13.3.14

Menanti Kabar dari Ica di Melaka

13.3.14
Artikel ini bertutur tentang Ica. Sudah setengah tahun ini ia bekerja di perusahaan kilang di Melaka. Sejak 5 Maret 2014, dikabarkan Ica tidak lagi masuk kerja, tidak pulang ke penginapan, kawan-kawan dekatnya tidak tahu keberadaan Ica, nomor ponsel tak bisa dihubungi, tentu kami yang di Jember khawatir. Semoga Ica baik-baik saja.

Ia perempuan yang masih sangat muda, kelahiran 19 September 1995. Namanya Annisa Rahmawati, dengan panggilan Ica. Karena bertubuh mungil, kadang saya memanggilnya Unyil. Teman-temannya di dunia pencinta alam SISPERPENA, biasa memanggil Ica dengan nama Genyok. Ia baru lulus tahun lalu dari SMK Negeri 1 Sukorambi - Jember.

"Terus kamu pingin melanjutkan kemana Ca?"

Ica tersenyum ketika saya menanyakan itu. Lalu ia bercerita tentang sebuah kontrak kerja antara pihak sekolahnya dengan beberapa perusahaan yang butuh tenaga kerja. Perusahaan yang Ica pilih adalah PT Orientasi Mahkota Buduran Sidoarjo. Ica senang sekali begitu mendengar kabar ia lulus tes dan berhak menjadi karyawan di sebuah perusahaan kilang di Melaka, Malaysia. Kontrak kerja dua tahun. Pada 4 September 2013 yang lalu, dia dan beberapa rekannya yang sama-sama lulus tes, berangkat ke Melaka. Urusan paspor dan surat-surat lainnya menjadi tanggung jawab pihak SMK Negeri 1 Sukorambi.

Selama di sana, Ica menempati sebuah hostel atau kontrakan di daerah Taman Bachang Melaka.


Ica yang berjilbab, bersama Chindy Oktavia di Melaka

Benar juga kalimat sakti, berjauhan menciptakan rindu. Ketika rindu menyapa, kami yang di Jember hanya bisa menanti status-statusnya di media sosial. Kami mengingat banyak hal tentang Ica; tentang kecerewetannya, keras kepala, sedikit nekad, usil, cerawak, dan keluguannya. Ica senang turut berdendang ketika Tamasya Band tampil di acara-acara kecil seperti Dies Natalis Pencinta Alam. Suatu hari di bulan Maret 2013, kami mengajaknya untuk recording di lagu berjudul; Sampai Rimba Merdeka. Ica senang menjadi backing vokal di lagu itu. Kini, lagu 'Sampai Rimba Merdeka' menjadi pengobat rindu bagi kami di panaongan.

Kemarin, ketika sedang menikmati lagu tamasya yang berjudul Sampai Rimba Merdeka, ada pesan masuk di ponsel saya. Ternyata dari Dodon, Kakak angkatan si Ica di Pencinta Alam Sisperpena. Kabar yang mengejutkan, sebab Dodon bercerita tentang Ica.

"Iso njaluk tulung? Tolong hubungi Ica via facebook. Sejak lima hari yang lalu ia tidak ada di tempat kerja, juga di mess. Ponselnya tidak aktif, teman-teman kerjanya tidak ada yang tahu."

Saya terdiam. Lemas. Sejak tiga hari yang lalu saya memang sedang ada di kondisi kesehatan yang buruk. Kadang saya memang online, membuka email dan inbox, membaca beberapa berita, kemudian kembali terkapar di atas ranjang. Saya tidak banyak menulis meski sudah mulai ada satu dua permintaan tulisan. Memang sudah waktunya menulis, beras di gentong juga sudah habis. Ah, sejak kapan saya mengkhawatirkan beras? Maaf, saya mengigau. Tapi saya benar-benar lunglai. Mulut rasanya sebah, demam, nyeri di persendian. Semua itu semakin lengkap ketika mendengar kabar tentang Ica. Seperti ada kunang-kunang yang terbang berputar-putar tepat di atas kepala saya.

Ada apa lagi nduk?

Saya mencoba mengingat kembali kabar terakhir dari Ica. Kami sempat bercanda di inbox. Kata Poetri, sekarang Ica punya kawan dekat, lelaki India. Ketika saya menanyakan itu di inbox, Ica membantahnya. Syukurlah, semoga itu memang tidak benar. Ica masih sangat muda, 18 tahun. Semuda itu bekerja di kilang, jauh dari orang tua, tentu baik bagi Ica untuk pandai-pandai memilih teman bergaul.

Satu jam yang lalu saya coba menghubungi Mbak Endar, Ibunya Ica. Berharap ia sudah menerima kabar dari putri sulungnya. Nihil, belum ada kabar. Teman-teman Ica satu mess juga tidak ada yang tahu keberadaan Ica.

Sayup-sayup, saya kembali teringat kata-kata Dodon via sms, kemarin sore.

"Ica kuwi kan kontrak kerja tho. Dadi misale sampek sesok Ica gak onok ngantor, de'e di-PHK dari Perusahaan. Lha kan urusane iso dowo."

