17.7.15

Sebelum Salat Id

17.7.15
Semalam ada yang merindukan hujan. Ia berencana hendak memeluknya, merayakannya, serta menyanyikan sebuah lagu bersama rintik. Namun yang dirindukan tak datang. Langit Kalisat semarak oleh percik kembang api yang bersaing dengan gema takbir, dimulai sejak adzan maghrib belum lagi berkumandang.

Selepas maghrib, saya dan para tetangga berkumpul di musholla. Masing-masing dari kami membawa 'berkat' lalu duduk bersila, membentuk sebuah kotak memanjang. Ini adalah selamatan warga desa untuk menyambut Idul Fitri 1436 Hijriyah. Sebelum acara dimulai, seorang tetangga bilang, "Uang kalau dibakar bunyinya nyaring." Saya tersenyum mendengarnya. Ia bicara tentang mercon kembang api dengan kemasan bahasa yang unik.

Tak lama setiba saya di rumah, seorang sahabat datang. Revo Marando. Kami menghabiskan malam takbir dengan secangkir kopi, selebihnya biasa saja.

Satu jam kemudian, saya ajak Revo untuk menjenguk keluarga Pak Kus. Ia tetangga saya, rumah bambunya tepat di bibir sungai kecil berair deras. Pak Kus kerjanya tak tentu, namun seringkali menghabiskan waktu dengan mengamen. Beberapa orang melabelinya dengan sebuah kata, stres. Saya tidak tahu apakah itu benar, yang saya tahu istrinya sakit dan sudah berhari-hari ada di atas ranjang.

Lalu kami pulang. Jarak rumah Pak Kus dengan rumah kontrakan hanya sekitar tiga menit berjalan kaki.

Hari sudah hampir tengah malam saat Revo pamit untuk kembali ke khost. Namun sebelum Revo pulang, teman-teman Kalisat berdatangan ke rumah, banyak sekali. Revo berpamitan pada mereka, untuk kemudian meraih scooter-nya dan pulang.

Sementara di teras rumah kontrakan kami ramai oleh teman-teman usia likuran, rumah tetangga sebelah juga ramai. Putra sulung mereka baru datang dari tanah rantau, Pulau Lombok. Mas Candra namanya. Saya sempat bergabung di teras tetangga sebelah namun tak lama. Hana datang ke arah saya, membisikkan sesuatu. Hana bilang, "Mas, sepertinya teman-teman butuh bicara dengan sampeyan." Saya mengangguk pada Hana, pamit pada tetangga, kemudian melangkah ke teras kontrakan.

Rupanya teman-teman Kalisat habis bentrok dengan pemuda desa sebelah. Mereka tidak butuh bicara dengan saya, hanya butuh tempat yang tenang, butuh teman yang mau mendengarkan, dan mungkin saja butuh ditenangkan.

Semakin lama, rumah kontrakan kami tak semakin sepi. Teman-teman berdatangan. Beberapa orang tua yang anaknya disinyalir turut tawur massal, mereka juga datang. Ada yang datang dengan tenang, ada pula yang merasa harus melindungi buah hatinya. Saya selaku tuan rumah hanya bisa memberikan senyum dan pelayanan sebisanya.

Di ruang tamu, Hana tampak sibuk mengompres lebam seorang teman muda. Katanya dadanya terkena lemparan batu. Seorang lagi ada di sebelahnya, dengan kaki berdarah. Sembari meletakkan kompres dengan air hangat, Hana menangani si empunya kaki berdarah itu. Belum lama waktu berselang, ada lagi yang datang, jari-jari tangannya luka, kiri dan kanan. Hana bingung, lalu meminta maaf sebab kami tidak memiliki persediaan obat-obatan. Mereka tentu saja maklum. Sorot mata mereka seolah-olah hendak berkata, "Tak perlu minta maaf, Mbak."

Tak hanya teman-teman muda dan beberapa orang tua, para pendekar pencak pun datang ke rumah kontrakan kami. Tujuan mereka hendak mencarikan jalan keluar terbaik, mengikuti tata aturan tak tertulis yang biasanya berlaku. Pukul dua dini hari, kontrakan hanya berisi teman-teman muda usia likuran. Kini mereka saling berebut untuk menarasikan dirinya masing-masing, saat perkelahian terjadi. Kemudian mereka tertawa, seolah apa yang telah terjadi itu patut dijadikan kenangan untuk bahan berkisah dikala tua. Saya tersenyum melihat cara mereka berebut bercerita.

Mereka baru saja pulang.

Tuhan, semalam aku dan istri tidak tidur. Maafkan kami Tuhan, jika sebentar lagi kami mendatangiMu dalam kondisi mengantuk. Mohon maaf lahir dan batin.

3 komentar:

  1. Jadi, gimana sholat Ied nya ? ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ...dan, kami salad id dengan riang, meski terkantuk :)

      Hapus
  2. saya juga sama mas, baru bisa tidur siang selepas dzuhur

    BalasHapus

acacicu © 2014