31.5.14

Dia Yang Merindukan Jember

31.5.14
Hai Indana Putri Ramadhani, semalam waktu pergi belanja ke Pasar Tanjung, aku bertemu dengan pacarmu. Ia sedang konvoi bersama kawan-kawannya sesama pencinta scooter. Memang, di setiap malam Sabtu, Jember ramai oleh klub-klub motor. Katanya, sepuluh hari lagi kau akan menghadapi ujian skripsi ya? Alhamdulillah, senang mendengarnya. Akan bertambah satu lagi lulusan FTP UJ Jurusan Teknologi Hasil Pertanian.

Di penghujung Mei ini, Jember dingin sekali. Sepulang dari Pasar Tanjung semalam, sementara istriku memasak di dapur, aku menghangatkan diri di depan layar monitor. Di sana ada kutemukan catatanmu tentang Jember, manis sekali.

Selamat malam Jember..

Terima kasih sudah mau menerimaku di sini sejak hampir lima tahun yang lalu. Kau tau, awalnya aku sangat benci berada disini. Aku tidak kenal siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Kemana-mana harus berjalan kaki. Dan lagi, kebanyakan penduduknya adalah orang Madura yang intonasinya cetar membahana. Selain itu juga minimnya hiburan yang ditawarkan.

Di sini tidak ada Mall ataupun XXI, padahal aku hobi nonton bioskop. Belum lagi dandanan cewek-ceweknya. Rambut panjang rebondingan dengan baju-baju ketat berwarna dengan motif mencolok.

Entahlah, kurasa aku salah jurusan.

Tapi setelah lima tahun berkubang, aku menyadari sesuatu. Kalaupun aku salah jalan, setidaknya aku tersesat di jalan yang benar. Di sini memang tidak ada Mall atau XXI, tapi warung kopinya banyak dengan harga sesuai kantong mahasiswi. Siapa yang butuh Mall jika kau bisa menikmati kopi dipinggir jalan. Intonasi orang-orangnya memang keras, tapi lebih tepat jika dibilang bersemangat.

Lalu masalah dandanan? Ah, sudahlah. Mungkin memang itu yang paling pas untuk mereka. Kalaupun mereka bergaya seperti orang-orang di kota kelahiranku, mungkin malah terlihat lebih aneh. Lagipula aku toh tetap nyaman-nyaman saja dengan kaos oblongku.

Kini aku begitu mencintai kota kecil ini. Begitu merindukan setiap detiknya.

Jember, i love you..

Kau masih muda, lahir pada 27 Maret 1992, catatanmu mendalam dan apa adanya. Sedangkan jarak antara Jember dengan kotamu tercinta --Surabaya-- hanya terpaut 199 km saja.

Ohya, aku suka apresiasi dari rekanmu yang bernama Bee Nona Rona.

"Sejak aku mengucapkan selamat tinggal untuk Jember, aku sangat merindukan kota kecil itu."

Indana, ketika kau dilahirkan, di tahun yang sama Jember wilayah kota sedang gegap gempita. Di sini berdiri sebuah Mall Matahari Dept Store di atas tanah Pasar Tradisional Johar. Kau tahu, ini adalah pusat keramaian modern pertama di kota santri. Tak lama kemudian, Johar Plasa juga dilengkapi dengan food bazaar dan XXI. Tampil sebagai bintang tamu Grand Launching Johar Plasa adalah seorang lady rocker asal kampung halamanmu, Ita Purnamasari.

Di sebuah daerah seperti Jember, keberadaan Mall adalah berita gembira. Ia ibarat lampu badai di belantara hutan yang gulita. Orang-orang belajar memujanya. Dimulainya lembar baru perdagangan modal besar ini memikat hati warga Jember. Di kampung-kampung, mulai terdengar perbincangan baru.

"Eh kalau beli celana mending di Johar Plasa, diskon duapuluh persen. Pakai merk ini dong. Kamu pengen tampil keren? Belilah ini atau itu."

Tiba-tiba banyak orang pergi ke Johar Plasa karena mereka menginginkan sesuatu, bukan karena mereka butuh dan harus membelinya.

