27.4.15

Hari-hari di Jalan Kartini

27.4.15
Kalian takkan terlupa, tak tergantikan. Kalau kata Kang Rofik, ini bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, yang datang pertama, atau yang paling perhatian. Tapi tentang siapa yang datang dan tidak pergi.

Di sini udaranya segar. Jika malam telah tiba, hawa dingin mulai menyusup di sela-sela rumah kontrakan. Hampir di setiap sisi dinding memiliki jendela, khas rumah era 1930an. Lantai tidak mengenakan ubin, hanya semen biasa, namun terlihat nglenyer. Sore hari, jendela-jendela itu harus segera ditutup agar malam harinya hawa dingin tak terlalu menusuk tulang.

Teman, aku sering menghabiskan waktu di teras rumah sambil membawa cangkir seng berisi wedang kopi hasil deplokan warga desa Ajung kecamatan Kalisat kabupaten Jember. Sembari bersantai, aku mengingatmu. Ingat ketika dulu kita pernah menggebu-gebu membicarakan sebuah ide. Iya, aku masih mengingatnya. Tentang gagasan membuat kampung sendiri, dimana tak ada lagi sampah dan kebohongan. Betapa idealnya. Nanda bilang, idealisme itu selalu kecil, sama seperti jumlah pejuang yang selalu sedikit, dari masa ke masa.




Tentang ide mencari rumah kontrakan, sebenarnya itu sudah aku pikirkan sejak lima tahun yang lalu. Di bulan April ini aku menggairahkan ide itu lagi. Seorang rekan bernama Ivan turut membantu mencarikan sebuah rumah yang tepat untuk dijadikan ruang menulis, perpustakaan kecil, dan nyaman untuk menjaring ide. Mulanya kami ke rumah Pak Nurus --seorang guru Matematika di Kalisat-- untuk nembung lokasi lahannya di Sumbersalak. Sayang di sana masih belum didirikan padepokan untuk tempat inap.

"Laopo adoh-adoh nggolek panggon sampek nang Sumbersalak? Iku lho, nang mburian enek omah gak dipanggoni. Nek awakmu gelem, mengko tak bantu nembung," kata Ibu Sulasmini, Ibunya Ivan.

"Rumahnya dikasihkan." Itu bunyi sms dari Ivan yang ia kirimkan pada 15 April 2015 pukul setengah sembilan pagi. Pesan pendek ini membuat wajah istriku -Zuhana Anibuddin Zuhro-- berseri-seri. Laki-laki mana yang tak bahagia memandang rona merah wajah cintanya?

Cerita selanjutnya mudah ditebak. Aku menemui Mbak Kus, ahli waris rumah yang hendak aku kontrak. Tentu saja sebelum ke sana, Ibu Sulasmini sudah lebih dahulu nembung perihal kontrak rumah. Pada 17 April 2015 malam hari, aku sudah diantar teman-teman Kalisat nongkrong di teras rumah ini. Esok malamnya, kami mengulangnya kembali. Baru pada 19 April 2015 Ivan dan teman-teman membantu boyongan beberapa barang rumah tangga dan juga buku-buku.

Hari-hari di Jalan Kartini

Malam hari, 20 April 2015

Untuk pertama kalinya aku dan istri bermalam di rumah kontrakan. Dimulai dengan selamatan --dzikir, ngaji yasin, dan doa bersama-- yang dihadiri oleh Pak RW Lima lingkungan desa Ajung yaitu Pak Safrawi, Pak Sarijo selaku pemimpin selamatan, Pak Nikmat, dan beberapa teman. Acara selanjutnya giliran Ibu-ibu setempat yang memainkan musik samrah dengan mengenakan baju seragam pengajian. Aku menuliskan itu semua di sebuah artikel berjudul; Malam Pertama di Rumah Kontrakan.

Ketika pertama kali menginap, banyak teman yang menemani. Mereka juga turut menginap. Ada Lukman, Agil, Arik Mergenk, Izzet, Wahyu Budi, Sefi, odong, dan Kernet. Teman-teman yang lain, meski tak turut menginap namun menemani jagongan hingga larut malam. Misalnya, si Niko. Ketika akan pulang, Niko merengek minta ditemani sampai ia keluar dari mulut gang.

Esok harinya, 21 April 2015

Pagi pertama aku nikmati dengan sebenar-benarnya. Hal yang sama dilakukan oleh Prit. Mata ini lapar untuk melihat dedaunan dan hamparan benih jagung yang mulai bertumbuh. Telinga terasa bahagia mendengar suara-suara khas milik sang pagi. Ketika ada yang berjalan di depan rumah, kami saling bertukar senyum. Prit tentu saja senang. Ia berseri. Ini pagi pertamanya menyapu pelataran rumah kontrakan dengan sapu lidi. Nyapu perdana. Aku dan Kernet senang melihat Prit bergembira dengan aktivitas barunya.

Ketika sore tiba, Arik Mergenk mengajakku nonton pertandingan sepak bola. Hari ini Agil merumput sebagai kapten kesebelasan Putra Nusantara --klub sepak bola desa kami-- melawan kesebelasan Jember Junior. Tentu aku tak ingin melewatkan pertandingan ini. Kami berangkat berlima; Aku, Ivan, Erik, Izzet, dan Fitrah.

Ada kabar baik dari cucu Sroedji, namanya Irma Devita. Ia mengirimkan pesan pendek.

"Mas Hakim.. Ada kabar membahagiakan. Rekomendasi Pak Gubernur Jatim sudah turun hari ini dan sedang dalam proses disposisi ke Pusat. Begitupun, perjuangan masih panjang. Mohon doanya ya Mas."

