7.2.14

Febrina

7.2.14
Seingat saya, Febrina Haryanti tidak mengatakan sebelumnya jika ada pete di dalam kardus kecil yang saya bawa ke Jakarta. Di inbox dia hanya bilang, "Titip kopi bubuk karo kecap asin yo Mas, gawe Kokoe." Tentu, dengan senang hati saya membawanya. Ternyata ada pete di dalam kardus, haha.

Isi kotak kardus kecil itu untuk dua orang. Bukan hanya untuk Andreas Harsono, melainkan dibagi dua dengan Heylen Harsono. Ini membingungkan saya. Febrina memberi pesan yang tidak lengkap. Ketika saya hendak menghubunginya via sosmed, facebooknya non aktif. Sekali waktu, Febrina memang pernah menghubungi saya via telepon, dari tempat kerjanya di Arab Saudi. Sempurna! Saat itu saya tidak memiliki banyak pulsa.

Kepada Heylen Harsono, saya menceritakan itu semua lewat sms, kemudian saya minta maaf. Ya, saya benar-benar minta maaf. Saya juga khawatir jika pete itu akan bertunas. Hal senada, tentang pete yang berubah wujud menjadi tunas, juga dikatakan oleh Heylen Harsono dalam bahasa canda. Bayangkan saja, kardus kecil itu sudah ada di tangan saya sejak bulan Januari di hari ketiga. Esoknya saya baru berangkat ke Jakarta, esoknya lagi sampai. Tanggal 6 Januari 2014, bertepatan dengan hari lahir Sapariah Saturi, Kelas Jurnalisme Sastrawi dimulai. Hari pertama dan kedua, kelas diampu oleh Janet Steele. Andreas Harsono baru memulai materi narasi pada 9 Januari 2014. Jadi saya pikir, kardus kecilnya nanti sajalah. Tidak disangka, Heylen menghubungi saya pada 8 Januari.

Itu adalah hari yang mengejutkan.

Ketika kotak kecil itu akhirnya saya antarkan ke Pondok Pinang, di kediaman Heylen Harsono, ada satu kelegaan. Ah, tinggal satu hantaran lagi, pikir saya.


Saya dan Heylen Harsono

Senang berjumpa dengan adik Andreas Harsono yang satu ini. Ia begitu sabar menuntun saya lewat sms, agar saya begini dan begitu, naik angkot ini, berhenti di tempat itu, lalu berganti angkot letter ini, dan seterusnya. Ada sms yang paling saya sukai, begini bunyinya;

"Bacalah dan simak sms ini dengan pelan-pelan. Jangan salah Angkot, karena kamu akan menjadi frustasi. Cek kepada supir angkot sebelum naik, agar sekali jalan langsung tiba. Tidak pakai istilah kesasar."

Ketika misi berhasil, dia berkata, good job! Kemudian kami berjumpa dan ngobrol tanpa canggung. Mungkin lantaran sudah akrab lewat sms ya.

Kembali ke Febrina Haryanti.

Saya mengenalnya di Mahapala, tapi kami tidak terlalu sering bicara. Ia memiliki nama yang banyak. Febrina Haryanti, itu nama asli sesuai akte, ijasah, dan KTP. Narti adalah panggilan keluarga besar dari pihak Papa. Di kalangan para pencinta alam Jember, ia biasa dipanggil Lungset. Untuk sosial media, ia senang menyematkan nama Febrina Ong Kong Swie. Sekarang, ketika bekerja di Arab Saudi, ia dipanggil Munira.

Lewat tulisan Andreas Harsono, Liburan di Tanjung Papuma, saya menjadi lebih mengerti bahwa Febrina adalah adik Andreas Harsono. Mereka satu Ayah, Ong Seng Kiat namanya. Ia meninggal dunia pada 20 Juli 2013 yang lalu, di usianya yang ke-73 tahun.

Lima hari yang lalu saya ke rumah Ibu Febrina, jaraknya tidak jauh dari kediaman saya. Ketika meuju ke sana, saya ingat-ingat pesan Febrina. "Sampeyan cari warung barokah dengan warna dominan hijau daun. Nah, Ibu ada di sana Mas."

Tujuan saya ke sana untuk mengambil kalender kiriman Heylen Harsono. Moch. Atok Rohman, adik Febrina, dialah yang menyambut saya pertama kali. Lelaki muda yang murah senyum. Kini Atok sudah kelas dua di MAN 2 Jember. Ada satu lagi adik Febrina, namanya Dani, ia lima tahun lebih tua dari Atok. Tapi saat saya ke sana, kami tidak bertemu.

Hari sudah malam ketika saya datang. Warung sudah tutup. Ibu Febrina sedang tidur di ranjang depan tivi. Ia perempuan yang anggun. Kami sempat pula berbincang-bincang meskipun tidak sangat lama. Ia bercerita tentang adik-adik Andreas Harsono yang kesemuanya perempuan. Selain Heylen Harsono, yang saya tahu hanyalah Susan, adik Andreas Harsono yang nomor tiga. Ini pernah dituliskannya di twitter, ketika Andreas bercerita tentang Susan yang sakit schizoprenia sejak 1991. Semoga kini sudah baik-baik saja dan tak lagi mengkonsumsi obat Procmatil, Heximer, Tryhexipenydryl serta Supracitin.

Dalam tulisannya yang lain, Andreas Harsono menyebut keempat adiknya dengan nama Jinjin, si kembar Tantan dan Chenchen serta Bingbing.

Wew, tulisan ini mengalir lebih dari yang saya duga. Tadinya saya hanya ingin mengucapkan selamat hari lahir untuk Febrina.

Ia memiliki hari lahir yang sama persis dengan putri bungsu Letkol Moch. Sroedji, Ibu Pudji Redjeki Irawati. Ketika ada pertempuran di Karang Kedawung - Jember - pada 8 Februari 1949, dan ketika tersiar kabar Pak Sroedji gugur di medan perang, usia Ibu Pudji masih satu tahun lewat satu hari. Jadi, Ibu Pudji tidak tahu bagaimana rupa Ayahnya selain dalam foto.

Bersyukurlah kita Febrina, yang lahir dan bertumbuh di era kemerdekaan. Jadi, tunggu apa lagi? Tersenyumlah dan mari berkarya.

Selamat hari lahir.

Merdeka!

6 komentar:

  1. Selamat ulang tahun mbak febrina, seneng yang jadi temannya mas hakim, begitu mengenal temannya dengan baik, bisa menjlentrehkan secara gamblang dan terpampang nyata membahana *syahrini alay versi ndeso mood on :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha.. Lama sekali saya tidak dengar kata menjlentrehkan. Sekarang saya mendapati itu di komentar Mbak Nunu el Fasa. Terima kasih.

      Hapus
  2. Beginilah enaknya kenal sama seorang penulis
    Tidak hanya mengucapkan "selamat panjang umur", namun bercerita layaknya seorang sahabat. Sungguh merasa diperhatikan. Selamat ulang tahun juga yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Mandor atas ucapan 'selamat ulang tahun' untuk Febrina. Saya kira, nanti dia akan membacanya.

      Hapus
  3. pasti Mbak Febrina nya senang sekali Masbro bikinkan postingan special untuknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga. Eh Mbak, sebentar lagi bulan Maret lho :)

      Hapus

acacicu © 2014