25.8.14

Saat Musim Karnaval Tiba

25.8.14

Foto oleh Faisal Korep, 24 Agustus 2014

Saat musim karnaval tiba, harga kemoceng akan naik. Di hari biasa, ia dihargai tujuh ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Namun di musim karnaval, harganya bisa melonjak hingga seratus persen. Di tangan para desainer kostum seperti Ivan Bajil, kemoceng akan berubah fungsi. Ia tak lagi digunakan sebagai alat pembersih debu manual, melainkan hanya diambil bulu-bulunya saja.

Di musim yang lain, kemoceng adalah barang remeh yang seringkali tak dipedulikan keberadaannya. Saat musim karnaval tiba, ia tak lagi marjinal.

Kini, karnaval adalah tentang bulu-bulu unggas.

Saat musim karnaval tiba, orang-orang seperti Ivan Bajil akan lebih giat mendatangi babebo. Mereka menyerbu pusat perbelanjaan baju bekas murah dengan kualitas ekspor. Yang diincar adalah baju-baju empat musim, dimana ada penutup kepala yang dilingkari motif bulu-bulu.

"Lalu baju bekas itu akan kami 'edel-edel' dan kami ambil bulu-bulunya," kata Lukman, partner Ivan Bajil.

Saat musim karnaval tiba, anak-anak kecil di pinggiran kota akan merengek pada orang tuanya. Mereka meminta kostum karnaval yang ada bulu-bulunya, lengkap pula dengan sayapnya.

Sayap, ia adalah mimpi setiap anak kecil.

Dulu saya juga pernah sangat ingin sekali memiliki sayap agar bisa terbang seperti burung. Barangkali, angan-angan tentang sayap pernah dimiliki oleh semua orang. Kabar baiknya, karnaval bisa mewujudkan impian kolektif itu.

Ia mengingatkan saya pada penggalan tulisan Bre Redana yang pernah terbit di Kompas, 23 Desember 2012. Di artikel berjudul; Kebudayaan dan Politik Tubuh, Bre Redana menuliskan ini.

"Mengingat sekarang ini era konsumsi, kalau Anda punya uang, semua itu bisa dibeli."

Kini, karnaval adalah tentang sayap dan bulu-bulu unggas.

Catatan

Artikel ringan ini juga saya post di akun Facebook baru, di sini.

Salam saya, RZ Hakim.

23.8.14

Novan dan Oting Menikah

23.8.14

Novan dan Oting

Jika hari ini Blast Band masih bersedia tampil bernyanyi, tentu mereka akan menyanyikan lagu untuk sang keyboardist, Novan Purwanto. Tapi saya kira, Blast tidak akan menampilkan lagu mereka yang berjudul sembilan malam. Itu lagu tentang rasa kehilangan yang rapuh. Tak elok jika disenandungkan dalam sebuah resepsi pernikahan.

Saya biasa menyanyikan lagu mereka ketika sedang ada di kamar mandi. Biasanya hanya mengulang-ulang penggalan reff-nya saja.

"Sembilan malam meratap kesepian
Entah sampai kapan jiwa ini bertahan
Dalam siksa hatiku sendiri.."

Bolehlah jika dinyanyikan atas nama kenangan. Setidaknya mengenang suatu hari di bulan Februari 2008, ketika Yuni, Bayu, Rizkian, Febri dan Novan menyabet juara A Mild Live Wanted untuk Regional Jawa Timur.

Saat itu Blast tampil prima di Stadion Tambaksari Surabaya. Saya beruntung berada di jajaran terdepan untuk menikmati aksi mereka.

Hari ini, 23 Agustus 2014, Novan Purwanto dan Oting Nafrity menggelar resepsi pernikahan. Selamat ya. Saya dan Hana bahagia bisa datang di acara kalian. Apalagi di sana kumpul sama Mungki Krisdianto, Sunu, Yoyok Pocket, Adit the Rocket, dan kawan-kawan musisi indie Jember yang lain. Apalagi Diorama tampil bernyanyi menghibur para undangan. Apalagi ada satenya.

