31.5.14

Dia Yang Merindukan Jember

31.5.14
Hai Indana Putri Ramadhani, semalam waktu pergi belanja ke Pasar Tanjung, aku bertemu dengan pacarmu. Ia sedang konvoi bersama kawan-kawannya sesama pencinta scooter. Memang, di setiap malam Sabtu, Jember ramai oleh klub-klub motor. Katanya, sepuluh hari lagi kau akan menghadapi ujian skripsi ya? Alhamdulillah, senang mendengarnya. Akan bertambah satu lagi lulusan FTP UJ Jurusan Teknologi Hasil Pertanian.

Di penghujung Mei ini, Jember dingin sekali. Sepulang dari Pasar Tanjung semalam, sementara istriku memasak di dapur, aku menghangatkan diri di depan layar monitor. Di sana ada kutemukan catatanmu tentang Jember, manis sekali.

Selamat malam Jember..

Terima kasih sudah mau menerimaku di sini sejak hampir lima tahun yang lalu. Kau tau, awalnya aku sangat benci berada disini. Aku tidak kenal siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Kemana-mana harus berjalan kaki. Dan lagi, kebanyakan penduduknya adalah orang Madura yang intonasinya cetar membahana. Selain itu juga minimnya hiburan yang ditawarkan.

Di sini tidak ada Mall ataupun XXI, padahal aku hobi nonton bioskop. Belum lagi dandanan cewek-ceweknya. Rambut panjang rebondingan dengan baju-baju ketat berwarna dengan motif mencolok.

Entahlah, kurasa aku salah jurusan.

Tapi setelah lima tahun berkubang, aku menyadari sesuatu. Kalaupun aku salah jalan, setidaknya aku tersesat di jalan yang benar. Di sini memang tidak ada Mall atau XXI, tapi warung kopinya banyak dengan harga sesuai kantong mahasiswi. Siapa yang butuh Mall jika kau bisa menikmati kopi dipinggir jalan. Intonasi orang-orangnya memang keras, tapi lebih tepat jika dibilang bersemangat.

Lalu masalah dandanan? Ah, sudahlah. Mungkin memang itu yang paling pas untuk mereka. Kalaupun mereka bergaya seperti orang-orang di kota kelahiranku, mungkin malah terlihat lebih aneh. Lagipula aku toh tetap nyaman-nyaman saja dengan kaos oblongku.

Kini aku begitu mencintai kota kecil ini. Begitu merindukan setiap detiknya.

Jember, i love you..

Kau masih muda, lahir pada 27 Maret 1992, catatanmu mendalam dan apa adanya. Sedangkan jarak antara Jember dengan kotamu tercinta --Surabaya-- hanya terpaut 199 km saja.

Ohya, aku suka apresiasi dari rekanmu yang bernama Bee Nona Rona.

"Sejak aku mengucapkan selamat tinggal untuk Jember, aku sangat merindukan kota kecil itu."

Indana, ketika kau dilahirkan, di tahun yang sama Jember wilayah kota sedang gegap gempita. Di sini berdiri sebuah Mall Matahari Dept Store di atas tanah Pasar Tradisional Johar. Kau tahu, ini adalah pusat keramaian modern pertama di kota santri. Tak lama kemudian, Johar Plasa juga dilengkapi dengan food bazaar dan XXI. Tampil sebagai bintang tamu Grand Launching Johar Plasa adalah seorang lady rocker asal kampung halamanmu, Ita Purnamasari.

Di sebuah daerah seperti Jember, keberadaan Mall adalah berita gembira. Ia ibarat lampu badai di belantara hutan yang gulita. Orang-orang belajar memujanya. Dimulainya lembar baru perdagangan modal besar ini memikat hati warga Jember. Di kampung-kampung, mulai terdengar perbincangan baru.

"Eh kalau beli celana mending di Johar Plasa, diskon duapuluh persen. Pakai merk ini dong. Kamu pengen tampil keren? Belilah ini atau itu."

Tiba-tiba banyak orang pergi ke Johar Plasa karena mereka menginginkan sesuatu, bukan karena mereka butuh dan harus membelinya.

Ketika itu aku masih abege, tentu aku mengerti budaya baru yang sedang terjadi di Johar, meski aku belum benar-benar bisa memahaminya. Kenapa ada orang yang diseret oleh Satpam hanya karena pergi membawa sabuk yang masih ada label harganya? Di tahun-tahun pertama keberadaan Johar, sepertinya Satpam sibuk sekali.

Indana, kau benar ketika berkata di Jember banyak sekali penduduk berbahasa Madura. Para dosen sejarah, mereka menggolongkan Jember hanya pada dua kutub mayoritas, Jawa dan Madura. Jember Utara mayoritas Madura, sedangkan Jember Selatan Jawa. Tapi Jember terdiri dari 31 Kecamatan. Di sini juga ada Suku Mandar, Using, Cina, Arab, India, selayaknya kota-kota yang lain di Pulau Jawa.

"Di sini memang tidak ada Mall atau XXI, tapi warung kopinya banyak dengan harga sesuai kantong mahasiswi."

Bicara tentang kopi, Jember juga punya Pusat Penelitian Kopi dan Kakao sejak 1911. Ia telah mendapatkan reputasi Internasional.

Benar, kini di sini memang tidak ada Mall atau XXI seperti yang kau maksud, Johar juga tak seramai dulu. Tapi warung kopinya banyak lagi murah. Tentu Indana mengerti, jika kita ada di sebuah warung kopi, masyarakat Jember mudah sekali berganti-ganti bahasa. Awalnya menggunakan Bahasa Jawa, lalu berubah menjadi Bahasa Madura, kemudian Bahasa Indonesia. Ketika ada pembeli kopi yang lebih tua dan ia ikut nimbrung, mudah bagi warga Jember yang lebih muda untuk memakai bahasa halus, Jawa maupun Madura. Fenomena ini mudah kau jumpai di warung-warung di tiga kecamatan kota. Untuk bicara angka-angka, tak jarang mereka menggunakan istilah Bahasa Cina.

Sebenarnya jika kita melihat dari sisi teritorial, akulturasi warga Madura lebih banyak ada di tempatmu. Orang-orang Madura yang ada di Jember, selain yang sengaja didatangkan Birnie di Abad XIX untuk tenaga kerja perkebunan, biasanya mereka adalah warga Sumenep. Datang ke Jember menyeberang dari Kalianget menuju Panarukan, kemudian melintas hingga melewati Kabupaten Bondowoso. Salah satu dari mereka adalah Sura'i dan Sulami, dengan buah hatinya bernama Durahem.

Aku semakin dekat dengan orang-orang perantauan ketika kuliah di kota sendiri. Bersama mereka, aku bisa memandang Jember dari sudut pandang orang lain.

Hal yang paling memusingkan adalah ketika ada kawan luar kota menanyakan tentang kuliner. Mau dijawab rudal kambing, nggak tega. Ketika aku menjawab wedang cor, pecel garahan, dan sebagainya, mereka masih memaksa untuk mendapatkan jawaban yang lain, seperti Bondowoso yang dikenal dengan tapenya. Lalu kukatakan bahwa di Jember tersedia aneka macam kuliner.

Kata Bebeh, yang khas dari Jember bukan masakannya, tapi keterbukaan kami terhadap keberagaman.

Jember tidak punya tokoh legenda heroik seperti Sakera atau Gajah Mada. Kalaupun ada biasanya dalam ruang yang kecil. Kami menitipkan kisah legenda pada sungai, gunung, gumuk dan segalanya. Barangkali ini yang membuat Jember berbeda, sebab ia tidak heroik. Seolah keberaniannya dititipkan pada nyanyian dedaunan. Datanglah ke Jember, kami tidak akan menanyakan apa agamamu dan dari suku mana. Asal kau tak bermaksud jahat, kami baik-baik saja.

Bukan berarti Jember tak pernah berdarah-darah. Keterbukaan pada keberagaman pernah sangat tercoreng oleh isu santet. Kasus duka limabelas tahun yang lalu tersebut tak kunjung diproses hukum hingga sekarang. Masyarakat Jember hanya berharap semoga itu tak menjadi sebuah luka sejarah. Sebab luka pernah menganga ketika ada gonjang ganjing politik di tahun 1965. Belum lagi tentang luka agraria. Semoga tak ada lagi luka budaya yang seperti itu, Amin.

Masalah dandanan orang Jember yang seperti itu? Hehe. Kau jeli sekali Indana.

Waktu kecil aku pernah berpikir, kenapa orang Jember suka berdandan ngejreng dengan warna-warna yang berani? Saat SD, ketika nonton karnaval rakyat, macam-macam dandanan yang dipertontonkan. Tebakanku, barangkali karena faktor sejarah. Jember diapit oleh dua budaya besar, Mojopahit dan Blambangan. Tentu nenek moyangku sering melihat adanya arak-arakan besar kerajaan. Seberbusa apapun para sejarawan berkata bahwa sebelum kedatangan Birnie Jember terisolir, toh di sini tetap ada denyut kehidupan. Birnie dan partner usahanya tak akan pernah mendirikan NV. LMOD di tahun 1859 jika ia tak terinspirasi oleh masyarakat lokal yang pandai meracik tembakau.

Kini, seiring JFC semakin mendunia, ia mengingatkanku pada renungan masa kecil. Sebab sejarah selalu berulang meski dengan kemasan yang tak sama. Ini hanya tentang ruang dan waktu.

Adapun dengan semakin maraknya penginapan di Jember, ia seperti sedang kembali ke masa lalu, dimana di waktu yang lampau tanah Jember adalah tempat persinggahan banyak orang, juga sebagai tempat untuk menempa diri.

Hai Indana Putri Ramadhani, di sini tidak ada Mall ataupun XXI. Namun rupanya Jember punya gelar baru, tak lagi kota seribu gumuk melainkan kota seribu waralaba.

Jadi ingat obrolan warung kopi. Di sana, sebuah guyonan baru telah lahir. Apa yang khas dari Jember? Tak lain adalah pusat perbelanjaan modernnya. Tapi sudahlah, abaikan. Itu hanya humor kami di warung kopi. Toh orang cerdas adalah orang yang membeli sesuatu sesuai dengan kebutuhan. Benar-benar butuh, demi menunjang hidupnya. Bukan karena ingin, bukan karena iklan, bukan pula karena iming-iming diskon.

Aku sendiri memiliki kebahagiaan jika harus mengantarkan istri ke pasar. Kami senang singgah di Pasar Tanjung.

Pasar Tanjung ada di pusat kota. Ia diresmikan di pertengahan era 1970an, ketika Jember masih dipimpin oleh seorang Bupati bernama Abdul Hadi. Berlatarkan Water Tower peninggalan Belanda, Pasar Tradisional dengan bangunan fisik tiga lantai ini terlihat mewah. Namun secara garis besar, ia sama saja seperti pasar-pasar tradisional yang lain yang ada di Kabupaten Jember. Banyak sudut-sudut pasar yang kotor. Menjadi sempurna dengan aroma yang campur aduk.

Kata Bapak, sebelum ada Pasar Tanjung, di lokasi yang berdekatan sudah ada Pasar Senggol. Tepatnya berlokasi di sepanjang Jalan Rasulta alias Raya Sultan Agung dan hanya buka di malam hari. Adapun Pasar Tanjung, dulu memang sudah berwajah pasar dengan los-los yang sederhana, dikenal dengan nama Pasar Jember. Pasar Jember hanya buka pada pagi hari hingga sekitar pukul tiga sore.

Era 1970an, warga Jember semakin banyak. Di sisi lain, kegiatan ekonominya mengalami perkembangan yang pesat. Barangkali itulah alasan mengapa Pemerintah Daerah merasa perlu untuk membuat pusat perdagangan, yakni Pasar Tanjung. Sampai di sini, jadi teringat pemikiran Pram.
"Semisal benar bahwa perdagangan adalah jiwa sebuah negeri, maka kita bisa melihat kesejahteraan kota kita dari pasarnya. Jika perdagangannya berkembang subur, maka bisalah kita menyebut kota yang memiliki pasar tersebut juga makmur."

