9.2.14

Kalisat dan Celana Dalam Yang Basah

9.2.14
Ketika hendak berangkat menuju lokasi diskusi di Kalisat, saya memandang langit yang pekat. "Semoga tidak hujan," ujar saya kepada Prit. Lalu kami berangkat menunggangi motor dan sengaja tak membawa jas hujan. Tiba di Desa Biting, hujan turun dengan derasnya. Keadaan itu mengantarkan saya pada sebuah ruko yang tutup. Ya, kami berteduh. Saya terlalu meremehkan cuaca, inilah harga yang harus saya bayar.

Terdampar di sebuah desa bernama Biting mengingatkan saya pada saat melakukan riset sejarah lisan di Kalisat. Enam bulan yang lalu, saya menemui seorang Kepala Kampung di Desa Glagahwero, Kalisat. Oleh orang-orang di sekitar rumahnya, ia akrab dipanggil Pak Husen. Tapi saya sudah terlanjur nyaman memanggilnya dengan sebutan Pak Kampung.

Ia mengawali obrolan dengan kalimat, "Saya ini penggemar ludruk Mas. Sayang sekarang di Kalisat sudah tidak ada ludruk."

Dari ludruk, tema pembicaraab berpindah ke sejarah Desa Sumber Jeruk tempo dulu. Pak Kampung membenarkan asal usul Sumber Jeruk yang dimulai dengan kata Sumber Jeru, selaras dengan nama wilayah Kalisat atau Kali-Sat, atau sungai yang kering. Tapi ia sedikit mengoreksi.

"Begini Mas Hakim, jadi dulu yang tinggal di daerah ini adalah orang-orang berbahasa Osing. Mereka menyebut tempat ini dengan nama Sumber Jerau. Seiring berlalunya waktu dan datangnya orang Eropa ke wilayah Sumber Jerau, perubahan pun tak terelakkan. Apalagi saat mereka membangun tempat agraris -tembakau- yang mula-mula didirikan di Sukowono. Mereka membawa serta orang-orang Madura sebagai tenaga kerja. Terjadilah gesekan. Lidah Madura sulit untuk mengucapkan Sumber Jerau, jadinya ya seperti sekarang ini. Sumber Jeruk."

"Apakah di sini masih tertinggal orang-orang Osing?"

Pak Kampung menggeleng pelan. "Sepertinya tidak ada Mas. Kecuali di desa Biting."

"Ohya Pak, bicara tentang Desa Biting, apa benar nama itu dimulai dengan Benteng? Mengingat dulu di sana pernah ditemukan barang-barang era Majapahit."

"Tidak Mas, kami punya versi yang lain."

Menurut Pak Kampung, nama Biting diambil dari arti harfiah biting, yaitu lidi. Dari apa yang dituturkan Pak Kampung, saya jadi tahu bahwa di suatu masa, Desa Biting adalah wilayah yang dihuni oleh orang-orang yang pandai membuat ranjau dari lidi.

"Meskipun hanya terbuat dari lidi, tetap saja mematikan Mas. Setidaknya bisa memperlambat laju pergerakan musuh."

Kemudian Pak kampung coba menggambarkan proses pembuatan ranjau lidi, hingga cara meletakkannya di tanah. Beliau mewarisi kisah itu dari Kakeknya. Sambil mendengarkan cerita dari Pak kampung, sebentar-sebentar saya menyeruput kopi buatan istri Har, rekan saya. Ya, ketika itu saya ditemani Prit sedang ada di kediaman seorang rekan di Desa Sumber Jeruk.

Berbeda dengan apa yang saya lakukan, Pak kampung sebentar-sebentar memutus ceritanya. Tangannya sibuk meraih hape, menerima telepon, atau sekedar membaca sms. Saya melirik kalender di dinding rumah Har, sudah 31 Agustus 2013.

"Sibuk ya Pak?"

"Iya Mas, sejak tadi sore. Tadi kan ada karnaval rakyat. Hiburan itu dilanjut malam ini, ada pementasan jaranan di dekat POM bensin Mayang."

"Apa di Kalisat sudah sejak lama mengenal kesenian jaranan?

"Tidak juga. Ini trend baru Mas, tapi masyarakat antusias untuk menikmatinya."