Untuk Novan, terima kasih telah mengisi keyboard di lagu tamasya band yang berjudul teman.

Ohya. Resepsi pernikahan kalian mengingatkan saya pada cerita Yuni, tentang 23 Agustus enam belas tahun yang lalu. Ya, itu adalah awal keberadaan sebuah band bernama Blast, dimulai dari sudut kota Malang sebelum akhirnya hijrah ke Jember.

Salam saya, RZ Hakim.

15.8.14

Manfaat Username Facebook

15.8.14

Dampak username yang rusak

Saya memiliki masalah dengan username Facebook. Hingga hari ini ia rusak dan tidak bisa kembali seperti semula. Ini kasus yang kecil, tapi lumayan memusingkan. Jika Anda seorang blogger, maka setidaknya username dapat mempermudah membuat link ke Facebook kita pada tiap postingan blog. Facebook yang sudah memiliki username juga akan bisa terindex oleh mesin pencari Google.

Manfaat lain dari username Facebook:

1. Untuk memudahkan orang mencari dan terhubung dengan kita.

2. Dengan adanya username, jika kita mengetikkan nama/username Facebook kita di mesin pencari google, maka ia akan menampilkan Facebook kita lengkap dengan fotonya

3. Username bisa dijadikan pengganti alamat email pada saat login ke Facebook

4. Dengan adanya username, kita menjadikan jejaring sosial Facebook sebagai website mikro

5. Username memudahkan user untuk menemukan teman mereka lebih cepat dengan mengetikkan username sebagai bagian dari URL

6. Menggunakan username dengan nama Anda sendiri atau real name user, tentu berdampak pada tumbuhnya rasa percaya bahwa itu memang jejaring sosial yang Anda kendalikan

7. Otentikasi ini akan membantu lingkungan yang terpercaya karena user tahu identitas asli orang yang mereka undang dan semua hal di Facebook.

Layanan username pertama kali diluncurkan oleh pihak Facebook pada 13 Juni 2009. Hari itu, situs Facebook diserbu banyak orang pada saat bersamaan. Mereka berebut memilih username sesuai nama favorit mereka masing-masing. Terhitung dalam 60 jam sejak proses registrasi username dilakukan, terjadi pembuatan 100.000 username per-jamnya. Sejumlah 500.000 registrasi username terjadi dalam masa 15 menit, dan 3 juta registrasi username dalam 14 jam pertama. Setidaknya itu yang saya temukan saat googling.

Lahirnya username rzhakim.net

Sebenarnya, yang membuat saya terganggu dengan masalah username Facebook bukan melulu mengenai poin-poin benefits di atas. Yang saya rasakan lebih sederhana. Ini tentang sreg dan tidak sreg.

Jadi, ketika akun Facebook milik saya mengalami masalah dengan username, saya berpikir untuk membuat Facebook baru. Tentu, saya telah menimbang baik buruknya, berat tidaknya. Ya memang berat. Saya sudah memanfaatkan Facebook selama enam tahun. Jika saya harus memulai kembali, ada banyak hal yang harus saya lakukan.

Di catatan sebelumnya berjudul, Gagasan Yang Tidak Lazim, saya telah mempertimbangkannya.

Dini hari kemarin, saya membuat akun Facebook baru. Harapan saya, pada 23 September 2014 nanti, Facebook personal dengan username rzhakim.net ini sudah bisa beroperasi. Sedangkan Facebook sebelumnya --yang kini masih saya gunakan, mungkin akan saya delete secara permanen.

facebook.com/rzhakim.net

14.8.14

Gagasan Yang Tidak Lazim

14.8.14
Saya membuat akun di jejaring sosial Facebook sejak enam tahun yang lalu, di pemula bulan Desember. Terbilang terlambat beberapa bulan jika dihitung dari demam Facebook di Indonesia yang terjadi pada pertengahan 2008. Facebook sendiri pertama kali diluncurkan sejak 6 Februari 2004.

