11.2.14

Tan Malaka Bicara Cinta

11.2.14

Padi tumbuh tak berisik - Tan Malaka

Harusnya kemarin saya menemani Prit ke Aula Fakultas Sastra Universitas Jember. Iya, jurusan Ilmu Sejarah lagi punya gawe. Mereka menggelar kelas kuliah umum dan menghadirkan Dr. Harry A. Poeze, seorang peneliti sejarah asal Belanda dan juga mantan Kepala Penerbit KITLV di Leiden. Prit bergairah sekali untuk hadir.

"Ini tentang Tan Malaka Mas!"

Wajahnya berseri ketika mengatakan itu. Saya diam. Tak saya katakan kepadanya jika kepala ini sedang pening. Jangan sampai istri saya tahu jika suaminya ini sedang tidak enak badan. Saya tidak ingin membunuh mimpinya, tak ingin mendengar kalimat, "Aku di sini saja menemani Mase." Ada satu mimpinya yang belum bisa saya berikan. Tentunya, saya tidak ingin menjadi penghalang untuk mimpi-mimpinya yang lain.

Prit istri saya yang mungil, ia ingin sekali mengunjungi Stadion Artemio Franchi di Firenze Italia. Ia memelihara mimpi untuk bisa meniti jejak dan kenangan seorang legendaris bernama Gabriel Omar Batistuta. Saya belum bisa mengantarkannya ke sana, manalah mungkin saya tega membunuh satu mimpi yang lebih mudah untuk dijangkau?

"Jika Tuhan mengijinkan, akan ada saatnya kita ke Itali."

Prit tidak tahu banyak tentang siapa dan bagaimana pemikiran Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, lelaki yang dilahirkan pada 117 tahun yang lalu dan gugur pada 65 tahun yang lalu ini. Baru tiga hari kemarin ia tertarik untuk mengenal siapa dan bagaimana Tan Malaka, justru karena ada penolakan bedah buku Tan Malaka oleh FPI di Surabaya. Terlepas dari semuanya, kiranya pantas bagi saya untuk berterima kasih kepada yang membuat Prit terinspirasi untuk berpikir lebih luas.

Terima kasih FPI.

Perihal mimpi mengunjungi Stadion Artemio Franch, Prit pernah menuliskannya di blog miliknya, berjudul; Batistuta, Kamar Bola, dan Mimpi Untuk Kesana. Bagi saya, itu adalah artikel yang oke. Kalimat pendek 'antarkan aku ke tempat itu' benar-benar menggugah kesadaran saya untuk bisa menjadi suami yang baik dengan menemaninya menghirup udara di Firenze. Namun saya menyayangkan satu hal, di sana juga ada komentar-komentar miring, satu diantaranya membuat Prit menangis. Saya katakan kepadanya, "Kita telah ada di jaman komunikasi yang berbeda, dan ini masyarakat dunia maya. Mereka mudah dan bebas untuk memberikan komentar apapun, kadang lupa diri. Jadi jangan menangis Prit, semua baik-baik saja. Berterimakasih sajalah pada komentator."

Komentar Yang Membuat Prit Menangis:

Komentar dari seorang blogger dengan nama Sofyan, sayang ia serupa Anonim. Kita tak bisa berkunjung balik untuk sekedar meminta maaf semisal tulisan istri saya membuatnya tidak nyaman.

Begini komentarnya:

Hmmm…. satu penilaianku,, “cinta yang berlebihan dan kelewat batas, bahkan kepada orang yang tidak tepat”..

Lihatlah siapa yang anda puja.. apa agamanya? sebagian besar pesepakbola non-muslim, atau kalo islam pun bukan orang yg shalih. Bahkan orang shalih pun dilarang dipuja berlebihan. Yang paling pantas kita jadikan idola adalah rasulullah dan para pengikutnya dari kalangan orang shalih dan patut kita kenal dan teladani.

Mari kita intropeksi sudahkah kita mengenal dengan baik rasulullah dan para sahabatnya???

Kalo anda ditanya siapa pemain MU, chealse, real madrid, maka dengan tanpa berpikir panjang anda bisa menyebutkannya. Tapi kemungkinan besar orang-orang pemuja bola tidak akan bisa menjawab siapa saja nama 10 sahabat yang dijamin masuk surga??? Bagaiman kisah perjalanan dakwah rasulullah dan generasi islam setelahnya..

Marilah kita bersikap adil dan proporsional terhadap agama kita.. Dunia hanya sebentar, sudah selayaknya mengisinya dengan sesuatu yg besar dan bermanfaaat utk bekal kehidupan akhirat.. Kalo anda begitu bersemangat menabung untuk pergi ke ITALI dan ARGENTINA, akan lebih baik dan berpahala jika diniatkan untuk naik haji…

Maafkan saya jika membuat anda tersinggung.. saya punya kewajiban mengingatkan sebagai sesama muslim… jika tidak berkenan silakan diabaikan..

