20.5.14

Semua Adalah Pemenang

20.5.14
Ini tentang proses penjurian saya di Lomba Review sebuah novel karya Irma Devita. Tadinya saya sedikit kaget mendengar kata review. Yang ada di kepala adalah sebuah jurnal, hehe. Namun setelah dibicarakan bersama, saya menjadi paham. Review dalam hal ini lebih dekat dengan bahasa blog. Ia lebih sederhana, sesederhana resensi tulisan-tulisan yang menjelaskan isi/gambaran sebuah obyek (buku).

Lalu kami menulis salah satu persyaratan seperti ini:

"Gaya bahasa bebas dan jumlah kata tidak dibatasi. Menulis review novel di blog bukan berarti kita sedang mengerjakan skripsi sarjana sastra dengan bahasa yang baku dan berat. Intinya sih, nyantai dan mudah dipahami."

Tentu saya senang diberi kepercayaan sebagai juri di review novel karya Irma Devita. Menjadi juri review sama artinya dengan membaca sebuah karya dari berbagai sudut pandang. Tercatat ada 59 partisipan. Kesemuanya sedang mengikat makna dari apa yang telah dibaca, untuk kemudian disuguhkan dalam bentuk postingan.

Review dari partisipan nomor urut satu segera menghentak dan menyumbangkan pemikirannya --bagi penulis-- untuk meninjau ulang halaman 122. Partisipan nomor dua, tanpa babibu langsung menyodori kita dengan kalimat yang apik, "Bagaimanapun Sroedji bukan Rambo yang bertempur sendirian."

Bang Aswi memulai paragraf pertamanya dengan sebuah tanya, "Apa hubungan penulis novel dengan blogger-blogger Jember?" Lalu ia melanjutkan review dengan kalimat-kalimat anggun. Disusul kemudian oleh review berikutnya yang tak hanya mencermati maju mundurnya alur novel, namun juga tentang perubahan hidup yang disebabkan oleh datangnya pasukan Jepang. Sari Widiarti, ia terlihat senang mencermati romansa antara Sroedji dan Rukmini, dengan sebuah pasar sebagai latarnya.

Adalah Bunda Lily Suhana yang terbiasa menulis genre humaniora, dalam review novel kali ini ia berani mengikat makna. Memang, banyak diantara partisipan yang (menurut pengakuannya) tidak terbiasa me-review novel, seperti; Faisal, Cak Oyong, Melly Feyadin dan Kang Yayat Sudrajat. Tapi saya salut dengan bagaimana cara mereka meracik postingan.

Oke, lanjut.

Setelah Bunda Lily ada partisipan dengan nomor urut tujuh. Tulisannya diawali dengan menyegarkan kembali ingatan kita pada film Merah Putih yang dibintangi Lukman Sardi. Postingan berjudul 'Berjuang Sampai Mati' adalah partisipan berikutnya. Penyuguhannya yang panjang, disertai foto-foto, membuat kita lebih detail mencermati pesan yang hendak disampaikan. Hal senada juga saya jumpai di tulisan partisipan dengan nomor urut sembilan dan sepuluh. Keduanya dipenuhi dengan sharing informasi.

Saya dibuat terbahak oleh tulisan Cheila, Intan Novriza Kamala Sari dan juga Pungky. Ketiganya sama-sama tidak suka bidang sejarah, namun cara mereka 'membaca ulang' isi novel sungguh manis. Pungky bahkan berani menyampaikan ide cerdas tentang kurangnya sentuhan kronologi sejarah Indonesia diluar 'lingkaran Sroedji.'

Lomba review menjadi semakin semarak sebab pemilik BlogCamp juga turut meramaikan. Tentu ini menjadi sangat unik dan menarik, ketika seorang Purnawirawan Jenderal AD mengulas sejarah militer era revolusi.

Riski Fitriasari, ia memulai kisahnya dari cover novel Sang Patriot. Partisipan nomor 13 atas nama Susi Ernawati atau lebih akrab dipanggil Susindra, saya kira ia berhasil memahami novel dari banyak sisi, untuk kemudian mengolah referensi. Setelahnya ada sang pembuat sketsa dari Jogja. Ia mengingatkan penulis tentang slide story yang terasa padat, sedangkan novel ini hanya setebal 266 halaman. Di urutan 15 akan Anda jumpai sebuah review yang runtut dan sangat menarik, bersanding dengan detailnya pembahasan yang disuguhkan oleh partisipan dengan urutan 16, 19, 20, 21 dan seterusnya.