Hingga pertengahan 2007 Facebook nyaris tak dilirik pengguna Internet. Namun di tahun berikutnya ia melejit. Stasistiknya menjulang tinggi.

"Indonesia tercatat dalam sepuluh besar negara pemakai situs yang mulai dibuka untuk umum pada 2006 ini.” (Wiguna, 2009).

Meroketnya Facebook ditandai dengan meredupnya Friendster, sebuah jejaring sosial yang berdiri sejak 3 Januari 2001. Semakin hari Friendster semakin menepi. Hingga di akhir bulan April 2011, pihak Friendster mengumumkan bahwa mereka akan tutup buku pada 31 Mei 2011.

Friendster pernah berjaya. Terlebih, antara tahun 2003 hingga 2008. Tentu, ada banyak orang yang memiliki kenangan bersamanya, tidak terkecuali saya. Mengingat Friendster, teringat pula pada warnet-warnet jadul di sekitaran kampus Bumi Tegalboto Jember.

Dulu di Jember hanya ada sedikit warnet. Misal, Warnet Mulia di Jalan Jawa. Di Jalan Sumatera ada Warnet Binawidya. Lalu ada Bintang, Javanet, Smile, Godonk. Di masa-masa itulah saya membuat akun friendster, tepatnya di Godonk Net. Ketika itu penjaga warnetnya teman sendiri, Noy Cokroadiningrat. Sayang saya lupa, tahun berapakah itu.

Saya pernah menuliskan penggalan pengalaman seputar Friendster di sini. Ada satu catatan lagi. Sebelum Friendster tutup akun, saya pernah menulis sesuatu di sini.

Sejarah bersifat berulang, dengan ruang dan waktu yang tentunya berbeda. Jika belajar dari meroketnya Facebook dan meredupnya Friendster, maka ini semua adalah tentang inovasi. Penyegaran. Facebook tampil simpel dan elegan, didukung oleh banyaknya fitur dalam satu halaman. Sedangkan Friendster, ia hanyut oleh popularitasnya. Bahkan Frienster terlambat memasang fitur chatting.

Hari ini sudah terlihat tanda-tanda bahwa Facebook harus melakukan penyegaran. Jejaring sosial semakin banyak, ponsel pintar bertebaran. Mereka menawarkan fitur-fitur yang menarik. Jika Facebook tidak melakukan sesuatu, kiranya ia bernasib sama seperti Friendster.

Facebook Baru

Saya adalah pengguna Facebook, aktif menaruh link-link tulisan blog di sana, serta sekali waktu membuat status yang panjang. Melihat fenomena yang ada, menjadi aneh ketika hari ini saya berencana untuk menghapus facebook secara permanen dan menggantikannya dengan akun baru. Semua hanya karena link yang rusak, seperti update status saya kemarin.

Maksud hati ingin merubah/mengatur ulang nama pengguna, namun gagal. Jadi apabila diketik domain facebook/masbro.acacicu, halaman tidak ditemukan. Kini link url jejaring sosial fb yang saya gunakan memakai id berupa angka-angka, dengan nomor id=12156579**

Tentu saya mengerti, gagasan membuat Facebook baru adalah tidak lazim dan sangat tidak populer. Bahasa lokalnya, "leter."

Gagasan ini tentu membuat saya harus menyisihkan sebagian waktu luang untuk mengunduh data-data yang sekiranya saya butuhkan. Pilihan berikutnya adalah membiarkan Facebook lama menjadi 'sampah' maya. Jadi saya masih bisa mengunjunginya kapan saja. Harga mahal lainnya yang harus dibayar adalah kembali melakukan konfirmasi pertemanan. Belum lagi misalnya, ketika saya sudah melakukan semuanya, tanpa disangka-sangka, Facebook tutup.

