28.5.14

Stasiun Ajung: Bahkan Google Tak Mengenalinya

28.5.14

Reruntuhan Stasiun Ajung

Jika tidak diyakinkan oleh rekan-rekan dari Kecamatan Kalisat, mungkin saya tidak akan percaya jika gundukan yang saya pijak dulunya adalah sebuah stasiun kereta api. Posisinya yang berada di tengah ladang, reruntuhan bangunannya yang hampir rata dengan tanah, juga tidak tampak satu garis pun rel kereta api, membuat saya bertanya-tanya, benarkah ini bekas stasiun kecil?

"Dulu di sini sebuah stasiun kecil di Jember. Namanya Stasiun Ajung, sebab ia ada di Desa Ajung Kecamatan Kalisat, Jember. Tadinya ada dua bangunan kecil, satu untuk ruang naik turunnya penumpang, satunya lagi semacam gudang."

Meskipun saya yakin si Oldis mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, namun rasa kurang percaya masih menggelayut di hati. Dimana rel kereta apinya?

"Dua bangunan tua itu runtuh sekitar tahun 2007, ketika saya masih SMP."

Arifin, rombongan termuda dari kami berlima, ia juga coba angkat bicara. Disusul kemudian oleh Ivan.

"Segala hal yang berbau besi dan bisa diloakkan, semuanya lenyap, kecuali jembatan di ujung sana. Mula-mula yang diambil adalah genting bangunan, lalu kayu-kayunya yang dari jati tua, kemudian merambat ke besi rel. Di sini kan sepi, di tengah sawah, kesempatan untuk mengambilnya menjadi lebih mudah. Kalau ingin melihat rel yang utuh, yang di dekat jalan raya."

Ivan benar tentang jembatan. Di sini masih ada tersisa rangka besi meski besi rel kiri kanannya sudah tinggal cerita, baut dan mur pun sudah tidak genap lagi.


Jembatan di Stasiun Ajung

Di sini, di atas jembatan kereta api, saya teringat kembali hasil obrolan saya dengan Dainuri ketika ia bertutur tentang wajah Jember era 1970an. Interview sederhana itu kami lakukan pada 21 Desember 2013 yang lalu.

Dari Dainuri saya mengerti jika di tahun 1977, orang-orang Jember wilayah utara masih aktif memanfaatkan transportasi kereta api dari Stasiun Jember hingga Stasiun Panarukan. Berikut adalah pos-pos yang harus disinggahi; Berangkat dari Stasiun Jember menuju Stasiun Kotok, lalu singgah di Stasiun Kalisat, kemudian Stasiun Ajung, Stasiun Sukosari, Stasiun Sukowono, Stasiun Tamanan, Stasiun Grujukan, Stasiun Bondowoso, Stasiun Tenggarang, Stasiun Wonosari, Stasiun Tangsil, Stasiun Widuri, Stasiun Bagur, Stasiun Situbondo, Stasiun Tribungan, baru kemudian tiba di Stasiun terakhir, Panarukan.

Masih menurut Dainuri. Pada waktu itu kereta uap dikenal dengan nama spoor hitam, sedangkan kereta diesel, yang dianggap lebih modern, sama seperti kereta saat ini, ia biasa disebut Spoor balas. Era 1977 hingga 1979 adalah masa transisi dari spoor hitam atau uap menuju spoor balas atau diesel. Dalam sehari, keduanya memiliki jadual keberangkatan 2 kali PP Jember - Panarukan, pagi dan sore.

Biasanya, kres antara spoor hitam dengan spoor diesel terjadi di Stasiun Bondowoso. Itu kalau kecepatannya sama-sama normal. Jika tidak normal, biasanya kres terjadi di Stasiun Tamanan.

"Stasiun paling indah adalah Stasiun Panarukan. Di sana saya bisa melihat pantai, gudang-gudang garam buatan Belanda, jalan Deandels, juga memandang kesibukan para penjual juwet, buah yang sekarang saya rindukan. Saya masih ingat, ketika kita membeli juwet, maka si penjual akan membungkus buah berwarna hitam anggur tersebut dengan daun waru."

Entah kenapa kisah-kisah itu berputar kembali di ingatan saya. Kisah dari seorang Dainuri.

