25.2.14

Dari Jurnalis ke Blogger Lalu Biarlah Mengalir

25.2.14
Zuhana Anibuddin Zuhro
"Saya ingin menjadi seperti Bob. Minum kopi pahit lalu menulis. Menulis sambil mendengarkan lagu Iwan Fals. Saya juga ingin mengenang Almarhum Bibin Bintariadi lewat tulisan ini."

JURNALISTIK adalah dunia yang pernah lekat dalam mimpi saya sewaktu kecil. Entahlah, mungkin karena sering melihat keseharian Bob yang memang bekerja sebagai jurnalis. Mimpi itu tak kemudian membuat saya bercita-cita untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang khusus tentang dunia menulis berita. Sewaktu SMA, saya mengutarakan maksud untuk melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Jogjakarta. Memilih jurusan Sastra Indonesia. Bob orang yang demokratis, dia mengerti atas semua pilihan saya. Namun Ibu mengkhawatirkannya karena pilihan saya jatuh pada Universitas Sanata Dharma. Sebelum mengutarakan hal tersebut, saya sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat sensitif untuk dibicarakan di lingkungan keluarga saya. Setelah menimbang, akhirnya saya memutuskan untuk menerima program PMDK di sebuah universitas negeri di sebuah kota kecil yang tak pernah saya tahu sebelumnya. Ya, Jember. Kota yang ternyata teramat jauh jaraknya dari kampung halaman saya. Tapi, saya suka. Ini adalah petualangan baru untuk menemukan diri sendiri. Dari kota kecil inilah semuanya berawal, pada pertengahan 2004.

Jember, kota kecil berhati luas.

Saya menjalani kuliah sambil bekerja. Setahun mengajar kemudian dua tahun menjadi operator sebuah warnet. Setelah itu menikmati jeda sejenak. Ingin menikmati hari baru dan beraktivitas dengan dulur-dulur pencinta alam. Beberapa bulan menikmati waktu jeda, mimpi semasa kecil datang lagi. Terbersit kembali mimpi untuk menekuni jalan seperti Bob. Itu terus mengusik saya, hingga akhirnya bermuara pada takdirnya. Datang sebuah tawaran untuk membantu menulis berita di sebuah media lokal yang berpusat di Surabaya. Saya kebagian nulis di wilayah Jember.

Apa yang mau saya beritakan? Nyarinya dimana? Ketiban tugas mendadak membuat saya bingung harus memulainya dari mana. Akhirnya seorang kawan mengajak saya untuk ikut liputan acara peringatan ulang tahun di Kejaksaan Negeri Jember. Disana, saya banyak bertemu dengan teman-teman dari media lain.

Pelajaran pertama, dinamika wartawan bodrek di instansi-instansi. Pelajaran berikutnya, bahwa pada kenyataannya sekarang ini bukan wartawan yang mencari berita tapi malah kebalikannya. Ada yang bilang, keduanya adalah sebentuk simbiosis mutualisme. Apa benar demikian? Tapi rasanya kok ada yang kurang sreg. Misal, bila esok pagi akan ada demo, tiba-tiba malam sebelumnya sudah ada sms masuk memberitahukan lokasi dan waktunya. Iya, semua itu memang pilihan. Memang butuh ada yang menyuarakan suara-suara mereka yang tertindas. Namun, rasanya gak pas aja kalau itu hanya karena pesanan. Entahlah, saya tak menemukan pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan semua itu.

Cerita seputar amplop dan lemahnya independensi dalam menulis berita sudah seringkali saya dengar. Seringkali saya melihatnya secara langsung. Kadang amplop itu menghampiri. Saya menyikapinya dengan santun, berharap si pemberi tidak tersinggung. Tentang budaya amplop, banyak yang meresahkan, meski ada saja yang memakluminya.

Sebenarnya, hal yang paling patut diingatkan dalam permasalahan amplop ini adalah perusahaan media. Kesejahteraan wartawan yang kurang membuat mereka rela melakukan itu. Ngomongin soal kesejahteraan wartawan di daerah, miris banget. Apalagi mereka yang mengabdi sebagai kontributor di sebuah instansi pemerintah. Contohnya media radio plat merah. Per berita, ketika disiarkan honornya tidak sampai Rp.5000. Kalau untuk karyawan tetap, saya sendiri tak tahu pasti dengan honor mereka. Tentu lebih banyak, karena mendapatkan tunjangan ini dan itu. Biasanya para reporter yang lebih senior meminta rekaman pada mereka yang lebih muda, yang lagi semangat-semangatnya liputan meski gajinya kecil. Belum lagi tuyul-tuyul yang dibayar semena-mena oleh kontributor berita televisi. Duh, miris banget.

