18.9.14

Feri

18.9.14
Aku selalu senang mendengarkan kau mendendangkan lagu. Saat memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu, kau seperti tak sedang ada di bangku taman. Seperti sedang terbang. Orang yang mengenalmu 'dengan baik' pasti akan mengamini dan percaya bahwa aku tidak sedang lebay.

Di hari yang lain kau duet dengan Kartolo, kalian memainkan irama Samba Pa Ti milik Santana. Merdu. Apalagi jika ada Anton diantara kita. Kau yang memetik gitar, Anton yang bernyanyi, Kartolo yang meniup harmonika. Akan semakin semarak jika ada Mungki Krisdianto. Sempurna. Aku pendengar setianya.

Suatu malam di pelataran SWAPENKA, kau pernah menyanyikan lagu-lagu Rock Indonesia Hits From 1990an. Wew! Tentu aku suka. Setidaknya aku bisa turut bernyanyi. Kau bilang, "Pemilu! Penyanyi minum dulu." Hari lahir yang indah, 23 Maret sembilan tahun yang lalu. Aku mengenang kebersamaannya.

Kita punya banyak kisah ya Fer. Orang yang mengenalmu, masing-masing memiliki kenangan yang tak sama.

Kau sahabat yang baik. Dua hari yang lalu --16 September 2014-- kudengar kabar duka dari Pulau Dewata, tempat dimana kau memetik gitar. Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun.


Pulanglah dengan damai Fer, Tuhan memelukmu

Semoga menemukan kedamaian dengan-Nya. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun maka ampunilah saudara kami ini karena kami melihatnya sebagai orang yang baik. Amin.

Yang indah itu pertemuan, yang manis itu kemesraan, yang pahit itu perpisahan ... Dan yang tinggal adalah kenangan.

1.9.14

Kronik di Bulan Agustus 2014

1.9.14
Di pemula bulan Agustus, saya dan Hana masih ada di rumah orang tua di Tuban. Kami berangkat --dari Jember-- sejak malam takbir, 27 Juli 2014. Waktu yang pendek selama di Tuban kami manfaatkan untuk berburu kisah-kisah, mencari tahu wajah perkeretaapian tempo dulu, dan tentu saja silaturrahmi.


Kembali ke Jember, 2 Agustus 2014

Foto di atas pernah saya tampilkan sebagai update status di akun Facebook yang kini sudah tidak saya gunakan lagi. Dalam status tersebut, saya menuliskan wajah Tuban seperti berikut ini;

Tuban adalah Kambang Putih. Jika dipandang dari laut, ia bagai secuil buih yang putih berpadu dengan tanah merah. Tuban adalah seuntai doa orang tua, adalah kisah-kisah yang terlelap, adalah kerinduan. Kemudian kita kembali bertebaran di muka bumi, bersahabat dengan papan petunjuk dan patok kilometer.

Belum sehari di Jember --3 Agustus 2014, kita sudah bergeser di pelukan Bondowoso, lalu menikmati malam di Kalisat.

Kita kembali pulang, kembali belajar menulis dan membaca kehidupan. Kita menelaah sedih, gembira, kehilangan, bahagia, dan merenungkan keterbatasan.

Setulus hati, maaf lahir bathin.

Ya, kami ke Bondowoso untuk Takziyah. Pada awal Agustus saya mendengar setidaknya dua berita duka. Yang pertama adalah berita tentang meninggal dunianya Ayahanda Nely Kresna Yudha. Disusul kemudian berita duka tentang meninggal dunianya kakak kandung Mitha, almarhum Ahmad Taufiqurrohman, pada 1 Agustus 2014.

Malam hari, 4 Agustus 2014.

Saya mengantar istri berbelanja di Pasar Tanjung, sebuah pasar tradisional di pusat kota Jember. Ketika berasa di tepian pasar, saya teringat sebuah edaran maya dari @infojember. Dikabarkan bahwa PKL di sekitaran Pasar Tanjung, baik yang berada di Jl. Samanhudi, JL. Untung Suropati, dan JL. Dr. Wahidi, mereka akan ditertibkan (dipindah) tanggal 7 September 2014. Waktunya sudah hampir tiba.

Pada 5 Agustus 2014, saya mulai mengunggah foto-foto tentang jejak keberadaan Kereta Api di Kabupaten Tuban. Esoknya, saya punya kawan baru di jejaring sosial Facebook. Ia bernama Imron, dengan nama alay di Facebook yaitu ZanDal JepiDz. Kiranya ia menyukai bidang sejarah.

Berita duka kembali kami dengar pada 9 Agustus 2014. Sahabat istri saya, namanya Arfian David atau biasa dipanggil Mulo, ia meninggal dunia karena sakit. Saya mendengar kabar tersebut dari Tita. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Pada 10 Agustus 2014, saya mendapati dua kabar bahagia. Pertama, adik saya di SWAPENKA, namanya Rudi Hartono, ia bertunangan dengan gadis pilihannya. Saya biasa memanggilnya Bu Cip. Tentu saya terkejut, sebab malam harinya saya masih melihat Rudi melintas di JL. Jawa Jember. Saat itu saya mengantar istri beli nasi goreng di seberang Oranje Cafe. Berita kedua, kabar pertunangan Pije dan Ovi, di Gresik. Saya menuliskan dua berita gembira tersebut di sebuah artikel berjudul; Duka dan Bahagia.

