kata likuidasi. Semakin mendekati tahun baru 1998, persediaan barang Nasional menipis menjadikan harga naik tak terkendali dan biaya hidup semakin tinggi. Harga rokok lekas berganti. Rokok Surya eceran yang tadinya sama dengan harga Bentoel, naik jadi seratus rupiah untuk tiga batang, lalu naik lagi menjadi lima puluh rupiah perbatang, sebelum akhirnya kembali naik menjadi satos rupiah. Kata Harto teman saya sekampung, harga anggur kolesom turut melonjak menjadi enam ribu rupiah. Saya ingin bertanya tentang harga anggur untuk Ibu hamil, tapi urung sebab saya tahu akan akibatnya. Mereka para peminum sejati pasti akan kembali tertawa bahagia sebahagianya.

Jasik!

Hari berganti, saya tumbuh semakin dewasa. Tak semua yang saya lewati adalah sesuatu yang benar. Ketika telah melewati yang benar, kadangkala saya tidak berhasil melaluinya. Kemudian saya kembali mencoba, begitu seterusnya. Tentu saya tidak menyesal, toh kita tak bisa me-reset waktu layaknya sebuah recording. Saya setuju ketika Tan Malaka bilang, tugas kita bukanlah untuk berhasil melainkan untuk mencoba.

Ada banyak kenakalan-kenakalan kecil yang pernah saya lakukan. Ada soundtrack lagu yang berbeda di setiap adegannya. Dan saat ini, entah kenapa saya merangkum banyak adegan masa lalu ke dalam satu lagu saja, Always.

Pada 24 Mei 2008, ketika saya sedang ada di dekat ruang Stroke Rumah Sakit dr Soebandi Jember, di luar sana orang-orang sedang sibuk menghujat tidak stabilnya harga BBM. Saya tidak peduli. Saat itu saya hanya ingin mengatakan satu kata pada Ibu. Maaf. Ya, Maaf. Tapi sudah tiga hari ini Ibu ada di kondisi koma. Hingga senja tiba, ketika Ibu menghembuskan napas untuk terakhir kalinya, tak sekalipun ia terbangun. Itu artinya tak sekalipun kata maaf saya ucapkan pada saat ia terjaga.

Detik terus berdetak. Seperti ilalang yang tak pernah lelah bertumbuh, saya mengikuti iramanya, detik demi detik. Kecuali saya sedang menciptakan lagu atau suasana saat berhadapan dengan penghulu, jarang-jarang saya terjebak romansa sentimentil seperti ini.

Mengingat Ibu adalah mengingat vas bunga di sudut ruang tamu, mengingat budaya berkumpul di meja makan, dan sejuta kata 'gak ilok' yang dulu selalu saya remehkan. Kini saya merindukannya. Saya juga merindukan sebuah vas berisi air segar yang dihiasi oleh bunga-bunga liar hasil memetik sendiri di belakang rumah.

Tentu, saya merindukan suasana hangat ketika mengelilingi meja makan.

Sudah lama sekali saya tak merasakan sarapan pagi, makan siang dan malam, yang kesemuanya dilakukan di meja makan. Kemarin saat di Jakarta, ketika saya menginap di rumah keluarga Mochammad Sroedji, mereka selalu mengajak saya makan bersama di meja bundar yang atasnya bisa diputar. Ah, bukankah itu meja impian Almarhummah?

Suatu hari ketika saya tak menghabiskan makanan di meja makan, Ibu Pudji Redjeki Irawati --putri bungsu Letkol Moch. Sroedji-- menegur saya. Tidak baik tak menuntaskan makanan. Saat itu juga saya kembali melahap sisa makanan hingga piring nampak mengkilat. Ketika itu pula saya merindukan seseorang. Ibu Pudji Redjeki Irawati, ia sama persis seperti Ibu saya yang tak suka melihat anaknya tak menghabiskan makanan.

"Gak ilok, mengko pithik'e mati."

Terlalu banyak kenangan menyeruak di pagi ini. Sudah. Saya akan leyeh-leyeh dulu sambil mendengar Bon Jovi mendendangkan lagu berjudul Always, dan sambil mentertawakan kebodohan saya ketika mabuk minum anggur untuk Ibu hamil.