Dia juga menuturkan bahwa biasanya di Jalur Bondowoso - Situbondo, sesekali kereta salipan dengan trem juga dengan lori. Trem menggunakan mesin diesel, sedangkan lori menggunakan mesin uap. Beda dengan trem di wilayah Jember Selatan, di sini fungsi trem tidak untuk mengangkut manusia, melainkan untuk mengangkut hasil tebu, sama seperti lori. Mungkin karena di wilayah utara ada lebih dari satu Pabrik Gula. Situbondo memiliki 3 Pabrik Gula; Panji, Asembagus dan Wringinanom, sedangkan Bondowoso hanya memiliki 1 Pabrik Gula yaitu di Prajekan.

Sambil melangkah menjauhi jembatan, saya memikirkan tentang jalur mati Kalisat - Panarukan. Menurut hasil googling, jalur ini ditutup pada pertengahan 2004 karena prasarna yang menua dan okupansi penumpang yang minim. Penutupan inilah yang menyebabkan stasiun kecil di Desa Ajung mengalami nasib buruk, dihempaskan sejarah dan ditikam rasa kepemilikan yang tipis.

Kini, yang masih beroperasi adalah Stasiun Kalisat. Ia melayani perjalanan kereta dari Kalisat menuju Bangil, dengan stasiun sebelum Kalisat adalah Stasiun Kotok. Pelayanan berikutnya adalah Jalur KA Kalisat - Banyuwangi Baru, dengan stasiun berikutnya --dari Kalisat-- adalah Stasiun Ledokombo.


Melihat batu bata yang tersisa

Dari reruntuhan bangunan, ada saya lihat jenis batu bata dan lepokan yang coraknya sama persis seperti di tempat lain. Terkecuali mungkin di puteran spoor di wilayah Kreongan, di areal Stasiun Jember. Puteran spoor adalah tempat memutar lokomotif ketika dulu masih berjalan satu arah, tidak bisa bolak balik seperti sekarang. Di sini, batu batanya lebih kecil, dengan ketebalan yang sama. Barangkali karena arealnya dibuat bundar.


Puteran Spoor di Kreongan - 2 Februari 2013

Puteran spoor beroperasi secara manual, dengan tenaga manusia. Ketika saya masih SD, masih sering saya jumpai lokomotif lawas yang diputar di sini. Warna lokomotifnya hijau muda perpaduan kuning cerah. Kini ia tak lebih hanya sebuah properti milik PT Kereta Api Indonesia.

Sejak dua tahun yang lalu, saya suka sekali menelusuri stasiun-stasiun kecil di Jember. Sampai detik ini, kondisi paling parah dan mengenaskan adalah Stasiun Ajung di Kecamatan Kalisat.

Dibandingkan dengan Stasiun Ajung di Jember Utara, nasib Stasiun Balung di Jember Selatan --yang juga sudah non aktif-- terbilang jauh lebih baik. Padahal jalur ini sudah non aktif sejak pertengahan tahun 1970an.


Stasiun Balung

Maaf, untuk foto Stasiun Balung, gambarnya agak buram. Saya memotretnya dengan kamera hape pada akhir November 2013. Ketika itu, saya mencoba mengorek cerita dari beberapa warga, diantaranya adalah dengan Bapak Slamet HS, seorang pensiunan kereta api. Beliau bertugas sejak tahun 1957 dan pensiun pada tahun 1987. Kata Pak Slamet HS, sejak tahun 1974, daya guna spoor kluthuk di Jember Selatan sudah mulai surut dan akhirnya benar-benar tak berfungsi.

Kembali ke Stasiun Ajung

Tak jauh dari stasiun, ada terlihat gudang besar milik Perkebunan Nusantara X PT Persero Kalisat. Jaraknya mungkin hanya kurang dari 50 meter dari reruntuhan Stasiun Ajung. Gudang perkebunan itu berupa bangunan kuno sisa nasionalisasi era kemerdekaan. Tentu, keberadaan Stasiun Ajung dulunya sengaja dihadirkan untuk mempermudah pengiriman sumber daya alam dari wilayah Jember ke Pelabuhan Panarukan lalu menuju Eropa. Tak heran jika secara fisik, peninggalan bangunan-bangunan kereta api dan perkebunan di Jember masih berwajah kolonial.

Ingatan saya melayang pada gagasan Kementerian Perhubungan Dirjen Perkeretaapian baru-baru ini. Jika benar mereka hendak membuka kembali jalur KA Kalisat - Panarukan, tentu akan indah sebagai penunjang aksesbilitas. Saya kira salah satu PR terbesar mereka ada di Desa Ajung wilayah Jember Utara.