Semua itu telah saya renungkan. Hari ini, saya mengeksekusi langkah pertama dari gagasan aneh yang bersemayam di kepala. Iya benar, saya telah membuat akun baru di jejaring sosial Facebook. Hehe, ada-ada saja saya ini. Tapi tidak apa-apa, ada baiknya saya coba. Semua akan pindah pada waktunya.


11.8.14

Gagasan Perjumpaan

11.8.14
Hari masih sangat pagi ketika saya membaca pesan dari Kang Yayat. "Halo Mas, sudah sampai mana? Mohon info. Thank's." Setelah membaca pesan itu, saya tak segera membalasnya melainkan lebih memilih merapikan selimut yang melindungi tubuh Hana dari dingin.

Ya, seharusnya tadi pagi saya dan istri sudah nangkring di kursi empuk kereta api logawa. Berangkat dari Jember dengan stasiun tujuan Surabaya - Gubeng.


Dokumentasi Imelda Coutrier

Sesampainya di sana, Kang Yayat bersedia membantu untuk menjemput kami. Lalu kami bakal bertemu dengan Mbak Imelda Coutrier beserta dua jagoannya, dan kami akan segera meluncur ke Malang. Jalan-jalan.

Begitulah gagasannya. Perjumpaan ini sudah terencana sejak 4 Juli 2014. Kami sangat menantikan hari ini.

Istri saya sakit. Dengan berat hati, saya membatalkan keberangkatan ke Surabaya. Mohon Maaf Mbak Imelda, Kang Yayat.

Semoga di lain waktu kita bisa berjumpa, Amin.

10.8.14

Duka dan Bahagia

10.8.14
Hari ini Pije berangkat ke Kabupaten Gresik untuk meminang Ovi, kekasih hatinya. Tentu Pije tidak sendirian melainkan diantarkan oleh sanak keluarganya. Ia menyewa Elf, kendaraan yang memang disetting untuk mini bus keluarga. Faisal Korep ia ajaknya pula untuk mendokumentasikan acara tersebut.

Tadi malam hingga dini hari menjelang keberangkatannya ke Gresik, Pije dan Faisal memilih untuk bersantai ria di rumah saya. Istri saya masih terlihat shock perihal salah satu sahabat terbaiknya yang meninggal dunia. Namanya Arvian David Alfakhri. Saya biasa memanggilnya David. Kawan-kawan yang lain lebih suka memanggilnya Mulo.

Adalah Tita yang menelepon saya semalam, 9 Agustus 2014 pukul 22.23 WIB. Dari Tita saya mengerti jika David meninggal dunia di RS Banyuwangi. Almarhum mengidap radang kelenjar tiroid. Selain itu, di tulangnya terdapat virus.

David, Hana dan Tita. Mereka bertiga disatukan dalam Latihan Alam Dewan Kesenian Kampus --Fakultas Sastra Universitas Jember-- tahun 2004.

Bulan Januari 2005, Hana mengikuti Diklatsar Pencinta Alam. Ketika itu David juga mendaftarkan diri sebagai calon peserta Diklatsar SWAPENKA. Ia mengikuti Diklat Ruang. Menjadi menarik, David lebih paham nama-nama ilmiah tumbuhan dibanding saya yang waktu itu sudah empat tahun berproses di pencinta alam.

Pada akhirnya David tidak meneruskan proses Diklatsar Pencinta Alam. Ia tidak mengikuti Diklat Lapang yang bertempat di Taman Nasional Merubetiri. Hana yang meneruskan proses Diklatsar. Lalu ia lebih aktif di dunia pencinta alam. Adapun David dan Tita, mereka melanjutkan prosesnya di bidang seni.

Saya akrab dengan rekan-rekan satu angkatan Hana di Dewan Kesenian Kampus, tidak terkecuali Galih Nofiyan. Ia adalah lelaki muda enerjik asal Sumberbaru, Jember. Kabar duka datang pada 25 Juli 2012, Galih meninggal dunia. Saya pernah menuliskannya di sini.

