30.3.14

Gunting Sang Patriot

30.3.14

Mereka adalah sang patriot yang namanya hampir tidak pernah disebutkan dalam sejarah perjalanan bangsa. Ya, dialah para tukang cukur. Melakoni hidup sebagai seorang pemangkas rambut tentu butuh keberanian ekstra. Mereka berani hidup bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya dan berani dilupakan.

Jadi ceritanya dua malam yang lalu saya habis cukur rambut. Nah, ngomong-ngomong tentang rambut, saya jadi ingat sosok Pak Kamit. Ia adalah tukang cukur rambut di masa kecil saya, dulu lapaknya ada di Jalan Mawar Kreongan, Jember.

Gunting Sang Patriot, Gunting Pak Kamit

Takut adalah ketika harus duduk di kursi monster di kios cukur rambut Pak Kamit, dengan seluruh badan ditutupi oleh sebuah kain berwarna hijau fuji. Suara cekrik-cekrik adalah pertanda Pak Kamit memulai aktifitasnya. Tak ada soundtrack untuk adegan jatuhnya helai demi helai rambut baik yang nyantol di kain maupun yang mendarat mulus di lantai. Namun di hati ini ada debum-debum bergemuruh, ibarat ratusan buah kelapa yang jatuh ke tanah. Lebay, kata istilah jaman sekarang.

Takut kuadrat adalah ketika Pak Kamit mengganti gunting di tangannya dengan solingen yang bentuknya seperti perpaduan antara gunting taman dengan moncong buldozzer. Ah, seandainya dulu sudah ada solingen elektrik, mungkin saya tak butuh marah-marah ke Pak Kamit disaat ia melakukan 'illegal logging' di bagian tengkuk. Itu bagian yang sangat sensitif sekali. Jangankan dikerok-kerok pakai alat cukur solingen, ditiup saja rasanya sudah wow. Itu belum selesai. Masih ada bagian terakhir yang harus dilakukan oleh Pak Kamit. Ya, membersihkan tepi-tepi rambut dengan pisau yang tajam. Sebelumnya, Pak Kamit akan mengolesi air sabun dingin di bagian yang akan dikerok pisau tajam.

Ah, Pak Kamit.. Kenapa harus ada adegan mengasah pisau di depan pelanggan?

Pak Kamit sudah hafal kebiasaan saya jika sedang marah, kecewa dengan hasil karyanya. Ia pun membiarkan saya pergi begitu saja dari kios kecilnya tanpa harus meninggalkan uang. Kelak saat agak besar, baru saya mengerti bahwa Kakek selalu bertanya pada Pak Kamit, apakah cucunya sudah bayar ongkos pangkas rambut atau belum.

Oh Pak Kamit, kenapa kau masih menempelkan contoh gambar-gambar model dengan berbagai gaya rambut, kenapa juga kau selalu bertanya pada pelangganmu ingin model apa, jika hasil akhirnya masih itu-itu saja? Cukuran gaya batok! Sungguh, gaya itu pernah membuat saya membenci cermin. Padahal Pak Kamit mengerti jika tempurung kepala saya mencong, kok ya masih tega-teganya memangkas rambut saya semi gundul di bagian belakang dan menyisakan jambul di bagian depan. Selalu begitu. Ketika itu saya sudah TK Nol Besar.

Hari berganti, saya mulai berani bermain dengan daya jelajah yang lumayan jauh dari rumah Kakek Nenek di Kreongan. Saya juga mulai berani meninggalkan Pak Kamit setiap musim potong rambut tiba. Pangkas rambut yang dikenal dengan 'Kantin' adalah sebuah pilihan yang menggiurkan. Kala itu rasanya semua orang di wilayah Jember Kota mengenal tempat cukur rambut bernama kantin. Mereka rela antri hanya untuk memangkas rambutnya di kantin. Tentu saya juga ingin merasakan hasil sentuhan orang-orang kantin.

Hasilnya? Sama saja. Rambut gaya batok!

Kini saya telah semakin bertumbuh besar. Bayang-bayang akan Pak Kamit kadang masih setia hadir, diselingi dengan nostalgia kantin. Kios Pak Kamit telah lama sekali tutup, di era akhir 1990an, ketika musik slow rock membahana di negeri ini. Kiosnya pernah digantikan seorang teman bernama Gandhos sebagai rental VCD bajakan, namun tidak lama. Setelah itu saya tidak lagi mengerti bagaimana kabar Pak Kamit. Sebenarnya ia adalah sosok lelaki tua yang ramah, yang selalu berusaha mengajak pelanggannya untuk berkomunikasi.

Ada sesi dimana saya menyukai Pak Kamit. Itu adalah ketika ia bertutur tentang Desa Kreongan tempo dulu. Ia senang bercerita tentang kisah-kisah di sekitar kios kecilnya yang terletak di Jalan Mawar -dulu Jalan Bromo- dekat sekali dengan TK Pancasila Jember dan Pabrik Es Kreongan, kini keduanya hanya tinggal cerita, berganti dengan bangunan baru. Tepat di seberang kios Pak Kamit ada toko kelontong milik keluarga Hoakiao, Narto namanya. Ketika Narto meninggal dunia, toko itu dikelola oleh anaknya. Meski demikian, toko itu sampai sekarang tetap dikenal dengan nama Toko Narto. Di balik kios Pak Kamit ada sebuah tembok yang membatasi kita untuk melihat kediaman Nda Yatuk alias Pak Hidayatullah, satu dari segelintir orang yang berhasil bertahan hidup di dalam gerbong sempit di era Agresi Militer pertama. Kelak, kejadian ini dikenal dengan nama Tragedi Gerbong Maut.

Tiba-tiba saya merindukan Pak Kamit.

