27.6.14

Tak Ada Ingatan Yang Sempurna

27.6.14
Saya dan istri memiliki satu kebiasaan serupa, kami sama-sama suka mencatat kejadian-kejadian yang terlewati. Biasanya data-data itu kami taruh di draft sebuah blog atau di grup facebook yang sengaja kami buat dengan format rahasia dan untuk dua orang saja. Kami memanfaatkannya untuk memasang link, menyimpan data-data, serta foto. Kami tidak memiliki hardisk yang besar, jadi saya mengakalinya dengan itu.

Sekali waktu, saya juga update status facebook dengan disertai foto. Kenapa harus disertai foto? Saya kira, itu memudahkan saya jika suatu hari nanti ingin membaca lagi apa yang pernah saya tulis. Begitu cepatnya roda media sosial, saya harus memiliki cara untuk mengatasinya.


Diskusi Novel Karya Irma Devita. Jember, 12 Juni 2014

Melihat hasil jepretan Pije di atas, membuat saya mengingat banyak hal. Saat itu, di hari yang sama lahirlah bayi mungil bernama Khansa Adzkia Hikmawan. Ia adalah buah hati pasangan Bayu Hikmawan a.k.a Wawan dan Aya. Wawan adalah keluarga tamasya band, hubungan kami terbilang sangat dekat. Di empat tahun perjalanan tamasya band, Wawan tampil sebagai manager keluarga. Ia tidak menjadi manajer sendirian, melainkan bersama  Zuhana dan Nanang NBK. Kini peran Wawan di tamasya band digantikan oleh Achmad Bachtiar a.k.a Bebeh.

Selamat mengecup dunia, Khansa Adzkia Hikmawan.

Esoknya kami menggelar acara serupa di Kalisat, Jember Utara. Bedanya, di Kalisat dikemas dengan format yang lebih santai, apa adanya, dan outdoor. Saya membuat catatan yang panjang --dalam draft-- untuk kedua acara tersebut, perihal Diskusi Novel Sang Patriot Sebuah Epos Kepahlawanan.

Malam harinya, kami mengajak Marjolein untuk menonton reuni Kentrung Djos, sebuah komunitas seni kentrung yang legendaris, berdiri di Fakultas Sastra Universitas Jember sejak 1982. Mereka lama sekali tidak tampil. Pantaslah jika banyak yang menanti penampilannya.


Kentrung Djos, 13 Juni 2014

Salah satu penggerak Kentrung Djos adalah Mas Ilham Zoebazary. Hingga kini ia masih aktif menjadi pengajar di Fakultas Sastra UJ. Ia juga menjadi pembicara di acara Diskusi Novel di Auditorium RRI Jember yang bertutur tentang perjuangan masyarakat Jawa Timur, khususnya Jember, dengan tokoh sentral Letkol Moch. Sroedji.

Sayang sekali Keluarga Besar Sroedji tidak bisa menonton penampilan Kentrung Djos. Mereka sedang beristirahat di Aston Hotel. Esok harinya mereka masih harus on air di Prosatu RRI Jember, kemudian meluncur ke Surabaya untuk mempersiapkan acara di sana, 15 Juni 2014. Sedulur Roodebrug Soerabaia sudah mempersiapkan serangkaian acara, diantaranya adalah Aksi Teatrikal Sang Patriot. Keren sekali!

Sabtu sore, 14 Juni 2014

Ketika Keluarga Sroedji meluncur ke Kota Surabaya, kami menemani Marjolein jalan-jalan ke Kalisat. Ia tampak antusias dengan Stasiun Kalisat serta bangunan-bangunan tua di sekitarnya. Namun Marjolein lebih berhasrat pada jenis-jenis ubin lawas. Ada apa dengan ubin lantai di Stasiun Kalisat? Saya pernah menceritakannya di sini.

Seusai tamasya sejarah di sekitar Stasiun Kalisat, serta berbincang dengan beberapa orang sepuh di sana, kami berpindah tempat. Kali ini bergeser ke Dawuhan Kembar, menikmati hasil masakan Ibu Sulasmini.

Kami makan bersama-sama. Walaupun tersedia piring, kami memilih untuk makan di atas daun. Rupanya Marjolein tak pandai makan tanpa sendok. Ia kidal pula. Syukurlah, meski demikian ia tampak senang.

