31.12.14

Malam Tahun Baru Yang Semenjana

31.12.14
Ini malam tahun baru yang berbeda. Seluruh jajaran pejabat dan pegawai negeri sipil di Kemendagri pusat dan daerah baik provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Indonesia dihimbau untuk tidak merayakan datangnya tahun baru dengan berpesta pora seperti tahun-tahun sebelumnya. Di Surabaya juga ada himbauan serupa. Mereka dihimbau untuk tidak merayakan pergantian tahun secara berlebihan menyusul terjadinya musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 yang sebagian besar adalah warga Surabaya.

Bagaimana dengan Kabupaten Jember? Di sini telah terjadi bencana ekologis tanah longsor, dimulai pada 29 Desember 2014 di areal Perkebunan Sentool, Panti. Di beberapa wilayah di Jember Selatan juga terjadi bencana langganan, banjir. Menjadi sangat tidak elok ketika kita bergembira secara kolektif di suasana duka.

Saya dan istri tidak merencanakan apapun, tidak kemana-mana, hanya menikmati rintik gerimis di penghujung tahun yang paling ujung. Sore harinya ada teman berkunjung ke rumah, namanya Didin. Rumahnya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami, namun beberapa bulan terakhir kami memang jarang berjumpa. Bersama Didin, kami menghabiskan sore yang indah di warung koplak di seberang Gedung Soetardjo Jember.


Dokumentasi Pribadi, 31 Desember 2014

Sebelum berangkat ke warung koplak, istri saya meminjam smartphone milik Didin lalu berfoto ria. Katanya, "Foto ini harus sering dilihat-lihat selama aku berangkat ke Jakarta, dua hari lagi." Saya tersenyum mendengarnya. Iya benar, dia akan berangkat ke Jakarta, tinggal di kediaman Dika (sahabat istri saya semenjak kuliah) selama dua minggu, untuk mengikuti Kelas Menulis Narasi.

Sesampainya di warung koplak, di sana telah ada Revo Marando, Ghanesya Hari Murti si pengantin baru, Ebhi Yunus beserta istri dan si kecil, juga Dosen muda Ikwan Setiawan. Di luar sana, rintik gerimis masih menyelimuti kampus Bumi Tegalboto.

Ada banyak hal yang kami jadikan topik pembicaraan, tentu dengan disertai guyonan dan nostalgia yang belum begitu usang. Revo bertanya, apa kesibukan saya akhir-akhir ini? Saya bilang, saat ini sedang menyibukkan diri mempelajari bidang sejarah.

"Aku iki buk-mesibuk Vo."

Revo tertawa mendengar jawaban spontan dari saya. Namun kepadanya saya ceritakan juga tentang rencana acara gelar wicara atau talk show yang akan digelar di Gedung Soetardjo, lokasinya tepat di seberang tempat kami ngopi.

"Itu ide dari temannya Wisnu. Teman Wisnu anak Jember juga, tapi lama berproses di luar kota. Ia ingin membuat acara lumayan besar di sini, untuk masyarakat Jember. Acara tersebut bakal mengangkat tema seputar pandangan ekonomi, menghadapi persaingan global 2015. Direncanakan akan dihadirkan orang-orang hebat yang sudah dikenal oleh masyarakat di tingkat Nasional. Di perjumpaan pertama, dua hari yang lalu, temannya Wisnu juga bicara tentang pengembangan budaya literasi. Sepertinya ia bakal membuat perpustakaan. Tak hanya di Jember, tapi di kota-kota yang lain di Indonesia."

Kata Revo, orang yang saya ceritakan terbilang keren. Saya juga berpendapat demikian, meskipun kami baru saja berkenalan. Setiap kali berteman dengan orang-orang unik seperti itu, saya selalu saja mendoakan semoga mereka senantiasa kuat dalam memelihara niat.

Malam hari kami habiskan di rumah saja, masih bersama Didin. Kami bertiga pesta sate ayam. Setelah makan bersama, kami bercerita tentang apa saja. Topik paling lama yang menjadi tema perbincangan kami adalah kemungkinan penataan ulang dekorasi ruang di panaongan. Mendekati detik-detik pergantian tahun, Didin undur diri. Dia berencana untuk menghabiskan malam tahun baru di alun-alun, bersama kawan-kawan Infinie Team BMX Jember.

