20.10.15

Tumbuh Bersama Jiwa-jiwa Yang Kuat

20.10.15
Mbak Dey masih ingat tulisan saya yang berjudul Malam Pertama di Rumah Kontrakan? Itu sudah lama sekali, suatu hari saat kalender menunjukkan posisi 20 April 2015 menuju hari berikutnya. Esok paginya istri saya bilang, "Kok bisa ya Mas, pagi pertama kita di JL. Kartini --Kalisat, bertepatan dengan Hari Kartini."

Ada yang belum saya ceritakan ke Mbak Dey sekeluarga. Malam itu --21 April 2015-- saya langsung merapat ikut pengajian rutin di kampung, setiap hari Selasa malam, seusai maghrib, bertempat di rumah Mas Bajil. Acaranya sama seperti pengajian pada umumnya, ada baca Yasin, doa, lalu makan bersama. Seusai pengajian, ada saja yang bertahan untuk tidak segera pulang. Jeda waktu ini biasanya dimanfaatkan untuk membicarakan kondisi terkini, baik itu tentang kampung sendiri maupun tentang berita-berita yang lagi tren di media Nasional.

Warga di Kampung Lima --julukan untuk nama kampung kami, mereka cepat sekali saat menyantap suguhan tuan rumah. Semisal Horace Fletcher (1849-1919), pencetus gagasan mengunyah makanan setidaknya 32 kali itu tinggal di Kalisat, mungkin dia akan sedih. Saya bukan penganut gagasan Fletcher, tapi saya juga tidak bisa mengimbangi irama makan para tetangga. Mereka cepat sekali saat mengunyah makanan. Saya selalu menjadi yang terakhir menaruh piring, di pengajian Selasa malam.

Setiap pengajian Selasa malam, masing-masing dari kami harus membayar uang kolektif sejumlah 3000 rupiah. Sebagian digunakan untuk membantu orang yang Minggu berikutnya 'ketempatan' pengajian, sebagian lagi dikeluarkan jika ada kebutuhan bersama. Misal, butuh beli tikar untuk fasilitas pengajian. Saya tidak pernah bertanya berapa tepatnya anggota pengajian. Namun jika menggunakan prakiraan, antara 25 hingga 35 orang.

Di pengajian itu juga ada iuran kifayah, dana ketika ada kematian. Dihitung per jiwa. Tiap-tiap jiwa dipungut biaya 1000 rupiah saja setiap bulan. Jadi jika dalam satu rumah ada sepuluh jiwa, kepala rumah tangga wajib membayar kifayah setiap bulannya 10.000 rupiah. Saya membayar 2000 rupiah tiap bulan, sebab kami belum dikaruniai jiwa yang lain.

Mbak Dey boleh percaya boleh tidak, saya tidak pernah membolos pengajian kecuali satu kali, pada 6 Oktober 2015. Saat itu, seharusnya saya ada di rumah Pak Adi Wiyono selaku ketua RT. Namun kami masih ada di Lombok sejak 1 Oktober hingga 8 Oktober 2015.

Ohya, tentang Lombok.

Saya dan istri berangkat ke Lombok untuk mengikuti rangkaian acara Jelajah Negeri Tembakau, bersama 20 peserta lainnya. Mereka ada yang dari Jakarta, Surabaya, Jogja, serta satu peserta dari Denpasar. Sesuai dengan judul acara, kami di sana banyak belajar tentang tembakau, teristimewa tembakau Voor-Oogst Virginia jenis Flue Cured. Itu bahan baku untuk rokok rendah nikotin alias Mild Mbak. Saya menulisnya di blog rzhakim.net, senang Mbak Dey sudah mampir di blog itu.

Ada banyak cerita tentang Lombok untuk Mbak Dey sekeluarga, tentang orang-orangnya, adat istiadat, pantai, dan banyak lagi. Tapi lain waktu saja ya Mbak, sekarang saya ingin bercerita yang lain.