Salam saya, RZ Hakim.

7.2.14

Febrina

7.2.14
Seingat saya, Febrina Haryanti tidak mengatakan sebelumnya jika ada pete di dalam kardus kecil yang saya bawa ke Jakarta. Di inbox dia hanya bilang, "Titip kopi bubuk karo kecap asin yo Mas, gawe Kokoe." Tentu, dengan senang hati saya membawanya. Ternyata ada pete di dalam kardus, haha.

Isi kotak kardus kecil itu untuk dua orang. Bukan hanya untuk Andreas Harsono, melainkan dibagi dua dengan Heylen Harsono. Ini membingungkan saya. Febrina memberi pesan yang tidak lengkap. Ketika saya hendak menghubunginya via sosmed, facebooknya non aktif. Sekali waktu, Febrina memang pernah menghubungi saya via telepon, dari tempat kerjanya di Arab Saudi. Sempurna! Saat itu saya tidak memiliki banyak pulsa.

Kepada Heylen Harsono, saya menceritakan itu semua lewat sms, kemudian saya minta maaf. Ya, saya benar-benar minta maaf. Saya juga khawatir jika pete itu akan bertunas. Hal senada, tentang pete yang berubah wujud menjadi tunas, juga dikatakan oleh Heylen Harsono dalam bahasa canda. Bayangkan saja, kardus kecil itu sudah ada di tangan saya sejak bulan Januari di hari ketiga. Esoknya saya baru berangkat ke Jakarta, esoknya lagi sampai. Tanggal 6 Januari 2014, bertepatan dengan hari lahir Sapariah Saturi, Kelas Jurnalisme Sastrawi dimulai. Hari pertama dan kedua, kelas diampu oleh Janet Steele. Andreas Harsono baru memulai materi narasi pada 9 Januari 2014. Jadi saya pikir, kardus kecilnya nanti sajalah. Tidak disangka, Heylen menghubungi saya pada 8 Januari.

Itu adalah hari yang mengejutkan.

Ketika kotak kecil itu akhirnya saya antarkan ke Pondok Pinang, di kediaman Heylen Harsono, ada satu kelegaan. Ah, tinggal satu hantaran lagi, pikir saya.


Saya dan Heylen Harsono

Senang berjumpa dengan adik Andreas Harsono yang satu ini. Ia begitu sabar menuntun saya lewat sms, agar saya begini dan begitu, naik angkot ini, berhenti di tempat itu, lalu berganti angkot letter ini, dan seterusnya. Ada sms yang paling saya sukai, begini bunyinya;

"Bacalah dan simak sms ini dengan pelan-pelan. Jangan salah Angkot, karena kamu akan menjadi frustasi. Cek kepada supir angkot sebelum naik, agar sekali jalan langsung tiba. Tidak pakai istilah kesasar."

Ketika misi berhasil, dia berkata, good job! Kemudian kami berjumpa dan ngobrol tanpa canggung. Mungkin lantaran sudah akrab lewat sms ya.

Kembali ke Febrina Haryanti.

Saya mengenalnya di Mahapala, tapi kami tidak terlalu sering bicara. Ia memiliki nama yang banyak. Febrina Haryanti, itu nama asli sesuai akte, ijasah, dan KTP. Narti adalah panggilan keluarga besar dari pihak Papa. Di kalangan para pencinta alam Jember, ia biasa dipanggil Lungset. Untuk sosial media, ia senang menyematkan nama Febrina Ong Kong Swie. Sekarang, ketika bekerja di Arab Saudi, ia dipanggil Munira.

Lewat tulisan Andreas Harsono, Liburan di Tanjung Papuma, saya menjadi lebih mengerti bahwa Febrina adalah adik Andreas Harsono. Mereka satu Ayah, Ong Seng Kiat namanya. Ia meninggal dunia pada 20 Juli 2013 yang lalu, di usianya yang ke-73 tahun.

Lima hari yang lalu saya ke rumah Ibu Febrina, jaraknya tidak jauh dari kediaman saya. Ketika meuju ke sana, saya ingat-ingat pesan Febrina. "Sampeyan cari warung barokah dengan warna dominan hijau daun. Nah, Ibu ada di sana Mas."

