22.3.14

Setia Menanti si Capung Senja

22.3.14

Kami dan Ibu Rustam

Kemarin sore saya dan Prit mengajak Arum, Kelor dan Pije ke belakang rumah, bermain di kediaman Keluarga Rustam. Tentu saja si kecil Aldin ada diantara kami. Keluarga Rustam, mereka memiliki pelataran yang luas, dengan sendang yang menyejukkan hati. Di group facebook keluarga tamasya, saya menulis undangan terbuka pada kawan-kawan dengan deretan kalimat seperti di bawah ini.

"Sore ini kami sedang melakukan pengamatan capung di sendang belakang panaongan. Monggo merapat jika tertarik."


Sendang ini berhasil mengundang banyak sekali capung

Mempelajari capung itu mudah. Hanya dengan modal rajin googling dengan kata kunci capung maka pandailah kita. Namun saya memilih cara langsung untuk mempelajarinya. Ini bukan hobi baru, saya hanya sedang melanjutkan kesenangan masa kecil. Bedanya, kali ini saya belajar lebih detail, sejak akhir bulan September tahun lalu.

Kepada Kelor dan Arum, saya bercerita tentang capung senja -Zyxomma Obtusum- yang sedang kami nantikan kehadirannya di tepi sendang.

"Capung yang kita tunggu-tunggu ini adalah capung yang unik, hanya ditemui di sore hari antara pukul empat hingga pukul enam, makanya dikenal dengan nama capung senja. Beberapa orang juga menyebutnya dengan nama Sambar Putih. Ia endemik nusantara, dengan nama ilmiah Zyxomma obtusum (Albarda 1881). Potret dirinya juga pernah memenangkan kontes foto dalam kongres capung sedunia di Jepang tahun 2012."

Perubahan habitat alam membuat capung senja menjadi sangat langka.

Sayang sekali, hingga mentari berwarna jingga, capung yang berwarna putih kapur tak kunjung datang. Kenapa ya? Apakah ia tahu jika kami menunggunya? Padahal sehari sebelumnya ada tiga pasang capung senja di sini. Namun begitu kami masih bisa mengamati capung jenis lain di pelataran rumah Keluarga Rustam. Pije nampak kesulitan ketika memotret capung merah muda yang mirip sekali dengan si senja Zyxomma Obtusum. Hingga saat ini saya masih belum bisa menggolongkan capung jenis apakah dia. Saya menduga, ia adalah si senja Zyxomma Obtusum yang masih muda, baru bermetamorfosis dari larva ke capung.


Si merah muda yang gesit dan seksi

Sekilas ia mirip sekali dengan capung Brachymesia furcata atau Red Dragonfly. Tapi sepasang sayapnya menegaskan bahwa mereka berbeda. Lagipula, capung ini hanya dijumpai di sore hari, sedangkan Red Dragonfly aktif di siang hari.

Kami memang sedang melakukan pengamatan capung di 21 Maret, tapi kami tidak sedang memperingati Hari Hutan Sedunia. Keluarga Pencinta Alam di Jember sedang berduka. Ini berkaitan dengan Dimas Prayogi, siswa kelas dua SMA Negeri Rambipuji yang dinyatakan hilang di Gunung Pasang -Panti- sejak 16 Maret 2014 dan hingga kini belum diketahui keberadaannya. Tentu dari hati terdalam, kami mengibarkan bendera setengah tiang. Tidak tepat jika saya mengajak kawan-kawan, meskipun hanya satu atau dua orang, untuk merayakan Hari Hutan Sedunia. Lagipula, itu adalah issue yang baru kemarin diusung oleh Majelis Umum PBB.

Meskipun kita butuh momentum, bagi saya mencintai hutan adalah setiap hari.

Ketika semburat jingga mulai menyapa ujung pandangan, kami masih di tepian sendang. Aldin tampak senang sebab ia bebas memandangi ayam-ayam yang berkeliaran, mentok, ikan-ikan yang menepi, juga si meong yang selalu membuntutinya. Kadang ia menangis sebab terlalu dekat dengan ayam jago.

Arum sedang semangat-semangatnya mengajak saya diskusi tentang Jember Tempo Dulu, baik dari sisi sejarah maupun cerita rakyat. Saya senang melihat energinya yang meluap-luap ketika bicara tentang Jember jadul.


Diskusi kecil tentang Jember Tempo Dulu

Percayalah, foto di atas bukan murni rekayasa. Saya tidak sedang eksyen, Arum juga. Kecuali yang tengah, si Kelor. Dia seratus persen sedang eksyen di depan kamera Pije. Kami mendengar ketika Kelor berkata, "Ayo kita difoto dong."

"Jadi begini Arum, Jember tempo dulu adalah sebuah wilayah yang bla bla bla dan seterusnya."

Saya janjikan pada Arum untuk menuliskan tema itu dengan bahasa yang ringan di blog acacicu ini. Dia tampak senang. Arum memiliki proyek istimewa. Dia ingin membuat sebuah pentas teatrikal yang melibatkan teman-temannya di UKM Kesenian Universitas Jember. Tapi Arum tak hanya sekedar ingin pentas, ia bermaksud melakukannya sebaik mungkin, dengan melakukan riset mendalam agar hasilnya memikat. Lho, kok kayak teatrikal sastrawi ya? Hehe..

