27.1.15

Jember Nezer

27.1.15
Pada 22 Januari 2015 yang lalu, saya dan istri meluncur ke rumah Kang Lozz Akbar di Balung. Hari ini gantian dia yang nyeruput kopi di rumah kami. Kang Lozz tidak sendirian melainkan berdua dengan Supot, kawan muda dari Wuluhan. Senang bercengkerama dengan Kang Lozz, kami mempercandakan banyak hal.

Saya bilang ke Kang Lozz jika malam ini ada janji dengan Mas Ari. Dia bertanya, siapakah Mas Ari? Lalu saya bercerita tentang Mas Ari.

Saya hanya berjumpa satu kali dengan Mas Ari, di tahun 2009. Ketika itu kami sama-sama ada di Desa Gludug, tempat dimana di sana pernah berdiri sebuah sekolah tanpa nama, hingga akhirnya dikenal dengan nama sekolah kampung. Setelah perjumpaan itu, tak ada lagi perjumpaan kedua. Jadi, saya hanya mengerti sedikit tentang Mas Ari.

Selain modal berjumpa satu kali, satu-satunya yang saya tahu tentang Mas Ari, dia adalah seorang pengusaha es di Jember. Nama dagang yang diusung adalah Es Ari. Sederhana. Sosok sederhana inilah yang akan saya pinang sebagai pembicara bidang ekonomi untuk rencana diskusi tanggal 31 Januari 2015.

Pembicaraan saya dan Lozz --tentang Mas Ari-- sempat terhenti sejenak saat Wisnu datang. Ia hendak mengajak Korep ke Banjarsengon sebentar saja. Wisnu kesulitan membawa CPU, jadi butuh bantuan Korep. Tak lama kemudian mereka berangkat, kami melanjutkan pembicaraan. Saat Wisnu dan Korep kembali, kami segera meluncur ke rumah Mas Ari.


Di rumah Mas Ari, 26 Januari 2015

Rumah Mas Ari didominasi oleh bambu. Latarnya yang tak seberapa luas dijejali aneka tanaman. Istri saya senang sekali melihat tata ruang rumah Mas Ari. Ia segera akrab dengan istri Mas Ari, entah mengapa.

"Lho kok iso moro-moro nduwe ide aku dikongkon ngomong nang acara diskusi seh rek. Aku iki cuma wong biasa sing kerjone dodolan es," ucap Mas Ari. Saya bilang pada Mas Ari jika saya pun tak punya jawaban yang pas.

"Ide iku sukur mecothot teko pikiranku Mas, pas wong SOGA njaluk saran pembicara bidang ekonomi."

Mas Ari tertawa heran mendengar penjelasan saya yang sama sekali tidak jelas. Lalu dia meminta saya untuk menceritakan maksud dan tujuan dari diskusi itu sendiri. Ia juga bertanya tentang siapakah SOGA. Dengan senang hati, saya menceritakan kronologi perkenalan saya dengan dua orang suami istri dari SOGA Institute, Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan pada 29 Desember 2014.

"Tentang SOGA sendiri, aku ora ngerti akeh Mas."

Saya ceritakan juga pada Mas Ari tentang kemungkinan acara ini kami teruskan sendiri, mengingat sudah tiga hari ini belum ada kejelasan dan komunikasi dari pihak SOGA. Semisal rencana acara ini kami lanjutkan sendiri karena sudah terlanjur basah, tentu tujuan diskusi bukan lagi menjaring aspirasi warga Jember untuk SOGA Institute Open Forum Series. Tema juga akan berubah meskipun tak jauh-jauh dari ide awal yaitu; Jember Kini dan Nanti. Entah nanti temanya menjadi bagaimana, akan segera kami pikirkan bersama.

"Kalau begitu temanya Jember Kasihan saja."

Kami tertawa mendengar ucapan Mas Ari. Saya bilang padanya untuk memakai bahasa lokal saja, menjadi Jember Nezer. Lozz Akbar, Supot, Wisnu, istri saya, serta istri Mas Ari turut tertawa mendengarnya.

Kira-kira dua jam setelah kami ngobrol ngalor ngidul, datang Cak Dai mengendarai motor barunya yang berwarna putih. Dia baru tiba dari Bangsalsari bersama Ananda Firman dan Mungki. Menyenangkan, dua bakal pembicara diskusi telah ada di satu tempat. Kami semakin nyaman menyampaikan rencana acara.

Semakin larut semakin ramai. Tema pembicaraan juga semakin beragam. Tak terasa, kami baru pamit undur diri dari kediaman Mas Ari saat jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul tiga dini hari.

26.1.15

Sang Legenda

26.1.15

Bersama Eyang Wakidi, 26 Januari 2015

Dibandingkan saat terakhir saya berkunjung, kini Eyang Wakidi semakin kesulitan berkomunikasi. Pendengarannya tak setajam dulu lagi. Ia juga sama sekali tak menyentuh sitternya. Otomatis, para pelanggan Gudeg Lumintu Jember juga kehilangan nada-nada indah darinya.

"Tangane wes ndak kuat maneh Le. Yo sak jeke disrempet motor iku," ujar istrinya yang juga tampak semakin menua. Eyang Sumina mengatakan itu sambil sibuk melayani beberapa santri ponpes Al Mubarrak Kalisat yang sedang membeli gorengan.

Saat saya dan istri pamit pulang, Eyang Sumina membawakan kami bubuk kopi hasil deplok'an sendiri. Ia juga membawakan satu kresek sayur rebung. Tentu kami senang. Mereka pasangan sepuh yang baik.

Saya pernah menuliskan kisahnya di tulisan berjudul; Cara Wakidi Mencintai Siter.

25.1.15

Hari Yang Hore

25.1.15
Hari ini saya ada janji dengan pihak SOGA dan juga Wisnu, seperti yang telah disepakati kemarin malam. Kami akan berkumpul di rumah Achmad Bahtiar pada pukul sebelas siang, membicarakan pra acara diskusi tanggal 31 Januari 2015. Sedianya teman-teman akan berkumpul dahulu di rumah saya. Namun hingga sore hari tak ada kabar. Mungkin mereka sedang lupa, atau datang terlalu 'pagi' ke rumah saya.

Kemarin sore, hujan lebat disertai angin mengguyur kota Jember. Ketika itu di rumah saya sedang ada dua teman dari Balung, Ahmad Hardiansyah dan Pino Syafrizal Iswandi. Tak lama kemudian, Indana Putri Ramadhani juga singgah di rumah. Mereka bertiga adalah teman-teman pencinta alam yang lama sekali tidak singgah ke rumah. Sudah lama kami tidak berjumpa.


Dokumentasi Pribadi, 24 Januari 2015

Saat hujan telah reda, datang Ananda Firma Jauhari, lalu kami makan mie kopyok bersama-sama.

Sekitar pukul lima sore, Pino Syafrizal Iswandi dan Ahmad Hardiansyah pamit, mereka hendak pulang ke Balung, sebuah wilayah di Jember Selatan. Usai maghrib, ada teman lama datang ke rumah, Chris. Ia bersama suaminya dan anak bungsunya, Wisnu. Saya meminta maaf kepada Chris sebab tidak takziyah, ketika Ayah kandungnya meninggal dunia pada hari Jumat, 16 Januari 2015.

Semakin malam, rumah saya semakin ramai. Ada Mas Farid Solana beserta istri, Gamar Tan, ada pula Wisnu Ambon. Kami membicarakan sebuah diskusi yang direncanakan akan dilaksanakan pada 31 Januari 2015 di Kedai Gubug. Waktu itu, di kamar depan juga ada Mungki Krisdianto beserta Ananda Firman Jauhari, tapi mereka keluar duluan. Kata Mungki, ia sedang terburu menjenguk Erwin yang baru saja terjatuh.

Saat Indana telah pulang, Cris sekeluarga pulang, Mas Farid dan Mbak Gamar juga pulang, Faisal datang bersama Nala Pramudya. Kami membicarakan tema yang lain.

Hari yang hore.

24.1.15

Kaos Keos

24.1.15
Sesuai dengan yang disepakati di pertemuan sebelumnya, hari ini kami berkumpul dan membicarakan rencana diskusi yang sedianya akan dilaksanakan pada 31 Januari 2015 di Kedai Gubug Jember. Ada Farid Solana dan Gamar Tan --SOGA Institute-- selaku pelempar ide, ada Wisnu, serta saya dan istri selaku tuan rumah. Selain kami, ada juga teman lama saya, Chris sekeluarga. Ia baru saja berduka, delapan hari yang lalu Ayahnya meninggal dunia.

Sementara itu di kamar depan juga ada Mungki dan Ananda.

"Bagaimana Mas? Apakah sampeyan sudah nembung pemilik Kedai Gubug?" Mas Farid bertanya. Saya mengangguk. Saya memang sudah membicarakan ini bersama Dedi, pemilik Kedai Gubug. Ia sama sekali tidak keberatan jika saya meminjam tempat untuk menggelar diskusi.