Di sebuah sudut Kota Washington, ada sebuah jalan alternatif yang inspirasinya diambil dari nama seorang tukang cukur rambut Italia Amerika, Diego D' Ambrosio. Di Indonesia, kita pernah mengenal sosok tukang cukur bernama Yusuf Soebari. Ia membuka usaha pangkas rambut di Lantai IV Blok II Pasar Senen, Barber Shops International. Siapakah Yusuf Soebari? Dialah tukang cukur rambutnya Gus Dur. Di Jember, saya mengenal Pak Kamit. Ia adalah tokoh antagonis di masa kecil saya namun kelak saya menghormati jalan hidup yang ia lakoni.

Ketika kios Pak Kamit telah tutup, ada banyak tempat pangkas rambut yang saya singgahi. Kadang saya juga memangkas rambut pada seorang teman. Namun sejak saya kuliah di Sastra Jember hingga sekarang, hanya ada satu tempat yang paling sering saya hampiri jika harus memendekkan rambut. Tempatnya bernama Salon Dwi, ada di Jalan Jawa 7 Jember. Dua malam yang lalu saya ke sana, potong rambut sekaligus bernostalgia. Enaknya cukur rambut di sini, setelah dipangkas, kita masih dikeramasi kemudian dipijit. Harga sangat terjangkau, hanya sepuluh ribu rupiah. Saya menjadi pelanggan di sini sejak ongkos cukur masih tiga ribu rupiah.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa patriot adalah pencinta atau pembela tanah air. Tentu para tukang cukur tak dicatat dalam buku sejarah sebab mereka dianggap sedang tak membela tanah air. Di buku-buku sejarah yang kita pelajari sedari SD hingga di bangku kuliah, digambarkan bahwa sang patriot adalah mereka yang tampil gagah berani dalam membela tanah air hingga berdarah-darah dan segala hal yang memperlihatkan sisi hebat yang serupa itu. Para patriot-patriot tersebut, yang rambutnya pendek sekali, dimana mereka cukur rambut kalau bukan di tangan para Kapper alias tukang cukur?


Tetap nge-Rock dengan rambut pendek

Benar kata Ramadhan Muhammad ketika ia berkata, "Pahlawan adalah simbol subjek kolektif. Artinya, ia tidak bisa mewakili dirinya sendiri. Pahlawan adalah diksi yang mewakili kolektivitas kelompok atau bahkan peran dan pandangan dunia tertentu. Jadi, patriot bukan tentang satu orang, melainkan cermin perjuangan kolektif dari kepala suku hingga tukang cukur.

Mari kita nyanyikan lagu untuk para tukang cukur di seluruh nusantara. Jreeeeng!

Salam saya, RZ Hakim.

23.3.14

Menuju Tua

23.3.14

Toto tentrem kerto raharjo gemah ripah loh jinawi. Keadaan yang tenteram, kekayaan alam yang berlimpah - Dokumentasi oleh Pije, di Jambearum, 22 Maret 2014

Kamu menunjukkan selembar uang dua puluh ribuan ketika aku bertanya, "Uang kita tinggal berapa?" Lalu aku tersenyum dan bilang padamu bahwa uang sebanyak itu cukup untuk berfoya-foya. Kamu cemberut, menciptakan sebuah keadaan dimana aku harus menyediakan sedikit waktu untuk merayumu.

"Aku hanya takut suatu saat hidup kita takkan pernah dimulai. Jadi, mari tamasya sajalah."

Ampuh? Tentu saja. Pengalaman bertahun-tahun menyanyikan lagu 'jatuh bangun aku mengejarmu' membuat semua kendala tampak mudah dilewati. Menit berikutnya kita sudah ada di atas motor. Setengah dari uang yang kita miliki ludes sudah sebagai alat tukar untuk mendapatkan bahan bakar bensin. Kita berlabuh di sebuah desa bernama Jambearum, masuk Kecamatan Puger - Jember, berjarak sekitar 30 km dari rumah singgah panaongan.

Kita menuju rumah Pije, mengajaknya jalan-jalan ke sawah, mendaki gumuk dan melakukan pengamatan capung. Ketika melewati setapak sawah yang kiri kanannya ditanami padi, kau terpeleset dua kali, dengkul ke bawah basah semua. Lucunya dirimu ketika menampilkan ekspresi wajah mewek.


Sesuatu yang indah - Padi

Hai hai haiii. Perempuanku, jangan menangis. Kau harus ingat peribahasa orang Mandar. Bemmeo pissang pikkedeo pendadua; Jatuh sekali, berdiri dua kali. Berdirilah, tak perlu kau risaukan uang kita yang tinggal sepuluh ribu saja. Bukankah kita tidak salah hanya karena tak punya uang? Lihat di sana, beberapa tempat di negeri ini masih dirundung duka. Mereka mengalami hari-hari yang sulit, dimana uang bukan satu-satunya -alat tukar- yang berguna. Roda terus berputar, ada baiknya jika kita juga mempersiapkan diri pada hari-hari yang sulit.

Lalu kau tersenyum, manis sekali.

"Capung di sini banyak sekali ya Mas, tapi yang warnanya kuning tubuhnya kecil-kecil, tidak senormal ukuran aslinya."

Prit benar, khusus untuk capung bernama ilmiah Neurothemis terminata, tubuh mereka lebih kecil dibanding dengan ukuran pada umumnya. Barangkali dominasi pupuk racikan para insinyur berdampak pada tumbuh kembang mereka. Tapi kami lupa pada cerita mengerikan akan pupuk kimia. Ketika pulang, kami gembira sekali memulung kangkung segar di pinggiran setapak sawah.

Hari sudah sangat senja ketika kau dan aku kembali menyusuri jalanan beraspal. Pulang. Memasuki Kecamatan Balung, kita masih berbelok arah menuju rumah Kang Lozz Akbar. Rupanya dia sedang keluar. Sejak melakoni peran sebagai pemburu pejwan, ia tampak sibuk sekali. Kadang kita merasa kehilangan Uncle. Tapi tidak juga, sebenarnya dia selalu ada untuk kita. Hanya saja kali ini Uncle sedang mencoba meloncat lebih tinggi. Love you brother, maaf kami tak menunggumu. Kami harus segera pulang ke panaongan. Lihat, senja hampir berganti warna.