Akan lebih baik jika kita mengidolakan tokoh-tokoh islam seperti imam abu hanifah, imam malik, imam syafi’ie, imam ahmad, dan yang lainnya. Profil merekalah yg sangat pantas utk dikenali dan dipelajari serta diteladani..
Prit berangkat menuju ke Aula Sastra dengan mengendarai motor. Saya mengantarkannya hingga ke seberang jalan. Jalanan ramai sekali. Maklum rumah kami ada di tepi jalan antar kota, menghubungkan Jember dengan Kabupaten Bondowoso dan Situbondo. Sebelum berlalu, Prit mengajak saya bercanda.

"Kalau aku diculik FPI piye Mas? hihi."

Saya tertawa. Saya katakan kepada Prit, itu tidak mungkin sebab acara digelar di dalam kampus yang memang tempat untuk melakukan kajian ilmiah. Ada saya baca di regional kompas, salah satu alasan FPI menolak bedah buku di Surabaya juga karena itu, sebab acaranya digelar di luar kampus, selain tentu saja karena keterkaitan Tan Malaka dengan paham komunisme.

Kemudian Prit berlalu. Dari tepi jalan, saya memandangnya hingga ia benar-benar tak terlihat.

Ketika Prit Pulang

"Di sana ramai sekali Mas. Acara dibuka oleh Pak Hairus Salikin, Dekan Fakultas Sastra. Aku duduk di samping Iyan. Mendekati akhir acara, Iyan bertanya. Sekali ngomong langsung tiga pertanyaan. Yang pertama, 'bagaimana sosok Tan Malaka di Belanda? Kenapa hingga menjadikan Anda tertarik untuk meneliti lebih dalam tentang jejak Tan Malaka?' Lalu Iyan bertanya lagi, 'Mengapa acara ini hanya diadakan di seputaran Jawa Timur? Kenapa tidak diadakan di Jakarta? Ada apa dengan Jawa Timur?' Terakhir, Iyan bertanya tentang tujuan acara. "Output dari acara ini apa? Apa hanya sebatas wacana bagi mahasiswa?' Gitu Mas."

"Lalu bagaimana tanggapan Harry A. Poeze?"

"Dia merangkum semua pertanyaan Iyan dengan jawaban yang panjang. Ia bilang, Tan Malaka adalah sosok yang menginspirasi tokoh-tokoh Nusantara lainnya. Akan menjadi tidak patut bila perjalanan hidup dan pemikirannya dihilangkah dari khasanah sejarah, bahkan meskipun dia dianggap kiri. Apa lagi ya? Aku lupa Mas."


Prit diantara Alifah Zaki Rodliya dan Poeze. Dokumentasi oleh Fahmi IDEAS

Kemudian Prit bercerita tentang orang-orang yang hadir di acara tersebut. Rupanya dia senang bisa berjumpa dengan sahabat-sahabatnya dulu, ketika ia masih aktif menulis di media dan terlibat erat dengan AJI, Aliansi Jurnalis Independen untuk wilayah Jember.

"Ada yang menarik Mas, tentang kisah percintaan Tan Malaka."

Prit menceritakan tentang apa yang ia dengar dari Poeze. Ketika itu ada sebuah foto terpampang di layar proyektor. Dari beberapa orang yang ada di foto tersebut, Poeze menunjuk pada salah seorang perempuan cantik. Ini adalah pacar Tan Malaka. Saya mewawancarainya ketika berusia 80 tahun. Dia bilang, Tan Malaka pernah mengirimkan surat cinta kepadanya. Namun surat itu tak pernah dibalas. Menurutnya, Tan Malaka adalah orang gila. Sayangnya menurut Prit, Poeze tak menyebutkan siapa namanya. Barangkali yang dimaksud adalah Syaripah Nawawi, teman sekolah Tan Malaka semasa di Kweek School di Bukittinggi. Ia putri seorang guru Bahasa Melayu dan satu-satunya guru pribumi di sekolah itu, namanya Nawawi Sutan Makmur.

Satu lagi perempuan yang disinggung oleh Poeze dalam acara tersebut, namanya Paramita Abdul Rahman. Pada 1945, saat Tan Malaka pulang lagi ke Indonesia dia tinggal di rumah seorang Menteri Luar Negeri, Subarjo Djoyohadisuryo. Dan disana ada keponakan Subarjo yang cantik. Paramita cinta pada Tan Malaka, tapi seperti kisah cintanya sebelumnya. Tak pernah ada perkawinan.

"Tan Malaka sosok yang sangat miskin, ia hidup prihatin dan hanya memiliki barang-barang yang sedikit. Tan hidup untuk revolusi."

"Apa kau juga menanyakan sesuatu pada Poeze?"