Mbak Gamar menyodorkan contoh kupon kepada kami. Sudah ada stempel SOGA Institute di sana, serta tulisan harga, Rp. 10.000,-

Mas Farid juga membawa satu lembar kertas HVS tentang rancangan acara, mulai dari nama event, tujuan, tema, pembicara, hingga anggaran. Di sana tertulis nama event adalah Rembug Komunitas Jember. Sedangkan untuk tujuannya, tertulis; Menjaring aspirasi warga Jember untuk SOGA Institute Open Forum Series.

"Berarti ini diskusi formal ya?"

"Iya Mas, formal tapi santai," jawab Mbak Gamar. Dia melanjutkan, "Kami juga ingin membuatkan kaos untuk panitia, agar mudah membedakan mana yang panitia dan mana yang peserta diskusi."

Saya sedikit terkejut. Sejak mengenal Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan pada 27 hari yang lalu, dengan beberapa kali perjumpaan saja, mereka memang sering melontarkan gagasan kejutan yang acak.

"Bagaimana jika tanpa kaos?"

"Ya jangan lah Mas. Dananya sudah ada kok untuk kaos."

"Akan baik jika dana itu dimasukkan ke bidang lain yang lebih bermanfaat."

Mbak Gamar tetap ingin ada kaos untuk panitia. Setidaknya nanti bisa dijadikan kenang-kenangan jika mereka pernah berproses di sebuah kepanitiaan diskusi. Waktu itu saya mencarikan opsi yang lain. Jika SOGA ingin membuat dokumentasi, bisa dilakukan di sisi yang lain. Misal, mereka bisa mengambil sisi backdrop atau yang lain.

"Bukan masalah itu Mas. Kami hanya ingin membuatkan panitia kaos, itu saja. Bagaimana jika kaos itu hanya di-sablon tulisan 'panitia' saja?"

Mereka memiliki tujuan yang baik, tapi saya berpikir berbeda. Ada dua hal yang saya pikirkan. Pertama, apakah panitia diskusi benar-benar butuh menggunakan kaos bertuliskan panitia? Tentu saya memiliki pandangan yang berbeda, sebab setiap kali mengadakan diskusi bersama teman-teman, kami tidak pernah melakukan itu. Biasanya kita diskusi ya diskusi saja, lebih mengutamakan kacang dibanding kulitnya. Akan lebih bermanfaat jika dana untuk pembuatan kaos tersebut dialihkan ke bidang yang lain. Hal kedua yang menjadi kekhawatiran saya namun terlampau sulit untuk menjelaskannya, bagaimana jika dari urusan kaos saja justru berpotensi menimbulkan fitnah di pandangan orang lain? Namanya juga fitnah, ia mudah sekali diciptakan. Jika itu terjadi, saya tidak sampai hati pada Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan. Niat mereka baik.

Saya menyesal melontarkan renungan kilat di atas. Ketika saya menyampaikannya, mereka menanggapinya dengan intonasi yang tak seperti biasanya.

"Nek sediluk-sediluk dianggep fitnah, sediluk-sediluk dianggep fitnah, kapan majune. Nek ngene carane, tak cancel ae wes acarane kabeh! Rencana diskusi iki karo acara sing tanggal 26 Februari!"

Saya kira, saya kurang pandai memilih kata-kata dan tak cerdas menyampaikannya, hingga Farid Solana menyambar dengan jawaban seperti itu. Istrinya mencoba mencegah Farid dengan mengatakan, "Ya jangan gitu lah Mas... Jangan main cancel saja. Kasihan teman-teman, sudah menghubungi narasumber, nyiapin tempat, kok mau di cancel."

Saya diam sejenak. Begitu pula istri saya. Wisnu yang duduk di sebelah kanan saya juga terlihat diam. Apalagi teman lama saya, Chris beserta suami dan si kecil Mas Nu. Bagaimanapun juga saya adalah tuan rumah. Dan energi negatif ini datang dari pernyataan yang saya lontarkan. Jadi, saya mencoba untuk kembali bicara setenang mungkin, berharap bisa mengembalikan keadaan seperti semula.

Di waktu jeda tersebut, Mungki dan Ananda keluar dari kamar depan lalu berpamitan. Mereka hendak keluar entah kemana. Sekitar satu jam kemudian barulah saya mengerti, Mungki sedang menjenguk temannya yang bernama Erwin, kabarnya dia baru saja jatuh dari motor.

Syukurlah, di menit-menit selanjutnya kondisi semakin membaik. Topik pembicaraan tak lagi fokus pada pra acara. Mereka lebih aktif membicarakan hal yang lain. Hanya saja sebelum mereka pamit undur diri, kami masih menyisakan satu janji. Esok harinya kami berencana berkumpul di rumah Achmad Bahtiar a.k.a Bebeh pukul sebelas siang.

"Bisa kan Mas?" Mbak Gamar bertanya pada kami. Wisnu bilang, "Insya Allah bisa." Saya tersenyum sambil bergumam, semoga bisa bangun pagi.

"Ya harus bisa Mas, ini penting. Kalau Mas Wisnu nggak bisa nanti aku seret." Kami tertawa mendengar ucapan Mbak Gamar.

23.1.15

Kumpulan Pesan dari Hana

23.1.15
Berikut adalah kumpulan pesan pendek dari Hana sejak tanggal 2 Januari hingga 19 Januari 2015, ketika ia melakukan perjalanan dari Jember menuju Purwokerto, lalu ke Jakarta. Kemudian dilanjut dengan pesan-pesan pendeknya selama di Parongpong. Sayang ada beberapa pesan yang terhapus sebab kapasitas telepon genggam milik saya terbilang jadul. Ia tak bisa menyimpan data terlalu banyak.

Ini dia pesan-pesan pendek dari Hana yang berhasil saya catat:

1. Ini sekarang nyampek Sragen. Anak-anak pada kelaparan. Mereka gak bisa ngikutin gaya makanku yang cuma buah, hehe. Nyari maem susah banget. Salam buat yang di sana. 02 Januari 2015 pukul 13.51

2. Nyampek Lempuyangan. Si Hari turun nyari makanan. 02 Januari 2015 pukul 15.15

3. Udah maem. Kenyang banget. Nasi gudeg ayam goreng 10 ribu, beli di Lempuyangan. Sekarang wes nyampek Wates. 02 Januari 2015 pukul 15.48

4. Udah dibalas sama Pungky Mas. Dia hapenya mati. Dia masih perjalanan dari Cilacap. 02 Januari 2015 pukul 16.58

5. Udah dihubungi Pungky. Dikasih alamatnya. Mungkin nunggu sampai Pungky nyampek Purwokerto dulu. 02 Januari 2015 pukul 17.52

6. Masih di Stasiun Sumpiuh, belum nyampek Purwokerto. 02 Januari 2015 pukul 18.00

7. Udah nyampek Purwokerto. Masih nunggu taksi. 02 Januari 2015 pukul 19.30

8. Wes nyampek rumah Pungky. Selonjoran. Ada suaminya Pungky. 02 Januari 2015 pukul 20.00

9. Sudah ada di atas kereta menuju Jakarta. Tadi diantar Pungky dan suaminya naik mobil. 03 Januari 2015 pukul 06.33

10. Ini jalur keretanya gak sama kayak yang mase naik tahun lalu kayaknya. Lewat gunung-gunung dari tadi. Gimana pertemuannya kemarin Mas? 03 Januari 2015 pukul 13.20

11. Aku nyampek di Kiaracondong Bandung. 03 Januari 2015 pukul 13.34

12. Purwakarta Mas. 03 Januari 2015 pukul 15.50

13. Iya Mas. Ntar nek wes nyampek tempatnya Dika tak telepon ya. Odol bukane ikut DIKLATSAR SWAPENKA? Katanya tanggal dua kemarin udah nyampek Jember? 03 Januari 2015 pukul 16.00

14. Udah nyampek kontrakannya Dika. Baruu aja. Anaknya Dika umur 17 bulan bobote 21 kg. Gedhe banget. 03 Januari 2015 pukul 18.37

15. Lagi makan di tempat Mas Imam Shofwan. Tadi pulsa habis. Baru isi. Dika tak ajak. 04 Januari 2015 pukul 20.54

16. Yang ikut wow wow banget. Tadi makannya pake sumpit. Makanan Jepang. Aku diliatin thok sama Banu. Dapat salam dari Mbak Eva. 05 Januari 2015 pukul 15.30

17. Ini lagi ngobrol sama Banu. Dia dibully sama Hari. 05 Januari 2015 pukul 15.43

18. Mase? 06 Januari 2015 pukul 00.20

19. Lanjut sms aja ya Mas. Aku mau telepon di luar rumah biar jelas tapi gak wani metu. Di dalam kamar suarane agak nggema takut anaknya Dika bangun. 06 Januari 2015 pukul 01.27

20. Wah, enak'e. Berarti seminggu ke depan gak boleh makan mie kuah ya. Hehe. Aku tiap hari dimasakin sama Mamak sing ngemong anak'e Dika. Isuk banget wis mateng. Tapi kadang aku gak maem. Mangkane mau pas ngajak arek-arek, Mamak seneng banget. 06 Januari 2015 pukul 01.54

