20.10.15

Tumbuh Bersama Jiwa-jiwa Yang Kuat

20.10.15
Mbak Dey masih ingat tulisan saya yang berjudul Malam Pertama di Rumah Kontrakan? Itu sudah lama sekali, suatu hari saat kalender menunjukkan posisi 20 April 2015 menuju hari berikutnya. Esok paginya istri saya bilang, "Kok bisa ya Mas, pagi pertama kita di JL. Kartini --Kalisat, bertepatan dengan Hari Kartini."

Ada yang belum saya ceritakan ke Mbak Dey sekeluarga. Malam itu --21 April 2015-- saya langsung merapat ikut pengajian rutin di kampung, setiap hari Selasa malam, seusai maghrib, bertempat di rumah Mas Bajil. Acaranya sama seperti pengajian pada umumnya, ada baca Yasin, doa, lalu makan bersama. Seusai pengajian, ada saja yang bertahan untuk tidak segera pulang. Jeda waktu ini biasanya dimanfaatkan untuk membicarakan kondisi terkini, baik itu tentang kampung sendiri maupun tentang berita-berita yang lagi tren di media Nasional.

Warga di Kampung Lima --julukan untuk nama kampung kami, mereka cepat sekali saat menyantap suguhan tuan rumah. Semisal Horace Fletcher (1849-1919), pencetus gagasan mengunyah makanan setidaknya 32 kali itu tinggal di Kalisat, mungkin dia akan sedih. Saya bukan penganut gagasan Fletcher, tapi saya juga tidak bisa mengimbangi irama makan para tetangga. Mereka cepat sekali saat mengunyah makanan. Saya selalu menjadi yang terakhir menaruh piring, di pengajian Selasa malam.

Setiap pengajian Selasa malam, masing-masing dari kami harus membayar uang kolektif sejumlah 3000 rupiah. Sebagian digunakan untuk membantu orang yang Minggu berikutnya 'ketempatan' pengajian, sebagian lagi dikeluarkan jika ada kebutuhan bersama. Misal, butuh beli tikar untuk fasilitas pengajian. Saya tidak pernah bertanya berapa tepatnya anggota pengajian. Namun jika menggunakan prakiraan, antara 25 hingga 35 orang.

Di pengajian itu juga ada iuran kifayah, dana ketika ada kematian. Dihitung per jiwa. Tiap-tiap jiwa dipungut biaya 1000 rupiah saja setiap bulan. Jadi jika dalam satu rumah ada sepuluh jiwa, kepala rumah tangga wajib membayar kifayah setiap bulannya 10.000 rupiah. Saya membayar 2000 rupiah tiap bulan, sebab kami belum dikaruniai jiwa yang lain.

Mbak Dey boleh percaya boleh tidak, saya tidak pernah membolos pengajian kecuali satu kali, pada 6 Oktober 2015. Saat itu, seharusnya saya ada di rumah Pak Adi Wiyono selaku ketua RT. Namun kami masih ada di Lombok sejak 1 Oktober hingga 8 Oktober 2015.

Ohya, tentang Lombok.

Saya dan istri berangkat ke Lombok untuk mengikuti rangkaian acara Jelajah Negeri Tembakau, bersama 20 peserta lainnya. Mereka ada yang dari Jakarta, Surabaya, Jogja, serta satu peserta dari Denpasar. Sesuai dengan judul acara, kami di sana banyak belajar tentang tembakau, teristimewa tembakau Voor-Oogst Virginia jenis Flue Cured. Itu bahan baku untuk rokok rendah nikotin alias Mild Mbak. Saya menulisnya di blog rzhakim.net, senang Mbak Dey sudah mampir di blog itu.

Ada banyak cerita tentang Lombok untuk Mbak Dey sekeluarga, tentang orang-orangnya, adat istiadat, pantai, dan banyak lagi. Tapi lain waktu saja ya Mbak, sekarang saya ingin bercerita yang lain.

Belum genap seminggu kami tinggal di Kampung Lima kecamatan Kalisat, orang-orang berencana menghidupkan kembali budaya Siskamling. Orang yang paling bersemangat adalah Mas Joko Purnomo serta Pak RT. Maka dimulailah program Siskamling sejak 26 April 2015. Kegiatan ini mulanya marak sekali, kini sudah tidak ada lagi. Pasalnya, seusai Ramadhan kemarin, semangat kami melemah, lalu pelan tapi pasti program Siskamling di kampung kami hilang dari ingatan.

Bulan Agustus, bulan penuh lomba-lomba di kampung kami. Sebagai warga baru, tentu saya turut ambil peran meski tak menonjol --biasa saja-- bersama para pemuda kampung. Tapi Mbak Dey harus percaya. Pada 25 Agustus 2015, saat Mbak Dey masuk Rumah Sakit Al Islam Bandung, kami mendengarnya. Disusul dua hari kemudian, ketika Mbak Dey menjalani operasi penyempitan pembuluh jantung, kami pun mendengarnya. Iya benar, kami mendengarnya. Saya laki-laki, kedua mata saya berkaca-kaca. Prit menerawang jauh, entah apa yang dia pikirkan.

Kita memang tidak bisa memahami bagaimana cara kerja doa. Ia tak tampak, murah, terjangkau oleh semua kalangan. Kita hanya bisa meyakini dan merasakannya. Itu saja yang bisa kami lakukan. Sesuatu yang murah. Maafkan kami tak bisa ada di dekat Mbak Dey, Kang Fikri, dan teman kecil saya, Fauzan.

Saya masih memikirkan pesan balasan Mbak Dey kemarin, 19 Oktober 2015. Entah mengapa.

"Bantu doa ya. Kalo sudah dapat kamar, hari ini --aku langsung opname. Dan tanggal 22 Oktober nanti masuk ruang operasi. Aku tunggu ceritanya. Semoga nanti di RS ada sinyal."

Tentu. Dengan segala cinta, selalu ada doa untuk Mbak Dey sekeluarga, serta untuk para sahabat yang lain. Sebab, sebenarnyalah kali ini memang hanya itu yang bisa kami berdua persembahkan.



Menikmati senja, lalu pulang menuju rumah kontrakan. Foto oleh Frans Sandi, 23 September 2015

Mbak Dey, hari ini tepat setengah tahun kami menempati rumah kontrakan di Kalisat (20 April 2015-20 Oktober 2015). Benturan-benturan tentu ada, sebab kami tidak sedang hidup di negeri dongeng. Semua baik-baik saja, Mbak. Kami bahagia tinggal di sini, diantara orang-orang baik, serta selalu menanti kehadiran Mbak Dey sekeluarga.

Di ultah kami yang keenam bulan ini, ndilalah saya dapat giliran jadi tuan rumah untuk pengajian rutin setiap Selasa malam, beberapa jam lagi. Saya tahu, tulisan Mbak Dey hari ini bukan untuk kami. Tapi bolehlah jika kami menyimpan kalimat berikut ini.

"Tetaplah tumbuh bersama jiwa-jiwa yang kuat. Meliuk, memutar, menari diiringi matahari."

Untuk yang hari ini sedang ada di Gedung Kemuning Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, selamat senja. Salam dari kami berdua di sudut Kalisat.

15.10.15

Sesampainya di Sidoarjo

15.10.15
Kami memulai perjalanan pada 1 Oktober 2015, dari stasiun Kalisat --kabupaten Jember-- menuju stasiun Sidoarjo, naik kereta Mutiara Timur. Sesampainya di stasun Sidoarjo, kami bergegas menuju jalan besar, di JL. Diponegoro Sidoarjo. Jalan satu arah ini ramai sekali. Segera saya dan Hana merapat di sebuah depot makanan, tepat di tepi jalan. Saya pesan kare ayam dan secangkir kopi, sementara Hana memesan menu yang lain.

"Mas Yopi sudah dihubungi?" tanya Hana. Saya mengangguk pelan.

Yopi Indra Triawan, ia adalah sahabat kami di dunia pencinta alam. Yopi pernah tinggal di panaongan --rumah kami di Patrang-- selama proses pengerjaan tugas akhirnya di Fakultas Teknik Universitas Jember. Kini Yopi berserta istri dan anaknya memilih hidup di Sidoarjo. Keduanya sama-sama bekerja di pabrik yang berbeda, dan memberanikan diri untuk membeli rumah dengan cara nyicil.

Saya habiskan waktu menanti Yopi dengan meludeskan secangkir kopi di depot itu. Kopinya encer, pakai air termos, rasanya manis sekali. Dan saya meminumnya tepat di pemula bulan Oktober, saat teman-teman di twitter sedang meramaikan hestek Hari Kopi. Malam harinya saya menyesal telah meludeskan kopi itu. Iya benar, saya sakit gigi, sakit sekali. Ini kali pertamanya gigi saya kumat, setelah lama sekali ia baik-baik saja.

Di tepi Jalan Diponegoro Sidoarjo, ketika menanti datangnya Yopi, iseng saya mencatat merk-merk becak. Sidoarjo memiliki aneka merk becak yang tak dimiliki Kalisat, diantaranya; Eko, Sugeng, Bares, Tis, Betajaya, Union, serta Onlon. Merk paling dominan yang saya jumpai di Sidoarjo --secara sepintas-- adalah becak dengan merk YBH. Ia adalah merk terbanyak nomor dua di Kalisat, setelah JONSON.

Wajah Sidoarjo sedang terus menerus bersolek, seperti ingin menjadi Jakarta, samalah dengan kota-kota lain di Indonesia. Mereka mengutuk kemiskinan dengan segala teori ekonomi, namun indikator kemiskinan bernama becak tetap dicintai masyarakat pengguna, diantaranya di Sidoarjo, di sebuah arus jalan besar satu arah.

Lalu Yopi datang, kami segera meluncur ke rumahnya.

Tentu banyak sekali yang bisa saya ceritakan selama berada di rumah Yopi. Namun ketika hendak menuliskannya, yang saya ingat hanyalah kenangan pahit ketika sakit gigi. Esok harinya kami akan terbang dari Sidoarjo ke Lombok dan gigi saya linu.

Hari berganti, kalender menunjukkan posisi pada 2 Oktober 2015.

Yopi melaksanakan janjinya untuk mengantarkan kami ke Juanda. Sengaja kami berangkat satu setengah jam sebelum jadwal keberangkatan (lalu kami menyesalinya sebab Lion Air menunda keberangkatannya hingga tiga jam dari waktu yang seharusnya) untuk memudahkan proses registrasi. Di sana, untuk kali pertamanya kami berjumpa dan berkenalan secara langsung dengan Shellya Febriana Anindhita, gadis cantik penulis di Mojok yang juga salah satu peserta Jelajah Negeri Nusantara. Shelly --begitu biasanya ia dipanggil-- membantu kami ketika harus check in. Ia juga teman bicara yang baik ketika penerbangan ditunda dua kali, mulanya transfer lalu disusul informasi delay.


Foto oleh Rinaldy Purwanto, 2 Oktober 2015

Ada yang seru dan layak dikenang! Di dalam bandara, kami janjian ketemuan dengan pasangan Rinaldy Purwanto dan Yuniari Nukti. Mereka sahabat kami di dunia blogger. Katanya, mereka juga baru saja tiba di Juanda setelah menghabiskan beberapa hari bertamasya ke Makassar. Lebih seru lagi, ketika kami berjumpa, ternyata mereka dan Shelly saling kenal. "Podo arek Suroboyone rek!" begitu kata Mbak Yuni.

Ada perjumpaan tentu ada perpisahan. Begitulah, ketika sudah tiba waktunya berpisah, kami janjian untuk saling berkirim kabar. Lalu pesawat yang dinanti mengantarkan saya, Hana dan Shelly menuju Bandara Internasional Lombok. Kepada Niar dan keluarga Kang Yayat, maaf tidak bisa mampir. Semoga ada 'lain waktu' yang indah.

Selama mengikuti Jelajah Negeri Tembakau di Lombok, kisah kami bertumpuk-tumpuk dan belum saya tuliskan hingga detik ini, ketika kami telah ada di Kalisat, Jember. Syukurlah saya membuat catatan ini, jadi ingat jika saya masih punya PR untuk laporan Jelajah Negeri Tembakau.

Untuk semuanya, terima kasih. Saya mau bikin laporan dulu ya. Merdeka!

17.7.15

Sebelum Salat Id

17.7.15
Semalam ada yang merindukan hujan. Ia berencana hendak memeluknya, merayakannya, serta menyanyikan sebuah lagu bersama rintik. Namun yang dirindukan tak datang. Langit Kalisat semarak oleh percik kembang api yang bersaing dengan gema takbir, dimulai sejak adzan maghrib belum lagi berkumandang.

Selepas maghrib, saya dan para tetangga berkumpul di musholla. Masing-masing dari kami membawa 'berkat' lalu duduk bersila, membentuk sebuah kotak memanjang. Ini adalah selamatan warga desa untuk menyambut Idul Fitri 1436 Hijriyah. Sebelum acara dimulai, seorang tetangga bilang, "Uang kalau dibakar bunyinya nyaring." Saya tersenyum mendengarnya. Ia bicara tentang mercon kembang api dengan kemasan bahasa yang unik.

Tak lama setiba saya di rumah, seorang sahabat datang. Revo Marando. Kami menghabiskan malam takbir dengan secangkir kopi, selebihnya biasa saja.