Kabar duka berbalut dengan kabar bahagia. Sehari setelah Galih meninggal dunia, terdengar kabar jika Nia melahirkan anak kedua yang diberi nama Kafka Avicenna Al-Misky. Nia adalah juga sahabat satu angkatan Hana, Tita, Almarhum Galih dan Almarhum David di Dewan Kesenian kampus.

Pada 9 Januari 2013 Tita menikah. Penggalan kisahnya juga pernah saya tuliskan, di sini. Catatan saya di blog, sebelum berkisah tentang pernikahan Tita dan Bagus, adalah catatan fiktif tentang kematian.

Istri saya terkejut mendengar kematian David. Baru setengah tahun yang lalu David melewatkan beberapa malam di rumah kami dan melakukan banyak kegiatan. Kami masak bersama-sama, ngopi di rembangan, jalan-jalan.

Dini hari tadi, hingga pukul 00.50 WIB, saya dan Hana mampir di Kedai Naong Kopi. Di sana sudah ada Akil, salah seorang anggota Dewan Kesenian kampus. Disusul kemudian oleh Miftah. Mereka hendak berangkat takziyah ke Banyuwangi namun tidak tahu kabar pasti, kapan pemakaman dilakukan. Oleh Revo, mereka disarankan untuk istirahat dulu dan berangkat pagi saja.

Saat kami di Kedai Naong Kopi yang lokasinya tepat di tepi jalan di areal kampus, di sepanjang JL. Kalimantan banyak sekali kumpulan anak muda. Mereka sedang melakukan aksi balap liar. Aneh, biasanya mereka melakukan itu pada hari Jumat malam Sabtu. Kini jadwalnya semakin tidak tentu. Kira-kira sepuluh menit sebelum memutuskan pulang, ada tontonan gratis tepat di depan mata. Beberapa orang berambut cepak sedang mengobrak-abrik kumpulan anak muda bermotor. Ada yang bilang, itu 'soldaten' mabuk. Saya tidak bisa memastikan itu sebab memang tak ada niatan untuk mengecek kebenarannya.

Kami sedang membicarakan perihal berita duka, sementara di luar sana orang-orang sedang bermain-main dengan nyawanya.

Tadi malam hingga dini hari menjelang keberangkatannya ke Gresik, Pije membantu Hana mencarikan foto-foto kegiatan ketika kami masak bersama-sama di dapur, 28 Januari 2014. Orang-orang yang mengenal David pasti mengerti jika ia jago di bidang memasak. Pada akhirnya foto yang dimaksud memang tidak dijumpai. Kami lupa menyimpannya di folder apa.

Hari ini Pije berangkat ke Kabupaten Gresik untuk meminang Ovi, kekasih hatinya. Kabar lain, beberapa saat yang lalu adik saya di Pencinta Alam, Rudi Hartono, ia telah resmi bertunangan dengan perempuan pilihannya. Alhamdulillah.

Duka dan bahagia, dua hal yang menghimpun kesadaran kita pada sabar dan syukur.

7.8.14

Ekspektasi

7.8.14
Ini pertanyaan susah-susah mudah. Apa usaha yang sudah, sedang, dan akan saya lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun? Ia membuat saya memikirkan banyak hal. Tak terkecuali, memikirkan hari-hari yang telah terlewati. Saya kira, untuk menjawab pertanyaan itu saya butuh bercerita.

Sekilas Perjalanan Hidup

Saya dilahirkan tiga hari sebelum penandatanganan perjanjian damai Israel - Mesir oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Mereka melakukannya di Washington DC. Perjanjian yang kontroversi itu ditentang habis-habisan oleh Yasser Arafat.

Saya masih kecil sekali, belum lagi satu tahun, ketika terjatuh ke dalam batuan kapur.