Belum genap seminggu kami tinggal di Kampung Lima kecamatan Kalisat, orang-orang berencana menghidupkan kembali budaya Siskamling. Orang yang paling bersemangat adalah Mas Joko Purnomo serta Pak RT. Maka dimulailah program Siskamling sejak 26 April 2015. Kegiatan ini mulanya marak sekali, kini sudah tidak ada lagi. Pasalnya, seusai Ramadhan kemarin, semangat kami melemah, lalu pelan tapi pasti program Siskamling di kampung kami hilang dari ingatan.

Bulan Agustus, bulan penuh lomba-lomba di kampung kami. Sebagai warga baru, tentu saya turut ambil peran meski tak menonjol --biasa saja-- bersama para pemuda kampung. Tapi Mbak Dey harus percaya. Pada 25 Agustus 2015, saat Mbak Dey masuk Rumah Sakit Al Islam Bandung, kami mendengarnya. Disusul dua hari kemudian, ketika Mbak Dey menjalani operasi penyempitan pembuluh jantung, kami pun mendengarnya. Iya benar, kami mendengarnya. Saya laki-laki, kedua mata saya berkaca-kaca. Prit menerawang jauh, entah apa yang dia pikirkan.

Kita memang tidak bisa memahami bagaimana cara kerja doa. Ia tak tampak, murah, terjangkau oleh semua kalangan. Kita hanya bisa meyakini dan merasakannya. Itu saja yang bisa kami lakukan. Sesuatu yang murah. Maafkan kami tak bisa ada di dekat Mbak Dey, Kang Fikri, dan teman kecil saya, Fauzan.

Saya masih memikirkan pesan balasan Mbak Dey kemarin, 19 Oktober 2015. Entah mengapa.

"Bantu doa ya. Kalo sudah dapat kamar, hari ini --aku langsung opname. Dan tanggal 22 Oktober nanti masuk ruang operasi. Aku tunggu ceritanya. Semoga nanti di RS ada sinyal."

Tentu. Dengan segala cinta, selalu ada doa untuk Mbak Dey sekeluarga, serta untuk para sahabat yang lain. Sebab, sebenarnyalah kali ini memang hanya itu yang bisa kami berdua persembahkan.



Menikmati senja, lalu pulang menuju rumah kontrakan. Foto oleh Frans Sandi, 23 September 2015

Mbak Dey, hari ini tepat setengah tahun kami menempati rumah kontrakan di Kalisat (20 April 2015-20 Oktober 2015). Benturan-benturan tentu ada, sebab kami tidak sedang hidup di negeri dongeng. Semua baik-baik saja, Mbak. Kami bahagia tinggal di sini, diantara orang-orang baik, serta selalu menanti kehadiran Mbak Dey sekeluarga.

Di ultah kami yang keenam bulan ini, ndilalah saya dapat giliran jadi tuan rumah untuk pengajian rutin setiap Selasa malam, beberapa jam lagi. Saya tahu, tulisan Mbak Dey hari ini bukan untuk kami. Tapi bolehlah jika kami menyimpan kalimat berikut ini.

"Tetaplah tumbuh bersama jiwa-jiwa yang kuat. Meliuk, memutar, menari diiringi matahari."

Untuk yang hari ini sedang ada di Gedung Kemuning Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, selamat senja. Salam dari kami berdua di sudut Kalisat.

15.10.15

Sesampainya di Sidoarjo

15.10.15
Kami memulai perjalanan pada 1 Oktober 2015, dari stasiun Kalisat --kabupaten Jember-- menuju stasiun Sidoarjo, naik kereta Mutiara Timur. Sesampainya di stasun Sidoarjo, kami bergegas menuju jalan besar, di JL. Diponegoro Sidoarjo. Jalan satu arah ini ramai sekali. Segera saya dan Hana merapat di sebuah depot makanan, tepat di tepi jalan. Saya pesan kare ayam dan secangkir kopi, sementara Hana memesan menu yang lain.

"Mas Yopi sudah dihubungi?" tanya Hana. Saya mengangguk pelan.

Yopi Indra Triawan, ia adalah sahabat kami di dunia pencinta alam. Yopi pernah tinggal di panaongan --rumah kami di Patrang-- selama proses pengerjaan tugas akhirnya di Fakultas Teknik Universitas Jember. Kini Yopi berserta istri dan anaknya memilih hidup di Sidoarjo. Keduanya sama-sama bekerja di pabrik yang berbeda, dan memberanikan diri untuk membeli rumah dengan cara nyicil.