Memang benar, negeri-negeri kecil menjadi besar karena perdagangannya, dan negeri besar menjadi kecil karena menciut perdagangannya. Ia akan menjadi buruk jika terlalu banyak pengacaunya, entah itu tengkulak entah itu lintah darat entah itu apapun yang menyebabkan lahirnya ketidakadilan di bidang perdagangan.

Masih menukilkan obrolan di warung kopi. Kami pernah mendiskusikan salah satu alasan kenapa Islam diterima di tanah nusantara. Sebab para pembawa pesan yang rata-rata pedagang, mereka tidak pernah curang dengan timbangan.

Bagaimana dengan wajah Jember? Sepertinya kota kecil ini butuh meninjau ulang wajah perdagangannya sendiri.

Pasar Tradisional adalah tentang manusia. Tentang budaya cangkruk'an sembari melakukan jual beli. Tentang seorang Ibu yang tidur di matras plastik sembari menunggu waktu yang tepat untuk bangun. Disini, orang-orang berkumpul sambil memahami perannya masing-masing. Ada penjual, ada pembeli dan ada interaksi. Hubungan langsung berpotensi untuk mengurangi ruang gerak tengkulak, meskipun toh ada jebol-jebolnya juga. Dari sini jiwa sosialisasi terjaga dengan manis, dengan caranya sendiri.

Indana, jika kau ingin belajar menggambarkan potensi fisik dan nonfisik dari suatu daerah, cobalah untuk singgah ke pasar yang ada di wilayah tersebut. Di sana akan ada gambaran umum mengenai sumber daya alam, sumber daya buatan dan sumber daya sosial masyarakat. Jika kau hanya ingin melihat sisi budaya dan sosial skill masyarakatnya saja, carilah pasar loak.

Kelak, jika sudah tiba waktunya untuk mengucapkan goodbye Jember, bersediakah Indana merindukan dandanan dengan warna mencolok dan gaya bahasa kami?


Warung Blogger


30.5.14

Dunia Alay

30.5.14
Namanya Nanda, ia masih SD tapi sudah memiliki facebook. Dalam kolom pendaftaran facebook ia mengganti tahun kelahirannya menjadi lebih tua. Beberapa kali singgah ke rumah, Nanda sering cemberut. Rupanya Nanda ngambek sebab saya tak segera menyetujui pertemanannya di facebook. Demi Nanda, jadilah saya mengkonfirmasi facebook atas nama Nanda Clalu Ctia ayank adam tokz west.

Nama facebook Nanda mengingatkan saya pada seorang sahabat muda, dengan nama facebook, FadilarekpunkBonekgebang Saklawase Yang Setiapadafanzberni. Nama itu masih ditambah lagi dengan nama lain di dalam kurung. Panjang seperti kereta, hehe.

Cerita yang lain. Kira-kira dua tahun yang lalu, Didin pernah bercerita pada saya tentang bagaimana ia bekerja keras untuk bisa menulis huruf-huruf alay hanya agar bisa enjoy bergaul dengan teman-temannya.

Tentu, saya memiliki segudang cerita tentang alay. Orang-orang yang singgah di rumah saya terdiri dari segala umur, yang terbanyak adalah mereka yang lahir di tahun 1990an. Tiga tahun yang lalu, ketika saya mengganti nama facebook menjadi 'Masbro Pada Bulan Sebelas' mereka tertawa-tawa.

Menurut pendapat umum, alay adalah sesuatu yang murahan. Alay adalah tentang orang-orang kampung yang norak. Bahasa Alay adalah sesuatu yang tidak jelas yang dipenuhi oleh simbol-simbol. Gejala ini meresahkan banyak orang, tak hanya pakar bahasa.

Alay, ia mengingatkan saya pada denyut kehidupan dunia blogger.

Di dunia blogger, dalam setiap giveaway yang diadakan, sering saya dapati persyaratan seperti ini.

"Menggunakan bahasa Indonesia yang baik, bukan bahasa 4L4y."

Alasannya jelas sekali, tulisan alay hanya memusingkan juri dan pembaca ketika mereka berkunjung ke blog yang dimaksud. Saya sependapat. Meski demikian, kadang saya tertawa membacanya. Mereka melarang para alay mengikuti giveaway namun menuliskan alay dengan 4L4y. Diksi yang kontra.

Saya juga pernah membuat judul kontradiksi, 4qu Cint4 Bah454 1ND0N35I4. Tulisan itu terinspirasi oleh salah satu artikel di Twilight Express yang berjudul, 4L4Y di J3P4N9.

Jadi ingat gurauan teman. Ia bilang, alay akan tetap ada jika kita mengingatnya namun tak berbuat apa-apa.

Di artikel Mas Ismail SM, pernah saya baca tentang tujuh kebutuhan psikologis remaja.

1. Kebutuhan kasih sayang (rasa aman dll)
2. Kebutuhan akan partisipasi dan diterima dalam suatu kelompok
3. Kebutuhan untuk berdiri sendiri atau mandiri
4. Kebutuhan untuk dihargai
5. Kebutuhan untuk berprestasi
6. Kebutuhan akan pengakuan alias eksistensi diri
7. Kebutuhan memperoleh falsafah hidup yang utuh (pendidikan karakter).

Semisal kebutuhan dasar itu terpenuhi, saya kira kita tidak perlu risau dengan budaya alay.

Giveaway dan Bahasa Alay

Ketika dimintai tolong menjadi juri sebuah giveaway, saya selalu membuat daya tawar pada panitia untuk tidak mencantumkan pelarangan Bahasa Alay pada persyaratan lomba. Mereka setuju. Anehnya, meskipun tak ada kalimat, "Menggunakan bahasa Indonesia yang baik, bukan bahasa 4L4y," saya sebagai juri tidak pernah menerima tulisan salah satu peserta dengan format alay.

Kenapa saya membuat daya tawar seperti itu?

Istri saya pernah menebak. Katanya, kemerdekaan berpendapat dan berekspresi adalah Hak Asasi Manusia. Jadi, jika ada yang mengintimidasi kemerdekaan berpendapat dan berekspresi, kita menjadi seperti tidak sedang hidup di negara demokratis lagi. Saya tertawa mendengarnya.

Alasan saya sederhana, lebih pada memberi penghargaan pada kawan-kawan muda seperti Nanda, Fadil, Didin, Ica, Poetri dan lain-lain untuk berani menulis. Jika belum apa-apa mereka sudah dilarang, tentu mereka akan membenci dunia literasi. Toh tingkat keterbacaan dan kenyamanan tentu juga menjadi prasyarat penjurian.

Di dunia nyata, saya memiliki kesempatan penuh untuk menemani mereka agar santun dalam menulis. Tapi di dunia maya yang serba cepat dan seringkali tidak diiringi dengan telaah yang tepat, kesempatan saya untuk menemani mereka menjadi sedikit. Semoga saja mereka yang saya kenal mengerti bahwa di dunia maya pun butuh yang namanya etika dan estetika. 

Adapun tentang giveaway yang memberlakukan larangan Bahasa Alay, saya tidak pernah menyatakan keberatan kepada mereka. Saya mengerti, inilah dunia blogger. Ia dipenuhi oleh kesepakatan-kesepakatan tak tertulis.

Gejala alay meroket seiring kejutan-kejutan di bidang teknologi, musik, serta pengaruh media arus utama. Tidak bisa kita melihat gejala alay pada alay-nya saja. Sama seperti Dunia Selfie, kita butuh memandang alay dari berbagai sisi, baik teknologi, sosial, budaya, peran orang tua hingga pada pendidikan. Adakah sesuatu yang salah? Jika ada, mari kita perbaiki bersama-sama.

Salam saya, RZ Hakim

29.5.14

Dunia Selfie

29.5.14
Seorang sahabat blogger bernama Mochammad Sholeh Akbar, sepertinya ia sedang tidak nyaman dengan maraknya foto selfie di dunia maya. Tentu ia akan sering memandang foto-foto selfie yang bertebaran itu sebab kesehariannya hampir melulu di depan layar monitor.

"Buang-buang energi saja ngurusi orang selfie."

Begitu bentuk kalimat pembuka yang Sholeh tuliskan. Kalimat itu ditutup dengan sebuah emoticon yang melambangkan kemarahan. Saya yang baru jalan-jalan di desa, kemudian pulang dan menyempatkan online, mulanya biasa saja dengan update tersebut. Namun sepertinya Sholeh serius.

Apakah itu hasil perenungan Sholeh sendiri? Atau ia sedang marah pada seseorang? Bagi saya, selama tidak ada keterangan yang jelas, tak ada nama yang disebutkan, tentu publik akan beranggapan itu adalah hasil olah pikir penulis.

Saya mengerti, banyak sekali komentar satir perihal foto selfie. Tafsirnya jelas, dimulai dari kata selfish atau egois, mementingkan diri sendiri. Akan tetapi, benarkah demikian? Catatan ini tidak untuk bersarkasme ria pada para selfier's tidak pula hendak membelanya. Saya hanya ingin melihatnya dari sudut pandang saya sebagai blogger.

Sekilas Tentang Selfie

Tahun lalu, di fimela ada saya baca artikel tentang selfie. Mereka memberinya judul, "Selfie, kata paling penting tahun ini!" Dalam artikel pendek tersebut dibahaslah hal mengejutkan dari kamus Oxford yang ketika itu --2013-- menjadikan kata selfie sebagai word of the year. CNN menulis, kata selfie muncul pertama kali di sebuah chat room, September 2002, di Australia. Ia juga menambahkan, selfie adalah fenomena budaya modern yang sebenarnya memalukan.

Apresiasi berbeda muncul dari Guardian. Ia berasumsi bahwa selfie adalah fenomena budaya yang sebenarnya sudah dimulai beribu tahun lalu, ditandai dengan peristiwa narsistik dimana saat itu Julius Caesar meletakkan lambang wajahnya di atas koin kuno. Jika dilihat dengan pola pikir yang sempit, tentu lambang wajah Julius Caesar di sebuah koin tidak masuk kategori selfie sebab tidak berhubungan dengan kamera. Sedangkan kamera sendiri berhubungan dengan teknik lubang jarum, gagasan dari seorang Aristoteles di tahun 336 SM. Saat itu dia memperkenalkan teknik lubang jarum, bahwa cahaya yang melewati lubang kecil akan membentuk kesan atau image.

Di luar Julius Caesar, orang-orang akan menghubungkan selfie pada foto diri seorang Robert Cornelius yang hidup di masa 1809 hingga 1893 dan atau foto Grand Duchess Anastasia Nikolaevna di tahun 1914.

Dunia Blogger Yang Saya Kenal

Sebelum memasuki ranah blogging, saya masih menimbang-nimbang baik buruknya. Saya berpikir tentang lupa waktu, termanjakan fasilitas dalam menulis, mata yang mudah lelah, kemudian terhanyut. Terhanyut yang saya maksud adalah masa-masa dimana saya akan lupa menulis dan lebih mementingkan blogwalking.

Pada akhirnya saya benar-benar menjadi seorang blogger, sangat menikmati komentar perdana dari blogger lain, serta senang berkenalan dengan banyak orang yang multi background alias beragam latar hidupnya. Bewe atau blogwalking menciptakan ruang komunikasi. Tentu, adanya interaksi akan berpotensi membangun sebuah empati dan kedekatan emosional. Menjadi blogger membuat sayap saya semakin melebar, berkarya dan menambah saudara.

Akan tetapi..

Semua di dunia ini ibarat yin dan yang. Sisi positif dan negatif seakan saling berpelukan. Tanpa disadari, saya mulai terjebak untuk menulis opini yang subyektif. Maksudnya begini. Ketika saya ingin menulis tentang kebobrokan sistem pendidikan di Indonesia, misalnya, tiba-tiba alam bawah sadar saya mengarahkan pada sosok-sosok blogger yang juga seorang pendidik. Bagaimana kira-kira pendapat mereka? Apakah akan sakit hati? Lalu saya urungkan niat untuk menuliskan itu. Mungkin saya akan tetap menulis, tapi di media yang lain.

