9.4.14

Sedangkan Kau dan Aku

9.4.14
Dingin sekali malam ini. Kau terhanyut pada sebuah buku setebal satu setengah centi meter, demi menaklukkan kebodohan di bidang hukum-hukum perdata. Kau bilang, "Aku sedang butuh memahami bidang ini. Bukan untuk apa-apa. Aku hanya benar-benar sedang butuh memahaminya."

Sepi. Biasanya ketika kau sedang membaca, ada lantunan lagu si Robert Nesta Marley. Tidak kali ini, entah kenapa. Padahal seringkali, diam-diam aku turut merapalkan tiap-tiap liriknya.

"Emancipate your self for mental slavery, none but our self can free our minds."

Setiap kali kita megap-megap dan hampir rela menukar kemerdekaan dengan kenikmatan hidup, lagu seperti itu selalu tampil. Ia terdengar merdu di waktu yang kritis. Ketika semua kembali terlihat baik-baik saja, aku dan kamu kembali saling mengingatkan akan langkah keseharian. Yang sederhana saja. Hmmm, padahal sederhana itu sebentuk kata yang relatif. Kata yang menunjukkan bahwa sesuatu masih ada di ambang kewajaran. Tidak kaya, tidak miskin, tidak pula terlalu indah, namun tentu tetap berpikir merdeka.

Belasan tahun yang lalu, orang-orang yang lebih tua selalu memberi tekanan pada sebuah kalimat. "Suatu hari nanti ketika kau seusiaku, ketika hidup mulai menerjang, maka kau akan belajar banyak tentang pemakluman-pemakluman." Manakala menemui kalimat senada, aku selalu memelihara keyakinan di hati, "Biarlah aku mencoba sekuat tenaga untuk hidup seperti yang aku inginkan, hingga sekarat lalu dilupakan."

Hari berganti, ada banyak hal yang terlewati. Kini usiaku setara dengan usia dia yang pernah mengucapkan itu, belasan tahun yang lalu.

Aku masih memelihara keyakinan, masih memoles hidup seperti yang aku inginkan. Kadang terjatuh, luka dan dihina.

Kukira menjalani hidup berdua denganmu akan mempertemukan pada pemakluman-pemakluman yang seperti itu. Ternyata tidak juga, sebab keyakinan kita sama. Namun bahkan ketika keyakinan kita seiya, ketika batas toleransi kita tak serupa kompromi, masih saja aku maupun kau sering bertabrakan dengan kesalahan, terpeleset, jatuh dan kembali jadi bulan-bulanan hina. Sementara ada saja satu dua yang bertepuk tangan, kita merangkak bangkit dan kembali bersiap memperlakukan hidup, memperlakukan kejujuran hingga bisa merayakan merdeka.

Jujur dan merdeka, mereka adalah sesuatu yang harus dijaga. Sedangkan kau dan aku, kita adalah sepasang pembelajar yang tak kunjung pandai.

Ketika 'hanya ingin berbagi' menjadi terlihat mahal..

16 komentar:

  1. Kadang berprinsip menjadikan kita berada dalam lingkaran yang terpisah dari dunia luar. Namun ada jejaring tak kasat mata ibarat wi-fi dan internet yang menyatukan dunia-dunia orang yang hidup dengan prinsipnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami hanya butuh berjalan di setapak filosofis. Doakan semoga senantiasa bisa :)

      Hapus
  2. Serius sekali ya mas, tulisannya.. Gak kayak biasanya.. :)
    Agak bingung memahaminya saya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa? Maaf ya.

      Ini tentang sepasang kekasih yang ingin batas panjang lengan mereka tidak hanya untuk sebuah pelukan. Mereka ingin menjalani 'urip mung gawe kebecikan' namun ternyata tak semudah dikata.

      Perjalanan membuat sepasang kekasih ini yakin bahwa tak mungkin kita bisa merasakan merdeka jika takut dihina. Lalu mereka tetap menjalani hidup meski dengan ritme yang tidak sama, tidak pada umumnya.

      Hapus
  3. mencoba memahami tulisan ini.... dua tempat yg sering aku kunjungi, api kecil dan acicu... ternyata ada benang merah diantara keduanya...terlepas ttg apa tulisan ini, aku suka dgn kalian berdua....semangat kakak ^_^

    BalasHapus
  4. Bacaannya udah buku hukum, bukankah sudah jadi isteri Pak Hakim?. Hahaha

    Kakak, hidup ini penuh dengan keindahan, jika kita semua selalu berpikir positif.

    BalasHapus
  5. karena sejatinya perkenalan dengan pasangan tak pernah ada kata henti. kita bisa mengenalnya dengan baik tapi tak mengenalnya dengan tepat, setiap waktu bentuk pengenalan dan pemakluman itu kian menjadi sesuatu yang 'menantang'
    disitulah Cinta melakukan pekerjaannya.

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren sekali komentarnya. Suka.

      Hapus
  6. Bacaannya buku Hukum?. Bukanya udah lolos jadi isteri Ibu Hakim?. Hahaha


    Berpikirlah positif, Kakaa. Hidup ini indah. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke, siaaaap! Hidup ini Idah, eh, indah ding :)

      Hapus
  7. Sepasang pembelajar yang memiliki intregitas dalam jujur dan merdeka yang patut dijadikan panutan ya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya :)

      Hapus
  8. seneg moco tulisane sampean mas+lagu2ne,,
    tai iki ancen rodok bedo teko tulisan lione,,, sip (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maturnuwun. Tulisan iki rodok abstrak yo? hehe,sepurane.

      Hapus

acacicu © 2014