Minggu, 15 Juni 2015

Ketika Roodebrug Soerabaia sedang melangsungkan Aksi Teatrikal Sang Patriot di Tugu Pahlawan Surabaya, kami yang di Jember sedang jalan-jalan di Kecamatan Rambipuji. Kami melihat bangunan, ngobrol di sebuah warung kopi, bertemu dengan Mas Slamet, lalu diajaknya kami --oleh Mas Slamet-- menemui pasangan Kakek dan Nenek Yo. Saat kami tiba di sana, hanya ada Nenek Yo. Rupanya suaminya sedang keluar bersama salah satu keponakannya.


Kami dan Keluarga Yo di Rambipuji

Bersama Nenek Yo, kami mendapatkan serpih-serpih perwajahan Rambipuji di era 1947 - 1949. Ada banyak hal yang saya catat dari sesi pertemuan ini.

Di hari yang sama, sore harinya, datang kabar gembira. Pasangan keluarga tamasya band Nanang NBK dan Elis, mereka telah dikaruniai momongan. Alhamdulillah. Mereka memberinya nama Vikesha Affandra Lesta Kurniawan.

Sebenarnya, ketika Vikesha lahir --Malang, 17.17 WIB, kami baru saja selesai berdiskusi dengan Pak Sabar a.k.a Kusnadi, lelaki sepuh kelahiran 1914. Kini ia tinggal di Desa Kaliputih, Rambipuji. Saat itu kami bersiap-siap meluncur ke Grenden, menghadiri undangan makan bersama oleh keluarga Etty Dharmiyatie. Itu benar-benar hari yang padat.

Selamat mengecup dunia, Vikesha Affandra Lesta Kurniawan.

Esok harinya kami mengantarkan Marjolein ke Stasiun Jember. Saat itu ia hendak melakukan perjalanan ke Banyuwangi. Juni yang indah, bulan yang penuh kisah.

Tak Ada Ingatan Yang Sempurna

Dalam rangkaian catatan di atas, sebenarnya saya sedang menyajikan data-data untuk diri saya sendiri, agar mudah untuk mengingatnya. Saya bersyukur jika rangkaian data itu bisa dinikmati oleh sahabat blogger. Adapun sebagian besar data yang lebih detail, saya simpan di beberapa tempat. Kebanyakan di draft sebuah blog, lalu catatan yang ada di draft itu saya salin di PC komputer.

Tak ada ingatan yang sempurna, maka akan baik jika kita membaca sebanyak-banyaknya, menggali sedalam-dalamnya, dan mencatat sesempat-sempatnya. Saya kira apa yang dikatakan Andreas Harsono dalam blog pribadinya adalah benar, bahwa menuliskan masa lalu dengan benar adalah kunci untuk menghadapi masa depan dengan baik.

Mari mencatat.

Sebagai penutup, akan saya tuliskan kisah tentang Thucydides, dari buku Pantau, Sembilan Elemen Jurnalisme. Mereka mengadopsinya dari buku berjudul; Thucydides, History of the Peloponnesian War.

Thucydides

Saat ia duduk untuk menulis, wartawan Yunani itu ingin meyakinkan pembacanya bahwa mereka bisa percaya kepadanya. Ia ingin orang tahu, ia tak sedang menulis versi resmi sebuah peperangan, ataupun sedang tergesa-gesa. Ia sedang berupaya menghasilkan sesuatu yang lebih independen, yang lebih bisa diandalkan, dan yang lebih tahan lama. Ia berhati-hati dalam membuat laporannya karena memori, perspektif, dan politik telah mengaburkan daya ingatnya. Ia harus mengecek ulang fakta yang ditemukannya.