Ini buruk. Seharusnya, sebagai seorang penulis di blog, apapun yang terjadi saya harus tetap tega menyampaikan kebenaran dan tetap menulisnya sesuai fakta yang saya kumpulkan.

Sederet kalimat yang saya dapati di blog Mak Irul cukup membuat saya berpikir. Lama sekali saya merenungkannya. Ia yang juga seorang pemanah pernah menuliskan ini di salah satu catatannya.


Kadang kita harus menahan diri untuk tidak melepas anak panah karena menghormati teman yang sedang lewat padahal bidikan kita sudah bagus-bagusnya. Bahkan anak panah pun hanya 6 buah. Lebih lama mengumpulkan anak panahnya daripada melepasnya. Bahkan kita juga harus jeli melihat situasi kondisi. Ada angin tidak? Ada orang lewat tidak atau jangan melepas anak panah jika kamu hanya ingin terlihat hebat, begitu kata sang abdi dalem Kraton tersebut. Memang ada kelegaan luar biasa ketika kita melepas anak panah apalagi jika tepat sasaran. Saya rasa begitu juga ketika kita menulis di blog. Lega luar biasa ketika sudah menuliskannya.

Saya kira, Mak Irul sedang mengingatkan kita semua bahwa kita bebas menulis di blog personal dengan tulisan bergaya apapun dan mengusung gagasan apa saja. Namun ia menekankan, ada baiknya kita juga berpikir tentang etika, tentang komunikasi dan tentang sikon ketika publish sebuah tulisan.

Di dunia blog, sifat rendah hati adalah utama.

Bagaimana Dengan Selfie?

Adalah Uniek Kaswarganti yang akrab saya panggil Bulik ini, ia juga turut memberi komentar pada apa yang dituliskan oleh Sholeh di jejaring sosial facebook.

"Buat saya selfie tidak buang energi. Selfie itu urusan perduli, baik pada diri sendiri maupun moment yang ingin dicapture."

Semisal ditanya, apa tanggapan saya pada budaya selfie yang semakin tampil trendy ini? Pastinya akan saya kembalikan pada masing-masing pelaku selfie itu sendiri. Selama mereka tidak malu dan tidak sedang ingin menyakiti siapapun, silahkan. Selfie bukan tindak kriminal. Akan baik semisal pengunggah foto selfie juga memperhatikan momentum, situasi dan kondisi.

Sebagai bahan tulisan ini, saya menyempatkan diri untuk bertanya pada dua Mahasisiwi Universitas Jember Angkatan 2010, Ahyes Alanjung dan Fitri Novianti. Menurut Fitri, "Dengan selfie rasanya lebih lucu, lebih kelihatan ekspresif. Yang paling menyenangkan adalah ketika foto bareng-bareng dan salah satu dari kita memotretnya secara selfie."

Seirama dengan Fitri, Ahyes menambahkan apresiasi tentang selfie.

"Selfie membuat saya merasa cantik dan bebas berekspresi karena kita sendiri yang memotretnya."

Melawan Dengan Selfie

Jika melihat situasi saat ini, dimana seluruh warga Indonesia sedang memiliki hajat massal menjelang Pemilu Presiden, saya tidak terkejut manakala salah satu Partai mengadakan Lomba Foto Selfie demi menarik simpatisan dari kalangan potensial, kawula muda. Kiranya mereka mengerti bahwa para selfier's bisa berubah wujud menjadi kekuatan.

Hari Bumi yang lalu --22 April 2014-- NASA membuat ajakan yang unik. Mereka mengundang semua orang di muka bumi ini untuk berselfie ria tepat di Hari Bumi. Hanya dimulai dengan pertanyaan, "Where are you on Earth Right Now?" Ajakan tersebut mampu menghimpun foto selfie sebanyak 36.422 buah dari partisipan di 113 negara di lima benua. File gabungan foto-foto itu mencapai 3,2 gigapixel.

Memang saya tidak melihat adanya korelasi antara pengumpulan foto berhastag #GlobalSelfie ini dengan kelestarian bumi. Akan tetapi, pesan yang disampaikan manis sekali. Bahwa di dunia ini ada sebuah hari yang disepakati sebagai Hari Bumi. Setidaknya itu saja sudah cukup membuat semua orang berpikir bahwa bumi juga butuh cinta.

Hari ini, 29 Mei 2014, negeri kita sedang memperingati Hari Anti Tambang, bertepatan juga dengan 8 Tahun Lumpur Lapindo. Dapat saya bayangkan semisal para selfier's senusantara membuat karya sederhana sambil membawa selembar kertas bertuliskan segala hal tentang cinta lingkungan, tentu akan indah.

Dunia Selfie

Dalam sebuah catatannya di blog, Andreas Harsono pernah menuliskan pandangan Crampton perihal generasi internet. Berikut cuplikannya.

"Crampton menganggap generasi internet adalah semua orang kelahiran 1984 ke atas. Orang macam saya, kelahiran 1960an, dikategorikan "internet migrant" karena kami baru memasuki wilayah internet sesudah kami dewasa. Kami adalah "pendatang" --bukan "penduduk asli" kawasan internet."

Dunia selfie, tentu juga milik semua orang, teristimewa generasi kelahiran 1984 ke atas. Masa muda mereka ditandai dengan ledakan teknologi di bidang informasi, serta smartphone. Tidak bisa kita melihat selfie pada selfie-nya saja. Kita butuh memandangnya dari berbagai sisi, baik sosial, budaya, hingga pada pendidikan. Pandangan yang luas akan mengantarkan kita pada wawasan yang juga luas, serta penilaian yang tidak gegabah. 

Jadi kesimpulannya, selfie is not a crime. Selama si pelaku tidak malu, tidak menyakiti pihak lain, tidak lari dari kenyataan dan tidak berlebih-lebihan, saya kira semua baik-baik saja. Akan semakin bijak sekiranya selfie tak hanya mengikat momen namun juga menyampaikan pesan positif.

Terima kasih saya ucapkan pada Mochammad Sholeh Akbar atas inspirasinya.

Salam saya, RZ Hakim

28.5.14

Stasiun Ajung: Bahkan Google Tak Mengenalinya

28.5.14

Reruntuhan Stasiun Ajung

Jika tidak diyakinkan oleh rekan-rekan dari Kecamatan Kalisat, mungkin saya tidak akan percaya jika gundukan yang saya pijak dulunya adalah sebuah stasiun kereta api. Posisinya yang berada di tengah ladang, reruntuhan bangunannya yang hampir rata dengan tanah, juga tidak tampak satu garis pun rel kereta api, membuat saya bertanya-tanya, benarkah ini bekas stasiun kecil?

"Dulu di sini sebuah stasiun kecil di Jember. Namanya Stasiun Ajung, sebab ia ada di Desa Ajung Kecamatan Kalisat, Jember. Tadinya ada dua bangunan kecil, satu untuk ruang naik turunnya penumpang, satunya lagi semacam gudang."

Meskipun saya yakin si Oldis mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, namun rasa kurang percaya masih menggelayut di hati. Dimana rel kereta apinya?

"Dua bangunan tua itu runtuh sekitar tahun 2007, ketika saya masih SMP."

Arifin, rombongan termuda dari kami berlima, ia juga coba angkat bicara. Disusul kemudian oleh Ivan.

"Segala hal yang berbau besi dan bisa diloakkan, semuanya lenyap, kecuali jembatan di ujung sana. Mula-mula yang diambil adalah genting bangunan, lalu kayu-kayunya yang dari jati tua, kemudian merambat ke besi rel. Di sini kan sepi, di tengah sawah, kesempatan untuk mengambilnya menjadi lebih mudah. Kalau ingin melihat rel yang utuh, yang di dekat jalan raya."

Ivan benar tentang jembatan. Di sini masih ada tersisa rangka besi meski besi rel kiri kanannya sudah tinggal cerita, baut dan mur pun sudah tidak genap lagi.


Jembatan di Stasiun Ajung

Di sini, di atas jembatan kereta api, saya teringat kembali hasil obrolan saya dengan Dainuri ketika ia bertutur tentang wajah Jember era 1970an. Interview sederhana itu kami lakukan pada 21 Desember 2013 yang lalu.

Dari Dainuri saya mengerti jika di tahun 1977, orang-orang Jember wilayah utara masih aktif memanfaatkan transportasi kereta api dari Stasiun Jember hingga Stasiun Panarukan. Berikut adalah pos-pos yang harus disinggahi; Berangkat dari Stasiun Jember menuju Stasiun Kotok, lalu singgah di Stasiun Kalisat, kemudian Stasiun Ajung, Stasiun Sukosari, Stasiun Sukowono, Stasiun Tamanan, Stasiun Grujukan, Stasiun Bondowoso, Stasiun Tenggarang, Stasiun Wonosari, Stasiun Tangsil, Stasiun Widuri, Stasiun Bagur, Stasiun Situbondo, Stasiun Tribungan, baru kemudian tiba di Stasiun terakhir, Panarukan.

Masih menurut Dainuri. Pada waktu itu kereta uap dikenal dengan nama spoor hitam, sedangkan kereta diesel, yang dianggap lebih modern, sama seperti kereta saat ini, ia biasa disebut Spoor balas. Era 1977 hingga 1979 adalah masa transisi dari spoor hitam atau uap menuju spoor balas atau diesel. Dalam sehari, keduanya memiliki jadual keberangkatan 2 kali PP Jember - Panarukan, pagi dan sore.

Biasanya, kres antara spoor hitam dengan spoor diesel terjadi di Stasiun Bondowoso. Itu kalau kecepatannya sama-sama normal. Jika tidak normal, biasanya kres terjadi di Stasiun Tamanan.

"Stasiun paling indah adalah Stasiun Panarukan. Di sana saya bisa melihat pantai, gudang-gudang garam buatan Belanda, jalan Deandels, juga memandang kesibukan para penjual juwet, buah yang sekarang saya rindukan. Saya masih ingat, ketika kita membeli juwet, maka si penjual akan membungkus buah berwarna hitam anggur tersebut dengan daun waru."

Entah kenapa kisah-kisah itu berputar kembali di ingatan saya. Kisah dari seorang Dainuri.

Dia juga menuturkan bahwa biasanya di Jalur Bondowoso - Situbondo, sesekali kereta salipan dengan trem juga dengan lori. Trem menggunakan mesin diesel, sedangkan lori menggunakan mesin uap. Beda dengan trem di wilayah Jember Selatan, di sini fungsi trem tidak untuk mengangkut manusia, melainkan untuk mengangkut hasil tebu, sama seperti lori. Mungkin karena di wilayah utara ada lebih dari satu Pabrik Gula. Situbondo memiliki 3 Pabrik Gula; Panji, Asembagus dan Wringinanom, sedangkan Bondowoso hanya memiliki 1 Pabrik Gula yaitu di Prajekan.

Sambil melangkah menjauhi jembatan, saya memikirkan tentang jalur mati Kalisat - Panarukan. Menurut hasil googling, jalur ini ditutup pada pertengahan 2004 karena prasarna yang menua dan okupansi penumpang yang minim. Penutupan inilah yang menyebabkan stasiun kecil di Desa Ajung mengalami nasib buruk, dihempaskan sejarah dan ditikam rasa kepemilikan yang tipis.

Kini, yang masih beroperasi adalah Stasiun Kalisat. Ia melayani perjalanan kereta dari Kalisat menuju Bangil, dengan stasiun sebelum Kalisat adalah Stasiun Kotok. Pelayanan berikutnya adalah Jalur KA Kalisat - Banyuwangi Baru, dengan stasiun berikutnya --dari Kalisat-- adalah Stasiun Ledokombo.


Melihat batu bata yang tersisa

Dari reruntuhan bangunan, ada saya lihat jenis batu bata dan lepokan yang coraknya sama persis seperti di tempat lain. Terkecuali mungkin di puteran spoor di wilayah Kreongan, di areal Stasiun Jember. Puteran spoor adalah tempat memutar lokomotif ketika dulu masih berjalan satu arah, tidak bisa bolak balik seperti sekarang. Di sini, batu batanya lebih kecil, dengan ketebalan yang sama. Barangkali karena arealnya dibuat bundar.