Satu jam kemudian, saya ajak Revo untuk menjenguk keluarga Pak Kus. Ia tetangga saya, rumah bambunya tepat di bibir sungai kecil berair deras. Pak Kus kerjanya tak tentu, namun seringkali menghabiskan waktu dengan mengamen. Beberapa orang melabelinya dengan sebuah kata, stres. Saya tidak tahu apakah itu benar, yang saya tahu istrinya sakit dan sudah berhari-hari ada di atas ranjang.

Lalu kami pulang. Jarak rumah Pak Kus dengan rumah kontrakan hanya sekitar tiga menit berjalan kaki.

Hari sudah hampir tengah malam saat Revo pamit untuk kembali ke khost. Namun sebelum Revo pulang, teman-teman Kalisat berdatangan ke rumah, banyak sekali. Revo berpamitan pada mereka, untuk kemudian meraih scooter-nya dan pulang.

Sementara di teras rumah kontrakan kami ramai oleh teman-teman usia likuran, rumah tetangga sebelah juga ramai. Putra sulung mereka baru datang dari tanah rantau, Pulau Lombok. Mas Candra namanya. Saya sempat bergabung di teras tetangga sebelah namun tak lama. Hana datang ke arah saya, membisikkan sesuatu. Hana bilang, "Mas, sepertinya teman-teman butuh bicara dengan sampeyan." Saya mengangguk pada Hana, pamit pada tetangga, kemudian melangkah ke teras kontrakan.

Rupanya teman-teman Kalisat habis bentrok dengan pemuda desa sebelah. Mereka tidak butuh bicara dengan saya, hanya butuh tempat yang tenang, butuh teman yang mau mendengarkan, dan mungkin saja butuh ditenangkan.

Semakin lama, rumah kontrakan kami tak semakin sepi. Teman-teman berdatangan. Beberapa orang tua yang anaknya disinyalir turut tawur massal, mereka juga datang. Ada yang datang dengan tenang, ada pula yang merasa harus melindungi buah hatinya. Saya selaku tuan rumah hanya bisa memberikan senyum dan pelayanan sebisanya.

Di ruang tamu, Hana tampak sibuk mengompres lebam seorang teman muda. Katanya dadanya terkena lemparan batu. Seorang lagi ada di sebelahnya, dengan kaki berdarah. Sembari meletakkan kompres dengan air hangat, Hana menangani si empunya kaki berdarah itu. Belum lama waktu berselang, ada lagi yang datang, jari-jari tangannya luka, kiri dan kanan. Hana bingung, lalu meminta maaf sebab kami tidak memiliki persediaan obat-obatan. Mereka tentu saja maklum. Sorot mata mereka seolah-olah hendak berkata, "Tak perlu minta maaf, Mbak."

Tak hanya teman-teman muda dan beberapa orang tua, para pendekar pencak pun datang ke rumah kontrakan kami. Tujuan mereka hendak mencarikan jalan keluar terbaik, mengikuti tata aturan tak tertulis yang biasanya berlaku. Pukul dua dini hari, kontrakan hanya berisi teman-teman muda usia likuran. Kini mereka saling berebut untuk menarasikan dirinya masing-masing, saat perkelahian terjadi. Kemudian mereka tertawa, seolah apa yang telah terjadi itu patut dijadikan kenangan untuk bahan berkisah dikala tua. Saya tersenyum melihat cara mereka berebut bercerita.

Mereka baru saja pulang.

Tuhan, semalam aku dan istri tidak tidur. Maafkan kami Tuhan, jika sebentar lagi kami mendatangiMu dalam kondisi mengantuk. Mohon maaf lahir dan batin.

16.7.15

Pulang?

16.7.15
Apa yang membuat burung-burung kembali pulang ke sangkarnya ketika sinar mentari akan tenggelam? Tentu ia sedang merindukan sesuatu. Ada yang tidak sempurna manakala ia tidak pulang. Namun nun di kejauhan sana, ada sekumpulan burung yang sedang bermigrasi ke tempat-tempat jauh, tak peduli apakah saat itu dunia sedang merayakan kemenangan atau tidak. Itulah dunia burung, ada yang setia untuk pulang, ada pula yang memilih menciptakan kampung halamannya sendiri untuk kemudian selesai.

Mbak Dey, apa kabarmu?

Lebaran kali ini, saya dan Hana tidak pulang ke Tuban. Kami tidak kemana-mana. Kami hanya sedang menikmati suasana Kalisat, tempat dimana saya dan Hana mengontrak sebuah rumah, sejak 87 hari yang lalu. Tentu saja kami merindukan orang-orang terkasih. Lagipula, kami terbilang sepasang manusia cengeng jika harus berhadapan dengan rindu. Tanyakan saja pada rintik hujan, ia pernah menemani saya menangis.

Mbak Dey, sejak siang tadi Hana sibuk melakukan sesuatu di dapur. Dia tampak senang sebab berhasil mbubuti ayam pemberian tetangga sebelah. Lalu Hana memberinya bumbu-bumbu, kemudian ia mengolahnya hingga siap disantap. "Ini untuk persiapan selamatan nanti Mas, selepas maghrib."

"Ini masih pukul berapa? Kenapa di luar sana telah ramai terdengar suara kembang api?" Hana tertawa saja mendengar pertanyaan saya. Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dibahas. Lebih baik membicarakan apa sebaiknya yang harus kami lakukan saat mendengar takbir berkumandang, tak lama lagi.

Sementara Hana memasak, saya membuka laptop dan melihat-lihat kabar di dunia maya. Masih didominasi oleh berita mudik, dan tentang abu dari Gunung Raung. Mengapa mereka tak mengikuti saja denyut alami Raung? Tak baik menghujat abu.

Hening. Saya bosan membaca berita. Lalu saya rebahkan tubuh ini dan membiarkan imajinasi mengelana.

Teringat kemarin, saat teman-teman datang ke rumah kontrakan kami. Eka Sukriswandi, sahabat saya yang menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah madrasah di Bekasi, ia pulang ke Jember dan berkunjung ke Kalisat. Kini Eka telah menjadi Bapak dari seorang gadis kecil berusia setengah tahun. Setelah Eka, datang dua keluarga tamasya yang selama ini mencari penghasilan --di bidang musik-- di Pulau Dewata, Adit dan Manda. Menyusul Bencot. Sore harinya ada pasangan Aunurrahman Wibisono dan Rani Basyir. Belum lagi teman-teman Kalisat yang ada di rumah untuk menyablon kaos bertuliskan, Kalisat Kota Lecang. Tentu saya bahagia saat mereka datang, dan menyisakan sebuah ruang rindu untuk Faisal. Sehari sebelumnya ia telah melangkahkan kaki, tak lagi di Jember. Faisal hanya sedang mengukir hidupnya menjadi seperti yang ia inginkan.

Ada yang datang ada pula yang pergi. Barangkali seperti itulah yang dirasakan seorang Kakek.

Mbak Dey, sore ini tiba-tiba saya merindukan hujan, agar saya punya tempat untuk melepas rindu dengan tenang. Tak peduli apakah rintiknya bercampur dengan abu vulkanik atau tidak. Saya hanya ingin bermain air sambil membayangkan suasana lebaran saat Ibu masih ada, saat tak ada pertanyaan sulit kecuali 'kapan lulus.' Misalnya hujan turun malam ini, saya akan merayakannya, memeluknya, dan menyanyikan salah satu lagu tamasya.

Lebaran kali ini kami tidak kemana-mana. Kami ada di Kalisat. Ibaratnya, kami sepasang burung yang berusaha menciptakan kampung halaman sendiri.

Mbak Dey...

15.7.15

Kata Faisal, "Saya Tidak Akan ke Jember Lagi"

15.7.15

Bersama Faisal di Kalisat

Foto di atas dijepret pada 23 Juni 2015, sesaat setelah Faisal turun dari kereta Tawang Alun di stasiun Kalisat. Ia baru tiba dari Bali. Faisal berangkat satu setengah bulan sebelumnya, untuk mencari kerja. Saya mengajaknya ke kedai untuk melepas penat sambil menikmati secangkir kopi. Kata Frans si empunya kedai, kini Faisal tampak lebih muda. Mungkin karena potongan rambutnya yang tidak seperti biasanya.

Selama di Bali, Faisal tidak berhasil mendapatkan pekerjaan. Katanya, minggu depan ia akan mencoba di Surabaya. Sebelum benar-benar berangkat, Faisal menghirup udara segar di rumah kontrakan kami di Gang Lecang, Kalisat.

Pada 30 Juni 2015, Faisal jadi berangkat ke Surabaya. Katanya di sana ada sesi wawancara. Sehari sebelumnya, Faisal masih menyempatkan diri ke Banyuwangi. Dia ke Banyuwangi untuk menjumpai Ayahnya yang bekerja di sana.

Faisal tidak lama di Surabaya. Setelah sesi wawancara selesai, ia segera kembali ke Jember. Namun Faisal tidak merapat di Kalisat, melainkan ke sekretariat pencinta alam SWAPENKA. Hari berlalu, saya dan Faisal tak pernah berjumpa. Lalu, kemarin sore --14 Juli 2015-- ketika saya dan Hana ke desa Cumedak untuk buka puasa bersama, kami berjumpa. Faisal datang berdua, bersama Licin anak SWAPENKA. Saya bertanya, "Kemana saja?" Dia bilang jika selama ini ada di sekret. Saya bilang ke Faisal, "Mending kamu tinggal di Kalisat, atau di Patrang. Kasihan anak-anak kalau kamu di sekret." Saya berani mengingatkannya sebab di hari yang lain kami pernah mendiskusikannya. Manalah saya mengira jika Faisal berkata, ini adalah malam terakhirnya di Jember.

"Saya tidak akan ke Jember lagi."

Terkejut? Tentu saja. Rupanya selama ini Faisal sedang melakukan perenungan di sekretariat SWAPENKA, lalu menemukan sebuah keputusan yang mungkin bakal sulit ia jalani. Barangkali pula ia akan menata hari-harinya di tanah tumpah darahnya, di Pulau Talangoh.

Teman, doa terbaik untukmu. Sayang sekali, waktu berjalan begitu cepat, dan kita belum lagi menikmati kopi sambil memperbincangkan hidup. Apapun keputusan yang kau ambil, semoga itu baik. Merdeka!

27.4.15

Hari-hari di Jalan Kartini

27.4.15
Kalian takkan terlupa, tak tergantikan. Kalau kata Kang Rofik, ini bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, yang datang pertama, atau yang paling perhatian. Tapi tentang siapa yang datang dan tidak pergi.

Di sini udaranya segar. Jika malam telah tiba, hawa dingin mulai menyusup di sela-sela rumah kontrakan. Hampir di setiap sisi dinding memiliki jendela, khas rumah era 1930an. Lantai tidak mengenakan ubin, hanya semen biasa, namun terlihat nglenyer. Sore hari, jendela-jendela itu harus segera ditutup agar malam harinya hawa dingin tak terlalu menusuk tulang.

Teman, aku sering menghabiskan waktu di teras rumah sambil membawa cangkir seng berisi wedang kopi hasil deplokan warga desa Ajung kecamatan Kalisat kabupaten Jember. Sembari bersantai, aku mengingatmu. Ingat ketika dulu kita pernah menggebu-gebu membicarakan sebuah ide. Iya, aku masih mengingatnya. Tentang gagasan membuat kampung sendiri, dimana tak ada lagi sampah dan kebohongan. Betapa idealnya. Nanda bilang, idealisme itu selalu kecil, sama seperti jumlah pejuang yang selalu sedikit, dari masa ke masa.




Tentang ide mencari rumah kontrakan, sebenarnya itu sudah aku pikirkan sejak lima tahun yang lalu. Di bulan April ini aku menggairahkan ide itu lagi. Seorang rekan bernama Ivan turut membantu mencarikan sebuah rumah yang tepat untuk dijadikan ruang menulis, perpustakaan kecil, dan nyaman untuk menjaring ide. Mulanya kami ke rumah Pak Nurus --seorang guru Matematika di Kalisat-- untuk nembung lokasi lahannya di Sumbersalak. Sayang di sana masih belum didirikan padepokan untuk tempat inap.

"Laopo adoh-adoh nggolek panggon sampek nang Sumbersalak? Iku lho, nang mburian enek omah gak dipanggoni. Nek awakmu gelem, mengko tak bantu nembung," kata Ibu Sulasmini, Ibunya Ivan.

"Rumahnya dikasihkan." Itu bunyi sms dari Ivan yang ia kirimkan pada 15 April 2015 pukul setengah sembilan pagi. Pesan pendek ini membuat wajah istriku -Zuhana Anibuddin Zuhro-- berseri-seri. Laki-laki mana yang tak bahagia memandang rona merah wajah cintanya?

Cerita selanjutnya mudah ditebak. Aku menemui Mbak Kus, ahli waris rumah yang hendak aku kontrak. Tentu saja sebelum ke sana, Ibu Sulasmini sudah lebih dahulu nembung perihal kontrak rumah. Pada 17 April 2015 malam hari, aku sudah diantar teman-teman Kalisat nongkrong di teras rumah ini. Esok malamnya, kami mengulangnya kembali. Baru pada 19 April 2015 Ivan dan teman-teman membantu boyongan beberapa barang rumah tangga dan juga buku-buku.

