30.4.14

Zine dan Kebahagiaan

30.4.14
Seorang kawan Punk memperkenalkan saya pada sebuah media bernama zine. Bentuknya sangat sederhana, hanya berupa beberapa lembar kertas HVS yang dilipat jadi dua. Masing-masing mewakili sebuah halaman bolak balik. Jadi, satu lembar kertas digunakan untuk empat halaman.

Sulit mengingatnya apa isi di dalamnya sebab sudah lama sekali, akhir 1990an. Yang saya ingat hanya bentuknya; kertas putih dipenuhi tulisan dan beberapa gambar berwarna hitam -- tak ada warna yang lain selain mungkin abu-abu, digandakan dengan memanfaatkan mesin foto copy, media penghubung antar kertas adalah staples.

Ohya saya ingat sekarang. Salah satu artikel di dalamnya mengusung cerita tentang kebebasan, persamaan dan solidaritas. Ketiganya saling berkaitan. Ia ditulis dan dilayout dengan sentuhan komputer yang sederhana namun dengan komposisi yang pas.

Hanya karena saya pernah bertumbuh lama di kampung Kreongan, dengan beberapa sahabat yang menjalani aktifitas hidup secara punk, tidak serta merta menjadikan saya tergila-gila pada zine. Sekali waktu saya memang membacanya, larut dengan tulisan-tulisan yang tak biasa tentang sebuah komunitas, band-band esoteris, tapi kemudian saya melupakannya.

Waktu itu saya lebih senang blakrak'an dan mendengarkan cerita dibanding membaca. Kalaulah saya membaca, buku yang saya baca adalah buku-buku umum, tidak bersifat melawan sesuatu seperti penindasan, diskriminasi, rasialisme, fasisme dan atau tentang kejahatan perang. Ritme berubah ketika saya mengenal perpustakaan. Ia membuat saya rajin sekali menghilangkan buku dan membayar denda.

Kembali ke zine

Kata zine berasal dari fanzine, singkatan dari fan magazine. Mulanya fanzine adalah untuk membedakan dari magazine atau majalah komersial. Seiring berlalunya waktu, kini kata funzine diperingkas lagi menjadi zine, dibaca zin. Ia tidak bersifat mencari keuntungan. Kalaupun dijual, itu hanyalah bagian dari aktifitas ekonomi kolektif.

Akibat meledaknya punk dan semakin populernya mesin fotokopi di era 1970an, maka zine pun makin menjamur. Namun zine tidak menghilangkan filosofi atas kemunculannya, yaitu sebagai respon terhadap media mainstream. Saat itu zine banyak dilahirkan ditengah-tengah komunitas punk rock.

Begitulah, zine adalah tentang sebuah perlawanan. Ia mengusung semangat do it yourself dan didistribusikan melalui strategi jejaring individu maupun komunitas.

Ada banyak artikel yang mengulas tentang sejarah media yang satu ini, Anda bisa googling jika tertarik. Atau ingin mencoba membuatnya? Silahkan saja. Tentu selain kertas, staples dan fotokopi, hal paling mendasar yang Anda butuhkan adalah sebuah ide yang berguna. Ohya, sediakan juga lem dan gunting serta majalah-majalah umum, kemudian Anda bisa membuat karya seni potong-tempel.

Kata seorang kawan, kini zine semakin berkembang dahsyat. Banyak dari mereka yang melebur dan berubah menjadi webzine dan e-zine, mengikuti perkembangan zaman, namun masih mengusung filosofi dan kultur punk. Kabar buruknya, ada juga zine berpenampilan menor, genit, penuh warna, mengusung tema populer dan tak lagi sama seperti diawal kelahirannya.


Di medio 2004-2007 saya pernah memanfaatkan teknologi fotokopi untuk menggandakan tulisan dan gambar. Saya beri nama NAONG. Syukurlah, saya tidak memberi label zine pada media buatan sendiri tersebut, sebab kadang ia tampil genit.

Kini, ketika menemukan fotokopian NAONG, saya membacanya dan tersenyum. Wew, saya membuat sebuah media dengan artikel-artikel di dalamnya dituturkan dengan tulisan manual, padahal itu sudah zaman Friendster, haha. Ada juga beberapa puisi. Berikut adalah salah satu puisi karya saya sendiri, berjudul; Tuhannya Kawan-kawan, tertanggal 23 Juni 2005.

Puisi :
Tuhannya Kawan-kawan

Kawanku mencari Tuhan
di tempat-tempat pelacuran,
di dalam botol minuman,
di sepanjang jalan, hingga di ujung malam
Kasihan..
Kawanku bahkan semakin jauh dengan yang namanya Tuhan
Tapi kawanku menemukan sesuatu
Sesuatu tentang dirinya sendiri
Tentang hati nurani, tentang sebuah kemerdekaan
Hingga akhirnya kawanku memutuskan
untuk mencari Tuhan pada dirinya sendiri

Kawanku yang lain juga sedang mencari Tuhan
dan kawanku yang lain ini menemukan Tuhan
pada sosok perempuan
Kawanku yang lain ini..
sekarang sudah merasa jauh dengan yang namanya setan
Tapi kawanku yang lain ini tidak menemukan kemerdekaan
apapun harus seirama dengan keinginan sang perempuan
Kawanku yang lain ini menjauh dari kami sebagai kawan

Itulah Tuhannya kawan-kawan.