Ada banyak jalan untuk menerima amplop, tapi tak ada jalan pintas untuk menjadi penulis yang baik.

Mereka menerima amplop atas pertimbangan yang sangat dilematis. Amplop ibarat sebuah candu. Kadang, uang yang mereka dapat dari pejabat -ketika liputan- jauh lebih besar dari gaji mereka sebulan. Dimanakah perusahaan media yang menaungi mereka, sampai tidak memastikan karyawannya dalam kondisi yang sejahtera? Sejahtera yang saya maksud adalah cukup, baik bagi keselamatan kerja dan kebutuhan mereka agar bisa terus ada di lapangan mencari berita. Bukan masalah uang semata saya menuliskan ini, bukan pula untuk memaklumkan kebiasaan mereka. Ini hanya tentang keadilan yang pincang. Karena saya tahu, ketika menerima amplop tersebut, mereka bahkan lupa bahwa uang itu hanya akan melemahkan independensinya saat menuliskan berita.

Independensi adalah sebuah pertanyaan besar pada semua media mainstream di Indonesia.

Tapi tak jarang, medianya sendiri yang melemahkan independensi jurnalis dengan menerima iklan dari beberapa perusahaan yang jelas-jelas punya banyak masalah. Atau pejabat-pejabat yang hendaknya mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Pendanaan media disupport habis-habisan. Media dan karyawannya jadi sejahtera. Dengan catatan, hanya boleh nulis tentang mereka yang memasang iklan.

Dimanakah letak independensi?

Pada waktu-waktu menjelang pileg dan pilpres seperti sekarang ini, kerap muncul media-media kampanye. Apa yang ingin kita suarakan kalau ternyata semua itu hanya pesanan? Menulis hanya dari satu sudut pandang yang telah ditentukan oleh donatur. Mau mengakui atau tidak, ini memang benar-benar ada di Indonesia. Kenyataan yang pahit.

Saya menyadari bahwa mimpi yang dulu pernah saya rasakan pada kenyataannya tak selalu manis. Tentu saja butuh terus memahami dan belajar tentang mimpi itu sendiri. Alhamdulillah, saya bertemu orang-orang yang tepat, mendampingi saya belajar dan sebagai pengingat ketika lelah. Mereka juga mempertemukan saya dengan komunitas bergizi untuk belajar memahami seluk beluk dunia jurnalistik.

Kini, tiba-tiba saya merindukan seseorang. Hari ini, tepat dua tahun yang lalu, saya kehilangan seorang kakak, teman, dan guru di bidang jurnalistik lingkungan. Namanya Bibin Bintariadi. Saya biasa memanggilnya Mas Bibin.

Ketika mulai menggeluti dunia jurnalistik, saya sering berdiskusi dengannya. Tentang liputan, berita, memilih narasumber dan segala hal tentang dunia jurnalistik. Ia menjawab semua pertanyaan dengan telaten dan sabar. Ia juga yang menyarankan saya untuk bergabung di Aliansi Jurnalis Independen di Jember. Dengan harapan agar saya bisa belajar. Dari AJI, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan jurnalistik lingkungan di Surabaya dan Malang. Setelah itu, saya lebih intens menulis tentang lingkungan dibanding berita-berita yang lain. Rasanya, saya menemukan kekuatan baru disana. Jurnalis senior Tempo wilayah Malang ini selalu support dengan terus melibatkan saya di beberapa kegiatan lingkungan di wilayah Jawa Timur. Tentu saya bahagia.

Suatu hari di awal tahun 2012, saya memutuskan untuk menjadi seorang blogger saja. Di media personal ini, saya menemukan secercah kebahagiaan yang sulit didapat ketika masih menjadi jurnalis, dimana media tempat saya bekerja kurang memberi ruang tentang lingkunga. Ia juga menyulitkan saya untuk menjadi independen.

