22.2.14

Janet Steele: Struktur Itu Penting

22.2.14

Saya, Janet Steele, dan Dieqy Hasbi Widhana

Meskipun Janet Steele sering mengulang-ulang kata maaf atas keterbatasan bahasanya, tentu saya salut. Ia lancar sekali berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia.

"Biasanya setelah empat jam, Bahasa Indonesia saya sudah mulai habis. Maaf."

Janet Steele bilang, struktur itu penting. Ia ibarat bangunan rumah yang memudahkan penulis dalam membedakan mana pondasi, mana lantai, mana ruang tamu, dan mana atap.

Mulanya saya mengira, jenis struktur yang paling Steele sukai adalah tulisan berstruktur kronologis yang dimulai dari bagian awal, menuju bagian akhir. Runtut. Ternyata tidak juga. Steele banyak menerangkan perihal struktur dengan membuat bagan-bagan di kertas karton yang sudah tersedia. Selagi dia menerangkan, kami para peserta kelas narasi menyimak di kursi masing-masing yang deretannya sengaja dibentuk menyerupai tapal kuda, nyaman dan terkesan akrab.

Ia bicara tentang tiga struktur yang lazim digunakan. Jika hendak menulis dengan dengan struktur kronologis, hendaknya penulis menggunakan engine yang kuat untuk memikat pembaca. Begitu juga ketika kita menulis dengan gaya anti-klimaks. Jika memulai tulisan dari bagian akhir tulisan, sebaiknya pilih bagian yang sangat menarik dan mudah diingat. Sebab, menulis dengan gaya mundur ke masa lalu, kemudian kembali maju hingga konflik selesai, butuh detail yang kuat.

Steele juga menambahkan, sebagai penulis, kita harus menulis sesuai fakta, apapun struktur tulisan yang kita gunakan.

"Tulisan yang jujur akan menghidupkan kepercayaan pembaca."

Menurut Steele, narasi juga menggunakan 5W1H, namun tidak kaku. Masing-masing dari 5W1H lebih dideskripsikan secara detail dan mendalam. Ada bagian-bagian yang diramu lebih luas, misalnya pada unsur how. Tentu kita juga harus pandai merangkai kosakata yang baik, unik, dan diharap bisa memikat pembaca dengan tidak mengurangi tujuan, yaitu menyampaikan pesan. Ia juga menerangkan tentang bagaimana kutipan yang baik, memasukkan unsur dialog dalam tulisan kita, dan bagaimana membuat detail yang padat serta ekspresif. Satu lagi, tentang merangkai konflik dalam tulisan untuk memancing rasa ingin tahu pembaca.

Saya jadi ingat ucapan Andreas Harsono pada 18 Desember 2013, di sebuah diskusi narasi di Jember. Ia pernah membicarakan perihal struktur tulisan. Menurut Andreas, jika harus dirangkum, di dunia ini hanya ada tiga struktur berita; piramida terbalik, feature, dan narasi. Dieqy Hasbi Widhana juga pernah menambahkan di acara CLBK on air, narasi adalah struktur feature yang ditumpuk-tumpuk.

Struktur itu penting, ia bertugas untuk menjaga irama tulisan.

Ketika telah memahami struktur, yang harus kita pelajari berikutnya adalah bagaimana cara mengisi bagian-bagian itu. Kita butuh engine, ia adalah mesin kepenulisan yang dibutuhkan agar kita bisa menggerakkan emosi pembaca. Dengan begitu, diharapkan alur narasi kita tidak monoton melainkan berirama. Selain tentang engine, Steele juga mengingatkan pada seluruh peserta Kelas Jurnalisme Sastrawi XXII akan pentingnya makna.

"Tulisan butuh makna dan mesin. Semua tulisan punya makna. Kalau tidak punya makna, mengapa menulis? Tapi tidak semua tulisan punya mesin. Makna saja tidak cukup, kita butuh alat seperti narrative."

Jika struktur berfungsi sebagai penjaga gelombang irama, maka makna dan engine adalah senjata untuk menguatkan tulisan.