Biasanya, untuk menyegarkan kembali ingatan pada semangat kemandirian, kawan-kawan punk senang meneriakkan --dalam hati-- kalimat berikut ini.

"Ketika media mainstream berbicara dusta, zine harus membungkamnya."

Saya adalah seorang pencinta alam dan tidak pernah mengklaim diri sebagai seorang punker. Tapi kami memiliki beberapa persamaan ide, terutama di bidang sosial ekologi dan tentang bagaimana cara memandang kebahagiaan. Tentu saya bahagia mengenal zine dan semangatnya.

Salam saya, RZ Hakim.

22.4.14

Rindu Kicau Prenjak

22.4.14
Pagi dan secangkir kopi. Tak ada suara prenjak yang seramai dulu, ketika aku masih kecil. Lalu kau mulai beraksi, membangunkan si Odhol dan Korep. Kau bilang pada Korep, "Ayo bangun Bang, kita nikmati hari bumi. Kasihan si bumi, umurnya sudah tua. Ia sudah berusia 4.570 juta tahun." Aku tertawa saja melihat caramu membangunkan mereka, juga tentang bumi yang menua.

Rumah kita tepat di tepi jalan yang menghubungkan Jember dengan kota di sebelahnya, Bondowoso dan Situbondo. Suara berisik adalah sarapan telinga.Kita turut menyumbang kebisingan dengan canda tawa. Prit usreg, dia tergesa untuk gabung di acara hari bumi.

"Hari Bumi diundur tahun ngarep Nduk."

Hmmm, rupanya kau sedang serius ingin segera merapat. Oke, markipat. Tak lama kemudian kita sudah ada di antara kerumunan mereka. Ada banyak komunitas yang tergabung. Tak hanya pencinta alam. Ada juga persma dan kawan-kawan kesenian. Dari mural juga ada. Si Rizal Ajieb tak mau ketinggalan. Ia dari PA Gema Mahapeta Bondowoso, merapat ke Jember untuk menyemarakkan acara. Ada terlihat juga si Lita Dian, Sispala dari Banyuwangi.


Senyum - Dokumentasi oleh Faisal Korep

Kita berjalan beriringan hanya sekitar dua puluh menit saja. Selebihnya, kau sudah tampak sibuk, turut memegang spanduk warna putih untuk pengumpulan cap tangan. Kulihat dari jauh, wajahmu gembira sekali.

Adalah si Febri Arisandy yang menjadi korlap aksi damai ini. Di dunia PA Jember, Febri Arisandy lebih dikenal dengan nama lapang Banteng. Ia anggota aktif dari Iwena, sebuah pencinta alam yang ada di Universitas Moch. Sroedji Jember. Mulai dari start -di UNMUH Jember- Febri terlihat sangat sibuk. Apalagi ketika kawan-kawan stay di perempatan DPRD Jember. Sementara kawan-kawan melakukan aksi teatrikal cinta lingkungan, Febri menghadapi pertanyaan dari rekan-rekan jurnalis.

Bahagianya dirimu berjumpa dengan sahabat-sahabat jurnalis. Kalian saling bertegur sapa. Entah apa yang kalian perbincangan. Kadang aku turut mendekat, kadang hanya menikmati dari jauh. Aku menebak, kau pasti sedang bercerita tentang Novel Sang Patriot dan tentang rencana diskusi novel tersebut di Jember, pada bulan Juni nanti. Haha, ternyata tebakanku benar.

Ohya, kembali ke aksi damai di hari bumi. Aksi mereka tak hanya teatrikal dan pengumpulan cap tangan saja. Ada juga sosialisasi via sticker, orasi dan menawarkan beberapa macam bibit tanaman pada masyarakat yang tertarik untuk menanamnya. Serasi dengan tema hari bumi yang mereka usung. TOLAK EKSPLOITASI SDA - khususnya di Jember- yang membabi buta.

Dari perempatan DPRD Jember, aksi diteruskan ke titik akhir yaitu di Double Way Universitas Jember. Di sini masih ada aksi teatrikal, meskipun banyak juga yang lebih memilih berteduh. Hari semakin panas, sedangkan mereka telah sepakat untuk mengenakan kostum hitam-hitam.


Dokumentasi Pribadi

Siang yang terik di Double Way. Sebelum Febri Arisandy menutup acara, ia mempersilahkan para pihak untuk menyampaikan aspirasinya. Kemudian acara ditutup dengan doa dan salam lestari.