Sesampainya di rumah, seorang lelaki dengan rambut gondrong yang telah memutih, ia tersenyum ke arah kau dan aku. Lelaki hebat, aku memanggilnya Bapak. Dia adalah alasan kita untuk mencintai hidup di panaongan.

Kita baru saja sampai di rumah, baru bersih-bersih badan, menyiapkan telur ayam kampung goreng setengah matang, ternyata di rumah singgah panaongan sudah ada para generasi bangsa, sahabat-sahabat kecil kita. Nina, Akil, Lina dan Dani, mereka membawa kotak kecil warna putih yang isinya adalah puding rasa anggur.

"Selamat hari lahir ya Om, kami membuat puding sendiri sedari tadi sore. Dimakan Om, habiskan."

Ah, kalian manis sekali. Meski hari lahirku masih sehari lagi, tapi kalian sukses mengingatkanku pada sebuah catatan Story Pudding: Pada Bulan Sebelas. Terima kasih ya, puding yang kalian buat rasanya nikmat sekali. Kentara jika kalian membuatnya dengan cinta. Nikmati masa kecil kalian, sebab dewasa adalah tentang menyempurnakan mimpi-mimpi di masa kecil.

Mereka bernyanyi, berjoget tanpa musik, berpantomim, kadang sibuk bercerita, mentertawakan kejadian konyol di kelas. Mereka ramai sekali, hanya berharap kita terhibur. Tentu, tak ada alasan untuk mengebiri keceriaan di wajah-wajah penerus bangsa. Pukul setengah delapan malam, mereka pamit pulang. Aku mengantarkannya hingga ke tepi jalan.

Pukul berapa aku terlelap? Entahlah. Mungkin pukul sembilan malam. Kau bilang, tidurku nyenyak sekali, seperti orang berduit, haha. Percayalah, sampai kapanpun tak akan ada minimarket yang sanggup menjual 'tidur nyenyak' dalam kemasan, kecuali obat bius. Alhamdulillah Ya Allah. Dalam lelap, aku masih bermimpi menggandeng tanganmu, menuntunmu dalam titian.


Saling menuntun - Dokumentasi oleh Pije

Pukul satu dini hari aku terbangun. Aku di sampingmu, di atas ranjang kecil yang akan sesak jika aku, kau dan si kecil Aldin tidur bersamaan. Kita menyukai kondisi berdesak-desakan, tertawa bersama, namun sepertinya sebentar lagi akan butuh ranjang yang lebih luas.

"Selamat hari lahir ya Mas, ini sudah 23 Maret lho."

Hari lahir. Hmmm, rupanya angka di kalender telah bergeser. Syukur Alhamdulillah, masih ada waktu untuk berkarya.

Prit meracikkan kopi cap aroma, kemudian menyodorkan link blog kepadaku.

"Ini Mas, ada hadiah kecil untukmu."

Indah sekali. Bangun tidur, ada ucapan selamat disusul kemudian secangkir kopi, lalu kejutan berupa catatan blog berjudul; Untuk teman bicaraku sampai tua. Maka nikmat apa yang kau dustakan wahai RZ Hakim?

"Ohya Mas, ada kabar di media sosial jika pencarian survivor -Dimas Prayogi- di Gunung Pasang dihentikan. Survivor masih belum ditemukan. Kawan-kawan SAR Pencinta Alam Jember sudah berusaha maksimal. Sepertinya mereka juga sedang menolak pemberitaan yang bersumber dari BASARNAS Jember."

Aku mendesah lirih. Dimas masih muda, masih kelas dua SMA. Semoga dia lekas ditemukan penduduk setempat dan dalam kondisi yang baik-baik saja, Amin. Dalam hati ada secuil rasa heran, kenapa pencarian dihentikan? Dimas dinyatakan hilang sejak 16 Maret yang lalu. Semua areal sudah tersusuri namun hasilnya nihil. Proses pencarian juga sudah tujuh hari. Pantaslah jika SAR Pencinta Alam menarik diri. Namun aku yakin, mereka sedang pending, hingga menunggu kabar selanjutnya.

"Kita butuh mengerti kabar ini Prit. Bagaimana jika sekarang kita ke salah satu sekretariat pencinta alam?"

Kamu mengangguk. Setengah jam berikutnya kita sudah ada di SWAPENKA. Tidak banyak info yang didapat sebab satu-satunya yang masih terjaga hanyalah si Nendes. Mereka yang lebih lama di lapangan dan yang lebih paham kondisi masih terlelap kelelahan.

Lalu aku melangkah keluar, membuat api unggun. Kau tampak senang. Kau bilang, "Sudah lama sekali Mas Hakim nggak bikin api unggun dari ranting-ranting kayu kering." Tentu kau bahagia, kau pasti ingat masa-masa yang telah lewat, saat kita masih saling mencuri pandang. Ketika itu aku suka sekali membuat api unggun dan senang berkebun.

Di tepian api unggun, kau dan aku saling diam. Ada banyak hal yang kita pikirkan. Kau merindukan Ica, aku juga, apalagi orang-orang terdekatnya. Kini masalah semakin bertambah dengan belum diketemukannya Dimas Prayogi, siswa SMA Negeri Rambipuji Jember.

Lalu kita kembali pulang menyusuri jalanan kampus di dini hari yang ramai. Iya, sepanjang Jalan Kalimantan ramai sekali oleh pemuda yang hobi kebut-kebutan motor, apalagi di depan gerbang Double Way Universitas Jember. Mereka bahkan beberapa kali menutup jalur dan tampak bergerumbul ramai. Syukurlah ketika kita melintas, mereka berbaik hati membukakan jalan. Mereka para pemilih-pemilih muda di masa coblosan nanti. Jumlahnya banyak sekali. Nasib negeri ini juga ditentukan oleh mereka yang senang kebut-kebutan di jalan.

Kita berhenti di trotoar Rumah Sakit Dr. Soebandi, beli nasi pecel dua bungkus. Harga perbungkusnya lima ribu rupiah. Kamu beli dua, sebab uang kita memang hanya tinggal sejumlah dua bungkus nasi pecel.