Prit menggeleng lemah. Dia bilang, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, hanya saja Prit segan. Prit hanya mengerti Tan Malaka secuil saja. Di matanya, Tan sejajar dengan Ernesto Guevara Lynch de La Serna. Dia menebak, bisa jadi Che pernah membaca pemikiran-pemikiran Tan Malaka.

"Tan Malaka itu pernah menempuh perjalanan selama empat puluh hari, dari Hindia Belanda menuju Moscow. Di sana ia berpidato, di acara Kongres Komunis Internasional ke-empat. Itu sudah 92 tahun yang lalu."

"Mas kok tahu, googling ya?"

"Haha, iya."

"Ada yang mencatat pidatonya, diterjemahkan oleh Ted Sprague pada Agustus 2009. Ia mengusung mimpi adanya kerja sama antara kekuatan komunis dan Islam dalam memerangi penjajahan dan kapitalisme, dan hal itu ia katakan di depan para tokoh komunis sejagat. Ia juga melawan thesis yang didraf oleh Lenin perihal Pan-Islamisme. Kata Lenin, Pan-Islamisme harus dilawan. Menurut Tan Malaka, bukan begitu caranya. Kerja sama adalah sebuah keharusan. Tan Malaka merasa punya program yang dipandang bagus, namun mereka tidak bisa memberikan sesuatu bernama surga."

"Mbulet Mas, salbut! Tak bikinkan secangkir kopi aja ya?"

Saya tertawa bahagia mendengar tawaran secangkir kopi, sekaligus malu pada diri sendiri. Saya terlalu lancip bicara, ngglethek googling. Ya sudah, kita ngopi saja, lalu kembali berbincang.

Tan Malaka lahir dari keluarga Islam yang taat. Ia pun menempa dirinya mempelajari Islam di surau, di sebuah desa tempat dimana ia dilahirkan, di sudut Sumatera Barat. Ketika ia berkata, "Berpikir besar kemudian bertindak," sebenarnya Tan sedang mengadopsi gaya hidup dan pola pikir Nabi Muhammad SAW, yang berjuang di tengah-tengah masyarakat, berpikir luas serta bertindak nyata, dan memandang sebuah persoalan dari berbagai sisi. Itulah kenapa, dalam penggalan pidatonya di depan para pembesar komunis di Moscow tahun 1922, ia berkata lantang.

"Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka."

Sedikit Tambahan

Ketika kita sedikit membaca, atau membaca sepenggal, namun sudah berani berkomentar, maka seringkali apresiasi yang kita berikan menjadi sangat berbeda. Tidak nyambung. Sama seperti ketika Prit berkisah tentang Batistuta, atas nama masa kecil dan kenangan pada kamarnya yang penuh poster, ada saja komentar yang menghakimi. Jika ia berjiwa besar, pastilah akan meninggalkan identitas yang jelas agar mudah bagi penulis untuk meminta maaf dan atau mengadakan diskusi berkelanjutan.

Mengutip kata-kata Tan Malaka di karyanya yang berjudul Semangat Muda, yang ia tulis di Tokyo pada bulan Januari 1926, ia berkata, "Janganlah segan belajar dan membaca!"

Janganlah segan belajar dan membaca! Pengetahuan itulah perkakasnya Kaum Hartawan menindas kamu. Dengan pengetahuan itulah kelak kamu bisa merebut hakmu dan hak Rakyat. Tuntutlah pelajaran dan asahlah otakmu dimana juga, dalam pekerjaanmu, dalam bui ataupun buangan! Janganlah kamu sangka, bahwa kamu sudah cukup pandai dan takabur mengira sudah kelebihan kepandaian buat memimpin dan menyelamatkan 55 juta manusia, yang beribu-ribu tahun terhimpit itu. Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan. Ada kalanya kelak dari kamu, Rakyat melarat itu akan menuntut segala macam pengetahuan, seperti dari satu perigi yang tak boleh kering. Bersiaplah !! | Tan Malaka.

Selain misteri dan hal-hal yang membuatnya kiri, sosok Tan Malaka penuh cinta. Ia membicarakan rakyat dan masa depan negeri ini seakan-akan sedang jatuh cinta.

Salam saya, RZ Hakim.

2 komentar:

  1. Ketika saya sempat belajar di Panti Merah, ada salah satu buku karya Tan Malaka yang belum saya tuntaskan mas

    Bukuya tebel, judulnya Madilog. Saya baca 3/4nya saja hingga bagian awal pembahasan logika.

    Satu yang saya tahu tenteng Tan Malaka, beliau adalah salah satu perintis kemerdekaan Indonesia lewat jalur yang tidak tertuliskan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adapun hal-hal yang bersifat kebangsaan, saya belajar sendiri. Tidak pernah ikut organisasi selain pencinta alam. Jadi, mungkin tidak sepandai Boll, hehe.

      Membaca Madilog itu rasanya seperti sedang mendengar nasihat pak guru Harfan dalam Laskar Pelang, hehe..

      “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

      Piye kabarmu Boll?

      Hapus

acacicu © 2014