1.4.14

Cara Orang Islam Memperlakukan Air

1.4.14
Agama adalah definisi yang empiris, setidaknya begitulah menurut para sosiolog. Jadi, orang tua memiliki peran yang sangat menentukan tentang agama yang dipeluk oleh anak-anaknya. Pengaruh lingkungan, peristiwa penting, pendidikan, buku-buku yang kita asup dan sebagainya, semua itu juga membangun terbentuknya keputusan pada apa agama yang kita percaya dan cintai.

Mengapa agama menjadi sangat penting? Sebab ia adalah penjaga moral.

Moral, sesuatu yang tak ternilai harganya. Moral juga menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Tanpa moral, kehidupan akan terlihat tak lagi menarik. Tak heran jika ada yang berkata bahwa agama adalah sumber mata air dari sebuah kata bernama moral. Saya juga sependapat jika agama itu penting, namun masih sering merasa heran ketika ada pemeluk sebuah agama yang tak bermoral, mengingatkan saya pada kata-kata Gus Dur.

"Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik, orang tidak akan bertanya apa agamamu."

Tentu jika kita salah tafsir atau terburu-buru membuat kesimpulan, pesan yang disampaikan kalimat di atas akan menguap begitu saja. Sebenarnya ia hanya sedang mengingatkan kita bahwa moral itu penting, bukan tentang pluralisme agama yang sempit. Ia jauh lebih luas. Berbuat baik adalah cermin dari moral seseorang. Apalah artinya gelar haji jika masih menyekutukan Tuhan dengan tuhan-tuhan kecil seperti uang dan perhiasan emas.

Wah, nulis apa saya ini, kok sepertinya serius? hehe. Saya sedang turut menyemarakkan Giveaway I Love Islam yang diselenggarakan oleh duo blogger, Listeninda dan Monilando's.

Oke kita lanjut dengan yang ringan saja.

Saya beragama Islam. Masa kecil saya lewati dengan belajar mengaji di surau setiap sore hari, sedari sebelum TK hingga SMP kelas tiga. Persiapan Ebtanas membuat saya berhenti mengaji. Kebiasaan orang-orang di sekitar saya juga begitu. Jika sudah SMP maka waktunya berhenti belajar mengaji. Ini seperti sebuah kesepakatan tak tertulis dimana semua orang akan mudah mengamininya. Adalah aneh jika kita sudah usia SMA namun masih mengaji di surau. Kata orang, sebaiknya hijrah menimba ilmu di pesantren.

Kecuali mengikuti pondok ramadhan di sekolah, saya tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi anak pondok pesantren. Cukup di surau saja, begitu kata Bapak. Di surau yang jaraknya tak jauh dari rumah, kami diajar oleh seseorang bernama Sugiarto. Lek To, begitu biasanya saya memanggilnya. Ia lelaki biasa, bukan kyai bukan pula seorang haji. Ia menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai kuli bangunan. Satu hal yang tertancap di hati saya tentang apa yang telah diajarkannya, bahwa moral jauh lebih penting. Lek To akan marah jika mengetahui anak didik mengajinya berlaku tidak patut, meskipun sudah lebih dari satu kali khatam Al Quran. Kemarahannya yang paling parah adalah melemparkan tasbih ke putranya sendiri, Gofur namanya. Biasanya, ia marah dengan cara memberi wejangan singkat.

Selama menempa diri di surau, saya tidak pernah dilemparinya tasbih, tidak pula pernah mengkhatamkan Al Quran. Namun hingga kini ada banyak kata-kata Lek To yang mengkristal di hati.

Pernah di suatu sore kami menanti waktu adzan maghrib dengan bermain air. Kami saling menyiram satu sama lain. Tentu kami gembira, bocah mana yang tak senang bermain air? Lantaran senang itulah kami tidak sadar jika ada seseorang yang memperhatikan tingkah kami. Ya benar, ia adalah Lek To, guru ngaji terbaik yang pernah saya miliki. Lek To tidak marah, ia hanya menyuruh kami semua untuk kembali pulang. Mulanya kami senang dan menganggap hari itu adalah libur mendadak. Tapi kami tahu, kami sedang ada di posisi bersalah dan guru ngaji kami sedang marah.