Mengenai nama kursus itu sendiri, Steele lebih suka menyebutnya narrative dibandingkan dengan sastrawi. Baginya, jurnalisme sastrawi adalah istilah yang tidak tepat. Kata sastrawi di belakang jurnalisme seolah-olah genre ini dipandang sebagai aliran yang tidak setia pada fakta, seolah menyilangkan antara fakta dan fiksi.

"Tidak ada pernikahan antara jurnalisme dan sastra. Itulah kenapa saya lebih senang menggunakan istilah Jurnalisme Narrative."

Sedangkan jurnalisme sastrawi, ia dibangun berdasarkan rangkaian fakta, tidak ada tempat untuk khayalan penulis. Satu-satunya kemiripan antara laporan jurnalisme sastrawi dengan novel, ia bisa setebal karangan fiksi, dan sama-sama tampil memikat. Itulah kenapa genre ini disebut juga dengan teknik menulis panjang.

Kata Andreas Harsono, walaupun genre ini memakai kata 'sastra' tapi ia tetap jurnalisme. Jika tertarik, silahkan baca artikelnya yang berjudul, Tujuh Pertimbangan Jurnalisme Sastrawi.

Saya suka ketika Steele menjelaskan panjang lebar mengenai laporan pendek Anthony Shadid, berjudul A Boy Who was Like a Flower. Menurutnya, Shadid terbilang cemerlang dalam merangkai sisi lain perang yang terjadi di Irak secara detail pada pembaca. Di saat itu, belum ada wartawan yang menyuguhkan berita seperti yang ditulis Anthony Shadid, apalagi di Washington Post.

"Saya diyakinkan oleh penulis."

Janet mengatakan itu, kemudian kembali menjelaskan tentang kekuatan tulisan Anthony Shadid. Apa yang dipaparkan oleh Shadid bukan melulu tentang Bush dan Saddam, bukan tentang pro Amerika atau Irak, melainkan tentang tewasnya Arkan Daif. Bocah berusia 14 tahun itu tewas akibat bom di Irak, akhir Maret, sebelas tahun yang lalu. Shadid juga berhasil menggambarkan bagaimana orang Islam ketika melakukan pemakaman, memperlakukan jenasah untuk terakhir kalinya. Bagi umat muslim, tentu berita mengenai pemakaman dianggap sederhana dan biasa saja. Tapi ketika kisah tersebut dibaca oleh warga Amerika, efeknya akan menjadi berbeda. Dimata Steele, deskripsi Shadid terbilang sederhana, kuat, dan langka.

Kepada kami yang mengikuti kelas jurnalisme sastrawi, Janet Steele menyarankan untuk memperhatikan struktur dan dialog yang digunakan oleh Shadid. Saya pribadi cukup terkesan dengan kutipan, "Makanan kami lebih enak dari makanan mereka." Sederhana saja kutipan itu, tapi berhasil membangun kekuatan kisah, bahwa rakyat Irak tidak suka dengan terjadinya perang. Mereka tidak mau anak-anak mereka mati oleh bom.

Shadid bukan orang muslim. Keluarganya tidak ada yang berbahasa Arab. Ia seorang warga Amerika kelahiran Oklahoma City, keturunan Lebanon, dan belajar sendiri Bahasa Arab. Liputannya soal Irak memenangkan Pulitzer tahun 2004. Penghargaan yang sama juga kembali ia terima tahun 2010, dua tahun sebelum ia meninggal dunia. Shadid menggunakan kutipan sebagai engine yang dapat menggerakkan emosi pembaca. Tulisannya juga terasa bergelombang, tidak statis. Tulisannya berani tampil beda, dimana saat itu tidak ada seorang pun jurnalis Washington Post yang mengabarkan perang sebagaimana hasil tulisan Shadid. Ia berhasil memperlakukan kebenaran dengan baik, bahkan meskipun kejadian ini kecil sekali, hanya sedikit korban, dan tidak diperhatikan oleh pemerintah.

Menurut Steele, Shadid mengingatkan kita bahwa sesuatu yang kecil, jika dituliskan dengan baik dan sesuai fakta, maka hasilnya akan baik.