Lalu kami kembali tenggelam dalam kisah desa Sumber Jeruk tempo dulu. Pak Kampung menyebutkan banyak nama-nama, mulai Tresno Pati hingga Ki Udan Panas. Kedua tokoh lokal ini namanya diabadikan menjadi nama jalan di daerah Sumber Jeruk. Melihat latar kisah yang dipaparkan, tebakan saya, kedua tokoh di atas hidup di abad 15, di era Majapahit yang mendekati masa kehancurannya.

Obrolan itu berlanjut pada dua hari berikutnya. Pak Kampung tidak bisa memenuhi janjinya untuk mengantarkan saya ke makam Tresno Pati dan Ki Udan Panas. Syukurlah ada Har, seorang rekan yang selama ini selalu membantu saya dalam melakukan riset mandiri, dari riset sejarah hingga riset capung.

Hari sudah sore ketika saya dan Prit meluncur ke desa Sumber Jeruk - Kalisat. Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit, maka sampailah di tujuan. Har menunggu kami di tepi jalan. Tangannya penuh dengan noda oli tap-tapan, ia baru saja usai service vespa. Lalu sepeda saya parkir di dekat bengkel milik rekan Har untuk kemudian berjalan kaki menuju makam Tresnopati dan Ki Udan Panas. Letaknya yang tepat di balik sebongkah gumuk besar, membuat lokasi pemakaman ini terlihat rimbun. Hamparan nisan dimana-mana.

"Letaknya dimana?"

"Itu, yang di atas."

Har mengatakan itu sambil tangannya menunjuk ke sebuah cungkup di atas gundukan tanah yang lumayan tinggi. Ada terlihat tangga menuju ke sana. Tepat di tangga yang pertama, ada sebuah gerbang bertuliskan Assalamualaikum Ya Ahli Kubur. Keren, tempat itu mengingatkan saya pada gerbang shaolin master.

Sesampainya di puncak, saya segera berdiri di depan cungkup lalu mengedarkan pandangan, menjelajahi areal sekitar makam. Ada ruangan beratap genting dengan ukuran kira-kira 3 x 4 meter. Di dalamnya terdapat dua nisan. Tepat di samping cungkup ada bangunan yang hampir serupa dengan cungkup. Di sana sudah tersedia tikar dari daun pandan. Tempat itu dimanfaatkan untuk berteduh dari hujan dan panas, juga untuk tempatnya orang ngaji di malam Jum'at manis.

Kata Har, yang di dalam itu adalah pesarean Tresnopati Nyi Sadima, istri Tresnopati. Nama Nyi Sadima mengingatkan saya pada tokoh novel karya G. Francis yang muncul tahun 1898, Nyi Dasima. Tapi mereka berbeda. Dikisahkan dalam novel, Nyi Dasima berlatar keluarga Jawa. Sedangkan Nyi Sadima istri Tresnopati, ia Putri dari seorang tokoh asal Batu Ampar, Madura. Penuturan itu saya dapat dari Pak Kampung. Tentu, penuturan itu masih bersifat sangat lemah dan butuh dilakukan kajian lebih mendalam lagi, tidak bisa dijadikan sandaran sejarah. Pak Kampung juga berkata, Nyi Sadima masih sanak famili dari Bujuk Lattong. Bagi saya, ini masih sebuah misteri.

Tabir sejarah butuh disingkap lebih mendalam lagi. Jika tidak, cukuplah kisah itu hanya bertahan pada kolom legenda saja.

Di luar cungkup atau rumah kecil beratap untuk menaungi kuburan, masih ada empat nisan besar. Orang-orang desa Sumber Jeruk meyakini bahwa itu adalah makam Ki Udan Panas beserta istri, dan makam Singojoyo beserta istri. Singojoyo sendiri adalah menantu dari Tresnopati. Sayang, tidak ada yang tahu siapakah nama putri Tresnopati yang dipersunting oleh Singojoyo. Begitu juga dengan nama istri Ki Udan Panas, warga setempat tidak ada yang mengerti. Ini berbeda dengan anak turun dari Ki Udan Panas, saya masih bisa melacaknya. Masih menurut Pak Kampung, Ki Udan Panas adalah utusan dari Kerajaan Blambangan yang ditempatkan di Sumber Jeruk. Ki Udan Panas memiliki tiga orang keturunan yang masing-masing bernama Raden Setiban, Raden Gede Isa, dan Raden Senisa.