Saya tahu, menjadi blogger tak serta merta membuat saya menulis dengan lebih baik. Kadang saya juga menulis genre fiksi, sesekali review. Namun blog tetaplah sebuah media alternatif yang menggiurkan, dimana ia menuntut saya untuk mengenal batas-batas kebebasan, etika komunikasi, serta membiarkan saya untuk merawat independensi.
Ada banyak kenangan yang terlintas pagi ini. Saya tak kuat menuliskannya satu per satu. Terima kasih saya ucapkan untuk seorang Bibin Bintariadi. Tentu, selalu ada doa terbaik. Juga untuk Bob Ayah saya, terima kasih. Saya sempat mengecup mimpi itu dan bahagia pernah belajar di dalamnya.

Suatu saat nanti, ketika ada media yang terbuka pada genre jurnalistik lingkungan, dan tentu saja yang membebaskan saya untuk merawat independensi, itu adalah kabar bahagia. Setidaknya untuk saya sekeluarga, Bob dan Almarhum Bibin Bintariadi.

Salam saya, Zuhana Anibuddin Zuhro.

14 komentar:

  1. jurnalisme dan blogger bisa seiring sejalan ya, karena hampir mirip misinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, misi keduanya hampir sama. Namun dalam jurnalisme biasanya lebih berdasarkan fakta yang dituliskan secara runtut dan detail. Blogger biasanya menuliskannya dengan meloncat-loncat dan bebas tanpa ada patokan apapun kecuali etika. Yang butuh ditekankan lagi adalah, bahwa jurnalisme dan informasi itu dua hal yang berbeda.

      Memang, benar ada informasi yg dimuat namun dituliskan berdasarkan fakta dan data-data yang akurat. Blogger biasanya lebih pada sebuah opini personal.

      Terima kasih atas apresiasinya.

      Salam saya,
      @apikecil

      Hapus
  2. Membayangkan dunia jurnalistik yang lebih corded lalu lintasnya, sepertinya lebih runyam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiyahhh
      typo :(

      Hapus
    2. Hehehe...

      Runyam-runyam enak Mbak. Karena dapat pengalaman berharga dari sana. Tapi kalau kemacetan itu dicari sebab dan solusinya gak bakalan runyam koq Mbak :)

      Terima kasih atas apresiasinya.

      Salam saya,
      @apikecil

      Hapus
  3. dilema jurnalistik yang tampak di depan mata. Mau bagaimana lagi. Menulis dengan independen dengan resiko beritanya bersanding dengan poster iklan nya, atau mengikuti arus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya, banyak media yang belum siap untuk berdiri secara independen di negara kita. Sebagian besar masalah topangan dana. Bila sudah ada donatur yang mau menopang, tentu saja dengan banyak syarat dan kebanyakan mengikat.

      Melihat kecenderungan inilah, ada celah untuk menulis secara independen melalui blog. Barangkali tidak ada masalah dengan donasi yang tidak mengikat :)

      Terima kasih atas apresiasinya.

      Salam saya,
      @apikecil

      Hapus
  4. ane setuju ame bang Mandor, memang bida menjadi dilema..

    http://as-him.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...

      Terima kasih atas apresiasinya.

      Salam saya,
      @apikecil

      Hapus
  5. Ngomongin wartawan, saya lg tertarik mau bikin fiksi tentang wartawan, yg sama sekali gak saya pahami, han..hihi

    Dari tulisan ini, jd sedikit banyak punya referensi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau memberikan sedikit gambaran Mbak. Mau dong baca cerpennya kalau sudah selesai :)

      Terima kasih atas apresiasinya.

      Salam saya,
      @apikecil

      Hapus
  6. Budaya amplop emanf sudah membudaya di negeri tercinto ya, mba. Gak di bidang jurnalistik sajoo. :D

    Nyaman memang, ketika bkerja sesuai minat. Salam lestari. Ikut2an Mas hakim. ^*

    BalasHapus
  7. Media independen ...
    Jurnalistik tanpa bisa dipesan ...

    saya tidak bisa berkomentar Mas Bro ...
    Namun saya yakin ... saya yakin ... masih banyak yang tidak bisa dibeli di negeri ini ... salah satunya adalah idealisme jurnalistik ...

    Salam saya Mas Bro

    (1/3 : 11)

    BalasHapus
  8. Semoga nanti akan ada media-media independen yang benar-benar menyuarakan yang benar, tanpa dipesan tanpa dibeli

    BalasHapus

acacicu © 2014