Selepas Maghrib ada pengajian Bapak-bapak di lingkungan RT Dua RW Lima desa Ajung, bertempat di kediaman Ivan/Ibu Sulasmini. Ini pengajian perdana untukku. Dari pertemuan pertama, barulah aku mengerti jika pengajian mingguan ini --setiap Selasa malam Rabu-- ada iuran 3000 rupiah per-minggu, serta iuran Kifayah sebesar 500 rupiah per-bulan, dihitung untuk tiap-tiap jiwa. Jadi jika di KK ada lima orang, iuran Kifayahnya per-bulan adalah 2500 rupiah.

Usai pengajian, aku tidak segera pulang. Prit ada di belakang, membantu Ibu Sulasmini di dapur. Aku masih ngobrol-ngobrol dulu dengan Pak RT Dua, namanya Pak Hadi, Ayahnya Agil.

Di luar sana, orang-orang sedang sibuk menyegarkan kembali ingatan kita tentang perjuangan seorang Raden Ajeng Kartini.

Rabu, 22 April 2015

Tidak seperti biasanya, kali ini istriku memperingati Hari Bumi dengan cara yang berbeda. Ia mencuci segala perabotan dapur, banyak sekali. Tentu saja aku membantu dengan riang. Baju kami basah karena terlalu banyak bercanda. Hari Bumi yang sunyi namun indah.

Hari ini kami kedatangan banyak tamu.

Setelah Maghrib, untuk pertama kalinya Prit mengikuti pengajian Ibu-ibu, bertempat di kediaman Ibu Mina, tepat di belakang rumah Ibu Sulasmini. Ada iuran juga, per-minggu 3000 rupiah.

Kata seorang teman di Kalisat, "Wah Masbro dan Mbak Prit ngepot. Tanggal 20 April slametan, besoknya Masbro ikut pengajian, besoknya lagi giliran Mbak Prit yang ikut pengajian."

Kamis, 23 April 2015

Pagi hari, Cak Har telah ada di depan pintu. Ia membawa tiga bungkus nasi untuk dirinya sendiri, untukku dan untuk Prit. Alangkah nikmatnya sarapan bersama Cak Har, sahabat lama dari desa Sumberjeruk-Kalisat. Malam harinya ia datang lagi, tidak sendirian melainkan bersama istri dan si kecil Catherine. Suasana kontrakan di malam hari selalu ramai. Prit meracik kopi dengan bahagia.

Siang harinya..

Rencananya aku dan teman-teman hendak ke desa Sukosari. Aku ingin melihat keberadaan batuan Dolmen. Warga setempat di desa Sukosari kecamatan Sukowono lebih mengenalnya dengan nama batu Bujuk Srino. Tempatnya memang di dusun Srino. Mas Opik, Sekdes Sukosari, rencananya hendak mengantarkan kami. Sayang sekali, kami urung ke sana. Kami menghabiskan waktu di teras rumah sambil menikmati wedang kopi.

Siang harinya kami kedatangan tamu, mereka adalah Duhita Hastungkara dan Aji, perwakilan dari AKBER Jember. Aji bilang, Akademi Berbagi Jember berencana hendak mengadakan diskusi penulisan sejarah kota, direncanakan akan digelar pada bulan Mei. Senang mendengarnya. Aku janjikan untuk membantu semampunya.

Hari yang indah, teman-teman datang dan pergi.

Jumat, 24 April 2015

Aku dan Prit pulang ke rumah Patrang. Aldin menyambut dengan senyum rindu,khas seorang bocah. Bapak terlihat senang. Sekitar dua jam kami di rumah, kemudian kembali ke kontrakan.

Di rumah kontrakan telah ada Mas Opik dan Mas Tapa, serta beberapa orang lagi. Mereka melakukan sesuatu untuk kami; menyempurnakan pintu kamar (sebelumnya di kamar ini tidak berpintu, lalu seorang teman muda bernama Sefi memasangkan pintu untuk kami, namun masih terlalu banyak celah) dengan lonjoran kayu penutup celah dan sticker iklan sebuah rokok yang sengaja dipasang terbalik. Mas Opik mengerjakan ini sepenuh hati. Ia dan Mas Tapa juga membetulkan lemari kayu yang tadinya mangkrak di sudut dapur. Tulus! Tak akan aku lupakan kebaikan-kebaikan itu.

Ada kabar baik. Hari ini pihak Telkom Speedy --melalui Mas Pri atau kadang dipanggil Mul, pegawai PT Wredatama Tiga Pilar-- menjawab keinginan kami. Alhamdulillah, speedy telah terpasang di rumah kontrakan. Semoga memberi manfaat.

Sore. Ada Idur datang membawa dua tikar pandan untuk keluarga kami. Alhamdulillah.

Malam harinya teman-teman berkumpul. Ada Erfan, teman lama dari desa Kalisat yang bekerja di Perhutani. Dengannya aku jarang berjumpa. Senang sekali ketika Erfan datang berkunjung.

Sabtu, 25 April 2015

Seperti pagi-pagi yang lain, pagi di sini selalu indah. Ada percakapan, secangkir kopi, dan sinar mentari. Sementara itu, Ivan dan Yoyon telah bersiap-siap hendak berangkat ke Gunung Ijen. Mereka akan mengantarkan kawan-kawan dari SMA 10 November Kalisat, tamasya paska Ujian Nasional. Mereka berangkat sekitar pukul sepuluh pagi.

