26.7.14

Dari Jendela ke Jendela

26.7.14

Memotret Jendela Musholla, 26 Juli 2014

Tadi sore saya berkunjung ke sebuah rumah tua, letaknya tak jauh dari Stasiun Kalisat, Jember. Bapak Edy, pemilik rumah tersebut, ia mempersilahkan kami untuk melihat-lihat bangunan rumahnya.

"Tidak ada plakat apapun yang menunjukkan usia bangunan. Namun menurut Almarhum Kakek, rumah ini dibangun pada 1901."

Sembari mendengar kisah, pandangan saya edarkan ke sekeliling hingga menjumpai sebuah jendela tua yang mempersembahkan pemandangan berupa jendela Musholla. Dua jendela ini saling berseberangan.

Saya terpikat dengan pemandangannya. Dari jauh, saya bisa melihat adanya lubang Mihrab. Ia mengingatkan saya pada kisah Kapitayan. Tentu, saya juga teringat Lomba Foto yang diadakan Om NH.


23.7.14

Menuju Kebahagiaan

23.7.14
Hari ini saya lelah sekali. Tubuh rasanya lemas, nyaris dalam seharian saya lebih banyak menghabiskan waktu di atas kasur. Leyeh-leyeh, mencoba memejamkan mata. Saat gagal terpejam, saya raih sebuah buku dan membacanya dengan acak, lalu kembali terkapar.

Iya, saya masih bertahan untuk berpuasa hingga adzan maghrib berkumandang, namun tak berkegiatan apapun. Ibaratnya, saya adalah bagian dari Ashabul Kahfi di masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Saya seperti sedang tidur selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti.

Haha, kiranya puasa saya hari ini tidak berkualitas.

Di luar sana, Indonesia sedang merayakan Hari Anak Nasional. Ini sesuai dengan Kepres RI Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984. Dikabarkan bahwa mesin pencari google sedang menampilkan doodle berupa alat permainan tradisional yaitu congklak. Saya biasa menyebutnya dakon. Memandang doodle ini, saya jadi teringat nasib para bocah yang hidup di Gaza.

Ini bulan Juli yang penuh cerita, mulai dari wajah perpolitikan negeri ini hingga Final Piala Dunia antara Jerman Vs Argentina pada 14 Juli yang lalu.

Kata istri, saya mudah lelah sebab terlalu sering memikirkan banyak hal. Saya tertawa, tapi kata-kata itu akhirnya saya pikirkan juga. Mungkin. Akhir-akhir ini saya terlalu banyak memikirkan bab kebangsaan.

Syukurlah, sejak tiga bulan yang lalu saya memiliki aktifitas yang menyenangkan. Saya, istri saya, dan beberapa sahabat dekat, kami mencoba memulai 'mencari penghasilan' di bidang sosial media dan web management content. Ini aktifitas yang menyenangkan. Kami bahagia bisa berkarya di jalur yang kami sukai. Lebih membahagiakan lagi, kami mandiri dalam membuat jadual sendiri, bertanggung jawab atas masing-masing jalur yang kami bidangi.

Saya bergerak di jalur pembuatan konten, istri saya di sosial media strategi dan turut membantu pengadaan konten, sementara bidang web dan design digarap oleh Ahmad Yusuf dan Faisal. Mereka berdua adalah adik saya di pencinta alam. Ketika Ananda Firman Jauhari pulang ke Jember --setelah menghabiskan waktu berproses di Sokola Rimba, sejak kemarin --22 Juli 2014-- ia juga turut bergabung bersama kami.

Aktifitas ini membuat saya masih bisa melakukan hobi yang lain, silaturrahmi ke desa. Sangat membahagiakan.

Dari kesukaan silaturrahmi tersebut, terbersit gagasan kecil untuk beraktifitas di luar jalur mencari penghasilan. Kami ingin menyemarakkan diskusi-diskusi di desa, berbagi pengetahuan dan saling belajar. Kami sendiri ingin menyuarakan tentang pentingnya teknologi informasi. Doakan semoga kami bisa mengeksekusi gagasan kecil ini.