Senang melakukan diskusi kecil dengan mereka, tapi ada sedihnya juga. Tiba-tiba, ketika bicara tentang sejarah, saya jadi teringat Annisa Rahmawati a.k.a Ica. Tahun lalu Ica pernah berkata, jika lulus dari SMK Negeri 5 Jember, ia ingin melanjutkan pendidikan di kampus, ambil jurusan Sastra Ilmu Sejarah.

Ica, semoga kau baik-baik saja di Melaka. Segeralah berkirim kabar, Ibu merindukanmu, kami juga.


Lalu kami pulang

Sore yang layak diberi label indah, bahkan meskipun si putih Zyxomma obtusum tak pernah datang mengecup air sendang. Tak apalah, kami masih bisa berdiskusi, mengamati capung yang lain, menemani Aldin, dan menatap semburat jingga di kaki Gunung Argopuro. Lalu kami pamit undur diri. Terima kasih keluarga Rustam. Tentu, di sore-sore yang lain saya masih akan kembali ke tepian sendang, masih setia menanti datangnya capung senja.

Kemarin hari hutan sedunia, sekarang hari air, besok sudah 23 Maret, waktunya bagi saya untuk merayakan hari lahir. Enaknya besok ngapain ya? Apakah potong rambut?

Salam saya, RZ Hakim

14 komentar:

  1. Jadi ingat zaman dulu waktu masih SD sering mainan nangkepin capung. Dulu capung banyak banget, sekarang sudah mulai berkurang. Saya baca artikel di natgeo katanya sih kondisi air tanah sekarang sudah mulai tercemar, jadi capung-capung tidak mau tinggal di situ. Habitatnya semakin berkurang. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita memiliki cerita masa SD yang sama Mas, hehe..

      Di mana terdapat populasi capung yang banyak, di sana kita akan mudah menemui nyanyian dedaunan, angin sepoi-sepoi yang berhembus segar, embun di pagi hari, aneka bunga dan rumput liar, serta keindahan-keindahan lain yang menyertainya. Biasanya itu sih yang saya temui.

      Capung bukan hanya indikator air bersih, tapi indikator tempat yang nyaman untuk tamasya :)

      Iya benar Mas Gie, semakin hari capung semakin susah kita jumpai.

      Hapus
  2. jadi teringat capung saya wktu SD dulu yg namanya Kiky :( kini ia sudah tiada dan widya jadi teringat kembali ketika Kiky dimakamkan di antara tiang listrik dan pohon arbey :( beruntung mas hakim bisa lihat capung lagi. saya yang tinggal di bumi bagian kota Bandung udah sangat jarang lihat fenomena capung. Oh iya mas, capung yang warna merah bener2 mempesona mas. warnanya keren! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, Kiky.. Kenangan yang menghunjam. Sedih juga ya ketika kita masih kecil dan ditinggalkan oleh peliharaan kesayangan. Jadi ingat pendidikan kritis yang diberikan warga Jepang terhadap pemuda pemudi di sana. Semua dianjurkan memelihara hewan, terlebih serangga. Capung adalah peliharaan favorit di sana, bahkan dimulai sejak ia menjadi larva, di masa hidupnya yang paling lama.

      Capung sahabat anak-anak. Ia menemani hari-hari saya di masa kecil. Tentu saya memiliki stok cerita yang banyak tentang predator yang satu ini.

      Makasih ya sudah berbagi kisah yang manis sekali.

      Hapus
  3. Senangnya bias ngumpul di sore hari, ngumpul yang sekalian nambah pengetahuan ya mas.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas.. Kita tak hanya bercengkerama tentang bioindikator, tapi juga tentang sejarah dan lain-lain. Alangkah indahnya.

      Hapus
  4. potooong rambuuutt :v
    sinii aku potongin bro
    gratiiis ...

    kan biar tambah cakep
    tapi kalo gondrong sih lebih oke
    tapi cobain deh potong
    biar priit ga usah nyariin karet melulu :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. iya Mbak, rencananya sih mau potong rambut. Saya punya rambut yang panjang tapi malas sekali keramas. Cuci rambut hanya diwaktu-waktu yang penting saja :)

      Padahal sih, katanya.. rambut harus dimuliakan.

      Ya sudah, ayo Mbak sini potongin rambutku, hehe..

      Hapus
  5. Nek aku biasanya ngendon ngamatin kucing2 yang lagi makan :D Apalagi kalau kucing liar di jalan. Kadang malah diajak ngobrol dan kucingnya dengan innocent etep makan.

    wah nek dirimu pangkas rambut bang..... ati2 ntar jember hujan deres....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jarang ada komunitas pengamatan kucing liar :) Ide cerdas kuwi Mas.

      Ahaha... sido pangkas rambut ora yooo...

      Hapus
  6. capun...kinjeng...binatang nan mungil tapi sdh lama gak ketemu. Etapi, utk jenis capung di desa saya dulu warnanya hanya ada yg bersayap agak biru keabu-abuan.
    #semoga rencana pentasnya sukses

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru capung bersayap agak biru keabu-abuan itu yang sekarang sulit saya temui Mbak :) Makasih yaaa...

      Hapus
  7. Capung itu bagus sekali kalau bisa difoto dari dekat.
    Indah lho foto sendang hijau itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mbak Zee, makasih...

      Hapus

acacicu © 2014