Hari-hari di Jalan Kartini

Malam hari, 20 April 2015

Untuk pertama kalinya aku dan istri bermalam di rumah kontrakan. Dimulai dengan selamatan --dzikir, ngaji yasin, dan doa bersama-- yang dihadiri oleh Pak RW Lima lingkungan desa Ajung yaitu Pak Safrawi, Pak Sarijo selaku pemimpin selamatan, Pak Nikmat, dan beberapa teman. Acara selanjutnya giliran Ibu-ibu setempat yang memainkan musik samrah dengan mengenakan baju seragam pengajian. Aku menuliskan itu semua di sebuah artikel berjudul; Malam Pertama di Rumah Kontrakan.

Ketika pertama kali menginap, banyak teman yang menemani. Mereka juga turut menginap. Ada Lukman, Agil, Arik Mergenk, Izzet, Wahyu Budi, Sefi, odong, dan Kernet. Teman-teman yang lain, meski tak turut menginap namun menemani jagongan hingga larut malam. Misalnya, si Niko. Ketika akan pulang, Niko merengek minta ditemani sampai ia keluar dari mulut gang.

Esok harinya, 21 April 2015

Pagi pertama aku nikmati dengan sebenar-benarnya. Hal yang sama dilakukan oleh Prit. Mata ini lapar untuk melihat dedaunan dan hamparan benih jagung yang mulai bertumbuh. Telinga terasa bahagia mendengar suara-suara khas milik sang pagi. Ketika ada yang berjalan di depan rumah, kami saling bertukar senyum. Prit tentu saja senang. Ia berseri. Ini pagi pertamanya menyapu pelataran rumah kontrakan dengan sapu lidi. Nyapu perdana. Aku dan Kernet senang melihat Prit bergembira dengan aktivitas barunya.

Ketika sore tiba, Arik Mergenk mengajakku nonton pertandingan sepak bola. Hari ini Agil merumput sebagai kapten kesebelasan Putra Nusantara --klub sepak bola desa kami-- melawan kesebelasan Jember Junior. Tentu aku tak ingin melewatkan pertandingan ini. Kami berangkat berlima; Aku, Ivan, Erik, Izzet, dan Fitrah.

Ada kabar baik dari cucu Sroedji, namanya Irma Devita. Ia mengirimkan pesan pendek.

"Mas Hakim.. Ada kabar membahagiakan. Rekomendasi Pak Gubernur Jatim sudah turun hari ini dan sedang dalam proses disposisi ke Pusat. Begitupun, perjuangan masih panjang. Mohon doanya ya Mas."

Selepas Maghrib ada pengajian Bapak-bapak di lingkungan RT Dua RW Lima desa Ajung, bertempat di kediaman Ivan/Ibu Sulasmini. Ini pengajian perdana untukku. Dari pertemuan pertama, barulah aku mengerti jika pengajian mingguan ini --setiap Selasa malam Rabu-- ada iuran 3000 rupiah per-minggu, serta iuran Kifayah sebesar 500 rupiah per-bulan, dihitung untuk tiap-tiap jiwa. Jadi jika di KK ada lima orang, iuran Kifayahnya per-bulan adalah 2500 rupiah.

Usai pengajian, aku tidak segera pulang. Prit ada di belakang, membantu Ibu Sulasmini di dapur. Aku masih ngobrol-ngobrol dulu dengan Pak RT Dua, namanya Pak Hadi, Ayahnya Agil.

Di luar sana, orang-orang sedang sibuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang perjuangan seorang Raden Ajeng Kartini.

Rabu, 22 April 2015

Tidak seperti biasanya, kali ini istriku memperingati Hari Bumi dengan cara yang berbeda. Ia mencuci segala perabotan dapur, banyak sekali. Tentu saja aku membantu dengan riang. Baju kami basah karena terlalu banyak bercanda. Hari Bumi yang sunyi namun indah.

Hari ini kami kedatangan banyak tamu.

Setelah Maghrib, untuk pertama kalinya Prit mengikuti pengajian Ibu-ibu, bertempat di kediaman Ibu Mina, tepat di belakang rumah Ibu Sulasmini. Ada iuran juga, per-minggu 3000 rupiah.

Kata seorang teman di Kalisat, "Wah Masbro dan Mbak Prit ngepot. Tanggal 20 April slametan, besoknya Masbro ikut pengajian, besoknya lagi giliran Mbak Prit yang ikut pengajian."

Kamis, 23 April 2015

Pagi hari, Cak Har telah ada di depan pintu. Ia membawa tiga bungkus nasi untuk dirinya sendiri, untukku dan untuk Prit. Alangkah nikmatnya sarapan bersama Cak Har, sahabat lama dari desa Sumberjeruk-Kalisat. Malam harinya ia datang lagi, tidak sendirian melainkan bersama istri dan si kecil Catherine. Suasana kontrakan di malam hari selalu ramai. Prit meracik kopi dengan bahagia.

Siang harinya..

Rencananya aku dan teman-teman hendak ke desa Sukosari. Aku ingin melihat keberadaan batuan Dolmen. Warga setempat di desa Sukosari kecamatan Sukowono lebih mengenalnya dengan nama batu Bujuk Srino. Tempatnya memang di dusun Srino. Mas Opik, Sekdes Sukosari, rencananya hendak mengantarkan kami. Sayang sekali, kami urung ke sana. Kami menghabiskan waktu di teras rumah sambil menikmati wedang kopi.

Siang harinya kami kedatangan tamu, mereka adalah Duhita Hastungkara dan Aji, perwakilan dari AKBER Jember. Aji bilang, Akademi Berbagi Jember berencana hendak mengadakan diskusi penulisan sejarah kota, direncanakan akan digelar pada bulan Mei. Senang mendengarnya. Aku janjikan untuk membantu semampunya.

Hari yang indah, teman-teman datang dan pergi.

Jumat, 24 April 2015

Aku dan Prit pulang ke rumah Patrang. Aldin menyambut dengan senyum rindu,khas seorang bocah. Bapak terlihat senang. Sekitar dua jam kami di rumah, kemudian kembali ke kontrakan.

Di rumah kontrakan telah ada Mas Opik dan Mas Tapa, serta beberapa orang lagi. Mereka melakukan sesuatu untuk kami; menyempurnakan pintu kamar (sebelumnya di kamar ini tidak berpintu, lalu seorang teman muda bernama Sefi memasangkan pintu untuk kami, namun masih terlalu banyak celah) dengan lonjoran kayu penutup celah dan sticker iklan sebuah rokok yang sengaja dipasang terbalik. Mas Opik mengerjakan ini sepenuh hati. Ia dan Mas Tapa juga membetulkan lemari kayu yang tadinya mangkrak di sudut dapur. Tulus! Tak akan aku lupakan kebaikan-kebaikan itu.

Ada kabar baik. Hari ini pihak Telkom Speedy --melalui Mas Pri atau kadang dipanggil Mul, pegawai PT Wredatama Tiga Pilar-- menjawab keinginan kami. Alhamdulillah, speedy telah terpasang di rumah kontrakan. Semoga memberi manfaat.

Sore. Ada Idur datang membawa dua tikar pandan untuk keluarga kami. Alhamdulillah.

Malam harinya teman-teman berkumpul. Ada Erfan, teman lama dari desa Kalisat yang bekerja di Perhutani. Dengannya aku jarang berjumpa. Senang sekali ketika Erfan datang berkunjung.

Sabtu, 25 April 2015

Seperti pagi-pagi yang lain, pagi di sini selalu indah. Ada percakapan, secangkir kopi, dan sinar mentari. Sementara itu, Ivan dan Yoyon telah bersiap-siap hendak berangkat ke Gunung Ijen. Mereka akan mengantarkan kawan-kawan dari SMA 10 November Kalisat, tamasya paska Ujian Nasional. Mereka berangkat sekitar pukul sepuluh pagi.

Sore hari, untuk pertama kalinya Nyek singgah di kontrakan kami. Sudah lama aku tak berjumpa dengan Nyek. Di sore yang sama, aku dan istri keluar ke tempat Agoy untuk membeli beras merek padi udang. Kami membeli yang ukuran lima kilogram seharga 51 ribu rupiah. Sepulang dari sana aku mengarahkan motor ke rumah Oldies. Sudah lama tak berjumpa dengan Ayah dan Ibu Oldies. Dulu yang mengenalkan kami adalah Ivan. Senang sekali bisa berjumpa dengan mereka.

Malam Minggu di Kalisat.

Jalanan tampak ramai oleh muda-mudi. Mereka nongkrong di tepi jalan, tak jauh dari motor-motor yang sengaja diparkir berjajar. Kami berlima --Aku, Prit, Kernet, Lukman, dan Niko-- berjalan kaki menikmati pemandangan itu dengan lambat. Mengambil jalur memutar hingga tembus JL. Stasiun, kemudian singgah di Kedai milik Frans, pemuda desa Glagahwero. Pulang dari Kedai, kami singgah di rumah Arik Mergenk. Ia dan dua temannya sedang sibuk packing. Rupanya mereka hendak berangkat ke Gunung Rinjani --esok harinya. Sore, 26 April 2015.

Minggu, 26 April 2015

Di depan rumah kontrakan kami ada sembilan petak sawah. Semuanya ditanami jagung. Kini benih jagung itu sudah setinggi 20-30 cm. Hari ini jadwal 'arao.' Setelah arao, semua buruh tani berkumpul di teras rumah kontrakan. Keluarga Pak Hadi --selaku penyewa petak-petak sawah itu-- membawa makanan dengan rantang untuk makanan para pekerja. Tentu saja aku ikut di dalamnya, turut makan bersama-sama. Alangkah nikmatnya sarapan bersama mereka.

Nasi kuning buatan istri Mas Supri --tetangga sebelah-- aku makan siang harinya. Ia memang berjualan aneka lauk pauk, setiap hari. Istimewa untuk Minggu pagi, ia menjual menu khusus; nasi kuning. Para pelanggannya selalu setia menanti nasi kuning di Minggu pagi.

Siang hari, hujan membasahi tlatah Kalisat. Aku memandang butir-butir air hujan sambil sesekali menyeruput kopi. Kadang aku selingi dengan membaca sesuatu.

Selepas Dhuhur Ivan dan Yoyon datang dari Gunung Ijen. Sore harinya giliran Arik Mergenk dan rekan-rekannya yang bertolak ke Lombok, mereka hendak mendaki Gunung Rinjani.

SISKAMLING Perdana di RT Dua RW Lima desa Ajung-Kalisat

Kalimat di atas sengaja aku pertebal, hanya agar memberi efek psikologis dan sebagai pengingat bahwa itu penting. Aku akan mengenangnya. Melakukan Siskamling di Minggu malam hingga Senin dini hari.

Jadwal piket untuk Minggu malam adalah Pak Hadi --selaku Ketua RT Dua lingkungan Krajan desa Ajung, Mas Joko Purnomo, Mas Supri tetangga sebelah, Mas Tapa, Mas Ivan Bajil, serta aku sendiri. Kami berenam berkeliling kampung, dengan teritorial hanya di wilayah RT Dua saja. Sesekali memukul-mukulkan batu pada tiang listrik hingga merobek kesunyian malam. Mirip zaman ninja 1998-1999 dulu.

"Ini Siskamling perdana di masa jabatan saya sebagai RT, Masbro." Begitu kata Pak Hadi. Ia bilang, sudah lama sekali tak ada piket jaga malam.

Ketika istirahat di teras kontrakan, Prit membuatkan kami secangkir kopi dan satu mug teh panas. Lalu kami berbincang ringan. Timbul ide untuk menyegarkan kembali sistem jimpitan untuk mengumpulkan dana kolektif warga RT Dua.

Kami menyudahi ronda malam saat ayam jantan mulai banyak yang berkokok. Aku tiba di kontrakan pukul 03.33 dini hari. Kalender telah berganti pada hari Senin, 27 April 2015. Di kontrakan ada si Odong. Ia sengaja aku mintai tolong untuk menginap.

Meski semalaman begadang hingga ayam jantan berkokok, hari ini aku tetap bangun pagi. Ketika keluar dari kamar, di ruang tengah telah ada Odong, Prit, dan Mas Pri a.k.a Mul. Ia membantu Prit membetulkan DNS Speedy dan Proxy. Semalam memang ada masalah koneksi, atas keteledoran kami sendiri.

Tak lama kemudian datanglah Mas Opik. Ia mengenakan seragam Korpri warna coklat dan bersongkok. Menyusul kemudian Ivan dan beberapa warga setempat. Mas Sam datang sambil menenteng senapan angin. Ia memang dikenal suka berburu. Prit membuatkan kami kopi untuk menyambut pagi. Ia terpaksa menumpang menanak air di dapur keluarga Supri --tetangga sebelah-- sebab tabung elpiji tiga kilogram di dapur kami telah habis. Aku dan Odong keluar ke toko pracangan milik keluarga Pak Faroz untuk membeli tabung gas.

Kalian takkan terlupa dan tak tergantikan

Teman, hari ini genap satu Minggu aku dan istri tinggal di rumah kontrakan, JL. Kartini Nomor 28 Kalisat. Kami memiliki kisah-kisah baru di lingkungan yang juga baru. Tentu tak semuanya terceritakan di sini. Ini hanya buih-buih yang mampu aku ingat.