Puteran Spoor di Kreongan - 2 Februari 2013

Puteran spoor beroperasi secara manual, dengan tenaga manusia. Ketika saya masih SD, masih sering saya jumpai lokomotif lawas yang diputar di sini. Warna lokomotifnya hijau muda perpaduan kuning cerah. Kini ia tak lebih hanya sebuah properti milik PT Kereta Api Indonesia.

Sejak dua tahun yang lalu, saya suka sekali menelusuri stasiun-stasiun kecil di Jember. Sampai detik ini, kondisi paling parah dan mengenaskan adalah Stasiun Ajung di Kecamatan Kalisat.

Dibandingkan dengan Stasiun Ajung di Jember Utara, nasib Stasiun Balung di Jember Selatan --yang juga sudah non aktif-- terbilang jauh lebih baik. Padahal jalur ini sudah non aktif sejak pertengahan tahun 1970an.


Stasiun Balung

Maaf, untuk foto Stasiun Balung, gambarnya agak buram. Saya memotretnya dengan kamera hape pada akhir November 2013. Ketika itu, saya mencoba mengorek cerita dari beberapa warga, diantaranya adalah dengan Bapak Slamet HS, seorang pensiunan kereta api. Beliau bertugas sejak tahun 1957 dan pensiun pada tahun 1987. Kata Pak Slamet HS, sejak tahun 1974, daya guna spoor kluthuk di Jember Selatan sudah mulai surut dan akhirnya benar-benar tak berfungsi.

Kembali ke Stasiun Ajung

Tak jauh dari stasiun, ada terlihat gudang besar milik Perkebunan Nusantara X PT Persero Kalisat. Jaraknya mungkin hanya kurang dari 50 meter dari reruntuhan Stasiun Ajung. Gudang perkebunan itu berupa bangunan kuno sisa nasionalisasi era kemerdekaan. Tentu, keberadaan Stasiun Ajung dulunya sengaja dihadirkan untuk mempermudah pengiriman sumber daya alam dari wilayah Jember ke Pelabuhan Panarukan lalu menuju Eropa. Tak heran jika secara fisik, peninggalan bangunan-bangunan kereta api dan perkebunan di Jember masih berwajah kolonial.

Ingatan saya melayang pada gagasan Kementerian Perhubungan Dirjen Perkeretaapian baru-baru ini. Jika benar mereka hendak membuka kembali jalur KA Kalisat - Panarukan, tentu akan indah sebagai penunjang aksesbilitas. Saya kira salah satu PR terbesar mereka ada di Desa Ajung wilayah Jember Utara.


Berdiri di sepanjang jalur kereta yang tak ada relnya

Hari sudah sangat senja ketika kami meninggalkan stasiun yang kini tinggal cerita tersebut. Kami tak langsung pulang, melainkan masih singgah di kediaman Kepala Desa Ajung. Di sana saya pinjam sarung, ngopi, makan mie ayam, memulung kisah-kisah sejarah, dua jam kemudian baru benar-benar pulang.

Stasiun Ajung, kini ia rata dengan tanah, bahkan google pun tak mengenalnya. Mesin pencari hanya mengenal stasiun sebelahnya --Sukosari-- yang dibangun pada tahun 1900.

Terima kasih reruntuhan Stasiun Ajung. Urusan kita belum selesai. Tunggulah, suatu hari nanti kaki ini akan kembali menapak ke sana.

Sedikit Tambahan

Tertarik ingin mengimajinasikan proses pembangunan Jember di era Birnie? Cobalah untuk menonton film yang dibintangi Johnny Depp, judulnya Lone Ranger. Ia terbilang sukses membawa saya untuk membuat sketsa perwajahan Jember sejak akhir Abad XIX hingga memasuki Abad XX.

Sedikit mengutip update status Andreas Harsono semalam; Amerika Serikat ada karena jaringan kereta api. Eropa bukan Eropa tanpa kereta api. Bagaimana dengan Jember?

24.5.14

Sop Ayam Rasa Cinta

24.5.14
Sampai tiga hari yang lalu, saya masih baik-baik saja. Tak ada keluhan apapun seputar kesehatan. Lalu, saya melayangkan satu artikel di blog personal ini. Judulnya, Stanley Matthews dan Sroedji. Kata seorang teman, postingan itu terlalu berat untuk dibaca. Saya maklum, khusus untuk data diri Stanley Matthews, saya memang terlalu banyak googling. Proses risetnya juga terbilang cepat, seperti bim salabim.

Sekitar dua jam setelah posting artikel tersebut, tiba-tiba ada masalah dengan perut. Rasanya sakiiit sekali. Sebentar-sebentar saya pergi ke kamar kecil, padahal sedang tidak diare. Semakin dibuat bergerak semakin terasa sakitnya. Mungkin saya sedang dikunjungi maag.

Sakit, mulas, perih. Malam itu saya keluarkan lagi apa yang tadinya telah termakan. Prit, istri saya, dia menangis tanpa suara.

Saya berjuang untuk tidur. Gagal. Saya terus mencobanya, dan berusaha untuk tidak banyak bergerak. Entah pada pukul berapa, mungkin pukul satu dini hari, datang dua adik saya, Rotan dan Acang. Sebelumnya mereka memang mendapat sms dari Prit, ia meminta tolong pada Acang dan Rotan untuk dibuatkan sop ayam.

Ohya, ketika perut saya sakit, Prit juga sedang tidak enak badan.

Hari sudah larut, sedangkan Prit tak siap dengan bahan-bahan untuk membuat sup ayam. Jadi, mereka berdua urung memasak, lalu kembali pulang ke khost.

Ari dan Odhol, dua adik saya di pencinta alam, mereka juga sedang menginap di rumah. Mereka membuatkan saya minuman anget 'Korean one gingseng granule tea.' Teh gingseng kiriman teman Ari tersebut tak berhasil membuat sakit di perut saya mereda. Tapi ia mendatangkan kebahagiaan kecil, sebab Ari mendidihkan airnya dengan trangia buatan sendiri, berbahan bakar spirtus. Rasanya seperti bikin teh di dalam hutan.

Tuhan mendengar doa saya tentang ingin tidur nyenyak. Saya melewatkan adzan subuh dengan pulas.

Pagi-pagi sekali, sambutan tidak datang dari kicau burung prenjak, melainkan dari rasa nyeri yang menggodam perut bagian kanan. Saya menghabiskan waktu seharian bersama sleeping bag.

Bebeh sahabat saya, ia tidak bisa ke rumah sebab di meja kantornya masih ada kerjaan yang menumpuk. Bebeh hanya berpesan pada Prit untuk membelikan saya madu. Sore hari menjelang maghrib, barulah Bebeh ke rumah. Dia ngomel-ngomel sambil tertawa sebab madu yang dibeli Prit adalah madurasa, satu sachet harganya seribu lima ratus rupiah. Lalu ia mengajak Korep keluar. Pulang-pulang mereka membawa sebotol kecil madu dan serenteng jamu-jamuan. Yang saya ingat hanya serbuk temulawak.

"Ojok sering-sering bedagang, gak usah ngopi disek, koen iki kurang banyu putih, opomaneh wes gak tau olahraga, bla bla bla..."

Bebeh, ia baik sekali.

Dini hari, Bebeh datang lagi. Ia ada di rumah hingga hampir subuh, saat satu persatu dari kami mulai tergeletak tidur.

Di pagi hari yang cerah...

Ini hari yang istimewa untuk adik saya di Pasuruan. Namanya Dinda, hari ini ia dan lelakinya melangsungkan pernikahan. Bapak dan Kakak saya tentu berangkat kesana. Si kecil Aldin turut bersama mereka. Saya di rumah, ditemani istri tercinta.

Kabar bahagia juga datang dari salah satu keluarga tamasya, Furaida Duri. Dia yang biasa saya panggil Sapi, hari ini melangsungkan akad nikah dengan Bayu Resky Akbar Pratama. Dulu ketika kami menikah, Sapi menyertai hingga ke Tuban. Ia membawa mobil, mempersiapkan ini itu dan seringkali ada di samping kami. Kini ketika Sapi menikah, saya terkapar.

Pagi yang cerah, secerah hati pasangan-pasangan baru. Selamat untuk Dinda, selamat untuk Furaida Duri.

"Mas, ayo makan dulu."

Hari ini Prit membuatkan saya sop ayam. Rasanya gurih, sedap sekali. Saya menikmatinya sambil mendengar lantunan suara Mayangsari. Sekali lagi, saya mengamini kata orang bahwa cinta adalah sederhana.

Ketika kau sakit, mengerang, kedinginan, gagal berjuang untuk tidur nyenyak, lalu ada tangan-tangan cinta yang setulus hati merawatmu, itulah semonumental dan sesederhananya cinta.

Pelan namun pasti, saya mematikan lagu lama milik Mayangsari dan menggantinya dengan dua lagu ciptaan sendiri, Zuhanna dan Untuk Bunga.


Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Cimoners

21.5.14

Stanley Matthews dan Sroedji

21.5.14


Publik Inggris tentu mengerti pada sosok Stanley Matthews, teristimewa mereka para pencinta sepakbola. Ia lahir di Hanley, 1 Februari 1915. Anak ketiga dari empat bersaudara ini memiliki seorang Ayah seorang tukang cukur dan mantan petinju profesional bernama Jack Matthews.

Apa hebatnya Stanley Matthews hingga saya tertarik untuk menulisnya?

Matthews kecil adalah hanya penggemar permainan sepakbola. Hidupnya saat itu bergantung kepada klub Stoke City yang mempekerjakannya sebagai seorang tukang cuci sepatu. Di ulang tahun yang ke-15, barulah Matthews mendapatkan kado dari Stoke City yang mengangkatnya menjadi pemain tim cadangan di Stoke City.

Sejarah mencatat, sepanjang karirnya, ia tidak pernah menerima satu kartu pun dari wasit. Sangat mengagumkan bagi seorang pemain sepakbola yang mengakhiri permainan pamungkasnya bersama Stoke City pada 6 Februari 1965, saat ia berusia 50 tahun. Sumber lain mengatakan, dia memainkan pertandingan terakhirnya pada tahun 1985, di usianya yang ke-70 tahun.

Sungguh sebuah etika yang layak kita renungkan dari seorang legenda sepakbola yang dijuluki The Wizard of the Dribble dan The Magician ini. Stanley Matthews, ia adalah legenda sepakbola Inggris dan juga milik dunia.

Sementara itu..

Bersamaan dengan tanggal lahir Stanley Matthews, di tempat yang berbeda, lahir seorang lelaki yang oleh orangtuanya diberi nama Mochammad Sroedji. Ia lahir di Bangkalan, Madura, ketika di luar sana Perang Dunia I baru setengah tahun berjalan. Sroedji lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di Gurah, Kediri, tepatnya di Dusun Kauman. Di sini ia menimba ilmu dasar, di Hollandsch-Inlandsche School. Di kemudian hari ia melanjutkan studinya di Ambachtsleergang.

Beruntung bagi Sroedji yang lahir di era paska pemahaman Politik Etis.

Sroedji masih sangat muda ketika tinggal di Jember, 23 tahun. Di sini ia bekerja sebagai mantri malaria di RSU Kreongan, dekat dengan pusat Kota Jember.

Di tahun yang sama, Stanley Matthews sedang memperkuat tim Inggris melawan kesebelasan Jerman. Di sini terjadi insiden yang pelik, ketika kesebelasan Stanley Matthews dkk dianjurkan untuk melakukan penghormatan salam Nazi. Saat itu Matthews berkata, "Kami tak akan melakukan itu bahkan sampai matahari tak bersinar kembali."

Namun, mereka sedang ada di situasi politik yang memanas. Mau tidak mau seluruh tim menerima usulan itu. Saya membacanya di Pandit Footbal Indonesia.


Gambar dari mesin pencari

Setahun kemudian, 1939, Sroedji menikah dengan Rukmini. Pernikahan mereka ditandai dengan dimulainya Perang Dunia II, sebuah konflik kemanusiaan paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.

