7.7.14

Indonesia Adalah Tetangga Saya

7.7.14
Sejarah adalah pedoman, sejarah adalah kompas, sejarah adalah penunjuk arah. Penulisan sejarah yang benar membuat kita tidak gagap dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Tanpa sadar sejarah, mustahil kita bisa tuntas dalam memandang wajah Indonesia.

Setiap kali nongkrong di sebuah warung, sering saya temui perbincangan-perbincangan mengenai Nusantara tempo dulu. Tema paling favorit adalah masa dimana Nusantara masih berupa kerajaan-kerajaan dan belum mengenal kata Indonesia. Jika dikerucutkan lagi, sepanjang yang sering saya dengar, mereka suka sekali membahas tatanan kenegaraan di masa Majapahit. Mudah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa banyak orang di negeri ini yang selama ini merindukan kemakmuran 'Indonesia' tempo dulu.

Ini berbeda ketika di sebuah warung, kami memperbincangkan perihal Indonesia masa kini. Pancaran mata para penghuni warung tidak seberbinar ketika tema obrolan adalah tentang kejayaan masa silam.

Kita semua dimanapun berada, sesungguhnya sedang merindukan asal muasal kesejatian diri dan sangkan paran rumah sejarahnya, Indonesia.

Saya bersyukur dilahirkan di atas tanah Indonesia. Di sini, kehidupan satu bangsa ditandai dengan keanekaragaman bahasa, budaya dan adat istiadat. Semua terangkum dalam Bhineka Tunggal Ika. Garis sejarahnya membentang dari sebelum masa keemasan Yunani menuju zaman Walisongo di era Kerajaan Demak hingga masa kini. Tak heran jika ada sebuah lirik lagu yang dimulai dengan kalimat, "Nenek moyangku orang pelaut."

Semakin saya bertumbuh, pengetahuan pada bidang sejarah juga ikut bertumbuh. Saya suka bidang ini, sebab kebenarannya masih berupa hipotesis alias bersifat sementara. Ia tentu akan gugur bila ditemukan data pembuktian yang baru. Dengan mempelajarinya, hidup serasa lebih bergairah. Kisah-kisah lalu mengantarkan saya untuk lebih mengenal sebuah bangsa bernama Indonesia, juga bangsa-bangsa yang lain.

Sayang sekali, semakin kesini semakin banyak saya jumpai generasi Nusantara yang gemar mengejek adat istiadat dan masa lalu bangsanya sendiri, bahkan sebelum mereka benar-benar mempelajarinya. Hanya bermodalkan dari katanya ke katanya.

Sampai di sini, saya kembali teringat kata-kata yang dirangkai oleh seorang Pramoedya Ananta Toer. Ia bilang, tak mungkin kita dapat mencintai negeri dan bangsa ini jika kita sama sekali tak mengenal sejarahnya. Kiranya kalimat itu mempengaruhi pemikiran saya. Terbukti, saya sering mengulang-ulang kalimat itu di beberapa kesempatan.

Di masa sekolah, guru-guru sejarah memang hanya sebatas menerangkan bahwa kata Indonesia dimulai dari Indos dan Nesos, serta keterangan-keterangan sederhana sebagai penyertanya. Ia tidak pernah mengenalkan kehidupan seorang pengacara kelahiran London bernama George Samuel Windsor Earl, yang pertama kali mengimajinasikan kepulauan Hindia Belanda dengan nama "Indu-nesian" di tahun 1850. Meski kemudian Earl mematahkan gagasannya sendiri dengan nama lain yaitu "Malayunesians," namun seorang koleganya meneruskan gagasan awal Earl tentang "Indunesians." Dia bernama James Richardson Logan.

Pengetahuan saya semakin detail ketika membaca catatan Andreas Harsono perihal ini.

Cuplikan:
Pada awal abad 20, kata benda "Indonesier" dan kata sifat "Indonesich" sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa politik etis, baik di Belanda maupun Hindia Belanda. Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman Kartawisastra, organisasi Indische Vereeniging di Belanda mengubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Perhimpunan ini banyak berperan dalam merumuskan nasionalisme Indonesia. Pada 1926, ketika Mohammad Hatta menjadi ketua Indonesische Vereeniging, pembentukan nasionalisme Indonesia makin dimatangkan. Ia hanya soal waktu sebelum terminologi "Indonesia" digunakan oleh orang-orang berpendidikan di kota-kota besar Hindia Belanda.

Indonesia Adalah Rumah Kita

Suatu sore di sebuah warung bambu di pinggiran kota, saya dan beberapa rekan sedang asyik memperbincangkan perihal wajah Indonesia dulu dan kini. Tiba-tiba seorang kawan muda yang baru lulus SMA bertanya kepada saya.

"Menurut Mas Hakim, Indonesia itu apa?"

Saya bilang kepadanya bahwa Indonesia ibarat rumah kita masing-masing. Ketika saya seusia dia, saat pulang ke rumah, tentu selain berjumpa dengan anggota keluarga yang lain, saya akan berjumpa dengan rasa aman, tentram, dan sebagainya.

Bapak, ia disepakati sebagai pemimpin keluarga. Sebagai kepala suku, tentu ia bertanggung jawab untuk memakmurkan para anggotanya. Mulai dari segi ekonomi, keamanan, hingga sosial budaya ada di bawah pengawasannya. Ketika ia sedang bersosialisasi, entah itu dalam bentuk pengajian ataupun silaturrahmi dengan para tetangga, saya mengibaratkan itu sebagai pergaulan bangsa-bangsa.