Ketika itu aku masih abege, tentu aku mengerti budaya baru yang sedang terjadi di Johar, meski aku belum benar-benar bisa memahaminya. Kenapa ada orang yang diseret oleh Satpam hanya karena pergi membawa sabuk yang masih ada label harganya? Di tahun-tahun pertama keberadaan Johar, sepertinya Satpam sibuk sekali.

Indana, kau benar ketika berkata di Jember banyak sekali penduduk berbahasa Madura. Para dosen sejarah, mereka menggolongkan Jember hanya pada dua kutub mayoritas, Jawa dan Madura. Jember Utara mayoritas Madura, sedangkan Jember Selatan Jawa. Tapi Jember terdiri dari 31 Kecamatan. Di sini juga ada Suku Mandar, Using, Cina, Arab, India, selayaknya kota-kota yang lain di Pulau Jawa.

"Di sini memang tidak ada Mall atau XXI, tapi warung kopinya banyak dengan harga sesuai kantong mahasiswi."

Bicara tentang kopi, Jember juga punya Pusat Penelitian Kopi dan Kakao sejak 1911. Ia telah mendapatkan reputasi Internasional.

Benar, kini di sini memang tidak ada Mall atau XXI seperti yang kau maksud, Johar juga tak seramai dulu. Tapi warung kopinya banyak lagi murah. Tentu Indana mengerti, jika kita ada di sebuah warung kopi, masyarakat Jember mudah sekali berganti-ganti bahasa. Awalnya menggunakan Bahasa Jawa, lalu berubah menjadi Bahasa Madura, kemudian Bahasa Indonesia. Ketika ada pembeli kopi yang lebih tua dan ia ikut nimbrung, mudah bagi warga Jember yang lebih muda untuk memakai bahasa halus, Jawa maupun Madura. Fenomena ini mudah kau jumpai di warung-warung di tiga kecamatan kota. Untuk bicara angka-angka, tak jarang mereka menggunakan istilah Bahasa Cina.

Sebenarnya jika kita melihat dari sisi teritorial, akulturasi warga Madura lebih banyak ada di tempatmu. Orang-orang Madura yang ada di Jember, selain yang sengaja didatangkan Birnie di Abad XIX untuk tenaga kerja perkebunan, biasanya mereka adalah warga Sumenep. Datang ke Jember menyeberang dari Kalianget menuju Panarukan, kemudian melintas hingga melewati Kabupaten Bondowoso. Salah satu dari mereka adalah Sura'i dan Sulami, dengan buah hatinya bernama Durahem.

Aku semakin dekat dengan orang-orang perantauan ketika kuliah di kota sendiri. Bersama mereka, aku bisa memandang Jember dari sudut pandang orang lain.

Hal yang paling memusingkan adalah ketika ada kawan luar kota menanyakan tentang kuliner. Mau dijawab rudal kambing, nggak tega. Ketika aku menjawab wedang cor, pecel garahan, dan sebagainya, mereka masih memaksa untuk mendapatkan jawaban yang lain, seperti Bondowoso yang dikenal dengan tapenya. Lalu kukatakan bahwa di Jember tersedia aneka macam kuliner.

Kata Bebeh, yang khas dari Jember bukan masakannya, tapi keterbukaan kami terhadap keberagaman.

Jember tidak punya tokoh legenda heroik seperti Sakera atau Gajah Mada. Kalaupun ada biasanya dalam ruang yang kecil. Kami menitipkan kisah legenda pada sungai, gunung, gumuk dan segalanya. Barangkali ini yang membuat Jember berbeda, sebab ia tidak heroik. Seolah keberaniannya dititipkan pada nyanyian dedaunan. Datanglah ke Jember, kami tidak akan menanyakan apa agamamu dan dari suku mana. Asal kau tak bermaksud jahat, kami baik-baik saja.