Memasuki tahun kedua pernikahan, dunia dikejutkan dengan terjadinya penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbor, sebuah pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di pulau Oahu, Hawaii. Ia membawa Amerika Serikat ke kancah pertempuran.

Begitu Jepang menyerang Pearl Harbor, pemerintah kolonial Belanda otomatis juga terseret dalam peperangan itu. Belanda termasuk dalam Front ABCD; Amerika, Britain, China dan Dutch. Itulah kenapa ia terseret dalam Perang Dunia.

Bagaimana pandangan seorang Sroedji tentang peristiwa yang terjadi?

Ketika pertanyaan itu diajukan pada saya yang lahir dan besar di masa merdeka, tentu saya tidak tahu. Namun, bercermin pada pandangan umum masyarakat Indonesia kala itu, mereka berpikir bahwa yang berperang adalah Pemerintah Kolonial dan bukan rakyat Indonesia. Pemikiran itu yang membuat mereka enggan turut berperang, kecuali tentu saja para pihak 'pribumi' yang dekat dengan Belanda.

Di pemula era 1940an, sebelum Jepang bercokol di bumi nusantara, rakyat negeri ini melancarkan semboyan 'Indonesia Berparlemen' sebagai salah satu jalan agar Belanda menepati janjinya kepada kita ikut ambil bagian dalam pemerintahan. Namun seperti yang sudah-sudah, Belanda ingkar janji. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer --Gubernur Jenderal waktu itu-- menjanjikan untuk mengadakan perubahan konstitusi, hanya jika pemerintah kolonial Belanda memenangkan Perang Pasifik. Masalahnya, ia hanya sedang berjanji.

Lalu datanglah Jepang.

Di pembuka bulan Maret 1942, tentara Jepang di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, mereka mendarat di tiga tempat di Pulau Jawa. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyerah tanpa syarat. Banyak yang mengira jika Jepang akan membawa perubahan. Padahal telah terdengar oleh sebagian orang tentang sikap tentara Jepang ketika menyerbu Manchuria dan Tiongkok. Publik tidak bisa disalahkan. Mereka lebih sering mengandalkan berita dari koran dan radio. Sementara radio-radio waktu itu banyak yang menyiarkan tentang dua negara pembaharu, Jepang dan Jerman.

Propaganda dimana-mana. Salah satu cara Jepang, mereka memulai siaran radio Jepang dengan lagu Indonesia Raya.

Kondisi politik dunia sedang kacau, pun begitu dengan Indonesia. Kantor-kantor milik Belanda dirusak, barang yang dibutuhkan pihak Jepang tentu akan diambilnya pula, entah itu lemari, tempat tidur, piano, atau meja dan kursi. Bukan hanya warga Eropa (yang tinggal di Indonesia) saja yang bernasib buruk, etnis Cina juga terdampak. Ini erat kaitannya dengan Front ABCD; Amerika, Britain, China dan Dutch. Kantor-kantor Belanda dan toko-toko Cina, semuanya nyaris tak berpenghuni. Kosong melompong. Diawali dari orang-orang Jepang yang haus dan lapar, mereka menggedor serta mengambil apa saja yang dibutuhkan yang ada di dalam toko. Selanjutnya, perbuatan itu ditiru banyak orang. Berduyun-duyunlah barisan usung-usung di masa kacau.

Dapat saya bayangkan bagaimana kacaunya kerumunan massa yang ibarat semut tanpa ratu itu. Tak ada tokoh agama, polisi tak terlihat batang hidungnya, pintu-pintu penjara terbuka, sedang masyarakat awam terbius oleh harapan baru datangnya 'saudara tua.' Kiranya Jepang berhasil melancarkan serangan di lini propaganda.

Hari berganti, rakyat semakin mengerti tentang sikap orang-orang Jepang yang semakin meragukan. Secara naluriah mereka menunjukkan sifat 'penjajah' yang mengintimidasi, ingin dihormati secara berlebihan. Selamat datang penjajahan dalam wajah yang berbeda.

Rakyat sempat terlibat eker-ekeran dengan pihak Jepang mengenai cara mereka memandang kaum hawa. Lalu sampailah pada sebuah kesimpulan, lebih baik ada lokalisasi wanita tuna susila daripada seringkali terjadi Jepang berkeliaran di kampung memburu perempuan. Syaratnya, polisi tidak salah comot ketika mengumpulkan calon penghuni lokalisasi.

Ah.. Sangat benar jika segala bentuk penjajahan adalah menyebalkan. Ia akar dari situasi dimana hukum tidak lagi diperlukan dan keadilan menjadi utopis. Rukmini, istri Sroedji, tentu dirinya sangat mengutuk penjajahan. Itulah sebabnya ia bercita-cita ingin memiliki gelar di bidang hukum, Meester in de Rechten.

Menyadari turunnya respon masyarakat (disaat Jepang sedang butuh-butuhnya sumber daya untuk menyokong perang) maka Jepang melakukan propaganda terbaiknya untuk mewujudkan berdirinya PETA atau Pembela Tanah Air. Gagasan ini berhasil, meski tak lama kemudian PETA dibubarkan karena ternyata lebih bersifat menumbuhkan kesadaran kritis akan hak atas kemerdekaan bangsa. Sroedji tercatat sebagai anggota pendidikan PETA angkatan pertama, di akhir 1943.

Menjelang pertengahan tahun 1945, Perang Asia Timur Raya mulai tak terdengar gaungnya.

Sayup-sayup, ada satu dua orang yang mendengar terjadinya bom atom di Jepang, disusul tak lama kemudian dengan pembacaan teks Proklamasi di Jakarta sana. Tak semua warga nusantara mendengar dan memahami (saat itu juga) tentang situasi paling bersejarah ini, 17 Agustus 1945.

Datangnya Pasukan dari Negeri Stanley Matthews

Pasukan dari Negeri Stanley Matthews --Inggris-- datang ke Indonesia tak lama setelah kita memproklamirkan kemerdekaan. Inggris tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, sesuai dengan Perjanjian Yalta. Tugasnya di Indonesia yaitu untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya.

Seharusnya, itu menjadi tugas yang mulia, mengabarkan benih perdamaian.

Ada udang di balik batu. Pasukan Inggris, mereka juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintah kerajaan Belanda. Ini tentu saja akan mengembalikan status Indonesia sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan pasukan Inggris untuk tujuan tersebut. Akibatnya, timbul gejolak di hati rakyat Indonesia. Lahirlah gagasan pergerakan perlawanan rakyat, mereka melawan AFNEI dan pemerintahan NICA.

Kabar Stanley Matthews

Antara tahun 1939 hingga 1945, tepatnya pada pecahnya Perang Dunia II, Matthews bergabung dengan RAF, Angkatan Udara Britania Raya. Untuk sementara waktu, ia menggantungkan sepatu dan pergi berperang. Tak ada catatan rinci tentang saat Stanley Matthews melakoni peran tersebut.

Gejolak timbul dimana-mana, tak terkecuali di Surabaya. Kematian Aubertin Walter Sothern Mallaby, seorang Brigadir Jenderal Inggris, menyebabkan semuanya tampak semakin kacau. Gambar mobilnya yang terbakar saya dapati di KITLV. Ia tewas di Surabaya pada 30 Oktober 1945.


Saksi bisu kematian Mallaby

Kematian Mallaby mengundang Sekutu untuk memberikan ultimatum. Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby, ia mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Indonesia di Surabaya pada tanggal 9 November 1945 untuk menyerahkan senjata tanpa syarat. Bisa ditebak, esok harinya pecahlah pertempuran di Surabaya.

Stanley Matthews dan Sroedji

Saya membayangkan sekiranya dua orang ini, Stanley Matthews dan Sroedji, bertemu di sebuah warung kopi di tepi lapangan sepakbola, dimana ada anak-anak kecil sedang bermain bola. Tentu mereka akan menikmati suasana, salah satu ada yang menyapa, lalu timbullah interaksi. Entah apa yang akan mereka bicarakan. Dalam bayangan saya, mereka sedang mengeluhkan dampak perang.

Tiba-tiba saya teringat akan kisah Tuan Joop Hueting yang pernah dituliskan oleh saudara Ady Setyawan. Saya pernah menukilkannya di artikel berjudul; Kalisat, A Place to Remember.

"Jogjakarta, 1948, perang kota. Saat itu saya mendadak berhadapan dengan seorang anggota TNI. Masing masing dari kami saling menodongkan pistol, dan.... Kamu bisa melihat, siapa diantara kami yang lebih cepat menarik pelatuk. Dia gugur. Dia seorang Letnan. Namun bagaimana pun dia adalah prajurit dan saya juga prajurit. Tak ada pilihan lain, inilah dunia kami. Dia meninggal dengan terhormat."

Bagaimana jika Sroedji dan Stanley Matthews saling berhadapan tapi tidak di warung kopi dan tidak sedang di suasana yang damai? Apa yang pernah dilakukan Tuan Joop Hueting, seperti itulah yang akan mereka lakukan. Berbeda ketika mereka berjumpa di situasi yang teduh. Akan ada banyak topik yang bisa diperbincangkan. Bisa saja mereka terlibat engkel-engkelan hanya karena mengutuk kekerasan. Kemudian mereka saling pandang, lalu tertawa keras-keras sebab baru sadar jika mereka juga bagian dari 'kekerasan' yang dimaksud itu.

Seringkali, perang adalah situasi yang sulit dicerna oleh akal sehat.

Paska perang, yang gugur akan dikubur. Efeknya dirasakan oleh orang awam. Banyak sekali dampak yang diakibatkan oleh perang, tak hanya tangis dan kehilangan. Ia juga berwujud dalam bentuk kenaikan harga barang, sulitnya mendapatkan bahan-bahan pokok. Sumber daya alam seperti sedang menguap entah kemana, mulai dari rempah-rempah, sayuran, beras hingga minyak. Orang macam Sroedji tentu akan merasa terinjak-injak mata hati dan kemerdekaannya. Ia berjuang untuk memperlakukan kebenaran dan menegakkan tiang keadilan yang roboh.

Bagaimana dengan Stanley Matthews? Mungkin ia terperangah lalu berpikir, bukankah jika dicerna kembali, SDA adalah penyebab utama terjadinya perang? Terbunuhnya Brigjen Mallaby menambah satu poin alasan kuat. Bukan saja karena peristiwa itu menimbulkan kegemparan luar biasa, namun pihak Inggris merasa bahwa pihak Indonesia membunuh secara khianat salah satu putra terbaik Inggris, bahkan setelah Perang Pasifik usai.

Sroedji dan Stanley Matthews, jika saja mereka bertemu dalam sebuah pertempuran, tentu keduanya akan saling menyerang dan saling mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Dua-duanya sama-sama saling mengusung gagasan cinta tanah air dan bangsa, sama-sama berjiwa patriotisme. Yang satu mempersembahkan hatinya untuk kemerdekaan, yang satunya lagi 'berjuang' demi menegakkan kembali harga diri bangsanya.

Sroedji dan Stanley Matthews, mereka adalah dua kisah yang berbeda.

Pada akhirnya, Letkol Moch. Sroedji gugur di medan pertempuran, tepatnya di Desa Karangkedawung, Jember, di usianya yang ke-34 tahun. Itu terjadi pada 8 Februari 1949. Sedangkan Stanley Matthews, ia meninggal dunia pada 23 February 2000, di usianya yang ke-85 tahun.

Penutup

Indah sekali membayangkan persahabatan imaji --yang saya ciptakan sendiri-- antara Sroedji dan Stanley Matthews. Saya juga ingin seperti itu. Hanya karena saya tak akan pernah bisa berpihak kepada siapa pun yang menjajah bangsa lain, bukan berarti saya membenci orang/bangsa lain yang pernah merobek harga diri Indonesia. Kita telah merdeka, telah berdamai dengan masa lalu.

Sadar sejarah bukan berarti memelihara dendam. Ia lebih pada memperlakukan kemerdekaan dengan benar, mengantarkan pada kehidupan damai yang berguna, serta meluaskan wawasan agar lebih mencintai Tuhan, kemanusiaan dan alam.