Kita tak bersegera pulang melainkan masih jalan kaki menuju Sastra. Sampai di tempat yang teduh, di samping kiri Gedung FKIP Universitas Jember, kita istirahat. Sementara Korep asyik hunting foto, si Bangker mengeluarkan beberapa kue dan bekal minuman dari dalam daypack-nya. Wew, serasa tamasya di pantai.

Belum setengah jam kami di sana, ada rombongan mengular yang melintas. Sebentar-sebentar mereka meneriakkan salam lestari. Kata Prit, mereka mahasiswa dari MIPA Biologi. Tapi di depan sendiri ada seorang mahasiswi yang mengenakan kostum reuse dengan slempang bertuliskan 'Lumba-lumba FKIP.' Dia terlihat ramah ketika dipotret dengan hape.

Mereka melakukan aksi di dalam kampus UJ secara mandiri, tidak tergabung dalam acara serempak yang kami ikuti. Namun tentu saja kami saling bersinergi, sebab cita-cita dan cinta yang diusung sama. Seremonial yang keren, semoga setiap hari.


Si Lumba-lumba

Kami melanjutkan jalan kaki menuju Sastra. Dalam perjalanan, Prit masih saja lincah. Ia riang sekali, padahal tak ada kicau burung prenjak. Ah, teringat kembali. Aku merindukan prenjak yang berdaulat atas diri dan kicaunya. Prenjak-prenjak kecil yang liar. Mungkin mereka juga sedang merindukan habitatnya seperti di waktu yang lalu, seperti yang ada di lukisan pemandangan.

Setelah Hari Kartini, ada Hari Bumi. Kemudian kita lupa. Merasa bumi sedang baik-baik saja.

Hai Prit, cerewetlah kepadaku esok pagi. Aku sedang merindukan kicau prenjak.

21.4.14

Ada Yang Mencuri Perhatian Saya di Seminar Lingkungan Hidup

21.4.14
Ruang Auditorium tiba-tiba hening. Adalah seorang siswi sebuah SMA yang menciptakan keheningan itu. Ia bertanya, apakah Air conditioning juga berdampak pada pemanasan global? Pertanyaan yang cerdas. Sudah sepantasnya penghuni Auditorium merayakan keheningan, sebab pertanyaan itu lahir di tengah acara Seminar Lingkungan Hidup yang diadakan oleh kawan-kawan Imapala STIE Mandala Jember.

Saya menjawab singkat. "Ya, benar."

Tepat di belakang saya ada sebuah banner panjang membentang. Di sana tertulis tema acara. Di sisi kanan tersedia sebuah layar putih sebagai peraga. Saya sama sekali tidak memanfaatkan media tersebut. Mas Wahyu Giri aktif menggunakannya. Kami saling mengisi, sebab memang hanya kami berdua yang menjadi pemateri seminar.

Ketika mengarahkan pandangan ke meja di depan kami, ada saya dapati beberapa botol air mineral dalam kemasan. Syukurlah saya membawa botol air sendiri dari rumah, sebab di sana kami berbicara tentang udara, air, tanah dan alam raya.

Akhirnya ada juga yang bertanya tentang air. Mas Giri memberi keterangan panjang lebar tentang betapa pentingnya air. Keren, ia juga menceritakan tentang serapan air yang ia buat di rumahnya sendiri, juga tentang pohon-pohon yang sengaja ditanamnya di pekarangan. Saya menambahkan sedikit tentang hubungan romantis antara manusia dan air, tentang betapa butuhnya kita pada air dan tentang air sebagai Hak Asasi Manusia.

Saat sedang asyik bercerita tentang cara orang-orang Baduy memperlakukan makanan, tiba-tiba perhatian saya tercuri. Di pojok belakang Auditorium, ada seorang perempuan berjilbab yang mengenakan kacamata hitam. Dari kejauhan, ia mirip Shin Eun-kyung ketika memerankan Cha Eun-jin dalam film My Wife is a Gangster. Perempuan berkacamata hitam itu, dia adalah Zuhana a.k.a Prit, istri saya sendiri. Ia sedang sakit mata.


My Wife is a Gangster

Seluruh audiens turut menoleh, mereka mencoba mencari tahu siapa gerangan perempuan berkacamata hitam yang saya maksud. Tentu saja Prit menunduk malu. Hehe, maaf ya.

Seminar berlangsung cukup lama, sedari setengah dua siang hingga pukul lima sore. Ada jeda waktu setengah jam untuk istirahat dan shalat. Sebenarnya, acara sudah usai pukul setengah lima. Tapi panitia masih menyediakan satu acara lagi berupa musik. Saya terhibur oleh aksi kawan-kawan UKM Kesenian STIE Mandala. Mereka keren.

Kami sudah bersiap-siap pulang ketika MC memanggil nama saya. Hah, saya disuruh bernyanyi? Ndandong sudah ada di posisi gitar, Boncel juga sudah siap membetot senar bass. Sulit untuk menolak permintaan mendadak tersebut. Lalu kami pun bernyanyi. Terima kasih kawan-kawan semua.

Selamat merenungkan Hari Bumi di Hari Kartini. Mari kita sama-sama mencari cara untuk senantiasa menjadi manusia yang berguna.