Kita kembali ke rumah, kembali di atas ranjang, menunggu waktu subuh sambil menikmati nasi pecel. Untuk kali ini, tidak apa-apalah makan pecel di atas ranjang.

Mentari baru saja menampakkan sinarnya ketika kau terlelap. Tidurlah, biar aku yang membukakan jendela untuk para malaikat penebar rejeki.

Hari ini, di sampingmu aku bernyanyi. Kemudian kau terjaga, kemudian kita kembali bertamasya hati, bertebaran di muka bumi sambil merenungi ayat-ayat Tuhan yang berceceran.

Terima kasih, hari-hariku indah bersamamu. Mari menuju tua.

22.3.14

Setia Menanti si Capung Senja

22.3.14

Kami dan Ibu Rustam

Kemarin sore saya dan Prit mengajak Arum, Kelor dan Pije ke belakang rumah, bermain di kediaman Keluarga Rustam. Tentu saja si kecil Aldin ada diantara kami. Keluarga Rustam, mereka memiliki pelataran yang luas, dengan sendang yang menyejukkan hati. Di group facebook keluarga tamasya, saya menulis undangan terbuka pada kawan-kawan dengan deretan kalimat seperti di bawah ini.

"Sore ini kami sedang melakukan pengamatan capung di sendang belakang panaongan. Monggo merapat jika tertarik."


Sendang ini berhasil mengundang banyak sekali capung

Mempelajari capung itu mudah. Hanya dengan modal rajin googling dengan kata kunci capung maka pandailah kita. Namun saya memilih cara langsung untuk mempelajarinya. Ini bukan hobi baru, saya hanya sedang melanjutkan kesenangan masa kecil. Bedanya, kali ini saya belajar lebih detail, sejak akhir bulan September tahun lalu.

Kepada Kelor dan Arum, saya bercerita tentang capung senja -Zyxomma Obtusum- yang sedang kami nantikan kehadirannya di tepi sendang.

"Capung yang kita tunggu-tunggu ini adalah capung yang unik, hanya ditemui di sore hari antara pukul empat hingga pukul enam, makanya dikenal dengan nama capung senja. Beberapa orang juga menyebutnya dengan nama Sambar Putih. Ia endemik nusantara, dengan nama ilmiah Zyxomma obtusum (Albarda 1881). Potret dirinya juga pernah memenangkan kontes foto dalam kongres capung sedunia di Jepang tahun 2012."

Perubahan habitat alam membuat capung senja menjadi sangat langka.

Sayang sekali, hingga mentari berwarna jingga, capung yang berwarna putih kapur tak kunjung datang. Kenapa ya? Apakah ia tahu jika kami menunggunya? Padahal sehari sebelumnya ada tiga pasang capung senja di sini. Namun begitu kami masih bisa mengamati capung jenis lain di pelataran rumah Keluarga Rustam. Pije nampak kesulitan ketika memotret capung merah muda yang mirip sekali dengan si senja Zyxomma Obtusum. Hingga saat ini saya masih belum bisa menggolongkan capung jenis apakah dia. Saya menduga, ia adalah si senja Zyxomma Obtusum yang masih muda, baru bermetamorfosis dari larva ke capung.


Si merah muda yang gesit dan seksi

Sekilas ia mirip sekali dengan capung Brachymesia furcata atau Red Dragonfly. Tapi sepasang sayapnya menegaskan bahwa mereka berbeda. Lagipula, capung ini hanya dijumpai di sore hari, sedangkan Red Dragonfly aktif di siang hari.

Kami memang sedang melakukan pengamatan capung di 21 Maret, tapi kami tidak sedang memperingati Hari Hutan Sedunia. Keluarga Pencinta Alam di Jember sedang berduka. Ini berkaitan dengan Dimas Prayogi, siswa kelas dua SMA Negeri Rambipuji yang dinyatakan hilang di Gunung Pasang -Panti- sejak 16 Maret 2014 dan hingga kini belum diketahui keberadaannya. Tentu dari hati terdalam, kami mengibarkan bendera setengah tiang. Tidak tepat jika saya mengajak kawan-kawan, meskipun hanya satu atau dua orang, untuk merayakan Hari Hutan Sedunia. Lagipula, itu adalah issue yang baru kemarin diusung oleh Majelis Umum PBB.

Meskipun kita butuh momentum, bagi saya mencintai hutan adalah setiap hari.

Ketika semburat jingga mulai menyapa ujung pandangan, kami masih di tepian sendang. Aldin tampak senang sebab ia bebas memandangi ayam-ayam yang berkeliaran, mentok, ikan-ikan yang menepi, juga si meong yang selalu membuntutinya. Kadang ia menangis sebab terlalu dekat dengan ayam jago.

Arum sedang semangat-semangatnya mengajak saya diskusi tentang Jember Tempo Dulu, baik dari sisi sejarah maupun cerita rakyat. Saya senang melihat energinya yang meluap-luap ketika bicara tentang Jember jadul.


Diskusi kecil tentang Jember Tempo Dulu

Percayalah, foto di atas bukan murni rekayasa. Saya tidak sedang eksyen, Arum juga. Kecuali yang tengah, si Kelor. Dia seratus persen sedang eksyen di depan kamera Pije. Kami mendengar ketika Kelor berkata, "Ayo kita difoto dong."

"Jadi begini Arum, Jember tempo dulu adalah sebuah wilayah yang bla bla bla dan seterusnya."

Saya janjikan pada Arum untuk menuliskan tema itu dengan bahasa yang ringan di blog acacicu ini. Dia tampak senang. Arum memiliki proyek istimewa. Dia ingin membuat sebuah pentas teatrikal yang melibatkan teman-temannya di UKM Kesenian Universitas Jember. Tapi Arum tak hanya sekedar ingin pentas, ia bermaksud melakukannya sebaik mungkin, dengan melakukan riset mendalam agar hasilnya memikat. Lho, kok kayak teatrikal sastrawi ya? Hehe..