Tujuan saya ke sana untuk mengambil kalender kiriman Heylen Harsono. Moch. Atok Rohman, adik Febrina, dialah yang menyambut saya pertama kali. Lelaki muda yang murah senyum. Kini Atok sudah kelas dua di MAN 2 Jember. Ada satu lagi adik Febrina, namanya Dani, ia lima tahun lebih tua dari Atok. Tapi saat saya ke sana, kami tidak bertemu.

Hari sudah malam ketika saya datang. Warung sudah tutup. Ibu Febrina sedang tidur di ranjang depan tivi. Ia perempuan yang anggun. Kami sempat pula berbincang-bincang meskipun tidak sangat lama. Ia bercerita tentang adik-adik Andreas Harsono yang kesemuanya perempuan. Selain Heylen Harsono, yang saya tahu hanyalah Susan, adik Andreas Harsono yang nomor tiga. Ini pernah dituliskannya di twitter, ketika Andreas bercerita tentang Susan yang sakit schizoprenia sejak 1991. Semoga kini sudah baik-baik saja dan tak lagi mengkonsumsi obat Procmatil, Heximer, Tryhexipenydryl serta Supracitin.

Dalam tulisannya yang lain, Andreas Harsono menyebut keempat adiknya dengan nama Jinjin, si kembar Tantan dan Chenchen serta Bingbing.

Wew, tulisan ini mengalir lebih dari yang saya duga. Tadinya saya hanya ingin mengucapkan selamat hari lahir untuk Febrina.

Ia memiliki hari lahir yang sama persis dengan putri bungsu Letkol Moch. Sroedji, Ibu Pudji Redjeki Irawati. Ketika ada pertempuran di Karang Kedawung - Jember - pada 8 Februari 1949, dan ketika tersiar kabar Pak Sroedji gugur di medan perang, usia Ibu Pudji masih satu tahun lewat satu hari. Jadi, Ibu Pudji tidak tahu bagaimana rupa Ayahnya selain dalam foto.

Bersyukurlah kita Febrina, yang lahir dan bertumbuh di era kemerdekaan. Jadi, tunggu apa lagi? Tersenyumlah dan mari berkarya.

Selamat hari lahir.

Merdeka!

6.2.14

Saya Lupa Bercerita Tentang Friendster

6.2.14

Prit di acara Celoteh Tamu RRI - Dokumentasi Pribadi

Tentunya saya dan istri bahagia ketika Mbak Etty Dharmiyatie -penyiar Prosatu RRI Jember- memberi kami kesempatan untuk memperbincangkan dunia blogger di acara Celoteh Tamu RRI. Kami memang bukan manusia pagi, tapi kesempatan yang Mbak Etty tawarkan membuat kami bisa bermesraan dengan malaikat penebar rizki. Biasanya, benih-benih rejeki itu kami petik di malam hari.

Ohya, ada satu hal yang belum saya ceritakan. Ini tentang pertanyaan pembuka tadi pagi, "Sejak kapan seorang RZ Hakim memiliki blog?"

Saya bahkan lupa apa domain blog yang pertama kali saya buat. Kata Prit, blog itu bernama setidaknya.blogspot.com, tapi saya tidak yakin. Anehnya, saya masih ingat tentang artikel pertama --dan satu-satunya-- yang saya torehkan di sana. Ya, ketika itu saya menulis tentang segala ketidaksukaan pada bisnis kelapa sawit. Artikel itu saya barengi dengan gaya hidup tidak mengkonsumsi apapun yang diolah dengan menggunakan minyak kelapa sawit. Belum lagi satu tahun, gaya hidup saya berubah menjadi seperti manusia pada umumnya. Kemudian artikel itu saya hapus.

Cerita sebelumnya.

Tugas akhir kuliah menyebabkan saya harus berkenalan dengan dunia maya. Seorang sahabat bernama Eka Sukriswandi memperkenalkan saya pada hal-hal yang sederhana, dimulai dari bagaimana caranya menghidupkan PC di warnet. Ia memperkenalkan saya pada sebuah situs bernama google. Itu sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, ketika SBY - Kalla baru saja memimpin negeri ini.