Sedikit Tambahan

"Ayo Mas kita pulang."

Sore yang gerimis, saya menerobosnya. Diantara rintik Prit berkata, "Aku harus cepat-cepat online Mas." Ketika saya tanya kenapa, dia bilang, sedari tadi sedang memikirkan Lomba Review Novel Sang Patriot. Ada link yang belum sempurna. Jadinya saya ikut kepikiran.

Lalu kami menderap pulang menerobos gerimis sambil bernyanyi kecil.

Salam saya, RZ Hakim

19.4.14

Nurani: Everyday is Rock N Roll

19.4.14

Nurani: Everyday is Rock N Roll

Lima hari yang lalu, iseng saya membuka akun twitter. Haha, saya dibuat tertawa oleh tweet dari Arman Dhani untuk Nuran, "Dulu, everyday is rock n roll. Hair metal is my life. Sekarang "Duh tak nukokne bojoku mangan sik bro." Nuran membalasnya dengan sumpah serapah. Mereka memang dua sahabat yang senang mengasah otak dengan perang argumentasi. Dulu keduanya sama-sama aktif di UKM Pers Mahasiswa Tegalboto, Universitas Jember.

Di twitter, ketika Arman Dhani terlibat debat dengan Zarry Hendrik, saya berpikir, mungkin Dhani hanya sedang merindukan suasana adu argumen yang seperti itu. Atau, entahlah. Saya hanya mengikuti beritanya dengan sepintas lalu. Yang saya tahu, Dhani lelaki yang baik, itu saja.

Di blog personalnya, Nuran pernah beberapa kali menulis tentang Dhani, salah satunya di sini.

"Aku saiki nang Jakarta Mas, kerjo sak kantor karo Dhani."

Nuran mengatakan itu di awal April, ketika ia singgah ke rumah saya mengantar undangan pernikahan. Kabar gembira, Nuran dan Rani hendak menikah pada 19 April 2014 dan itu berarti hari ini. Mereka menikah di Jambi, apa daya saya dan Prit hanya bisa tersenyum dan mendoakan.

"Aku sik pingin berproses nang Jakarta Mas. Yo, rong taon telung taon lah nang kono. Terus mengko aku karo Rani pingin urip nang Jember. Pingin ngajar nang kene, hehe."

Aunurrahman Wibisono a.k.a Nuran, ia memiliki banyak mimpi. Sebagian kecil sudah terengkuh, namun masih ada banyak mimpi yang masih dalam proses. Bersama Rani Basyir, Nuran ingin punya anak-anak yang sehat dan lucu, rumah di pinggir pantai, hingga sepasang anjing Siberian Husky dan Samoyed. Namun itu hanya secuil mimpi mereka. Masih ada banyak mimpi yang hendak mereka terjang.

Jika sedang ingin refresh di depan monitor, saya sering mengunjungi blog personal milik Nuran. Ia menulis dengan renyah. Saya sering dibuat tersenyum oleh kata-kata yang Nuran rangkai. Tapi ia juga pernah membuat saya sentimentil, di catatannya yang berjudul gondrong. Ini adalah dua paragraf yang berbeda, akan saya tempelkan di sini:

Diiringi helaan nafas, maka saya meneguhkan hati untuk memotong rambut. Ketika ambulans yang membawa jenazah ayah saya sampai dirumah, saya berhenti di depan perumahan tempat saya tinggal, lalu pergi ke tukang potong rambut langganan ayah saya.

Cekrik. Suara gunting besi itu terdengar memilukan, lebih dari yang sudah-sudah. Helai demi helai rambut saya berjatuhan, dan hari itu, di akhir bulan Desember yang mendung, saya berambut pendek lagi. Seperti yang sudah-sudah.

Kemarin Nuran membuat posting berjudul; Apa susahnya jadi bujangan. Seperti biasa, Nuran menulis dengan gembira.

"..... Betapa cepat waktu berderap. Tiba-tiba saja, dari kami yang bongak dan sombong berkata bahwa menikah itu menyusahkan, kami sudah akan menikah. Kami dimamah oleh kecongkakan kami sendiri. Tapi ya sudahlah, itulah manusia, orang yang seringkali ditampar oleh kepongahannya sendiri."

Aunurrahman Wibisono dan Rani Basyir, selamat menikah ya. Doa terbaik untuk kalian.

Salam Rock N Roll.

15.4.14

Selama Yakin Semua Mungkin

15.4.14
Tamasya Band. Sudah lama sekali tamasya tidak berdendang. Mereka lebih banyak berkegiatan di luar musik. Terakhir manggung adalah tujuh bulan yang lalu, ketika muda-mudi Jember menggelar malam diskusi dan seni bertajuk Save Gumuk.

Pada 11 April kemarin, tamasya kembali tampil di acara tasyakuran 32 tahun SWAPENKA, sebuah organisasi pencinta alam di Fakultas Sastra Universitas Jember.