Senang melakukan diskusi kecil dengan mereka, tapi ada sedihnya juga. Tiba-tiba, ketika bicara tentang sejarah, saya jadi teringat Annisa Rahmawati a.k.a Ica. Tahun lalu Ica pernah berkata, jika lulus dari SMK Negeri 5 Jember, ia ingin melanjutkan pendidikan di kampus, ambil jurusan Sastra Ilmu Sejarah.

Ica, semoga kau baik-baik saja di Melaka. Segeralah berkirim kabar, Ibu merindukanmu, kami juga.


Lalu kami pulang

Sore yang layak diberi label indah, bahkan meskipun si putih Zyxomma obtusum tak pernah datang mengecup air sendang. Tak apalah, kami masih bisa berdiskusi, mengamati capung yang lain, menemani Aldin, dan menatap semburat jingga di kaki Gunung Argopuro. Lalu kami pamit undur diri. Terima kasih keluarga Rustam. Tentu, di sore-sore yang lain saya masih akan kembali ke tepian sendang, masih setia menanti datangnya capung senja.

Kemarin hari hutan sedunia, sekarang hari air, besok sudah 23 Maret, waktunya bagi saya untuk merayakan hari lahir. Enaknya besok ngapain ya? Apakah potong rambut?

Salam saya, RZ Hakim

21.3.14

Kamu Lagi Ngapain Sekarang Ca?

21.3.14
Kamu lagi ngapain sekarang Ca? Tiga hari yang lalu, ketika Ibumu ke panaongan, tampak sekali jika ia merindukan seorang Annisa Rahmawati, putri sulungnya. Iya benar, itu adalah dirimu. Beliau shock ketika mendapat kabar dari pihak Kilang Koa Denko Melaka, kau sudah beberapa hari tidak masuk kerja.

Di catatan sebelumnya berjudul Menanti Kabar dari Ica di Melaka, aku menuliskan seperti ini;

"Sejak 5 Maret 2014, dikabarkan Ica tidak lagi masuk kerja, tidak pulang ke penginapan, kawan-kawan dekatnya tidak tahu keberadaan Ica, nomor ponsel tak bisa dihubungi, tentu kami yang di Jember khawatir. Semoga Ica baik-baik saja."

Ibumu bilang, kabar terakhir yang disampaikan Ica adalah bahwa dia butuh uang. Tentang update statusmu di facebook tanggal 13 Maret 2014, aku tuliskan di catatan blog berjudul; Apa Kabar Ca?

Setelah kau update status, kemudian hening, tidak ada kabar lagi darimu. Kabar gembira datang lagi melalui Ibumu. Itu terjadi pada hari senin, 17 Maret 2014. Saat itu kau berkirim inbox ke facebook Ibumu, isinya; "Ibu mau transfer uang berapa ke Ica?"

Kata Ibumu, kau kemudian menulis pesan bahwa tak perlu dijemput, nanti akan balik sendiri.

"Tapi sak umur-umur Ica iki ora tau boso ki kok boso yo Mas? Bilangnya hapenya ilang."

Tentu Ibumu khawatir. Ia juga sempat berpikir, bagaimana jika itu bukan Ica? Namun kemarin ia tetap mengusahakan untuk transfer, mengikuti firasatnya sebagai seorang Ibu. Katanya, selain hapemu hilang -tidak bisa dihubungi sejak 10 Maret 2014- kau juga punya tanggungan hutang ke temanmu sebesar 1000 ringgit.

"Ica memang butuh uang Mas. Saya sudah coba transfer sejak 5 Maret 2014."

Selama percakapan yang sepenggal-sepenggal itu, kau sama sekali tidak mau menyebutkan lokasi keberadaanmu. Jika kami harus menjemput, kami harus butuh mengerti hendak mendarat dimana. Ibumu tanya ke pihak PJTKI tentang alamatmu, tapi tak pernah diberi alamat yang detail.

Pada 15 Maret 2014, orang tuamu meluncur dari Jember ke Sidoarjo. Tujuan mereka adalah PT Orientasi Mahkota, PJTKI yang memberangkatkanmu ke Melaka pada awal September 2013 yang lalu. Alamatnya ada di Jl. Antartika no. 2A Buduran – Sidoarjo, 031-8958708. Ia adalah PJTKI yang melakukan kerjasama dengan pihak sekolahmu dalam urusan pemberangkatan tenaga kerja non pembantu rumah tangga. Dari sini hanya ada sedikit peluang untuk mengetahui keberadaanmu. Mereka selesai pada kalimat, "Kami akan mengusahakan bla bla bla."

Ibu Dyan selaku pimpinan PT Orientasi Mahkota, kabarnya ia masih sibuk oleh pencalonannya sebagai caleg.

Sebenarnya PT Orientasi Mahkota membuka cabang di Jember, di bawah tanggung jawab Ibu Ana. Ia bisa dihubungi di 087851260936 atau di 085236157393. Ibumu telah menghubunginya, untuk menanyakan alamat hostelmu.

"Aneh Mas, saya tidak diberi alamat hostel. Kenapa ya?"

Aku lihat di foto-foto di jejaring sosialmu, kau terlihat akrab dengan temanmu sesama buruh migran yang bernama Noviyanti Resmita. Kepadanya aku berkirim pesan via inbox. Dia bilang tidak tahu keberadaanmu, begitu juga dengan teman-teman yang lain. Mereka tidak tahu. Jawabannya pendek-pendek, terkesan jika kau tidak disukai? Ah, semoga tidak ya Ca.

"Kita aja yang satu rumah -hostel- kurang tau y̶̲̥̅̊ăă mas. Ica sering pulang malem, keluar malem, semenjak kenal sama orang Melayu."

Tadinya kabar kurang sedap itu aku simpan rapat-rapat dari Ibumu. Aku jadi ingat inbox dari Kurnia Shandy tepat seminggu yang lalu, 14 Maret 2014. Kata Sandhy, "Mas, tadi aku sempat kirim pesan di facebook Farah, tanya kabarnya Ica. Terus dia jawab gini. 'Iya dia hilang. Sekarang dia jadi buronan police di sini. Soalnya dia nggak ada surat-surat. Paspor aja nggak ada. Kamu tau dari siapa?'"