Jika melihat posisi nisan Tresnopati yang ada di dalam cungkup sementara nisan Ki Udan Panas ada tepat di sisi luar bagian depan cungkup, jelas Tresnopati adalah atasan Ki Udan Panas. Ibaratnya, Tresnopati adalah kades, sementara Ki Udan Panas adalah cariknya. Hasil bincang-bincang saya dengan warga setempat, ada kecenderungan mereka lebih mudah mengingat Ki Udan Panas dibanding Tresnopati, meskipun secara struktural ia ada di bawah garis komando Tresnopati. Saya pikir ini berhubungan erat dengan legenda yang lestari secara tutur tinular tentang pesan Ki Udan Panas.

Sesama warga Sumber Jeruk dilarang carok atau bertengkar, sebab Ki Udan Panas tidak suka.

Hujan masih belum lagi reda, kami masih ndepis di pelataran ruko yang tutup. Kenangan riset kecil tentang Kalisat sedikit terganggu oleh cipratan air hujan yang diakibatkan oleh mobil yang melaju kencang. Ary Yanuar Hidayat, anak Jember yang kuliah di Malang yang juga turut berteduh bersama kami, ia memandang langit dan berucap, "Udane wes lumayan terang Mas." Lalu kami tancap gas. Belum lagi satu kilo saya memacu motor, hujan kembali turun. Tanggung, lagi pula waktu untuk berdiskusi semakin mepet. Tentu kami basah kuyup. Satu-satunya hal yang menenangkan saya adalah mendengar Prit bernyanyi-nyanyi riang. Rupanya dia menikmati betul suasana sore berpadu dengan hujan lebat.

Sepanjang jalan saya lihat ada banyak anak kecil yang bertelanjang dada, berbasah-basah ria menikmati hujan. Air meluap dari tepi jalan. Pasar Kalisat terendam air setinggi sepuluh senti.

Di akhir Abad 19, Kalisat adalah kota perdagangan, serupa dengan Ambulu. Pernah saya baca kutipan dari ANRI, pada 1888 telah dibuka pasar baru di distrik Kalisat, bersamaan dengan dibukanya pasar di Mayang dan Wuluhan. Pembangunan ini berhubungan erat dengan dibukanya jalur perkebunan dan pemasaran tembakau dari Jember ke Eropa, digagas oleh George Birnie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia yang pernah menikahi perempuan Jawa bernama Rabina. Mulanya, ia mengajak serta kedua rekannya, Mr. C. Sandenberg Matthiesen dan van Gennep. Mereka mengajukan ijin pada Pemerintah Hindia Belanda untuk membuka usaha di Jember. Ijin di-acc pada 21 oktober 1859, ditandai dengan didirikannya Landbouw Maatsccappij Oud Djember. Ia bergerak di bidang tembakau jenis Na Oogst.

Lima puluh tahun kemudian, ketika telah dirintis jalur kereta api menuju Pelabuhan Panarukan, mereka melebarkan sayap. Kini bukan hanya melulu tembakau, melainkan juga perkebunan aneka tanaman seperti kopi, kakao, dan karet.

Kalisat juga dilalui oleh jalur kereta api -dari Jember- tujuan Panarukan. Berikut adalah jalur yang dilewati kereta. Berangkat dari Stasiun Jember menuju Stasiun Kotok, Stasiun Kalisat, Stasiun Sukosari - Sukowono - Tamanan - Grujukan - Bondowoso - Tenggarang - Wonosari - Tangsil - Widuri - Bagur - Situbondo - Tribungan - baru kemudian tiba di Stasiun terakhir, Panarukan.

Dibukanya jalur kereta api membuat Kalisat semakin bersolek menjadi daerah potensial yang terus bertumbuh dan berkembang. Di sini ada berbagai suku, bukan hanya Jawa dan Madura saja. Anda boleh memeluk agama apa saja, memiliki warna kulit dan berbahasa apapun, sebab Kalisat adalah ladang subur bagi keberagaman. Ya, saya tidak menutup telinga dengan kabar Jember era 1990an hingga awal Abad Millenium. Ada banyak tersiar berita tentang konflik, sedari konflik agraria hingga ketidakterimaan masyarakat ketika Gus Dur dilengserkan. Konflik mudah sekali disulut di masa-masa seperti sekarang ini, mendekati Pemilu. Tapi saya tahu Kalisat tidak semudah itu. Sebab Ki Udan Panas tidak suka jika mereka bertengkar di atas tanah moyangnya sendiri.

