18.5.14

Tak Ada Rock n Roll di Hape Bapak

18.5.14

Nokia 2010 firmware code NHE-3DN

Itu bukan hape saya, sumpah. Ia milik Bapak. Sengaja saya potret karena teringat Giveaway Cerita Hape Pertama. Tadinya saya akan bercerita seputar Ericsson tipe T10, ia adalah hape pertama yang saya punya. Tapi lha kok barangnya susah dicari. Waktu googling, saya menemukan gambar yang biasa saja, membuat tidak sreg di hati. Ya sudah, akhirnya hape milik Bapak ini yang jadi korban jepretan selfish.

Tak Ada Rock n Roll di Hape Bapak

Dibanding hape jaman sekarang, tentu Nokia 2010 dengan kode NHE-3DN ini berukuran lebih besar. Bobotnya 275 gram. Saya membacanya di Nokia Museum. Lumayan, sewaktu-waktu bisa dijadikan senjata.

Sebenarnya Bapak saya bukan pengguna hape yang aktif. Ini adalah pemberian temannya, sebagai infrastruktur pekerjaan mereka. Lebih tepatnya, untuk melipat jarak. Ketika pekerjaan rampung, hape masih di tangan Bapak. Selain kontak dengan partner kerjanya, tak ada lagi yang Bapak hubungi via hape.

Kini si raksasa keluaran tahun 1994 tersebut sudah beralih fungsi menjadi mainan si Aldin, keponakan saya.

Iya, Bapak memang gagap teknologi. Tapi ia tidak pernah sekalipun iseng, pura-pura nempelin hape ke telinga kemudian bermonolog. Padahal, waktu itu hal konyol tersebut sempat berpotensi menjadi trend di kota kecil kami.

Semisal hape ini dilengkapi dengan memori penyimpan musik, tentu Bapak akan mengisinya dengan lagu-lagu Tetty Kadi, AKA Band dan mungkin Rock n Roll. Kata Bapak, saat ia beranjak remaja di era 1960an, Rock n Roll adalah musik yang sensitif. Pemerintah melarangnya. Sayangnya, fitur hape ini sederhana sekali.

Tak ada Rock n Roll di hape Bapak.

Saya dan Ericsson T10

Maaf, no photo. Tapi saya tidak sedang berbohong.

Di akhir tahun 1997, Indonesia dihinggapi krisis moneter. Harga-harga melambung tinggi, persediaan barang nasional menipis, perusahaan pun bertumbangan. PHK menjadi trending topic. Sejarah mencatat, puncak dari krisis adalah kerusuhan yang meledak di bulan Mei 1998.

Saya dan kawan-kawan segenerasi di Jember juga kena getahnya. Ketika itu kami sedang semangat-semangatnya belajar -maaf- merokok. Harga eceran rokok Gudang Garam Surya 12 yang tadinya hanya 100 rupiah untuk tiga batang, melejit menjadi seratus rupiah per batang. Ah, abaikan saja bagian ini.

Aneh adalah ketika krismon berlalu, orang-orang menjadi semakin terlihat makmur. Ini terjadi antara tahun 1999 - 2000, ditandai dengan booming album perdana Sheila on 7.

Ketika itu saya bekerja di dua bidang. Yang pertama di Sport Cafe, bertempat di jantung kampus Bumi Tegalboto yang ramai. Pekerjaan berikutnya adalah sebagai penjual CD bajakan. Biasanya, siangnya jualan kaset bajakan, malam di cafe. Kedua aktifitas itu membuat saya bertemu banyak orang dengan beragam karakter. Senang rasanya ketika melihat seseorang yang membawa hape.

Waktu itu saya berpikir, pastilah dia orang yang penting.

Tak disangka, beberapa tahun kemudian Kakak perempuan saya membelikan sebuah hape second, Ericsson T10. Saya lupa kepastian tahunnya. Mungkin 2002 atau 2003.

Tadinya saya bingung, buat apa saya pegang hape? Siapa yang harus saya hubungi? Apakah saya harus menjadi pendengar setia sebuah radio kemudian aktif berkirim salam? Tentu tidak, toh masih ada banyak telepon umum dan wartel. Barulah kemudian saya paham. Kakak sedang berkoalisi dengan Almarhummah Ibu, mereka hanya berharap saya sering memberi kabar. Memang, dulu saya nyaris tidak pernah pulang ke rumah.