21. Babeh Khorib kayak apa ya orangnya Mas? Aku gak lihat tadi. Itu ruang lantai 1-3 kayak yang gak ada aktifitasnya sehari-hari. Cuma lantai 4 aja tempat Pantau yang rame. 06 Januari 2015 pukul 02.00

22. Oh pos kecil depan halaman itu ya. Tadi kayak yang gak ada orang. Jalan Kebayoran Lama kayak JL. Jawa ya? Padatnya nanggung. Tempat buat pejalan kaki dikit banget. PKL-nya gak beraturan. 06 Januari 2015 pukul 02.12

23. Aku kan ngelilir Mas. Tidur dari jam delapan tadi, hehe. Menurut Mase aku harus gimana ya Sabtu besok? Nginep di tempat Dika atau piye? Nek ada suaminya kan gak enak Mas. Ini kamarnya cuma satu soalnya. Mamak kalau malam tidur di ruang tamu. 06 Januari 2015 pukul 02.18

24. Reni juga tidur di sini Mas. Makanya itu aku kasihan sama Jat. Dika wedine aku gak kerasan nek di tempat Bu Pudji. Aku kan sungkanan. Lihat sikon aja dulu ya. 06 Januari 2015 pukul 02.27

25. Reni empat hari di sini. Aku gak tahu dalam rangka apa. Mase ngantuk? 06 Januari 2015 pukul 02.32

26. Iya, aku butuh baca buku sebenarnya. Ada wifinya gak Mas? 06 Januari 2015 pukul 02.38

27. Iya. Paling nginap di Bu Pudji Mas. Aku ngetwit ngene: Ibu rumah tangga macam aku harus sadar posisi. terlalu muluk ntar malah dianggap aneh. Mantra aku mah apa atuh emang sukses banget. Trus dijawab sama Halim. Ada hal yang tak dimiliki tekstual yaitu ketulusan. Nek gak salah gitu. Coba klik twitku yang itu ntar ada balesannya Halim. Maksudnya kepriye ya? Aku wes gak ol. 06 Januari 2015 pukul 03.58

28. Oh maksudnya Halim gitu ya :) Tadi tak retwit sih. Cuma sing 'nanti pasti orang-orang akan kagum sama kamu' tak hapus. Tadi tak pikir iku tentang hal-hal sing akademis. Trus, sevel itu tempat opo di Jakarta? 06 Januari 2015 pukul 04.12

29. Rencananya Sabtu aku ke Bu Pudji langsungan paling Mas. Habis kelas jam 12 kayaknya. Dari Pantau berapa ya ongkosnya? Terus caranya pesen taksi gimana ya? 06 Januari 2015 pukul 04.25

*
Tak lama kemudian saya menerima telepon dari Hana. Dia bilang, "Mas kayaknya aku nyasar deh."

30. Aku sms-an sama Tia. Pulsaku sampe habis. Dia tanya sepotong-sepotong. Udah tak jelasin sampe lengkap, tanya lagi tanya lagi. 06 Januari 2015 pukul 11.56

31. Ini Mas nomor tokennya. 5124-7491-4712-4929-1516. Mase ngisinya tak pandu dari sini ya. Itu angka ditekan semua. Kalau udah semua, ditekan tombol yang merah. Kalau berhasil nanti ada tulisan BENAR. 08 Januari 2015 pukul 12.37

32. Wew, sama siapa Mase kesana? Aku buatin ide umum dong, buat update status tentang Jember buat nutupin tag foto-foto tadi, hehe. Udah maem Mas? Aku belum bisa ol, anaknya Dika baru bangun. 08 Januari 2015 16.39

33. Masih belum bobok? Aku tadi capek banget. Habis dari Pantau langsung tidur bangun jam sepuluh. Trus ngobrol-ngobrol sama Dika. Baru buka sms. Masih banyak orang di rumah? 09 Januari 2015 pukul 01.18

34. Istirahat aja kalau gitu Mas. Aku tak off juga dari online. Mimik yang banyak ya. 09 Januari 2015 pukul 03.08

35. Ayo diisi dulu perutnya. Rame ya yang tidur depan? Maem dulu di dalam ya Mas. 09 Januari 2015 pukul 03.12

36. Aku lagi sama Mbak Julie ini. 09 Januari 2015 pukul 13.28

37. Ntar ya tak nyari tempat dulu, nanti aku telepon. 09 Januari 2015 pukul 16.55

38. Aku cari tempat ngopi, sampek Pasar Kebayoran lama. Sekalian mau baca buku, hehe. Udah nyampek tempatnya sinyal susah. 09 Januari 2015 pukul 17.33

39. Mau dilanjutin lagi gak teleponnya habis ini? Apa nanti aja? 09 Januari 2015 pukul 19.35

40. Mas, aku dipesenkan tiket kereta sama Mbak Dey yang nyampek Jogja jam tiga dini hari. Tapi turunnya di Stasiun Tugu yang dekat Malioboro. Gimana Mas? 09 Januari 2015 pukul 20.01

41. Gak aktif nomere Mas Fawaz Mas. 09 Januari 2015 pukul 20.02

42. Tadi Mas Enzo juga telepon. Tapi gak keangkat soale pas lagi di jalan. 09 Januari 2015 pukul 20.03

43. Aku tadi ditraktir di restoran seafood sama Mbak Julie. Trus habis itu ditraktir kopi juga. Dia kerjaannya di perusahaan produk-produk bayi gitu. Kayak dot, dll. Cuma dia ini tangan kanannya bos gitu. 09 Januari 2015 pukul 20.12

44. Kok gak aktif Mas? 10 Januari 2015 pukul 01.55

45. Mase, aku ngantuk. Setengah jam dari aku setelah telepon sampean, bojone Dika datang. Aku gak enak. Jadi aku pindah tidur di ruang tamu, bareng sama Mamak. Aku gak bisa tidur sampe pagi. Kelas mulai jam sepuluh, tapi aku berangkat jam delapan pagi tadi. Sekarang aku nunggu Pantau buka, di halte kecil sebelum Pantau. Ngantuk. 10 Januari 2015 pukul 10.01

46. Bentar. Aku disamperin temen dari Palembang. 10 Januari 2015 pukul 09.22

47. Metta Dharmasaputra gak jadi. Sakit. Jadinya nonton film Jalanan. Ngantuk banget. 10 Januari 2015 pukul 13.20

48. Ini masih di Yayasan Pantau. Anak-anak habis ini mau hura-hura. Aku gak ikut. Mau langsung ke Cempaka Putih, ke Bu Pudji. Capek banget. Aku dapat tiket gratis nonton film Tanah Mama. 10 Januari 2015 pukul 13.42

49. Ini aku jalan kaki menuju Stasiun Kebayoran Lama. Aku bikin kopi sampai tiga kali di Pantau. Anak-anak bakar-bakar sama ngebir. Haha. 10 Januari 2015 pukul 14.02

50. Aku di Stasiun Kebayoran Lama ini. Mau naik KRL. 10 Januari 2015 pukul 14.26

51. Aku udah nyampek dari tadi sore. Mau sms gak sempat-sempat. Pas diajak ngobrol terus. Ntar lagi tak telepon. Aku wes di kamar. Tak sholat dulu. 10 Januari 2015 pukul 21.05

52. Lagi jalan mau ketemu Bu Asita. 11 Januari 2015 pukul 10.23

53. Lagi nonton di PIM. Nonton Tanah Mama. Udah 5 watt. Pindah tidur doang akunya. 11 Januari 2015 pukul 14.30

54. Mas, aku baru aja pulang ke tempat Dika. Baru aja nyampek. Pulsaku abis. Mau keluar lagi masih capek banget. Ini udah ketemu Reni juga. Selamat CLBK on air ya. Salam buat semua. 11 Januari 2015 pukul 19.26

55. Makasih banyak Mase. Gak kangen? Di sini rame. Ada Reni juga. Sekarang dimana? Udah maem? 11 Januari 2015 pukul 21.33

56. Mase dimana ini? Kangen lagi. Gak bisa online kayaknya. Banyak barangnya Reni di kamar. Mau buka laptop sempit banget tempatnya. Hehe. 11 Januari 2015 pukul 21.39

57. Lho, maem dulu to Mas. Aku belum bisa ol ya. Capek banget hari ini aku Mas. Hehe. Apa kabar dunia maya? 11 Januari 2015 pukul 21.45

58. Mas, aku tadi tanya tentang Babeh Khorib ke anak Pantau yang namanya Lovina. Dia anak baru. Gak sempat ketemu cuma dengar kabarnya saja. Katanya Babeh Khorib sudah meninggal karena sakit. Tapi dia gak tau gimana detailnya. Besok tak tanyain ke Mbak Eva ya. Aku kaget banget tadi dengarnya. 11 Januari 2015 pukul 21.55