Berdiri di sepanjang jalur kereta yang tak ada relnya

Hari sudah sangat senja ketika kami meninggalkan stasiun yang kini tinggal cerita tersebut. Kami tak langsung pulang, melainkan masih singgah di kediaman Kepala Desa Ajung. Di sana saya pinjam sarung, ngopi, makan mie ayam, memulung kisah-kisah sejarah, dua jam kemudian baru benar-benar pulang.

Stasiun Ajung, kini ia rata dengan tanah, bahkan google pun tak mengenalnya. Mesin pencari hanya mengenal stasiun sebelahnya --Sukosari-- yang dibangun pada tahun 1900.

Terima kasih reruntuhan Stasiun Ajung. Urusan kita belum selesai. Tunggulah, suatu hari nanti kaki ini akan kembali menapak ke sana.

Sedikit Tambahan

Tertarik ingin mengimajinasikan proses pembangunan Jember di era Birnie? Cobalah untuk menonton film yang dibintangi Johnny Depp, judulnya Lone Ranger. Ia terbilang sukses membawa saya untuk membuat sketsa perwajahan Jember sejak akhir Abad XIX hingga memasuki Abad XX.

Sedikit mengutip update status Andreas Harsono semalam; Amerika Serikat ada karena jaringan kereta api. Eropa bukan Eropa tanpa kereta api. Bagaimana dengan Jember?

12 komentar:

  1. wah udah ludes aja ya mas besi2nya..biasanya kan msh ada jejaknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, sudah ludes, hehe.

      Hapus
  2. google harus berkenalan kalau gitu ya mas :)

    BalasHapus
  3. Nasib jalur mati kereta api di Jember mirip seperti yang ada di tempat tinggal saya di Jogja. Permasalahannya ya gempuran kendaraan bermotor membuat orang lambat laun meninggalkan moda angkutan kereta api, terutama untuk menempuh jarak yang tergolong dekat. Untuk membangkitkannya kembali pun sulit karena selain butuh dana yang besar, prospeknya juga dinilai tak begitu cerah.

    Mungkin kalau di negara ini ada pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, barulah jalur-jalur kereta api yang sudah mati itu kembali dilirik, hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sama ya? Eman-eman, ternyata tak hanya terjadi di kota saya :)

      Saya kira, negeri kita belum punya pemikiran yang luas dan tuntas mengenai moda transportasi. Jika permasalahannya ada di gempuran kendaraan bermotor, bisa jadi gejala motor mania hadir karena moda transportasi umum yang tak memadai, baik dari sisi kenyamanannya maupun pelayanan. Jika dirasa sulit karena dana yang besar dan dengan prospek yang dinilai tak begitu cerah, sebab para penyelenggara negeri ini memikirkannya dengan tidak tuntas dan tidak luas.

      Indonesia butuh meninjau ulang tahap-tahap pembangunan, dari mana dan akan kemana. Jadi, bukan hanya tambal sulam tapi sudah merasa wah.

      Hapus
  4. eman pol ya Mas
    harusnya lokomotif lawas yang hijau kuning itu dibikin replikanya, trus dijadikan sepur wisata
    itu puteran sepur, aku baru pertama kali lihat, bisa membayangkan jaman dulu pasti lucu kalo sepure bisa diputer puter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di jalur perbatasan Jember - Banyuwangi sudah ada sepur wisata Mbak. Nggak pengen nyoba? Saya juga belum pernah nyoba, hehe...

      Hapus
  5. coba deh itu dibikin komplek wisata...kan bisa dapat pemasukan buat daerah...sayang bgt...etapi buat spot prewed keknya bagus deh mas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat spot pengamatan capung juga oke lho :)

      Hapus
    2. ah iya..bahkan aku sekarang kehilangan capung yang dulu kalo sore sering aku tangkep :(

      Hapus
  6. Anonim14.14.00

    Sama kaya' di Widuri, Bondowoso yang udah dibongkar. Lebih ngenes lagi jalur KA Rogojampi - Benculuk di Banyuwangi. Bahkan saya belum pernah liat bekas bangunan stasiun-stasiunnya selain Stasiun Rogojampi yang masih aktif sampai sekarang.

    BalasHapus

acacicu © 2014