Senin, 11 Agustus 2014

Seharusnya saya dan Hana naik kereta api menuju Surabaya. Di sana kami akan berjumpa dengan Mbak Imelda Coutrier, sahabat blogger yang tinggal menetap di Jepang. Kami sudah lama merencanakan gagasan perjumpaan ini. Sayang, Tuhan punya maksud lain. Saat itu istri saya sakit. Semoga di lain waktu kami diberi rejeki untuk kopdar.

Esok harinya.

Saya membuat kesalahan kecil yang fatal. Merubah format username di Facebook. Lalu rusak, tidak bisa dikembalikan seperti semula. Saya menuliskannya di sini.

Dua hari kemudian, tepat di Hari Pramuka, saya membuat akun Facebook baru dengan username rzhakim.net.

Beberapa hari kemudian saya juga memperkuatnya dengan membeli domain dot net untuk blog rzhakim.

Di hari yang sama --14 Agustus 2014, Mas Andreas Harsono sedang berada di Jember. Kami janji ketemuan. Lalu kami mengajaknya ke Macapat Cafe, tempat nongkrongnya kawan-kawan Persma Jember.

Pertemuan antara saya dengan Mas Andreas Harsono dilanjut pada 16 Agustus 2014, di kediamannya di JL. Bondoyudo Jember. Kami berbincang lumayan lama, sekitar dua jam lebih.

Ohya, hampir lupa. Sehari sebelum hari Pramuka, saya berjumpa dengan Wisnu dan Agus Praptomo. Mereka adalah dua sahabat yang lumayan lama kami tak berjumpa. Waktu itu saya mengantar istri ke KPRI Jember untuk membeli handuk bayi. Ya, kami hendak menengok buah hati Cak Nanang NBK. Dari perjumpaan ini, saya mendengar kabar dari Wisnu tentang Griya Barokah Antirogo. Saya tertarik untuk membeli satu kapling tanah ukuran 72 meter persegi. Meski pada akhirnya tidak tereksekusi, namun saya memiliki cerita menarik tentang ini. Saya berharap, saya memiliki waktu untuk menuliskannya.

17 Agustus 2014

Indonesia sedang memperingati HUT RI yang ke-69. Saya doakan kawan-kawan Kari Kecingkul yang melakukan upacara bendera di Gunung Raung, mereka baik-baik saja dan membawa pulang segenggam semangat hidup.

Malam harinya, CLBK on air kembali siar di Prosatu RRI Jember, setelah kira-kira dua bulan vakum. Kami bicara tak jauh-jauh dari ranah kemerdekaan. Kabar baiknya, kami bisa menghubungi kawan-kawan Kari Kecingkul --yang sudah perjalanan turun dari Gunung Raung -- via telepon.

18 Agustus 2014

Sesuai dengan janjinya, Mas Dedi Prasetyo dan kawan baiknya --Adi Riyanto Affandie-- datang dari Jakarta menuju Jember. Mereka hendak menghadiri acara NALASUD yang digelar oleh UKM Pramuka UJ. Pukul 12.30 kereta api yang membawa Mas Dedi dan Mas Rian masih sampai di Rambipuji. Tak lama kemudian, saya menjemputnya di Stasiun Jember, naik motor.

Di hari yang sama, saya dengar kabar duka dari Mas Rony Rahardy tentang Nenek Yo. Beliau meninggal dunia di usianya yang ke 102 tahun. Innalillahi wainnailahi raji'un.


Foto oleh Marjolein Van Pagee, 15 Juni 2014

Hari itu juga, saya memberi kabar pada Marjo di Belanda. Dari Nenek Yo, kami mendapatkan beberapa kisah tentang Rambipuji di era Agresi Militer. Terima kasih Nek, doa kami bersamamu.

19 Agustus 2014

Dapat kabar duka dari Mas Ady Setyawan, bahwa sang pejuang Surabaya, Bapak Hario Kecik, beliau meninggal dunia. Innalillahi wainnailahi raji'un. Ah, kami merasa kehilangan.

Pada 20 Agustus, saya menerima sms dari Cak Oyong. Dia bilang, kalau mau nonton JFC Kids --21 Agustus 2014-- ada empat freepass. Tawaran darinya saya tawarkan lagi ke kawan-kawan, tapi tidak ada yang mau mengambil kesempatan itu.

Mas Dedi dan Mas Rian, mereka empat hari di rumah kami. Waktu yang pendek, namun kami melakukan dan membicarakan banyak hal. Semoga saya ada waktu untuk menuliskannya. Pada 21 Agustus 2014, Mas Dedi dan Mas Rian kembali meluncur pulang ke Jakarta.

Mereka pulang pada saat Jember baru saja memulai acara JFC, hingga acara puncak tanggal 24 Agustus 2014. Salut dengan Mas Dedi, meski tidak bisa memotret patung kakeknya --Letkol Moch. Sroedji-- sebab tertutup oleh backdrop JFC, namun ia baik-baik saja.

