24.1.15

Kaos Keos

24.1.15
Sesuai dengan yang disepakati di pertemuan sebelumnya, hari ini kami berkumpul dan membicarakan rencana diskusi yang sedianya akan dilaksanakan pada 31 Januari 2015 di Kedai Gubug Jember. Ada Farid Solana dan Gamar Tan --SOGA Institute-- selaku pelempar ide, ada Wisnu, serta saya dan istri selaku tuan rumah. Selain kami, ada juga teman lama saya, Chris sekeluarga. Ia baru saja berduka, delapan hari yang lalu Ayahnya meninggal dunia.

Sementara itu di kamar depan juga ada Mungki dan Ananda.

"Bagaimana Mas? Apakah sampeyan sudah nembung pemilik Kedai Gubug?" Mas Farid bertanya. Saya mengangguk. Saya memang sudah membicarakan ini bersama Dedi, pemilik Kedai Gubug. Ia sama sekali tidak keberatan jika saya meminjam tempat untuk menggelar diskusi.

Mbak Gamar menyodorkan contoh kupon kepada kami. Sudah ada stempel SOGA Institute di sana, serta tulisan harga, Rp. 10.000,-

Mas Farid juga membawa satu lembar kertas HVS tentang rancangan acara, mulai dari nama event, tujuan, tema, pembicara, hingga anggaran. Di sana tertulis nama event adalah Rembug Komunitas Jember. Sedangkan untuk tujuannya, tertulis; Menjaring aspirasi warga Jember untuk SOGA Institute Open Forum Series.

"Berarti ini diskusi formal ya?"

"Iya Mas, formal tapi santai," jawab Mbak Gamar. Dia melanjutkan, "Kami juga ingin membuatkan kaos untuk panitia, agar mudah membedakan mana yang panitia dan mana yang peserta diskusi."

Saya sedikit terkejut. Sejak mengenal Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan pada 27 hari yang lalu, dengan beberapa kali perjumpaan saja, mereka memang sering melontarkan gagasan kejutan yang acak.

"Bagaimana jika tanpa kaos?"

"Ya jangan lah Mas. Dananya sudah ada kok untuk kaos."

"Akan baik jika dana itu dimasukkan ke bidang lain yang lebih bermanfaat."

Mbak Gamar tetap ingin ada kaos untuk panitia. Setidaknya nanti bisa dijadikan kenang-kenangan jika mereka pernah berproses di sebuah kepanitiaan diskusi. Waktu itu saya mencarikan opsi yang lain. Jika SOGA ingin membuat dokumentasi, bisa dilakukan di sisi yang lain. Misal, mereka bisa mengambil sisi backdrop atau yang lain.

"Bukan masalah itu Mas. Kami hanya ingin membuatkan panitia kaos, itu saja. Bagaimana jika kaos itu hanya di-sablon tulisan 'panitia' saja?"

Mereka memiliki tujuan yang baik, tapi saya berpikir berbeda. Ada dua hal yang saya pikirkan. Pertama, apakah panitia diskusi benar-benar butuh menggunakan kaos bertuliskan panitia? Tentu saya memiliki pandangan yang berbeda, sebab setiap kali mengadakan diskusi bersama teman-teman, kami tidak pernah melakukan itu. Biasanya kita diskusi ya diskusi saja, lebih mengutamakan kacang dibanding kulitnya. Akan lebih bermanfaat jika dana untuk pembuatan kaos tersebut dialihkan ke bidang yang lain. Hal kedua yang menjadi kekhawatiran saya namun terlampau sulit untuk menjelaskannya, bagaimana jika dari urusan kaos saja justru berpotensi menimbulkan fitnah di pandangan orang lain? Namanya juga fitnah, ia mudah sekali diciptakan. Jika itu terjadi, saya tidak sampai hati pada Mas Farid Solana dan Mbak Gamar Tan. Niat mereka baik.

Saya menyesal melontarkan renungan kilat di atas. Ketika saya menyampaikannya, mereka menanggapinya dengan intonasi yang tak seperti biasanya.

"Nek sediluk-sediluk dianggep fitnah, sediluk-sediluk dianggep fitnah, kapan majune. Nek ngene carane, tak cancel ae wes acarane kabeh! Rencana diskusi iki karo acara sing tanggal 26 Februari!"

Saya kira, saya kurang pandai memilih kata-kata dan tak cerdas menyampaikannya, hingga Farid Solana menyambar dengan jawaban seperti itu. Istrinya mencoba mencegah Farid dengan mengatakan, "Ya jangan gitu lah Mas... Jangan main cancel saja. Kasihan teman-teman, sudah menghubungi narasumber, nyiapin tempat, kok mau di cancel."

Saya diam sejenak. Begitu pula istri saya. Wisnu yang duduk di sebelah kanan saya juga terlihat diam. Apalagi teman lama saya, Chris beserta suami dan si kecil Mas Nu. Bagaimanapun juga saya adalah tuan rumah. Dan energi negatif ini datang dari pernyataan yang saya lontarkan. Jadi, saya mencoba untuk kembali bicara setenang mungkin, berharap bisa mengembalikan keadaan seperti semula.

Di waktu jeda tersebut, Mungki dan Ananda keluar dari kamar depan lalu berpamitan. Mereka hendak keluar entah kemana. Sekitar satu jam kemudian barulah saya mengerti, Mungki sedang menjenguk temannya yang bernama Erwin, kabarnya dia baru saja jatuh dari motor.

Syukurlah, di menit-menit selanjutnya kondisi semakin membaik. Topik pembicaraan tak lagi fokus pada pra acara. Mereka lebih aktif membicarakan hal yang lain. Hanya saja sebelum mereka pamit undur diri, kami masih menyisakan satu janji. Esok harinya kami berencana berkumpul di rumah Achmad Bahtiar a.k.a Bebeh pukul sebelas siang.

"Bisa kan Mas?" Mbak Gamar bertanya pada kami. Wisnu bilang, "Insya Allah bisa." Saya tersenyum sambil bergumam, semoga bisa bangun pagi.

"Ya harus bisa Mas, ini penting. Kalau Mas Wisnu nggak bisa nanti aku seret." Kami tertawa mendengar ucapan Mbak Gamar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

acacicu © 2014