22.7.14

Indonesia Dalam Bulan Juli

22.7.14
Kami berjumpa pertama kali pada 19 January 2014 di sebuah cafe di Indonesian Press Photo Service atau IPPHOS, lokasinya ada di Jalan Antara, Pasar Baru, Jakarta. Waktu itu ia tidak sendirian, melainkan berdua dengan Max van Der Werff, rekan sebangsanya yang giat mempelajari sejarah kriminal perang. Direncanakan, hari itu akan ada diskusi sejarah bersama Mas Ady Setyawan dan kawan-kawan, dari Komunitas Roodebrug Soerabaia.

Gadis jangkung dengan tinggi 174 cm ini memperkenalkan diri dengan nama Marjolein van Pagee. Saya memanggilnya Mar. Kadang ia saya panggil Mario.

Waktu itu kami jarang bercakap-cakap, terkendala bahasa. Saya tidak pandai Berbahasa Inggis apalagi Bahasa Belanda, sedangkan Mar saat itu belum menguasai Bahasa Indonesia. Jadi, kami berdua terlihat kacau, haha. Syukurlah, ada Mbak Irma Devita diantara kami berdua. Ia sekeluarga memiliki andil besar selama saya di sana. Mbak Irma pula yang berinisiatif memperkenalkan kami.

Lalu lahirlah sebuah janji. Marjolein akan singgah di rumah saya, Jember, pada bulan Juni. Kelak, ia datang pada 11 Juni 2014 dan tinggal di rumah kecil saya selama satu minggu. Kedatangannya bersamaan dengan Keluarga Besar Sroedji, mereka naik kereta api yang sama.

Di lain waktu, semoga saya sempat menuliskan catatan tentang Marjolein selama ia tinggal di rumah kami.

Hari ini, tiba-tiba saya teringat Marjolein.

Hai Mar, piye kabarmu? Apik-apik wae kan? hehe.

Marjolein suka sekali bergelut di bidang sejarah, dengan scope temporal di masa revolusi Indonesia. Ia bilang, pada 1948 Kakeknya yang bernama Jan van Pagee pernah melakoni hidup sebagai prajurit dari pihak Belanda dan didatangkan ke Indonesia untuk menduduki kembali negeri ini. Saat itu Jan van Pagee masih berusia 20 tahun.

Barangkali ia dan seorang Irma Devita memiliki keterpanggilan yang sama, sama-sama ingin mengerti lebih banyak tentang bagaimana dulu Kakek mereka berjuang.

Pihak Belanda menyebut kejadian yang dimulai sejak 21 Juli 1947 itu dengan nama Aksi Polisionil. Tentu rakyat Indonesia tidak bisa menerima ini. Kita menyebutnya sebagai Agresi Militer, dimana Belanda sengaja menyerbu sebuah bangsa yang sudah berdaulat sejak 17 Agustus 1945. Satu lagi, Belanda telah dengan terang-terangan mencederai hasil persetujuan Linggarjati.

Pada 20 Juli 1947, Perdana Menteri Belanda menyatakan dalam pidatonya kepada seluruh rakyat, bahwa "suatu titik telah tercapai, ketika kesabaran menyebabkan lahirnya suatu kebijakan." Pidatonya tercatat dengan baik dalam Kronik revolusi Indonesia yang dikumpulkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Berikut isi pidato Perdana Menteri Belanda tersebut;

"Tidak ada lagi keraguan bahwa Pemerintah Republik ini tidak dapat mencegah penghancuran dan penjarahan, mencegah kemelut keuangan dan ketiadaan hukum, karena itu harus dianggap tidak mampu menjamin hukum dan ketertiban di dalam wilayahnya sendiri. Dan karena mereka menolak bekerjasama dengan kita untuk mencapai semuanya itu, dengan menyesal Pemerintah Belanda terpaksa mengambil kembali kebebasannya untuk bertindak sebagaimana ditentukan ketika ia menandatangani Persetujuan Linggarjati. Pemerintah Belanda telah memberikan kuasa kepada Gubernur Jenderal untuk memulai aksi kepolisian, dan angkatan bersenjata diserahkan untuk menciptakan kondisi yang terbukti tidak dapat diciptakan oleh Pemerintah Republik."

Selanjutnya Perdana Menteri Belanda menyatakan dengan tegas dalam pidatonya kepada seluruh rakyat Belanda:

"Pemerintah akan tetap berpegang kepada prinsip-prinsip Linggarjati. Barangsiapa mengira bahwa kini terbuka kesempatan untuk menyingkirkan prinsip-prinsip tersebut, maka ia akan berlawanan dengan Pemerintah (Belanda). Pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut dalam kaitan dengan dua negara bagian Indonesia yang sudah berdiri dan dalam kaitan wilayah-wilayah lain yang mungkin masih akan menyatakan keinginannya untuk bergabung, akan terus diwujudkan tanpa henti. Begitu Republik memperlihatkan dirinya siap dan mampu melakukan kerjasama efektif sesuai dengan Persetujuan Linggarjati, maka kesempatan terbuka juga kepadanya untuk menduduki tempatnya dalam lingkungan Negara Indonesia Serikat."

Belanda siap memberikan kemerdekaan penuh, tetapi bersamaan dengan itu ingin memberikan jaminan agar Indonesia mampu berdiri sendiri apabila kemerdekaan itu diberikan sepenuhnya kepadanya. Dengan kata lain, Pemerintah Belanda bermaksud membangun suatu masyarakat yang baik imbangannya, mampu menjaga posisinya di tengah para tetangga yang melingkunginya, dan kompeten untuk mengarahkan dan memimpin sendiri eksistensinya.