Lalu hening. Saya dan istri menikmati malam tahun baru dengan semenjana.

30.12.14

Sehari Menjelang Malam Tahun Baru

30.12.14
Aldin keponakan kami, ia terlihat senang ketika hari ini ada pembukaan minimarket yang letaknya tak jauh dari rumah. Lampu-lampu, balon warna-warni, dan keramaian baru, tentu menyenangkan bagi bocah dua setengah tahun seperti Aldin.

Salah satu anak perusahaan Salim Group ini tampil mentereng di pertigaan Perumnas Patrang. Pembangunannya dimulai sejak 1 Desember 2014, selesai 28 hari kemudian, dan dibuka pada hari ini, 30 Desember 2014. Seperti sulap namun nyata adanya.

Saat kembali pulang, Aldin heboh sendiri. Dia bahagia sekaligus kebingungan memegang lima balon yang semuanya berwarna kuning. Ketika salah satu balonnya meletus, Aldin terkejut. Tak lama kemudian dia menangis.

Masih cerita di hari ini. Teman-teman Pencinta Alam SWAPENKA berangkat ke lokasi DIKLATSAR, di areal Taman Nasional Meru Betiri. Acara berakhir hingga 3 Januari 2015. Jadi, mereka akan melewatkan malam tahun baru di tengah hutan tanpa terompet dan tanpa kebisingan apapun.


Dokumentasi oleh Rudi Hartono, 30 Desember 2014

DIKLATSAR SWAPENKA seperti sedang memberikan sebentuk penghormatan pada peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak sejak hari Minggu, 28 Desember 2014. Di bulan penghujung tahun ini memang banyak sekali kabar duka, diantaranya tentang horor pembantaian massal bocah Pakistan, dikenal dengan peristiwa Peshawar, pada pertengahan bulan Desember. Sebelumnya juga ada peristiwa duka di tanah air, yaitu tragedi pembantaian di kota Enarotali, Paniai, Papua.

Menuju Macapat Cafe.

Pada pukul 19.00 saya dan istri meluncur ke Macapat Cafe. Kami ada janji dengan Wisnu dan dua rekannya, Farid Solana dan Gamar Tan. Selain mereka, saya juga menghubungi beberapa rekan lain yang direncanakan hendak membantu ide rekan Wisnu. Mereka akan membuat acara gelar wicara dengan tema pandangan ekonomi, pada 24 Januari 2015. Janjiannya memang pukul setengah delapan, setelah Isya. Namun kami meluncur terlebih dahulu.

Untuk ukuran hari Selasa malam Rabu, suasana Macapat Cafe ramai sekali oleh pengunjung. Saya menebarkan pandangan ke sekeliling, rupanya Wisnu dan kedua rekannya masih belum hadir. Wisnu baru datang sekitar satu jam kemudian. Dia bilang, "Mau jare Farid wes mrene, jam setengah wolu, tapi sampeyan durung teko." Barangkali dia tidak melihat posisi saya duduk, sebab pengunjung Macapat Cafe memang sedang ramai sekali.

Malam semakin larut, teman-teman semakin ramai berdatangan. Rizki Nurrahmad datang bersama istrinya, Mitha, juga anak semata wayang mereka, Ninggar. Senang bercengkerama dengan mereka, Mitha selalu memiliki banyak stok cerita jenaka. Ketika listrik di Macapat Cafe sempat padam, Mitha membuat lelucon kecil. Dia menjerit sambil berkata, "Sopo nyekel akuuu." Sayangnya, pemadaman hanya sesaat saja. Orang-orang tertawa oleh atraksi Mitha.

Mungki Krisdianto juga datang. Dia mengenakan jaket kulit warna hitam, kembaran dengan Wisnu yang juga merapat di Macapat dan mengenakan jaket berwarna hitam. Ada Achmad Bahtiar, namun ia merapat di bangku dekat kasir, bercengkerama dengan Ajeng, sahabat dari Jember yang sudah agak lama berproses di Jogja. Kami jarang berjumpa.