Salut dengan partisipan seperti pemilik blog Rumah Baca Tulis dan Mugniar's Note. Mereka tak pandai memahami Bahasa Jawa namun bukan berarti kering pemahaman. Ulasannya mengalir renyah. Di urutan 24 ada saya temui pemaparan yang lugas namun rinci, baik dari sisi karya sastra maupun muatan sejarahnya. Melly, Fitri, Pak Azzet dan pemilik blog Rumah Nayma melengkapinya dengan pitutur yang manis.

Sayang sekali, untuk partisipan ke-31 terpaksa harus saya diskualifikasi sejak di penjurian gelombang pertama. Maaf.

Di nomor urut 33 akan kita jumpai tulisan dari Armela Praninditya. Dengan santun, ia menambah deretan panjang mengenai ide atau saran tentang pembuatan catatan kaki untuk istilah-istilah asing. Berikutnya, partisipan ke-34. Menjadi menarik ketika membaca paragraf pertama milik Diana Kusumasari. Ia bercerita tentang JL. Sroedji yang bukan di Kabupaten Jember, melainkan di Kelurahan Ditotrunan, Lumajang. Hal menarik saya temukan juga di tulisan milik Yuniari Nukti. Ia seorang blogger kreatif yang menguasai dialog berbahasa Jawa Timuran, tulisannya padat.

Puloeng Raharjo, Sopyan Al- Nendes dan Damae Wardani, tampaknya mereka menaruh minat yang baik pada bidang sejarah. Sama seperti partisipan nomor 39. Selanjutnya, di tangan seorang blogger bernama pena Pendar Bintang, epos ini melebarkan sayap hingga ke Pulau Dewata.

Luckty Giyan Sukarno, ia rapi sekali membuat tulisan dalam bentuk semacam kolom-kolom, lengkap dengan tampilan ulang dua video yang berkaitan. Review selanjutnya dari Phie, padat berisi. Disusul kemudian oleh tulisan Preman Klender dan Adam Alfarisyi, lalu urutan ke-46. Runtut.

Warga Jember yang rumahnya ada di Jalan dr. Soebandi dan dekat sekali dengan Jalan Moch. Sroedji, ada juga yang turut menyemarakkan. Dialah Kang Sofyan. Setelah Kang Sofyan ada Ila Rizky Nidiana yang mengurai tuntas novel Sang Patriot. Hal menarik ditunjukkan oleh Nurul Fauziah yang membuka tulisannya dengan mencermati judul novel, dibandingkan dengan film yang berkisah tentang Prabowo Subianto. Keduanya memang memiliki judul yang sama --Sang Patriot-- namun tentu saja sama sekali tidak saling berkaitan.

Pemilik blog Story of Icoel menjelaskan dalam tulisannya tentang kegelisahannya pada rasa nasionalisme yang terlihat semakin tak sama lagi. Ia merekomendasikan buku ini untuk semua kalangan. Partisipan nomor 52 tulisannya detail. Dari Nurman, berurutan hingga partisipan terakhir, semuanya menampakkan sisi analisis yang detail. Tentu analisis yang baik akan membantu pembaca yang belum sempat (tidak ada waktu) membaca novel karya Irma Devita. Ohya, hampir lupa. Reni, partisipan nomor 56, ia memberikan banyak sentuhan religi pada ulasannya dan ia berhasil mengemasnya dengan gurih.


Semuanya tampil keren dan berkarakter. Bagi saya, semua adalah pemenang.

Namun, sudah menjadi kesepakatan bersama jika saya harus memilih dan memilah tiga sahabat blogger yang beruntung mendapatkan tali asih. Sebab itu, saya harus melakoni peran sebagai penilai.

Penilaian

Secara esensi, ada dua hal yang saya soroti dalam menilai ulasan sebuah novel. Pertama, tentang penggambaran isi novel tersebut. Berikutnya adalah dalam hal penyajian.

Bicara tentang penyajian, tentu juga termasuk pada kesesuaian dengan tema dan tingkat keterbacaan (diksi, alenia, tanda baca dan hal-hal sederhana yang berkaitan) hingga pembaca mudah menerima pesan yang hendak disampaikan. Akan menjadi lebih menarik jika ulasan dilengkapi perbandingan dengan karya lain, serta memberi penilaian yang kritis.

Bahasa Blogger memiliki karakteristik yang tidak sama dengan Bahasa Akademis. Ia lebih humanis, gurih dan terasa sisi personalnya, namun tetap tampil anggun dan menawan. Ini yang membuat saya melakukan penilaian secara bertahap, lebih dari satu kali membaca.

Terima kasih atas kepercayaannya. Saya melakukannya semampu yang saya bisa.

Pengumuman

Sesuai dengan yang dijanjikan, pada 21 Mei 2014 kami akan mengumumkan siapa saja tiga orang yang beruntung mendapat tali asih dari penulis novel, Irma Devita.