Untuk menyampaikan semua ini, ia memutuskan untuk menjelaskan metode pembuatan laporannya begitu ia memulainya. Berikut adalah dedikasi terhadap metodologi kebenaran yang ditulis Thucydides, lima abad sebelum Masehi, dalam pengantar laporan Perang Peloponnesia:

Sekalipun ada peristiwa faktual yang saya saksikan ... saya berprinsip untuk tak langsung menuliskan cerita pertama yang datang kepada saya, dan bahkan tidak akan tergiring oleh kesan umum yang saya tangkap; baik saya hadir langsung di lokasi peristiwa yang saya gambarkan ataupun mendengar tentang peristiwa itu dari saksi mata yang laporannya saya periksa seteliti mungkin. Bahkan dengan cara itu pun kebenaran tak mudah didapatkan: saksi mata yang berbeda memberi kesaksian yang berlainan dari peristiwa yang sama, menyebutnya sebagian saja, dari satu sisi atau sisi yang lainnya, atau karena ingatan yang tidak sempurna.

Sejak pertama membaca pemikiran Thucydides, saya segera merenungkannya. Kini saya semakin merenungkannya. Gagasannya hidup di kepala saya.

Sejarah atau sajaratun, ia seperti biji pohon asam yang tumbuh di tembok raksasa. Semakin besar, semakin ia berdaulat atas dirinya sendiri. Bayangkan bila sejarah ditulis dengan sebenar-benarnya, dengan disiplin verifikasi, tentu apa yang dikatakan seorang Andreas Harsono menjadi nyata adanya.

"Saya kira menuliskan masa lalu dengan benar adalah kunci untuk menghadapi masa depan dengan baik."

22.6.14

Cerita Kemarin

22.6.14
Ini cerita kemarin, 21 Juni 2014. Siang hari, kawan-kawan Kalisat datang berkunjung ke rumah kami. Mereka mengajak saya dan istri untuk jalan-jalan ke Puncak Rembangan. Tentu kami senang dan tidak keberatan. Tak lama kemudian kami pun meluncur bersama-sama ke Rembangan. Menikmati jus alpukat di ketinggian.

Kawan-kawan Kalisat mengajak kami ke Rembangan ternyata ada maksudnya. Mereka mempersiapkan kejutan untuk Prit.

"Selamat hari lahiiir."

Lalu mereka mengeluarkan sebuah kotak kardus yang dihias dengan klaras, daun-daun pisang yang sudah mengering. Oleh mereka, disuruhnya Prit membuka kotak tersebut. Prit membukanya, dengan ekspresi wajah yang campur baur. Ketika bungkus telah terbuka, di sana ada terlihat kue tar. Terlihat sangat cantik. Menjadi semakin cantik ketika mereka bercerita bahwa kue tersebut buatan sendiri, dengan memanfaatkan bahan dari telo atau ubi jalar. Keren! Di atas kue tersebut dihiasi kremer warna kuning, lilin-lilin kecil, dan seekor capung mati sebagai pajangan.

Prit nampak terharu ketika meniup lilin di atas kue tar ala Jember tersebut.

Turun dari Rembangan, kami langsung meluncur ke Tamanan Kecamatan Bondowoso. Rencananya saya akan mengajak mereka untuk menghadiri acara pernikahan adik saya, Anaz Gembeng namanya. Namun di tengah jalan, tepatnya di Desa Sukoreno, hujan turun dengan lebatnya. Kami berteduh di sebuah tempat pembuatan batu bata. Lama sekali kami menanti hujan reda, sekitar dua jam.

Ohya, saya hampir lupa hendak bercerita tentang motor. Saya tidak membawa motor sendiri, melainkan membawa motor spin milik Lukman Hakim. Punya saya dibawanya ke Taman Nasional Alas Purwo. Sebelum berangkat ke Rembangan, knalpot motor spin itu masih harus di las. Turun dari Rembangan, knalpot itu putul. Eh, ternyata tadi salah tempat. Harusnya yang di las ada di bagian yang lain. Kami mengelasnya kembali di Arjasa, tepat di seberang SMA 1 Arjasa.

Hingga menjelang maghrib, hujan tak juga mereda.

Rian, putra seorang Kepala Desa Ajung, dia membawa mobil dan menyusul kami. Rian tidak sendirian, melainkan berdua dengan Oldis. Akhirnya saya dan Prit menyetujui gagasan mereka. Kami naik mobil menuju Kalisat, sementara motor dipakai oleh kawan Kalisat.

Kami memang tetap menuju pernikahan si Anaz, tapi sekitar jam sembilan malam.