59. Habis sms Mase aku langsung kesirep. Ini baru bangun. Aku nggreges Mas, gak enak badan. 12 Januari 2015 pukul 06.40

60. Selamat bobok. 12 Januari 2015 pukul 06.46

61. Ada Chik Rini. Di kelas Mas Andreas aku ditanyain terus. 12 Januari 2015 pukul 12.40

62. Liatin fb Yayasan Pantau dong. Ada foto-foto baru yang diunggah gak? 12 Januari 2015 pukul 12.42

63. Ada salam dari Kak Ruth. Katanya Mase peserta kelas menulis narasi yang sopan dan ramah. Aku mau diantar ke rumah Babeh Khorib. 12 Januari 2015 pukul 12.47

64. Aku berangkatnya nggreges. Sampek sini keringetan karena sering ditanyain. Gak jadi sakit lah. Padahal di sini hujan. 12 Januari 2015 pukul 12.53

65. Dimana Mas? 12 Januari 2015 pukul 16.55

66. Mikir yang seneng-seneng aja. Mase terlalu mikir yang berat-berat. Nerima tamu sampe tengah malam gitu. Udah capek, cuaca memang lagi gak mendukung. Istirahat yang cukup ya. Nanti malam tak telepon buat obatnya. Aku habis ini mau ketemu Nuran, diajak ngopi. Sekarang badannya gimana? 12 Januari 2015 pukul 17.02

67. Jangan capek-capek ya. Sama siapa ke Kec. Panti? 12 Januari 2015 pukul 17.06

68. Di sini hujan seharian. Ati-ati. Ntar nek wes sampek rumah sms ya. 12 Januari 2015 pukul 17.10

69. Aku mabok :( 12 Januari 2015 pukul 17.42

70. Mase. Aku sudah di kontrakan Dika. Hapeku mati tadi. Berangkatnya aku mabok, akhirnya gak jadi kemana-mana. Akhirnya cua ngopi di kosan Aang aja sambil ngobrol-ngobrol. Lagian pas hujan juga. Masih di Panti? 12 Januari 2015 pukul 22.04

71. Udah, ini lagi ngopi. Tadi ditraktir makan banyak banget. Sekarang ditraktir ngopi. Di ITC Permata Hijau. Aku tinggal jalan aja. Dekat. Mama Ni yang jauh, hehe. Suaminya juga asyik. Mereka pengen banget ke Jember. 13 Januari 2015 pukul 16.25

72. Ndak ini Mas. Aku gak ngisikan pulsa. Mase baru bangun? 13 Januari 2015 pukul 16.27

73. Setengah enam baru pulang. Aku udah nyampek di kontrakan Dika. Udah habis mandi, pake minyak telon, dan sekarang lagi klesotan nemenin Ara nonton tv di kamar. 13 Januari 2015 pukul 18.48

74. Tak tilpun ya. Baru ada gratisan ini. 13 Januari 2015 pukul 18.51

75. Ohya, minum kopi sekarang juga udah ada bayarannya kalau nulis di sana. 100 ribu tp katanya. Kemarin Nuran cuma ngomong ke aku. Suruh nulis lagi. 13 Januari 2015 pukul 19.58

76. Mase lagi ngapain? Aku belum bisa online ngerjakan tugas. 13 Januari 2015 pukul 22.12

77. Okay. 13 Januari 2015 pukul 22.22

78. Ko Heru udah tak telepon 4 kali gak diangkat. Udah tidur kayaknya. 13 Januari 2015 pukul 23.07

79. Pulsa modem yang 20 ribu ya Mas. Buat paketannya. Apa boleh dibayar sepulang dari Jakarta ya? 13 Januari 2015 pukul 23.12

80. Pulsanya belum bisa masuk malam ini ya Mas? 13 Januari 2015 pukul 23.38

81. Aku sekarang online tapi lewat hapenya Dika. Tapi sayang gak bisa dipakai kirim email. 13 Januari 2015 pukul 23.42

82. Maaf aku kesirep. Laptop dah tak matiin. Aku nulisnya udah selesai dari tadi. Cuma belum tak kirim ke Mas Andreas. Gak bisa ngenet. Besok jadi dibangunkan jam berapa? Jadi berangkat untuk ngobrol dengan pihak muspida? 14 Januari 2015 pukul 01.38

83. Lho, mase masih bangun? 14 Januari 2015 pukul 09.45

84. Sudah bangun? 14 Januari 2015 pukul 15.14

85. Tugasku kata Mas Andreas Harsono lebay, haha. Pas ditanyain mana yang lebih menarik, waktu diskusi dan teori, apa waktu pengerjaan tugas dan diskusi tugas? Aku jawabnya waktu pemberian materi dan teori. Yang lain jawabnya waktu pengerjaan PR. Mas Andreas senyum-senyum. 14 Januari 2015 pukul 17.51

86. Ceritanya ntar lewat hape aja ya. Aku barusan diajak ke apartemen Mas Andreas tapi gak mau. Soale perutku sakit banget. Aku menstruasi. Badanku demam. 14 Januari 2015 pukul 18.34

87. Mase gimana? Udah enakan? Di sini adem banget. Udah maem? 14 Januari 2015 pukul 18.53

88. Di rumah ada siapa aja Mas? 14 Januari 2015 pukul 20.36

89. Belum bisa. Ara sik tangi. Iso dibanting ntar laptopnya. Haha. Kenapa Mas? Agak nanti baru bisa ol. 14 Januari 2015 pukul 20.41

90. Yang masalah lomba-lomba itu tah? Aku belum bisa memastikan ketemuan sama Mbak Ing dimana Sabtu besok. 14 Januari 2015 pukul 20.45

91. Aku habis nyuci buanyak. Kayaknya ikut yang Mbak Iyha aja wes. Gak enak. Bunda lahfy juga udah kadung masak banyak. Aku nyeri haid. Sama Mbak Julie juga gak jadi ketemuan lagi. Dia ada meeting. Tapi pengennya besok ketemu. Banu ngajak ketemu di Mas Andreas. Aku gak enak kalau mau ke sana. Ntar pas sakit perut aku gak ada yang kenal. Kalau sama Mbak Iyha kan enak. Gimana menurut Mase? 15 Januari 2015 pukul 13.03

92. Lagi sama Mbak Iyha dan Bunda Lahfy. 15 Januari 2015 pukul 15.26

93. Kenyang. Makan terus. Mase dibelikan sendal sama Mbak Iyha. Nomor 39. Moga-moga cukup ya. 15 Januari 2015 pukul 17.51

94. Ada salam dari Mas Andreas. Dari Mbak Eva dan kak Ruth juga. Ini aku udah di kontrakane Dika. 16 Januari 2015 pukul 17.35

95. Ntar dulu ya Mas ceritanya. Ntar tak telepon. Sik agak repot ini. Hehe. 16 Januari 2015 pukul 17.59

96. Aku ngopi di setarbak sama Mbak Irma Devita dan Khalida. 17 Januari 2015 pukul 08.27

97. Padahal update statusnya udah tak jadwal jam sembilan pagi. Gak keluar ya? Aku udah di atas kereta ini. Tapi keretanya belum berangkat. Dibelikan kaos monas sama Mbak Irma. 17 Januari 2015 pukul 09.57

98. Aku jadwal di hootsuite Mas. Coba lihat. 17 Januari 2015 pukul 10.03

99. Mase cek juga Fanpage-nya Mbak Irma. Panduan Hukum Praktis. Takutnya aku salah posting. 17 Januari 2015 pukul 10.05

100. SMS ke Mas Andreas. Selamat pagi Mas Andreas. Saya sekarang ada di atas kereta api Argo Parahyangan menuju Bandung. Terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan untuk belajar di Kelas Narasi Pantau. Semoga saya tidak mengecewakan. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Salam saya untuk Mbak Sapariah, Norman, Diana, dan Mak Isah. Matur suwun Mas. 17 Januari 2015 pukul 10.26

101. Balesan dari Mas Andreas: Selamat jalan Hana. Semoga lancar. Kami tentu senang sekali Anda bisa ikutan. You are a sweet lady, kata Mbak Arie. 17 Januari 2015 pukul 10.35

102. Udah bareng Mbak Nchie dan Mbak Dey. Di kantor Dewa SEO. 17 Januari 2015 pukul 14.46

103. Masih di seputaran JL. Braga. Foto bangunan-bangunan lama. Habis foto juga di 0 KM Bandung. Sok sejarah banget nih aku. Kangen siapa cobak? 17 Januari 2015 pukul 18.27

104. Adem di sini, di Parongpong. 18 Januari 2015 pukul 05.58

105. Perjalanan ke Garut nih. Duh, seger banget udaranya. Ke sini yuk kapan-kapan. Enak banget suasananya. 18 Januari 2015 pukul 08.12

106. Mas, mintain nomer Emak Elje dong ke Kang Yayat. Aku sms Kang Yayat gak terkirim nih. 18 Januari 2015 pukul 13.20

107. Gak ada Mas kata kang Fikrie. Adanya seputaran Ciamis, Tasik. Di sini gunung dan bukit-bukit biasa, gak ada gumuk. 18 Januari 2015 pukul 13.35

108. Lagi di depan Museum Geologi. Gak tidur, jalan-jalan. Mase gak usah bawa apa-apa. Celana ama kaos aja. Nih baju-bajuku juga udah bersih semua. Kalau mau bawa tas, ada tas natgeo di tas kertas belakang tivi. 18 Januari 2015 pukul 17.41