SR Codia, itulah brand yang kami usung. Codia adalah kependekan dari Content Media. Sementara SR, ia adalah singkatan dari Slamet Riyadi, nama jalan di rumah saya. Kami sematkan juga singkatan nama JL. Slamet Riyadi sebab SR Codia berkantor di rumah saya.

Itulah sepenggal cerita tentang kesibukan saya akhir-akhir ini. Bidang yang menyenangkan, dengan sebuah tim kecil. Hari-hari kami lewati dengan menggagas ide, menyemarakkan twitter atau funpage facebook milik klien, menyumbang pilihan warna untuk website, melakukan survey sederhana di dunia maya, membuat konten dengan isi artikel sesuai tema, briefing dan atau sekedar mengevaluasi kinerja kami masing-masing.

Cerita di atas adalah gambaran bagaimana SR Codia bekerja. Kami menciptakan brand, support personal branding klien, memasarkan sebuah produk dalam bentuk digital, memikirkan segala hal yang berkaitan, lalu jalan-jalan.

Saya menyadari, bidang ini menuntut kami untuk senantiasa sehat dan bergembira. Natali, seorang kawan yang baru saya kenal di Jakarta --kebetuan ia bergerak di bidang yang sama, ia bilang, "Hanya orang-orang bahagia yang bisa membuat orang lain bahagia." Kiranya kalimat itu berpengaruh ketika saya harus berproses di SR Codia.

Kami menjalani hari-hari bersama pemikiran dan imajinasi. Itu sebabnya kami memikirkan menu makanan setiap hari, mengelola dapur dengan sebaik-baiknya. Kami bakal jarang bergerak, lebih sering berada di depan monitor. Sebab itulah kami membuat jadual mandiri untuk jalan-jalan. Bagi kami tamasya adalah penting, untuk silaturrahmi dan untuk menyegarkan ruang-ruang otak dan imajinasi.

Hari ini saya lelah sekali. Namun ketika satu persatu anggota SR Codia datang, ujung-ujung bibir saya tertarik ke atas, membentuk seperti huruf U. Kawan, mari kita nyemplung di dunia kekaryaan.

Sahabat blogger, doakan kami.

22.7.14

Indonesia Dalam Bulan Juli

22.7.14
Kami berjumpa pertama kali pada 19 January 2014 di sebuah cafe di Indonesian Press Photo Service atau IPPHOS, lokasinya ada di Jalan Antara, Pasar Baru, Jakarta. Waktu itu ia tidak sendirian, melainkan berdua dengan Max van Der Werff, rekan sebangsanya yang giat mempelajari sejarah kriminal perang. Direncanakan, hari itu akan ada diskusi sejarah bersama Mas Ady Setyawan dan kawan-kawan, dari Komunitas Roodebrug Soerabaia.

Gadis jangkung dengan tinggi 174 cm ini memperkenalkan diri dengan nama Marjolein van Pagee. Saya memanggilnya Mar. Kadang ia saya panggil Mario.

Waktu itu kami jarang bercakap-cakap, terkendala bahasa. Saya tidak pandai Berbahasa Inggis apalagi Bahasa Belanda, sedangkan Mar saat itu belum menguasai Bahasa Indonesia. Jadi, kami berdua terlihat kacau, haha. Syukurlah, ada Mbak Irma Devita diantara kami berdua. Ia sekeluarga memiliki andil besar selama saya di sana. Mbak Irma pula yang berinisiatif memperkenalkan kami.

Lalu lahirlah sebuah janji. Marjolein akan singgah di rumah saya, Jember, pada bulan Juni. Kelak, ia datang pada 11 Juni 2014 dan tinggal di rumah kecil saya selama satu minggu. Kedatangannya bersamaan dengan Keluarga Besar Sroedji, mereka naik kereta api yang sama.

Di lain waktu, semoga saya sempat menuliskan catatan tentang Marjolein selama ia tinggal di rumah kami.

Hari ini, tiba-tiba saya teringat Marjolein.

Hai Mar, piye kabarmu? Apik-apik wae kan? hehe.