Pulang dari rumah Anaz di Bondowoso, kami masih menyangkut di warung kopi di Sukowono. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam ketika saya dan Prit meluncur pulang.

Hari yang keren. Selamat hari lahir Prit.

Catatan

Hari ini tidak ada CLBK on air di Prosatu RRI Jember. Jam untuk acara tersebut digunakan untuk Debat Capres. Ada baiknya juga buat saya dan kawan-kawan. Kebetulan hari ini ada tiga kawan asal Jakarta yang tidur di rumah kami. Mereka baru turun dari Gunung Rinjani, tidak dapat tiket kereta api menuju Jakarta. Jadi mereka beristirahat di Jember, di rumah saya.

19.6.14

Cangkruk di Warung Kopi

19.6.14
Di sebuah warung kopi. Mereka sedang asyik membicarakan penutupan kawasan lokalisasi Dolly di Surabaya. Ada yang mendukung kebijakan Walikota Tri Rismaharini, ada juga yang tertawa-tawa saja sambil sesekali menyeruput kopi miliknya. Ini memang obrolan warung kopi, tapi pengetahuan mereka setara dengan diskusi para Doktor, meski tentu saja beda pilihan kata dan suasana. Dari sosok Dolly van de Mart hingga Dolira Advonso Chavid dibahasnya juga.

"Menurut Mas Hakim bagaimana?"

"Saya tidak tahu Pak, sudah lebih sebulan tidak nonton tivi, hehe."

Mereka tertawa renyah. Saya yang bingung mau bagaimana, jadi ikut-ikutan tertawa.

Lalu tema cangkruk'an beralih pada bola. Mereka ngrasani Iker Casillas yang gawangnya kebobolan dua gol. Spanyol tersingkir di perhelatan akbar Piala Dunia 2014, sedang Chile tampil bersinar.

Lagi, salah satu dari mereka melempar tanya kepada saya. Rupanya dia ingin tahu apa pendapat saya mengenai World Cup tahun ini yang diselenggarakan di Brasil.

Ahaha, saya baru sadar jika sampai saya menuliskan ini, belum satu partai pertandingan pun yang sudah saya tonton. Satu-satunya orang yang berhasil menyadarkan saya bahwa Piala Dunia sudah dimulai, dia adalah Marjolein Van Pagee. Enam hari yang lalu, ketika baru saja bangun tidur, Marjo pergi ke kamar mandi sambil membawa handuk dan peralatan mandi. Ketika itu dia berkata, "Hore, negaraku menang atas Spanyol."

Rupanya Piala Dunia telah berlangsung. Jadi ingat tweet seorang teman. Dia bilang, Piala Dunia tahun ini adalah sebuah ilusi besar yang disiapkan untuk orang asing. Namun bukan karena apa yang terjadi di Brasil yang membuat saya belum menonton bola. Saya hanya belum menyalakan televisi, itu saja.

Marjolein tentu senang ketika kemarin, 18 Juni 2014, Der Oranje berhasil mengalahkan Australia tiga dua. Di hari yang sama, dunia sedang menyoroti proses penutupan Lokalisasi Dolly, pusat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara.

"Noni Belanda itu sudah pulang Mas?"

"Sampun Pak Lik. Dia melanjutkan jalan-jalan ke Banyuwangi."

Tentu yang dimaksud noni adalah Marjolein. Ia tinggal di rumah saya sejak 11 Juni yang lalu. Pada 16 Juni siang, saya mengantarnya ke Stasiun Jember. Marjo naik Mutiara Timur menuju Kota Gandrung.

"Kok iso enek bule kerasan nang omahmu, kuwi piye ceritane?"

Lalu saya bercerita, dimulai dari setengah tahun yang lalu ketika saya diajak Mbak Ing ke sebuah cafe di Jalan Antara, Pasar Baru. Dari sana saya dikenalkan dengan Marjo, juga rekannya yang bernama Max. Ketika itu Marjo berjanji, suatu hari nanti akan berkunjung ke rumah saya.

"Ing kuwi sing putune Pak Sroedji yo le?"

"Iya Pak De."