Bukan berarti Jember tak pernah berdarah-darah. Keterbukaan pada keberagaman pernah sangat tercoreng oleh isu santet. Kasus duka limabelas tahun yang lalu tersebut tak kunjung diproses hukum hingga sekarang. Masyarakat Jember hanya berharap semoga itu tak menjadi sebuah luka sejarah. Sebab luka pernah menganga ketika ada gonjang ganjing politik di tahun 1965. Belum lagi tentang luka agraria. Semoga tak ada lagi luka budaya yang seperti itu, Amin.

Masalah dandanan orang Jember yang seperti itu? Hehe. Kau jeli sekali Indana.

Waktu kecil aku pernah berpikir, kenapa orang Jember suka berdandan ngejreng dengan warna-warna yang berani? Saat SD, ketika nonton karnaval rakyat, macam-macam dandanan yang dipertontonkan. Tebakanku, barangkali karena faktor sejarah. Jember diapit oleh dua budaya besar, Mojopahit dan Blambangan. Tentu nenek moyangku sering melihat adanya arak-arakan besar kerajaan. Seberbusa apapun para sejarawan berkata bahwa sebelum kedatangan Birnie Jember terisolir, toh di sini tetap ada denyut kehidupan. Birnie dan partner usahanya tak akan pernah mendirikan NV. LMOD di tahun 1859 jika ia tak terinspirasi oleh masyarakat lokal yang pandai meracik tembakau.

Kini, seiring JFC semakin mendunia, ia mengingatkanku pada renungan masa kecil. Sebab sejarah selalu berulang meski dengan kemasan yang tak sama. Ini hanya tentang ruang dan waktu.

Adapun dengan semakin maraknya penginapan di Jember, ia seperti sedang kembali ke masa lalu, dimana di waktu yang lampau tanah Jember adalah tempat persinggahan banyak orang, juga sebagai tempat untuk menempa diri.

Hai Indana Putri Ramadhani, di sini tidak ada Mall ataupun XXI. Namun rupanya Jember punya gelar baru, tak lagi kota seribu gumuk melainkan kota seribu waralaba.

Jadi ingat obrolan warung kopi. Di sana, sebuah guyonan baru telah lahir. Apa yang khas dari Jember? Tak lain adalah pusat perbelanjaan modernnya. Tapi sudahlah, abaikan. Itu hanya humor kami di warung kopi. Toh orang cerdas adalah orang yang membeli sesuatu sesuai dengan kebutuhan. Benar-benar butuh, demi menunjang hidupnya. Bukan karena ingin, bukan karena iklan, bukan pula karena iming-iming diskon.

Aku sendiri memiliki kebahagiaan jika harus mengantarkan istri ke pasar. Kami senang singgah di Pasar Tanjung.

Pasar Tanjung ada di pusat kota. Ia diresmikan di pertengahan era 1970an, ketika Jember masih dipimpin oleh seorang Bupati bernama Abdul Hadi. Berlatarkan Water Tower peninggalan Belanda, Pasar Tradisional dengan bangunan fisik tiga lantai ini terlihat mewah. Namun secara garis besar, ia sama saja seperti pasar-pasar tradisional yang lain yang ada di Kabupaten Jember. Banyak sudut-sudut pasar yang kotor. Menjadi sempurna dengan aroma yang campur aduk.

Kata Bapak, sebelum ada Pasar Tanjung, di lokasi yang berdekatan sudah ada Pasar Senggol. Tepatnya berlokasi di sepanjang Jalan Rasulta alias Raya Sultan Agung dan hanya buka di malam hari. Adapun Pasar Tanjung, dulu memang sudah berwajah pasar dengan los-los yang sederhana, dikenal dengan nama Pasar Jember. Pasar Jember hanya buka pada pagi hari hingga sekitar pukul tiga sore.

Era 1970an, warga Jember semakin banyak. Di sisi lain, kegiatan ekonominya mengalami perkembangan yang pesat. Barangkali itulah alasan mengapa Pemerintah Daerah merasa perlu untuk membuat pusat perdagangan, yakni Pasar Tanjung. Sampai di sini, jadi teringat pemikiran Pram.
"Semisal benar bahwa perdagangan adalah jiwa sebuah negeri, maka kita bisa melihat kesejahteraan kota kita dari pasarnya. Jika perdagangannya berkembang subur, maka bisalah kita menyebut kota yang memiliki pasar tersebut juga makmur."

