22.4.14

Rindu Kicau Prenjak

22.4.14
Pagi dan secangkir kopi. Tak ada suara prenjak yang seramai dulu, ketika aku masih kecil. Lalu kau mulai beraksi, membangunkan si Odhol dan Korep. Kau bilang pada Korep, "Ayo bangun Bang, kita nikmati hari bumi. Kasihan si bumi, umurnya sudah tua. Ia sudah berusia 4.570 juta tahun." Aku tertawa saja melihat caramu membangunkan mereka, juga tentang bumi yang menua.

Rumah kita tepat di tepi jalan yang menghubungkan Jember dengan kota di sebelahnya, Bondowoso dan Situbondo. Suara berisik adalah sarapan telinga.Kita turut menyumbang kebisingan dengan canda tawa. Prit usreg, dia tergesa untuk gabung di acara hari bumi.

"Hari Bumi diundur tahun ngarep Nduk."

Hmmm, rupanya kau sedang serius ingin segera merapat. Oke, markipat. Tak lama kemudian kita sudah ada di antara kerumunan mereka. Ada banyak komunitas yang tergabung. Tak hanya pencinta alam. Ada juga persma dan kawan-kawan kesenian. Dari mural juga ada. Si Rizal Ajieb tak mau ketinggalan. Ia dari PA Gema Mahapeta Bondowoso, merapat ke Jember untuk menyemarakkan acara. Ada terlihat juga si Lita Dian, Sispala dari Banyuwangi.


Senyum - Dokumentasi oleh Faisal Korep

Kita berjalan beriringan hanya sekitar dua puluh menit saja. Selebihnya, kau sudah tampak sibuk, turut memegang spanduk warna putih untuk pengumpulan cap tangan. Kulihat dari jauh, wajahmu gembira sekali.

Adalah si Febri Arisandy yang menjadi korlap aksi damai ini. Di dunia PA Jember, Febri Arisandy lebih dikenal dengan nama lapang Banteng. Ia anggota aktif dari Iwena, sebuah pencinta alam yang ada di Universitas Moch. Sroedji Jember. Mulai dari start -di UNMUH Jember- Febri terlihat sangat sibuk. Apalagi ketika kawan-kawan stay di perempatan DPRD Jember. Sementara kawan-kawan melakukan aksi teatrikal cinta lingkungan, Febri menghadapi pertanyaan dari rekan-rekan jurnalis.

Bahagianya dirimu berjumpa dengan sahabat-sahabat jurnalis. Kalian saling bertegur sapa. Entah apa yang kalian perbincangan. Kadang aku turut mendekat, kadang hanya menikmati dari jauh. Aku menebak, kau pasti sedang bercerita tentang Novel Sang Patriot dan tentang rencana diskusi novel tersebut di Jember, pada bulan Juni nanti. Haha, ternyata tebakanku benar.

Ohya, kembali ke aksi damai di hari bumi. Aksi mereka tak hanya teatrikal dan pengumpulan cap tangan saja. Ada juga sosialisasi via sticker, orasi dan menawarkan beberapa macam bibit tanaman pada masyarakat yang tertarik untuk menanamnya. Serasi dengan tema hari bumi yang mereka usung. TOLAK EKSPLOITASI SDA - khususnya di Jember- yang membabi buta.

Dari perempatan DPRD Jember, aksi diteruskan ke titik akhir yaitu di Double Way Universitas Jember. Di sini masih ada aksi teatrikal, meskipun banyak juga yang lebih memilih berteduh. Hari semakin panas, sedangkan mereka telah sepakat untuk mengenakan kostum hitam-hitam.


Dokumentasi Pribadi

Siang yang terik di Double Way. Sebelum Febri Arisandy menutup acara, ia mempersilahkan para pihak untuk menyampaikan aspirasinya. Kemudian acara ditutup dengan doa dan salam lestari.

Kita tak bersegera pulang melainkan masih jalan kaki menuju Sastra. Sampai di tempat yang teduh, di samping kiri Gedung FKIP Universitas Jember, kita istirahat. Sementara Korep asyik hunting foto, si Bangker mengeluarkan beberapa kue dan bekal minuman dari dalam daypack-nya. Wew, serasa tamasya di pantai.

Belum setengah jam kami di sana, ada rombongan mengular yang melintas. Sebentar-sebentar mereka meneriakkan salam lestari. Kata Prit, mereka mahasiswa dari MIPA Biologi. Tapi di depan sendiri ada seorang mahasiswi yang mengenakan kostum reuse dengan slempang bertuliskan 'Lumba-lumba FKIP.' Dia terlihat ramah ketika dipotret dengan hape.

Mereka melakukan aksi di dalam kampus UJ secara mandiri, tidak tergabung dalam acara serempak yang kami ikuti. Namun tentu saja kami saling bersinergi, sebab cita-cita dan cinta yang diusung sama. Seremonial yang keren, semoga setiap hari.


Si Lumba-lumba

Kami melanjutkan jalan kaki menuju Sastra. Dalam perjalanan, Prit masih saja lincah. Ia riang sekali, padahal tak ada kicau burung prenjak. Ah, teringat kembali. Aku merindukan prenjak yang berdaulat atas diri dan kicaunya. Prenjak-prenjak kecil yang liar. Mungkin mereka juga sedang merindukan habitatnya seperti di waktu yang lalu, seperti yang ada di lukisan pemandangan.

Setelah Hari Kartini, ada Hari Bumi. Kemudian kita lupa. Merasa bumi sedang baik-baik saja.

Hai Prit, cerewetlah kepadaku esok pagi. Aku sedang merindukan kicau prenjak.

8 komentar:

  1. Selamat Hari Bumi, Mas Hakim. Terus terang saya baru tahu kalau ada peringatan tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Santai aja Mas. Ini kan memang kebiasaan baru, belum setengah abad :) Lahirnya dari Amerika Serikat sana, hehe. Hari Bumi nggak Hari Bumi yang penting happy yo Mas.

      Salam Lestari!

      Hapus
  2. selamat hari bumi...mbak prit disamakan prenjak ni yey...

    terus,,,mana foto abangku?????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, jangan bilang-bilang Mbak Prit ya.

      Bang Korep kan yang motret, jadi foto dirinya sedikit :)

      Hapus
  3. suara 'prenjak' memang ngangenin ya Mas, hehe. Memang eksploitasi SDA di Bumi sudah sangat mengkhawatirkan, demi keinginan manusia serakah. Harusnya ga gitu2 banget ya.. Salam lestari!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata Almarhummah Ibu saya, jika ada suara prenjak pertanda akan ada tamu yang singgah ke rumah kita. Jadi filosofinya mirip dengan kupu-kupu, hehe.

      Mari sadar energi dan memanfaatkan SDA sesuai dengan kebutuhan, bukan keserakahan.

      Maturnuwun Mas Belalang. Lestari!

      Hapus
  4. selamat hari bumi dan salam lestari....so sweet and reviving as well...on-and-only-earth entah sudah sejak kapan menangis...mudah-mudahan manusia, termasuk saya, selalu ingat bahwa bumi ada untuk dijaga, dicinta...cheers...

    BalasHapus
  5. Selamat hari bumi...
    Prenjak memang "ngeciprit" ya?
    Semoga saja keriuhan prenjak akan dapat memeriahkan hari2 kita di masa2 yang akan datang.

    BalasHapus

acacicu © 2014