Kami bermain di lorong, tepat di depan ruang jurusan Sastra Inggris. Menurut Zaenal Chakiki, ketua panitia, tadinya acara tersebut hendak diselenggarakan secara out door, di lapangan futsal Sastra. Namun rintik hujan seharian membasahi bumi Jember. Karpet-karpet yang telah terhampar segera mereka gulung kembali. Lalu mereka memilih untuk memindahkan acara di lorong Sastra.


Berdendang di Lorong Sastra

Mereka hebat, menyelenggarakan acara dengan biaya yang sangat minim. Saking minimnya, mereka bahkan harus memutar otak untuk mendapatkan dana dengan membuat kaos bertuliskan SWAPENKA, suka duka satu kata, dengan logo 32 tahun tepat di bagian dada kanan. "Ini dijual untuk umum," ujar Nendes. Ia adalah salah satu pengurus SWAPENKA.

Saya tidak bertanya lebih lanjut mengenai seretnya dana tersebut. Hanya menebak saja, barangkali ini ada hubungannya dengan kebijakan Dekanat Sastra yang melakukan penahanan dana kegiatan UKM.


Dokumentasi oleh SWAPENKA

Seusai berdendang, saya tidak bersegera pulang melainkan masih cangkruk'an bareng kawan-kawan pencinta alam. Ada saja yang mereka tanyakan. Yang paling populer, "Kenapa tamasya hanya menyanyikan empat lagu?" Bingung juga menjawabnya. Syukurlah, beberapa jam sebelumnya, lewat jejaring sosial facebook, tamasya band sudah mengabarkan itu.

"Ada lagu untukmu. Lagu yang sederhana. Kami tidak menyiapkan daftar lagu yang banyak, mungkin hanya empat atau lima saja. Namun, semoga bisa membuatmu damai. Sampai jumpa nanti malam. Salam Lestari!"

Selama Yakin Semua Mungkin

Kepada Lukman Hakim, ketua umum SWAPENKA, saya melempar sebuah tanya. Tentang suguhan yang disajikan. Ada saya lihat, kawan-kawan menyiapkan aneka orem-orem dan urap-urap. Belum lagi jajanan-jajanan kecilnya. Darimana mereka mendapatkan uang? Apakah dari hasil laba kaos yang dijual?

"Kami memasak sendiri Mas. Gotong royong, dari pagi hingga sore menjelang acara. Kami membuat semacam dapur umum di belakang sekretariat. Beberapa bahan-bahan masakan memang kami membelinya, namun sebagian yang lain adalah hasil iuran kolektif. Ada yang datang membawa beras, sayuran, bumbu-bumbu, hasil kebun mereka sendiri, ada juga yang dengan sengaja mencari beberapa bahan di rumah si Buter. Mereka berburu pepaya, kelapa dan sayur pakis."

Keren. Kolektif. Gotong royong.

Saya jadi ingat tasyakuran dua tahun sebelumnya. Ketika itu saya dan istri juga turut ngramban sayur pakis di dekat rumah si Buter. Kebetulan rumahnya ada di tepian hutan. Sayur-sayur itulah yang kami sajikan untuk para undangan.

Diramu dengan hati, disajikan dengan cinta, itulah urap-urap ala pencinta alam.

"Ohya, ada lagi Mas. Kami anggota aktif SWAPENKA kemarin melakukan iuran wajib, masing-masing 30 ribu rupiah."

Saya diam, takjub dengan apa yang mereka lakukan. Jika bicara tentang dana, Ormawa lain di Sastra tidak kalah ngenesnya dengan yang dirasakan Lukman Hakim dan kawan-kawan. Padahal mereka sedang turut mengharumkan nama fakultas lewat karya. Tak terbayangkan apa jadinya jika mereka semua mogok berproses, tentu nama baik Sastra akan jadi taruhannya.

Tambahan

Lalu saya merenung, memikirkan tamasya band. Kami lahir di antara pelukan pencinta alam, mengadopsi beberapa gaya hidup dan pola pikir mereka, termasuk mengadopsi kalimat, "Selama yakin semua mungkin." Berpikir, berkarya, bersikap dan mencoba menjadi berguna, itu yang coba kami lakukan. Tidak ada kerisauan tentang eksistensi. Sebab kami rasa, menyediakan mental untuk dilupakan itu juga baik.

Untuk menuju 'benar' kami melewati banyak sekali kesalahan-kesalahan. Mereka selalu mengingatkan dengan segala cara, kadang dengan sapaan halus kadang lewat tamparan.

Tentu kami akan terus menerus mencari cara untuk tetap menjadi berguna, baik lewat lirik, lewat tempaan tanggung jawab terhadap lirik, maupun lewat jalur-jalur yang lain, jalur hidup kami sendiri. Doakan semoga kami bisa.

Terima kasih dan Salam Lestari!