Marjolein suka sekali bergelut di bidang sejarah, dengan scope temporal di masa revolusi Indonesia. Ia bilang, pada 1948 Kakeknya yang bernama Jan van Pagee pernah melakoni hidup sebagai prajurit dari pihak Belanda dan didatangkan ke Indonesia untuk menduduki kembali negeri ini. Saat itu Jan van Pagee masih berusia 20 tahun.

Barangkali ia dan seorang Irma Devita memiliki keterpanggilan yang sama, sama-sama ingin mengerti lebih banyak tentang bagaimana dulu Kakek mereka berjuang.

Pihak Belanda menyebut kejadian yang dimulai sejak 21 Juli 1947 itu dengan nama Aksi Polisionil. Tentu rakyat Indonesia tidak bisa menerima ini. Kita menyebutnya sebagai Agresi Militer, dimana Belanda sengaja menyerbu sebuah bangsa yang sudah berdaulat sejak 17 Agustus 1945. Satu lagi, Belanda telah dengan terang-terangan mencederai hasil persetujuan Linggarjati.

Pada 20 Juli 1947, Perdana Menteri Belanda menyatakan dalam pidatonya kepada seluruh rakyat, bahwa "suatu titik telah tercapai, ketika kesabaran menyebabkan lahirnya suatu kebijakan." Pidatonya tercatat dengan baik dalam Kronik revolusi Indonesia yang dikumpulkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Berikut isi pidato Perdana Menteri Belanda tersebut;

"Tidak ada lagi keraguan bahwa Pemerintah Republik ini tidak dapat mencegah penghancuran dan penjarahan, mencegah kemelut keuangan dan ketiadaan hukum, karena itu harus dianggap tidak mampu menjamin hukum dan ketertiban di dalam wilayahnya sendiri. Dan karena mereka menolak bekerjasama dengan kita untuk mencapai semuanya itu, dengan menyesal Pemerintah Belanda terpaksa mengambil kembali kebebasannya untuk bertindak sebagaimana ditentukan ketika ia menandatangani Persetujuan Linggarjati. Pemerintah Belanda telah memberikan kuasa kepada Gubernur Jenderal untuk memulai aksi kepolisian, dan angkatan bersenjata diserahkan untuk menciptakan kondisi yang terbukti tidak dapat diciptakan oleh Pemerintah Republik."

Selanjutnya Perdana Menteri Belanda menyatakan dengan tegas dalam pidatonya kepada seluruh rakyat Belanda:

"Pemerintah akan tetap berpegang kepada prinsip-prinsip Linggarjati. Barangsiapa mengira bahwa kini terbuka kesempatan untuk menyingkirkan prinsip-prinsip tersebut, maka ia akan berlawanan dengan Pemerintah (Belanda). Pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut dalam kaitan dengan dua negara bagian Indonesia yang sudah berdiri dan dalam kaitan wilayah-wilayah lain yang mungkin masih akan menyatakan keinginannya untuk bergabung, akan terus diwujudkan tanpa henti. Begitu Republik memperlihatkan dirinya siap dan mampu melakukan kerjasama efektif sesuai dengan Persetujuan Linggarjati, maka kesempatan terbuka juga kepadanya untuk menduduki tempatnya dalam lingkungan Negara Indonesia Serikat."

Belanda siap memberikan kemerdekaan penuh, tetapi bersamaan dengan itu ingin memberikan jaminan agar Indonesia mampu berdiri sendiri apabila kemerdekaan itu diberikan sepenuhnya kepadanya. Dengan kata lain, Pemerintah Belanda bermaksud membangun suatu masyarakat yang baik imbangannya, mampu menjaga posisinya di tengah para tetangga yang melingkunginya, dan kompeten untuk mengarahkan dan memimpin sendiri eksistensinya.

Pandangan yang idealistik ini tidak pernah dipahami oleh Republik. Walau kedengarannya paradoksal, inilah sudut pandang yang pada akhirnya memaksa Pemerintah Belanda mengangkat senjata terhadap Republik.

Itulah catatan-catatan dalam Kronik Revolusi Indonesia: 1947.