Jadi ceritanya, saat itu orang tua saya sedang merenovasi rumah. Bapak sedang bekerja di luar rumah, sementara Ibu sibuk mempersiapkan jamuan makan untuk para pekerja bangunan. Tentu ia sangat sibuk sekali, mengingat Kakak perempuan saya masih kecil, sementara saya masih bayi. Waktu Ibu mempersiapkan ini itu di dapur, saya yang masih merah diletakkannya di atas dipan, dijaga oleh bantal kecil di kiri kanannya. Sementara tepat di bawah dipan ada campuran material biji-biji kapur yang telah dilembutkan berpadu dengan air. Bentuknya seperti kaldera Gunung Raung.

Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba saya sudah nyemplung seratus persen di dalam kaldera kapur. Ya, saya menggelinding dari dipan dan meluncur bebas dalam pelukan air kapur alias gamping. Orang pertama yang melihat kejadian itu adalah Pak Rasmo, salah satu yang bekerja merenovasi rumah.

Ibu menjerit, menangis, panik. Setidaknya, itu yang dikisahkan Pak Rasmo ketika saya telah besar. Saya hanya mencoba mengilustrasikannya.

Syukurlah, dalam kepanikannya jiwa keibuannya tetap bekerja. Ia meraih anak bungsunya, kemudian melakukan apa yang harus dilakukan. Ibu membersihkan lubang-lubang di anatomi tubuh anaknya. Tak boleh ada yang tersumbat kapur. Mulai dari mulut, hidung, telinga, dubur, hingga kedua mata, ia bersihkan semua.

Singkat cerita, saya bertahan hidup. Kelak, kisah ini melegenda dalam keluarga kami. Ia membuat saya mafhum kenapa tulang-tulang dalam tubuh saya sulit membesar. Hanya senyum manis yang bisa saya persembahkan manakala ada suara-suara sumbang. Sebab kurus sekali, mereka mengira saya adalah seorang pengguna narkoba.

RZ Hakim kecil semakin bertumbuh, melewati banyak kisah.

Ketika terjadi tragedi pembunuhan Anwar Sadat, saya sudah mulai bisa berjalan dan mulai lancar bicara. Adapun proses hijrahnya saya dari SD menuju SMP ditandai dengan meninggal dunianya mantan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin.

Saya sudah beranjak dewasa ketika Yasser Arafat meninggal dunia, sepuluh tahun yang lalu. Masa itu saya namakan sebagai masa-masa transisi. Masa yang dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan berat buatan saya sendiri. Juga, masa-masa produktif bagi saya dalam melukis dan merangkai bait-bait puisi.

Gagasan Mati Muda

Satu tahun setelah meninggalnya Yasser Arafat, Riri Riza menggarap sebuah film. Ia mengisahkan seorang tokoh demonstran dan pencinta alam bernama Soe Hok Gie, diperankan dengan agak kaku oleh Nicholas Saputra.

Rupanya Soe Hok Gie tergila-gila dengan pemikiran filsuf Yunani tentang mati muda. Kata-kata tersebut diabadikan dalam Catatan Seorang Demonstran halaman 96.

"Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua."

Saya tidak sedang akan membahas gagasan mati muda yang pernah menjadi trend dalam karya-karya mereka yang juga masih muda. Sama sekali tidak. Saya menebak, semua orang telah mengerti mengenai gagasan itu. Itu adalah gagasan yang sulit untuk membumi dan diejawantahkan. Namun, tentu saya tidak bermaksud mencederai hati para sahabat yang mengusung gagasan ini.

Saya mengerti, penggenggam ide mati muda adalah mereka yang enerjik dan menyangka bahwa menjadi tua identik dengan segala hal yang menyedihkan. Menjadi tua adalah buruk dan menyusahkan.

Seringkali, kita memang pandai menyangka-nyangka.

Saya pernah merenungkan gagasan mati muda dalam rentang waktu yang panjang. Ini tentang merenungkan saja. Lalu terhimpun kesadaran dalam diri, saya bahagia dilahirkan. Menurut penuturan orang-orang terdekat, kelahiran saya adalah sesuatu yang dinanti-nanti.