Esoknya, kami berkelakuan manis sekali. Ketika Lek To datang, ia tidak menyuruh kami pulang. Namun hari itu ia tidak mengajari kami mengaji. Lek To memberi kami sebuah kisah tentang bagaimana sebaiknya orang Islam dalam memperlakukan air. Ia bicara tentang shalat, tentang niat dan memelihara niat, hingga tentang wudhu. Hari itu saya sadar, orang Islam butuh memperlakukan air dengan mesra dan romantis sebab air memiliki peran paling dasar agar manusia bisa berkomunikasi dengan Tuhan.

Islam mengenal shalat sebagai pilar paling dasar, sebagai tiang agama. Untuk shalat kita butuh berwudhu dan itu membutuhkan air yang bersih. Adanya air bersih ditunjang sepenuhnya oleh tanah yang bagus, dimana di atasnya ada terdapat berbagai macam pepohonan yang cocok. Kita juga butuh mencintai dan melestarikan hutan, melestarikan segala hal yang bisa mendatangkan air bersih. Indah sekali cara orang Islam dalam memperlakukan air. Untuk bisa hidup, selain membutuhkan udara, tentu kita sangat tergantung dengan ayat Tuhan bernama air.

Kelak, saya memutuskan untuk menjadi seorang pencinta alam.

Ketika melakoni hidup sebagai pencinta alam, saya semakin mengerti bahwa kita butuh memberi perhatian lebih dalam memperlakukan air. Ini bukan hanya tentang irit atau boros dalam menggunakan air, melainkan juga tentang menjaganya agar tetap mengalir jernih, agar umat bisa shalat. Guru ngaji saya telah mengingatkan itu jauh sebelum bisnis air kemasan marak seperti hari ini.

Lihat, mereka manusia-manusia yang serakah begitu rakus menyedot air hanya demi melakukan penambangan -emas- secara membabi buta. Menjadi wajar jika dulu Gandhi berkata, bumi ini cukup untuk sebanyak-banyak manusia, namun tidak cukup untuk satu orang manusia yang serakah.

Untuk bisa memperlakukan air dengan baik kita butuh moral yang juga baik, sedangkan sumber moral yang baik bisa didapatkan dari agama yang kita yakini. Islam begitu mesra dalam memperlakukan air. Tentu saya mencintai apa yang saya yakini. Ia adalah agama yang membuat saya semakin mantab melakoni hidup dengan terus belajar bagaimana caranya menjadi pencinta alam yang baik.

Sedikit Tambahan

Jika perang bisa terjadi gara-gara sepak bola pada hampir setengah abad yang lalu antara Honduras dan El Salvador, maka menjadi sangat mungkin jika perang berikutnya adalah perang berebut air. Kita bisa belajar dari Wadi Nil, negara-negara yang dilalui Sungai Nil.

Air adalah penting. Mahluk bening ini begitu mempengaruhi berjalannya infrastruktur sebuah negara.



Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway I Love Islam

26 komentar:

  1. Namanya jg orang numpang tinggal d bumi ya mas,ya harusnya tau diri menjaga tempat mnumpangnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar sekali, kita kan numpang hehe...

      Hapus
  2. Perkara air dalam islam sangat menarik, salah satunya saat berhubungan dengan thaharah (bersuci)..

    Islam benar2 sempurnaa yaa..

    sukses giveawaynyaa..

    BalasHapus
  3. air penting banget buat kehidpan manusia ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Lid.

      Air adalah kebutuhan dasar yang harus ada jika kita ingin hidup. Tanah, air dan udara :) Itulah kenapa Persatuan Bangsa Bangsa mengatakan bahwa setiap negara bertanggungjawab menyediakan air bersih. Tanpa air, sebuah bangsa akan menjadi kacau.