10.4.14

Twilight Express dan Penulisnya

10.4.14

Mbak Imelda Coutrier dan duo jagoannya - Foto diambil berdasarkan ijin pemilik

Ada banyak tulisan blog yang tetap bisa saya nikmati dengan nyaman meskipun disajikan secara panjang. Misalnya, tulisan-tulisan milik Mbak Imelda Emma Veronica Coutrier-Miyashita. Ia pandai sekali menggambarkan gerak hidup keseharian di Jepang lewat kata-kata. Penempatan EYD juga pas, seringkali disertai dengan dialog. Wajar jika pengelola blog menguasai dengan baik masalah bahasa hingga tanda baca. Sebab selain penerjemah, ia juga seorang Dosen Bahasa Indonesia di dua Universitas di Jepang.

Mbak Imelda senang berbagi ilmu pada sesama blogger. Dia juga pernah mengingatkan tentang bagaimana sebaiknya menulis kata 'Anda' dengan awalan huruf A besar.

Suatu hari Mbak Imelda bercerita tentang percakapannya dengan Watanabe san, seorang lelaki yang sudah berusia 94 tahun -- Ia meninggal dunia dua tahun berikutnya, tepatnya pada 7 Maret 2012. Gurih sekali cara Mbak Imelda menyuguhkan itu. Sesekali ia menggunakan paragraf-paragraf pendek, namun bukan berarti ia takut menuliskan sesuatu dengan paragraf yang tebal. Saya sangat menikmati kisah yang dituturkan. Yang menjadi menarik adalah ketika Mbak Imelda sedikit menyelipkan adat kebiasaan di Jepang tanpa harus memberi daya tekan. Bernas.

Berikut adalah penggalan percakapan antara penulis dan Watanabe san.

“Sensei… saya senang sekali bertemu sensei”… dia menjabat tanganku… dan memelukku. Aduh …aku benar-benar terharu dan ingin menangis. Laki-laki Jepang mana yang mau memeluk wanita di depan umum? Meskipun istrinya. Aku merasakan kerinduannya yang besar untuk bertemu denganku. Ahhh Bapak… aku merasa tersanjung… aku tahu kamu menghormati aku sebagai sensei, tapi aku lebih menghormati bapak bukan sebagai murid. Entah harus kukatakan sebagai apa, sebagai sesepuh yang mengingatkan terus… Hai manusia, Jangan kalah oleh umur!

Mbak Imelda menulis tentang data dirinya di blog, berjudul Who am I, dengan panjang dan runtut. Saya membacanya tuntas tanpa merasa terbebani dan menghujat penulis sebab ia merangkainya dengan panjang sekali.

Tentu saya mengerti, ada baiknya membuat paragraf pendek jika kita sedang menulis di blog. Paragraf yang menggunung hanya akan melelahkan mata saja. Namun saya kira, ada saat-saat tertentu dimana kita butuh menggunakan alenia panjang. Biasanya hal itu akan terjadi ketika antar kalimat masih saling berkaitan erat. Jadi, panjang pendeknya paragraf juga harus dilihat dari berbagai sisi, baik sisi kebutuhan, etika, tingkat keterbacaan, refreshing, informasi dan sentuhan edukasi.

Terlepas dari semuanya, kita berdaulat atas blog yang kita kelola sendiri.

Kembali ke artikel-artikel Mbak Imelda Coutrier. Ia lengkap sekali ketika menuliskan sesuatu, sekaligus terasa sentuhan personalnya. Khas tulisan seorang blogger. Ada unsur haha hihi, kisah-kisah keseharian, kenangan, gagasan-gagasan, perjalanan, kelucuan-kelucuan buah hatinya dan tentang istilah-istilah Jepang. Sebagai pembaca saya merasa fresh, juga mendapat informasi dari yang ia tuliskan.

Mbak Imelda menulis dengan merdeka. Ibaratnya ia adalah seorang pianis yang menghayati permainannya, tak peduli apakah nanti akan mendatangkan banyak visitor atau tidak.

Twilight Express tak pernah sepi pembaca, bahkan ketika penulisnya kerap menggunakan paragraf-paragraf tebal. Mengapa? Sebab ia menulis dengan apa adanya, menjadi diri sendiri dan tak mengekor tulisan orang, mengutip sana sini hanya agar dianggap pintar.

Karena Mbak Imelda menulis apa yang ia mengerti dan seringkali menuliskan apa yang ia alami sendiri, tulisannya terbaca dengan nyaman. Dengan sederhana sekali Mbak Imelda menggambarkan isi blog Twilight Express. My journey from dawn to dusk. Bukankah itu sangat sederhana?

Meski ia lebih senang menggunakan kata-kata keseharian dan menghindari diksi yang genit, kentara sekali jika Mbak Imelda senang melakukan perjalanan dan senang membaca. Seolah ia ingin menyampaikan pesan, "Penulis yang baik tentu juga seorang pembaca yang baik dan mau memandang hidup dengan lebih luas."

Happy Anniversary Twilight Express, terima kasih atas inspirasi dan kisah-kisahnya.