Di waktu yang lain, saya, Mungki Krisdianto, dan Prit, kami bertiga melangkahkan kaki menuju Godonk Net, di Jalan Jawa Jember. Saya dan Mungki memiliki tujuan yang sama, yaitu hendak membuat akun Friendster. Karena waktu itu Prit sudah terlebih dahulu punya akun di Friendster, maka dialah yang kami jadikan tempat untuk bertanya. Saat itu kalender Masehi masih ada di awal tahun 2006, beberapa puluh hari paska terjadinya Banjir Bandang Panti, Jember.

Hari demi hari, saya semakin sering ke warnet. Dua halaman yang selalu saya buka adalah Friendster dan google, tak lama kemudian bertambah dengan situs editfriendster. Demi mengejar tampilan Friendster yang ciamik, saya harus lebih sering lagi ke warnet, harus sering membuka google dengan kata kunci 'Cara Edit Friendster.' Teman dekat yang memiliki hobi sama seperti saya adalah Lozz Akbar.

Tiba-tiba saya sudah memiliki banyak akun di berbagai situs, menjadi penikmat beberapa forum, punya banyak email, dan terpikat oleh pesona bisnis online, haha.

Lalu saya berkenalan dengan blog. Masih di Friendster. Ketika itu Friendster melengkapi dirinya dengan blog, saya menjawabnya dengan membuat akun di sana dan meletakkan beberapa tulisan usang, juga puisi. Setelah punya blog di Friendster, setahun berikutnya saya membuat akun blog di Multiply, dan aktif membaca tulisan-tulisan yang bertebaran di sana. Menyusul kemudian membuat akun blog di blogspot. Di sini saya menemukan kenyamanan. Bagi saya, blogspot lebih mudah dan sederhana.

Di sosmed Myspace, saya pernah punya sahabat dari Amerika Serikat, namanya Lawrence W.

Saya akui, saya sempat menolak untuk hijrah ke dunia maya karena alasan-alasan berpikir yang klasik. Waktu itu di awal Abad Millenium hingga booming film AADC, dimana telepon genggam masih menjadi tolak ukur status sosial, saya lebih senang menjadi aktivis pencinta alam yang gemar menyemarakkan media dinding, kemudian aktif membuat acara apresiasi puisi dan lirik lagu di Panggung Terbuka Sastra Jember. Pada akhirnya saya menyadari satu hal, bahwa media online memiliki potensi untuk mengubah cara kita dalam berkomunikasi.

Saya berpikir terlalu lama sebelum akhirnya benar-benar hijrah dan berkarya di dunia maya.

Bahwa blog adalah ruang berkarya, itu benar adanya. Kita bahkan bisa melawan sesuatu lewat blog. Di sisi yang lain, ketika kita tidak memperhitungkan etika dan lupa untuk memperlakukan kebenaran, maka blog juga bisa mengantarkan kita ke meja hijau.

Yang saya sukai dari blog, ia menawarkan sesuatu yang menggiurkan, dimana kita bisa menjadi badan sensor untuk tulisan kita sendiri, memperluas jalinan persaudaraan, dan memiliki kesempatan seluas-luasnya untuk memperlakukan kebenaran di tempat yang paling tinggi. Ia juga membuat saya merasa seperti memiliki sayap yang lebar.

Kini Friendster hanya tinggal cerita, disusul kemudian oleh Multiply. Beberapa warnet bersejarah di wilayah kampus, termasuk Godonk Net, juga telah berganti menjadi ruko. Sejak lama saya tak lagi bisa membuka akun Myspace, sebab lupa password. Beberapa email juga telah mati, baik di plaza, yahoo, dan di beberapa tempat lain. Tapi semua itu mengantarkan saya menjadi seorang blogger.

Terima kasih.

Jadi Mbak Etty Dharmiyatie, pertama kali saya menulis di ruang maya adalah di blog Friendster. Tapi itu tidak benar-benar mewakili blog, sifatnya sama seperti catatan di Facebook. Blog perdana saya di platform blogspot, sayangnya saya tidak sanggup mengingat domain blog tersebut. Mungkin Prit benar, blog yang dimaksud adalah setidaknya.blogspot.com, sebab saya juga punya email setidaknya@yahoo.com, dan tetap saya gunakan hingga saat ini.