Sore hari, untuk pertama kalinya Nyek singgah di kontrakan kami. Sudah lama aku tak berjumpa dengan Nyek. Di sore yang sama, aku dan istri keluar ke tempat Agoy untuk membeli beras merek padi udang. Kami membeli yang ukuran lima kilogram seharga 51 ribu rupiah. Sepulang dari sana aku mengarahkan motor ke rumah Oldies. Sudah lama tak berjumpa dengan Ayah dan Ibu Oldies. Dulu yang mengenalkan kami adalah Ivan. Senang sekali bisa berjumpa dengan mereka.

Malam Minggu di Kalisat.

Jalanan tampak ramai oleh muda-mudi. Mereka nongkrong di tepi jalan, tak jauh dari motor-motor yang sengaja diparkir berjajar. Kami berlima --Aku, Prit, Kernet, Lukman, dan Niko-- berjalan kaki menikmati pemandangan itu dengan lambat. Mengambil jalur memutar hingga tembus JL. Stasiun, kemudian singgah di Kedai milik Frans, pemuda desa Glagahwero. Pulang dari Kedai, kami singgah di rumah Arik Mergenk. Ia dan dua temannya sedang sibuk packing. Rupanya mereka hendak berangkat ke Gunung Rinjani --esok harinya. Sore, 26 April 2015.

Minggu, 26 April 2015

Di depan rumah kontrakan kami ada sembilan petak sawah. Semuanya ditanami jagung. Kini benih jagung itu sudah setinggi 20-30 cm. Hari ini jadwal 'arao.' Setelah arao, semua buruh tani berkumpul di teras rumah kontrakan. Keluarga Pak Hadi --selaku penyewa petak-petak sawah itu-- membawa makanan dengan rantang untuk makanan para pekerja. Tentu saja aku ikut di dalamnya, turut makan bersama-sama. Alangkah nikmatnya sarapan bersama mereka.

Nasi kuning buatan istri Mas Supri --tetangga sebelah-- aku makan siang harinya. Ia memang berjualan aneka lauk pauk, setiap hari. Istimewa untuk Minggu pagi, ia menjual menu khusus; nasi kuning. Para pelanggannya selalu setia menanti nasi kuning di Minggu pagi.

Siang hari, hujan membasahi tlatah Kalisat. Aku memandang butir-butir air hujan sambil sesekali menyeruput kopi. Kadang aku selingi dengan membaca sesuatu.

Selepas Dhuhur Ivan dan Yoyon datang dari Gunung Ijen. Sore harinya giliran Arik Mergenk dan rekan-rekannya yang bertolak ke Lombok, mereka hendak mendaki Gunung Rinjani.

SISKAMLING Perdana di RT Dua RW Lima desa Ajung-Kalisat

Kalimat di atas sengaja aku pertebal, hanya agar memberi efek psikologis dan sebagai pengingat bahwa itu penting. Aku akan mengenangnya. Melakukan Siskamling di Minggu malam hingga Senin dini hari.

Jadwal piket untuk Minggu malam adalah Pak Hadi --selaku Ketua RT Dua lingkungan Krajan desa Ajung, Mas Joko Purnomo, Mas Supri tetangga sebelah, Mas Tapa, Mas Ivan Bajil, serta aku sendiri. Kami berenam berkeliling kampung, dengan teritorial hanya di wilayah RT Dua saja. Sesekali memukul-mukulkan batu pada tiang listrik hingga merobek kesunyian malam. Mirip zaman ninja 1998-1999 dulu.

"Ini Siskamling perdana di masa jabatan saya sebagai RT, Masbro." Begitu kata Pak Hadi. Ia bilang, sudah lama sekali tak ada piket jaga malam.

Ketika istirahat di teras kontrakan, Prit membuatkan kami secangkir kopi dan satu mug teh panas. Lalu kami berbincang ringan. Timbul ide untuk menyegarkan kembali sistem jimpitan untuk mengumpulkan dana kolektif warga RT Dua.

Kami menyudahi ronda malam saat ayam jantan mulai banyak yang berkokok. Aku tiba di kontrakan pukul 03.33 dini hari. Kalender telah berganti pada hari Senin, 27 April 2015. Di kontrakan ada si Odong. Ia sengaja aku mintai tolong untuk menginap.

Meski semalaman begadang hingga ayam jantan berkokok, hari ini aku tetap bangun pagi. Ketika keluar dari kamar, di ruang tengah telah ada Odong, Prit, dan Mas Pri a.k.a Mul. Ia membantu Prit membetulkan DNS Speedy dan Proxy. Semalam memang ada masalah koneksi, atas keteledoran kami sendiri.

Tak lama kemudian datanglah Mas Opik. Ia mengenakan seragam Korpri warna coklat dan bersongkok. Menyusul kemudian Ivan dan beberapa warga setempat. Mas Sam datang sambil menenteng senapan angin. Ia memang dikenal suka berburu. Prit membuatkan kami kopi untuk menyambut pagi. Ia terpaksa menumpang menanak air di dapur keluarga Supri --tetangga sebelah-- sebab tabung elpiji tiga kilogram di dapur kami telah habis. Aku dan Odong keluar ke toko pracangan milik keluarga Pak Faroz untuk membeli tabung gas.

Kalian takkan terlupa dan tak tergantikan

Teman, hari ini genap satu Minggu aku dan istri tinggal di rumah kontrakan, JL. Kartini Nomor 28 Kalisat. Kami memiliki kisah-kisah baru di lingkungan yang juga baru. Tentu tak semuanya terceritakan di sini. Ini hanya buih-buih yang mampu aku ingat.