Mereka kemudian banyak bertanya tentang novel karya Irma Devita Purnamasari, cucu dari Letkol Moch. Sroedji. Mereka juga menanyakan tentang acara Diskusi Novel yang berkisal tentang perjuangan rakyat Jember dan sekitarnya, dengan tokoh sentral Letkol Moch. Sroedji. Tentu saya senang menuturkan acara yang terselenggara pada 12 Juni 2014 di Auditorium RRI tersebut, serta acara lanjutan esok harinya di Kalisat.

Ada yang mengira saya bekerja di bidang Event Organiser, hehe.

"Kebetulan saya mendengarkan lewat radio Mas. Senang rasanya ketika tahu acara itu dihadiri oleh dua putri Sroedji yang kini sudah mulai sepuh. Ohya, anak kandungnya Kyai Dahnan Kreongan turut hadir ya Mas Hakim? Juga putra bungsunya Pak Santun, Sopir dan Asisten Pribadi Sroedji?"

Saya mengangguk. Senang ada tetangga yang mendengarkan lewat radio.

"Kalau tamasya band punya gawe, biasanya keluarga tamasya langsung nggrudug, betul kan Mas?"

Kali ini kawan yang lebih muda dari saya yang bertanya. Kepadanya saya berkata, Diskusi yang di Auditorium RRI Jember itu diistimewakan pada para veteran dan keluarga serta pendengar radio. Undangan resmi lebih banyak request dari Universitas Moch. Sroedji. Sementara diskusi di Kalisat, itu istimewa buat kawan-kawan pelajar.

"Pasti rame acara diskusinya."

"Yang rame itu kan acara musik Pak Lik."

Mereka tertawa mendengar jawaban saya. Lalu saya bercerita tentang acara diskusi tersebut dari awal sampai akhir. Mereka bertanya, kenapa Bupati Jember tidak hadir? Saya bilang, saya tidak tahu kenapa. Kabar baiknya, ia mengirimkan perwakilan. Yang datang adalah Kepala Dinas Pendidikan Jember, Drs. Bambang Hariono, MM. Kabar baiknya lagi, ia mengikuti acara dari awal hingga tuntas.

"Kok aneh ya, tidak biasanya ada pejabat yang mengikuti acara seperti itu sampai tuntas. Ada saja alasan untuk hengkang dari tempat duduk."

"Bikin acara di Auditorium RRI Jember gratis ya Mas? Kan radio publik milik bangsa."

"Mboten Pak Lik, sami mawon. Keluarga Sroedji membayar untuk itu. Kemarin pihak RRI mematok harga dua juta rupiah. Di detik-detik terakhir, mereka menambahkan biaya sebesar lima ratus ribu rupiah. Barangkali RRI sedang ada di masa sulit. Padahal tadinya kami merencanakan acara di sini karena selain aksesbilitas, fasilitas on air, juga berharap biaya yang murah."

Bagaimanapun, tentu kami tetap berterima kasih pada RRI, teristimewa untuk pasangan Mas Didik dan Mbak Etty, duo sahabat tamasya band yang mengabdikan hidupnya untuk RRI. Mereka berdua telah memberikan banyak hal untuk suksesnya acara Diskusi Novel karya Irma Devita.

"Saya pamit dulu nggih, ini istri saya ngajak jalan-jalan."

"Monggo-monggo Mas Hakim. Besok ngopi lagi ya, ceritanya masih belum selesai lho Mas."

Saya tersenyum. Setelah membayar secangkir kopi dan beberapa camilan, saya melangkah pulang.

6.6.14

Pak Napi

6.6.14
Hari ini Bapak tampak sedih, saya bisa melihatnya dari raut wajah dan gelagatnya. Saat saya tanya kenapa, Bapak berkata tidak ada apa-apa. Tapi nuansa sedih sudah kadung menular. Ketika saya duduk di dekatnya, ia menjauh, melakukan sesuatu seolah sedang gembira.

Lalu saya keluar menuju warung Bu Bunawi untuk beli cigarettes. Saya berencana menikmatinya berdua saja dengan Bapak. Di bangku warung, ada beberapa pelanggan. Mereka sedang menikmati kopi di siang yang terik. Aneh, seharusnya mereka menikmati es degan ijo atau apalah asal minuman dingin. Lebih aneh lagi, di warung juga saya rasakan aura sedih. Ada apa?