Waktu terus berjalan, kita pun berubah di dalamnya. Kau dan aku tidak bisa memaksa untuk tetap menjadi kanak-kanak, misalnya. Sebab detik terus berdetak menuai usia. Semua orang lahir, berproses, menikmati hidup, selesai, lalu dilupakan. Kamu hanya harus percaya jika aku tak akan mampu untuk melupakanmu.

Kamu, kamu, dan kamu. Kalian takkan terlupa, tak tergantikan.

Teman, ulurkan tanganmu. Mari saling memejamkan mata kemudian menciptakan ruang imajinasi, seolah kita saling berjabat erat. Aku tak akan bosan mendoakan yang terbaik untukmu. Sebab aku tahu, kamu juga melakukan hal yang sama untukku.

Teman, terima kasih. Sampaikan salamku untuk orang-orang tercinta di sekitarmu.

26.4.15

Malam Pertama di Rumah Kontrakan

26.4.15

Malam pertama di rumah kontrakan, 20 April 2015

Sesungguhnya kami tidak tahu harus mempersiapkan apa untuk acara selamatan di rumah kontrakan, 20 April 2015. Kata Ibu Sulasmini, "Gak usah mikiri suguhane, mengko Ibuk sing nggawekne." Ia juga bilang akan membuatkan kami nasi rosul. Kami juga mendengar kabar dari Mas Ivan, putra bungsu Ibu Sulasmini --dari delapan bersaudara-- jika yang diundang hanya empat orang saja. Mereka akan ngaji surat Yasin lalu berdoa bersama. Manalah kami duga jika yang datang di malam itu sungguh di luar perkiraan.

Teman-teman dari SWAPENKA juga ada yang hadir di acara selamatan. Ada Bang Korep, Adek Jukok, Licin, Bintarum, dan beberapa lagi. Ada juga Mungki Krisdianto Tamasya Band. Mas Ari juga datang di acara doa bersama ini.


Paling kiri sendiri adalah Adek Jukok

Mas Opik --tokoh penggerak Badut Community Kalisat-- banyak membantu saya sejak hari pertama dan hari-hari berikutnya. Sore menjelang selamatan, ia datang membawa tulisan 'Kari Kecingkul' berbahan dasar gabus yang dicat warna-warni. Malam harinya, saat suasana telah santai, saya, Prit, Mas Opik, dan teman-teman Badut Community melakukan foto bersama di bawah tulisan Kari Kecingkul.



Kejutan, begitu kata Mas Ivan. Iya benar, saya dan Prit sungguh terkejut dengan semua itu. Apalagi ketika acara ngaji dan doa bersama telah usai, masih ada kloter kedua, yaitu datangnya rombongan Ibu-ibu warga setempat. Mereka mengenakan seragam pengajian lengkap dengan peralatan musih Samrah. Ketika itu Mas Opik tiba-tiba berperan sebagai MC, lalu ia menyarankan agar saya memperkenalkan diri di depan Ibu-ibu.


Saya sedang memperkenalkan diri

Malam pertama di rumah kontrakan --di JL. Kartini 28 desa Ajung kecamatan Kalisat, Jember-- begitu manis, banyak kejutan, dan membahagiakan. Bapak saya hadir di acara ini, begitu juga dengan Kakak perempuan saya. Ia datang bersama suami --Mas Rahman-- dan si tampan Aldin. Indah. Kami memiliki tetangga-tetangga yang baik. Meskipun suguhannya harus dilakukan dalam dua tahap sebab tahap kedua masih harus menunggu nasi ditanak, namun tetap saja itu malam yang indah.

Mbak Dey sekeluarga serta para sahabat blogger, terima kasih atas doanya. Singgahlah di rumah kontrakan kami di Kalisat. Nanti Anda akan saya kenalkan pada para tetangga yang baik hati.

20.4.15

Doakan Kami

20.4.15
Kemarin siang, Mas Ivan dan beberapa teman Kalisat ke rumah saya --di Patrang-- dengan membawa mobil Mitsubishi L300. Mereka membantu saya dan Prit mengangkut barang-barang menuju rumah kontrakan. Tak lama kemudian, mobil pick-up warna hitam itu didominasi oleh setumpuk buku. Tak lupa kami angkut juga peralatan dapur, beberapa baju, serta barang remeh temeh lainnya. Saya cangking pula sepeda BMX kesayangan.

Adalah Indana Putri Ramadhani yang membantu Prit mengepak barang-barang, sedari pagi. Ia juga turut ke rumah kontrakan di Kalisat, membantu merapikan buku-buku.

Sore hari, sesaat sebelum hujan turun membasahi tanah pekarangan rumah kontrakan, ada serombongan teman datang. Mereka muda-mudi Kalisat yang baru turun dari Gunung Ijen. Ada Fia, Anief, Febri, Fanggi, Odong, dan Lukman. Wajah-wajah itu tampak lelah, sayang sekali keadaan di kontrakan masih amburadul, jadi mereka cuma bisa merebah di atas karpet.

Saya dan Prit pulang larut malam. Selama begadang di kontrakan, teman-teman Kalisat menemani kami. Mereka tampak asyik bermain domino, ada juga yang nongkrong di emperan depan. Niko dan Izzet tak henti-hentinya bersilat lidah dengan Arik Mergenk. Mereka bermain domino dengan ceria.

Nanti malam akan ada slametan, doa bersama. Ibu Sulasmini, perempuan yang senang memanggil kami Nak, ia membuatkan sego rosul, nasi berkat, dan urap-urap. Katanya, kami tidak perlu khawatir tentang biaya sebab ia memang ingin membuatkan itu semua. Prit terharu, begitu pula saya.

Doakan kami.

17.4.15

Rumah Bercat Putih itu Menghadap ke Selatan

17.4.15
Rumah bercat putih itu menghadap ke Selatan, seperti kebanyakan rumah-rumah adat masyarakat Madura di Jember. Sisi kanan rumah itu adalah sebuah kebun dengan aneka pohon. Kata warga desa Ajung kecamatan Kalisat, dulu rumah bercat putih itu dikelilingi oleh pohon coklat. Oleh tuan rumah, setiap orang boleh memetik dan makan coklat, asal biji-bijinya ditinggalkan di bawah pohon.

Di sisi kiri, ada sebuah rumah yang juga didominasi oleh warna putih. Itu adalah kediaman keluarga Mas Supri. Jika saya dan Prit menempati rumah bercat putih, maka mereka adalah satu-satunya tetangga terdekat kami. Jarak rumah Mas Supri dengan tetangga terdekat yang lain hanya sepelemparan batu saja, dibatasi oleh pematang sawah yang kini ditanami jagung.

Meski rumah bercat putih itu menghadap laut Selatan --Payangan, Watu Ulo, Pantai Papuma, dan lain-lain-- namun di sini tak ada pantai. Untuk menuju ke sana butuh waktu sekitar 90 menit naik motor.

Sehari setelah menulis catatan untuk Mbak Dey, saya antar Prit ke sana. Melihat cara dia menatap rumah itu, saya mengerti jika ia jatuh hati pada tembok bercat putih yang beberapa sudut langit-langitnya telah bolong.

Kami menghabiskan waktu duduk-duduk sambil jagongan di emperan yang serupa dengan emperan rumah joglo.

Seorang kawan bernama Ivan mengantar kami. Ia tidak sendirian melainkan bersama pasutri Yoyon dan Dwi. Sesampainya di sana, beberapa warga sekitar turut menemani, diantaranya; Mas Taufik Dwi Septiarso atau biasa dipanggil Mas Opik Badut, Mas Mus, Mas Pur, serta keluarga Mas Supri. Di hari yang lain, mungkin akan saya ceritakan nama-nama yang baru saja saya tuliskan itu.

Mbak Dey, malam itu Prit tampak senang. Kami baru pulang pukul setengah satu dini hari. Jarak antara desa Ajung dengan kediaman kami di Patrang sekitar 30 menit naik motor, dengan kecepatan 50 km per-jam.

Esok harinya, 15 April 2015, dengan diantar oleh Ivan dan kakak kandungnya, saya dan Prit menemui ahli waris rumah bercat putih. Ia biasa dipanggil Mbak Kus. Kami berbincang-bincang, untuk kemudian mengutarakan maksud kedatangan. Saya bilang jika tertarik mengontrak rumah bercat putih untuk saya jadikan ruang menulis dan ruang perpustakaan. Ia sepakat, dengan syarat, maharnya dua juta rupiah dan tidak boleh ditawar lagi.

Mbak Dey, malam itu saya tidak memiliki uang. Di saku celana saya hanya ada uang tunai sejumlah sebelas ribu rupiah saja. Namun melihat cara Prit menatap rumah bercat putih, saya mengerti harus bagaimana. Saya bilang pada ahli waris jika hendak mengambilnya. Tapi saya juga mengajukan syarat, yaitu mohon diberi jeda waktu pembayaran selama 30 hari. Saya bahagia ketika ia mengangguk setuju. Lebih bahagia lagi saat menjumpai kenyataan jika kami boleh nyicil selama 30 hari.

Malam itu juga ahli waris memberikan kunci rumah agar kami bisa melihat-lihat ruang di dalam rumah.


Dokumentasi oleh Ivan, 15 April 2015

Sayang sekali, dua kali kami mengunjungi rumah itu dan dua-duanya di malam hari. Jadi tidak ada foto yang jelas yang bisa saya tampilkan untuk Mbak Dey. Semoga gambaran foto di atas --yang sedikit buram-- bisa membuat Mbak Dey mengimajinasikan rumah yang kami ceritakan ini.

Kemarin kami tidak ke sana sebab harus ke desa Jambearum kecamatan Puger untuk menghadiri resepsi pernikahan VJ Lie dan Ovi. Kami berangkat bersama-sama; Saya dan Prit, Mungki dan Kernet, Gam Pujiono, serta Bencot. Di tempat VJ kami berjumpa dengan Cak Ratt beserta istri, serta Windi. Kami berkumpul, saling bercerita. Tentu saja saya ceritakan pada mereka tentang rumah bercat putih di desa Ajung. Keluarga tamasya suka mendengar cerita ini. Kata Mungki, "Ayo wes Prit, tak kancani masak-masakan nang omah kontrakan iku. Koen iki kurang sambel, mangkane wingi loro-loroen."

Mbak Dey, sore ini kami berencana hendak ke desa Ajung kecamatan Kalisat. Kami hendak memotret rumah itu di sore hari. Untuk Mbak Dey sekeluarga. Kami juga hendak mencairkan uang di ATM sejumlah tujuh ratus ribu rupiah sebagai peningset bahwa rumah itu benar-benar menjadi tempat berkarya untuk saya dan Prit, serta untuk teman-teman di Kalisat.

Mbak Dey, doakan kami.

Catatan yang lain ada di artikel berjudul; Sebuah Rumah.

13.4.15

Dengan Sepenuh Cinta

13.4.15
Akan ada saat dimana bunga menjadi layu. Ia tak lagi merekah indah, tak lagi segar, untuk kemudian lunglai, kering dan binasa. Tiba-tiba tugasnya di bumi ini sudah selesai. Namun kejutan teknologi membuatnya bisa bertahan lebih lama lagi. Kita hanya butuh sedikit imajinasi untuk merasakan segarnya. Benar begitu kan Mbak Dey?


Keluarga Kang Fikri Ketika di Candi Cangkuang, Garut

Bagaimana kabar keluarga di Parongpong? Mbak Dey, Bapak, Kang Fikri, Fauzan, dan bunga-bunga? Semoga baik-baik saja. Kami di Jember senang sekali mengintip kuntum-kuntum bunga segar hasil jepretan Mbak Dey. Sungguh. Setiap ada kesempatan membuka jejaring sosial Facebook, saya selalu menyempatkan untuk mengintip profil milik beberapa sahabat blogger. Saya kira, Mbak Dey adalah satu diantara yang paling sering saya tengok. Seperti ada yang menggerakkan, seperti bukan saya, seperti ada mesin otomatis on-off.

Biru melangit, doa² berarak bersama awan, bersih.

Iya, di sana ada biru yang melangit. Kata orang Jawa, ngawang, menuju ke awang-awang. Lalu ada doa yang tersirat di hati untuk orang-orang yang kita kenal.

Kadang saya tertawa sendiri. Kita memiliki konsep persaudaraan yang aneh. Dimulai dari tidak berjumpa, kemudian memelihara harapan untuk bisa berjumpa, lalu benar-benar berjumpa, lalu tak ada lagi rasa canggung. Lenyap. Seolah kita sudah mengenal bertahun-tahun. Bukankah itu aneh?

Mbak Dey yang senang dipanggil Ibu, tiga hari lalu saya membaca satu kalimat di akun Facebook Mbak Dey. Begini bunyinya, "Istirahatlah sejenak, lalu tersenyumlah! Jika itu cinta, semua akan kembali. Percayalah!" Haha, edan! Kalimat itu membangunkan seseorang. Jika dibaca hari ini, bisa jadi itu hanya kalimat yang biasa-biasa saja.

