7.8.14

Ekspektasi

7.8.14
Ini pertanyaan susah-susah mudah. Apa usaha yang sudah, sedang, dan akan saya lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun? Ia membuat saya memikirkan banyak hal. Tak terkecuali, memikirkan hari-hari yang telah terlewati. Saya kira, untuk menjawab pertanyaan itu saya butuh bercerita.

Sekilas Perjalanan Hidup

Saya dilahirkan tiga hari sebelum penandatanganan perjanjian damai Israel - Mesir oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Mereka melakukannya di Washington DC. Perjanjian yang kontroversi itu ditentang habis-habisan oleh Yasser Arafat.

Saya masih kecil sekali, belum lagi satu tahun, ketika terjatuh ke dalam batuan kapur.

Jadi ceritanya, saat itu orang tua saya sedang merenovasi rumah. Bapak sedang bekerja di luar rumah, sementara Ibu sibuk mempersiapkan jamuan makan untuk para pekerja bangunan. Tentu ia sangat sibuk sekali, mengingat Kakak perempuan saya masih kecil, sementara saya masih bayi. Waktu Ibu mempersiapkan ini itu di dapur, saya yang masih merah diletakkannya di atas dipan, dijaga oleh bantal kecil di kiri kanannya. Sementara tepat di bawah dipan ada campuran material biji-biji kapur yang telah dilembutkan berpadu dengan air. Bentuknya seperti kaldera Gunung Raung.

Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba saya sudah nyemplung seratus persen di dalam kaldera kapur. Ya, saya menggelinding dari dipan dan meluncur bebas dalam pelukan air kapur alias gamping. Orang pertama yang melihat kejadian itu adalah Pak Rasmo, salah satu yang bekerja merenovasi rumah.

Ibu menjerit, menangis, panik. Setidaknya, itu yang dikisahkan Pak Rasmo ketika saya telah besar. Saya hanya mencoba mengilustrasikannya.

Syukurlah, dalam kepanikannya jiwa keibuannya tetap bekerja. Ia meraih anak bungsunya, kemudian melakukan apa yang harus dilakukan. Ibu membersihkan lubang-lubang di anatomi tubuh anaknya. Tak boleh ada yang tersumbat kapur. Mulai dari mulut, hidung, telinga, dubur, hingga kedua mata, ia bersihkan semua.

Singkat cerita, saya bertahan hidup. Kelak, kisah ini melegenda dalam keluarga kami. Ia membuat saya mafhum kenapa tulang-tulang dalam tubuh saya sulit membesar. Hanya senyum manis yang bisa saya persembahkan manakala ada suara-suara sumbang. Sebab kurus sekali, mereka mengira saya adalah seorang pengguna narkoba.

RZ Hakim kecil semakin bertumbuh, melewati banyak kisah.

Ketika terjadi tragedi pembunuhan Anwar Sadat, saya sudah mulai bisa berjalan dan mulai lancar bicara. Adapun proses hijrahnya saya dari SD menuju SMP ditandai dengan meninggal dunianya mantan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin.

Saya sudah beranjak dewasa ketika Yasser Arafat meninggal dunia, sepuluh tahun yang lalu. Masa itu saya namakan sebagai masa-masa transisi. Masa yang dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan berat buatan saya sendiri. Juga, masa-masa produktif bagi saya dalam melukis dan merangkai bait-bait puisi.

Gagasan Mati Muda

Satu tahun setelah meninggalnya Yasser Arafat, Riri Riza menggarap sebuah film. Ia mengisahkan seorang tokoh demonstran dan pencinta alam bernama Soe Hok Gie, diperankan dengan agak kaku oleh Nicholas Saputra.

Rupanya Soe Hok Gie tergila-gila dengan pemikiran filsuf Yunani tentang mati muda. Kata-kata tersebut diabadikan dalam Catatan Seorang Demonstran halaman 96.

"Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua."

Saya tidak sedang akan membahas gagasan mati muda yang pernah menjadi trend dalam karya-karya mereka yang juga masih muda. Sama sekali tidak. Saya menebak, semua orang telah mengerti mengenai gagasan itu. Itu adalah gagasan yang sulit untuk membumi dan diejawantahkan. Namun, tentu saya tidak bermaksud mencederai hati para sahabat yang mengusung gagasan ini.

Saya mengerti, penggenggam ide mati muda adalah mereka yang enerjik dan menyangka bahwa menjadi tua identik dengan segala hal yang menyedihkan. Menjadi tua adalah buruk dan menyusahkan.

Seringkali, kita memang pandai menyangka-nyangka.

Saya pernah merenungkan gagasan mati muda dalam rentang waktu yang panjang. Ini tentang merenungkan saja. Lalu terhimpun kesadaran dalam diri, saya bahagia dilahirkan. Menurut penuturan orang-orang terdekat, kelahiran saya adalah sesuatu yang dinanti-nanti.