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Kita diciptakan terdiri dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kita saling kenal-mengenal. Mari bersahabat, mari mengusung gagasan persaudaraan universal dan jangan sekali-sekali mencoba untuk menegakkan penjajahan, kapan dan dimana saja. Sebab penjajahan adalah sangat menyebalkan.

Sejatinya, hidup adalah tentang meraih kemerdekaan. Tidak merdeka sama dengan tidak bahagia.

Catatan


Bahan-bahan materi saya perkaya dari buku sejarah SD, otobiografi Dr. H. Soemarno Sastroatmodjo, Drama itu bernama sepakbola, serta googling di situs-situs berita yang menuliskan tentang Stanley Matthews.

20.5.14

Semua Adalah Pemenang

20.5.14
Ini tentang proses penjurian saya di Lomba Review sebuah novel karya Irma Devita. Tadinya saya sedikit kaget mendengar kata review. Yang ada di kepala adalah sebuah jurnal, hehe. Namun setelah dibicarakan bersama, saya menjadi paham. Review dalam hal ini lebih dekat dengan bahasa blog. Ia lebih sederhana, sesederhana resensi tulisan-tulisan yang menjelaskan isi/gambaran sebuah obyek (buku).

Lalu kami menulis salah satu persyaratan seperti ini:

"Gaya bahasa bebas dan jumlah kata tidak dibatasi. Menulis review novel di blog bukan berarti kita sedang mengerjakan skripsi sarjana sastra dengan bahasa yang baku dan berat. Intinya sih, nyantai dan mudah dipahami."

Tentu saya senang diberi kepercayaan sebagai juri di review novel karya Irma Devita. Menjadi juri review sama artinya dengan membaca sebuah karya dari berbagai sudut pandang. Tercatat ada 59 partisipan. Kesemuanya sedang mengikat makna dari apa yang telah dibaca, untuk kemudian disuguhkan dalam bentuk postingan.

Review dari partisipan nomor urut satu segera menghentak dan menyumbangkan pemikirannya --bagi penulis-- untuk meninjau ulang halaman 122. Partisipan nomor dua, tanpa babibu langsung menyodori kita dengan kalimat yang apik, "Bagaimanapun Sroedji bukan Rambo yang bertempur sendirian."

Bang Aswi memulai paragraf pertamanya dengan sebuah tanya, "Apa hubungan penulis novel dengan blogger-blogger Jember?" Lalu ia melanjutkan review dengan kalimat-kalimat anggun. Disusul kemudian oleh review berikutnya yang tak hanya mencermati maju mundurnya alur novel, namun juga tentang perubahan hidup yang disebabkan oleh datangnya pasukan Jepang. Sari Widiarti, ia terlihat senang mencermati romansa antara Sroedji dan Rukmini, dengan sebuah pasar sebagai latarnya.

Adalah Bunda Lily Suhana yang terbiasa menulis genre humaniora, dalam review novel kali ini ia berani mengikat makna. Memang, banyak diantara partisipan yang (menurut pengakuannya) tidak terbiasa me-review novel, seperti; Faisal, Cak Oyong, Melly Feyadin dan Kang Yayat Sudrajat. Tapi saya salut dengan bagaimana cara mereka meracik postingan.

Oke, lanjut.

Setelah Bunda Lily ada partisipan dengan nomor urut tujuh. Tulisannya diawali dengan menyegarkan kembali ingatan kita pada film Merah Putih yang dibintangi Lukman Sardi. Postingan berjudul 'Berjuang Sampai Mati' adalah partisipan berikutnya. Penyuguhannya yang panjang, disertai foto-foto, membuat kita lebih detail mencermati pesan yang hendak disampaikan. Hal senada juga saya jumpai di tulisan partisipan dengan nomor urut sembilan dan sepuluh. Keduanya dipenuhi dengan sharing informasi.

Saya dibuat terbahak oleh tulisan Cheila, Intan Novriza Kamala Sari dan juga Pungky. Ketiganya sama-sama tidak suka bidang sejarah, namun cara mereka 'membaca ulang' isi novel sungguh manis. Pungky bahkan berani menyampaikan ide cerdas tentang kurangnya sentuhan kronologi sejarah Indonesia diluar 'lingkaran Sroedji.'

Lomba review menjadi semakin semarak sebab pemilik BlogCamp juga turut meramaikan. Tentu ini menjadi sangat unik dan menarik, ketika seorang Purnawirawan Jenderal AD mengulas sejarah militer era revolusi.

Riski Fitriasari, ia memulai kisahnya dari cover novel Sang Patriot. Partisipan nomor 13 atas nama Susi Ernawati atau lebih akrab dipanggil Susindra, saya kira ia berhasil memahami novel dari banyak sisi, untuk kemudian mengolah referensi. Setelahnya ada sang pembuat sketsa dari Jogja. Ia mengingatkan penulis tentang slide story yang terasa padat, sedangkan novel ini hanya setebal 266 halaman. Di urutan 15 akan Anda jumpai sebuah review yang runtut dan sangat menarik, bersanding dengan detailnya pembahasan yang disuguhkan oleh partisipan dengan urutan 16, 19, 20, 21 dan seterusnya.

Salut dengan partisipan seperti pemilik blog Rumah Baca Tulis dan Mugniar's Note. Mereka tak pandai memahami Bahasa Jawa namun bukan berarti kering pemahaman. Ulasannya mengalir renyah. Di urutan 24 ada saya temui pemaparan yang lugas namun rinci, baik dari sisi karya sastra maupun muatan sejarahnya. Melly, Fitri, Pak Azzet dan pemilik blog Rumah Nayma melengkapinya dengan pitutur yang manis.

Sayang sekali, untuk partisipan ke-31 terpaksa harus saya diskualifikasi sejak di penjurian gelombang pertama. Maaf.

Di nomor urut 33 akan kita jumpai tulisan dari Armela Praninditya. Dengan santun, ia menambah deretan panjang mengenai ide atau saran tentang pembuatan catatan kaki untuk istilah-istilah asing. Berikutnya, partisipan ke-34. Menjadi menarik ketika membaca paragraf pertama milik Diana Kusumasari. Ia bercerita tentang JL. Sroedji yang bukan di Kabupaten Jember, melainkan di Kelurahan Ditotrunan, Lumajang. Hal menarik saya temukan juga di tulisan milik Yuniari Nukti. Ia seorang blogger kreatif yang menguasai dialog berbahasa Jawa Timuran, tulisannya padat.

Puloeng Raharjo, Sopyan Al- Nendes dan Damae Wardani, tampaknya mereka menaruh minat yang baik pada bidang sejarah. Sama seperti partisipan nomor 39. Selanjutnya, di tangan seorang blogger bernama pena Pendar Bintang, epos ini melebarkan sayap hingga ke Pulau Dewata.

Luckty Giyan Sukarno, ia rapi sekali membuat tulisan dalam bentuk semacam kolom-kolom, lengkap dengan tampilan ulang dua video yang berkaitan. Review selanjutnya dari Phie, padat berisi. Disusul kemudian oleh tulisan Preman Klender dan Adam Alfarisyi, lalu urutan ke-46. Runtut.

Warga Jember yang rumahnya ada di Jalan dr. Soebandi dan dekat sekali dengan Jalan Moch. Sroedji, ada juga yang turut menyemarakkan. Dialah Kang Sofyan. Setelah Kang Sofyan ada Ila Rizky Nidiana yang mengurai tuntas novel Sang Patriot. Hal menarik ditunjukkan oleh Nurul Fauziah yang membuka tulisannya dengan mencermati judul novel, dibandingkan dengan film yang berkisah tentang Prabowo Subianto. Keduanya memang memiliki judul yang sama --Sang Patriot-- namun tentu saja sama sekali tidak saling berkaitan.

Pemilik blog Story of Icoel menjelaskan dalam tulisannya tentang kegelisahannya pada rasa nasionalisme yang terlihat semakin tak sama lagi. Ia merekomendasikan buku ini untuk semua kalangan. Partisipan nomor 52 tulisannya detail. Dari Nurman, berurutan hingga partisipan terakhir, semuanya menampakkan sisi analisis yang detail. Tentu analisis yang baik akan membantu pembaca yang belum sempat (tidak ada waktu) membaca novel karya Irma Devita. Ohya, hampir lupa. Reni, partisipan nomor 56, ia memberikan banyak sentuhan religi pada ulasannya dan ia berhasil mengemasnya dengan gurih.


Semuanya tampil keren dan berkarakter. Bagi saya, semua adalah pemenang.

Namun, sudah menjadi kesepakatan bersama jika saya harus memilih dan memilah tiga sahabat blogger yang beruntung mendapatkan tali asih. Sebab itu, saya harus melakoni peran sebagai penilai.

Penilaian

Secara esensi, ada dua hal yang saya soroti dalam menilai ulasan sebuah novel. Pertama, tentang penggambaran isi novel tersebut. Berikutnya adalah dalam hal penyajian.

Bicara tentang penyajian, tentu juga termasuk pada kesesuaian dengan tema dan tingkat keterbacaan (diksi, alenia, tanda baca dan hal-hal sederhana yang berkaitan) hingga pembaca mudah menerima pesan yang hendak disampaikan. Akan menjadi lebih menarik jika ulasan dilengkapi perbandingan dengan karya lain, serta memberi penilaian yang kritis.

Bahasa Blogger memiliki karakteristik yang tidak sama dengan Bahasa Akademis. Ia lebih humanis, gurih dan terasa sisi personalnya, namun tetap tampil anggun dan menawan. Ini yang membuat saya melakukan penilaian secara bertahap, lebih dari satu kali membaca.

Terima kasih atas kepercayaannya. Saya melakukannya semampu yang saya bisa.

Pengumuman

Sesuai dengan yang dijanjikan, pada 21 Mei 2014 kami akan mengumumkan siapa saja tiga orang yang beruntung mendapat tali asih dari penulis novel, Irma Devita.

Sesuai kesepakatan, pengumuman tersebut akan dipampangkan di blog milik Uncle Lozz Akbar. Silahkan berkunjung di sana, saya sudah setor tiga nama.

Sedikit Tambahan

Para sahabat blogger, mewakili kawan-kawan yang lain, juga penulis novel, saya haturkan terima kasih. Saya mengerti, niatan sedulur semua adalah tidak sedang berkompetisi, melainkan untuk menyemarakkan acara ini. Menukil istilah Hanna, "Giveaway untuk kebahagiaan," maka seperti itulah adanya.

Sekali lagi, terima kasih. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Salam Merdeka!

18.5.14

Tak Ada Rock n Roll di Hape Bapak

18.5.14

Nokia 2010 firmware code NHE-3DN

Itu bukan hape saya, sumpah. Ia milik Bapak. Sengaja saya potret karena teringat Giveaway Cerita Hape Pertama. Tadinya saya akan bercerita seputar Ericsson tipe T10, ia adalah hape pertama yang saya punya. Tapi lha kok barangnya susah dicari. Waktu googling, saya menemukan gambar yang biasa saja, membuat tidak sreg di hati. Ya sudah, akhirnya hape milik Bapak ini yang jadi korban jepretan selfish.

Tak Ada Rock n Roll di Hape Bapak

Dibanding hape jaman sekarang, tentu Nokia 2010 dengan kode NHE-3DN ini berukuran lebih besar. Bobotnya 275 gram. Saya membacanya di Nokia Museum. Lumayan, sewaktu-waktu bisa dijadikan senjata.

Sebenarnya Bapak saya bukan pengguna hape yang aktif. Ini adalah pemberian temannya, sebagai infrastruktur pekerjaan mereka. Lebih tepatnya, untuk melipat jarak. Ketika pekerjaan rampung, hape masih di tangan Bapak. Selain kontak dengan partner kerjanya, tak ada lagi yang Bapak hubungi via hape.

Kini si raksasa keluaran tahun 1994 tersebut sudah beralih fungsi menjadi mainan si Aldin, keponakan saya.