Kami terlalu menikmati suasana hujan-hujanan. Seperti sedang melipat waktu, tiba-tiba motor yang saya joki sudah memasuki halaman Kalijejer di Desa Dawuhan, Kalisat. Di sinilah sebentar lagi kami akan berdiskusi. Masing-masing dari kami basah kuyup, kecuali tentu saja tidak bagi mereka yang tertib mengenakan jas hujan.

Tampak di sana-sini, banyak yang mengenakan kaos hijau muda lengan panjang. Mereka adalah adik-adik SMA Negeri 1 Kalisat yang tercatat sebagai sispala EXPA. Banyak yang bersalaman dengan saya. Ada juga yang bersalaman sambil mencium tangan. Saya menolak, mereka memaksa.

Dalam kondisi basah kuyup, saya memulai acara. Benar, kami mendiskusikan sejarah Jember di era Agresi Militer, dimana nama-nama seperti Letkol Moch. Sroedji dan Letkol dr. Soebandi sering saya sebutkan.

Namanya Arizona Rambi, kelas sepuluh SMA. Ia bertanya, "Sroedji asli mana? Kenapa harus ditokohkan di sini?"

Wew, pertanyaan yang cerdas dari seorang lelaki berwajah malu-malu yang mengenakan kaos hijau muda lengan panjang. Saya kira, Arizona Rambi kelak akan menjadi seorang lelaki yang berkarakter. Semoga benar begitu, Amin.

Saya katakan kepada Arizona Rambi dan kepada seluruh peserta diskusi yang lain, bahwa kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dimana, tetapi kita diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memilih berjuang dimana saja.

Ya, Sroedji memang tidak dilahirkan di Jember. Ia lahir di Bangkalan pada 1 Februari 1915 dan menjalani masa kecilnya di Kauman, Kediri. Kemudian ia berjuang di sini, dan gugur di medan perang di usianya yang masih sangat muda, 34 tahun. Sroedji meninggalkan seorang istri -Rukmini- dan empat orang anak yang masih kecil-kecil. Si bungsu masih berusia satu tahun lewat satu hari ketika ia gugur. Soebandi juga begitu, ia adalah seorang dokter perang yang lahir di Klakah, Lumajang, pada 17 Agustus 1917, dua tahun lebih muda dari Sroedji. Ia tidak dilahirkan di Jember. Tapi, siapa yang bisa request sebuah kampung halaman? Lagi pula, dalam sebuah perjuangan, tidak penting kita lahir di mana.

Lalu saya berkisah tentang Sroedji dari awal hingga tuntas.

Seusai diskusi, seorang siswi berbaik hati membawakan saya sarung Bapaknya. Tentu saya bahagia. Kaki saya gemetar oleh dingin. Saat itu saya mengenakan jeans warna hitam, sulit sekali kering. Kaos yang saya kenakan, yang ada tulisan 'Manusia dan Alam Setara' di depannya, kini telah mengering. Jadi saya tidak butuh berganti kaos. Satu hal yang membuat saya terganggu sedari awal diskusi hingga usai, yaitu tentang celana dalam yang basah. Ini sungguh mengganggu, saya dibuatnya sulit untuk berkonsentrasi.

Ah, Kalisat, dikau membuat celana dalamku basah.

5 komentar:

  1. secara harfiah kalisat berarti kali yang kering ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, dalam Bahasa Jawa memang begitu artinya. Perpaduan antara Kali dan Sat, artinya sungat yang airnya menyusut.

      Sayang saya tidak pandai di bidang Toponimi. Itu membuat saya tidak luas dalam membuat pembahasan ilmiah tentang tipologi sebuah nama tempat.

      Hapus
  2. Oh sepertinya aku tahu kali ini... setiap ke jember selalu melewati kali yang bangunannya mirip belanda... dam dam gitu.. itukah kalisat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin yang Mbak Nunu maksud adalah dam-dam di sepanjang sungai Bondoyodo, antara Lumajang - Jember. Kita memang akan menjumpai itu, juga sawah-sawah, ketika menuju Jember dari Surabaya.

      Kalisat tidak dilalui, ketika menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jember. Posisinya ada di Jember bagian Utara. Di sini juga ada jejak peradaban Belanda Mbak, lewat sisa-sisa bangunannya, terutama bangunan yang berbau kereta api.

      Hapus
  3. terima kasih doanya mas hakim
    juga isi blogernya bagus dan sangat menginspirasi
    saya arizona (MA'AR) dari expa sman kalisat

    BalasHapus

acacicu © 2014