Semakin malam semakin ramai. Ada teman lama yang juga merapat di Macapat, ia adalah Sentot Wiyono Kartolo. Dia tidak datang sendirian, melainkan berdua dengan Chandra. Bersama Kartolo dan gitar bolong milik Macapat, kami menyanyikan lagu-lagu milik Iwan Fals. Kartolo lantang sekali menyanyikan lagu, seperti tak ada pengunjung lain di sana. Kiranya tak ada yang keberatan, sebab selain Kartolo memiliki suara yang nyaman didengar, ia juga punya jiwa menghibur sejati.


Kartolo yang berbaju merah

Manakala ada waktu jeda, kami saling berbagi cerita. Sebagian besar adalah kisah usang, sebagian lagi adalah tentang seorang teman bernama Feri Adi Nugroho. Ia sahabat yang hebat. Tuhan memanggilnya pulang pada 16 September 2014 lalu.

Saat gitar bolong berpindah ke tangan Mungki Krisdianto, kami menyanyikan lagu-lagu slow rock 1990an. Meskipun tak ada api unggun, tetap saja ini adalah malam yang keren untuk kami.

Hingga kami akan beranjak pulang, tak ada perbincangan tentang rencana acara gelar wicara dengan tema pandangan ekonomi. Seharusnya malam ini kami membahas tentang bagaimana sebaiknya kami berbagi tugas teknis, membantu ide dari teman Wisnu yang baru saya kenal sehari sebelumnya, Farid Solana dan Gamar Tan.

Lalu kami pulang. Barangkali, saat melangkah pulang, masing-masing dari kami sama-sama sedang memikirkan bagaimana sebaiknya menghindari kebisingan malam tahun baru esok hari.

29.12.14

Berkenalan Dengan Teman Baru

29.12.14
Seorang teman, namanya Wisnu, ia ingin sekali memperkenalkan saya dengan teman sekolahnya di masa SMP. Namanya Farid Solana. Menurut Wisnu, temannya ingin membuat sebuah acara, semacam gelar wicara. Acara ini sedikit banyak ada hubungannya dengan komunitas-komunitas di Jember. Tujuannya baik, agar masyarakat Jember pada khususnya mampu berdaya saing dalam menghadapi gelombang ekonomi 2015 dan seterusnya.

"Kamis, 24 Desember 2014, Farid ke kantorku sekitar jam satu siang, lalu lanjut ke Macapat Cafe. Kita bicara sekilas tentang SOGA. Sesok'e jam siji aku mampir ke rumah sampean, sekilas bicara tentang SOGA dan kemungkinan sampeyan iso bantu opo ora."

Saya bilang pada Wisnu, "Temanmu memiliki niat yang baik." Tentu dengan senang hati akan saya bantu, sekiranya saya bisa.

Tak lama kemudian, cerita-cerita dari Wisnu melahirkan sebuah ide untuk cangkruk bersama di sebuah warung kopi. Kami memilih Macapat Cafe di Jalan Kalimantan, areal kampus Bumi Tegal Boto Jember. Selain karena saya sudah mengenal orang-orangnya, lokasi Macapat Cafe berdekatan dengan kantor tempat dimana Wisnu bekerja, KPRI Jember. Maka tadi sore, saya dan istri meluncur ke sana.

Wisnu menepati janjinya. Ia mengenalkan saya pada seorang lelaki berkacamata bernama Farid Solana. Mas Farid datang bersama istri, Gamar Tan.

Kesan pertama berjumpa dengan Mas Farid, ia terlihat cerdas, tidak suka asap rokok, dan senang menyebutkan nama-nama tokoh ekonomi yang sebagian besar tak saya ketahui. Mas Farid menghabiskan masa kecilnya hingga lulus SMA di Jember, lalu melanjutkan studi di Surabaya. Ternyata rumahnya yang di Jember tak begitu jauh dari rumah orang tua saya, kami satu kelurahan. Istrinya ramah, katanya dia berasal dari Lombok.

"Jadi begini Mas. Kami ingin membuat Gelar wicara atau talk show di Jember. Temanya seputar pandangan ekonomi. Acara ini rencananya akan digelar pada 24 Januari 2015, bertempat di Gedung Soetardjo Universitas Jember."