109. Okay. Pulangnya bawa banyak barang soale, hahaha. 18 Januari 2015 pukul 18.19

110. Salam ya buat semua yang hadir di CLBK on air malam ini. 18 Januari 2015 pukul 20.47

111. Aku gak punya gratisan, pulsaku tinggal 700 rupiah Mamas. Ntar jangan lupa bawa celana pendek, legging, celana panjang yang sobek-sobek, jaket recycle, jaket tebal. Tidur di kereta adem soalnya. Ketemu di Jogja ya. 19 Januari 2015 pukul 00.55

112. Pulsaku nipis. Habis ini dipake sms tinggal 200. Dilanjut besok ya. Ntar pas udah naik kereta sms ya Mas. Mmuach.. 19 Januari 2015 pukul 01.09

113. Aku habis jalan-jalan dari kebun teh. Aduh kok bisa roda keretanya gludug-gludug? Semoga lancar perjalanannya sampai Jogja. 19 Januari 2015 pukul 10.19

114. Jauh Mase. Di sini hujan. Gak bisa kemana-mana. Belum turun ke Bandung juga. 19 Januari 2015 pukul 14.14

115. Aku nanti berangkat jam setengah delapan malam dari Bandung, nyampek Stasiun Tugu jam tiga dini hari. Aku dijemput Mbak Nchie ini. 19 Januari 2015 pukul 14.23

116. Alhamdulillah. Udah sms Pakde Dadi? 19 Januari 2015 pukul 15.12

117. Tadi gak bisa terima telepon. Maaf Mase. Aku tadi pas ditelepon, posisi mau turun ke kota bareng Mbak Nchie naik motor. Ujan deres banget. Kita hujan-hujanan. Soale ngejar turun ke Bandung biar gak kejebak macet. Kalau macet bisa dua jam soale. Hapeku agak eror, habis jatuh pas di kota tua. Sms kadang mati. Sekarang aku lagi ngopi bareng Mbak Nchie. Ini posisi sudah di kawasan Bandung Kota. Aku tadi gak bisa ol. Paringpong ujan deres, listrik sempat mati lama. Maaf kalau sms-nya salah-salah dan gak jelas ya. 19 Januari 2015 pukul 17.06

118. Lho, kemarin Pakde dadi ngomongnya deket sama Lempuyangan. Huhu. Pantesan dia jemputnya lama ya. Tak telepon ya Mas. 19 Januari 2015 pukul 17.10

119. Mase bisa ol gak di sana? Bawaanku nambah buanyak banget. Mbak Nchie bawakan makanan se-kresek. Bingung bawanya nyampe Jogja nanti. Dikasih oleh-oleh kaos sama Mbak Nchie. Aku wes di stasiun ini. 19 Januari 2015 pukul 19.01

120. Udah duduk manis di atas kereta. Di gerbong bisnis kereta api lodaya 1 No. 7A. Siap-siap melepas rindu. Tunggu aku ya. 19 Januari 2015 pukul 19.21

22.1.15

Ide Baru dari SOGA

22.1.15
Kemarin, seturun dari kereta api logawa di Stasiun Jember, kami tidak langsung pulang melainkan singgah dulu di warung kopi depan Pasar Patrang. Mas Ivan dijemput oleh dua orang. Yang pertama keponakannya, si Dewi, lalu Mas Oldies. Dia lebih memilih dibonceng motor oleh Mas Oldies. Saya dan istri dijemput oleh Watu dan Ampar, mereka adalah adik-adik saya di SWAPENKA.

Sebelum meluncur ke warung kopi, saya masih menyempatkan ngobrol bersama teman lama, Iwan namanya. Dia tanya, saya dari mana? Saya bilang jika saya habis dari Jogja, berangkat tanggal 19 Januari yang lalu.

"Aku nyusul bojoku Wan. De'e mari teko Jakarta, budhal tanggal 2 Januari 2015 sampek tanggal 16 Januari. Tanggal pitulase de'e bergeser nang Bandung. Nah wingi iku aku nyusul bojoku, tapi janjian ketemuan nang Jogja."

Usai berbincang dengan Iwan, kami meluncur ke warung kopi yang dimaksud. Warung kopi 'markas' depan Pasar Patrang. Di sana, hal pertama yang saya cari adalah toppas, baru kemudian memesan kopi hitam satu cangkir kecil. Di saat lagi ngopi itulah, saya melihat Mas Farid Solana dan Mbak Gamar sedang berjalan kaki. Mereka memang pasangan yang senang jalan kaki. Keren.

Kami bercakap-cakap. Sesekali Mbak Gamar nggojloki saya, "Cie Mas Hakim sudah ketemuan sama yang dirindukan." Saya tertawa mendengarnya. Dari pertemuan tak sengaja malam kemarin di warung kopi, lahirlah sebuah janji. Besok kami akan kembali bertemu dan membicarakan project acara Talk Show yang tadinya direncanakan tanggal 24 Januari 2015, diundur menjadi tanggal 26 Februari 2015.

Tadi sore mereka memenuhi janjinya untuk berkunjung ke rumah saya. Seperti biasa, Mas Farid dan Mbak Gamar menggunakan busana santai dan berjalan kaki dari belakang Pasar Patrang, kediaman mereka. Wisnu mengerti rencana pertemuan ini, namun ia tidak datang. Ia ada keperluan lain.

DISKUSI: Ide Baru dari Soga Institute

Diskusi kecil ini melahirkan ide baru yang datang dari Mas Farid dan Mbak Gamar, atas nama SOGA Institute tentunya. Mereka ingin ada acara lain sebelum Project Talk Show, yaitu sebuah diskusi. Menurut mereka, akan baik jika sebelum acara inti, ada acara pembuka (diskusi) yang dilaksanakan sebelumnya, dengan mengumpulkan berbagai komunitas di Jember.

Menurut Mas Farid, dari adanya diskusi yang direncanakan tersebut akan memudahkan mereka untuk menjaring aspirasi komunitas-komunitas di Jember yang turut serta, tentang bagaimana pandangan mereka pada Project Talk Show yang akan digelar hari Kamis, 26 Februari 2015, di Gedung Soetardjo Jember. Untuk keperluan tersebut, Mas Farid ingin agar saya membantu mengundangkan aneka komunitas, dengan peserta yang dibidik kurang lebih 50 orang.

Karena Wisnu tidak hadir, saya bertanya pada Mas Farid dan Mbak Gamar, "Apa yang bisa saya bantu?" Mereka butuh saran tempat, saran komunitas, saran pembicara, saran konsumsi, dan beberapa hal lagi. Khusus untuk pembicara, mereka ingin menghadirkan empat orang, masing-masing akan bicara dari sisi Ekonomi, Budaya, Lingkungan, serta Pertanian. Temanya seputar Jember kini dan nanti, dilihat dari empat sisi tersebut.

Tentang Ide Kupon Untuk Konsumsi

Ada ide dari istri saya tentang konsumsi. Karena pihak SOGA bersikukuh ingin ada konsumsi yang layak, Hana bilang, "Bagaimana jika memakai kupon saja? Dulu kawan-kawan Tikungan Jember pernah membuat sebuah acara di Kedai Gubug, para pesertanya masing-masing diberi satu kupon. Nantinya kupon itu bisa ditukar dengan menu yang ada di Kedai, sesuai dengan keinginan mereka dan sesuai dengan kesepakatan harga pada selembar kupon itu. Misalnya, harga per-kupon adalah lima ribu rupiah. Mereka bisa menukar kupon itu dengan menu yang seharga. Jika harganya delapan ribu rupiah, kekurangan yang tiga ribu rupiah harus ditambahkan secara mandiri."

Mbak Gamar menyetujui ide tersebut. Mas Farid dan Mbak Gamar pasangan yang baik, selalu menyetujui ide-ide dari kami.

Menjelang maghrib, perbincangan sempat terputus. Mereka berdua pamit hendak pulang terlebih dahulu. Setelah Isya, Mas Farid kembali lagi tapi sendirian. Katanya, "Bojoku loro datang bulan, dadi ora iso melu."

Saya bilang pada Mas Farid, sebelum dia ke sini, ada Wisnu datang. Tapi dia tidak bisa lama-lama sebab ada janji dengan temannya.

Obrolan kami mengerucut pada teknis diskusi yang idenya baru saya dengar tadi sore. Kami menyepakati bahwa diskusi yang dimaksud akan digelar pada 31 Januari 2015, direncanakan bertempat di Kedai Gubug. Saya sempat bertanya pada Mas Farid, "Iki acarane santai kan?" Dia mengiyakan.

"Bagaimana dengan pembicaranya, Mas? Apakah sampeyan bisa mengusahakan?" tanya Mas Farid.

Saat itu juga saya mengajukan satu nama untuk bicara di bidang lingkungan. Cak Dai. Selang beberapa menit, saya mengirim pesan pada Cak Dai, ternyata ia sedang ada di Situbondo. Lalu kami bicara via telepon. Intinya, Cak Dai bersedia membantu rencana diskusi, sebagai pembicara di bidang lingkungan.