Nasib terbaik kedua adalah dilahirkan tapi mati muda. Tentu saja. Menurut apa yang saya yakini, kanak-kanak yang meninggal dunia sebelum baligh, ia adalah penghuni surga. Selama di alam barzakh mereka diasuh oleh Nabi Ibrahim, sampai orang tuanya datang.

Kisah di atas mengingatkan saya pada kawah gamping, dimana saya tenggelam di dalam kaldera kapur. Begitu pun, saya bahagia bisa menghirup udara dunia hingga hari ini. Alhamdulillah. Tuhan punya maksud lain yang lebih baik untuk saya. Adalah tugas kita untuk memanfaatkan hidup sebaik-baiknya, seindah-indahnya, dan se-bermanfaat mungkin. Doakan semoga saya bisa, Amin.

Menjadi Tua Adalah Alami

Suatu hari di pertengahan Ramadhan 1993 Masehi, terdengar kabar mengejutkan. Ini tentang Kakek, Ayah dari Bapak saya. Ia meninggal dunia oleh setrum bertegangan 110 voltase, di usianya yang ke-67 tahun.

Di luar sana orang-orang bersuara. "Padahal tadi Pak Sura'i masih ngobrol sama saya." Padahal begini padahal begitu.

Pelajaran penting bagi seorang RZ Hakim remaja, bahwa sesuatu yang hidup pasti akan mengalami mati, sehebat apapun kita menyayanginya. Mengenai kapan datangnya kematian, ia adalah satu dari tiga hal yang menjadi rahasia Tuhan yang tidak seorang pun tahu. Biarkan mati datang pada waktunya, tidak perlu dijemput tidak pula untuk dihindari. Kita hanya harus mempersiapkannya.

Menjadi tua adalah alami, maka mari kita rayakan kehidupan ini dengan menjadi manusia yang berguna.

Penutup

Sampai hari ini saya senang belajar. Belajar dengan senang. Sebab apa yang saya yakini menganjurkan manusia untuk belajar dan terus belajar, sejak dari buaian hingga liang lahat. Anjuran itu mensugesti saya untuk bisa belajar dengan bahagia.

Dengan belajar, saya berharap untuk bisa terus berkarya. Entah menciptakan lagu, entah menulis, atau apa saja.

Kiranya itu yang saya lakukan untuk memeluk tua.

Saya juga meletakkan harapan di dalam hati agar senantiasa bisa mengembangkan budaya meneliti. Ini baik untuk saya, sebagai daya rangsang belajar atas nama ilmu pengetahuan. Secara tidak langsung, ia juga mengasah imajinasi saya, dalam berpikir dan dalam memandang kehidupan. Ini juga tentang hasrat dan kegairahan hidup.

Sebagai pribadi yang mencintai dunia menulis, tentu saya tidak memiliki jaminan hari tua berupa materi. Tak ada uang pensiun. Ya, saya harus menciptakannya sendiri. Saya harus menyebar biji-bijian agar bisa memanennya, suatu hari nanti. Di sisi yang lain, saya juga mengamini kalimat, "Burung pipit tidak pernah ikut menanam tapi ia turut memanen."

Dalam hidup, kita hanya butuh berani mempelajarinya. Sebab Tuhan bersama orang-orang yang mau belajar untuk menjadi berguna.

Salam saya, RZ Hakim.

*Catatan ini menjadi semacam abstraksi terhadap ekspektasi tentang usaha apa yang sudah, sedang dan akan saya lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun.

2.8.14

Memanggil Namanya

2.8.14
Seminggu di rumah mertua, saya semakin terbiasa memanggilnya Hana. Semula saya memanggil istri saya dengan satu suku kata saja, Prit. Ketidaklaziman ini entah kenapa membuat saya teduh. Kadang setelah memanggilnya dengan sapaan Hana, saya tertawa sendiri. Disusul kemudian tertawa bersama-sama. Aneh yang indah.