Hai Mar, waktu itu negerimu dan negeriku sama-sama menghimpun 'kebenaran' sebagai landasan perjuangan. Tentu bangsaku lebih bahagia jika bisa berdiri di atas kaki sendiri, tanpa diatur-atur. Sebab penjajahan adalah memuakkan. Sedangkan negerimu, mereka menghimpun maksud baik yang kami tidak bisa memahaminya. Terdengar indah tapi memaksa.

Ohya hampir lupa. Ketika terjadi Agresi Militer Pertama, negeri ini baru tiga hari memasuki bulan Ramadhan di tahun 1366 Hijriah. Aku mendapatinya di sebuah seruan Residen Aceh untuk Umat Islam di daerahnya, yang juga tercatat dalam kronik. Ini yang ia katakan;

"Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan. Kita selalu digempur dengan cara besar-besaran oleh tentara Belanda. Jangan disangka kita akan lemah dalam menghadapi mereka karena kita sedang berpuasa. Kita kuat dan tetap kuat menghadapi mereka, kapan saja dan dimana saja."

Wah, aku terlalu banyak mengutip. Maaf.

Pada 22 Juli 1947, enam puluh tujuh tahun yang lalu, tempat kelahiranku --Jember-- dikuasai oleh Belanda hingga di pusat kota. Sejarah mencatat, banyak hal terjadi di hari itu. Lalu hari ini, 22 Juli 2014, aku juga melihat ada banyak sekali kejadian yang akan dicatat oleh negeriku, Indonesia. Di sini sedang ada pengumuman mengenai hasil rekapitulasi Pilpres, serta kejadian-kejadian lain yang menyertainya.

Aku mencatatnya di sebuah buku kecil, agar kelak jika cucuku bertanya, aku bisa memberikan penjelasan sebaik mungkin mengenai fakta yang terjadi. Mungkin hanya penggalan, entahlah.

Belanda menyerang negeri ini pada bulan Juli 1947, enam puluh tujuh tahun yang lalu. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah Indonesia, dengan nama Agresi Militer Belanda pertama. Penyerangan kedua terjadi pada 19 Desember 1948. Belanda tetap menyebut serangan-serangan itu sebagai Aksi Polisionil, sebagai tindakan Pemerintah yang sah dalam menangani ancaman stabilitas. Ketika itu, Indonesia adalah sebuah negara merdeka dan berdaulat, namun Belanda tidak mau mengakuinya. Bagi Belanda, kemerdekaan Indonesia berlangsung pada 27 Desember 1949, saat penyerahan kedaulatan di Amsterdam.

Perbedaan persepsi tentang waktu kemerdekaan Indonesia ini berlangsung lama sekali. Pengakuan kedaulatan Indonesia baru dilakukan 'secara diam-diam' pada bulan Agustus 2005, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot. Ketika itu menteri luar negeri Belanda menghadiri upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2005 atas undangan pemerintah Indonesia.

"Itulah kenapa, pengakuan tanggal kemerdekaan Indonesia oleh Belanda adalah pada 27 Desember 1949, bukan pada saat Proklamasi dikumandangkan. Mereka kan nggak mau rugi."

Aku pernah mendengar kalimat itu dari Mbak Irma Devita. Ya aku sependapat. Sebab apa yang dilakukan pemerintah Belanda pada 15 Juli 1947 dan 19 Desember 1948 adalah serangan terhadap sebuah negara berdaulat dan melanggar hukum internasional. Wajar jika perbedaan persepsi tentang waktu kemerdekaan Indonesia berlangsung lama.

Di tahun yang sama, Kakekmu tercinta meninggal dunia.

Marjolein, bahagia rasanya bisa mengenal dan bersahabat denganmu. Datanglah ke rumahku kapan saja. Meski aku tak pernah bisa berpihak kepada siapa pun yang menjajah bangsa lain, namun bukan berarti aku memelihara dendam terhadap tanah airmu, sebab sejarah bukan tentang memelihara dendam.

Sudah. Catatan ini panjang sekali, belum lagi kutipan-kutipannya, haha.

Sedikit Tambahan

Saat menuliskan catatan ini, di luar sana masyarakat Indonesia sedang membicarakan rekapitulasi KPU untuk kemenangan pasangan Jokowi - JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden hingga 2019. Tentu, hingga bulan Oktober nanti, Presiden Indonesia masih Susilo Bambang Yudhoyono.