Iya, Bapak memang gagap teknologi. Tapi ia tidak pernah sekalipun iseng, pura-pura nempelin hape ke telinga kemudian bermonolog. Padahal, waktu itu hal konyol tersebut sempat berpotensi menjadi trend di kota kecil kami.

Semisal hape ini dilengkapi dengan memori penyimpan musik, tentu Bapak akan mengisinya dengan lagu-lagu Tetty Kadi, AKA Band dan mungkin Rock n Roll. Kata Bapak, saat ia beranjak remaja di era 1960an, Rock n Roll adalah musik yang sensitif. Pemerintah melarangnya. Sayangnya, fitur hape ini sederhana sekali.

Tak ada Rock n Roll di hape Bapak.

Saya dan Ericsson T10

Maaf, no photo. Tapi saya tidak sedang berbohong.

Di akhir tahun 1997, Indonesia dihinggapi krisis moneter. Harga-harga melambung tinggi, persediaan barang nasional menipis, perusahaan pun bertumbangan. PHK menjadi trending topic. Sejarah mencatat, puncak dari krisis adalah kerusuhan yang meledak di bulan Mei 1998.

Saya dan kawan-kawan segenerasi di Jember juga kena getahnya. Ketika itu kami sedang semangat-semangatnya belajar -maaf- merokok. Harga eceran rokok Gudang Garam Surya 12 yang tadinya hanya 100 rupiah untuk tiga batang, melejit menjadi seratus rupiah per batang. Ah, abaikan saja bagian ini.

Aneh adalah ketika krismon berlalu, orang-orang menjadi semakin terlihat makmur. Ini terjadi antara tahun 1999 - 2000, ditandai dengan booming album perdana Sheila on 7.

Ketika itu saya bekerja di dua bidang. Yang pertama di Sport Cafe, bertempat di jantung kampus Bumi Tegalboto yang ramai. Pekerjaan berikutnya adalah sebagai penjual CD bajakan. Biasanya, siangnya jualan kaset bajakan, malam di cafe. Kedua aktifitas itu membuat saya bertemu banyak orang dengan beragam karakter. Senang rasanya ketika melihat seseorang yang membawa hape.

Waktu itu saya berpikir, pastilah dia orang yang penting.

Tak disangka, beberapa tahun kemudian Kakak perempuan saya membelikan sebuah hape second, Ericsson T10. Saya lupa kepastian tahunnya. Mungkin 2002 atau 2003.

Tadinya saya bingung, buat apa saya pegang hape? Siapa yang harus saya hubungi? Apakah saya harus menjadi pendengar setia sebuah radio kemudian aktif berkirim salam? Tentu tidak, toh masih ada banyak telepon umum dan wartel. Barulah kemudian saya paham. Kakak sedang berkoalisi dengan Almarhummah Ibu, mereka hanya berharap saya sering memberi kabar. Memang, dulu saya nyaris tidak pernah pulang ke rumah.

Kakak membelinya dari Mas Dian putra keluarga Pak Gandi, tetangga kami yang kerjanya memang jadi makelar barang apapun. Dari Mas Dian pula saya dianjurkan untuk beli kartu perdana XL. Maka belilah saya kartu yang dimaksud. Kartu XL di masa itu kemasannya mewah. Ia terkemas dalam wadah bulat seperti wadah kosmetik. Di bagian atas, warnanya bening transparan, berpadu dengan alasnya yang berwarna kuning.

Bersama Ericsson T10 warna merah, saya bingung mau menghubungi siapa.

Hape jadul milik Bapak dan hape pertama milik saya, mereka sama-sama tak mengenal Rock n Roll. Keduanya juga tak dilengkapi kamera. Tapi ia handal dalam hal menyimpan cerita. Tentu bukan dalam bentuk gambar. Kadang saat tak sengaja meliriknya, saya jadi ingat lagu-lagu slow rock di akhir 1990an.

Sedikit Tambahan

Ericsson T10 kini hanya tinggal cerita. Saya lupa bagaimana ending hape tersebut. Yang saya ingat, setelah itu saya lumayan lama tidak pegang hape. Hape berikutnya adalah Siemens M35i.

Hape saya saat ini adalah pemberian sahabat. Ia jarang sekali saya gunakan untuk sarana komunikasi. Justru fitur kameranya --dua mega pixel-- yang lebih sering saya gunakan.

Sebagai penutup, akan saya selipkan penampakan hape yang kini setia menemani saya berburu capung.

Salam Rock n Roll!

Hape Rock n Roll:

 photo nokiakecil_zpsf8d10d8f.jpg

Nokia 2700 Classic - Di sini juga tak ada Rock n Roll ding, hehe. Hanya ada lagu-lagu ciptaan saya sendiri.



16.5.14

Kalisat, A Place to Remember

16.5.14

Stasiun Kalisat - Dokumentasi oleh Korep

Hari sudah sore ketika saya tiba di pelataran Stasiun Kalisat. Tak jauh di depan papan nama ada satu tiang bendera lengkap dengan merah putih yang gagah berkibar. Rasanya janggal melihat bendera berkibar selain di bulan Agustus. Tapi saya mafhum, ini stasiun kecil yang berbeda.

Diceritakan oleh Ady Setyawan dan Marjolein Van Pagee, pada 19 September 2013 mereka mengunjungi kediaman Joop Hueting di sebuah apartemen di Castricum, Belanda bagian utara. Tuan Hueting, ia adalah tokoh dibalik terkuaknya kekejaman Belanda di Indonesia. Saya tercekat oleh pemaparan Tuan Hueting tentang apa yang pernah terjadi di Stasiun Kalisat.

".... Sebuah stasiun kecil di Kalisat, mereka menyiksa seorang pejuang kemerdekaan yang gigih, sangat gigih. Mereka menggantungnya dalam keadaan terbalik, kaki diatas dan kepala dibawah, disiksa sedemikian rupa, lalu dijatuhkan beberapa kali dari ketinggian hingga kepalanya pecah."

Baiknya saya cantumkan di sini --dalam bentuk spoiler-- tentang catatan Ady Setyawan (bersama Marjolein) ketika mewawancarai Tuan Hueting.

Dari Catatan Ady Setyawan :

No Sir...Im not historian.....Im a treasure hunter *sigh

 photo kisah-kalisat_zps820525d7.jpg

Joop Hueting, tokoh dibalik terkuaknya kekejaman Belanda di Indonesia

Di akhir tahun 1960,tepatnya 17 januari 1969, beliau berbicara di media Belanda tentang kekejaman tentara Belanda terhadap penduduk Indonesia. Sebelum itu keadaan Belanda tenang tenang saja. Lalu meledaklah negeri itu. Media Belanda, Jerman hingga Amerika ingin mewawancarai Hueting. Dampaknya adalah semua veteran memburu Hueting. Keluarga hingga media yang mewawancarai Hueting menerima ancaman pembunuhan. Dari keributan inilah akhirnya muncul de Exessennota.

19 September 2013

Dari Rotterdam saya dan Marjolein Van Pagee menuju rumah Joop Hueting di sebuah apartemen. Disana kami disambut dengan ramah.

Apa kabarmu tuan? Kawan saya membuka pembicaraan, dan Hueting menjawab, "Tidak begitu baik, istriku baru saja meninggal, dia adalah orang terhebat dalam hidup saya." Dan kami dipersilahkan masuk.

"Kau... siapa namamu? Kau keturunan seorang freedom fighter juga kah?"

"Nama saya Ady Pak. Ya, Kakek saya dulu ikut dalam perang kemerdekaan." Marjo tidak ditanya karena sudah kenal.

"Apakah dia masih hidup?"

"Kakek saya sudah meninggal."

"Kau menang dalam perang itu, kami yang harus angkat kaki dan memang itulah yang seharusnya terjadi."

Tak lama kemudian Meneer Hueting berjalan, langkahnya sangat pelan.

"Bantu aku mengambil beberapa barang, aku akan ceritakan beberapa hal padamu Nak."

Dan kami pun mengikutinya mengambil beberapa benda, diantaranya sepucuk pistol, sepotong lantai tegel, bayonet arisaka Jepang dan sebuah triplek bertuliskan 50 Th Indonesia Merdeka.

Dan mulailah beliau bercerita.

"Semua ini adalah barang kenanganku dengan leluhurmu. Akhir September 1947 adalah awal kedatangan saya ke Indonesia. Pertama kali saya ditugaskan adalah di Jawa Timur. Pangkat saya saat itu adalah first class soldier. Di tahun 1948 saya ikut menyerbu Jogja dalam gelombang pertama. Saya adalah pasukan STOOTTROEPEN bagian intelijen. Saya ingat ketika pertama kali masuk kota Jogja, ada sebuah poster yang sangat besar dipasang oleh para pejuang, poster itu bertuliskan WILHELMINA LONTE."

"Kawan-kawan prajurit saya menanggapi itu dengan sangat marah, tetapi saya hanya tertawa terbahak-bahak. Sempat-sempatnya mereka membuat poster ejekan seperti ini."

Kemudian beliau menyerahkan pistol itu ditangan saya. Saya tak mengenali jenisnya, pistol itu kecil, saya keluarkan magasen, mengokang untuk memastikan chamber kosong dan juga mencoba tuas penguncinya.

"Pistol ini dalam kondisi sangat bagus tuan."

"Ya, saya selalu merawatnya."

"Bagaimana anda mendapatkan pistol ini?"

"Jogjakarta, 1948, perang kota. Saat itu saya mendadak berhadapan dengan seorang anggota TNI. Masing masing dari kami saling menodongkan pistol, dan.... Kamu bisa melihat, siapa diantara kami yang lebih cepat menarik pelatuk. Dia gugur. Dia seorang Letnan. Namun bagaimana pun dia adalah prajurit dan saya juga prajurit. Tak ada pilihan lain, inilah dunia kami. Dia meninggal dengan terhormat."

"Bagaimana dengan pecahan lantai ini?"

Ketika saya menanyakan pecahan lantai tersebut, Tuan Hueting sejenak terdiam. Ada raut kesedihan yang muncul....

"Itu bukan hanya sekedar pecahan lantai. Itu adalah pecahan hati saya. Sebuah stasiun kecil di Kalisat, mereka menyiksa seorang pejuang kemerdekaan yang gigih, sangat gigih. Mereka menggantungnya dalam keadaan terbalik, kaki diatas dan kepala dibawah, disiksa sedemikian rupa, lalu dijatuhkan beberapa kali dari ketinggian hingga kepalanya pecah."

Dan kami melihat mata Tuan Hueting yang mulai berkaca-kaca.

"Aku berteriak-teriak, aku menangis memohon agar mereka berhenti melakukannya. Dan detik itu aku menyadari, bahwa leluhurmu berjuang untuk sebuah keinginan mulia. Nyawa sekalipun akan mereka korbankan untuk itu...KEMERDEKAAN..."

Inilah sebagian kecil dari hasil wawancara dengan Tuan Hueting, begitu banyak kisah yang cukup menyentuh yang beliau sampaikan pada kami, mulai kelucuan, tentang kengerian perang, tentang kemanusiaan.

"Terima kasih telah mengunjungiku. Puluhan tahun telah berlalu. Melihatmu dan berbicara denganmu sangat menyenangkan. Kau... Sungguh mengingatkanku pada mereka. Tinggimu, warna kulitmu, gaya bicaramu. Seandainya saja saya bertemu mereka di waktu yang tepat, tentu kita semua bisa menjadi sahabat."

Catatan itulah yang membawa saya kembali ke Kalisat, sebuah wilayah di Jember Utara. Kembali ke stasiun kecil dengan ketinggian +265 M di atas permukaan laut.

Jarak antara rumah saya dengan Stasiun Kalisat hanya setengah jam jika naik motor, itu juga jalannya nyantai. Tentu saya membonceng istri tercinta. Selain kami, masih ada rombongan kecil yang turut serta. Mereka adalah Korep, Buter, Watu dan Lading. Tak perlu heran dengan nama-nama unik itu. Begitulah jika pencinta alam, mereka akrab dipanggil dengan nama rimba.