Tiga pembicara lain yang saya ajukan --tapi tidak saya hubungi hari ini-- adalah Mas Ari pengusaha Es Ari di Jember. Saya mengajukan dia sebagai pembicara di bidang ekonomi. Untuk bidang pertanian, saya sebut nama Pak Tris. Yang terakhir, bidang budaya, tiba-tiba saya memikirkan Ustad Taufiq dari Pace. Lalu nama itulah yang saya sebutkan.

Perbincangan malam itu usai dengan melahirkan satu janji yaitu akan ada pertemuan lagi.

18.1.15

Hukuman Seberat-beratnya

18.1.15
Kamu mungkin akan sulit menemukan blog ini mengingat ia telah bermigrasi dari domain berbayar -acacicu.com- ke domain gratisan, kembali ke blogspot. Tapi kamu harus percaya, aku akan tetap menggunakannya bahkan meskipun dalam sepi. Tak ada sedikit saja niat untuk melakukan eksekusi mati alias menghapus acacicu secara permanen.

Tadi pagi, ketika kau sedang bergembira di Parongpong, Bandung Barat, dan sedang bersiap-siap melakukan perjalanan ke Kabupaten Garut bersama Kang Fikri, Mbak Dey, dan Fauzan, di Nusa Kambangan sedang ada pelaksanaan eksekusi mati pada enam narapidana penyalahgunaan narkotika. Mereka adalah Tran Thi Bich Hanh dari Vietnam, Rani Andriani asal Indonesia, Ang Kiem Soei raja ekstasi asal Belanda, Marco Archer Cardoso Moreira Warga Negara Brazil, Namaona Denis dari Malawi, serta Diarrassouba Mamadou dari Nigeria.

Saat eksekusi mati dilaksanakan, aku baru saja beranjak tidur. Semalam aku dan Pije begadang di kediaman Pak Aryo di Kalisat hingga pukul setengah dua dini hari.

Ohya, ada yang ingin aku ceritakan tentang perjalanan semalam, Patrang - Kalisat. Memasuki wilayah Arjasa hingga Sumber Jeruk, jalanan dipenuhi oleh muda mudi yang sedang menikmati sabtu malam. Itu sudah agak larut. Aku dan Pije berangkat dari rumah pukul sepuluh malam. Rata-rata dari mereka membawa tunggangan motor, muda mudi penyuka trek-trekan alias balap motor. Kata Pije, mereka bergeser ke pinggiran sebab di wilayah kota selalu diobrak-abrik oleh petugas. Melintasi jalur Glagahwero, ada seorang lelaki kecil, mungkin berusia 14 tahun, ia sedang menarik-narik gas motornya. Barangkali dia sedang mencoba mesin motor garapan bengkel langganannya. Ia tampak gembira, seperti tidak peduli jika beberapa jam lagi akan ada eksekusi hukuman mati yang sedang disorot dunia Internasional.

Hukuman eksekusi mati mungkin akan mengingatkan orang-orang pada 19 Februari 1949 ketika Tan dieksekusi mati oleh Suradi Tekebek, orang yang diberi tugas Sukoco. Kematiannya tanpa dibikin laporan maupun pemeriksaan lebih lanjut. Dia dimakamkan di tengah hutan dekat markas Sukoco. Atau ia diingat dengan hari yang lain, 12 September 1962, ketika Kartosoewirjo dieksekusi mati di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu. Entah.

Hana, apa yang kau rasakan hari ini?Apakah kau percaya jika hukuan semacam itu bisa memberi dampak jera? Tentu efek jera tidak berlaku pada si pelaku sebab ia telah mati. Bagaimana dengan para pelaku yang lain? Bisa jadi, saat ini mereka sedang tertawa gembira menikmati 'barang' yang dipuja di dunia hitam.

Bagiku, hukuman seberat-beratnya adalah ketika seseorang dijauhkan dari kekasih, dan apa saja yang ia cintai. Jika ini tentang narkoba, eksekusi mati narkobanya, beri kesempatan orangnya untuk melakukan pemulihan, dekatkan dia pada kekasih dan apa saja yang ia cintai, kecuali narkoba.

16.1.15

Masih Tentang Keseharian

16.1.15
Kemarin malam ada Mungki dan Kernet, mereka membawa banyak cerita. Saya membuatkan mereka wedang kopi dalam gelas yang lumayan jumbo agar bisa santrian. Malam sebelumnya saya lewati dengan ngobrol ngalor ngidul bersama Wisnu. Ia membawa contoh kretek herbal rendah nikotin, hasil industri sebuah pesantren di Jember.

Beberapa jam yang lalu --15 Januari 2015, Dodon, Rosidi, dan Kak Dani pamit pulang. Mereka banyak bercerita tentang hal-hal yang terjadi di Perkebunan Sentool dalam sepuluh hari terakhir. Tak lama setelah mereka pulang, gantian Bang Korep yang datang. Kami bercakap-cakap mengenai hal-hal sederhana. Saya berkata ke Bang Korep, tadi banyak kawan-kawan bermain. Ada Mas Donny, Kak Dani datang mulai sore, ada Mas Dedi Supmerah, Arif Sisperpena yang datang untuk membeli kaos Save Gumuk, dan masih beberapa lagi.

Kabar lain datang dari kawan-kawan SAR OPA Jember. Mereka sedang melakukan pencarian seorang survivor yang tenggelam di sebuah sungai arah ke Ajung, Jember. Dari SWAPENKA, yang berangkat si Basori Alwi dan Feri Andika.

Masih di hari yang sama, 15 Januari. Hana menghubungi saya lewat telepon. Ia bercerita tentang hari yang terlewati. Hana berjumpa dengan sahabat blogger, Ami Osar dan Bunda Lahfy. Kata Hana, kini Osar semakin besar dan lincah.

Hari-hari yang indah. Banyak ide datang dan pergi, juga banyak cerita.

12.1.15

Tentang Keseharian

12.1.15

Cangkruk di rumah, 7 Januari 2015

Itu potret lima hari yang lalu, ketika Dedi Supmerah berkunjung ke rumah. Ia membawa kaos SAVE GUMUK bikinan sendiri, warna hitam. Sesuai perbincangan sebelumnya, laba kaos akan didonasikan ke rekening SAVE GUMUK. Dedi cuma bikin 15 kaos, dengan ukuran L sejumlah 13, sisanya ukuran S. Dijual dengan harga 80 ribu, 15 ribu untuk SAVE GUMUK, 5 ribu untuk yang jualan, sisanya dikembalikan ke Dedi.

Rumah semakin ramai setelah Wisnu datang, menyusul kemudian Kernet dan Mungki. Siang itu kami membicarakan tentang kondisi Jember dari hari ke hari. Rumah pertokoan semakin semarak, bahkan Hotel Seroja juga disulap menjadi ruko. Gumuk-gumuk bertumbangan, seakan ingin bersaing dengan spanduk Pilkada Jember 2015. Belum lagi tentang terjadinya bencana longsor di wilayah Perkebunan Sentool milik Pusat Koperasi A Dam V Brawijaya.

Kata Kernet, jika kita melihat Jember dan lingkungannya, terdapat tiga bagian yang menyertainya; relatif, penting, dan genting. Saat ini kondisi lingkungan di Jember terbilang genting, harus ada yang kita lakukan. Dalam bahasa medis, dikenal istilah periculum in mora. Akan berbahaya jika ditunda. Saat seru-serunya ngobrol, Mungki nyeletuk, "Iki mari wes sing dadi Bupati Jember." Dia mengatakan itu sambil menyebut nama seseorang, kemudian dilanjut dengan menyeruput kopi buatan Korep.

Donny datang, dia membawakan dua buku. Negarakertagama dan bukunya Gus Mus yang judulnya; Gus Dur Garis Miring PKB. Dia ikut nimbrung bersama kami, sambil sesekali menghisap kretek merek Aroma.

Namanya juga cangkruk'an, tentu kami lentur dalam berganti tema. Obrolan yang kadang meloncat-loncat. Dari Dedi saya jadi mengerti, hari itu juga (pagi) Jember kedatangan tamu dari Jakarta. Mereka adalah orang-orang KPK yang hendak melakukan pemeriksaan, entah kepada siapa. Dedi bilang, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui kedatangan mereka.

"Koen kok ngerti Ded?"

"Iya, aku tadi ketemu orang di warung kopi. Dia yang cerita, sambil memperlihatkan surat undangan rapat bersama KPK."

Di pagi yang sama, 7 Januari 2015, Bupati Jember MZA. Djalal sedang melakukan peninjauan bencana longsor di Perkebunan Sentool. Dia dan rekan-rekannya menunggangi motor trail. Ketika itu, seorang rekan bernama Yon juga sedang ada di tempat yang sama. Kata Yon, dia sempat berjumpa dengan rombongan bupati. Saat Yon lewat, mereka sedang memarkir motor-motornya di pelataran warung sate di Sentool.

Hingga adzan maghrib, beberapa kawan masih bertahan untuk cangkruk di rumah. Mereka sholat di kamar depan yang selama ini didiami Korep. Menjelang malam, saya masih berdiskusi. Teman-teman datang dan pergi silih berganti, hingga saya lupa untuk mencatat nama-nama mereka di sini.