Salam saya, RZ Hakim.

14.7.14

Ketika Final Piala Dunia Berlangsung

14.7.14
Saat saya tuliskan catatan ini, Final Piala Dunia antara Jerman Vs Argentina sedang berlangsung. Jalanan tampak sepi. Hanya satu dua sudut saja yang terlihat ramai, mereka sedang nobar. Rupanya orang-orang lebih senang memilih untuk menonton di rumah saja sambil menanti waktu sahur.

Saya jadi ingat obrolan dengan seorang teman via inbox, beberapa menit sebelum pertandingan final dimulai. Teman SMA saya ini bernama Erwin Chandra, kini tinggal di Cologne, sebuah kota di Jerman. Ia bilang hari ini warga di sana tumplek blek di sudut-sudut kota untuk menikmati final piala dunia bersama-sama.

"Mbludak Kim, gak enek sing nang omah."

Entahlah, bagaimana gambaran tentang warga Argentina yang tak bisa menonton secara live di Brasil. Saya tidak punya teman yang tinggal di Argentina. Tebakan saya, suasananya tak jauh beda dengan yang terjadi di Cologne.


Suasana di Cologne - Dokumentasi Erwin Chandra

Itulah realitas tentang dunia sepakbola, ia mampu mengikat dan memikat banyak orang, serta mampu menciptakan rasa komunitas yang mendalam.

Bicara tentang bola, saya jadi teringat beberapa desa di Jember yang nampak sangat jatuh cinta. Gibol, kalau istilah masa kini. Di desa seperti Klungkung --masuk Kecamatan Sukorambi, sepak bola sudah menjadi bagian penting dari hidup masyarakat. Mereka terbiasa dengan laga tarkam alias antar kampung. Di sini sepak bola menjadi sebuah kultur tersendiri. Di wilayah-wilayah seperti Desa Klungkung, sepak bola serupa cermin. Ia dapat menjelaskan banyak hal mengenai desa tersebut.

Saya kira, cerminan sepak bola di Desa Klungkung sama juga dengan sepak bola di sebuah negara. Ia bersifat mencerminkan sesuatu, tak hanya sekedar bola bundar, strategi, pemodal, wasit, pelatih dan hal-hal yang serupa. Ia bisa lebih dari itu, menjelaskan banyak hal dan banyak kejadian, terlebih di bidang sosial budaya.

Ah, rupanya saya bicara terlalu lancip. Maaf.

Tapi itu ada benarnya lho. Pernah saya baca di sebuah catatan, kebangkitan ekonomi Jerman di era 1960-1970an juga terkait erat dengan perkembangan sepak bola. Ini tentu berkaitan dengan persepsi akan citra sebuah bangsa, tentang bagaimana pencitraan yang dibangun oleh sepak bola bisa terhubung langsung dengan aktivitas ekonomi suatu masyarakat. Dan dunia sepak bola terbukti bisa menciptakan itu. Meski tak dapat saya pungkiri, sepak bola juga bisa menciptakan perang dalam arti yang sebenarnya, seperti peperangan antara Honduras dan El Salvador di tahun 1969. Iya, selain menawarkan kebersamaan kolektif, sepak bola juga berpotensi untuk membuka ruang konflik.

Eh, lancip lagi. Abaikan paragraf di atas, mari kita bicara yang menyenangkan saja.

Tak perlu heran, kenapa saya menulis ini di saat laga final sedang berlangsung, sementara tak jauh dari tempat saya menulis, layar televisi sedang menyiarkannya. Kebetulan saja. Lha kok tiba-tiba saya ingin menulis.

Tadi, di menit 29 lewat 25 detik, Team Argentina berhasil melesakkan bola ke gawang Jerman. Ternyata gol tersebut dianulir. Itu memberi kita sebuah pelajaran ringan, bahwa sebuah gol menjadi tak berguna bila wasit menganulirnya.