Kakak membelinya dari Mas Dian putra keluarga Pak Gandi, tetangga kami yang kerjanya memang jadi makelar barang apapun. Dari Mas Dian pula saya dianjurkan untuk beli kartu perdana XL. Maka belilah saya kartu yang dimaksud. Kartu XL di masa itu kemasannya mewah. Ia terkemas dalam wadah bulat seperti wadah kosmetik. Di bagian atas, warnanya bening transparan, berpadu dengan alasnya yang berwarna kuning.

Bersama Ericsson T10 warna merah, saya bingung mau menghubungi siapa.

Hape jadul milik Bapak dan hape pertama milik saya, mereka sama-sama tak mengenal Rock n Roll. Keduanya juga tak dilengkapi kamera. Tapi ia handal dalam hal menyimpan cerita. Tentu bukan dalam bentuk gambar. Kadang saat tak sengaja meliriknya, saya jadi ingat lagu-lagu slow rock di akhir 1990an.

Sedikit Tambahan

Ericsson T10 kini hanya tinggal cerita. Saya lupa bagaimana ending hape tersebut. Yang saya ingat, setelah itu saya lumayan lama tidak pegang hape. Hape berikutnya adalah Siemens M35i.

Hape saya saat ini adalah pemberian sahabat. Ia jarang sekali saya gunakan untuk sarana komunikasi. Justru fitur kameranya --dua mega pixel-- yang lebih sering saya gunakan.

Sebagai penutup, akan saya selipkan penampakan hape yang kini setia menemani saya berburu capung.

Salam Rock n Roll!

Hape Rock n Roll:

 photo nokiakecil_zpsf8d10d8f.jpg

Nokia 2700 Classic - Di sini juga tak ada Rock n Roll ding, hehe. Hanya ada lagu-lagu ciptaan saya sendiri.



17 komentar:

  1. Itu tanduknyna bisa dibongkar-pasang ya, Mas? He-he-he

    BalasHapus
  2. Saya juga pernah pakai Sony erection lho Mas
    HP pertama saya bisa beranak dua
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, saya sudah baca yang hape setrika itu De. Hape yang keren, bisa mendatangkan dua hape lain :)

      Terima kasih.

      Hapus
  3. Wah Hape Bapaknya masih ada ya mas, barang bersejarah ituu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya masih ada, tapi sudah tidak berfungsi. Kini Bapak pegang hape dengan sistem CDMA untuk menghubungi keluarga yang jauh, jika ada kepentingan.

      Hapus
  4. hape jadul dan terkesan lebih menarik.....
    mungkin suatu saat akan menjadi mahal karena antik dan kuno....
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jadul selalu menawan di hati.

      Hapus
  5. supaya gak kepanasan jadi hpnya pakai karet ya mas hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu lantaran baterainya lagi bunting Mbak :)

      Hapus
  6. Hape adalah penghubung hati mas..g acuma Mas Hakim aja koq yang jarang pulang..saya juga dulu gitu hihihihih :) (#kesindir.com)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kita sama dong Mbak, ahaha....

      Hapus
  7. HP koyok ngunu (nokia 2010) kalau msaih dalam kondisi essip pasti akan menjadi barang antik dan unik.

    Eh, hp ne sampean seng nokia 2700 kok podo karo tek ku, Mas :)

    Sukses GA Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kita kembar Kang :)

      Maturnuwun...

      Hapus
  8. Wah,,,saya apa ya, HP pertama saya kayanya Nokia 3310eh bukan itu milik Papa kayanya, sih 2100 wakakak....
    entahlah HP SOny Ericson segede gambreng pernah lihat milik OM, kala itu pun yang punya hanya beberapa glirntir orang kalauu gak salah, udah lama banget ya, Mas Aim....2003...sudah lupa tuh :D

    BalasHapus
  9. Walaupun fungsinya nggak secanggih zaman sekarang, tapi segala yang klasik itu selalu menarik juga sih...

    BalasHapus
  10. Huahahha hape Bapak keren bingit, Mas. Masih ada ya sekarng? Hebat. Walopun cuma jadi mainan ponakan, paling nggak bisa buat cerita sama ponakannya. :)))

    Makasih ya udah ikutan GA saya.

    BalasHapus

acacicu © 2014