Mbak Dey tentu tahu, sejak saya dan pihak Kuncihost mengalami masalah komunikasi pada tujuh bulan yang lalu, ia membuat saya tak lagi bersemangat menulis di acacicu. Entahlah, mungkin mereka lupa bikin email pemberitahuan. Saya juga salah, tidak mengingat sendiri batas waktunya. Jadi, untuk tetap menjaga tali silaturahmi, satu blog milik saya dan blog-blog lain --milik teman-- yang terdaftar lewat akun saya, tetap duduk manis di kuncihost. Bagaimanapun, saya mengerti proses pembuatan Kuncihost meski hanya lewat catatan blog Mas Hengky. Itu dulu sekali, lima tahun yang lalu.

Beginilah keadaan acacicu sekarang. Kembali ke domain gratisan blogspot --sejak 5 Januari 2015. Orang-orang di kiri kanan saya mulai bertanya, dimana tulisan-tulisan yang terangkum di acacicu dotkom? Tak ada lagi. Sulit untuk mengaksesnya di mesin pencari. Pernah terpikir untuk mengaturnya menjadi privacy, hanya saya dan istri saja yang bisa membacanya. Di saat yang lain saya bahkan berpikir akan menghapusnya. Lalu, ketika benar-benar hendak saya lakukan, tiba-tiba ada banyak wajah berdatangan. Mereka hadir seperti sebuah slide. Mula-mula wajah dua orang perempuan, Bunda Yati dan Bunda Lily, menyusul kemudian Mbak Imelda, Kang Yayat, Ami Osar, Bli Budi, Mbak Nchie, Pakde Cholik, kemudian semakin banyak. Ada wajah Mbak Dey sekeluarga diantara wajah-wajah yang berdatangan. Kemudian saya urungkan niatan bodoh itu.

Hari berlalu. Saya mencoba kembali memeluk acacicu. "Ini hanya sebuah blog.. Ini hanya sebuah blog.." Saya bergumam berkali-kali. Tapi, benarkah ini hanya sebuah blog? Jika tidak ada blog 'omong kosong' ini, bagaimana saya mengenal lelaki setenang Kang Fikri? Bagaimana?

Detik terus bergulir, tak peduli apakah saya menulis di acacicu atau tidak. Kemudian saat itu datang juga. Saya ada di depan monitor, login, lalu menulis. Saya sendiri yang menulis, saya sendiri pula yang membaca. Tak ada hasrat untuk mengenalkannya di media pengumuman semacam warung blogger atau yang lain. Ketika saya membaca tulisan sendiri, ia tak bernyawa. Ia lebih dekat pada tulisan rekapitulasi --seperti saat Prit usai belanja di Pasar Tradisional Tanjung lalu membuat catatan belanja-- daripada gaya menulis populer di blog. Tidak ada greget apapun yang saya rasakan saat membacanya kembali. Mungkin saya sudah tidak bisa menulis ceria atau gaya-gaya tulisan merdeka yang dulu selalu saya lakukan dengan hati yang gembira. Ada juga beberapa catatan saat sedang sedih.

Tahun lalu saya menghadapi satu kenyataan tentang kegagalan beruntun ketika harus menciptakan lagu. Saya tidak bisa lagi. Tiba-tiba membuat lirik lagu menjadi sesuatu yang sulit, kadang-kadang menakutkan. Sesekali ia terbawa dalam mimpi. Kemudian saya tidak mencobanya lagi, hingga hari ini.

Sebelum 'bencana menciptakan lagu' hinggap, tahun-tahun sebelumnya saya lewati dengan ketiadaan hasrat untuk melukis sesuatu di atas kertas bekas warna putih. Itu sudah lama sekali, sejak Ibu saya memejamkan mata di Rumah Sakit Umum dr. Soebandi. Padahal ini yang saya lakukan sejak seusia Fauzan, atau mungkin lebih bocah lagi, hingga saya berseragam putih biru, hingga bercelana abu-abu, hingga tercatat sebagai Mahasiswa Sastra, hingga hari-hari menjelang Ibu memejamkan mata. Lalu hari itu pun tiba. Tak ada yang bisa mencegahnya. Saya tidak sempat menangis, namun entah mengapa, saya memiliki waktu yang banyak untuk membakar setumpuk kertas berisi coretan-coretan saya sendiri. Tindakan goblok, haha. Saya memang tak kunjung pandai.

Namanya Pak Agus, guru kesenian di sebuah SD tempat saya menghabiskan hari Senin pagi yang menyebalkan selama enam tahun. Hanya Pak Agus yang tidak pernah marah ketika saya menggambar bebas di balik sampul buku, di jam pelajarannya. Ketika Pak Agus menyuruh saya melukis pemandangan, saya melukis yang lain. Dia tidak marah. Dia bahkan hanya tersenyum ketika saya membuat sketsa dirinya, tentu saja dengan anatomi tubuh yang jauh dari proporsional. Pak Agus hanya berpesan, "Kamu harus percaya jika coretan yang kau hasilkan itu unik, berbeda dengan karakter coretan siapapun di dunia ini." lalu saya disarankan untuk belajar membuat garis-garis.

Hanya Pak Agus. Pengajar lain bisanya hanya marah, menggerutu, menampar hati siswanya.

Kelak, saya menjumpai orang-orang berhati Pak Agus, lebih banyak tidak di bangku sekolah. Mereka ada dimana-mana. Ada yang tertidur di becak tua milik seorang juragan yang tak begitu kaya, ada yang di sebuah terminal kecil, di perempatan lampu merah, di malam yang kejam, ada pula yang saya jumpai di beberapa perjalanan. Di luar sana, orang-orang tulus bertebaran. Kita hanya harus menjumpainya.

Mbak Dey, maaf. Entah saya sedang menulis apa. Jember habis diguyur hujan, kopi sudah dingin sedari tadi. Di samping saya ada perempuan kecil yang tertidur pulas. Putrimu, hehe. Mungkin suasana ini membuat saya ingin menulis hal-hal tak bertema, tidak terstruktur, serta naif. Setidaknya ada sepercik hasrat untuk kembali menulis di sini, di blog omong kosong ini.

Mbak Dey yang baik, sampaikan salam saya untuk Kang Fikri. Saya teringat akan pesannya saat kita di Jembrana. Setiap hari saya mengingatnya.

Akhir Maret lalu, saya ajak Prit jalan-jalan ke sebuah dusun, namanya dusun Sumberpakem. Kondisi jalan di sana bergeronjal. Itu hari yang indah, kami tidak terburu-buru untuk pulang. Lagipula, saya lihat dari kaca spion Prit menikmati perjalanan. Kami singgah di rumah teman di Kecamatan Kalisat, pulang larut malam. Ketika di perjalanan pulang, ia sambat sakit. Prit meronta, dia bilang pinggangnya terasa ngilu, sakit sekali. Saya tahu saat itu saya pucat sekali, meski saya tak sedang bercermin.

Kami tiba di rumah pukul setengah satu dini hari. Prit masih kesakitan. Tiba-tiba berbaring menjadi sesuatu yang heboh. Prit menangis. Jika Prit tidak semakin menitikkan air mata, hampir saja saya memaksanya untuk ke rumah sakit terdekat.

Esoknya, hingga April Fools' Day, keadaannya semakin buruk. Oleh seorang teman bernama Mita, Prit dianjurkan untuk Testpack. Untuk sesaat lamanya, wajahnya merona-rona. Saya mencintai wajah itu.

Minggu pagi, 5 April 2015. Prit keluar dari kamar mandi depan --kamar mandi di rumah Kakak saya-- lalu segera masuk kamar dan memeluk saya. Saya rentangkan kedua tangan sambil berpikir, barangkali inilah saatnya.

Mbak Dey, ketika itu Prit menitikkan air mata. Negatif. Hari masih pagi dan saya mencoba banyak cara untuk menghiburnya. Tidak ada waktu untuk menghibur hati saya sendiri sebab itu tidak penting. Sama sekali tidak penting.

Esok harinya, ketika Prit telah bersedia diperiksakan ke sebuah tempat pengobatan di Kreongan, barulah saya mengerti jika ia ada masalah dengan punggung belakang dan kantung kemih. Pesannya hanya satu, ia dilarang keras nahan pipis. Maaf jika bahasa saya terdengar vulgar.

Mbak Dey yang baik, kami di Jember baik-baik saja. Kini Prit telah sehat. Kemarin saya membawanya jalan-jalan ke Kalisat, ke rumah seorang perempuan sepuh yang senang memanggil kami dengan sebutan 'Nak.' Malam sebelumnya, Prit memaksa diri mendampingi saya menyanyikan satu lagu di sebuah acara kecil di Gemapita FKIP Universitas Jember. Namun setelah menyanyikan lagu dan turun dari panggung, kami segera pulang.

Mbak Dey capek membacanya? Sebentar Mbak, saya masih ingin bercerita dua hal. Pertama, tentang sebuah lirik lagu yang akhir-akhir ini mengganggu.

Judulnya, Lagu Untukmu. Iya benar, saya sendiri yang menciptakan lagu itu, teman-teman tamasya band --Mungki Krisdianto-- yang bikin aransemen hingga proses recording. Mulanya lagu itu kami masukkan di Album Tiga Tamasya Band sebagai penggenap. Itu lagu dengan lirik yang biasa, bukan tentang ajakan untuk mencintai lingkungan, bukan lagu persahabatan, bukan pula lagu perjuangan dengan tema yang luas. Jika di zaman Soekarno, ia masuk kolom lagu yang melemahkan revolusi. Mungkin saja. Manalah saya tahu jika lagu ini disukai teman-teman. Begini lirik lagunya.

LAGU UNTUKMU

Di saat seperti ini ingin aku kau temani
Aku benar-benar ingin pandang wajahmu

Satu kali ini saja temani aku bernyanyi
Petik gitar di sampingmu
Usah kau tanya.. Inginku..

Reff:

Yang aku inginkan hanya engkau tumbuh mewangi
Mekar bersemi seperti bidadari yang memetik
Setangkai bunga.. Menghias telinga..

Biar ku berjuang untuk mengubur dalam-dalam
Getar rasa hati dan mimpi untuk menjadikanmu
Ibu dari anak-anakku nanti..

Versi mp-tiga bisa didengar di SINI

Saya mengerti, lagu adalah sebuah doa. Alam raya mendengarnya. Tentu saya juga mengerti, itu bukan doa yang saya inginkan. Hanya utusan Tuhan bernama pikun saja yang bisa menghentikan kinerja reff kedua dari lirik lagu itu. Atau surga, sebab di sana kenangan menjadi sesuatu yang tak lagi penting. Ada yang lebih indah dari itu.

Kiranya kali ini saya tidak bisa lagi menghibur diri dan berkata, "Itu hanya sebuah lagu."

Lagu itu telah ada dimana-mana. Maksud saya, lagu itu ada di alat-alat elektronik milik teman-teman, baik yang saya kenal maupun tidak. Saya tidak bisa mencegahnya. Ia seperti sedang berkelana mengikuti garis-garis 'hidupnya' sendiri. Dan saya resah. Bagaimana jika alam raya mengukir itu sebagai doa? Sepertinya saya hendak melakukan sesuatu. Kembali memeluk gitar? Dan apakah saya bisa?

Bagian tersulit bukanlah menulis lirik lagu, tapi setelah semuanya selesai lalu kita tak kuasa untuk menyanyikannya.

Kabar yang tersiar di luar sana, Tuhan Maha pengampun. Maka jika tiba saatnya nanti masing-masing huruf dalam lirik tersebut dibangunkan untuk memberi kesaksian, semoga..

Saya akan mencoba membuat lagu yang lain, atau tetap menyanyikan lagu itu dengan sedikit edit di bagian lirik tertentu, serta mungkin dengan aransemen yang berbeda. Doakan semoga saya --dan keluarga tamasya-- bisa.

Cerita berikutnya.

Mbak Dey dan Kang Fikri, kami terlalu memikirkan datangnya sesuatu. Tentu Mbak dan Akang tahu apa itu. Mungkin kami hanya butuh udara segar. Butuh taman bunga yang berbeda. Kami berencana, tak lama lagi akan mencari kontrakan di sebuah desa. Rumah kami yang sekarang sudah ada di pinggiran, tapi pinggiran yang masih terbilang ramai. Di depan ada jalan raya yang menghubungkan Jember dengan Bondowoso-Situbondo. Sementara tepat di belakang rumah kami ada rel kereta api. Tempat yang ramai untuk menulis.

Tak lama lagi, datanglah ke Jember. Carilah kami di sebuah rumah kecil di dekat Gumuk. Di seberang rumah kami ada sembilan petak sawah, lalu beberapa rumah-rumah kecil yang berjajar. Saat keluarga Parongpong datang mengetuk pintu kontrakan, mungkin saya sedang sibuk menulis untuk sebuah buku yang kehadirannya dicita-citakan sejak beberapa tahun lalu. Ketika Aak Fauzan sibuk mengusir ayam kampung yang nongkrong di pelataran rumah kontrakan kami yang kecil, mungkin Tantenya sedang ada di dapur, mengipasi tungku dengan buku bacaannya.

Kang Fikri, Mbak Dey, Bapak, dan Fauzan yang berhidung mancung sekali. Kami di sini baik-baik saja. Doakan kami untuk rencana yang tak lama lagi itu. Lalu datanglah.