"Pak Kaji Napi tadhek omor, padahal malemmah Almarhum gik agejek mbi' Pak Rohim."

Saya termenung dan merasa bersalah sebab bangun siang. Rupanya Pak Napi meninggal dunia. Semalam, Almarhum masih sempat bersenda gurau dengan Bapak. Ketika pulang ke rumah, sekitar pukul satu dini hari, ia terjatuh dari kamar mandi.

Dari warung Bu Bunawi, saya segera beranjak pulang. Tiba-tiba saya kangen Bapak, ingin sekali menemaninya ngobrol, membicarakan masa lalu untuk saya jadikan modal menatap hari ini dan masa depan. Sayang sekali, saat tiba di rumah, Bapak sudah pergi entah kemana. Mungkin kembali takziyah.

Saya tenger-tenger. Segala acara sore ini saya pangkas habis. Saya tidak peduli, hari ini saya hanya ingin menemani Bapak. Tentu ia sangat kehilangan. Paras wajah Bapak sama seperti ketika ia kehilangan Pak Ris, Pak Hadi, Pak Cip, serta para sahabatnya yang lain. Ibarat penggalan lirik lagu Iwan, "Satu persatu sahabat pergi, dan takkan pernah kembali."

Terlintas dongeng Bapak tentang wajah Desa Patrang tempo dulu, ketika merk-merk sepeda motor masih hanya Ducati, Norton, Radex, BSA, DKW, Sundap, Torpedo, Matchlesz, TWN, Areel, Impulse, dan HD. Bapak bilang, tidak banyak orang yang memilikinya. Dari yang sedikit itu, satu diantaranya adalah Norton milik Mbah Kaji Soleh, Ayah dari Almarhum Pak Napi.

Di mata saya, Pak Napi adalah figur yang murah senyum. Sebelum Jember diserbu waralaba, toko miliknya terbilang besar, setara dengan toko-toko milik anak cucu sedulur Cina Perantauan. Saya dan istri sering membeli es batu di sana. Sayang, tahun lalu rumah ini dibongkar, dibeli oleh Udin, saudagar berdarah Arab pemilik Perumahan Regency.

Anak cucu Haji Soleh banyak, mereka adalah para tetangga yang baik. Ketika ada yang meninggal dunia, tentunya dikebumikan di makam belakang bekas Gudang Tembakau Linda. Ini adalah tanah wakaf Haji Soleh. Almarhummah Ibu saya juga dikebumikan di sana.

Haji Soleh memiliki musholla kecil di sebelah rumahnya, hingga kini belum dibongkar. Disanalah dulu saya menghabiskan masa kecil untuk belajar mengaji, dengan pengajar bernama Lek Sugiarto.

Kembali ke Bapak

Saya belajar banyak hal dari Bapak. Satu diantaranya adalah tentang bagaimana caranya menjadi tua, kehilangan, kebutuhan akan teman bicara, serta bagaimana sebaiknya memperlakukan detik yang terus berdetak. Waktu terlalu kejam untuk diremehkan. Semakin kita larut meremehkan waktu, maka menjadi tua akan sangat terasa menyebalkan.

Bapak dan Pak Napi, mereka adalah dua dari beberapa inspirasi hidup saya. Tentu akan indah jika saya juga bisa menikmati hidup seperti Pak Napi. Murah senyum dan bermanfaat untuk orang lain. Semoga saya bisa memperlakukan hidup dengan baik, Amin.

Segala doa terbaik untuk Pak Napi.

Sedikit Tambahan

Malam harinya, sahabat saya Aden Dwi Kusuma dan Oky Natacya Devi melangsungkan resepsi pernikahan. Selamat menikah.

Salam saya, RZ Hakim

3.6.14

Save the Sajaratun

3.6.14
They said Jember don't have any culture, arts or even language. Yes, we don't have it. But we create it!

Saya suka sekali dengan barisan kata yang dituliskan oleh Arum S. Palupi. Sederhana tapi jeli, renyah tapi nggepuk. Barangkali itu juga dirasakan pula oleh kawan-kawan segenerasinya.