Farah, teman seangkatan Ica namun beda sekolah, ia juga menjadi buruh migran di negeri jiran. Aku mengenalnya ketika ia masih aktif di pencinta alam EXPA - SMA Negeri 1 Kalisat. Tentu yang dikatakan Farah mudah untuk disanggah, sebab Ica masuk dengan jalur legal. Di kilang tempat Ica bekerja, paspor tidak ditahan melainkan dipegang oleh masing-masing pemilik. Entah Farah mendapat informasi dari siapa.

Tiba-tiba saja aku teringat dasar-dasar SAR, tentang berusaha untuk tidak panik. Jika menuruti semua informasi yang masuk, bisa dipastikan kami yang ada di Jember semakin kalang kabut dan tidak siap mental untuk mencari jalan keluar, apalagi jika harus memikirkan skenario terburuk.

Kemarin lusa aku memberitahu Ibumu tentang apa yang disampaikan Noviyanti di inbox, menyangkut perkenalanmu dengan orang Melayu yang entah siapa dia. Ibumu bilang begini;

"Untuk keluar masuk hostel itu ketat sekali Mas. Misalnya jika Ica hendak pergi ke sebuah pasar yang jaraknya dekat sekali dengan hostel. Ia akan pamit di gerbang yang dijaga oleh petugas. 'Makcik, ijin keluar.' Lalu paspor diberikan pada penjaga, baru bisa diambil ketika pulang. Harusnya pihak hostel mengerti dengan siapa Ica keluar terakhir kalinya."

Ca, kami yang di Jember bertanya-tanya, siapa orang Melayu itu? Apakah dia baik? Kenapa pihak kilang dan hostel tidak mau bicara ketika kami menanyakan itu? Pada 17 Maret 2014 Ibumu juga menelepon Pak Imam di nomor +60192703387. Ia seorang PIC Head Office Concepts Groups perwakilan Indonesia. Hasilnya?

"Belum ada kabar Mas. Hari Senin aku telepon Pak Imam yang di Melaka. Dia tetap ngotot mau lapor polis, dan kesannya mereka nuduh aku tau keberadaan Ica."

Oh iya Ca, tentang permit.

Tentu kami sudah mempelajari bagaimana sengsaranya dirimu jika ijin tinggal dicabut. Kalau permit sudah dilepas, tidak ada hubungan apa-apa lagi antara pihak kilang dengan pihak PJTKI. Itu artinya kau akan menghadapi sesuatu yang berat. Harusnya permit dicabut pada hari Minggu kemarin, 16 Maret 2014. Kami menjadi heran ketika sehari berikutnya Pak Imam bilang begitu. Artinya permit masih tarik ulur. Ini bisa jadi kabar baik. Tapi ada sepenggal tanya yang juga menyertainya. Kenapa? Ada apa?

Kemarin, 20 Maret 2014, Mas Bebeh ke sekolahanmu. Ia menemui Ibu Ruhama selaku kesiswaan, yang bersentuhan dengan perihal ini. Kata Bu Ruhama, kau baik-baik saja. Tapi setelah Mas Bebeh menceritakan kronologisnya, baru ia berinisiatif untuk menelepon Ibu Ana, pihak PJTKI cabang Jember. Dari Ibu Ana, Bu Ruhama mendapat kabar yang berbeda. Katanya, Ica baik-baik saja, ia bisa dihubungi.

"Lho Bu, saya baru kemarin ngobrol sama Ibunya Ica. Tidak begitu ceritanya. Malah Ibu Ana bilang sebaliknya pada pihak keluarga, bahwa belum ada kabar tentang Ica."

Bu Ruhama terkejut. Perjumpaan itu ditutup dengan janji beliau untuk membicarakan masalah ini dengan Bapak Saleh, Wakasek SMK Negeri 5 Jember, sekaligus menanyakan alamat hostel Ica.

Jika sampai besok tidak ada kabar, kami yang ada di Jember akan bersegera mengirimkan surat pada BNP2TKI tembusan ke Departemen Perlindungan WNI Kemenlu, juga beberapa cara yang lain.

***

Kamu lagi ngapain sekarang Ca? Hari ini Mas Bebeh sibuk sekali, dia tidak sempat kembali lagi ke sekolahmu. Belum ada kabar terbaru yang bisa aku dengar dan sampaikan di catatan ini.

Ohya hampir lupa. Ca, kau kenal dengan anak pencinta alam Gapena yang bernama Dimas Prayogi? Dia dinyatakan hilang sejak 16 Maret 2014 di Gunung Pasang, Jember. Hingga kini belum ada kabar. Mas Kernet, Mas Dodon dan lain-lain, mereka ada di Posko SAR yang ditempatkan di rumah Pak War. Semoga selekasnya ada kabar baik ya Ca, seperti harapan kami padamu.

Sudah ya Ca, aku mau ngopi dulu. Nanti kita sambung lagi. Dadaaaah, twing!

15.3.14

Apa Kabar Ca?

15.3.14
Seringkali, kehilangan yang paling menakutkan adalah ketika kita tak lagi mendengar kabar dari orang terdekat.

Di luar sana, orang-orang masih sibuk berbincang tentang hilangnya pesawat Malaysia Airlines. Jika dilihat dari sudut pandang media, kecelakaan udara dengan kemungkinan korban 239 penumpang jelas merupakan berita besar. Itu semua berbanding lurus dengan kegelisahan keluarga para penumpang yang rindu mendengar kabar dari orang tersayang.

Maret tahun ini dipadati oleh berita-berita yang datang dengan cepat, saling menggeser dan saling mencuri perhatian publik. Di antara lalu lalangnya berita, kami di Jember juga memiliki sebuah kabar. Dibanding dengan pemberitaan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, tentu berita yang satu ini jauh lebih kecil. Ibarat segumpal Gunung Sinabung dan sebutir debu.