Seorang pemimpin keluarga, ia harus memikirkan nilai-nilai dari berbagai sisi. Misal, tidak memberi makan anak istrinya dengan uang dari hasil yang tidak benar. Sebab kita adalah apa yang kita makan, apa jadinya jika kita mengkonsumsi makanan enak namun dari hasil menipu? Tentu bukan hanya lingkungan yang baik dan keilmuan yang mumpuni saja yang dapat membangun etika dan cara berpikir seseorang, makanan juga memiliki daya pengaruh yang dahsyat.

Bicara tentang makanan, tak lepas dari peran seorang Ibu rumah tangga. Di bawah kendalinya, urusan logistik menjadi nampak bijak.

"Kenapa makanan menjadi sedemikian penting dalam sebuah negara?"

Sebab ia adalah sumber energi yang sangat berpotensi mempengaruhi wawasan seseorang. Jika kita terbiasa membeli konsumsi dengan uang dari hasil serampangan, pemikiran kita sudah pasti ikut serampangan. Kita memandangnya dari proses, bukan hasil. Dari usaha mendapatkannya, bukan melulu masalah rasa. Begitulah, sumber energi juga mempengaruhi wawasan, sedangkan wawasan menghimpun kesadaran.

"Apakah ini berhubungan dengan Halal dan Haram?"

Jika kita memeluk agama Islam, tentu. Namun Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. Akan lebih bijaksana jika kita mengkaitkan masalah Halal Haram dengan sebuah batasan.

Dalam budaya Jawa, kita mengenal kata Gak Ilok. Di Sunda dikenal dengan Pamali. Untuk apa? Hanya agar kita mengetahui batasan-batasan yang disepakati. Apabila adat dan budaya telah hilang, maka etika menjadi tak bersinar lagi. Kita akan mudah mengejek budaya sendiri, merobek-robeknya, sebab kita telah kehilangan batas-batas.

Kata Cak Nun, puncak kemerdekaan adalah pengetahuan tentang batas. Adapun akar sebuah kemerdekaan, menurut Ananda Firman Jauhari, ia berbentuk kemandirian.

"Setelah memandang Indonesia dari sisi makanan, dari apa lagi Mas?"

Tentu dari berbagai sisi. Dimulai berkenalan dengan sejarah Indonesia 'yang dituliskan secara benar' baru kemudian bidang-bidang yang lain seperti misalnya menumbuhkan kesadaran kritis lewat bidang pendidikan. Juga, tentu saja, ada baiknya kita terus menerus mengasah sisi akhlak, sosial, budaya, ekonomi ekologi, dan sebagainya. Dengan begitu diharapkan asupan gizi untuk jasmani dan rohani masyarakat terpenuhi dengan baik.

Kita harus tuntas dalam memandang Nusantara, tidak setengah-setengah. Sebab jika kita bermain-main, maka hasilnya juga akan main-main.

Cuplikan-cuplikan pembicaraan seperti di atas sesungguhnya sering saya alami saat singgah di sebuah warung. Jika semua saya uraikan di sini, maka catatan ini akan terus mengalir deras.

Indonesia ibarat rumah kita masing-masing. Ia adalah tahapan awal kita sebagai rakyat dalam menyumbang sekeping kekuatan untuk kehidupan. Maksud saya begini. Jika kehidupan di dalam rumah kita terasa hangat, aman, makmur, dan segala hal yang menentramkan hati, maka arah kehidupan bernegara kita sudah memiliki pondasi yang kokoh. Itu adalah modal penting untuk memperlebar kesadaran bersosial dan bermasyarakat di ranah yang lebih luas lagi.

Jangan sampai ketika ada yang bertanya Indonesia ada dimana, kita menjawabnya, "Indonesia adalah tetangga saya."

Melirik Sejarah

Sejarah adalah cahaya bintang dari masa lalu. Ia dibutuhkan di dunia Astronomi sebagai penunjuk arah. Orang-orang Nusantara juga terbiasa menggunakannya sebagai tetenger musim tanam, kalender alami. Jika saja pendahulu kita tidak mengadopsi 'sejarah' dari Bahasa Arab yaitu Sajaratun yang artinya pohon, mungkin kita akan menggunakan bahasa daerah. Mungkin saja kita akan memakai diksi Pedoman, diawali dari kata dom atau jarum.

Mari belajar dan menuliskan sejarah dengan benar, agar kita tidak gagap dalam menghadapi masa kini dan masa yang akan datang.

Sejarah adalah pedoman, sejarah adalah kompas, sejarah adalah penunjuk arah. Tanpa sejarah, mustahil kita bisa tuntas dalam memandang wajah Indonesia. Akan baik jika kita mulai sadar sejarah, diawali dari dalam rumah kita sendiri, mengembang pada lingkungan sekitar, dan seterusnya. Ibarat batu kecil yang dilemparkan ke air tenang, ia akan menciptakan gelombang. Mulanya kecil, lalu membesar, lalu menyatu bersama air, menjadi Indonesia.

Jika sejarah adalah dom, mari kita jahit bagian-bagian yang robek. Sebab tiada guna mengejek masa lalu dan meremehkan adat istiadat sendiri. Jika hanya mengejek tanpa mau mempelajari dan berbuat sesuatu, itu namanya Gak Ilok.

Sekali lagi. Jangan sampai ketika ada yang bertanya Indonesia ada dimana, kita menjawabnya, "Indonesia adalah tetangga saya."

Salam saya, RZ Hakim.

5 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sukses buat acaranya ya Pakde. Terima kasih.

      Hapus
  2. Banyak informasi baru ya bisa saya dapet dari postingan ini.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  3. Semoga sukses ya...

    BalasHapus

acacicu © 2014