19.6.14

Cangkruk di Warung Kopi

19.6.14
Di sebuah warung kopi. Mereka sedang asyik membicarakan penutupan kawasan lokalisasi Dolly di Surabaya. Ada yang mendukung kebijakan Walikota Tri Rismaharini, ada juga yang tertawa-tawa saja sambil sesekali menyeruput kopi miliknya. Ini memang obrolan warung kopi, tapi pengetahuan mereka setara dengan diskusi para Doktor, meski tentu saja beda pilihan kata dan suasana. Dari sosok Dolly van de Mart hingga Dolira Advonso Chavid dibahasnya juga.

"Menurut Mas Hakim bagaimana?"

"Saya tidak tahu Pak, sudah lebih sebulan tidak nonton tivi, hehe."

Mereka tertawa renyah. Saya yang bingung mau bagaimana, jadi ikut-ikutan tertawa.

Lalu tema cangkruk'an beralih pada bola. Mereka ngrasani Iker Casillas yang gawangnya kebobolan dua gol. Spanyol tersingkir di perhelatan akbar Piala Dunia 2014, sedang Chile tampil bersinar.

Lagi, salah satu dari mereka melempar tanya kepada saya. Rupanya dia ingin tahu apa pendapat saya mengenai World Cup tahun ini yang diselenggarakan di Brasil.

Ahaha, saya baru sadar jika sampai saya menuliskan ini, belum satu partai pertandingan pun yang sudah saya tonton. Satu-satunya orang yang berhasil menyadarkan saya bahwa Piala Dunia sudah dimulai, dia adalah Marjolein Van Pagee. Enam hari yang lalu, ketika baru saja bangun tidur, Marjo pergi ke kamar mandi sambil membawa handuk dan peralatan mandi. Ketika itu dia berkata, "Hore, negaraku menang atas Spanyol."

Rupanya Piala Dunia telah berlangsung. Jadi ingat tweet seorang teman. Dia bilang, Piala Dunia tahun ini adalah sebuah ilusi besar yang disiapkan untuk orang asing. Namun bukan karena apa yang terjadi di Brasil yang membuat saya belum menonton bola. Saya hanya belum menyalakan televisi, itu saja.

Marjolein tentu senang ketika kemarin, 18 Juni 2014, Der Oranje berhasil mengalahkan Australia tiga dua. Di hari yang sama, dunia sedang menyoroti proses penutupan Lokalisasi Dolly, pusat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara.

"Noni Belanda itu sudah pulang Mas?"

"Sampun Pak Lik. Dia melanjutkan jalan-jalan ke Banyuwangi."

Tentu yang dimaksud noni adalah Marjolein. Ia tinggal di rumah saya sejak 11 Juni yang lalu. Pada 16 Juni siang, saya mengantarnya ke Stasiun Jember. Marjo naik Mutiara Timur menuju Kota Gandrung.

"Kok iso enek bule kerasan nang omahmu, kuwi piye ceritane?"

Lalu saya bercerita, dimulai dari setengah tahun yang lalu ketika saya diajak Mbak Ing ke sebuah cafe di Jalan Antara, Pasar Baru. Dari sana saya dikenalkan dengan Marjo, juga rekannya yang bernama Max. Ketika itu Marjo berjanji, suatu hari nanti akan berkunjung ke rumah saya.

"Ing kuwi sing putune Pak Sroedji yo le?"

"Iya Pak De."

Mereka kemudian banyak bertanya tentang novel karya Irma Devita Purnamasari, cucu dari Letkol Moch. Sroedji. Mereka juga menanyakan tentang acara Diskusi Novel yang berkisal tentang perjuangan rakyat Jember dan sekitarnya, dengan tokoh sentral Letkol Moch. Sroedji. Tentu saya senang menuturkan acara yang terselenggara pada 12 Juni 2014 di Auditorium RRI tersebut, serta acara lanjutan esok harinya di Kalisat.

Ada yang mengira saya bekerja di bidang Event Organiser, hehe.

"Kebetulan saya mendengarkan lewat radio Mas. Senang rasanya ketika tahu acara itu dihadiri oleh dua putri Sroedji yang kini sudah mulai sepuh. Ohya, anak kandungnya Kyai Dahnan Kreongan turut hadir ya Mas Hakim? Juga putra bungsunya Pak Santun, Sopir dan Asisten Pribadi Sroedji?"

Saya mengangguk. Senang ada tetangga yang mendengarkan lewat radio.

"Kalau tamasya band punya gawe, biasanya keluarga tamasya langsung nggrudug, betul kan Mas?"

Kali ini kawan yang lebih muda dari saya yang bertanya. Kepadanya saya berkata, Diskusi yang di Auditorium RRI Jember itu diistimewakan pada para veteran dan keluarga serta pendengar radio. Undangan resmi lebih banyak request dari Universitas Moch. Sroedji. Sementara diskusi di Kalisat, itu istimewa buat kawan-kawan pelajar.

"Pasti rame acara diskusinya."

"Yang rame itu kan acara musik Pak Lik."

Mereka tertawa mendengar jawaban saya. Lalu saya bercerita tentang acara diskusi tersebut dari awal sampai akhir. Mereka bertanya, kenapa Bupati Jember tidak hadir? Saya bilang, saya tidak tahu kenapa. Kabar baiknya, ia mengirimkan perwakilan. Yang datang adalah Kepala Dinas Pendidikan Jember, Drs. Bambang Hariono, MM. Kabar baiknya lagi, ia mengikuti acara dari awal hingga tuntas.

"Kok aneh ya, tidak biasanya ada pejabat yang mengikuti acara seperti itu sampai tuntas. Ada saja alasan untuk hengkang dari tempat duduk."

"Bikin acara di Auditorium RRI Jember gratis ya Mas? Kan radio publik milik bangsa."

"Mboten Pak Lik, sami mawon. Keluarga Sroedji membayar untuk itu. Kemarin pihak RRI mematok harga dua juta rupiah. Di detik-detik terakhir, mereka menambahkan biaya sebesar lima ratus ribu rupiah. Barangkali RRI sedang ada di masa sulit. Padahal tadinya kami merencanakan acara di sini karena selain aksesbilitas, fasilitas on air, juga berharap biaya yang murah."

Bagaimanapun, tentu kami tetap berterima kasih pada RRI, teristimewa untuk pasangan Mas Didik dan Mbak Etty, duo sahabat tamasya band yang mengabdikan hidupnya untuk RRI. Mereka berdua telah memberikan banyak hal untuk suksesnya acara Diskusi Novel karya Irma Devita.

"Saya pamit dulu nggih, ini istri saya ngajak jalan-jalan."

"Monggo-monggo Mas Hakim. Besok ngopi lagi ya, ceritanya masih belum selesai lho Mas."

Saya tersenyum. Setelah membayar secangkir kopi dan beberapa camilan, saya melangkah pulang.

2 komentar:

  1. yang paling gayeng jika membicarakan dolly, tapi entah dolly yang mana he he he

    BalasHapus

acacicu © 2014