Lalu saya bergerilya dari satu platform ke platform yang lain, ujung-ujungnya kembali ke blogspot sebab bagi saya ia simpel. Blog personal acacicu ini juga berbasis blogspot, saya hanya bermodal membeli nama domain saja.

Siapapun bisa menjadi blogger, menyuarakan segala hal yang -barangkali- tak terjamah oleh media besar, atau yang sengaja dibiarkan membisu begitu saja. Jadi, kapan seorang penyiar radio sekelas Etty Dharmiyatie memutuskan untuk membuat sebuah hardisk maya bernama blog?

Jember sedang diguyur hujan, deras sekali. Di luar sana, pelataran rumah saya berubah menjadi seperti rawa-rawa. Sudah dulu ya, saya mau membaca buku.

Merdeka!

5.2.14

Dari Misi Gagal Hingga Foto Dalam Dompet

5.2.14
Hari telah gelap. Hujan menyapa, bersama angin dan blitz alami. Jalanan licin, motor yang kami tunggangi bukan special engine. Saya pandangi Prit, dia kedinginan. Lalu kami turun, misi gagal.

Boleh jadi kemarin saya gagal membawa Prit mengecup Pantai Bandealit. Ya, waktu itu saya terlalu santai hingga lupa memperhitungkan waktu dan kondisi alam. Tiba-tiba senja semakin berwarna jingga pekat, langit terlihat mendung. Bersantai ria sambil menikmati kopi dari termos kecil membuat kami belum lagi melewati portal Taman Nasional Meru Betiri.

Saya memutuskan untuk kembali pulang. Tadinya Prit nampak kecewa, sambil sesekali memandang tas bercover kuning. Saya mengerti, dia sudah bersusah payah packing logistik dan beberapa hal penunjang kenyamanan perjalanan, eh tidak tahunya misi gagal. Kepadanya saya ucapkan kata maaf. Bagaimanapun, saya tidak ingin pengalaman beberapa tahun yang lalu kembali terulang, ketika saya, Prit, Korep, dan Kernet, kami berempat mengalami perjumpaan dengan rombongan banteng liar. Ketika itu, hari telah senja tua, sekitar pukul enam. Kami sudah ada di dalam Taman Nasional Meru Betiri, beberapa orang di kampung terakhir melarang kami untuk terus menerobos menuju pantai. Kalaupun harus ke pantai, lebih baik menunggu sampai pukul tujuh atau delapan malam.

"Akhir-akhir ini banteng banyak yang turun Mas, biasanya jam segini. Alase wes dibabat, panganane kewan melu kebabat."

Saya ngeyel. Yang saya pikirkan hanya satu, lampu motor mati dan kami harus terus bergerak. Mereka benar, kami yang salah. Kami berjumpa dengan hewan bernama latin Bos javanicus ini. Itu adalah detik-detik yang keren, saya tidak mau mengulangnya lagi. Termasuk tak mau mengulang kesalahan melanggar Kode Etik Pencinta Alam Indonesia poin empat, tentang menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar.

Selanjutnya..

Kami pulang, menerobos jalanan hutan produksi. Tak lama kemudian ketika hari benar-benar telah menggelap, hujan turun dengan seksinya. Menguap sudah mimpi untuk menjenguk Diklatsar OPA SWAPENKA. Yang tertinggal hanya dingin, lapar, dan rindu kopi.

Kali ini perjalanan harus benar-benar menarik, batin saya.

Saya, Prit, dan Budi. Kami bertiga menikmati malam, jalan kaki dari rumah menuju alun-alun Jember. Jaraknya hampir delapan kilometer. Sepanjang perjalanan kami nikmati dengan saling bicara, bercanda, kadang terlibat guyonan saling dorong.

Melintasi Jalan Moch. Sroedji, ingatan saya langsung melayang pada kisah pertempuran Karang Kedawung, dimana banyak pejuang yang gugur, termasuk Letkol Moch. Sroedji dan Letkol dr. Soebandi. Itu sudah 65 tahun yang lalu. Kurang dari 100 jam lagi, kita akan memperingati kejadian itu, tragedi 8 Februari 1949. Tiga hari setelahnya juga ada pertempuran antara pihak Belanda dengan Pasukan Mobrig di desa Jumerto, kini kita mengenal monumennya dengan nama Palagan Jumerto.