Nasib terbaik kedua adalah dilahirkan tapi mati muda. Tentu saja. Menurut apa yang saya yakini, kanak-kanak yang meninggal dunia sebelum baligh, ia adalah penghuni surga. Selama di alam barzakh mereka diasuh oleh Nabi Ibrahim, sampai orang tuanya datang.

Kisah di atas mengingatkan saya pada kawah gamping, dimana saya tenggelam di dalam kaldera kapur. Begitu pun, saya bahagia bisa menghirup udara dunia hingga hari ini. Alhamdulillah. Tuhan punya maksud lain yang lebih baik untuk saya. Adalah tugas kita untuk memanfaatkan hidup sebaik-baiknya, seindah-indahnya, dan se-bermanfaat mungkin. Doakan semoga saya bisa, Amin.

Menjadi Tua Adalah Alami

Suatu hari di pertengahan Ramadhan 1993 Masehi, terdengar kabar mengejutkan. Ini tentang Kakek, Ayah dari Bapak saya. Ia meninggal dunia oleh setrum bertegangan 110 voltase, di usianya yang ke-67 tahun.

Di luar sana orang-orang bersuara. "Padahal tadi Pak Sura'i masih ngobrol sama saya." Padahal begini padahal begitu.

Pelajaran penting bagi seorang RZ Hakim remaja, bahwa sesuatu yang hidup pasti akan mengalami mati, sehebat apapun kita menyayanginya. Mengenai kapan datangnya kematian, ia adalah satu dari tiga hal yang menjadi rahasia Tuhan yang tidak seorang pun tahu. Biarkan mati datang pada waktunya, tidak perlu dijemput tidak pula untuk dihindari. Kita hanya harus mempersiapkannya.

Menjadi tua adalah alami, maka mari kita rayakan kehidupan ini dengan menjadi manusia yang berguna.

Penutup

Sampai hari ini saya senang belajar. Belajar dengan senang. Sebab apa yang saya yakini menganjurkan manusia untuk belajar dan terus belajar, sejak dari buaian hingga liang lahat. Anjuran itu mensugesti saya untuk bisa belajar dengan bahagia.

Dengan belajar, saya berharap untuk bisa terus berkarya. Entah menciptakan lagu, entah menulis, atau apa saja.

Kiranya itu yang saya lakukan untuk memeluk tua.

Saya juga meletakkan harapan di dalam hati agar senantiasa bisa mengembangkan budaya meneliti. Ini baik untuk saya, sebagai daya rangsang belajar atas nama ilmu pengetahuan. Secara tidak langsung, ia juga mengasah imajinasi saya, dalam berpikir dan dalam memandang kehidupan. Ini juga tentang hasrat dan kegairahan hidup.

Sebagai pribadi yang mencintai dunia menulis, tentu saya tidak memiliki jaminan hari tua berupa materi. Tak ada uang pensiun. Ya, saya harus menciptakannya sendiri. Saya harus menyebar biji-bijian agar bisa memanennya, suatu hari nanti. Di sisi yang lain, saya juga mengamini kalimat, "Burung pipit tidak pernah ikut menanam tapi ia turut memanen."

Dalam hidup, kita hanya butuh berani mempelajarinya. Sebab Tuhan bersama orang-orang yang mau belajar untuk menjadi berguna.

Salam saya, RZ Hakim.

*Catatan ini menjadi semacam abstraksi terhadap ekspektasi tentang usaha apa yang sudah, sedang dan akan saya lakukan menuju umur lebih dari 60 tahun.

8 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Road to 64 di BlogCamp
    Segera didaftar sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakde Cholik, terima kasih selama ini telah bersedia berbagi pengalaman hidup kepada kami yang muda-muda. Kami belajar banyak dari penggalan-penggalan hidup yang tertulis.

      Salam dari kami di Jember, Hakim dan Hana.

      Hapus
  2. Membaca ini siang tadi, entah kenapa menitikan air mata sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Anaz, maaf jika ada sesuatu dalam catatan ini yang membuat pembaca sedih. Itu diluar kuasa saya. Sekali lagi maaf. Kabar baiknya, menitikkan air mata adalah manusiawi. Ia adalah sesuatu yang alami, se-alami menjadi tua.

      Mari menikmati setiap udara yang terhirup :)

      Hapus
  3. Setuju masbro, hidup itu tentang belajar. Belajar menamatkan perjalanan hidup hari ini untuk hari esok.
    Dan menjadi tua itu adalah anugerah, ini bukan kata2ku atau siapa pun, tapi ini sudah merupakan Sunatullah.
    Gak kepingin dolan nang Ngalam sam ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya Mas Misbach. Insyaallah besok ke Malang, numpang ngopi :)

      Hapus
  4. terus belajar selagi hidup, membuat hidup kita menjadi hidup ya mas...
    Maaf lahir batin ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, hehe..

      Sama-sama, mohon maaf lahir dan bathin.

      Hapus

acacicu © 2014