2.8.14

Memanggil Namanya

2.8.14
Seminggu di rumah mertua, saya semakin terbiasa memanggilnya Hana. Semula saya memanggil istri saya dengan satu suku kata saja, Prit. Ketidaklaziman ini entah kenapa membuat saya teduh. Kadang setelah memanggilnya dengan sapaan Hana, saya tertawa sendiri. Disusul kemudian tertawa bersama-sama. Aneh yang indah.

Kami berangkat dari Jember sore hari di waktu Ashar, sampai di Tuban pukul sebelas malam. Perjalanan itu kami lewati sambil bernyanyi-nyanyi di atas motor Plat S.

Memasuki Kabupaten Probolinggo, kami mulai jarang bernyanyi.

Di sana, di jalur Probolinggo, kami menjumpai dua kejadian. Yang pertama adalah peristiwa tergulingnya truk pengangkut kelapa. Saya memang tidak melihat bagaimana proses jatuhnya kendaraan besar itu. Ketika saya sampai di lokasi, truk tersebut sudah dalam keadaan terguling, namun buah-buah kelapa itu berhampuran. Itu terjadi di Desa Malasan. Kalau dari Surabaya, Desa Malasan adalah setelah Pabrik Kertas Leces.


Dokumentasi Pribadi, 27 Juli 2014

Peristiwa kedua adalah tergencetnya motor matic di ban depan sisi kanan sebuah bus. Ini terjadi di dalam sebuah POM bensin. Hanya berjarak sekitar dua km saja dari peristiwa pertama. Bus dan motor matic, keduanya sama-sama melaju pelan, namun malang tak dapat ditolak. Ia adalah pelajaran berharga untuk saya yang sedang akan antri mengisi bensin.


Di sebuah POM Bensin di Probolinggo - Dokumentasi Pribadi

Keduanya terjadi di Kabupaten Probolinggo. Dalam Bahasa Sanskerta, Probo artinya sinar. Sedangkan Linggo atau Lingga, ia adalah pertanda. Saya mencoba menafsir-nafsirkannya sendiri. Bagi saya, peristiwa itu juga saya anggap sebagai penanda untuk mengurangi bernyanyi-nyanyi, mengimbanginya dengan 'mantra' yang kita yakini. Dalam hal ini, saya memilih shalawat dan berdoa sebisanya.

Sebab keyakinan adalah sumber kekuatan.

Selama perjalanan Jember - Tuban, saya dan Hana menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat. Malam harinya, kami berpapasan dengan rombongan takbir, apalagi ketika sudah masuk di Kabupaten Gresik. Kami seperti sedang mengenang perjalanan tahun lalu, mudik di malam takbir. Ada kembang api di kiri kanan, dan ada suasana rindu yang syahdu.

Seminggu di Kabupaten Tuban, saya semakin terbiasa memanggilnya Hana. Semula saya memanggil istri saya dengan satu suku kata saja, Prit. Ketidaklaziman ini entah kenapa membuat hati saya teduh.

Saya dan Hana, kami bersilaturrahmi di rumah sanak saudara. Di waktu luang, kami jalan-jalan. Ya, kami berburu cerita. Sekali waktu, kami seperti sedang mewawancarai saudara sendiri. Sekitar lima jam yang lalu Hana bahkan mewawancarai Bapak dan Ibu. Ia banyak bertanya tentang nama-nama family, kemudian mencatatnya dalam notes kecil.

Kami memiliki kisah yang banyak.

Kabar dari Jember. Beberapa sahabat sedang diuji sabarnya karena harus merelakan keluarganya terkasih ngadep Sang Pencipta. Nely Kresna Yudha, ia kehilangan Ayahanda tercinta --Albani Dwidjosardjono-- sehari menjelang Idul Fitri. Di penghujung bulan Juli 2014, Mita kehilangan kakak kandung tercinta, Taufiq. Semoga husnul khotimah, semoga sabar, dan semoga menjadi hikmah buat semua.

Pada saatnya nanti, tentu saya akan berbagi kepingan-kepingan kisah yang tercatat dalam notes.

Hari ini, 2 Agustus 2014, saya dan Hana akan kembali ke Jember. Kami akan sangat berbahagia sekali jika sahabat blogger turut mendoakan perjalanan kami. Terima kasih, mohon maaf lahir dan bathin.

Salam kami, Hakim dan Hana.

8 komentar:

  1. Hehe, beda panggilan akan memberi beda 'rasa' juga ya, Mas :D

    BalasHapus
  2. Innalillahi, di jalan itu memang ngeri sekali. Kami sekeluarga yang mobilitas antar daerahnya lumayan, selalu dirayapi perasaan was2, tak bisa lain kecuali pasrah padaNya. Saya juga bingung di pengantar link ada nama Hana, ternyata Prit heheheee.... Salam untuk istri tercinta :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Salam sudah saya sampaikan, Waalaikumsalam :)

      Hapus
  3. turut berduka gan atas kejadian itu
    memang Laka lantas sering terjadi akhir-akhir ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mari berhati-hati dan tak lupa berdoa.

      Hapus
  4. Semoga senantiasa dalam lindungan Allah di perjalanan berangkat maupun kembali.

    Tuban mana nih Kak :) saya juga orang Tuban. :)
    Tapi sudah jarang juga sih pulang kampung ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin.

      Alhamdulillah, kami tiba dengan selamat di Jember pada 3 Agustus 2014 pukul 01.00 dini hari. Terima kasih atas doanya.

      Rumah orang tua kami di Desa Logawe Kecamatan Rengel, Tuban. Yuk kapan-kapan kopdar di sana :)

      Hapus

acacicu © 2014