Waktu terus berjalan, kita pun berubah di dalamnya. Kau dan aku tidak bisa memaksa untuk tetap menjadi kanak-kanak, misalnya. Sebab detik terus berdetak menuai usia. Semua orang lahir, berproses, menikmati hidup, selesai, lalu dilupakan. Kamu hanya harus percaya jika aku tak akan mampu untuk melupakanmu.

Kamu, kamu, dan kamu. Kalian takkan terlupa, tak tergantikan.

Teman, ulurkan tanganmu. Mari saling memejamkan mata kemudian menciptakan ruang imajinasi, seolah kita saling berjabat erat. Aku tak akan bosan mendoakan yang terbaik untukmu. Sebab aku tahu, kamu juga melakukan hal yang sama untukku.

Teman, terima kasih. Sampaikan salamku untuk orang-orang tercinta di sekitarmu.

26.4.15

Malam Pertama di Rumah Kontrakan

26.4.15

Malam pertama di rumah kontrakan, 20 April 2015

Sesungguhnya kami tidak tahu harus mempersiapkan apa untuk acara selamatan di rumah kontrakan, 20 April 2015. Kata Ibu Sulasmini, "Gak usah mikiri suguhane, mengko Ibuk sing nggawekne." Ia juga bilang akan membuatkan kami nasi rosul. Kami juga mendengar kabar dari Mas Ivan, putra bungsu Ibu Sulasmini --dari delapan bersaudara-- jika yang diundang hanya empat orang saja. Mereka akan ngaji surat Yasin lalu berdoa bersama. Manalah kami duga jika yang datang di malam itu sungguh di luar perkiraan.

Teman-teman dari SWAPENKA juga ada yang hadir di acara selamatan. Ada Bang Korep, Adek Jukok, Licin, Bintarum, dan beberapa lagi. Ada juga Mungki Krisdianto Tamasya Band. Mas Ari juga datang di acara doa bersama ini.


Paling kiri sendiri adalah Adek Jukok

Mas Opik --tokoh penggerak Badut Community Kalisat-- banyak membantu saya sejak hari pertama dan hari-hari berikutnya. Sore menjelang selamatan, ia datang membawa tulisan 'Kari Kecingkul' berbahan dasar gabus yang dicat warna-warni. Malam harinya, saat suasana telah santai, saya, Prit, Mas Opik, dan teman-teman Badut Community melakukan foto bersama di bawah tulisan Kari Kecingkul.



Kejutan, begitu kata Mas Ivan. Iya benar, saya dan Prit sungguh terkejut dengan semua itu. Apalagi ketika acara ngaji dan doa bersama telah usai, masih ada kloter kedua, yaitu datangnya rombongan Ibu-ibu warga setempat. Mereka mengenakan seragam pengajian lengkap dengan peralatan musih Samrah. Ketika itu Mas Opik tiba-tiba berperan sebagai MC, lalu ia menyarankan agar saya memperkenalkan diri di depan Ibu-ibu.


Saya sedang memperkenalkan diri

Malam pertama di rumah kontrakan --di JL. Kartini 28 desa Ajung kecamatan Kalisat, Jember-- begitu manis, banyak kejutan, dan membahagiakan. Bapak saya hadir di acara ini, begitu juga dengan Kakak perempuan saya. Ia datang bersama suami --Mas Rahman-- dan si tampan Aldin. Indah. Kami memiliki tetangga-tetangga yang baik. Meskipun suguhannya harus dilakukan dalam dua tahap sebab tahap kedua masih harus menunggu nasi ditanak, namun tetap saja itu malam yang indah.

Mbak Dey sekeluarga serta para sahabat blogger, terima kasih atas doanya. Singgahlah di rumah kontrakan kami di Kalisat. Nanti Anda akan saya kenalkan pada para tetangga yang baik hati.

20.4.15

Doakan Kami

20.4.15
Kemarin siang, Mas Ivan dan beberapa teman Kalisat ke rumah saya --di Patrang-- dengan membawa mobil Mitsubishi L300. Mereka membantu saya dan Prit mengangkut barang-barang menuju rumah kontrakan. Tak lama kemudian, mobil pick-up warna hitam itu didominasi oleh setumpuk buku. Tak lupa kami angkut juga peralatan dapur, beberapa baju, serta barang remeh temeh lainnya. Saya cangking pula sepeda BMX kesayangan.

Adalah Indana Putri Ramadhani yang membantu Prit mengepak barang-barang, sedari pagi. Ia juga turut ke rumah kontrakan di Kalisat, membantu merapikan buku-buku.

Sore hari, sesaat sebelum hujan turun membasahi tanah pekarangan rumah kontrakan, ada serombongan teman datang. Mereka muda-mudi Kalisat yang baru turun dari Gunung Ijen. Ada Fia, Anief, Febri, Fanggi, Odong, dan Lukman. Wajah-wajah itu tampak lelah, sayang sekali keadaan di kontrakan masih amburadul, jadi mereka cuma bisa merebah di atas karpet.

Saya dan Prit pulang larut malam. Selama begadang di kontrakan, teman-teman Kalisat menemani kami. Mereka tampak asyik bermain domino, ada juga yang nongkrong di emperan depan. Niko dan Izzet tak henti-hentinya bersilat lidah dengan Arik Mergenk. Mereka bermain domino dengan ceria.

