14.7.14

Ketika Final Piala Dunia Berlangsung

14.7.14
Saat saya tuliskan catatan ini, Final Piala Dunia antara Jerman Vs Argentina sedang berlangsung. Jalanan tampak sepi. Hanya satu dua sudut saja yang terlihat ramai, mereka sedang nobar. Rupanya orang-orang lebih senang memilih untuk menonton di rumah saja sambil menanti waktu sahur.

Saya jadi ingat obrolan dengan seorang teman via inbox, beberapa menit sebelum pertandingan final dimulai. Teman SMA saya ini bernama Erwin Chandra, kini tinggal di Cologne, sebuah kota di Jerman. Ia bilang hari ini warga di sana tumplek blek di sudut-sudut kota untuk menikmati final piala dunia bersama-sama.

"Mbludak Kim, gak enek sing nang omah."

Entahlah, bagaimana gambaran tentang warga Argentina yang tak bisa menonton secara live di Brasil. Saya tidak punya teman yang tinggal di Argentina. Tebakan saya, suasananya tak jauh beda dengan yang terjadi di Cologne.


Suasana di Cologne - Dokumentasi Erwin Chandra

Itulah realitas tentang dunia sepakbola, ia mampu mengikat dan memikat banyak orang, serta mampu menciptakan rasa komunitas yang mendalam.

Bicara tentang bola, saya jadi teringat beberapa desa di Jember yang nampak sangat jatuh cinta. Gibol, kalau istilah masa kini. Di desa seperti Klungkung --masuk Kecamatan Sukorambi, sepak bola sudah menjadi bagian penting dari hidup masyarakat. Mereka terbiasa dengan laga tarkam alias antar kampung. Di sini sepak bola menjadi sebuah kultur tersendiri. Di wilayah-wilayah seperti Desa Klungkung, sepak bola serupa cermin. Ia dapat menjelaskan banyak hal mengenai desa tersebut.

Saya kira, cerminan sepak bola di Desa Klungkung sama juga dengan sepak bola di sebuah negara. Ia bersifat mencerminkan sesuatu, tak hanya sekedar bola bundar, strategi, pemodal, wasit, pelatih dan hal-hal yang serupa. Ia bisa lebih dari itu, menjelaskan banyak hal dan banyak kejadian, terlebih di bidang sosial budaya.

Ah, rupanya saya bicara terlalu lancip. Maaf.

Tapi itu ada benarnya lho. Pernah saya baca di sebuah catatan, kebangkitan ekonomi Jerman di era 1960-1970an juga terkait erat dengan perkembangan sepak bola. Ini tentu berkaitan dengan persepsi akan citra sebuah bangsa, tentang bagaimana pencitraan yang dibangun oleh sepak bola bisa terhubung langsung dengan aktivitas ekonomi suatu masyarakat. Dan dunia sepak bola terbukti bisa menciptakan itu. Meski tak dapat saya pungkiri, sepak bola juga bisa menciptakan perang dalam arti yang sebenarnya, seperti peperangan antara Honduras dan El Salvador di tahun 1969. Iya, selain menawarkan kebersamaan kolektif, sepak bola juga berpotensi untuk membuka ruang konflik.

Eh, lancip lagi. Abaikan paragraf di atas, mari kita bicara yang menyenangkan saja.

Tak perlu heran, kenapa saya menulis ini di saat laga final sedang berlangsung, sementara tak jauh dari tempat saya menulis, layar televisi sedang menyiarkannya. Kebetulan saja. Lha kok tiba-tiba saya ingin menulis.

Tadi, di menit 29 lewat 25 detik, Team Argentina berhasil melesakkan bola ke gawang Jerman. Ternyata gol tersebut dianulir. Itu memberi kita sebuah pelajaran ringan, bahwa sebuah gol menjadi tak berguna bila wasit menganulirnya.

Lalu, para pemain kembali memperebutkan bola yang hanya satu-satunya di lapangan. Apakah saat bermain di lapangan, salah satu dari mereka pernah berpikir betapa pentingnya sebuah bola? Tanpanya, tak akan ada gol-gol indah. Satu bola murah lebih penting dari sebelas pemain mahal.

Kini pertandingan final piala dunia antara Jerman lawan Argentina telah memasuki detik-detik akhir. Banyak pengamat bola bilang, seringkali kemenangan ditentukan di detik-detik injury time. Ia mirip sekali dengan filosofi the power of kepepet. Injury time, ia mengajarkan kita untuk senantiasa tidak meremehkan waktu.

Sudah ah.

Di layar televisi dapat saya lihat, waktu sudah menunjukkan menit ke-89, keadaan masih kosong-kosong.

Edit

Final kali ini akhirnya mengalami perpanjangan waktu. Di menit ke-112, Jerman menciptakan gol. Ia mempertahankan skor satu kosong hingga peluit panjang berakhir. Ini empat kalinya Jerman menjadi juara World Cup. Piala dunia sebelumnya adalah pada tahun 1954, 1974, dan 1990. Selamat Jerman, selamat menjadi juara.


Ekspresi Erwin Chandra, yang memakai topi, saat peluit panjang terdengar

Tentu, ucapan ini saya tujukan istimewa untuk kawan saya, Erwin Chandra. Selamat ya Win, terima kasih kiriman foto-fotonya.

2 komentar:

  1. walaupun ga terlalu suka sepak bola, tapi selalu seru melihat kemeriahannya. :)
    selamat jerman. :D

    BalasHapus
  2. jagoan saya sudah lama tersingkir bro, yaitu Inggris

    BalasHapus

acacicu © 2014