Setelah Jalan Moch. Sroedji, kami masih harus melewati Jalan PB. Soedirman. Iseng saya merenungkan sesuatu. Hari ini enam puluh lima tahun yang lalu, Pak Dirman ada dimana ya? Apakah beliau masih ada di desa Nogosari Pacitan? Entahlah, saya benar- benar lupa. Dalam hal angka tahun dan pemetaan, sejarah memang tampak sangat menyebalkan.

Sesampai di alun-alun Jember, kami berjumpa dengan Edo dan Manda, duo rekan yang kemarin masuk lima besar finalis Eagle Award. Awalnya kami enggan bergabung sebab di sana juga ada orang tua Edo. Tampaknya mereka sedang memperbincangkan sesuatu. Namun ternyata tak lama kemudian Ayah Ibu Edo pulang. Alhasil, kami nongkrong di seberang patung Letkol Moch. Sroedji, bersama Edo dan Manda.

"Mas, lapar."

Prit lapar, forum bubar, hehe. Edo dan Manda bergeser entah kemana. Sementara saya, Prit, dan Budi meneruskan jalan kaki. Kali ini menuju Wetan Pasar dekat Johar Plasa, Prit kangen ngemplok sate usus. Setelah melewati jalan terpendek di Jember -Jalan Sudarman- kami memilih untuk belok kiri, membelah Jalan Kartini, kemudian belok kanan mengikuti Jalan Gatot Subroto, belok kiri menusuri Jalan Diponegoro, kemudian sampai di Johar Plasa. Ketika kami sampai di warung tempat jualan sate usus, toko-toko sudah pada tutup. Banyak gadis penjaga toko yang hendak pulang, mampir dulu di warung untuk beli sate usus.

"Di sini sate usus yang nggak pakai njeroan, harganya cuma 500 rupiah Mas."

Prit tampak senang. Kami kembali menyusuri Jalan Diponegoro, lurus hingga menjumpai Jalan Raya Sultan Agung. Sepi. Ketika saya menendang sampah botol air mineral merk Aqua, suaranya terdengar nyaring. Lalu saya memungutnya, menaruhnya di tepi trotoar, berharap ada pemulung yang membopong botol itu dengan penuh kasih sayang. Atau, barangkali ada petinggi perusahaan yang kebetulan lewat, ia wajib memungutnya.

Melewati pertigaan Jalan Fatahilah dari arah Jalan Sultan Agung, Prit minta istirahat. Rupanya dia kelelahan. Saya menawarinya untuk naik angkutan, dia menggeleng. Prit memang tidak kuat, tapi merasa kuat. Bagi saya, itu saja sudah cukup.

Sambil beristirahat, saya memotret toko es krim domino yang sudah tutup. Dulu sekali ketika masih bocah, saya pernah diajak kemari oleh keluarga Ibu dari Banyuwangi. Kata Tante Yun, sewaktu dia masih kecil juga pernah diajak menikmati es krim domino. Sudah lama sekali.

Tak jauh dari es krim domino, ada toko roti & kue sentral. Tentunya juga sudah tutup. Saya memandangnya. Wew, cat ruko sentral yang masih berupa kayu, kini diperbarui, warnanya kuning dan lebih menyala. Yang punya toko ini adalah adik kandung pemain sepak bola ternama, Tee San Liong. Ia adalah kesukaan Bapak.

Prit rupanya terlalu lelah, dan lapar! Saya segera berinisiatif untuk mengajaknya beli putu di tempat Pak Parno, yang jaraknya hanya beberapa langkah saja. Toko-toko dan warung lain sudah tutup. Warung soto Dahlok di seberang lapak putu juga tutup. Hanya lapak Pak Suparno yang buka. Itupun juga mau tutup. Kami adalah pembeli terakhir.

Ohya, Anda tahu kan apa itu putu? Putu adalah jajanan tradisional, dengan bahan dominasi berupa beras ketan. Bahan-bahan lain adalah parutan kelapa, santan, dan gula merah. Rangkaian bahan ini kemudian diolah jadi satu, lalu ditaruh dalam potongan bambu, dan dipanaskan. Proses memanaskannya bisa dilihat di foto berikut ini.