Nanti malam akan ada slametan, doa bersama. Ibu Sulasmini, perempuan yang senang memanggil kami Nak, ia membuatkan sego rosul, nasi berkat, dan urap-urap. Katanya, kami tidak perlu khawatir tentang biaya sebab ia memang ingin membuatkan itu semua. Prit terharu, begitu pula saya.

Doakan kami.

17.4.15

Rumah Bercat Putih itu Menghadap ke Selatan

17.4.15
Rumah bercat putih itu menghadap ke Selatan, seperti kebanyakan rumah-rumah adat masyarakat Madura di Jember. Sisi kanan rumah itu adalah sebuah kebun dengan aneka pohon. Kata warga desa Ajung kecamatan Kalisat, dulu rumah bercat putih itu dikelilingi oleh pohon coklat. Oleh tuan rumah, setiap orang boleh memetik dan makan coklat, asal biji-bijinya ditinggalkan di bawah pohon.

Di sisi kiri, ada sebuah rumah yang juga didominasi oleh warna putih. Itu adalah kediaman keluarga Mas Supri. Jika saya dan Prit menempati rumah bercat putih, maka mereka adalah satu-satunya tetangga terdekat kami. Jarak rumah Mas Supri dengan tetangga terdekat yang lain hanya sepelemparan batu saja, dibatasi oleh pematang sawah yang kini ditanami jagung.

Meski rumah bercat putih itu menghadap laut Selatan --Payangan, Watu Ulo, Pantai Papuma, dan lain-lain-- namun di sini tak ada pantai. Untuk menuju ke sana butuh waktu sekitar 90 menit naik motor.

Sehari setelah menulis catatan untuk Mbak Dey, saya antar Prit ke sana. Melihat cara dia menatap rumah itu, saya mengerti jika ia jatuh hati pada tembok bercat putih yang beberapa sudut langit-langitnya telah bolong.

Kami menghabiskan waktu duduk-duduk sambil jagongan di emperan yang serupa dengan emperan rumah joglo.

Seorang kawan bernama Ivan mengantar kami. Ia tidak sendirian melainkan bersama pasutri Yoyon dan Dwi. Sesampainya di sana, beberapa warga sekitar turut menemani, diantaranya; Mas Taufik Dwi Septiarso atau biasa dipanggil Mas Opik Badut, Mas Mus, Mas Pur, serta keluarga Mas Supri. Di hari yang lain, mungkin akan saya ceritakan nama-nama yang baru saja saya tuliskan itu.

Mbak Dey, malam itu Prit tampak senang. Kami baru pulang pukul setengah satu dini hari. Jarak antara desa Ajung dengan kediaman kami di Patrang sekitar 30 menit naik motor, dengan kecepatan 50 km per-jam.

Esok harinya, 15 April 2015, dengan diantar oleh Ivan dan kakak kandungnya, saya dan Prit menemui ahli waris rumah bercat putih. Ia biasa dipanggil Mbak Kus. Kami berbincang-bincang, untuk kemudian mengutarakan maksud kedatangan. Saya bilang jika tertarik mengontrak rumah bercat putih untuk saya jadikan ruang menulis dan ruang perpustakaan. Ia sepakat, dengan syarat, maharnya dua juta rupiah dan tidak boleh ditawar lagi.

Mbak Dey, malam itu saya tidak memiliki uang. Di saku celana saya hanya ada uang tunai sejumlah sebelas ribu rupiah saja. Namun melihat cara Prit menatap rumah bercat putih, saya mengerti harus bagaimana. Saya bilang pada ahli waris jika hendak mengambilnya. Tapi saya juga mengajukan syarat, yaitu mohon diberi jeda waktu pembayaran selama 30 hari. Saya bahagia ketika ia mengangguk setuju. Lebih bahagia lagi saat menjumpai kenyataan jika kami boleh nyicil selama 30 hari.

Malam itu juga ahli waris memberikan kunci rumah agar kami bisa melihat-lihat ruang di dalam rumah.


Dokumentasi oleh Ivan, 15 April 2015

Sayang sekali, dua kali kami mengunjungi rumah itu dan dua-duanya di malam hari. Jadi tidak ada foto yang jelas yang bisa saya tampilkan untuk Mbak Dey. Semoga gambaran foto di atas --yang sedikit buram-- bisa membuat Mbak Dey mengimajinasikan rumah yang kami ceritakan ini.

Kemarin kami tidak ke sana sebab harus ke desa Jambearum kecamatan Puger untuk menghadiri resepsi pernikahan VJ Lie dan Ovi. Kami berangkat bersama-sama; Saya dan Prit, Mungki dan Kernet, Gam Pujiono, serta Bencot. Di tempat VJ kami berjumpa dengan Cak Ratt beserta istri, serta Windi. Kami berkumpul, saling bercerita. Tentu saja saya ceritakan pada mereka tentang rumah bercat putih di desa Ajung. Keluarga tamasya suka mendengar cerita ini. Kata Mungki, "Ayo wes Prit, tak kancani masak-masakan nang omah kontrakan iku. Koen iki kurang sambel, mangkane wingi loro-loroen."

Mbak Dey, sore ini kami berencana hendak ke desa Ajung kecamatan Kalisat. Kami hendak memotret rumah itu di sore hari. Untuk Mbak Dey sekeluarga. Kami juga hendak mencairkan uang di ATM sejumlah tujuh ratus ribu rupiah sebagai peningset bahwa rumah itu benar-benar menjadi tempat berkarya untuk saya dan Prit, serta untuk teman-teman di Kalisat.

Mbak Dey, doakan kami.