Sesuai peraturan yang berlaku di Melaka, Ica akan terjerat khasus lari dari majikan. Ini yang membuat kepala saya semakin berat, berputar-putar seperti hendak melawan arah berputarnya tata surya.

Ica, kau tahu apa status facebook Mbak Kelor hari ini? Bacalah; Wahai anak gadis yang sedang merantau, berilah kabar agar kami tak risau.

Tulisan selanjutnya: Apa Kabar Ca?

Salam saya, RZ Hakim.

9 komentar:

  1. - PERMOHONAN MAAF -

    Hari ini saya banyak menghabiskan waktu dengan online, sembari menanti, berharap ada kabar dari Ica. Karena sudah bosan di media sosial facebook, saya membuka blog acacicu dan menghapus beberapa draft tulisan yang tak pernah selesai. Lha kok ndilalah tulisan yang sudah terpublish --tulisan ini-- juga ikut terhapus. Saya tidak sadar ketika menekan tombol delete, mungkin karena lelah.

    Seorang sahabat bernama Lozz Akbar membantu saya mengembalikan link artikel ini, hanya saja saya kehilangan komentar dari sedulur blogger dengan ID Haya Nufus, damarojat, Melly, Kopiah Putih, dan Suratman Adi, juga Mbak Elsa.

    Sampai detik ini saya masih kebingungan untuk menampilkan kembali komentar-komentar itu, beserta jawaban dari saya, tanpa edit sedikitpun. Jika tidak ada solusi, komentar akan saya tuliskan di bawah artikel dengan format spoiler.

    Mohon maaf sebesar-besarnya.

    Salam saya, RZ Hakim.

    BalasHapus
  2. Eh, ada nama saya.. :)
    Saya lupa komentar apa pada tulisan ini, tapi kayaknya bercerita tentang adek saya yang bekerja diluar kota bersama suaminya.
    Untuk Ica, sekali lagi, semoga semuanya akan baik-baik saja.

    Salam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini komentar sampeyan Mas -->

      Saya kok jadi teringat adek saya ya mas. Beneran, pas selesai saya baca tulisan ini saya langsung SMS adek saya yang kebetulan ikut suaminya kerja di luar kota. Tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja.

      Untuk Ica, semoga kau baik-baik saja dan segeralah kabari sanak saudara dan sahabat-sahabatmu..

      Hapus
  3. Semoga Ica segera pulang ya mas, aku jd ikutan sedih membayangkan bpk ibunya, khawatir sekali pZti anak gadisnya tak ada kabar. Semoga Ica baik2 dmn pun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin, terima kasih Mbak :)

      Hapus
  4. Masih belum ada kabar kha??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dua hari yang lalu, ada terlihat pergerakan Ica di dunia maya. Mbak Endar, Ibunya Ica, ia berkirim kabar kepada saya via inbox. Begini bunyinya, "Pesanku dah dilihat sama Ica tadi jam 00.20 Mas..tapi gak dibalas."

      Tentu kami yang di Jember senang. Ini kabar baik, bathin saya. Malam harinya, masih di hari yang sama, jejaring sosial facebook milik Ica aktif, ia update status. Harusnya kami senang, tidak justru semakin khawatir. Ini status Ica:

      Goodbye :') i love u
      Now i want sleep

      Setelah itu, tak ada lagi kabar dari Ica. Sedih? Tentu saja. Lebih sedih lagi ketika ada satu dua kabar burung datang dengan tak sengaja, bertutur jika hilangnya Ica karena ia jadi buronan police di sana karena Ica tak dilengkapi surat-surat seperti paspor. Saya mencoba meluruskan, Ica masuk ke Melaka dengan jalur yang legal, pihak SMK Negeri 1 Sukorambi - Jember saksinya.

      Tapi waktu terus berjalan. Tik tok tik tok..

      Kami masih mencoba menolak untuk tidak berpikir tentang pencabutan permit -ijin tinggal- Ica di sana. Yang kami rindukan adalah kabar mengenai kejelasan keberadaan Ica. Namun, sekali waktu, ada juga kami pikirkan tentang skenario semisal nanti/besok permit Ica dicabut dan ia dinyatakan ilegal. Bukan karena kami tak sayang Ica jika sekali waktu memikirkannya, itu hanya atas nama rasionalitas saja.

      Sejak kemarin hingga hari ini, pihak keluarga sedang melakukan komunikasi dengan pihak penyalur Ica -disalurkan ke Kilang Koa Denko Melaka- yaitu PT Orientasi Mahkota Buduran Sidoarjo. Mencoba mencari solusi terbaik.

      Mohon doanya. Terima kasih.

      Hapus
  5. Masih sangat muda untuk pergi kerja kontrak ke Malaysia. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Ica.
    #Urusan kontrak di pikir mburi, sing penting wonge selamet ora kurang opo" mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin, maturnuwun Kang Wahab.

      Iya benar, Ica masih sangat muda. Saya tidak tahu apakah dalam kasus seperti ini, pihak yang berperan pertama kali yaitu SMK Negeri 1 Sukorambi - Jember (dulu bernama SMTP, Sekolah Menengah Teknologi Pertanian) bersedia turun tangan sebagai tanggung jawab moral.

      Nggih, yang diutamakan adalah keselamatan Ica.

      Hapus

acacicu © 2014