Jajanan Tradisional Putu - Dokumentasi Pribadi

Foto di atas saya jepret dengan menggunakan kamera hape, maaf jika tidak sangat terang. Kembali ke putu hasil racikan Pak Parno. Entah bagaimana awalnya saya lupa, tiba-tiba kami sudah terlibat pembicaraan akrab.

"Asliku Solo. Teko mrene pas awakmu durung lahir. Kiro-kiro pertengahan tahun 1950an opo awakmu wes lahir? Jaman semono, rego tiket kereto Solo - Jember mung seket rupiah. Kuwi aku sik bujang."

Prit melongo kala mendengar era 1950an harga tiket kereta api Solo - Jember hanya 50 rupiah saja. Dibandingkan dengan harga putu yang persatunya 700 rupiah, tentu saja dia terheran. Tapi itu dulu. Dan lagi menurut Pak Parno, kereta api yang ia naiki bukan yang kereta diesel.

"Sepure sepur kluthuk, lokomotife metu beluk'e."

Tatkala melayani kami menyiapkan sepuluh potong putu, Pak Parno tidak sendirian. Ada seorang perempuan paruh baya yang membantunya. Tadinya saya kira, itu adalah istri Pak Parno. Ketika saya tanyakan itu, beliau terkekeh pelan.

"Aku nduwe anak loro, lha iki anakku sing ragil."

Kata Pak Parno, beliau lahir tahun 1937. Saya tidak percaya sepenuhnya, sebab ia terlihat bugar. Tapi ketika kembali melihat putri bungsunya, saya mengerti Pak Parno tidak sedang berbohong.

Ketika putu sudah mulai dibungkus, datang seorang lelaki mengendarai motor. Dia tidak segera ke lapak Pak Parno, melainkan bercakap-cakap dengan Abang becak di dekat kami. Saya tidak sadar jika si Abang becak sudah terbangun. Tadinya dia sedang tidur melungker di atas becaknya. Sayup-sayup saya turut mendengar apa yang diucapkan lelaki bermotor tersebut. Intinya, telah ditemukan sesosok mayat lelaki di belakang kemudi mobil pick up, di sekitaran Jalan Samanhudi, wilayah Pasar Tanjung.

Innalillahi Wa Innailaihi Roji'un

Entah siapa lelaki tersebut, saya tidak tahu. Hal berikutnya yang kami lakukan adalah membayar putu. Pak Parno tampak kebingungan mencarikan kami uang kembalian. Kemudian saya berkata, "Besok saja saya kesini lagi Pak, susuk'e salap mriki mawon." Pak Parno tersenyum, kami berlalu.

Tepat di Nol Kilometer Jember, kami berhenti. Istirahat. Menyelonjorkan kaki sambil menyantap putu yang masih panas. Benar juga kata Nuran, bagian yang paling menyenangkan dari memakan jajanan tradisional putu adalah lelehan gula merah yang mencair. Nuran pernah menuliskan hal yang sama, tentang putu Pak Suparno. Di tulisannya, putu Pak Parno dimulai sejak 1956. Saya lupa tidak menanyakan itu pada Pak Parno. Jika benar, berarti ia memulai usahanya sejak berusia 19 tahun. Benar-benar patut dicontoh kesetiaannya kepada proses.

Lama sekali kami nongkrong di Nol Kilometer Jember. Suasananya nyaman. Tapi bagaimanapun kami harus pulang. Kami segera berkemas, lalu kembali melangkahkan kaki. Berjarak sekitar dua kilo kemudian, kami berhenti di sebuah warung yang berjualan soto. Waktunya pesta soto. Menyenangkan makan soto di Warung Jambu, tak jauh dari Rumah Sakit DKT.

"Dulu persis di seberang sana kan ada bakso tens ya Mas?"

Saya menjawab pertanyaan Prit dengan mengangguk. Benar kata Prit, di seberang sana dulunya ada bakso tens atau bakso tenes, lalu membuka cabang di seberang, atau tepat di samping Warung Jambu. Bakso ini pernah sangat populer, sayang kini hanya tinggal cerita.