Pandangan yang idealistik ini tidak pernah dipahami oleh Republik. Walau kedengarannya paradoksal, inilah sudut pandang yang pada akhirnya memaksa Pemerintah Belanda mengangkat senjata terhadap Republik.

Itulah catatan-catatan dalam Kronik Revolusi Indonesia: 1947.

Hai Mar, waktu itu negerimu dan negeriku sama-sama menghimpun 'kebenaran' sebagai landasan perjuangan. Tentu bangsaku lebih bahagia jika bisa berdiri di atas kaki sendiri, tanpa diatur-atur. Sebab penjajahan adalah memuakkan. Sedangkan negerimu, mereka menghimpun maksud baik yang kami tidak bisa memahaminya. Terdengar indah tapi memaksa.

Ohya hampir lupa. Ketika terjadi Agresi Militer Pertama, negeri ini baru tiga hari memasuki bulan Ramadhan di tahun 1366 Hijriah. Aku mendapatinya di sebuah seruan Residen Aceh untuk Umat Islam di daerahnya, yang juga tercatat dalam kronik. Ini yang ia katakan;

"Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan. Kita selalu digempur dengan cara besar-besaran oleh tentara Belanda. Jangan disangka kita akan lemah dalam menghadapi mereka karena kita sedang berpuasa. Kita kuat dan tetap kuat menghadapi mereka, kapan saja dan dimana saja."

Wah, aku terlalu banyak mengutip. Maaf.

Pada 22 Juli 1947, enam puluh tujuh tahun yang lalu, tempat kelahiranku --Jember-- dikuasai oleh Belanda hingga di pusat kota. Sejarah mencatat, banyak hal terjadi di hari itu. Lalu hari ini, 22 Juli 2014, aku juga melihat ada banyak sekali kejadian yang akan dicatat oleh negeriku, Indonesia. Di sini sedang ada pengumuman mengenai hasil rekapitulasi Pilpres, serta kejadian-kejadian lain yang menyertainya.

Aku mencatatnya di sebuah buku kecil, agar kelak jika cucuku bertanya, aku bisa memberikan penjelasan sebaik mungkin mengenai fakta yang terjadi. Mungkin hanya penggalan, entahlah.

Belanda menyerang negeri ini pada bulan Juli 1947, enam puluh tujuh tahun yang lalu. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah Indonesia, dengan nama Agresi Militer Belanda pertama. Penyerangan kedua terjadi pada 19 Desember 1948. Belanda tetap menyebut serangan-serangan itu sebagai Aksi Polisionil, sebagai tindakan Pemerintah yang sah dalam menangani ancaman stabilitas. Ketika itu, Indonesia adalah sebuah negara merdeka dan berdaulat, namun Belanda tidak mau mengakuinya. Bagi Belanda, kemerdekaan Indonesia berlangsung pada 27 Desember 1949, saat penyerahan kedaulatan di Amsterdam.

Perbedaan persepsi tentang waktu kemerdekaan Indonesia ini berlangsung lama sekali. Pengakuan kedaulatan Indonesia baru dilakukan 'secara diam-diam' pada bulan Agustus 2005, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot. Ketika itu menteri luar negeri Belanda menghadiri upacara peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2005 atas undangan pemerintah Indonesia.

"Itulah kenapa, pengakuan tanggal kemerdekaan Indonesia oleh Belanda adalah pada 27 Desember 1949, bukan pada saat Proklamasi dikumandangkan. Mereka kan nggak mau rugi."

Aku pernah mendengar kalimat itu dari Mbak Irma Devita. Ya aku sependapat. Sebab apa yang dilakukan pemerintah Belanda pada 15 Juli 1947 dan 19 Desember 1948 adalah serangan terhadap sebuah negara berdaulat dan melanggar hukum internasional. Wajar jika perbedaan persepsi tentang waktu kemerdekaan Indonesia berlangsung lama.

Di tahun yang sama, Kakekmu tercinta meninggal dunia.

Marjolein, bahagia rasanya bisa mengenal dan bersahabat denganmu. Datanglah ke rumahku kapan saja. Meski aku tak pernah bisa berpihak kepada siapa pun yang menjajah bangsa lain, namun bukan berarti aku memelihara dendam terhadap tanah airmu, sebab sejarah bukan tentang memelihara dendam.

Sudah. Catatan ini panjang sekali, belum lagi kutipan-kutipannya, haha.

Sedikit Tambahan

Saat menuliskan catatan ini, di luar sana masyarakat Indonesia sedang membicarakan rekapitulasi KPU untuk kemenangan pasangan Jokowi - JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden hingga 2019. Tentu, hingga bulan Oktober nanti, Presiden Indonesia masih Susilo Bambang Yudhoyono.

Salam saya, RZ Hakim.

4 komentar:

  1. Iya, presidennya masih SBY, hehe. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Hiduplah Indonesia Raya...

      Hapus
  2. Ketika sejarawan berkumpul. . .
    Seru ya, Mas. Udah liha pose Mbekayu Mar. Yang prnah di upload di FB, kan? Di pemakaman. . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar Idah. Ketika itu Mar sedang ikut nyekar di makam Letkol Moch. Sroedji bersama keluarga besar Sroedji.

      Hapus

acacicu © 2014