Jika telah menjumpai sebuah desa dengan logat yang berbeda, maka itu sudah benar. Tinggal satu langkah lagi, bertanyalah pada penduduk setempat. Tanyakan kepada mereka tentang seorang lelaki kurus yang senang mencari capung dan bunga-bunga di tepian sungai, dan tentang istrinya yang mungil yang ketika ia tertawa, ada terlihat dekik di kedua pipinya. Jika penduduk setempat mengangguk, kalian akan diantarkan ke sebuah rumah kecil dengan masa kontrak satu tahun. Di sanalah kami menanti.

Dengan sepenuh cinta

27.1.15

Jember Nezer

27.1.15
Pada 22 Januari 2015 yang lalu, saya dan istri meluncur ke rumah Kang Lozz Akbar di Balung. Hari ini gantian dia yang nyeruput kopi di rumah kami. Kang Lozz tidak sendirian melainkan berdua dengan Supot, kawan muda dari Wuluhan. Senang bercengkerama dengan Kang Lozz, kami mempercandakan banyak hal.

Saya bilang ke Kang Lozz jika malam ini ada janji dengan Mas Ari. Dia bertanya, siapakah Mas Ari? Lalu saya bercerita tentang Mas Ari.

Saya hanya berjumpa satu kali dengan Mas Ari, di tahun 2009. Ketika itu kami sama-sama ada di Desa Gludug, tempat dimana di sana pernah berdiri sebuah sekolah tanpa nama, hingga akhirnya dikenal dengan nama sekolah kampung. Setelah perjumpaan itu, tak ada lagi perjumpaan kedua. Jadi, saya hanya mengerti sedikit tentang Mas Ari.

Selain modal berjumpa satu kali, satu-satunya yang saya tahu tentang Mas Ari, dia adalah seorang pengusaha es di Jember. Nama dagang yang diusung adalah Es Ari. Sederhana. Sosok sederhana inilah yang akan saya pinang sebagai pembicara bidang ekonomi untuk rencana diskusi tanggal 31 Januari 2015.

Pembicaraan saya dan Lozz --tentang Mas Ari-- sempat terhenti sejenak saat Wisnu datang. Ia hendak mengajak Korep ke Banjarsengon sebentar saja. Wisnu kesulitan membawa CPU, jadi butuh bantuan Korep. Tak lama kemudian mereka berangkat, kami melanjutkan pembicaraan. Saat Wisnu dan Korep kembali, kami segera meluncur ke rumah Mas Ari.


Di rumah Mas Ari, 26 Januari 2015

Rumah Mas Ari didominasi oleh bambu. Latarnya yang tak seberapa luas dijejali aneka tanaman. Istri saya senang sekali melihat tata ruang rumah Mas Ari. Ia segera akrab dengan istri Mas Ari, entah mengapa.

"Lho kok iso moro-moro nduwe ide aku dikongkon ngomong nang acara diskusi seh rek. Aku iki cuma wong biasa sing kerjone dodolan es," ucap Mas Ari. Saya bilang pada Mas Ari jika saya pun tak punya jawaban yang pas.

"Ide iku sukur mecothot teko pikiranku Mas, pas wong SOGA njaluk saran pembicara bidang ekonomi."

Mas Ari tertawa heran mendengar penjelasan saya yang sama sekali tidak jelas. Lalu dia meminta saya untuk menceritakan maksud dan tujuan dari diskusi itu sendiri. Ia juga bertanya tentang siapakah SOGA. Dengan senang hati, saya menceritakan kronologi perkenalan saya dengan dua orang suami istri dari SOGA Institute, Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan pada 29 Desember 2014.

"Tentang SOGA sendiri, aku ora ngerti akeh Mas."

Saya ceritakan juga pada Mas Ari tentang kemungkinan acara ini kami teruskan sendiri, mengingat sudah tiga hari ini belum ada kejelasan dan komunikasi dari pihak SOGA. Semisal rencana acara ini kami lanjutkan sendiri karena sudah terlanjur basah, tentu tujuan diskusi bukan lagi menjaring aspirasi warga Jember untuk SOGA Institute Open Forum Series. Tema juga akan berubah meskipun tak jauh-jauh dari ide awal yaitu; Jember Kini dan Nanti. Entah nanti temanya menjadi bagaimana, akan segera kami pikirkan bersama.

"Kalau begitu temanya Jember Kasihan saja."

Kami tertawa mendengar ucapan Mas Ari. Saya bilang padanya untuk memakai bahasa lokal saja, menjadi Jember Nezer. Lozz Akbar, Supot, Wisnu, istri saya, serta istri Mas Ari turut tertawa mendengarnya.

Kira-kira dua jam setelah kami ngobrol ngalor ngidul, datang Cak Dai mengendarai motor barunya yang berwarna putih. Dia baru tiba dari Bangsalsari bersama Ananda Firman dan Mungki. Menyenangkan, dua bakal pembicara diskusi telah ada di satu tempat. Kami semakin nyaman menyampaikan rencana acara.

Semakin larut semakin ramai. Tema pembicaraan juga semakin beragam. Tak terasa, kami baru pamit undur diri dari kediaman Mas Ari saat jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul tiga dini hari.

26.1.15

Sang Legenda

26.1.15

Bersama Eyang Wakidi, 26 Januari 2015

Dibandingkan saat terakhir saya berkunjung, kini Eyang Wakidi semakin kesulitan berkomunikasi. Pendengarannya tak setajam dulu lagi. Ia juga sama sekali tak menyentuh sitternya. Otomatis, para pelanggan Gudeg Lumintu Jember juga kehilangan nada-nada indah darinya.

"Tangane wes ndak kuat maneh Le. Yo sak jeke disrempet motor iku," ujar istrinya yang juga tampak semakin menua. Eyang Sumina mengatakan itu sambil sibuk melayani beberapa santri ponpes Al Mubarrak Kalisat yang sedang membeli gorengan.

Saat saya dan istri pamit pulang, Eyang Sumina membawakan kami bubuk kopi hasil deplok'an sendiri. Ia juga membawakan satu kresek sayur rebung. Tentu kami senang. Mereka pasangan sepuh yang baik.

Saya pernah menuliskan kisahnya di tulisan berjudul; Cara Wakidi Mencintai Siter.

25.1.15

Hari Yang Hore

25.1.15
Hari ini saya ada janji dengan pihak SOGA dan juga Wisnu, seperti yang telah disepakati kemarin malam. Kami akan berkumpul di rumah Achmad Bahtiar pada pukul sebelas siang, membicarakan pra acara diskusi tanggal 31 Januari 2015. Sedianya teman-teman akan berkumpul dahulu di rumah saya. Namun hingga sore hari tak ada kabar. Mungkin mereka sedang lupa, atau datang terlalu 'pagi' ke rumah saya.

Kemarin sore, hujan lebat disertai angin mengguyur kota Jember. Ketika itu di rumah saya sedang ada dua teman dari Balung, Ahmad Hardiansyah dan Pino Syafrizal Iswandi. Tak lama kemudian, Indana Putri Ramadhani juga singgah di rumah. Mereka bertiga adalah teman-teman pencinta alam yang lama sekali tidak singgah ke rumah. Sudah lama kami tidak berjumpa.


Dokumentasi Pribadi, 24 Januari 2015

Saat hujan telah reda, datang Ananda Firma Jauhari, lalu kami makan mie kopyok bersama-sama.

Sekitar pukul lima sore, Pino Syafrizal Iswandi dan Ahmad Hardiansyah pamit, mereka hendak pulang ke Balung, sebuah wilayah di Jember Selatan. Usai maghrib, ada teman lama datang ke rumah, Chris. Ia bersama suaminya dan anak bungsunya, Wisnu. Saya meminta maaf kepada Chris sebab tidak takziyah, ketika Ayah kandungnya meninggal dunia pada hari Jumat, 16 Januari 2015.

Semakin malam, rumah saya semakin ramai. Ada Mas Farid Solana beserta istri, Gamar Tan, ada pula Wisnu Ambon. Kami membicarakan sebuah diskusi yang direncanakan akan dilaksanakan pada 31 Januari 2015 di Kedai Gubug. Waktu itu, di kamar depan juga ada Mungki Krisdianto beserta Ananda Firman Jauhari, tapi mereka keluar duluan. Kata Mungki, ia sedang terburu menjenguk Erwin yang baru saja terjatuh.

Saat Indana telah pulang, Cris sekeluarga pulang, Mas Farid dan Mbak Gamar juga pulang, Faisal datang bersama Nala Pramudya. Kami membicarakan tema yang lain.

Hari yang hore.

24.1.15

Kaos Keos

24.1.15
Sesuai dengan yang disepakati di pertemuan sebelumnya, hari ini kami berkumpul dan membicarakan rencana diskusi yang sedianya akan dilaksanakan pada 31 Januari 2015 di Kedai Gubug Jember. Ada Farid Solana dan Gamar Tan --SOGA Institute-- selaku pelempar ide, ada Wisnu, serta saya dan istri selaku tuan rumah. Selain kami, ada juga teman lama saya, Chris sekeluarga. Ia baru saja berduka, delapan hari yang lalu Ayahnya meninggal dunia.

Sementara itu di kamar depan juga ada Mungki dan Ananda.

"Bagaimana Mas? Apakah sampeyan sudah nembung pemilik Kedai Gubug?" Mas Farid bertanya. Saya mengangguk. Saya memang sudah membicarakan ini bersama Dedi, pemilik Kedai Gubug. Ia sama sekali tidak keberatan jika saya meminjam tempat untuk menggelar diskusi.

Mbak Gamar menyodorkan contoh kupon kepada kami. Sudah ada stempel SOGA Institute di sana, serta tulisan harga, Rp. 10.000,-

Mas Farid juga membawa satu lembar kertas HVS tentang rancangan acara, mulai dari nama event, tujuan, tema, pembicara, hingga anggaran. Di sana tertulis nama event adalah Rembug Komunitas Jember. Sedangkan untuk tujuannya, tertulis; Menjaring aspirasi warga Jember untuk SOGA Institute Open Forum Series.

"Berarti ini diskusi formal ya?"

"Iya Mas, formal tapi santai," jawab Mbak Gamar. Dia melanjutkan, "Kami juga ingin membuatkan kaos untuk panitia, agar mudah membedakan mana yang panitia dan mana yang peserta diskusi."

Saya sedikit terkejut. Sejak mengenal Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan pada 27 hari yang lalu, dengan beberapa kali perjumpaan saja, mereka memang sering melontarkan gagasan kejutan yang acak.

"Bagaimana jika tanpa kaos?"

"Ya jangan lah Mas. Dananya sudah ada kok untuk kaos."

"Akan baik jika dana itu dimasukkan ke bidang lain yang lebih bermanfaat."

Mbak Gamar tetap ingin ada kaos untuk panitia. Setidaknya nanti bisa dijadikan kenang-kenangan jika mereka pernah berproses di sebuah kepanitiaan diskusi. Waktu itu saya mencarikan opsi yang lain. Jika SOGA ingin membuat dokumentasi, bisa dilakukan di sisi yang lain. Misal, mereka bisa mengambil sisi backdrop atau yang lain.

"Bukan masalah itu Mas. Kami hanya ingin membuatkan panitia kaos, itu saja. Bagaimana jika kaos itu hanya di-sablon tulisan 'panitia' saja?"

Mereka memiliki tujuan yang baik, tapi saya berpikir berbeda. Ada dua hal yang saya pikirkan. Pertama, apakah panitia diskusi benar-benar butuh menggunakan kaos bertuliskan panitia? Tentu saya memiliki pandangan yang berbeda, sebab setiap kali mengadakan diskusi bersama teman-teman, kami tidak pernah melakukan itu. Biasanya kita diskusi ya diskusi saja, lebih mengutamakan kacang dibanding kulitnya. Akan lebih bermanfaat jika dana untuk pembuatan kaos tersebut dialihkan ke bidang yang lain. Hal kedua yang menjadi kekhawatiran saya namun terlampau sulit untuk menjelaskannya, bagaimana jika dari urusan kaos saja justru berpotensi menimbulkan fitnah di pandangan orang lain? Namanya juga fitnah, ia mudah sekali diciptakan. Jika itu terjadi, saya tidak sampai hati pada Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan. Niat mereka baik.

Saya menyesal melontarkan renungan kilat di atas. Ketika saya menyampaikannya, mereka menanggapinya dengan intonasi yang tak seperti biasanya.

"Nek sediluk-sediluk dianggep fitnah, sediluk-sediluk dianggep fitnah, kapan majune. Nek ngene carane, tak cancel ae wes acarane kabeh! Rencana diskusi iki karo acara sing tanggal 26 Februari!"

Saya kira, saya kurang pandai memilih kata-kata dan tak cerdas menyampaikannya, hingga Farid Solana menyambar dengan jawaban seperti itu. Istrinya mencoba mencegah Farid dengan mengatakan, "Ya jangan gitu lah Mas... Jangan main cancel saja. Kasihan teman-teman, sudah menghubungi narasumber, nyiapin tempat, kok mau di cancel."