Saya habiskan waktu menanti Yopi dengan meludeskan secangkir kopi di depot itu. Kopinya encer, pakai air termos, rasanya manis sekali. Dan saya meminumnya tepat di pemula bulan Oktober, saat teman-teman di twitter sedang meramaikan hestek Hari Kopi. Malam harinya saya menyesal telah meludeskan kopi itu. Iya benar, saya sakit gigi, sakit sekali. Ini kali pertamanya gigi saya kumat, setelah lama sekali ia baik-baik saja.

Di tepi Jalan Diponegoro Sidoarjo, ketika menanti datangnya Yopi, iseng saya mencatat merk-merk becak. Sidoarjo memiliki aneka merk becak yang tak dimiliki Kalisat, diantaranya; Eko, Sugeng, Bares, Tis, Betajaya, Union, serta Onlon. Merk paling dominan yang saya jumpai di Sidoarjo --secara sepintas-- adalah becak dengan merk YBH. Ia adalah merk terbanyak nomor dua di Kalisat, setelah JONSON.

Wajah Sidoarjo sedang terus menerus bersolek, seperti ingin menjadi Jakarta, samalah dengan kota-kota lain di Indonesia. Mereka mengutuk kemiskinan dengan segala teori ekonomi, namun indikator kemiskinan bernama becak tetap dicintai masyarakat pengguna, diantaranya di Sidoarjo, di sebuah arus jalan besar satu arah.

Lalu Yopi datang, kami segera meluncur ke rumahnya.

Tentu banyak sekali yang bisa saya ceritakan selama berada di rumah Yopi. Namun ketika hendak menuliskannya, yang saya ingat hanyalah kenangan pahit ketika sakit gigi. Esok harinya kami akan terbang dari Sidoarjo ke Lombok dan gigi saya linu.

Hari berganti, kalender menunjukkan posisi pada 2 Oktober 2015.

Yopi melaksanakan janjinya untuk mengantarkan kami ke Juanda. Sengaja kami berangkat satu setengah jam sebelum jadwal keberangkatan (lalu kami menyesalinya sebab Lion Air menunda keberangkatannya hingga tiga jam dari waktu yang seharusnya) untuk memudahkan proses registrasi. Di sana, untuk kali pertamanya kami berjumpa dan berkenalan secara langsung dengan Shellya Febriana Anindhita, gadis cantik penulis di Mojok yang juga salah satu peserta Jelajah Negeri Nusantara. Shelly --begitu biasanya ia dipanggil-- membantu kami ketika harus check in. Ia juga teman bicara yang baik ketika penerbangan ditunda dua kali, mulanya transfer lalu disusul informasi delay.


Foto oleh Rinaldy Purwanto, 2 Oktober 2015

Ada yang seru dan layak dikenang! Di dalam bandara, kami janjian ketemuan dengan pasangan Rinaldy Purwanto dan Yuniari Nukti. Mereka sahabat kami di dunia blogger. Katanya, mereka juga baru saja tiba di Juanda setelah menghabiskan beberapa hari bertamasya ke Makassar. Lebih seru lagi, ketika kami berjumpa, ternyata mereka dan Shelly saling kenal. "Podo arek Suroboyone rek!" begitu kata Mbak Yuni.

Ada perjumpaan tentu ada perpisahan. Begitulah, ketika sudah tiba waktunya berpisah, kami janjian untuk saling berkirim kabar. Lalu pesawat yang dinanti mengantarkan saya, Hana dan Shelly menuju Bandara Internasional Lombok. Kepada Niar dan keluarga Kang Yayat, maaf tidak bisa mampir. Semoga ada 'lain waktu' yang indah.

Selama mengikuti Jelajah Negeri Tembakau di Lombok, kisah kami bertumpuk-tumpuk dan belum saya tuliskan hingga detik ini, ketika kami telah ada di Kalisat, Jember. Syukurlah saya membuat catatan ini, jadi ingat jika saya masih punya PR untuk laporan Jelajah Negeri Tembakau.

Untuk semuanya, terima kasih. Saya mau bikin laporan dulu ya. Merdeka!
acacicu © 2014