Perjalanan pulang selanjutnya, kami merayap pelan, sebentar-sebentar istirahat. Istirahat terlama di warung kopi Pak Agus, dekat Polsek Patrang. Ini acara ngopi yang tidak direncanakan sama sekali. Dimulai dari Prit yang tiba-tiba ndeprok selonjor di pelataran toko Yok Muda, di seberang warung kopi Pak Agus. Ya sudah, kita ngopi dulu sambil nyamil tempe goreng, hehe.

Di sisi kiri warung Pak Agus ada warnet, rupanya Bang Korep lagi online di sana. Lalu dia gabung ngopi, pulangnya jalan kaki bareng menuju panaongan.

Ketika pulang, hari sudah memasuki 5 Februari 2014 dini hari. Berjarak sekitar 300 meter dari warung kopi Pak Agus, mata kami tertuju pada sebuah dompet yang tergeletak di tepi jalan. Warnanya hitam, model dompet perempuan. Dompet itu kami bawa pulang.

Sesampai di rumah, kami masih berbincang beberapa hal, baru kemudian teringat akan nasib dompet warna hitam. Prit membongkar isi dompet, berharap menemukan jejak nomor hape di sana. Sayang, tak ada tanda-tanda nomor hape di sana. Di dalam dompet terdapat sejumlah uang, KTP, ATM BRI, dan beberapa kartu lain. Pemilik dompet atas nama Lidia Kando Alifatun Hasanah. Beralamat di KP. Gudang, RT 003 RW 001, Kel/Desa Pesisir, Kecamatan Besuki. Tidak ada nomor rumah atau sesuatu yang lebih rinci. Ini sedikit membingungkan, sebab kami tak tahu dimana itu KP. Gudang.

Ada yang menarik di dalam dompet, yaitu selembar surat kehilangan dari Polsek Besuki. Isinya seputar pengaduan barang hilang berupa dompet. Itu terjadi pada 9 Maret 2011. Ternyata Lidia Kando gemar sekali kehilangan dompet.

Saya mencoba mencarinya di mesin pencari, dan mencocokkan namanya di jejaring sosial. Nihil, nama pemilik dompet tidak dikenal oleh mesin pencari. Kabar baiknya, di sebuah kwitansi diketahui Lidia Kando adalah mahasiswi Fikes UNMUH Jember angkatan 2010.


Lidia Kando Alifatun Hasanah - Repro oleh Faisal Korep

"Nanti kalau tidak ada informasi dari sosmed, kita bisa lapor ke BRI Mas. Kita serahkan ATM Lidia Kando, nanti biar pihak BRI yang menghubungi via telepon." Penjelasan Prit cukup menenangkan.

Kami mengumumkan informasi dompet tersebut lewat jejaring sosial facebook, dengan menggunakan akun milik tamasya band. Tak berapa lama, informasi tersebut segera tersebar kemana-mana. Di halaman facebook Komunitas Orang Jember, ada tertulis komentar dari akun bernama Liamsi Kifuat. Dia bilang, "Tanya Jamal Mirdad, mungkin dia kenal."

Syukurlah, beberapa jam kemudian ada sms masuk, dia mengaku bernama Lidia Kando, si empunya dompet. Semoga sebentar lagi kami bisa berjumpa.

Sampai di sini dulu kisah perjalanan semalam. Merdeka!

Sedikit Tambahan

Jika Anda seorang jurnalis, atau sedang mendalami dunia jurnalistik, sangat tidak disarankan menulis dengan gaya bebas seperti di atas. Selain tidak fokus, saya memuat tema yang banyak dalam satu posting. Sebab jika kita fokus, tulisan ini akan bisa dipilah-pilah menjadi lebih dari lima artikel.

Dunia blog adalah dunia menulis dengan kebebasan yang lebih luas, tidak melulu tentang 5w 1h meskipun tetap ada di dasar-dasar etika yang sama. Dibanding tulisan jurnalistik, blog lebih bersifat personal, ibarat buku harian. Tulisan blog, tentu saja tetap bisa dituliskan dengan metode jurnalistik jika si empunya blog merasa butuh menggunakan gaya itu.

Artikel ini diterbitkan sebagai contoh tulisan blog untuk dibicarakan besok, 6 Februari 2014, dalam acara Celoteh Tamu RRI. Sedianya, saya dan istri akan menyemarakkan acara tersebut.

Salam saya, RZ Hakim


acacicu © 2014