Lalu, para pemain kembali memperebutkan bola yang hanya satu-satunya di lapangan. Apakah saat bermain di lapangan, salah satu dari mereka pernah berpikir betapa pentingnya sebuah bola? Tanpanya, tak akan ada gol-gol indah. Satu bola murah lebih penting dari sebelas pemain mahal.

Kini pertandingan final piala dunia antara Jerman lawan Argentina telah memasuki detik-detik akhir. Banyak pengamat bola bilang, seringkali kemenangan ditentukan di detik-detik injury time. Ia mirip sekali dengan filosofi the power of kepepet. Injury time, ia mengajarkan kita untuk senantiasa tidak meremehkan waktu.

Sudah ah.

Di layar televisi dapat saya lihat, waktu sudah menunjukkan menit ke-89, keadaan masih kosong-kosong.

Edit

Final kali ini akhirnya mengalami perpanjangan waktu. Di menit ke-112, Jerman menciptakan gol. Ia mempertahankan skor satu kosong hingga peluit panjang berakhir. Ini empat kalinya Jerman menjadi juara World Cup. Piala dunia sebelumnya adalah pada tahun 1954, 1974, dan 1990. Selamat Jerman, selamat menjadi juara.


Ekspresi Erwin Chandra, yang memakai topi, saat peluit panjang terdengar

Tentu, ucapan ini saya tujukan istimewa untuk kawan saya, Erwin Chandra. Selamat ya Win, terima kasih kiriman foto-fotonya.

7.7.14

Indonesia Adalah Tetangga Saya

7.7.14
Sejarah adalah pedoman, sejarah adalah kompas, sejarah adalah penunjuk arah. Penulisan sejarah yang benar membuat kita tidak gagap dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Tanpa sadar sejarah, mustahil kita bisa tuntas dalam memandang wajah Indonesia.

Setiap kali nongkrong di sebuah warung, sering saya temui perbincangan-perbincangan mengenai Nusantara tempo dulu. Tema paling favorit adalah masa dimana Nusantara masih berupa kerajaan-kerajaan dan belum mengenal kata Indonesia. Jika dikerucutkan lagi, sepanjang yang sering saya dengar, mereka suka sekali membahas tatanan kenegaraan di masa Majapahit. Mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa banyak orang di negeri ini yang selama ini merindukan kemakmuran 'Indonesia' tempo dulu.

Ini berbeda ketika di sebuah warung, kami memperbincangkan perihal Indonesia masa kini. Pancaran mata para penghuni warung tidak seberbinar ketika tema obrolan adalah tentang kejayaan masa silam.

Kita semua dimanapun berada, sesungguhnya sedang merindukan asal muasal kesejatian diri dan sangkan paran rumah sejarahnya, Indonesia.

Saya bersyukur dilahirkan di atas tanah Indonesia. Di sini, kehidupan satu bangsa ditandai dengan keanekaragaman bahasa, budaya dan adat istiadat. Semua terangkum dalam Bhineka Tunggal Ika. Garis sejarahnya membentang dari sebelum masa keemasan Yunani menuju zaman Walisongo di era Kerajaan Demak hingga masa kini. Tak heran jika ada sebuah lirik lagu yang dimulai dengan kalimat, "Nenek moyangku orang pelaut."

Semakin saya bertumbuh, pengetahuan pada bidang sejarah juga ikut bertumbuh. Saya suka bidang ini, sebab kebenarannya masih berupa hipotesis alias bersifat sementara. Ia tentu akan gugur bila ditemukan data pembuktian yang baru. Dengan mempelajarinya, hidup serasa lebih bergairah. Kisah-kisah lalu mengantarkan saya untuk lebih mengenal sebuah bangsa bernama Indonesia, juga bangsa-bangsa yang lain.

Sayang sekali, semakin kesini semakin banyak saya jumpai generasi Nusantara yang gemar mengejek adat istiadat dan masa lalu bangsanya sendiri, bahkan sebelum mereka benar-benar mempelajarinya. Hanya bermodalkan dari katanya ke katanya.

