21.3.14

Kamu Lagi Ngapain Sekarang Ca?

21.3.14
Kamu lagi ngapain sekarang Ca? Tiga hari yang lalu, ketika Ibumu ke panaongan, tampak sekali jika ia merindukan seorang Annisa Rahmawati, putri sulungnya. Iya benar, itu adalah dirimu. Beliau shock ketika mendapat kabar dari pihak Kilang Koa Denko Melaka, kau sudah beberapa hari tidak masuk kerja.

Di catatan sebelumnya berjudul Menanti Kabar dari Ica di Melaka, aku menuliskan seperti ini;

"Sejak 5 Maret 2014, dikabarkan Ica tidak lagi masuk kerja, tidak pulang ke penginapan, kawan-kawan dekatnya tidak tahu keberadaan Ica, nomor ponsel tak bisa dihubungi, tentu kami yang di Jember khawatir. Semoga Ica baik-baik saja."

Ibumu bilang, kabar terakhir yang disampaikan Ica adalah bahwa dia butuh uang. Tentang update statusmu di facebook tanggal 13 Maret 2014, aku tuliskan di catatan blog berjudul; Apa Kabar Ca?

Setelah kau update status, kemudian hening, tidak ada kabar lagi darimu. Kabar gembira datang lagi melalui Ibumu. Itu terjadi pada hari senin, 17 Maret 2014. Saat itu kau berkirim inbox ke facebook Ibumu, isinya; "Ibu mau transfer uang berapa ke Ica?"

Kata Ibumu, kau kemudian menulis pesan bahwa tak perlu dijemput, nanti akan balik sendiri.

"Tapi sak umur-umur Ica iki ora tau boso ki kok boso yo Mas? Bilangnya hapenya ilang."

Tentu Ibumu khawatir. Ia juga sempat berpikir, bagaimana jika itu bukan Ica? Namun kemarin ia tetap mengusahakan untuk transfer, mengikuti firasatnya sebagai seorang Ibu. Katanya, selain hapemu hilang -tidak bisa dihubungi sejak 10 Maret 2014- kau juga punya tanggungan hutang ke temanmu sebesar 1000 ringgit.

"Ica memang butuh uang Mas. Saya sudah coba transfer sejak 5 Maret 2014."

Selama percakapan yang sepenggal-sepenggal itu, kau sama sekali tidak mau menyebutkan lokasi keberadaanmu. Jika kami harus menjemput, kami harus butuh mengerti hendak mendarat dimana. Ibumu tanya ke pihak PJTKI tentang alamatmu, tapi tak pernah diberi alamat yang detail.

Pada 15 Maret 2014, orang tuamu meluncur dari Jember ke Sidoarjo. Tujuan mereka adalah PT Orientasi Mahkota, PJTKI yang memberangkatkanmu ke Melaka pada awal September 2013 yang lalu. Alamatnya ada di Jl. Antartika no. 2A Buduran – Sidoarjo, 031-8958708. Ia adalah PJTKI yang melakukan kerjasama dengan pihak sekolahmu dalam urusan pemberangkatan tenaga kerja non pembantu rumah tangga. Dari sini hanya ada sedikit peluang untuk mengetahui keberadaanmu. Mereka selesai pada kalimat, "Kami akan mengusahakan bla bla bla."

Ibu Dyan selaku pimpinan PT Orientasi Mahkota, kabarnya ia masih sibuk oleh pencalonannya sebagai caleg.

Sebenarnya PT Orientasi Mahkota membuka cabang di Jember, di bawah tanggung jawab Ibu Ana. Ia bisa dihubungi di 087851260936 atau di 085236157393. Ibumu telah menghubunginya, untuk menanyakan alamat hostelmu.

"Aneh Mas, saya tidak diberi alamat hostel. Kenapa ya?"

Aku lihat di foto-foto di jejaring sosialmu, kau terlihat akrab dengan temanmu sesama buruh migran yang bernama Noviyanti Resmita. Kepadanya aku berkirim pesan via inbox. Dia bilang tidak tahu keberadaanmu, begitu juga dengan teman-teman yang lain. Mereka tidak tahu. Jawabannya pendek-pendek, terkesan jika kau tidak disukai? Ah, semoga tidak ya Ca.

"Kita aja yang satu rumah -hostel- kurang tau y̶̲̥̅̊ăă mas. Ica sering pulang malem, keluar malem, semenjak kenal sama orang Melayu."

Tadinya kabar kurang sedap itu aku simpan rapat-rapat dari Ibumu. Aku jadi ingat inbox dari Kurnia Shandy tepat seminggu yang lalu, 14 Maret 2014. Kata Sandhy, "Mas, tadi aku sempat kirim pesan di facebook Farah, tanya kabarnya Ica. Terus dia jawab gini. 'Iya dia hilang. Sekarang dia jadi buronan police di sini. Soalnya dia nggak ada surat-surat. Paspor aja nggak ada. Kamu tau dari siapa?'"

Farah, teman seangkatan Ica namun beda sekolah, ia juga menjadi buruh migran di negeri jiran. Aku mengenalnya ketika ia masih aktif di pencinta alam EXPA - SMA Negeri 1 Kalisat. Tentu yang dikatakan Farah mudah untuk disanggah, sebab Ica masuk dengan jalur legal. Di kilang tempat Ica bekerja, paspor tidak ditahan melainkan dipegang oleh masing-masing pemilik. Entah Farah mendapat informasi dari siapa.