9.4.14

Sedangkan Kau dan Aku

9.4.14
Dingin sekali malam ini. Kau terhanyut pada sebuah buku setebal satu setengah centi meter, demi menaklukkan kebodohan di bidang hukum-hukum perdata. Kau bilang, "Aku sedang butuh memahami bidang ini. Bukan untuk apa-apa. Aku hanya benar-benar sedang butuh memahaminya."

Sepi. Biasanya ketika kau sedang membaca, ada lantunan lagu si Robert Nesta Marley. Tidak kali ini, entah kenapa. Padahal seringkali, diam-diam aku turut merapalkan tiap-tiap liriknya.

"Emancipate your self for mental slavery, none but our self can free our minds."

Setiap kali kita megap-megap dan hampir rela menukar kemerdekaan dengan kenikmatan hidup, lagu seperti itu selalu tampil. Ia terdengar merdu di waktu yang kritis. Ketika semua kembali terlihat baik-baik saja, aku dan kamu kembali saling mengingatkan akan langkah keseharian. Yang sederhana saja. Hmmm, padahal sederhana itu sebentuk kata yang relatif. Kata yang menunjukkan bahwa sesuatu masih ada di ambang kewajaran. Tidak kaya, tidak miskin, tidak pula terlalu indah, namun tentu tetap berpikir merdeka.

Belasan tahun yang lalu, orang-orang yang lebih tua selalu memberi tekanan pada sebuah kalimat. "Suatu hari nanti ketika kau seusiaku, ketika hidup mulai menerjang, maka kau akan belajar banyak tentang pemakluman-pemakluman." Manakala menemui kalimat senada, aku selalu memelihara keyakinan di hati, "Biarlah aku mencoba sekuat tenaga untuk hidup seperti yang aku inginkan, hingga sekarat lalu dilupakan."

Hari berganti, ada banyak hal yang terlewati. Kini usiaku setara dengan usia dia yang pernah mengucapkan itu, belasan tahun yang lalu.

Aku masih memelihara keyakinan, masih memoles hidup seperti yang aku inginkan. Kadang terjatuh, luka dan dihina.

Kukira menjalani hidup berdua denganmu akan mempertemukan pada pemakluman-pemakluman yang seperti itu. Ternyata tidak juga, sebab keyakinan kita sama. Namun bahkan ketika keyakinan kita seiya, ketika batas toleransi kita tak serupa kompromi, masih saja aku maupun kau sering bertabrakan dengan kesalahan, terpeleset, jatuh dan kembali jadi bulan-bulanan hina. Sementara ada saja satu dua yang bertepuk tangan, kita merangkak bangkit dan kembali bersiap memperlakukan hidup, memperlakukan kejujuran hingga bisa merayakan merdeka.

Jujur dan merdeka, mereka adalah sesuatu yang harus dijaga. Sedangkan kau dan aku, kita adalah sepasang pembelajar yang tak kunjung pandai.

Ketika 'hanya ingin berbagi' menjadi terlihat mahal..

1.4.14

Cara Orang Islam Memperlakukan Air

1.4.14
Agama adalah definisi yang empiris, setidaknya begitulah menurut para sosiolog. Jadi, orang tua memiliki peran yang sangat menentukan tentang agama yang dipeluk oleh anak-anaknya. Pengaruh lingkungan, peristiwa penting, pendidikan, buku-buku yang kita asup dan sebagainya, semua itu juga membangun terbentuknya keputusan pada apa agama yang kita percaya dan cintai.

Mengapa agama menjadi sangat penting? Sebab ia adalah penjaga moral.

Moral, sesuatu yang tak ternilai harganya. Moral juga menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Tanpa moral, kehidupan akan terlihat tak lagi menarik. Tak heran jika ada yang berkata bahwa agama adalah sumber mata air dari sebuah kata bernama moral. Saya juga sependapat jika agama itu penting, namun masih sering merasa heran ketika ada pemeluk sebuah agama yang tak bermoral, mengingatkan saya pada kata-kata Gus Dur.

"Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik, orang tidak akan bertanya apa agamamu."

Tentu jika kita salah tafsir atau terburu-buru membuat kesimpulan, pesan yang disampaikan kalimat di atas akan menguap begitu saja. Sebenarnya ia hanya sedang mengingatkan kita bahwa moral itu penting, bukan tentang pluralisme agama yang sempit. Ia jauh lebih luas. Berbuat baik adalah cermin dari moral seseorang. Apalah artinya gelar haji jika masih menyekutukan Tuhan dengan tuhan-tuhan kecil seperti uang dan perhiasan emas.

Wah, nulis apa saya ini, kok sepertinya serius? hehe. Saya sedang turut menyemarakkan Giveaway I Love Islam yang diselenggarakan oleh duo blogger, Listeninda dan Monilando's.

Oke kita lanjut dengan yang ringan saja.

