17.4.15

Rumah Bercat Putih itu Menghadap ke Selatan

17.4.15
Rumah bercat putih itu menghadap ke Selatan, seperti kebanyakan rumah-rumah adat masyarakat Madura di Jember. Sisi kanan rumah itu adalah sebuah kebun dengan aneka pohon. Kata warga desa Ajung kecamatan Kalisat, dulu rumah bercat putih itu dikelilingi oleh pohon coklat. Oleh tuan rumah, setiap orang boleh memetik dan makan coklat, asal biji-bijinya ditinggalkan di bawah pohon.

Di sisi kiri, ada sebuah rumah yang juga didominasi oleh warna putih. Itu adalah kediaman keluarga Mas Supri. Jika saya dan Prit menempati rumah bercat putih, maka mereka adalah satu-satunya tetangga terdekat kami. Jarak rumah Mas Supri dengan tetangga terdekat yang lain hanya sepelemparan batu saja, dibatasi oleh pematang sawah yang kini ditanami jagung.

Meski rumah bercat putih itu menghadap laut Selatan --Payangan, Watu Ulo, Pantai Papuma, dan lain-lain-- namun di sini tak ada pantai. Untuk menuju ke sana butuh waktu sekitar 90 menit naik motor.

Sehari setelah menulis catatan untuk Mbak Dey, saya antar Prit ke sana. Melihat cara dia menatap rumah itu, saya mengerti jika ia jatuh hati pada tembok bercat putih yang beberapa sudut langit-langitnya telah bolong.

Kami menghabiskan waktu duduk-duduk sambil jagongan di emperan yang serupa dengan emperan rumah joglo.

Seorang kawan bernama Ivan mengantar kami. Ia tidak sendirian melainkan bersama pasutri Yoyon dan Dwi. Sesampainya di sana, beberapa warga sekitar turut menemani, diantaranya; Mas Taufik Dwi Septiarso atau biasa dipanggil Mas Opik Badut, Mas Mus, Mas Pur, serta keluarga Mas Supri. Di hari yang lain, mungkin akan saya ceritakan nama-nama yang baru saja saya tuliskan itu.

Mbak Dey, malam itu Prit tampak senang. Kami baru pulang pukul setengah satu dini hari. Jarak antara desa Ajung dengan kediaman kami di Patrang sekitar 30 menit naik motor, dengan kecepatan 50 km per-jam.

Esok harinya, 15 April 2015, dengan diantar oleh Ivan dan kakak kandungnya, saya dan Prit menemui ahli waris rumah bercat putih. Ia biasa dipanggil Mbak Kus. Kami berbincang-bincang, untuk kemudian mengutarakan maksud kedatangan. Saya bilang jika tertarik mengontrak rumah bercat putih untuk saya jadikan ruang menulis dan ruang perpustakaan. Ia sepakat, dengan syarat, maharnya dua juta rupiah dan tidak boleh ditawar lagi.

Mbak Dey, malam itu saya tidak memiliki uang. Di saku celana saya hanya ada uang tunai sejumlah sebelas ribu rupiah saja. Namun melihat cara Prit menatap rumah bercat putih, saya mengerti harus bagaimana. Saya bilang pada ahli waris jika hendak mengambilnya. Tapi saya juga mengajukan syarat, yaitu mohon diberi jeda waktu pembayaran selama 30 hari. Saya bahagia ketika ia mengangguk setuju. Lebih bahagia lagi saat menjumpai kenyataan jika kami boleh nyicil selama 30 hari.

Malam itu juga ahli waris memberikan kunci rumah agar kami bisa melihat-lihat ruang di dalam rumah.


Dokumentasi oleh Ivan, 15 April 2015

Sayang sekali, dua kali kami mengunjungi rumah itu dan dua-duanya di malam hari. Jadi tidak ada foto yang jelas yang bisa saya tampilkan untuk Mbak Dey. Semoga gambaran foto di atas --yang sedikit buram-- bisa membuat Mbak Dey mengimajinasikan rumah yang kami ceritakan ini.

Kemarin kami tidak ke sana sebab harus ke desa Jambearum kecamatan Puger untuk menghadiri resepsi pernikahan VJ Lie dan Ovi. Kami berangkat bersama-sama; Saya dan Prit, Mungki dan Kernet, Gam Pujiono, serta Bencot. Di tempat VJ kami berjumpa dengan Cak Ratt beserta istri, serta Windi. Kami berkumpul, saling bercerita. Tentu saja saya ceritakan pada mereka tentang rumah bercat putih di desa Ajung. Keluarga tamasya suka mendengar cerita ini. Kata Mungki, "Ayo wes Prit, tak kancani masak-masakan nang omah kontrakan iku. Koen iki kurang sambel, mangkane wingi loro-loroen."

Mbak Dey, sore ini kami berencana hendak ke desa Ajung kecamatan Kalisat. Kami hendak memotret rumah itu di sore hari. Untuk Mbak Dey sekeluarga. Kami juga hendak mencairkan uang di ATM sejumlah tujuh ratus ribu rupiah sebagai peningset bahwa rumah itu benar-benar menjadi tempat berkarya untuk saya dan Prit, serta untuk teman-teman di Kalisat.

Mbak Dey, doakan kami.

Catatan yang lain ada di artikel berjudul; Sebuah Rumah.

2 komentar:

  1. Asik..asik, ini rumah sepertinya akan selalu ramai.
    Semoga banyak kebaikan dan banyak memberi berkah ya ... Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Robbal Alamin :)

      Hapus

acacicu © 2014