Catatan yang lain ada di artikel berjudul; Sebuah Rumah.

13.4.15

Dengan Sepenuh Cinta

13.4.15
Akan ada saat dimana bunga menjadi layu. Ia tak lagi merekah indah, tak lagi segar, untuk kemudian lunglai, kering dan binasa. Tiba-tiba tugasnya di bumi ini sudah selesai. Namun kejutan teknologi membuatnya bisa bertahan lebih lama lagi. Kita hanya butuh sedikit imajinasi untuk merasakan segarnya. Benar begitu kan Mbak Dey?


Keluarga Kang Fikri Ketika di Candi Cangkuang, Garut

Bagaimana kabar keluarga di Parongpong? Mbak Dey, Bapak, Kang Fikri, Fauzan, dan bunga-bunga? Semoga baik-baik saja. Kami di Jember senang sekali mengintip kuntum-kuntum bunga segar hasil jepretan Mbak Dey. Sungguh. Setiap ada kesempatan membuka jejaring sosial Facebook, saya selalu menyempatkan untuk mengintip profil milik beberapa sahabat blogger. Saya kira, Mbak Dey adalah satu diantara yang paling sering saya tengok. Seperti ada yang menggerakkan, seperti bukan saya, seperti ada mesin otomatis on-off.

Biru melangit, doa² berarak bersama awan, bersih.

Iya, di sana ada biru yang melangit. Kata orang Jawa, ngawang, menuju ke awang-awang. Lalu ada doa yang tersirat di hati untuk orang-orang yang kita kenal.

Kadang saya tertawa sendiri. Kita memiliki konsep persaudaraan yang aneh. Dimulai dari tidak berjumpa, kemudian memelihara harapan untuk bisa berjumpa, lalu benar-benar berjumpa, lalu tak ada lagi rasa canggung. Lenyap. Seolah kita sudah mengenal bertahun-tahun. Bukankah itu aneh?

Mbak Dey yang senang dipanggil Ibu, tiga hari lalu saya membaca satu kalimat di akun Facebook Mbak Dey. Begini bunyinya, "Istirahatlah sejenak, lalu tersenyumlah! Jika itu cinta, semua akan kembali. Percayalah!" Haha, edan! Kalimat itu membangunkan seseorang. Jika dibaca hari ini, bisa jadi itu hanya kalimat yang biasa-biasa saja.

Mbak Dey tentu tahu, sejak saya dan pihak Kuncihost mengalami masalah komunikasi pada tujuh bulan yang lalu, ia membuat saya tak lagi bersemangat menulis di acacicu. Entahlah, mungkin mereka lupa bikin email pemberitahuan. Saya juga salah, tidak mengingat sendiri batas waktunya. Jadi, untuk tetap menjaga tali silaturahmi, satu blog milik saya dan blog-blog lain --milik teman-- yang terdaftar lewat akun saya, tetap duduk manis di kuncihost. Bagaimanapun, saya mengerti proses pembuatan Kuncihost meski hanya lewat catatan blog Mas Hengky. Itu dulu sekali, lima tahun yang lalu.

Beginilah keadaan acacicu sekarang. Kembali ke domain gratisan blogspot --sejak 5 Januari 2015. Orang-orang di kiri kanan saya mulai bertanya, dimana tulisan-tulisan yang terangkum di acacicu dotkom? Tak ada lagi. Sulit untuk mengaksesnya di mesin pencari. Pernah terpikir untuk mengaturnya menjadi privacy, hanya saya dan istri saja yang bisa membacanya. Di saat yang lain saya bahkan berpikir akan menghapusnya. Lalu, ketika benar-benar hendak saya lakukan, tiba-tiba ada banyak wajah berdatangan. Mereka hadir seperti sebuah slide. Mula-mula wajah dua orang perempuan, Bunda Yati dan Bunda Lily, menyusul kemudian Mbak Imelda, Kang Yayat, Ami Osar, Bli Budi, Mbak Nchie, Pakde Cholik, kemudian semakin banyak. Ada wajah Mbak Dey sekeluarga diantara wajah-wajah yang berdatangan. Kemudian saya urungkan niatan bodoh itu.

Hari berlalu. Saya mencoba kembali memeluk acacicu. "Ini hanya sebuah blog.. Ini hanya sebuah blog.." Saya bergumam berkali-kali. Tapi, benarkah ini hanya sebuah blog? Jika tidak ada blog 'omong kosong' ini, bagaimana saya mengenal lelaki setenang Kang Fikri? Bagaimana?

Detik terus bergulir, tak peduli apakah saya menulis di acacicu atau tidak. Kemudian saat itu datang juga. Saya ada di depan monitor, login, lalu menulis. Saya sendiri yang menulis, saya sendiri pula yang membaca. Tak ada hasrat untuk mengenalkannya di media pengumuman semacam warung blogger atau yang lain. Ketika saya membaca tulisan sendiri, ia tak bernyawa. Ia lebih dekat pada tulisan rekapitulasi --seperti saat Prit usai belanja di Pasar Tradisional Tanjung lalu membuat catatan belanja-- daripada gaya menulis populer di blog. Tidak ada greget apapun yang saya rasakan saat membacanya kembali. Mungkin saya sudah tidak bisa menulis ceria atau gaya-gaya tulisan merdeka yang dulu selalu saya lakukan dengan hati yang gembira. Ada juga beberapa catatan saat sedang sedih.