Lalu kami membahas dua project. Yang pertama adalah tentang Talk show Pandangan Ekonomi untuk tanggal 24 Januari 2015, berikutnya adalah membahas rencana pembuatan Perpustakaan di Jember.

"Kami masih mencari tempat untuk Perpustakaan, kalau bisa di dekat-dekat kampus Mas, biar enak. Kalau bisa lagi, tempatnya agak besar, jadi ada ruang khusus untuk diskusi."

Perihal Perpustakaan yang dicita-citakan, direncanakan akan kami diskusikan di waktu yang lain. Kami lebih fokus pada perbincangan untuk project yang satunya lagi. Poin yang didapat dari perjumpaan di hari ini, kami akan membantu sebisa mungkin. Salah satunya dengan cara mencarikan rekan yang mau untuk menjadi bagian kepanitiaan Talk Show.

Rupanya, sebelum berjumpa dengan kami, mereka telah mempersiapkan banyak hal. Mulai dari kepastian hari hingga tempat. Kata Mbak Gamar, mereka sudah mengurus perihal sewa Gedung Soetardjo, tinggal proses pembayarannya saja yang belum dilakukan.

"Rencanane sesok wes arep tak bayar gedunge Mas. Sangang juta."

Wew, sembilan juta rupiah. Tentu ini bukan acara yang kecil. Apalagi kata Mbak Gamar, ia juga telah nembusi Prosalina Radio untuk urusan woro-woro acara.

"Di sini murah banget ngiklan di radio ya Mas. Prosalina cuma minta dua belas juta lima ratus," kata Mbak Gamar. Saya hanya bisa menelan ludah. Uang segitu jika sama-sama ditujukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, barangkali bisa dijadikan seratus kali diskusi. Atau acara lain yang bukan diskusi namun memiliki cita-cita serupa. Namun saya tidak sampai hati menyampaikannya. Mereka berniat baik.

Dari apa yang saya tangkap di perjumpaan pertama, Mas Farid dan Mbak Gamar membutuhkan teman-teman Jember untuk membantu di bidang teknis acara, terutama di hari pelaksanaan acara nanti. Untuk urusan di luar teknis, mereka yang akan mengurusi.

Kata Wisnu, mereka berdua membuat sebuah wadah sendiri bernama SOGA, singkatan dari Solana dan Gamar. Mereka memiliki website. Barusan saya membukanya. Sayang, seluruh konten di website tersebut menggunakan Bahasa Inggris. Betapa lelahnya mata ini jika harus copy paste artikel ke google translate, haha.

Dalam kesempatan cangkruk tersebut, saya juga memperkenalkan mereka pada teman-teman Macapat Cafe. Ketika itu ada Dian Teguh Cetar, Adi Nugroho, Yudha, dan satu lagi saya lupa. Mungkin Budi atau Mohamad Ulil Albab. Kepada mereka saya sampaikan juga ide Mas Farid beserta istri. Sepertinya mereka bisa membantu bidang teknis.

Saat sedang santai berbincang, kami tidak tahu jika di Perkebunan Sentool sedang terjadi bencana ekologi longsor. Mendekati penghujung bulan Desember, Jember memang sedang diguyur hujan.

Nun jauh di tanah Papua sana, Presiden Joko Widodo sedang melaksanakan hari terakhir kunjungan kerjanya, dimulai sejak 27 Desember 2014. Semoga saja ini menjadi kabar baik bagi masyarakat Papua, setelah 22 hari sebelumnya terjadi tragedi pembantaian di kota Enarotali, Paniai.

Sore semakin berwarna jingga pekat, saya dan istri kembali pulang. Selama perjalanan saya masih tak habis pikir dengan gelar wicara yang direncanakan. Mereka hendak menghadirkan pembicara-pembicara penting dengan --tentu saja-- dana yang tidak sedikit. Lha wong mengeluarkan uang sejumlah Rp. 12.500.000 saja dibilang murah. Edan! Mereka orang-orang dengan niat yang baik, juga teman dari teman saya yang baik. Wisnu. Melihat niat mereka, tentu saya akan membantu sebisanya. Dengan syarat, kami sama-sama bisa memelihara niat.

Senang bisa berkenalan dengan teman baru, Farid Solana dan Gamar Tan. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik, Amin.
acacicu © 2014