Saya beranjak leyeh-leyeh ketika hari sudah larut, bahkan mungkin sudah dini hari. Esoknya Rosidi kirim pesan pendek lewat telepon genggam. Dia menanyakan posisi saya. Saat membaca pesan itu, di rumah telah ada beberapa orang termasuk Mungki, Kernet, Korep, serta Cak Nur. Ada juga Deny dan Tejo. Mereka berdua hanya sebentar singgah di rumah. Katanya, mereka habis dari Kecamatan Panti melihat longsoran di wilayah Perkebunan Sentool.

Rosidi datang, dia tidak sendirian melainkan bersama Tanjung dan Denny Sukma, Komandan SAR OPA yang baru. Mereka telah melakukan pemetaan di jalur retakan di Panti, lalu turun ke sekret Akasia FH Universitas Jember, baru kemudian datang ke rumah. Tak berselang lama, Dodon menyusul. Dari mereka, saya banyak mendapatkan informasi tentang kejadian longsor itu.

Rosidi dan Dodon istirahat di rumah sedari tanggal 8 Januari 2015 malam hari hingga 10 Januari siang. Mereka seperti sedang melakukan karantina mandiri, agar rasa lelah jiwa raga selama melakukan pemetaan jalur siaga bencana, lekas pulih.

Malam hari, 10 Januari 2015 sekitar pukul 22.00, Dodon menghubungi saya lewat telepon genggam. Dia bilang, di wilayah Perkebunan Sentool siaga bencana. Hujan deras. Masyarakat yang ada di zona merah (sejumlah 84 KK) dianjurkan untuk mengungsi.

Kemarin, ketika saya sedang ada di studio RRI (berencana hendak mengisi acara CLBK on air namun tidak jadi), Dodon kembali memberi kabar. Dia bilang, "Ada musibah, seorang pengunjung yang ingin tahu kondisi longsoran, ia terjatuh di jalur itu." Dodon mengetahuinya dari warga setempat. Kisah dari Dodon mengingatkan saya pada sebuah artikel yang ditulis oleh Mas Djuni Pristiyanto, berjudul; PANGGUNG HAJATAN BENCANA NASIONAL. Ia berkisah tentang 5 Januari 2006, ketika SBY (Presiden saat itu) mendatangi lokasi Banjir Bandang Panti.

Saya mencatat ini hanya agar tidak lupa. Tentang hari-hari penuh diskusi, tentang sekilas kejadian longsor di Perkebunan Sentool, dan tentang suasana hangat selama cangkruk'an di lorong rumah kami. Selama hari-hari yang terlewat itu, badan saya sedang drop. Kata Cak Oyong, mungkin saya kurang darah. Hari ini, sore, ia beserta istri dan si kecil Al menjenguk saya di rumah sambil membawakan sekotak susu dan sebungkus roti. Pertemanan yang hangat, terima kasih.

11.1.15

Rencana Pameran Dalam Rangka Membantu Teman

11.1.15
Berikut ini adalah dokumentasi pesan singkat saya via inbox Facebook kepada seorang fotografer yang tinggal di Jember. Ia bernama Jhon R. Tambunan. Saya biasa memanggilnya Bang Jhon. Dalam keterangan inbox, tertulis jejak bahwa pesan-pesan ini saya tuliskan pada 11 Januari 2015 dimulai pukul 01.23 dini hari dan berakhir pada pukul 01.43 WIB.

Saya: Bang Jhon

Bang Jhon: Dalemmm mas Hakim...

Saya: Hehehe... sehat Bang?

Bang Jhon: Sehat mas...

ada yang bisa saya bantu mas?

Saya: Ada Bang.

Bang Jhon: apakah gerangan mas?

Saya: Akan ada acara Bang, tanggal 26 Februari 2015. Bertempat di Gedung Soetardjo. Kami ingin Bang Jhon beserta sedulur JPG memamerkan karya-karyanya.

Untuk lebih lanjut nanti saya atau Bebeh akan menjelaskannya di dunia perkopian.

Bang Jhon: sambil menunggu mas Bebeh

mungkin info awal dari mas Hakim

Saya: Siap Bang!

Bang Jhon: acara apakah gerangan mas?

Saya: Begini Bang Jhon. Ada dua teman namanya Farid Solana dan Gamar Tan. Mereka sepasang suami istri yang mendirikan soga-institut sejak Januari 2014. Kata Wisnu, SOGA itu singkatan dari nama mereka berdua, Solana dan Gamar. Mereka hendak bikin Project Talk Show Ekonomi Outlook 2015.

Dihadirkan beberapa pembicara. Ini sebenarnya baru launch pada 3 Februari Bang, dan disebarkan di sosmed pada hari yang sama. Itu kata Farid Solana dan Gamar.

Bang Jhon: Menyimak. Iya Mas.

Saya: Nah, acaranya akan dilaksanakan pada 26 Februari 2015 pukul 8 pagi hingga 3 sore. Ada dua sesi undangan. Sesi pertama pagi hingga sore, lebih banyak bicara tentang ekonomi menghadapi 2015. Peserta boleh ikut dua sesi. Karena acara panjang, akan ada beberapa performance. Akan baik jika di depan Gedung Soetardjo (tempat nanti kondisional, terserah Abang juga) ada semacam pameran fotografi tentang Jember. Lebih baik lagi jika tema fotografi berhubungan dengan bidang ekonomi.

Perform pertama/pembuka sepertinya Jember Marching Band, untuk menyambut Jusuf Kalla. Ia datang hanya sebagai pembuka acara. Setidaknya itu yang kemarin saya dengar dari mereka berdua, Mas Farid dan Mbak Gamar.

Perform terakhir barangkali hanya ada Sujiwo Tejo. Dia bicara sekaligus perform/mungkin nyanyi. Sesi dua memang lebih banyak bicara seputar budaya. Nah di sela-sela itu kan mereka bisa melihat-lihat hasil karya Abang.

Bang Jhon: Pameran foto kah mas?

foto tentang sosial ekonomi Jember?

Saya: Nggih leres

Bang Jhon: leres itu apa mas? hahahaha....

Saya: Iya benar. Bahasa Jawa kromo inggil itu Bang, haha..

Bang Jhon: oke mas...

tawarannya menarik.

ini saya personal atau komunitas JPG mas?

Saya: Kalau personal cukup ya Bang? Saya tidak tahu gimana enaknya, personal apa JPG. Terserah Abang sajalah, ntar ngobrol sama Kang Bebeh. Bagian saya sebenarnya lain. Sound system dan yang ngubungi Abang, itu sebenere tugasnya Bebeh. Tata panggung Yongki Loho, Logo Mas Mungki, dll. Sesuai yang disepakati pada pertemuan sebelumnya, kami hanya membantu mereka di bidang teknis, Bang.

Sekalian hitung-hitungan masalah apa saja yang dibutuhkan. Nanti akan saya sediakan tenda dari merdeka. Kata Bebeh, warna tenda (besar) yang pas untuk foto itu putih. Nanti diobrolin lagi ya Bang Jhon.

Saya: Dan saya tidak tahu mengenai apa saja yang harus dipersiapkan?

Bang Jhon: Kalau untuk persiapan pameran, kami paham apa yang diperlukan.

hanya saja mungkin harus 'cari stock foto' untuk teman sosial ekonomi Jember mas.

Besok akan saya diskusikan dengan teman komunitas ya mas.

dengan harapan agar lebih banyak stock foto yang bisa dikurasi untuk ditampilkan...

Saya: Makasih ya Bang Jhon

Bang Jhon: Siap mas...

besok dah kalo ketemu mas Bebeh akan saya diskusikan mas.

Saya: Makasih Bang. Silahkan dilanjut aktifitasnya.

5.1.15

Tuan Hana

5.1.15
Hai Tuan Hana, bagaimana kabarmu? Ini hari kelima aku menjalani hidup Do it yourself ala Caca Handika. Hari-hariku keren hanya karena berhasil memerintah diri sendiri untuk melangkahkan kaki ke dapur lalu membuat kopi. Ketika rasa kopinya tak nyaman, tak ada tempat untuk berkeluh kesah. Tak ada wajah mungil yang bisa aku sulap menjadi seraut wajah yang marah. Aku merindukan ekspresi wajahmu yang tampak lucu ketika sedang menahan emosi.

Tuan, aku kira semangat indie dalam kalimat Do it yourself bukan berarti kita tak membutuhkan orang lain. Bolehlah jika dibilang itu hanya pembenaran, hanya sepandai kita bicara. Terserah dan tergantung dari mana kita memandangnya.