Tahun lalu saya menghadapi satu kenyataan tentang kegagalan beruntun ketika harus menciptakan lagu. Saya tidak bisa lagi. Tiba-tiba membuat lirik lagu menjadi sesuatu yang sulit, kadang-kadang menakutkan. Sesekali ia terbawa dalam mimpi. Kemudian saya tidak mencobanya lagi, hingga hari ini.

Sebelum 'bencana menciptakan lagu' hinggap, tahun-tahun sebelumnya saya lewati dengan ketiadaan hasrat untuk melukis sesuatu di atas kertas bekas warna putih. Itu sudah lama sekali, sejak Ibu saya memejamkan mata di Rumah Sakit Umum dr. Soebandi. Padahal ini yang saya lakukan sejak seusia Fauzan, atau mungkin lebih bocah lagi, hingga saya berseragam putih biru, hingga bercelana abu-abu, hingga tercatat sebagai Mahasiswa Sastra, hingga hari-hari menjelang Ibu memejamkan mata. Lalu hari itu pun tiba. Tak ada yang bisa mencegahnya. Saya tidak sempat menangis, namun entah mengapa, saya memiliki waktu yang banyak untuk membakar setumpuk kertas berisi coretan-coretan saya sendiri. Tindakan goblok, haha. Saya memang tak kunjung pandai.

Namanya Pak Agus, guru kesenian di sebuah SD tempat saya menghabiskan hari Senin pagi yang menyebalkan selama enam tahun. Hanya Pak Agus yang tidak pernah marah ketika saya menggambar bebas di balik sampul buku, di jam pelajarannya. Ketika Pak Agus menyuruh saya melukis pemandangan, saya melukis yang lain. Dia tidak marah. Dia bahkan hanya tersenyum ketika saya membuat sketsa dirinya, tentu saja dengan anatomi tubuh yang jauh dari proporsional. Pak Agus hanya berpesan, "Kamu harus percaya jika coretan yang kau hasilkan itu unik, berbeda dengan karakter coretan siapapun di dunia ini." lalu saya disarankan untuk belajar membuat garis-garis.

Hanya Pak Agus. Pengajar lain bisanya hanya marah, menggerutu, menampar hati siswanya.

Kelak, saya menjumpai orang-orang berhati Pak Agus, lebih banyak tidak di bangku sekolah. Mereka ada dimana-mana. Ada yang tertidur di becak tua milik seorang juragan yang tak begitu kaya, ada yang di sebuah terminal kecil, di perempatan lampu merah, di malam yang kejam, ada pula yang saya jumpai di beberapa perjalanan. Di luar sana, orang-orang tulus bertebaran. Kita hanya harus menjumpainya.

Mbak Dey, maaf. Entah saya sedang menulis apa. Jember habis diguyur hujan, kopi sudah dingin sedari tadi. Di samping saya ada perempuan kecil yang tertidur pulas. Putrimu, hehe. Mungkin suasana ini membuat saya ingin menulis hal-hal tak bertema, tidak terstruktur, serta naif. Setidaknya ada sepercik hasrat untuk kembali menulis di sini, di blog omong kosong ini.

Mbak Dey yang baik, sampaikan salam saya untuk Kang Fikri. Saya teringat akan pesannya saat kita di Jembrana. Setiap hari saya mengingatnya.

Akhir Maret lalu, saya ajak Prit jalan-jalan ke sebuah dusun, namanya dusun Sumberpakem. Kondisi jalan di sana bergeronjal. Itu hari yang indah, kami tidak terburu-buru untuk pulang. Lagipula, saya lihat dari kaca spion Prit menikmati perjalanan. Kami singgah di rumah teman di Kecamatan Kalisat, pulang larut malam. Ketika di perjalanan pulang, ia sambat sakit. Prit meronta, dia bilang pinggangnya terasa ngilu, sakit sekali. Saya tahu saat itu saya pucat sekali, meski saya tak sedang bercermin.

Kami tiba di rumah pukul setengah satu dini hari. Prit masih kesakitan. Tiba-tiba berbaring menjadi sesuatu yang heboh. Prit menangis. Jika Prit tidak semakin menitikkan air mata, hampir saja saya memaksanya untuk ke rumah sakit terdekat.

Esoknya, hingga April Fools' Day, keadaannya semakin buruk. Oleh seorang teman bernama Mita, Prit dianjurkan untuk Testpack. Untuk sesaat lamanya, wajahnya merona-rona. Saya mencintai wajah itu.

Minggu pagi, 5 April 2015. Prit keluar dari kamar mandi depan --kamar mandi di rumah Kakak saya-- lalu segera masuk kamar dan memeluk saya. Saya rentangkan kedua tangan sambil berpikir, barangkali inilah saatnya.

Mbak Dey, ketika itu Prit menitikkan air mata. Negatif. Hari masih pagi dan saya mencoba banyak cara untuk menghiburnya. Tidak ada waktu untuk menghibur hati saya sendiri sebab itu tidak penting. Sama sekali tidak penting.

Esok harinya, ketika Prit telah bersedia diperiksakan ke sebuah tempat pengobatan di Kreongan, barulah saya mengerti jika ia ada masalah dengan punggung belakang dan kantung kemih. Pesannya hanya satu, ia dilarang keras nahan pipis. Maaf jika bahasa saya terdengar vulgar.

Mbak Dey yang baik, kami di Jember baik-baik saja. Kini Prit telah sehat. Kemarin saya membawanya jalan-jalan ke Kalisat, ke rumah seorang perempuan sepuh yang senang memanggil kami dengan sebutan 'Nak.' Malam sebelumnya, Prit memaksa diri mendampingi saya menyanyikan satu lagu di sebuah acara kecil di Gemapita FKIP Universitas Jember. Namun setelah menyanyikan lagu dan turun dari panggung, kami segera pulang.