Belum sepuluh menit kami nongkrong di pelataran stasiun dekat tiang bendera, dari kejauhan sudah ada terlihat si Frans. Rupanya dia sedang asyik menikmati bakso. Sebelum Frans datang menghampiri kami, Ivan datang terlebih dahulu. Dua atau tiga menit sebelumnya saya memang meneleponnya, mengabarkan jika kami sedang ada di Stasiun Kalisat, dekat sekali dengan rumahnya.

Frans dan Ivan, mereka sering menemani saya ketika jalan-jalan di Kalisat.

"Kok sore Mas? Arep munggah Gumuk tah?"

Saya tersenyum mendengar pertanyaan Frans. Iya benar, warna langit mulai ranum ketika kami tiba di stasiun itu. Saya katakan pada Frans bahwa sebelumnya kami singgah dulu di kedai kopi Desa Gumuksari, dekat Stasiun Kotok. Di sana kami berjumpa dengan Har, sahabat yang paling gemar menemani saya mendaki Gumuk atau sekedar melakukan pengamatan capung.

Kepada Frans saya bercerita tentang apa yang sudah dipaparkan oleh Ady dan Marjolein. Tak dinyana, ternyata Frans antusias. Beberapa menit kemudian, ia sudah mengantarkan saya menuju rumah Keluarga Sutrisno. Frans memanggilnya Om Tris. Rumahnya tepat di seberang stasiun, hanya berjarak beberapa langkah saja. Di depan Om Tris, saya kembali menuturkan apa yang sebelumnya sudah saya ceritakan ke Frans. Dia manggut-manggut, tampak sekali jika Om Tris bersemangat mendengarnya.

"Saya lahir tahun 1956 Mas, jadi saya tidak njamani peristiwa penyiksaan itu. Tapi menurut apa yang pernah saya dengar dari para sesepuh di daerah ini, apa yang diceritakan teman Anda --Ady dan Marjolein-- itu benar adanya. Sayang sekali teman Anda tidak menyertakan nama pejuang yang digantung dalam keadaan terbalik, kaki di atas kepala di bawah, lalu dijatuhkan hingga kepalanya pecah."

Dari Om Tris saya mendapatkan info keren. Rumah di samping kanan rumahnya (kini rumah itu tak terawat dan tak berpenghuni) adalah saksi bisu masa perang mempertahankan kemerdekaan. Disanalah ruang penyiksaan bagi para pejuang Indonesia.

Om Tris mengetahui kisah rumah itu dari banyak orang, salah satunya adalah Pak Sukardi.

"Tadinya Pak Sukardi itu guru biasa. Tapi kemudian beliau memilih menjadi tentara dan aktif berjuang mempertahankan kemerdekaan hingga 1949. Dia pernah berkata, 'sabben e dinnak kenengnah oreng e siksa.' Sayang kini Pak Sukardi telah tiada. Di sini sulit mencari masyarakat yang berusia 70 tahun ke atas. Kalaulah ada, biasanya ceritanya tidak riil."

Meskipun saya belum menemukan dimana lokasi tiang pancang untuk menyiksa pejuang, seperti yang dikisahkan Joop Hueting, tapi saya senang ngobrol dengan Om Tris. Ia bahkan mempersilahkan saya untuk mengabadikan ruang-ruang di dalam rumah itu. Sayangnya, hari sudah menjelang maghrib. Lebih baik jika saya mengabadikannya di lain waktu. Sebelum undur diri, saya berjanji secepatnya kembali lagi ke Om Tris. Masih ada banyak hal yang butuh saya tanyakan.

Saya dan rekan-rekan tidak langsung pulang melainkan masih singgah di rumah Ivan. Di sana saya banyak berbincang dengan Ibu Sulasmini yang tak lain adalah Ibu kandung Ivan. Kepada Ibu Sulasmini, saya banyak bertanya tentang sepak terjang Almarhum Bapak Oesman (suami beliau yang seorang Purnawirawan Angkatan Darat) di masa revolusi.


Mendengarkan dongeng sejarah dari Ibu Sulasmini

"Seandainya dulu di tahun 1947 Bapak tidak melarikan diri, tentu ia akan menjadi salah satu korban Tragedi Gerbong Maut. Pak Oesman lari ke Banyuwangi. Di sana dia turut berperan aktif membangun sebuah jembatan yang tak sempat selesai. Sampai kini kabarnya jembatan itu terbengkalai namun masih ada jejaknya."

Kemudian cerita pun mengalir. Ibu Sulasmini juga tak keberatan menunjukkan berkas-berkas suaminya. Saya bilang ke Ivan untuk menyimpan juga berkas-berkas itu secara digital.

Kami tidak bisa berlama-lama lagi di rumah Keluarga Ibu Sulasmini. Har, rekan saya, ia menelepon untuk memastikan agar kami singgah di rumahnya. "Bojoku kadhung masak sego," begitu katanya. Kami segera berpamitan.

Ternyata perjalanan dari sekitar Stasiun Kalisat menuju Sumber Jeruk (juga wilayah Kalisat) masih tertahan. Kami singgah di rumah Frans. Saya memang ada perlu, mau pinjam gitar untuk menciptakan lagu. Eh, ndilalah di rumah Frans kami diwajibkan untuk mimik teh botol.

Akhirnya, sampai juga kami di rumah Har.

Di sini kami kembali saling bercerita, saling menjahit kain perca sejarah yang berceceran, kembali bertemu kopi hingga perut terasa kembung, kadang terjebak membicarakan nostalgia usang, kadang hanya saling bercerita kebodohan-kebodohan ketika naik gunung atau kemping di hutan, dan tentu saja endingnya adalah masak di dapur.

Untuk bagian makan bersama-sama, kisahnya kita loncati saja ya, hehe.


Kalisat, hmmm... Entah kenapa saya selalu merasa bahagia jika singgah di wilayah ini.

Saya senang mengingat-ingat dongeng dari Bapak. Saat dia masih muda, di tahun-tahun pertama pernikahan Bapak dan Almarhummah Ibu, mereka merayakan gagasan kemandirian di sini. Punya rumah sendiri meskipun kontrak, berkebun di halaman belakang, memelihara ayam dan ikan, bertetangga, saling tolong menolong, merajut mimpi dan memelihara kuda. Ya, Bapak memelihara kuda! Wew, saya bangga menjadi putra seorang Koboi Nusantara.

Sayang sekali, Ibu tidak betah tinggal di sana. Sepi. Kata Bapak, waktu itu Ibu sering menangis. Jadi, Bapak berinisiatif untuk memboyong Ibu di rumah Kreongan, rumah orang tua Bapak. Itu ketika mereka belum memiliki rumah sendiri di Patrang. Jadi, mereka tak sampai setahun tinggal di Sumber Jeruk, Kalisat.

Heran, mereka hanya sebentar hidup di sana, tapi kenapa masih ada saja yang mampu mengingat Bapak dengan detail? Bagaimana dulu ia bersosialisasi? Tetangga Har, dia bahkan menuduh saya dilahirkan di Kalisat. Menurut apa yang saya dengar dari orang-orang terdekat, tentu itu tidak benar. Namun ia masih ngotot jika saya lahir di Kalisat. Katanya, dua hal yang dia ingat tentang keluarga kami, yaitu saya dan kuda. Manis sekali. Sayang itu tidak benar. Saya dilahirkan di Kreongan, di atas tanah milik KA.

"Om, ayo menggambar."

Ah, rupanya Catherine sudah ada di samping saya. Catherine, ia adalah putri Har. Nama lengkapnya Catherine Harum Senja Ramadhani, lahir pada 21 September 2008. Saya mengingatnya sebab turut menyumbang pembuatan nama, atas permintaan Har.


Kami menggambar ramai-ramai. Si Lading, Buter dan Watu, mereka juga turut menggambar dengan crayon. Kalimat 'Kangen Bunda Yati' itu saya yang menulis. Tak terencana, tiba-tiba saja nulisnya. Entahlah, padahal kami tidak pernah berjumpa.

Catherine terlihat senang. Pada akhirnya kami terus menggambar, tak peduli apakah Catherine senang atau tidak. Satu jam kemudian, kami baru sadar jika Catherine sudah nyekukruk di sudut ruang, dia ketiduran, haha..

Seperti itulah Kalisat, selalu menerima kehadiran saya dengan hangat.

Beberapa warga yang saya kenal, mereka sering terheran-heran dengan tingkah saya. Kadang saya datang untuk satu tujuan, mendaki Gumuk Marada. Di lain hari, saya melakukan pengamatan keanekaragaman hayati di titik-titik tertentu. Di kesempatan yang berbeda lagi, saya datang menjadi pendengar setia pada mereka yang sudi cangkruk'an sambil menceritakan folklor yang tumbuh di sana.

Syukurlah mereka mengerti, saya melakukan itu hanya untuk mengikuti kata hati. Sama sekali bukan menjadi bagian dari kucuran hibah atas nama ilmu pengetahuan dan semacamnya. Saya hanya ingin bahagia dan membahagiakan.


Stasiun Kalisat, Gumuk di kejauhan dan sebongkah kisah

Catherine dan teman-teman sebayanya, juga anak-anak saya nanti, mereka tentu butuh mengerti bagaimana wajah Kalisat di masa yang lalu. Mereka berhak tahu atas apa yang pernah terjadi di pelataran Stasiun Kalisat di masa revolusi. Dengan cara sesederhana ini, saya berharap kisah yang dituturkan Hueting, perjuangan yang dilakukan Pasukan Sroedji, pengorbanan logistik dari para petani, itu semua tak menjadi sia-sia.

Melek sejarah melahirkan kecerdasan di bidang lingkungan, sosial, budaya, wisata dan kemanusiaan.

Kalisat: A Place to Remember

Jika harus membayangkan suatu tempat yang penuh kenangan, saya selalu mencoba untuk mencari pilihan lain selain gunung, hutan dan pantai. Jika harus kembali ke sebuah tempat, saya akan mencari alternatif lain selain pulau-pulau kecil baik yang pernah saya singgahi maupun yang masih dalam tahap mimpi. Jika harus mengajak istri tercinta ke sebuah tempat romantis, saya akan membelokkan kemudi ke arah yang tidak disangka-sangka. Itu lebih baik. Akan menjadi sempurna jika tanpa buku panduan. Masih ada banyak orang yang bisa dimintai tolong untuk kita bertanya tentang arah. Sosial skill, hanya itu yang kita butuhkan.

Kenangan kami berceceran, kami butuh menciptakan kesan di tempat yang berbeda. Kadang destinasi adalah kata yang memenjara. Kami ingin bertamasya setiap hari. Di rumah pun kami berkelana, sebab kami tak kunjung bosan untuk menciptakan kebahagiaan. Everyday dan di mana saja. Namun iya benar, sememenjara-memenjaranya destinasi, pengembaraan adalah wajib. Setidaknya sekali seumur hidup, mari kita lakukan sebuah perjalanan yang gila.

Kini, ketika saya mengikutkan tulisan ini dalam sebuah Giveaway, saya memilih Kalisat dengan segala kisahnya yang meloncat-loncat.

Kalisat memang bukan sebaik-baik tempat untuk berwisata. Di sini tidak ada janji keindahan seperti Pantai Papuma Jember. Apa yang tampak foto, seperti itulah adanya. Jangan berharap menjadi turis di tanah Kalisat. Tapi jika sekali saja kita mau meluaskan definisi tentang apa itu wisata, maka negeri kecil semacam Kalisat akan tampak indah lagi berseri-seri.

Di sini, di tanah Kalisat, pernah ada seorang pejuang kemerdekaan yang tak gentar oleh siksaan penjajah. Mereka menggantungnya dalam keadaan terbalik, kaki diatas dan kepala dibawah. Ia disiksa sedemikian rupa, lalu dijatuhkan beberapa kali dari ketinggian hingga kepalanya pecah.

Jika sekali saja kau mau mencoba bertamasya sejarah di lingkunganmu sendiri, maka suatu hari nanti akan kau dapati gambaran masa lalu kotamu yang aduhai, tak tertahankan indahnya.


acacicu © 2014