Saya diam sejenak. Begitu pula istri saya. Wisnu yang duduk di sebelah kanan saya juga terlihat diam. Apalagi teman lama saya, Chris beserta suami dan si kecil Mas Nu. Bagaimanapun juga saya adalah tuan rumah. Dan energi negatif ini datang dari pernyataan yang saya lontarkan. Jadi, saya mencoba untuk kembali bicara setenang mungkin, berharap bisa mengembalikan keadaan seperti semula.

Di waktu jeda tersebut, Mungki dan Ananda keluar dari kamar depan lalu berpamitan. Mereka hendak keluar entah kemana. Sekitar satu jam kemudian barulah saya mengerti, Mungki sedang menjenguk temannya yang bernama Erwin, kabarnya dia baru saja jatuh dari motor.

Syukurlah, di menit-menit selanjutnya kondisi semakin membaik. Topik pembicaraan tak lagi fokus pada pra acara. Mereka lebih aktif membicarakan hal yang lain. Hanya saja sebelum mereka pamit undur diri, kami masih menyisakan satu janji. Esok harinya kami berencana berkumpul di rumah Achmad Bahtiar a.k.a Bebeh pukul sebelas siang.

"Bisa kan Mas?" Mbak Gamar bertanya pada kami. Wisnu bilang, "Insya Allah bisa." Saya tersenyum sambil bergumam, semoga bisa bangun pagi.

"Ya harus bisa Mas, ini penting. Kalau Mas Wisnu nggak bisa nanti aku seret." Kami tertawa mendengar ucapan Mbak Gamar.

23.1.15

Kumpulan Pesan dari Hana

23.1.15
Berikut adalah kumpulan pesan pendek dari Hana sejak tanggal 2 Januari hingga 19 Januari 2015, ketika ia melakukan perjalanan dari Jember menuju Purwokerto, lalu ke Jakarta. Kemudian dilanjut dengan pesan-pesan pendeknya selama di Parongpong. Sayang ada beberapa pesan yang terhapus sebab kapasitas telepon genggam milik saya terbilang jadul. Ia tak bisa menyimpan data terlalu banyak.

Ini dia pesan-pesan pendek dari Hana yang berhasil saya catat:

1. Ini sekarang nyampek Sragen. Anak-anak pada kelaparan. Mereka gak bisa ngikutin gaya makanku yang cuma buah, hehe. Nyari maem susah banget. Salam buat yang di sana. 02 Januari 2015 pukul 13.51

2. Nyampek Lempuyangan. Si Hari turun nyari makanan. 02 Januari 2015 pukul 15.15

3. Udah maem. Kenyang banget. Nasi gudeg ayam goreng 10 ribu, beli di Lempuyangan. Sekarang wes nyampek Wates. 02 Januari 2015 pukul 15.48

4. Udah dibalas sama Pungky Mas. Dia hapenya mati. Dia masih perjalanan dari Cilacap. 02 Januari 2015 pukul 16.58

5. Udah dihubungi Pungky. Dikasih alamatnya. Mungkin nunggu sampai Pungky nyampek Purwokerto dulu. 02 Januari 2015 pukul 17.52

6. Masih di Stasiun Sumpiuh, belum nyampek Purwokerto. 02 Januari 2015 pukul 18.00

7. Udah nyampek Purwokerto. Masih nunggu taksi. 02 Januari 2015 pukul 19.30

8. Wes nyampek rumah Pungky. Selonjoran. Ada suaminya Pungky. 02 Januari 2015 pukul 20.00

9. Sudah ada di atas kereta menuju Jakarta. Tadi diantar Pungky dan suaminya naik mobil. 03 Januari 2015 pukul 06.33

10. Ini jalur keretanya gak sama kayak yang mase naik tahun lalu kayaknya. Lewat gunung-gunung dari tadi. Gimana pertemuannya kemarin Mas? 03 Januari 2015 pukul 13.20

11. Aku nyampek di Kiaracondong Bandung. 03 Januari 2015 pukul 13.34

12. Purwakarta Mas. 03 Januari 2015 pukul 15.50

13. Iya Mas. Ntar nek wes nyampek tempatnya Dika tak telepon ya. Odol bukane ikut DIKLATSAR SWAPENKA? Katanya tanggal dua kemarin udah nyampek Jember? 03 Januari 2015 pukul 16.00

14. Udah nyampek kontrakannya Dika. Baruu aja. Anaknya Dika umur 17 bulan bobote 21 kg. Gedhe banget. 03 Januari 2015 pukul 18.37

15. Lagi makan di tempat Mas Imam Shofwan. Tadi pulsa habis. Baru isi. Dika tak ajak. 04 Januari 2015 pukul 20.54

16. Yang ikut wow wow banget. Tadi makannya pake sumpit. Makanan Jepang. Aku diliatin thok sama Banu. Dapat salam dari Mbak Eva. 05 Januari 2015 pukul 15.30

17. Ini lagi ngobrol sama Banu. Dia dibully sama Hari. 05 Januari 2015 pukul 15.43

18. Mase? 06 Januari 2015 pukul 00.20

19. Lanjut sms aja ya Mas. Aku mau telepon di luar rumah biar jelas tapi gak wani metu. Di dalam kamar suarane agak nggema takut anaknya Dika bangun. 06 Januari 2015 pukul 01.27

20. Wah, enak'e. Berarti seminggu ke depan gak boleh makan mie kuah ya. Hehe. Aku tiap hari dimasakin sama Mamak sing ngemong anak'e Dika. Isuk banget wis mateng. Tapi kadang aku gak maem. Mangkane mau pas ngajak arek-arek, Mamak seneng banget. 06 Januari 2015 pukul 01.54

21. Babeh Khorib kayak apa ya orangnya Mas? Aku gak lihat tadi. Itu ruang lantai 1-3 kayak yang gak ada aktifitasnya sehari-hari. Cuma lantai 4 aja tempat Pantau yang rame. 06 Januari 2015 pukul 02.00

22. Oh pos kecil depan halaman itu ya. Tadi kayak yang gak ada orang. Jalan Kebayoran Lama kayak JL. Jawa ya? Padatnya nanggung. Tempat buat pejalan kaki dikit banget. PKL-nya gak beraturan. 06 Januari 2015 pukul 02.12

23. Aku kan ngelilir Mas. Tidur dari jam delapan tadi, hehe. Menurut Mase aku harus gimana ya Sabtu besok? Nginep di tempat Dika atau piye? Nek ada suaminya kan gak enak Mas. Ini kamarnya cuma satu soalnya. Mamak kalau malam tidur di ruang tamu. 06 Januari 2015 pukul 02.18

24. Reni juga tidur di sini Mas. Makanya itu aku kasihan sama Jat. Dika wedine aku gak kerasan nek di tempat Bu Pudji. Aku kan sungkanan. Lihat sikon aja dulu ya. 06 Januari 2015 pukul 02.27

25. Reni empat hari di sini. Aku gak tahu dalam rangka apa. Mase ngantuk? 06 Januari 2015 pukul 02.32

26. Iya, aku butuh baca buku sebenarnya. Ada wifinya gak Mas? 06 Januari 2015 pukul 02.38

27. Iya. Paling nginap di Bu Pudji Mas. Aku ngetwit ngene: Ibu rumah tangga macam aku harus sadar posisi. terlalu muluk ntar malah dianggap aneh. Mantra aku mah apa atuh emang sukses banget. Trus dijawab sama Halim. Ada hal yang tak dimiliki tekstual yaitu ketulusan. Nek gak salah gitu. Coba klik twitku yang itu ntar ada balesannya Halim. Maksudnya kepriye ya? Aku wes gak ol. 06 Januari 2015 pukul 03.58

28. Oh maksudnya Halim gitu ya :) Tadi tak retwit sih. Cuma sing 'nanti pasti orang-orang akan kagum sama kamu' tak hapus. Tadi tak pikir iku tentang hal-hal sing akademis. Trus, sevel itu tempat opo di Jakarta? 06 Januari 2015 pukul 04.12

29. Rencananya Sabtu aku ke Bu Pudji langsungan paling Mas. Habis kelas jam 12 kayaknya. Dari Pantau berapa ya ongkosnya? Terus caranya pesen taksi gimana ya? 06 Januari 2015 pukul 04.25

*
Tak lama kemudian saya menerima telepon dari Hana. Dia bilang, "Mas kayaknya aku nyasar deh."

30. Aku sms-an sama Tia. Pulsaku sampe habis. Dia tanya sepotong-sepotong. Udah tak jelasin sampe lengkap, tanya lagi tanya lagi. 06 Januari 2015 pukul 11.56

31. Ini Mas nomor tokennya. 5124-7491-4712-4929-1516. Mase ngisinya tak pandu dari sini ya. Itu angka ditekan semua. Kalau udah semua, ditekan tombol yang merah. Kalau berhasil nanti ada tulisan BENAR. 08 Januari 2015 pukul 12.37

32. Wew, sama siapa Mase kesana? Aku buatin ide umum dong, buat update status tentang Jember buat nutupin tag foto-foto tadi, hehe. Udah maem Mas? Aku belum bisa ol, anaknya Dika baru bangun. 08 Januari 2015 16.39

33. Masih belum bobok? Aku tadi capek banget. Habis dari Pantau langsung tidur bangun jam sepuluh. Trus ngobrol-ngobrol sama Dika. Baru buka sms. Masih banyak orang di rumah? 09 Januari 2015 pukul 01.18

34. Istirahat aja kalau gitu Mas. Aku tak off juga dari online. Mimik yang banyak ya. 09 Januari 2015 pukul 03.08

35. Ayo diisi dulu perutnya. Rame ya yang tidur depan? Maem dulu di dalam ya Mas. 09 Januari 2015 pukul 03.12

36. Aku lagi sama Mbak Julie ini. 09 Januari 2015 pukul 13.28

37. Ntar ya tak nyari tempat dulu, nanti aku telepon. 09 Januari 2015 pukul 16.55

38. Aku cari tempat ngopi, sampek Pasar Kebayoran lama. Sekalian mau baca buku, hehe. Udah nyampek tempatnya sinyal susah. 09 Januari 2015 pukul 17.33

39. Mau dilanjutin lagi gak teleponnya habis ini? Apa nanti aja? 09 Januari 2015 pukul 19.35

40. Mas, aku dipesenkan tiket kereta sama Mbak Dey yang nyampek Jogja jam tiga dini hari. Tapi turunnya di Stasiun Tugu yang dekat Malioboro. Gimana Mas? 09 Januari 2015 pukul 20.01

41. Gak aktif nomere Mas Fawaz Mas. 09 Januari 2015 pukul 20.02

42. Tadi Mas Enzo juga telepon. Tapi gak keangkat soale pas lagi di jalan. 09 Januari 2015 pukul 20.03

43. Aku tadi ditraktir di restoran seafood sama Mbak Julie. Trus habis itu ditraktir kopi juga. Dia kerjaannya di perusahaan produk-produk bayi gitu. Kayak dot, dll. Cuma dia ini tangan kanannya bos gitu. 09 Januari 2015 pukul 20.12

44. Kok gak aktif Mas? 10 Januari 2015 pukul 01.55

45. Mase, aku ngantuk. Setengah jam dari aku setelah telepon sampean, bojone Dika datang. Aku gak enak. Jadi aku pindah tidur di ruang tamu, bareng sama Mamak. Aku gak bisa tidur sampe pagi. Kelas mulai jam sepuluh, tapi aku berangkat jam delapan pagi tadi. Sekarang aku nunggu Pantau buka, di halte kecil sebelum Pantau. Ngantuk. 10 Januari 2015 pukul 10.01

46. Bentar. Aku disamperin temen dari Palembang. 10 Januari 2015 pukul 09.22

47. Metta Dharmasaputra gak jadi. Sakit. Jadinya nonton film Jalanan. Ngantuk banget. 10 Januari 2015 pukul 13.20

48. Ini masih di Yayasan Pantau. Anak-anak habis ini mau hura-hura. Aku gak ikut. Mau langsung ke Cempaka Putih, ke Bu Pudji. Capek banget. Aku dapat tiket gratis nonton film Tanah Mama. 10 Januari 2015 pukul 13.42

49. Ini aku jalan kaki menuju Stasiun Kebayoran Lama. Aku bikin kopi sampai tiga kali di Pantau. Anak-anak bakar-bakar sama ngebir. Haha. 10 Januari 2015 pukul 14.02

50. Aku di Stasiun Kebayoran Lama ini. Mau naik KRL. 10 Januari 2015 pukul 14.26

51. Aku udah nyampek dari tadi sore. Mau sms gak sempat-sempat. Pas diajak ngobrol terus. Ntar lagi tak telepon. Aku wes di kamar. Tak sholat dulu. 10 Januari 2015 pukul 21.05

52. Lagi jalan mau ketemu Bu Asita. 11 Januari 2015 pukul 10.23

53. Lagi nonton di PIM. Nonton Tanah Mama. Udah 5 watt. Pindah tidur doang akunya. 11 Januari 2015 pukul 14.30

54. Mas, aku baru aja pulang ke tempat Dika. Baru aja nyampek. Pulsaku abis. Mau keluar lagi masih capek banget. Ini udah ketemu Reni juga. Selamat CLBK on air ya. Salam buat semua. 11 Januari 2015 pukul 19.26

55. Makasih banyak Mase. Gak kangen? Di sini rame. Ada Reni juga. Sekarang dimana? Udah maem? 11 Januari 2015 pukul 21.33