Kami berangkat dari Jember sore hari di waktu Ashar, sampai di Tuban pukul sebelas malam. Perjalanan itu kami lewati sambil bernyanyi-nyanyi di atas motor Plat S.

Memasuki Kabupaten Probolinggo, kami mulai jarang bernyanyi.

Di sana, di jalur Probolinggo, kami menjumpai dua kejadian. Yang pertama adalah peristiwa tergulingnya truk pengangkut kelapa. Saya memang tidak melihat bagaimana proses jatuhnya kendaraan besar itu. Ketika saya sampai di lokasi, truk tersebut sudah dalam keadaan terguling, namun buah-buah kelapa itu berhampuran. Itu terjadi di Desa Malasan. Kalau dari Surabaya, Desa Malasan adalah setelah Pabrik Kertas Leces.


Dokumentasi Pribadi, 27 Juli 2014

Peristiwa kedua adalah tergencetnya motor matic di ban depan sisi kanan sebuah bus. Ini terjadi di dalam sebuah POM bensin. Hanya berjarak sekitar dua km saja dari peristiwa pertama. Bus dan motor matic, keduanya sama-sama melaju pelan, namun malang tak dapat ditolak. Ia adalah pelajaran berharga untuk saya yang sedang akan antri mengisi bensin.


Di sebuah POM Bensin di Probolinggo - Dokumentasi Pribadi

Keduanya terjadi di Kabupaten Probolinggo. Dalam Bahasa Sanskerta, Probo artinya sinar. Sedangkan Linggo atau Lingga, ia adalah pertanda. Saya mencoba menafsir-nafsirkannya sendiri. Bagi saya, peristiwa itu juga saya anggap sebagai penanda untuk mengurangi bernyanyi-nyanyi, mengimbanginya dengan 'mantra' yang kita yakini. Dalam hal ini, saya memilih shalawat dan berdoa sebisanya.

Sebab keyakinan adalah sumber kekuatan.

Selama perjalanan Jember - Tuban, saya dan Hana menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat. Malam harinya, kami berpapasan dengan rombongan takbir, apalagi ketika sudah masuk di Kabupaten Gresik. Kami seperti sedang mengenang perjalanan tahun lalu, mudik di malam takbir. Ada kembang api di kiri kanan, dan ada suasana rindu yang syahdu.

Seminggu di Kabupaten Tuban, saya semakin terbiasa memanggilnya Hana. Semula saya memanggil istri saya dengan satu suku kata saja, Prit. Ketidaklaziman ini entah kenapa membuat hati saya teduh.

Saya dan Hana, kami bersilaturrahmi di rumah sanak saudara. Di waktu luang, kami jalan-jalan. Ya, kami berburu cerita. Sekali waktu, kami seperti sedang mewawancarai saudara sendiri. Sekitar lima jam yang lalu Hana bahkan mewawancarai Bapak dan Ibu. Ia banyak bertanya tentang nama-nama family, kemudian mencatatnya dalam notes kecil.

Kami memiliki kisah yang banyak.

Kabar dari Jember. Beberapa sahabat sedang diuji sabarnya karena harus merelakan keluarganya terkasih ngadep Sang Pencipta. Nely Kresna Yudha, ia kehilangan Ayahanda tercinta --Albani Dwidjosardjono-- sehari menjelang Idul Fitri. Di penghujung bulan Juli 2014, Mita kehilangan kakak kandung tercinta, Taufiq. Semoga husnul khotimah, semoga sabar, dan semoga menjadi hikmah buat semua.

Pada saatnya nanti, tentu saya akan berbagi kepingan-kepingan kisah yang tercatat dalam notes.

Hari ini, 2 Agustus 2014, saya dan Hana akan kembali ke Jember. Kami akan sangat berbahagia sekali jika sahabat blogger turut mendoakan perjalanan kami. Terima kasih, mohon maaf lahir dan bathin.

Salam kami, Hakim dan Hana.
acacicu © 2014