Iya benar, ini tentang seorang gadis 18 tahun bernama Annisa Rahmawati a.k.a Ica. Dia baru lulus tahun lalu dari SMK Negeri 5 Jember, dulu bernama Sekolah Menengah Teknologi Pertanian Jember. Setamat sekolah, Ica bekerja di Kilang Koa Denko, Melaka. Ia bisa bekerja di sana karena pihak SMK Negeri 5 Jember memiliki kerja sama dengan perusahaan penyalur tenaga kerja. Pada 4 September 2013, Ica berangkat ke Melaka untuk bekerja di Kilang Koa Denko, Melaka, melalui PT Orientasi Mahkota Buduran Sidoarjo sebagai pihak penyalur tenaga kerja.

Ada apa dengan Ica?

Sejak 5 Maret 2014, dikabarkan Ica tidak lagi masuk kerja, tidak pulang ke penginapan, kawan-kawan dekatnya tidak tahu keberadaan Ica, nomor ponsel tak bisa dihubungi, tentu kami yang di Jember khawatir.

Saya menuliskan perihal itu di artikel berjudul; Menanti Kabar dari Ica di Melaka. Tadinya saya bermaksud menulis dengan gaya bahasa yang lugas seperti, "Telah hilang adik kami di Melaka, warna kulit sawo matang, dan seterusnya," namun saya mengurungkan niat itu. Ada banyak pertimbangan. Selain saya tidak memahami benar kondisi di lapangan selama Ica bekerja, takut hal itu justru memberi efek buruk pada psikologis Ica, saya juga teringat kejadian di pertengahan Februari yang lalu ketika masyarakat dunia maya ramai-ramai share tentang berita orang hilang bernama Alemantis alias Titis. Saya juga salah satu yang turut membagi informasi itu melalui jejaring sosial facebook. Tak lama kemudian, portal berita detik dotkom mengabarkan bahwa Alematis ditemukan di Hotel Harris Kelapa Gading. Setelah itu senyap, tak ada lagi berita tentang Alemantis. Masyarakat dunia maya yang sudah terlanjur ingin tahu kabar selanjutnya, terpaksa menelan ludah. Lalu, muncul berbagai opini.

Hal-hal di atas membuat saya berpikir berulang-ulang ketika harus menulis tentang Ica meskipun di blog personal. Berita yang saya dapatkan dari keluarga tentang Ica, baru saya tuliskan 22 jam kemudian, itu pun dengan menggunakan gaya bahasa blog. Saya berpikir, bagaimana jika ternyata Ica baik-baik saja? Tapi waktu terus berjalan, harus ada yang mau mengambil resiko. Kebetulan saya ada kesempatan koneksi internet, maka saya mengambilnya.

"Mas Hakim, mungkin keluarga tidak memikirkan soal PHK. Tapi Mas, kalau sampai di-PHK, itu berarti harus siap jadi pekerja illegal."

Hari ini kata-kata dari Makcik Iffen kembali terngiang di kepala saya. Tiga hari yang lalu saya sedikit membantahnya. Maafkan, sepertinya saya terlalu tergesa membalas apresiasi Makcik.

Tik tok tik tok.. Detik terus merayap, tak ada kabar langsung dari Ica. Pihak terkait sudah berbaik hati berusaha mengulur waktu penarikan permit, ijin tinggal Ica di negeri serumpun. Jika sampai besok tak ada kabar dari Ica, tentu apa yang dikatakan Makcik akan terjadi. Dianggap illegal dan berhadapan dengan polis setempat.

Kabar Terkini Tentang Ica

Dua hari yang lalu, ada terlihat pergerakan Ica di dunia maya. Mbak Endar, Ibunya Ica, ia berkirim kabar kepada saya via inbox. "Pesanku dah dilihat sama Ica tadi jam 00.20 Mas..Tapi nggak dibalas."

Tentu kami yang di Jember senang. Ini kabar baik, batin saya. Malam harinya, masih di hari yang sama, jejaring sosial facebook milik Ica aktif, ia update status. Harusnya kami senang, tidak justru semakin khawatir. Ini yang dituliskan Ica di facebook, 13 Maret pukul 11:18 waktu Melaka.

Goodbye :') i love u
Now i want sleep

Setelah itu, tak ada lagi kabar dari Ica. Kabar-kabar lain berdatangan, tetapi bukan dari Ica.

Apa benar Ica bermasalah dengan kelengkapan surat-surat? Yang kami tahu, Ica masuk Melaka dengan jalur legal. Namun saya kembali teringat kata-kata Makcik Iffen, "Kan anak kilang kebanyakan cuma dikasih fotocopy."

Sungguh tidak mudah melakoni peran untuk berusaha tidak panik. Syukurlah saya bisa. Semisal saya dan istri tidak mengenal Ica, tentu ceritanya akan berbeda. Pasti akan hambar, biasa-biasa saja, dan kami tak mungkin memiliki kesempatan memetik pelajaran berharga seperti sekarang ini. Rasa ini membuat empati kami terasah pada keluarga korban hilangnya pesawat Malaysia Airlines, bencana asap di Riau, bencana Sinabung, Kelud, Marapi, bencana banjir, dan semuanya.

Benar, kehilangan yang paling menakutkan adalah ketika kita tak lagi mendengar kabar dari orang terdekat.

Sedikit Tambahan

Sedianya tulisan ini akan saya publish kemarin, 14 Maret 2014. Namun saya merasa ada baiknya menunda, memberi penghargaan pada perjuangan saudara-saudara kita di Riau dan sekitarnya, mereka mengusung gagasan melawan ASAP, memanfaatkan media dunia maya. Di hari yang sama, ketika issue melawan ASAP tergeser oleh berita Jokowi nyapres, saya tetap menahan diri untuk tidak mempublikasikan tulisan ini.

Hari ini, bersamaan dengan Anniversary SWAPENKA yang ke-32 tahun, tulisan ini saya publish. Hari jadi SWAPENKA hanya berjarak lima hari dengan SISPERPENA, organisasi pencinta alam tempat dulu Ica berproses. Semoga ia ingat bahwa menjadi pencinta alam adalah tentang mempersiapkan diri pada situasi yang sulit, menghargai kehidupan, dan tak lupa berkirim kabar.