Hari ini, tiba-tiba aku merindukan blog acacicu. Ia adalah sebuah blog personal dimana aku bisa menuliskan segala hal, tak peduli tema, hanya tentu saja tetap menimbang sisi kepantasan. Ia pula blog yang memperkenalkan aku dengan banyak sekali blogger-blogger Nusantara. Aku merindukannya, namun domain dotkom pada acacicu telah non-aktif sejak 21 September 2014. Lalu aku menghubungi Kang Lozz, meminta bantuannya untuk hijrah domain dari dotkom kembali ke fasilitas gratisan. Do it yourself? Ahaha, syukurlah kita diciptakan sebagai mahluk sosial.

acacicu.blogspot.com

Kini acacicu telah kembali di pelukan. Ia tampil keren dengan embel-embel blogspot di belakangnya. Tunggulah, mungkin aku akan menuliskan sesuatu untukmu, Tuan Juwita malam. Atau aku hanya akan menceritakan hari-hariku yang hore tanpamu. Selamat malam, Tuan!

4.1.15

Cerita dari Kawan

4.1.15
Dua malam yang lalu ada kawan lama datang berkunjung, namanya Zulfikar Rahmat. Sudah lama kami tak berjumpa, tepatnya sejak dia memutuskan untuk bekerja di sebuah Madrasah-Pesantren di Bekasi pada Februari tahun lalu. Zulfikar, ia banyak bercerita tentang kesehariannya, tentang bagaimana sebaiknya sebuah sistem pendidikan, juga tentang nostalgia Diklatsar PA.


Foto di atas dijepret pada 30 Januari 2014 pukul 20:18. Saat itu Zulfikar (paling kiri dan berkacamata) sengaja datang ke rumah saya untuk berpamitan, esok paginya ia akan berangkat menuju Bekasi untuk mengajar di Madrasah-Pesantren. Di waktu yang sama, kawan-kawan Pencinta Alam SWAPENKA sedang melaksanakan aplikasi lapang DIKLATSAR di areal Taman Nasional Meru Betiri.

Selanjutnya.

Semalam, kawan lain datang ke rumah. Yongky namanya. Sampai hari ini ia masih konsentrasi mempelajari filsafat di Jogja. Bersama Yongky, kami banyak berbincang tentang sejarah kota-kota yang ada di wilayah Mantan Karesidenan Besuki, juga mendebat kata pedhalungan/pendalungan/pandalungan.

Hari sudah larut malam ketika Yongky pulang. Tak sampai satu jam kemudian, dini hari, ada kawan lain yang datang untuk menginap. Namanya Imam Taufiq, dia dari Banyuwangi.

"Sekalian pamitan Mas, aku siap-siap budhal nang Taiwan," begitu kata Imam.

Melalui salah satu PJTKI, Imam terdaftar sebagai CTKI untuk job konstruksi di Taiwan. Untuk keperluan itu, dia harus mengeluarkan uang sejumlah 22 juta rupiah, belum termasuk biaya lain-lain. Harapannya, itu bisa tertutupi oleh gaji per bulan, jika dirupiahkan sekitar 7 juta rupiah. Sebagai pembantu umum bidang konstruksi, Imam juga berpeluang untuk ambil lembur.

Imam telah lulus tes, telah pula tanda tangan kontrak untuk bekerja selama tiga tahun di Taiwan. Dia hanya sedang menunggu giliran pemberangkatan.

Dari Imam saya jadi tahu jika calon pekerja konstruksi yang akan ditempatkan di Taiwan diharuskan melewati sistem Diklatsar selama 4 hari. Instrukturnya dari Angkatan Darat, bertempat di markas mereka. Rambut harus dipotong pendek ala militer, ada latihan baris berbaris, harus bangun jam lima pagi, senam, antri makan, waktu makan dibatasi, tidur juga diatur (mereka tidur di barak tentara), dan ada sangsi di setiap kesalahan. Ada juga jurit di malam terakhir, paginya dijemur di lapangan hingga pukul tiga sore. Istirahat hanya pada jam makan siang. Setiap hari ada materi, terlambat satu menit harus siap-siap push-up. Sangsi paling berat adalah tentang meremehkan waktu dan tentang etika.

Kawan-kawan, terima kasih. Masing-masing dari kalian memiliki kisah yang keren.

2.1.15

Rahul dan Anjali

2.1.15
Tadi, pagi-pagi sekali, gerimis menyapa Jember. Hanya sedikit kendaraan yang melintasi jalanan. Beberapa dari mereka hendak pergi ke pasar tradisional. Saya menebaknya dari hasil bumi yang mereka bawa.

Saya mengarahkan kemudi motor ke arah stasiun kereta api Jember, mengantar istri. Dia hendak naik kereta Logawa dengan tujuan akhir Purwokerto. Sepanjang jalan kami nikmati dengan saling bercerita. Tiba di daerah Pagah, ada sebuah mobil pickup warna hitam yang melaju kencang. Kiranya sopir tak peduli dengan keberadaan rumble strips dan lebih peduli pada paket lombok yang harus segera tiba di tujuan.

"Gradag-gradag!"
Tak selamanya rumble strips bisa menahan laju kendaraan menjadi 35-45 kilometer per jam. Saya dan istri terkejut, lalu kami tertawa bersama.

Ketika sampai di stasiun, motor yang kami kendarai tidak boleh masuk areal parkir. Kata Abang becak yang ada di gerbang, ini peraturan baru. Hanya mobil yang bisa masuk. Sedangkan untuk motor, areal parkir berpindah di seberang stasiun.

Mendekati pukul lima pagi, Hana sudah melintasi peron stasiun. Kereta Logawa siap mengantarkannya untuk bertemu dengan Pungky. Saya menghidupkan mesin motor, bersiap-siap pulang. Maksud hati ingin melambaikan tangan pada Hana ketika kereta telah beranjak, seperti saat Rahul mengantarkan Anjali, tetapi tidak bisa.

Cerita yang lain: Project Talk Show Economy Outlook

Sore harinya, saya meluncur ke Macapat Cafe, ada janji dengan Wisnu dan dua temannya; Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan. Ternyata ketika saya telah sampai di Macapat, Wisnu masih perjalanan dari Garahan. Dia sempat menelepon saya, bertanya apakah saya mau dibawakan pecel Garahan? Tentu saja saya mau. Pecel Garahan memiliki pelepah dan sayur yang khas, sulit untuk menolaknya. Achmad Bahtiar yang biasa dipanggil Bebeh, ia juga telah merapat di Macapat.

"Wingenane tanggal 29 Desember bengi, bojone Bro telepon aku. De'e bicara tentang ide koncone Wisnu Ambon, jare arep ngadakne Talk Show tentang Ekonomi Outlook nang Jember. Tak takoni, sopo jenenge koncone Wisnu? Jare Prit, Farid Solana. Terus aku takon maneh, Farid Solana kentang tah? Iyo jarene. Oalah, iku ngono koncoku sekola."

Kami tertawa bersama-sama. Ternyata Farid Solana adalah teman baik Bebeh satu sekolah di SMP Negeri 2 Jember, dan di SMA Negeri 1 Jember. Obrolan selanjutnya lebih banyak bercanda daripada serius. Bebeh tampak senang bisa nggojloki teman lamanya.

"Farid iki wingi dadi tim sukses Capres nomor siji Bro. Akeh duite de'e haha."

Saya turut tertawa, menertawakan cara Bebeh tertawa. Kegembiraan yang alami dan apa adanya. Tidak dibuat-buat. Sebelumnya, Mas Farid pernah bekerja di salah satu perusahaan besar di Indonesia. Ia juga pernah berproses di dunia jurnalisme profesional selama satu tahun.

"Dadi jurnalis ojok suwi-suwi Beh, setaon thok wes cukup. Sing penting kene wes nduwe relasi," kata Mas Farid pada Bebeh.Guyon-guyon itu sempat terhenti manakala Wisnu datang. Benar juga, dia membawa beberapa bungkus pecel pincuk Garahan.

Ada kabar segar mengenai Project Talk Show yang direncanakan bakal digelar pada 24 Januari 2015. Rupanya terjadi perubahan waktu. Kata Mbak Gamar Tan, ketika mereka akan melakukan pembayaran sewa Gedung Soetardjo untuk 24 Januari 2015, pihak Universitas Jember bertanya seputar acara, serta siapa saja pembicaranya. Saat mendengar bahwa acara itu direncanakan hendak mengundang beberapa tokoh Nasional, pihak Universitas Jember memberikan daya tawar. Bagaimana jika mereka dilibatkan dengan cara menyertakan logo Universitas, pidato pembukaan oleh Rektor Universitas Jember dimasukkan dalam daftar acara, serta memundurkan jadwal acara menjadi tanggal 26 Februari 2015. Alasannya, selama bulan Januari mahasiswa Universitas Jember masih libur, sayang sekali jika mereka tidak bisa mengikuti acara ini. Jika daya tawar tersebut diterima oleh Mas Farid dan Mbak Gamar, maka penggunaan Gedung Soetardjo tidak perlu uang pembayaran sejumlah sembilan juta rupiah alias gratis.

Mereka mengiyakan bargaining dari pihak Universitas Jember. Itu yang saya dengar dari Mbak Gamar. Barangkali Mas Farid dan Mbak Gamar memperhitungkan waktu aktif para mahasiswa.

Saat sedang enak-enaknya ngobrol, pikiran saya menerawang pada tema yang lain. Ibaratnya Rahul, saya sedang memikirkan Anjali. Duh!
acacicu © 2014