Sebenarnya ini terasa aneh di saya, sebab Jember adalah sebuah kota yang memiliki banyak Perguruan Tinggi, satu diantaranya adalah Perguruan Tinggi Negeri dan membuka Jurusan Ilmu Sejarah pula. Adapun Arum, ia adalah Mahasiswi Teknik Universitas Jember dan ia sedang menyodorkan buah pikir yang kritis. Jika saja Perguruan Tinggi di Jember memikirkan sejarah secara luas dan tuntas, serta melakoni Tri Dharma dengan sebenar-benarnya, kiranya Arum tak butuh bertanya.

Atau sebaliknya? Mereka sudah memahami perannya dan kita tidak punya akses untuk membaca. Saya kira, hasil dari sebuah Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, itu semua tidak sempurna jika tak ada poin Pengabdian kepada Masyarakat.

Waktu seusia Arum, pertanyaan itu tentu juga berlaku pada saya. Agak mundur sedikit lagi, ketika saya masih bocah, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak tuntas. Salah satu pertanyaan saya adalah tentang bagaimana wajah Jember ketika proklamasi baru saja dikumandangkan. Juga pertanyaan tentang patung yang ada di pelataran Pemkab Jember.

Lalu ingatan ini terbang menuju warung kopi.

Keakraban saya dengan dunia warung kopi terbilang dini, ketika saya masih es em pe. Di sini, saya belajar mencuri ilmu lewat telinga, dari perbincangan orang-orang dewasa. Kadang mereka bicara tentang Majapahit, tentu dikaitkan dengan pemberontakan Kerajaan Sadeng di Jember, yang bekerja sama dengan Kerajaan Keta di Situbondo. Di waktu yang lain salah satu dari pengunjung warung kopi bicara tentang Blambangan. Atau tentang para pelarian kerajaan yang mencari damai di tanah Jember, dan tentang sebuah persinggahan.

Saya suka, khusyuk mendengarkan, lalu membayar secangkir wedang jahe pada Cak Gimin dan melangkah pulang. Kadang langkah kaki ini terhenti lantaran salah satu dari mereka mulai mblarah beropini tentang wajah Jember jadul, ketika masih jembrek. Saat hujan, ada berjuta nyamuk, dikala kemarau berhias debu.

Hari berlalu, saya tumbuh semakin besar. Ingatan masa kecil membuat saya bersedia untuk mencari tahu bagaimana caranya agar menyukai sejarah. Mengumpulkan, mengayak, lalu menebarkan. Hingga kini saya masih belajar.

Tujuh tahun yang lalu, ketika seorang Emha Ainun Najib datang ke Jember, ia membuka obrolan dengan kata-kata seperti ini.

"Jember ini sebenarnya harta karun terpendamnya Indonesia. Semua pemberontakan sejak jaman Jawa awal itu yo teko kene iki. Jadi dulu di zaman Singosari, di zaman Mojopahit, di zaman Walisongo, dari Probolinggo sampai ke Jember - Banyuwangi, di sini tempat orang-orang yang memang gelisah dan ingin melakukan perbaikan-perbaikan. Dadi Jember ini harus bangkit rek!"

Saya tersenyum mendengarnya. Teringat pada guru-guru sejarah di warung kopi yang datang dan pergi. Berlalu lalang. Saat mereka menghilang, sebagian kecil kata-katanya masih cangkruk'an di telinga saya.

Jember itu Jembar. Luas. Segala pemberontakan yang pernah terjadi tempo dulu tak membuat generasi saat ini memelihara dendam. Di Jember ada Jalan Gajah Mada, ada pula Jalan Pajajaran.

Saya tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan dimana. Ketika Tuhan menempatkan saya di sini, saya bahagia, meski kadang dituntut untuk memulung sendiri puing-puing sejarah masa silam.

Untuk Arum. Sejarah itu adopsi dari kata Arab, šajaratun, artinya pohon. Jadi jika Arum ingin mencintai sejarah, maka cintailah pohon, ahaha. Guyon Nduk.

Saya tutup catatan ringan ini dengan mengutip pemikiran seorang Pram.

"Tak mungkin kita dapat mencintai negeri dan bangsa ini, jika kita sama sekali tak mengenal sejarahnya."

Salam saya, RZ Hakim
acacicu © 2014