23 Agustus 2014

Novan Purwanto dan Oting Nafrity menikah. Saya membuat catatan sederhana untuk mereka, di sini.

26 Agustus 2014

Dini hari. Sahabat muda bernama Arys Aditya datang berkunjung ke rumah. Kami mendiskusikan banyak hal, istimewanya adalah tentang jurnalistik lingkungan.

Waktu saya ke Jakarta pada Januari 2014 yang lalu, Arys menjemput saya di Stasiun Senen. Saya dan Dieky bermalam di kamar khost-nya. Ia banyak membantu kami. Di Jakarta, Arys bekerja di media Bisnis Indonesia.

Beberapa saat sebelum adzan subuh, Arys pamit.

Masih di hari yang sama, 26 Agustus 2014.

Kawan baik saya di dunia blogger, ia mengirimkan pesan pendek.

"Mas saya baru turun dari Gunung Raung. Pengen mampir nanti malam ke Jember kalau Mas ada waktu."

Untuk Bang Goedel Mood yang sudah saya kenal sejak pertama kali ngeblog, tentu saya memiliki waktu. Saya katakan apa adanya tentang keadaan rumah kami. Lagipula, rencana perjumpaan ini sudah kami gagas sejak beberapa waktu sebelumnya.

Bang Mood tidak sendirian. Ia bersama sahabatnya yang gimbal, namanya Bang Iyang. Mereka dua orang yang keren.

Saat Bang Mood dan Bang Iyang ada di rumah kami, bensin lagi langka-langkanya. Sebenarnya hal ini sudah tercium sejak 19 Agustus 2014, saat kami mengantarkan Mas Dedi dan Mas Rian ke Jember wilayah Selatan. Sepanjang perjalanan, para penjual bensin eceran banyak yang tutup. Botol-botol bensin hanya berjajar dan kosong. Ada pula yang diberi tulisan 'bensin habis.' Namun waktu itu saya masih bisa menjumpai segelintir penjual bensin eceran. Untuk antri di POM bensin pun masih terbilang manusiawi.

Syukurlah, ada saja jalan membeli bensin. Jadi, saya tidak kelimpungan dan masih bisa mengajak Bang Mood dan Bang Iyang jalan-jalan meski dengan destinasi yang pendek. Dari rumah ke alun-alun Jember misalnya. Kami menikmati malam bersama kawan-kawan InfiniTeam Bike Jember.

Pada 27 Agustus 2014, saya membuat status di Facebook.

Dua malam yang lalu, saat saya dan istri ke Kalisat, motor yang kami kendarai kehabisan bahan bakar. Lalu ada orang baik yang membawakan sebotol bensin untuk kami. Ia tidak mau kami beri uang.

Semalam, ketika hendak menjemput Bang Mood dan rekannya di Terminal Tawang Alun, tak sengaja kami mendapati pedagang bensin eceran di daerah Baratan. Kepada semua pembeli yang mengantri, si penjual berkata, "Maksimal dua botol saja ya, kasihan yang lain."

Tadi pagi saat beli sesuatu untuk Aldin, di seberang RSUD Soebandi ada penjual bensin eceran yang baru saja membuka lapak. Saya pembeli pertama. Si penjual heran ketika saya hanya beli satu botol saja. Saya bilang, "Cukup kok Pak."

Di luar sana, masih banyak orang-orang yang menebarkan kebaikan. Alhamdulillah.
Kami senang bisa kopdar. Apalagi di malam pertama kedatangan Bang Mood, Kang Lozz Akbar juga meluncur ke rumah kami. Ia tidak sendirian melainkan berdua dengan Supot.

Kata Supot, bensin di Wuluhan masih terbilang aman. Di tempat Kang Lozz, Balung, bensin sudah langka. Esok harinya terdengar kabar jika bensin di sekitar rumah Supot sudah menjadi begitu langka.

Bang Mood dan Bang Iyang kembali pulang ke Jakarta pada 28 Agustus 2014. Di hari yang sama, Mojok Dot Co hadir dipelukan khalayak maya. Hana senang sebab ia menjadi salah satu penulis di media baru tersebut.

Pada 29 Agustus 2014, saya dan istri menghabiskan waktu dengan bersantai ria di sekretariat pencinta alam SWAPENKA. Kami berkebun, mengamati capung, ngopi, hingga senja berganti malam. Indah sekali. Malam harinya, badan rasanya linu-linu. Saudara saya bernama Ees, ia memijat saya hingga nyaris tertidur.

30 Agustus 2014, ada karnaval umum di Kalisat. Malam harinya ada Cak Dai di rumah saya. Kami berdiskusi hingga dini hari, 31 Agustus 2014. Diskusi yang berat, sebab kami berbeda sudut pandang.

Agustus yang padat dan penuh cerita. Tentu yang saya tuliskan di sini hanya buih-buihnya saja. Semoga ada waktu dan energi untuk menyempurnakan kisah-kisah itu.

Kini bulan telah berganti. Selamat datang September!
acacicu © 2014