Sampai di sini, saya kembali teringat kata-kata yang dirangkai oleh seorang Pramoedya Ananta Toer. Ia bilang, tak mungkin kita dapat mencintai negeri dan bangsa ini jika kita sama sekali tak mengenal sejarahnya. Kiranya kalimat itu mempengaruhi pemikiran saya. Terbukti, saya sering mengulang-ulang kalimat itu di beberapa kesempatan.

Di masa sekolah, guru-guru sejarah memang hanya sebatas menerangkan bahwa kata Indonesia dimulai dari Indos dan Nesos, serta keterangan-keterangan sederhana sebagai penyertanya. Ia tidak pernah mengenalkan kehidupan seorang pengacara kelahiran London bernama George Samuel Windsor Earl, yang pertama kali mengimajinasikan kepulauan Hindia Belanda dengan nama "Indu-nesian" di tahun 1850. Meski kemudian Earl mematahkan gagasannya sendiri dengan nama lain yaitu "Malayunesians," namun seorang koleganya meneruskan gagasan awal Earl tentang "Indunesians." Dia bernama James Richardson Logan.

Pengetahuan saya semakin detail ketika membaca catatan Andreas Harsono perihal ini.

Cuplikan:
Pada awal abad 20, kata benda "Indonesier" dan kata sifat "Indonesich" sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa politik etis, baik di Belanda maupun Hindia Belanda. Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman Kartawisastra, organisasi Indische Vereeniging di Belanda mengubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Perhimpunan ini banyak berperan dalam merumuskan nasionalisme Indonesia. Pada 1926, ketika Mohammad Hatta menjadi ketua Indonesische Vereeniging, pembentukan nasionalisme Indonesia makin dimatangkan. Ia hanya soal waktu sebelum terminologi "Indonesia" digunakan oleh orang-orang berpendidikan di kota-kota besar Hindia Belanda.

Indonesia Adalah Rumah Kita

Suatu sore di sebuah warung bambu di pinggiran kota, saya dan beberapa rekan sedang asyik memperbincangkan perihal wajah Indonesia dulu dan kini. Tiba-tiba seorang kawan muda yang baru lulus SMA bertanya kepada saya.

"Menurut Mas Hakim, Indonesia itu apa?"

Saya bilang kepadanya bahwa Indonesia ibarat rumah kita masing-masing. Ketika saya seusia dia, saat pulang ke rumah, tentu selain berjumpa dengan anggota keluarga yang lain, saya akan berjumpa dengan rasa aman, tentram, dan sebagainya.

Bapak, ia disepakati sebagai pemimpin keluarga. Sebagai kepala suku, tentu ia bertanggung jawab untuk memakmurkan para anggotanya. Mulai dari segi ekonomi, keamanan, hingga sosial budaya ada di bawah pengawasannya. Ketika ia sedang bersosialisasi, entah itu dalam bentuk pengajian ataupun silaturrahmi dengan para tetangga, saya mengibaratkan itu sebagai pergaulan bangsa-bangsa.

Seorang pemimpin keluarga, ia harus memikirkan nilai-nilai dari berbagai sisi. Misal, tidak memberi makan anak istrinya dengan uang dari hasil yang tidak benar. Sebab kita adalah apa yang kita makan, apa jadinya jika kita mengkonsumsi makanan enak namun dari hasil menipu? Tentu bukan hanya lingkungan yang baik dan keilmuan yang mumpuni saja yang dapat membangun etika dan cara berpikir seseorang, makanan juga memiliki daya pengaruh yang dahsyat.

Bicara tentang makanan, tak lepas dari peran seorang Ibu rumah tangga. Di bawah kendalinya, urusan logistik menjadi nampak bijak.

"Kenapa makanan menjadi sedemikian penting dalam sebuah negara?"

Sebab ia adalah sumber energi yang sangat berpotensi mempengaruhi wawasan seseorang. Jika kita terbiasa membeli konsumsi dengan uang dari hasil serampangan, pemikiran kita sudah pasti ikut serampangan. Kita memandangnya dari proses, bukan hasil. Dari usaha mendapatkannya, bukan melulu masalah rasa. Begitulah, sumber energi juga mempengaruhi wawasan, sedangkan wawasan menghimpun kesadaran.

"Apakah ini berhubungan dengan Halal dan Haram?"