Saya beragama Islam. Masa kecil saya lewati dengan belajar mengaji di surau setiap sore hari, sedari sebelum TK hingga SMP kelas tiga. Persiapan Ebtanas membuat saya berhenti mengaji. Kebiasaan orang-orang di sekitar saya juga begitu. Jika sudah SMP maka waktunya berhenti belajar mengaji. Ini seperti sebuah kesepakatan tak tertulis dimana semua orang akan mudah mengamininya. Adalah aneh jika kita sudah usia SMA namun masih mengaji di surau. Kata orang, sebaiknya hijrah menimba ilmu di pesantren.

Kecuali mengikuti pondok ramadhan di sekolah, saya tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi anak pondok pesantren. Cukup di surau saja, begitu kata Bapak. Di surau yang jaraknya tak jauh dari rumah, kami diajar oleh seseorang bernama Sugiarto. Lek To, begitu biasanya saya memanggilnya. Ia lelaki biasa, bukan kyai bukan pula seorang haji. Ia menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai kuli bangunan. Satu hal yang tertancap di hati saya tentang apa yang telah diajarkannya, bahwa moral jauh lebih penting. Lek To akan marah jika mengetahui anak didik mengajinya berlaku tidak patut, meskipun sudah lebih dari satu kali khatam Al Quran. Kemarahannya yang paling parah adalah melemparkan tasbih ke putranya sendiri, Gofur namanya. Biasanya, ia marah dengan cara memberi wejangan singkat.

Selama menempa diri di surau, saya tidak pernah dilemparinya tasbih, tidak pula pernah mengkhatamkan Al Quran. Namun hingga kini ada banyak kata-kata Lek To yang mengkristal di hati.

Pernah di suatu sore kami menanti waktu adzan maghrib dengan bermain air. Kami saling menyiram satu sama lain. Tentu kami gembira, bocah mana yang tak senang bermain air? Lantaran senang itulah kami tidak sadar jika ada seseorang yang memperhatikan tingkah kami. Ya benar, ia adalah Lek To, guru ngaji terbaik yang pernah saya miliki. Lek To tidak marah, ia hanya menyuruh kami semua untuk kembali pulang. Mulanya kami senang dan menganggap hari itu adalah libur mendadak. Tapi kami tahu, kami sedang ada di posisi bersalah dan guru ngaji kami sedang marah.

Esoknya, kami berkelakuan manis sekali. Ketika Lek To datang, ia tidak menyuruh kami pulang. Namun hari itu ia tidak mengajari kami mengaji. Lek To memberi kami sebuah kisah tentang bagaimana sebaiknya orang Islam dalam memperlakukan air. Ia bicara tentang shalat, tentang niat dan memelihara niat, hingga tentang wudhu. Hari itu saya sadar, orang Islam butuh memperlakukan air dengan mesra dan romantis sebab air memiliki peran paling dasar agar manusia bisa berkomunikasi dengan Tuhan.

Islam mengenal shalat sebagai pilar paling dasar, sebagai tiang agama. Untuk shalat kita butuh berwudhu dan itu membutuhkan air yang bersih. Adanya air bersih ditunjang sepenuhnya oleh tanah yang bagus, dimana di atasnya ada terdapat berbagai macam pepohonan yang cocok. Kita juga butuh mencintai dan melestarikan hutan, melestarikan segala hal yang bisa mendatangkan air bersih. Indah sekali cara orang Islam dalam memperlakukan air. Untuk bisa hidup, selain membutuhkan udara, tentu kita sangat tergantung dengan ayat Tuhan bernama air.

Kelak, saya memutuskan untuk menjadi seorang pencinta alam.

Ketika melakoni hidup sebagai pencinta alam, saya semakin mengerti bahwa kita butuh memberi perhatian lebih dalam memperlakukan air. Ini bukan hanya tentang irit atau boros dalam menggunakan air, melainkan juga tentang menjaganya agar tetap mengalir jernih, agar umat bisa shalat. Guru ngaji saya telah mengingatkan itu jauh sebelum bisnis air kemasan marak seperti hari ini.

Lihat, mereka manusia-manusia yang serakah begitu rakus menyedot air hanya demi melakukan penambangan -emas- secara membabi buta. Menjadi wajar jika dulu Gandhi berkata, bumi ini cukup untuk sebanyak-banyak manusia, namun tidak cukup untuk satu orang manusia yang serakah.

Untuk bisa memperlakukan air dengan baik kita butuh moral yang juga baik, sedangkan sumber moral yang baik bisa didapatkan dari agama yang kita yakini. Islam begitu mesra dalam memperlakukan air. Tentu saya mencintai apa yang saya yakini. Ia adalah agama yang membuat saya semakin mantab melakoni hidup dengan terus belajar bagaimana caranya menjadi pencinta alam yang baik.

Sedikit Tambahan

Jika perang bisa terjadi gara-gara sepak bola pada hampir setengah abad yang lalu antara Honduras dan El Salvador, maka menjadi sangat mungkin jika perang berikutnya adalah perang berebut air. Kita bisa belajar dari Wadi Nil, negara-negara yang dilalui Sungai Nil.

Air adalah penting. Mahluk bening ini begitu mempengaruhi berjalannya infrastruktur sebuah negara.



Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway I Love Islam
acacicu © 2014