56. Mase dimana ini? Kangen lagi. Gak bisa online kayaknya. Banyak barangnya Reni di kamar. Mau buka laptop sempit banget tempatnya. Hehe. 11 Januari 2015 pukul 21.39

57. Lho, maem dulu to Mas. Aku belum bisa ol ya. Capek banget hari ini aku Mas. Hehe. Apa kabar dunia maya? 11 Januari 2015 pukul 21.45

58. Mas, aku tadi tanya tentang Babeh Khorib ke anak Pantau yang namanya Lovina. Dia anak baru. Gak sempat ketemu cuma dengar kabarnya saja. Katanya Babeh Khorib sudah meninggal karena sakit. Tapi dia gak tau gimana detailnya. Besok tak tanyain ke Mbak Eva ya. Aku kaget banget tadi dengarnya. 11 Januari 2015 pukul 21.55

59. Habis sms Mase aku langsung kesirep. Ini baru bangun. Aku nggreges Mas, gak enak badan. 12 Januari 2015 pukul 06.40

60. Selamat bobok. 12 Januari 2015 pukul 06.46

61. Ada Chik Rini. Di kelas Mas Andreas aku ditanyain terus. 12 Januari 2015 pukul 12.40

62. Liatin fb Yayasan Pantau dong. Ada foto-foto baru yang diunggah gak? 12 Januari 2015 pukul 12.42

63. Ada salam dari Kak Ruth. Katanya Mase peserta kelas menulis narasi yang sopan dan ramah. Aku mau diantar ke rumah Babeh Khorib. 12 Januari 2015 pukul 12.47

64. Aku berangkatnya nggreges. Sampek sini keringetan karena sering ditanyain. Gak jadi sakit lah. Padahal di sini hujan. 12 Januari 2015 pukul 12.53

65. Dimana Mas? 12 Januari 2015 pukul 16.55

66. Mikir yang seneng-seneng aja. Mase terlalu mikir yang berat-berat. Nerima tamu sampe tengah malam gitu. Udah capek, cuaca memang lagi gak mendukung. Istirahat yang cukup ya. Nanti malam tak telepon buat obatnya. Aku habis ini mau ketemu Nuran, diajak ngopi. Sekarang badannya gimana? 12 Januari 2015 pukul 17.02

67. Jangan capek-capek ya. Sama siapa ke Kec. Panti? 12 Januari 2015 pukul 17.06

68. Di sini hujan seharian. Ati-ati. Ntar nek wes sampek rumah sms ya. 12 Januari 2015 pukul 17.10

69. Aku mabok :( 12 Januari 2015 pukul 17.42

70. Mase. Aku sudah di kontrakan Dika. Hapeku mati tadi. Berangkatnya aku mabok, akhirnya gak jadi kemana-mana. Akhirnya cua ngopi di kosan Aang aja sambil ngobrol-ngobrol. Lagian pas hujan juga. Masih di Panti? 12 Januari 2015 pukul 22.04

71. Udah, ini lagi ngopi. Tadi ditraktir makan banyak banget. Sekarang ditraktir ngopi. Di ITC Permata Hijau. Aku tinggal jalan aja. Dekat. Mama Ni yang jauh, hehe. Suaminya juga asyik. Mereka pengen banget ke Jember. 13 Januari 2015 pukul 16.25

72. Ndak ini Mas. Aku gak ngisikan pulsa. Mase baru bangun? 13 Januari 2015 pukul 16.27

73. Setengah enam baru pulang. Aku udah nyampek di kontrakan Dika. Udah habis mandi, pake minyak telon, dan sekarang lagi klesotan nemenin Ara nonton tv di kamar. 13 Januari 2015 pukul 18.48

74. Tak tilpun ya. Baru ada gratisan ini. 13 Januari 2015 pukul 18.51

75. Ohya, minum kopi sekarang juga udah ada bayarannya kalau nulis di sana. 100 ribu tp katanya. Kemarin Nuran cuma ngomong ke aku. Suruh nulis lagi. 13 Januari 2015 pukul 19.58

76. Mase lagi ngapain? Aku belum bisa online ngerjakan tugas. 13 Januari 2015 pukul 22.12

77. Okay. 13 Januari 2015 pukul 22.22

78. Ko Heru udah tak telepon 4 kali gak diangkat. Udah tidur kayaknya. 13 Januari 2015 pukul 23.07

79. Pulsa modem yang 20 ribu ya Mas. Buat paketannya. Apa boleh dibayar sepulang dari Jakarta ya? 13 Januari 2015 pukul 23.12

80. Pulsanya belum bisa masuk malam ini ya Mas? 13 Januari 2015 pukul 23.38

81. Aku sekarang online tapi lewat hapenya Dika. Tapi sayang gak bisa dipakai kirim email. 13 Januari 2015 pukul 23.42

82. Maaf aku kesirep. Laptop dah tak matiin. Aku nulisnya udah selesai dari tadi. Cuma belum tak kirim ke Mas Andreas. Gak bisa ngenet. Besok jadi dibangunkan jam berapa? Jadi berangkat untuk ngobrol dengan pihak muspida? 14 Januari 2015 pukul 01.38

83. Lho, mase masih bangun? 14 Januari 2015 pukul 09.45

84. Sudah bangun? 14 Januari 2015 pukul 15.14

85. Tugasku kata Mas Andreas Harsono lebay, haha. Pas ditanyain mana yang lebih menarik, waktu diskusi dan teori, apa waktu pengerjaan tugas dan diskusi tugas? Aku jawabnya waktu pemberian materi dan teori. Yang lain jawabnya waktu pengerjaan PR. Mas Andreas senyum-senyum. 14 Januari 2015 pukul 17.51

86. Ceritanya ntar lewat hape aja ya. Aku barusan diajak ke apartemen Mas Andreas tapi gak mau. Soale perutku sakit banget. Aku menstruasi. Badanku demam. 14 Januari 2015 pukul 18.34

87. Mase gimana? Udah enakan? Di sini adem banget. Udah maem? 14 Januari 2015 pukul 18.53

88. Di rumah ada siapa aja Mas? 14 Januari 2015 pukul 20.36

89. Belum bisa. Ara sik tangi. Iso dibanting ntar laptopnya. Haha. Kenapa Mas? Agak nanti baru bisa ol. 14 Januari 2015 pukul 20.41

90. Yang masalah lomba-lomba itu tah? Aku belum bisa memastikan ketemuan sama Mbak Ing dimana Sabtu besok. 14 Januari 2015 pukul 20.45

91. Aku habis nyuci buanyak. Kayaknya ikut yang Mbak Iyha aja wes. Gak enak. Bunda lahfy juga udah kadung masak banyak. Aku nyeri haid. Sama Mbak Julie juga gak jadi ketemuan lagi. Dia ada meeting. Tapi pengennya besok ketemu. Banu ngajak ketemu di Mas Andreas. Aku gak enak kalau mau ke sana. Ntar pas sakit perut aku gak ada yang kenal. Kalau sama Mbak Iyha kan enak. Gimana menurut Mase? 15 Januari 2015 pukul 13.03

92. Lagi sama Mbak Iyha dan Bunda Lahfy. 15 Januari 2015 pukul 15.26

93. Kenyang. Makan terus. Mase dibelikan sendal sama Mbak Iyha. Nomor 39. Moga-moga cukup ya. 15 Januari 2015 pukul 17.51

94. Ada salam dari Mas Andreas. Dari Mbak Eva dan kak Ruth juga. Ini aku udah di kontrakane Dika. 16 Januari 2015 pukul 17.35

95. Ntar dulu ya Mas ceritanya. Ntar tak telepon. Sik agak repot ini. Hehe. 16 Januari 2015 pukul 17.59

96. Aku ngopi di setarbak sama Mbak Irma Devita dan Khalida. 17 Januari 2015 pukul 08.27

97. Padahal update statusnya udah tak jadwal jam sembilan pagi. Gak keluar ya? Aku udah di atas kereta ini. Tapi keretanya belum berangkat. Dibelikan kaos monas sama Mbak Irma. 17 Januari 2015 pukul 09.57

98. Aku jadwal di hootsuite Mas. Coba lihat. 17 Januari 2015 pukul 10.03

99. Mase cek juga Fanpage-nya Mbak Irma. Panduan Hukum Praktis. Takutnya aku salah posting. 17 Januari 2015 pukul 10.05

100. SMS ke Mas Andreas. Selamat pagi Mas Andreas. Saya sekarang ada di atas kereta api Argo Parahyangan menuju Bandung. Terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan untuk belajar di Kelas Narasi Pantau. Semoga saya tidak mengecewakan. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Salam saya untuk Mbak Sapariah, Norman, Diana, dan Mak Isah. Matur suwun Mas. 17 Januari 2015 pukul 10.26

101. Balesan dari Mas Andreas: Selamat jalan Hana. Semoga lancar. Kami tentu senang sekali Anda bisa ikutan. You are a sweet lady, kata Mbak Arie. 17 Januari 2015 pukul 10.35

102. Udah bareng Mbak Nchie dan Mbak Dey. Di kantor Dewa SEO. 17 Januari 2015 pukul 14.46

103. Masih di seputaran JL. Braga. Foto bangunan-bangunan lama. Habis foto juga di 0 KM Bandung. Sok sejarah banget nih aku. Kangen siapa cobak? 17 Januari 2015 pukul 18.27

104. Adem di sini, di Parongpong. 18 Januari 2015 pukul 05.58

105. Perjalanan ke Garut nih. Duh, seger banget udaranya. Ke sini yuk kapan-kapan. Enak banget suasananya. 18 Januari 2015 pukul 08.12

106. Mas, mintain nomer Emak Elje dong ke Kang Yayat. Aku sms Kang Yayat gak terkirim nih. 18 Januari 2015 pukul 13.20

107. Gak ada Mas kata kang Fikrie. Adanya seputaran Ciamis, Tasik. Di sini gunung dan bukit-bukit biasa, gak ada gumuk. 18 Januari 2015 pukul 13.35

108. Lagi di depan Museum Geologi. Gak tidur, jalan-jalan. Mase gak usah bawa apa-apa. Celana ama kaos aja. Nih baju-bajuku juga udah bersih semua. Kalau mau bawa tas, ada tas natgeo di tas kertas belakang tivi. 18 Januari 2015 pukul 17.41

109. Okay. Pulangnya bawa banyak barang soale, hahaha. 18 Januari 2015 pukul 18.19

110. Salam ya buat semua yang hadir di CLBK on air malam ini. 18 Januari 2015 pukul 20.47

111. Aku gak punya gratisan, pulsaku tinggal 700 rupiah Mamas. Ntar jangan lupa bawa celana pendek, legging, celana panjang yang sobek-sobek, jaket recycle, jaket tebal. Tidur di kereta adem soalnya. Ketemu di Jogja ya. 19 Januari 2015 pukul 00.55

112. Pulsaku nipis. Habis ini dipake sms tinggal 200. Dilanjut besok ya. Ntar pas udah naik kereta sms ya Mas. Mmuach.. 19 Januari 2015 pukul 01.09

113. Aku habis jalan-jalan dari kebun teh. Aduh kok bisa roda keretanya gludug-gludug? Semoga lancar perjalanannya sampai Jogja. 19 Januari 2015 pukul 10.19

114. Jauh Mase. Di sini hujan. Gak bisa kemana-mana. Belum turun ke Bandung juga. 19 Januari 2015 pukul 14.14

115. Aku nanti berangkat jam setengah delapan malam dari Bandung, nyampek Stasiun Tugu jam tiga dini hari. Aku dijemput Mbak Nchie ini. 19 Januari 2015 pukul 14.23

116. Alhamdulillah. Udah sms Pakde Dadi? 19 Januari 2015 pukul 15.12

117. Tadi gak bisa terima telepon. Maaf Mase. Aku tadi pas ditelepon, posisi mau turun ke kota bareng Mbak Nchie naik motor. Ujan deres banget. Kita hujan-hujanan. Soale ngejar turun ke Bandung biar gak kejebak macet. Kalau macet bisa dua jam soale. Hapeku agak eror, habis jatuh pas di kota tua. Sms kadang mati. Sekarang aku lagi ngopi bareng Mbak Nchie. Ini posisi sudah di kawasan Bandung Kota. Aku tadi gak bisa ol. Paringpong ujan deres, listrik sempat mati lama. Maaf kalau sms-nya salah-salah dan gak jelas ya. 19 Januari 2015 pukul 17.06

118. Lho, kemarin Pakde dadi ngomongnya deket sama Lempuyangan. Huhu. Pantesan dia jemputnya lama ya. Tak telepon ya Mas. 19 Januari 2015 pukul 17.10

119. Mase bisa ol gak di sana? Bawaanku nambah buanyak banget. Mbak Nchie bawakan makanan se-kresek. Bingung bawanya nyampe Jogja nanti. Dikasih oleh-oleh kaos sama Mbak Nchie. Aku wes di stasiun ini. 19 Januari 2015 pukul 19.01

120. Udah duduk manis di atas kereta. Di gerbong bisnis kereta api lodaya 1 No. 7A. Siap-siap melepas rindu. Tunggu aku ya. 19 Januari 2015 pukul 19.21
acacicu © 2014