Jika kita memeluk agama Islam, tentu. Namun Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. Akan lebih bijaksana jika kita mengkaitkan masalah Halal Haram dengan sebuah batasan.

Dalam budaya Jawa, kita mengenal kata Gak Ilok. Di Sunda dikenal dengan Pamali. Untuk apa? Hanya agar kita mengetahui batasan-batasan yang disepakati. Apabila adat dan budaya telah hilang, maka etika menjadi tak bersinar lagi. Kita akan mudah mengejek budaya sendiri, merobek-robeknya, sebab kita telah kehilangan batas-batas.

Kata Cak Nun, puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Adapun akar sebuah kemerdekaan, menurut Ananda Firman Jauhari, ia berbentuk kemandirian.

"Setelah memandang Indonesia dari sisi makanan, dari apa lagi Mas?"

Tentu dari berbagai sisi. Dimulai berkenalan dengan sejarah Indonesia 'yang dituliskan secara benar' baru kemudian bidang-bidang yang lain seperti misalnya menumbuhkan kesadaran kritis lewat bidang pendidikan. Juga, tentu saja, ada baiknya kita terus menerus mengasah sisi akhlak, sosial, budaya, ekonomi ekologi, dan sebagainya. Dengan begitu diharapkan asupan gizi untuk jasmani dan rohani masyarakat terpenuhi dengan baik.

Kita harus tuntas dalam memandang Nusantara, tidak setengah-setengah. Sebab jika kita bermain-main, maka hasilnya juga akan main-main.

Cuplikan-cuplikan pembicaraan seperti di atas sesungguhnya sering saya alami saat singgah di sebuah warung. Jika semua saya uraikan di sini, maka catatan ini akan terus mengalir deras.

Indonesia ibarat rumah kita masing-masing. Ia adalah tahapan awal kita sebagai rakyat dalam menyumbang sekeping kekuatan untuk kehidupan. Maksud saya begini. Jika kehidupan di dalam rumah kita terasa hangat, aman, makmur, dan segala hal yang menentramkan hati, maka arah kehidupan bernegara kita sudah memiliki pondasi yang kokoh. Itu adalah modal penting untuk memperlebar kesadaran bersosial dan bermasyarakat di ranah yang lebih luas lagi.

Jangan sampai ketika ada yang bertanya Indonesia ada dimana, kita menjawabnya, "Indonesia adalah tetangga saya."

Melirik Sejarah

Sejarah adalah cahaya bintang dari masa lalu. Ia dibutuhkan di dunia Astronomi sebagai penunjuk arah. Orang-orang Nusantara juga terbiasa menggunakannya sebagai tetenger musim tanam, kalender alami. Jika saja pendahulu kita tidak mengadopsi 'sejarah' dari Bahasa Arab yaitu Sajaratun yang artinya pohon, mungkin kita akan menggunakan bahasa daerah. Mungkin saja kita akan memakai diksi Pedoman, diawali dari kata dom atau jarum.

Mari belajar dan menuliskan sejarah dengan benar, agar kita tidak gagap dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang.

Sejarah adalah pedoman, sejarah adalah kompas, sejarah adalah penunjuk arah. Tanpa sejarah, mustahil kita bisa tuntas dalam memandang wajah Indonesia. Akan baik jika kita mulai sadar sejarah, diawali dari dalam rumah kita sendiri, mengembang pada lingkungan sekitar, dan seterusnya. Ibarat batu kecil yang dilemparkan ke air tenang, ia akan menciptakan gelombang. Mulanya kecil, lalu membesar, lalu menyatu bersama air, menjadi Indonesia.

Jika sejarah adalah dom, mari kita jahit bagian-bagian yang robek. Sebab tiada guna mengejek masa lalu dan meremehkan adat istiadat sendiri. Jika hanya mengejek tanpa mau mempelajari dan berbuat sesuatu, itu namanya Gak Ilok.

Sekali lagi. Jangan sampai ketika ada yang bertanya Indonesia ada dimana, kita menjawabnya, "Indonesia adalah tetangga saya."

Salam saya, RZ Hakim.

acacicu © 2014