Sesuai kesepakatan, pengumuman tersebut akan dipampangkan di blog milik Uncle Lozz Akbar. Silahkan berkunjung di sana, saya sudah setor tiga nama.

Sedikit Tambahan

Para sahabat blogger, mewakili kawan-kawan yang lain, juga penulis novel, saya haturkan terima kasih. Saya mengerti, niatan sedulur semua adalah tidak sedang berkompetisi, melainkan untuk menyemarakkan acara ini. Menukil istilah Hanna, "Giveaway untuk kebahagiaan," maka seperti itulah adanya.

Sekali lagi, terima kasih. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Salam Merdeka!

22 komentar:

  1. aaw.... aku cuma disebut peserta 13. :p
    memang bagus2 reviewnya. minder..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... wes tak edit Mbak Sus :)

      Maturnuwun ya Mbak. Terima kasih... Merci...

      Hapus
  2. aaw.... aku cuma disebut peserta 13. :p
    memang bagus2 reviewnya. minder..

    BalasHapus
  3. sejujurnya saya orang yang paling kurang pinter menyiasati mata pelajaran sejarah, mas.. keinget jaman SMP-SMA kudu bikin catetan kecil2 biar bisa dibawa kemana2 buat diapalin, hihihi...

    matur suwun tambahan ilmunya, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya suka ketika Mbak Damae menuturkan romantika Sroedji-Rukmini. Eh, ajarin dong caranya bikin footnote di blog :)

      Hapus
  4. aku punteeen banget ngg sempat ikutan meramaikan syukuran Sang Patriot, walaupun mendapat kehormatan untuk menikmati novel sarat sejarah ini. Terus terang, saat itu hidup sendang centang perenang karena rencana kepindahan. Tapi saya yakin GA ini akan sukses sejak awal, karena menang tidak main-main novel yang dibahas. Sukses sekali lagi...cheers...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak gpp, terima kasih atas doa dan support-nya :)

      Hapus
  5. Review ini tak terasa malah melahirkan banayak gagasan tentang patriotisme ya Mas. Sukses banget acaranya. Semoga, lagi-lagi, kita bisa berbuat baik dan berkorban seperti Pak Sroedji.

    Salam dari Kota Hujan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Maturnuwun ya Kang Belalang, terima kasih.

      Hapus
  6. pesertanya membludak..benar-benar luarbiasa, bisa menjadi salah satu pastisipan review novel sang patriot adalah kebanggan tersendiri...dan siapa tahu saya kelak bisa juga ketularan untuk menerbitkan sebuah novel.... :-)
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Om Hariyanto Wijoyo :)

      Hapus
  7. Saya nggak liat pengumumannya mas ...dimana ya.. ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada di blog milik Uncle Lozz Mbak. Silahkan klik di SINI.

      Hapus
  8. Anonim07.44.00

    berpartisipasi dan berkesempatan mebaca semua tulisan peserta yang keren-keren. (padahal bukan juri lo) semakin menambah kebanggaan bahwa novel mbak Irma sangat layak untuk dibaca berkali-kali.^_^

    BalasHapus
  9. "banyak diantara partisipan yang (menurut pengakuannya) tidak terbiasa menulis novel, seperti; Faisal, Cak Oyong, Melly Feyadin dan Kang Yayat Sudrajat." ---> ojok'o nulis novel, jek wong ajar nulis wae buru taun 2011 :))) isok nulis koyok saiki wae Alhamdulillah sebagai pencapaian yang luar biasa. Sing penting belajar kan, koyok Mbak Irma Devita. Tak ada batas usia dalam belajar. Selamat buat para pemenang! ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... mengulas sebuah novel maksudku :) Terima kasih, maturnuwun apresiasinya.

      Hapus
  10. Anonim18.16.00

    "Sesuai kesepakatan, pengumuman tersebut akan dipampangkan di blog milik Uncle Lozz Akbar. Silahkan berkunjung di sana, saya sudah setor tiga nama.

    Terharu membaca nama saya ada diantara tiga nama itu. Terima kasih mas Juri :)

    BalasHapus
  11. aaahahaha..suka sama novel ini!!!! sukses bikin aku jadi menyukai sejarah..tpi kalo sejarah disekolahan gak deh ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk kita bikin metode ternyaman untuk belajar sejarah. Cara termudah untuk mengasah imajinasi kesejarahan adalah melalui film, tapi jangan sekali-sekali belajar sejarah dari skenario film ya Cheil, hehe..

      Hapus
  12. saya padat berisi ya, Masbro hehehe
    selamat buat semua yang berpartisipasi dalam giveaway kebahagiaan :D

    BalasHapus

acacicu © 2014