Tentu saya senang berkesempatan belajar dari Janet Steele. Meskipun waktu kami dengannya terbilang singkat -hanya dua hari- namun saya membuat catatan yang panjang tentang dirinya, terlebih di pertemuan hari pertama.

"Biasanya saya tidak memberi materi yang banyak di hari pertama. Tapi waktu saya sedikit, hari Rabu --8 Januari 2014-- saya sudah harus pulang."

Ketika saya harus mengingat seorang Janet Steele, yang saya ingat bukan segala penampilannya di hari kedua, seperti yang tampak dalam foto di atas, melainkan perjumpaan pertama, sebab saya mencatatnya.

Cuplikan catatan saya tentang Janet Steele:

Steele mengenakan pakaian dengan warna padu putih atas bawah. Sepatunya berwarna coklat muda keperakan. Tampak serasi dengan warna rambutnya. Di tangan kanannya ada tiga gelang warna nikel, seperti warna sendok. Terasa pas dengan jam tangan yang ia kenakan di tangan kiri. Ia berkacamata bening, dengan frame biru tua. Dari jauh, frame itu tampak seperti berwarna hitam, dengan ujung gagang frame yang sembunyi dibalik rambut pirangnya. Di saat santai, ia lebih senang membuka kacamatanya. Sesekali Steele menyelipkan rambutnya di balik telinga, membuat anting-anting yang ia kenakan tampak mencolok. Bentuk antingnya seperti gunung, warnanya bening, dengan lubang besar di tengahnya.

Masih ada banyak lagi catatan-catatan saya tentang Janet Steele selama mengikuti kelas menulis di Yayasan Pantau. Tidak semuanya saya tuliskan kembali, sebab itu hanyalah catatan ketika saya belajar menulis deskripsi pendek secara detail.

Janet Steele adalah dosen George Washington University, Washington DC. Dia menulis kolom rutin Email dari Amerika pada 2007-2011 di harian Surya, Surabaya. Steele juga menulis buku sejarah majalah Tempo Wars Within: The Story of Tempo an Independent Magazine in Soeharto's Indonesia. Buku tersebut sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Steele lancar menulis dalam Bahasa Indonesia, biasa mengajar kursus menulis di Yayasan Pantau, setiap tahun, sejak tahun 2001. Sumber dari sini.

Berbeda dengan Janet Steele yang lebih menekankan pada struktur tulisan, Andreas Harsono melanjutkan kelas narasi dengan mengajak para peserta untuk belajar mengisi struktur dengan tulisan yang memikat. Ia senang melemparkan pertanyaan lalu mengajak semua peserta untuk bersama-sama mencari jawabannya.

Contoh pertanyaan. Kenapa sedikit orang di Indonesia yang bisa menulis dengan berkualitas? Sebab di negeri ini, pola pendidikannya tidak mengajak kita untuk berpikir kritis, yang ada hanyalah sistem pendidikan dogmatis. Kenapa narasi jarang dipakai? Karena mahal. Liputannya bisa berbulan-bulan. Pemimpin media mana yang mau membiayai liputan narasi?

Jurnalisme sastrawi adalah tentang tulisan panjang yang padat dan memikat. Namun, kebanyakan penulis takut dan menghindari kalimat panjang. Itu dirasa membosankan dan membuat pembaca lelah. Di dunia blogger, artikel panjang termasuk yang tidak populer juga seringkali dihindari. Kata Andreas, "Jangan takut kalimat panjang, jangan takut pula menulis panjang." Namun ia juga mengingatkan, tidak baik memanjang-manjangkan tulisan pendek.

Jadi, tulisan narasi adalah tentang liputan yang mendalam dan detail, tentang riset, reportase, setia kepada fakta, memaparkan dengan cara bercerita, dan tak ada tempat untuk fiksi.

Lewat struktur tulisan, Janet Steele mengajarkan pada saya untuk bisa berpikir secara struktural. Sedangkan Andreas Harsono, ia menyegarkan kembali ingatan saya untuk tak takut berpikir kritis. Ketika saya bertanya tentang ford, ia menanggapinya dengan hati luas dan kritis.

Terima kasih.

Salam saya, RZ Hakim.

2 komentar:

acacicu © 2014