Mbak Dey capek membacanya? Sebentar Mbak, saya masih ingin bercerita dua hal. Pertama, tentang sebuah lirik lagu yang akhir-akhir ini mengganggu.

Judulnya, Lagu Untukmu. Iya benar, saya sendiri yang menciptakan lagu itu, teman-teman tamasya band --Mungki Krisdianto-- yang bikin aransemen hingga proses recording. Mulanya lagu itu kami masukkan di Album Tiga Tamasya Band sebagai penggenap. Itu lagu dengan lirik yang biasa, bukan tentang ajakan untuk mencintai lingkungan, bukan lagu persahabatan, bukan pula lagu perjuangan dengan tema yang luas. Jika di zaman Soekarno, ia masuk kolom lagu yang melemahkan revolusi. Mungkin saja. Manalah saya tahu jika lagu ini disukai teman-teman. Begini lirik lagunya.

LAGU UNTUKMU

Di saat seperti ini ingin aku kau temani
Aku benar-benar ingin pandang wajahmu

Satu kali ini saja temani aku bernyanyi
Petik gitar di sampingmu
Usah kau tanya.. Inginku..

Reff:

Yang aku inginkan hanya engkau tumbuh mewangi
Mekar bersemi seperti bidadari yang memetik
Setangkai bunga.. Menghias telinga..

Biar ku berjuang untuk mengubur dalam-dalam
Getar rasa hati dan mimpi untuk menjadikanmu
Ibu dari anak-anakku nanti..

Versi mp-tiga bisa didengar di SINI

Saya mengerti, lagu adalah sebuah doa. Alam raya mendengarnya. Tentu saya juga mengerti, itu bukan doa yang saya inginkan. Hanya utusan Tuhan bernama pikun saja yang bisa menghentikan kinerja reff kedua dari lirik lagu itu. Atau surga, sebab di sana kenangan menjadi sesuatu yang tak lagi penting. Ada yang lebih indah dari itu.

Kiranya kali ini saya tidak bisa lagi menghibur diri dan berkata, "Itu hanya sebuah lagu."

Lagu itu telah ada dimana-mana. Maksud saya, lagu itu ada di alat-alat elektronik milik teman-teman, baik yang saya kenal maupun tidak. Saya tidak bisa mencegahnya. Ia seperti sedang berkelana mengikuti garis-garis 'hidupnya' sendiri. Dan saya resah. Bagaimana jika alam raya mengukir itu sebagai doa? Sepertinya saya hendak melakukan sesuatu. Kembali memeluk gitar? Dan apakah saya bisa?

Bagian tersulit bukanlah menulis lirik lagu, tapi setelah semuanya selesai lalu kita tak kuasa untuk menyanyikannya.

Kabar yang tersiar di luar sana, Tuhan Maha pengampun. Maka jika tiba saatnya nanti masing-masing huruf dalam lirik tersebut dibangunkan untuk memberi kesaksian, semoga..

Saya akan mencoba membuat lagu yang lain, atau tetap menyanyikan lagu itu dengan sedikit edit di bagian lirik tertentu, serta mungkin dengan aransemen yang berbeda. Doakan semoga saya --dan keluarga tamasya-- bisa.

Cerita berikutnya.

Mbak Dey dan Kang Fikri, kami terlalu memikirkan datangnya sesuatu. Tentu Mbak dan Akang tahu apa itu. Mungkin kami hanya butuh udara segar. Butuh taman bunga yang berbeda. Kami berencana, tak lama lagi akan mencari kontrakan di sebuah desa. Rumah kami yang sekarang sudah ada di pinggiran, tapi pinggiran yang masih terbilang ramai. Di depan ada jalan raya yang menghubungkan Jember dengan Bondowoso-Situbondo. Sementara tepat di belakang rumah kami ada rel kereta api. Tempat yang ramai untuk menulis.

Tak lama lagi, datanglah ke Jember. Carilah kami di sebuah rumah kecil di dekat Gumuk. Di seberang rumah kami ada sembilan petak sawah, lalu beberapa rumah-rumah kecil yang berjajar. Saat keluarga Parongpong datang mengetuk pintu kontrakan, mungkin saya sedang sibuk menulis untuk sebuah buku yang kehadirannya dicita-citakan sejak beberapa tahun lalu. Ketika Aak Fauzan sibuk mengusir ayam kampung yang nongkrong di pelataran rumah kontrakan kami yang kecil, mungkin Tantenya sedang ada di dapur, mengipasi tungku dengan buku bacaannya.

Kang Fikri, Mbak Dey, Bapak, dan Fauzan yang berhidung mancung sekali. Kami di sini baik-baik saja. Doakan kami untuk rencana yang tak lama lagi itu. Lalu datanglah.

Jika telah menjumpai sebuah desa dengan logat yang berbeda, maka itu sudah benar. Tinggal satu langkah lagi, bertanyalah pada penduduk setempat. Tanyakan kepada mereka tentang seorang lelaki kurus yang senang mencari capung dan bunga-bunga di tepian sungai, dan tentang istrinya yang mungil yang ketika ia tertawa, ada terlihat dekik di kedua pipinya. Jika penduduk setempat mengangguk, kalian akan diantarkan ke sebuah rumah kecil dengan masa kontrak satu tahun. Di sanalah kami menanti.

Dengan sepenuh cinta
acacicu © 2014