      Hapus
  4. hehe ... jadi ingat masa kecil saat jadwal ngepel masjid malam jumat buat persiapan jumatan esok harinya, bukannya ngepel, malah srodotan di lantai, main air.
    Saat itu mana pernah mikir hemat air hehe ... Sekarang, ketika banyak peristiwa alam berkaitan dengan kesalahan manusia memperlakukan air, tanaman, sampah dan lain-lain, sungguh saya gak mau bila perang terjadi oleh sebab rebutan air atau apapun itu.
    Sukses dengan GA nya, ya, mas Hakim. Trims sudah mampir di blog saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu juga kesukaan saya ketika kecil dulu, ngepel sambil maen klesotan. Nikmat sekali rasanya, ia adalah tamasya yang murah :)

      Terima kasih kembali.

      Hapus
  5. Mengehemat air bagaikan menghemat uang belanja. Tidak percaya?

    BalasHapus
  6. Sekarang sudah mulai kritis nih air... Sekarang minum aja beli... Padahal sumbernya dari mata air gunung, kan dulumah gratis ituh :(

    BTW memang indah Islam mengatur segalanya sesuai harmoni alam.
    Semoga sukses GA-nya... Aku kemaren2 nulis ini, eh keburu jam 12 malem deadline, hehe tulisannya belum selesai :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu saya tidak pernah menyangka jika air juga akan bisa dikemas dan dijual. Ternyata bisa. Padahal di bawah kaki yang tanahnya kita injak ini ada berjuta-juta liter air. Harusnya gratis ya, hehe. Ternyata kita belum berdaulat atas air sendiri, investor ada dimana-mana :)

      Waaah, sama. Saya juga punya potensi seperti itu, suka meremehkan waktu.

      Terima kasih.

      Hapus
  7. Air memang salah satu sumber kehidupan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, air adalah komponen dasar untuk hidup, setelah udara tentunya. Namun semakin hari, air sebagai bagian dari hak asasi manusia semakin bergeser fungsinya menjadi komoditas bisnis dan politik. Menyedihkan :(

      Hapus
  8. Salam Takzim
    Postingan yang menarik dan perlu pembelajaran yang serius tentang kebiasaan menghentikan ngaji setelah memasuki bangku SMA perlu ada riset tersendiri tuh kang, hehehe
    Salam Takzim Batavusqu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. menarik jika dikaji ya Bang. Terima kasih, salam dari saya di Jember.

      Hapus
  9. Jamanku biyen, bensin seliter seharga 2500 rupiah ternyata air seliter kemasan sudah seharga 3000, logikanya gak masuk. Ternyata tetep bisa jalan dan jualannnya laris. Air itu lebih mahal daripada minyak bakar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah iyo Kang, kok iso yo *Sambi geleng-geleng*

      Hapus
  10. Islam itu untuk orang2 yang berfikir. Jadi setiap elemen yang ada di bumi sudah berfungsi sesuai porsi menurut takaran Alloh termasuk air. Allohu akbar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sependapat. Bagaimana kabar di sana Mbak? Kapan balik ke tanah air?

      Hapus
  11. Fiqh pertama yang diajarkan selalu fiqh thaharah. Betapa Islam menekankan pentingnya kesucian ya Mas :)

    Terima kasih banyak telah berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali Mbak Monika. Sukses buat giveaway-nya. Maaf saya ikutnya terakhir-terakhir, lama di pencarian ide sih, hehe.

      Hapus
  12. Menghemat air satu diantara cara memperlakukan air kan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu :)

      Terima kasih atas kunjungannya.

      Hapus
  13. "Apalah artinya gelar haji jika masih menyekutukan Tuhan dengan tuhan-tuhan kecil seperti uang dan perhiasan emas."

    "orang Islam butuh memperlakukan air dengan mesra dan romantis sebab air memiliki peran paling dasar agar manusia bisa berkomunikasi dengan Tuhan."

    "Menjadi wajar jika dulu Gandhi berkata, bumi ini cukup untuk sebanyak-banyak manusia, namun tidak cukup untuk satu orang manusia yang serakah. "

    Meskipun saya non Muslim, tapi ketiga kalimat yang saya ambil dari tulisan Mas Hakim bisa dijadikan untuk pedoman hidup yang lebih baik. Suwun artikelnya yang berfaedah ini.

    BalasHapus
  14. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? [QS. Al-Anbiyâ':30]

    BalasHapus

acacicu © 2014