4.1.15

Cerita dari Kawan

4.1.15
Dua malam yang lalu ada kawan lama datang berkunjung, namanya Zulfikar Rahmat. Sudah lama kami tak berjumpa, tepatnya sejak dia memutuskan untuk bekerja di sebuah Madrasah-Pesantren di Bekasi pada Februari tahun lalu. Zulfikar, ia banyak bercerita tentang kesehariannya, tentang bagaimana sebaiknya sebuah sistem pendidikan, juga tentang nostalgia Diklatsar PA.


Foto di atas dijepret pada 30 Januari 2014 pukul 20:18. Saat itu Zulfikar (paling kiri dan berkacamata) sengaja datang ke rumah saya untuk berpamitan, esok paginya ia akan berangkat menuju Bekasi untuk mengajar di Madrasah-Pesantren. Di waktu yang sama, kawan-kawan Pencinta Alam SWAPENKA sedang melaksanakan aplikasi lapang DIKLATSAR di areal Taman Nasional Meru Betiri.

Selanjutnya.

Semalam, kawan lain datang ke rumah. Yongky namanya. Sampai hari ini ia masih konsentrasi mempelajari filsafat di Jogja. Bersama Yongky, kami banyak berbincang tentang sejarah kota-kota yang ada di wilayah Mantan Karesidenan Besuki, juga mendebat kata pedhalungan/pendalungan/pandalungan.

Hari sudah larut malam ketika Yongky pulang. Tak sampai satu jam kemudian, dini hari, ada kawan lain yang datang untuk menginap. Namanya Imam Taufiq, dia dari Banyuwangi.

"Sekalian pamitan Mas, aku siap-siap budhal nang Taiwan," begitu kata Imam.

Melalui salah satu PJTKI, Imam terdaftar sebagai CTKI untuk job konstruksi di Taiwan. Untuk keperluan itu, dia harus mengeluarkan uang sejumlah 22 juta rupiah, belum termasuk biaya lain-lain. Harapannya, itu bisa tertutupi oleh gaji per bulan, jika dirupiahkan sekitar 7 juta rupiah. Sebagai pembantu umum bidang konstruksi, Imam juga berpeluang untuk ambil lembur.

Imam telah lulus tes, telah pula tanda tangan kontrak untuk bekerja selama tiga tahun di Taiwan. Dia hanya sedang menunggu giliran pemberangkatan.

Dari Imam saya jadi tahu jika calon pekerja konstruksi yang akan ditempatkan di Taiwan diharuskan melewati sistem Diklatsar selama 4 hari. Instrukturnya dari Angkatan Darat, bertempat di markas mereka. Rambut harus dipotong pendek ala militer, ada latihan baris berbaris, harus bangun jam lima pagi, senam, antri makan, waktu makan dibatasi, tidur juga diatur (mereka tidur di barak tentara), dan ada sangsi di setiap kesalahan. Ada juga jurit di malam terakhir, paginya dijemur di lapangan hingga pukul tiga sore. Istirahat hanya pada jam makan siang. Setiap hari ada materi, terlambat satu menit harus siap-siap push-up. Sangsi paling berat adalah tentang meremehkan waktu dan tentang etika.

Kawan-kawan, terima kasih. Masing-masing dari kalian memiliki kisah yang keren.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

acacicu © 2014