Apa kabar Ca?

Mendung diciptakan bukan untuk membuat langit gelap, ia hadir untuk memberi kabar gembira akan sejuknya air hujan yang akan turun - Ratt Maniese

Salam saya, RZ Hakim

13.3.14

Menanti Kabar dari Ica di Melaka

13.3.14
Artikel ini bertutur tentang Ica. Sudah setengah tahun ini ia bekerja di perusahaan kilang di Melaka. Sejak 5 Maret 2014, dikabarkan Ica tidak lagi masuk kerja, tidak pulang ke penginapan, kawan-kawan dekatnya tidak tahu keberadaan Ica, nomor ponsel tak bisa dihubungi, tentu kami yang di Jember khawatir. Semoga Ica baik-baik saja.

Ia perempuan yang masih sangat muda, kelahiran 19 September 1995. Namanya Annisa Rahmawati, dengan panggilan Ica. Karena bertubuh mungil, kadang saya memanggilnya Unyil. Teman-temannya di dunia pencinta alam SISPERPENA, biasa memanggil Ica dengan nama Genyok. Ia baru lulus tahun lalu dari SMK Negeri 1 Sukorambi - Jember.

"Terus kamu pingin melanjutkan kemana Ca?"

Ica tersenyum ketika saya menanyakan itu. Lalu ia bercerita tentang sebuah kontrak kerja antara pihak sekolahnya dengan beberapa perusahaan yang butuh tenaga kerja. Perusahaan yang Ica pilih adalah PT Orientasi Mahkota Buduran Sidoarjo. Ica senang sekali begitu mendengar kabar ia lulus tes dan berhak menjadi karyawan di sebuah perusahaan kilang di Melaka, Malaysia. Kontrak kerja dua tahun. Pada 4 September 2013 yang lalu, dia dan beberapa rekannya yang sama-sama lulus tes, berangkat ke Melaka. Urusan paspor dan surat-surat lainnya menjadi tanggung jawab pihak SMK Negeri 1 Sukorambi.

Selama di sana, Ica menempati sebuah hostel atau kontrakan di daerah Taman Bachang Melaka.


Ica yang berjilbab, bersama Chindy Oktavia di Melaka

Benar juga kalimat sakti, berjauhan menciptakan rindu. Ketika rindu menyapa, kami yang di Jember hanya bisa menanti status-statusnya di media sosial. Kami mengingat banyak hal tentang Ica; tentang kecerewetannya, keras kepala, sedikit nekad, usil, cerawak, dan keluguannya. Ica senang turut berdendang ketika Tamasya Band tampil di acara-acara kecil seperti Dies Natalis Pencinta Alam. Suatu hari di bulan Maret 2013, kami mengajaknya untuk recording di lagu berjudul; Sampai Rimba Merdeka. Ica senang menjadi backing vokal di lagu itu. Kini, lagu 'Sampai Rimba Merdeka' menjadi pengobat rindu bagi kami di panaongan.

Kemarin, ketika sedang menikmati lagu tamasya yang berjudul Sampai Rimba Merdeka, ada pesan masuk di ponsel saya. Ternyata dari Dodon, Kakak angkatan si Ica di Pencinta Alam Sisperpena. Kabar yang mengejutkan, sebab Dodon bercerita tentang Ica.

"Iso njaluk tulung? Tolong hubungi Ica via facebook. Sejak lima hari yang lalu ia tidak ada di tempat kerja, juga di mess. Ponselnya tidak aktif, teman-teman kerjanya tidak ada yang tahu."

Saya terdiam. Lemas. Sejak tiga hari yang lalu saya memang sedang ada di kondisi kesehatan yang buruk. Kadang saya memang online, membuka email dan inbox, membaca beberapa berita, kemudian kembali terkapar di atas ranjang. Saya tidak banyak menulis meski sudah mulai ada satu dua permintaan tulisan. Memang sudah waktunya menulis, beras di gentong juga sudah habis. Ah, sejak kapan saya mengkhawatirkan beras? Maaf, saya mengigau. Tapi saya benar-benar lunglai. Mulut rasanya sebah, demam, nyeri di persendian. Semua itu semakin lengkap ketika mendengar kabar tentang Ica. Seperti ada kunang-kunang yang terbang berputar-putar tepat di atas kepala saya.

Ada apa lagi nduk?

Saya mencoba mengingat kembali kabar terakhir dari Ica. Kami sempat bercanda di inbox. Kata Poetri, sekarang Ica punya kawan dekat, lelaki India. Ketika saya menanyakan itu di inbox, Ica membantahnya. Syukurlah, semoga itu memang tidak benar. Ica masih sangat muda, 18 tahun. Semuda itu bekerja di kilang, jauh dari orang tua, tentu baik bagi Ica untuk pandai-pandai memilih teman bergaul.

Satu jam yang lalu saya coba menghubungi Mbak Endar, Ibunya Ica. Berharap ia sudah menerima kabar dari putri sulungnya. Nihil, belum ada kabar. Teman-teman Ica satu mess juga tidak ada yang tahu keberadaan Ica.

Sayup-sayup, saya kembali teringat kata-kata Dodon via sms, kemarin sore.

"Ica kuwi kan kontrak kerja tho. Dadi misale sampek sesok Ica gak onok ngantor, de'e di-PHK dari Perusahaan. Lha kan urusane iso dowo."

Sesuai peraturan yang berlaku di Melaka, Ica akan terjerat khasus lari dari majikan. Ini yang membuat kepala saya semakin berat, berputar-putar seperti hendak melawan arah berputarnya tata surya.

Ica, kau tahu apa status facebook Mbak Kelor hari ini? Bacalah; Wahai anak gadis yang sedang merantau, berilah kabar agar kami tak risau.

Tulisan selanjutnya: Apa Kabar Ca?

Salam saya, RZ Hakim.
acacicu © 2014