Tiba-tiba saja aku teringat dasar-dasar SAR, tentang berusaha untuk tidak panik. Jika menuruti semua informasi yang masuk, bisa dipastikan kami yang ada di Jember semakin kalang kabut dan tidak siap mental untuk mencari jalan keluar, apalagi jika harus memikirkan skenario terburuk.

Kemarin lusa aku memberitahu Ibumu tentang apa yang disampaikan Noviyanti di inbox, menyangkut perkenalanmu dengan orang Melayu yang entah siapa dia. Ibumu bilang begini;

"Untuk keluar masuk hostel itu ketat sekali Mas. Misalnya jika Ica hendak pergi ke sebuah pasar yang jaraknya dekat sekali dengan hostel. Ia akan pamit di gerbang yang dijaga oleh petugas. 'Makcik, ijin keluar.' Lalu paspor diberikan pada penjaga, baru bisa diambil ketika pulang. Harusnya pihak hostel mengerti dengan siapa Ica keluar terakhir kalinya."

Ca, kami yang di Jember bertanya-tanya, siapa orang Melayu itu? Apakah dia baik? Kenapa pihak kilang dan hostel tidak mau bicara ketika kami menanyakan itu? Pada 17 Maret 2014 Ibumu juga menelepon Pak Imam di nomor +60192703387. Ia seorang PIC Head Office Concepts Groups perwakilan Indonesia. Hasilnya?

"Belum ada kabar Mas. Hari Senin aku telepon Pak Imam yang di Melaka. Dia tetap ngotot mau lapor polis, dan kesannya mereka nuduh aku tau keberadaan Ica."

Oh iya Ca, tentang permit.

Tentu kami sudah mempelajari bagaimana sengsaranya dirimu jika ijin tinggal dicabut. Kalau permit sudah dilepas, tidak ada hubungan apa-apa lagi antara pihak kilang dengan pihak PJTKI. Itu artinya kau akan menghadapi sesuatu yang berat. Harusnya permit dicabut pada hari Minggu kemarin, 16 Maret 2014. Kami menjadi heran ketika sehari berikutnya Pak Imam bilang begitu. Artinya permit masih tarik ulur. Ini bisa jadi kabar baik. Tapi ada sepenggal tanya yang juga menyertainya. Kenapa? Ada apa?

Kemarin, 20 Maret 2014, Mas Bebeh ke sekolahanmu. Ia menemui Ibu Ruhama selaku kesiswaan, yang bersentuhan dengan perihal ini. Kata Bu Ruhama, kau baik-baik saja. Tapi setelah Mas Bebeh menceritakan kronologisnya, baru ia berinisiatif untuk menelepon Ibu Ana, pihak PJTKI cabang Jember. Dari Ibu Ana, Bu Ruhama mendapat kabar yang berbeda. Katanya, Ica baik-baik saja, ia bisa dihubungi.

"Lho Bu, saya baru kemarin ngobrol sama Ibunya Ica. Tidak begitu ceritanya. Malah Ibu Ana bilang sebaliknya pada pihak keluarga, bahwa belum ada kabar tentang Ica."

Bu Ruhama terkejut. Perjumpaan itu ditutup dengan janji beliau untuk membicarakan masalah ini dengan Bapak Saleh, Wakasek SMK Negeri 5 Jember, sekaligus menanyakan alamat hostel Ica.

Jika sampai besok tidak ada kabar, kami yang ada di Jember akan bersegera mengirimkan surat pada BNP2TKI tembusan ke Departemen Perlindungan WNI Kemenlu, juga beberapa cara yang lain.

***

Kamu lagi ngapain sekarang Ca? Hari ini Mas Bebeh sibuk sekali, dia tidak sempat kembali lagi ke sekolahmu. Belum ada kabar terbaru yang bisa aku dengar dan sampaikan di catatan ini.

Ohya hampir lupa. Ca, kau kenal dengan anak pencinta alam Gapena yang bernama Dimas Prayogi? Dia dinyatakan hilang sejak 16 Maret 2014 di Gunung Pasang, Jember. Hingga kini belum ada kabar. Mas Kernet, Mas Dodon dan lain-lain, mereka ada di Posko SAR yang ditempatkan di rumah Pak War. Semoga selekasnya ada kabar baik ya Ca, seperti harapan kami padamu.

Sudah ya Ca, aku mau ngopi dulu. Nanti kita sambung lagi. Dadaaaah, twing!

8 komentar:

  1. Balasan
    1. Mbak Anazkia, Mbak Ifendayu, Mas Mahfudz Tejani, dan semuanya, terima kasih support dan doanya. Entah bagaimana saya membalasnya. Terima kasih.

      Hapus
  2. semoga segera ada kabar dari icha yo mas... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Ing. Maaf kemarin ngrepoti, tanya-tanya tentang hukum antara pihak sekolah dan perusahaan penyalur tenaga kerja yang bekerja sama dengan sekolah. Susah ya mempelajari bidang hukum, hehe...

      Hapus
  3. Semoga mereka yang tanpa kabar bisa segera di temukan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Terima kasih Mbak Dey.

      Hapus
  4. turut prihatin, semoga cepat ketemu ya, mas......, aamiin......

    BalasHapus

acacicu © 2014