Memang benar, negeri-negeri kecil menjadi besar karena perdagangannya, dan negeri besar menjadi kecil karena menciut perdagangannya. Ia akan menjadi buruk jika terlalu banyak pengacaunya, entah itu tengkulak entah itu lintah darat entah itu apapun yang menyebabkan lahirnya ketidakadilan di bidang perdagangan.

Masih menukilkan obrolan di warung kopi. Kami pernah mendiskusikan salah satu alasan kenapa Islam diterima di tanah nusantara. Sebab para pembawa pesan yang rata-rata pedagang, mereka tidak pernah curang dengan timbangan.

Bagaimana dengan wajah Jember? Sepertinya kota kecil ini butuh meninjau ulang wajah perdagangannya sendiri.

Pasar Tradisional adalah tentang manusia. Tentang budaya cangkruk'an sembari melakukan jual beli. Tentang seorang Ibu yang tidur di matras plastik sembari menunggu waktu yang tepat untuk bangun. Disini, orang-orang berkumpul sambil memahami perannya masing-masing. Ada penjual, ada pembeli dan ada interaksi. Hubungan langsung berpotensi untuk mengurangi ruang gerak tengkulak, meskipun toh ada jebol-jebolnya juga. Dari sini jiwa sosialisasi terjaga dengan manis, dengan caranya sendiri.

Indana, jika kau ingin belajar menggambarkan potensi fisik dan nonfisik dari suatu daerah, cobalah untuk singgah ke pasar yang ada di wilayah tersebut. Di sana akan ada gambaran umum mengenai sumber daya alam, sumber daya buatan dan sumber daya sosial masyarakat. Jika kau hanya ingin melihat sisi budaya dan sosial skill masyarakatnya saja, carilah pasar loak.

Kelak, jika sudah tiba waktunya untuk mengucapkan goodbye Jember, bersediakah Indana merindukan dandanan dengan warna mencolok dan gaya bahasa kami?


Warung Blogger


5 komentar:

  1. Ah Jember....walaupun saya cm 3x kali sj berkunjung kesana, ada rasa rindu jg utk berkunjung kesna lagi....Ibu mertua, semua keluarga beliau ada di Jember dan Bondowoso....adek dl kuliah di Jember jg....ah paling sy rindukan durennya....maniss walaupun dagingnya tipis dan udara dingin wkt malam....klo di sini Sidoarjo always hot...hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentang duren, kata orang memang begitu. Ia memiliki rasa yang berbeda. Saya pikir ini ada hubungannya dengan letak geografis Jember.

      Jember berada di antara Gunung Raung dan Argopuro. Dari 31 Kecamatan yang ada, sedikitnya 6 Kecamatan berbatasan langsung dengan Laut Selatan. Karena diterjang oleh angin dari berbagai sisi, baik dari pegunungan maupun dari laut, alam mengimbanginya dengan keberadaan gumuk-gumuk yang bertebaran. Salah satu fungsi gumuk adalah sebagai pemecah angin alami :)

      Barangkali karena itu ya Mbak, rasa buah-buahan di Jember menjadi berbeda. Takaran anginnya pas. Bahkan pengusaha Belanda kepincut dengan tanah di sini. Mereka bilang, Jember cocok sekali ditanami tembakau.

      Sejak kemarin malam, Jember dingin sekali Mbak. Kata orang, Jember sedang akan menyambut mongso ketigo. Mongso terang ora ono udan :)

      Hapus
  2. Aku bener2 pengen pindah ke Jember loh. hehe...
    Apalagi dideskripsikan seperti ini.

    BalasHapus
  3. Ya begitulah Jember, singgah sebentar ke kota lain saja, bisa membuat rindu tiada tara... Jember oh Jember... Kota kelahiran dengan berbagai keberanekaragaman masyarakat serta budaya...

    BalasHapus

acacicu © 2014