3.11.16

Sepanjang Bulan Oktober

3.11.16

Foto oleh Frans Sandi, 1 Oktober 2016

FOTO di atas diabadikan di sore yang cerah, dan saya jadikan foto sampul di jejaring sosial Facebook. Di kolom komentar, saya tambahkan keterangan seperti berikut ini. "Tadi sore di kebun belakang rumah kontrakan kami, ketika ada waktu senggang, saya menemani istri yang lagi musikalisasi puisi berjudul, Jika Kami Tak Pernah Pulang."

Karena ada beberapa komentar dari teman-teman, di bawahnya lagi saya tulis keterangan tambahan.

Teman-teman, terima kasih apresiasinya. Kini kami sedang dalam perjalanan yang mendung. Kebetulan, kemarin sore kami ada waktu luang untuk recording puisi, dibantu sepenuhnya oleh sahabat dari Kalisat, Frans Sandi namanya. Istri saya, disela-sela waktunya menulis, ia lagi senang membaca kembali puisi-puisi lamanya yang ia ciptakan sendiri di medio 2004-2014. Saya tentu dengan senang hati mengiringinya dengan petikan gitar hasil pinjam, milik pemuda Kalisat bernama Fg FransnAta. Gitarnya tidak stem sebab senar-senarnya telah berkarat.

Gairah akan puisi mungkin juga disebabkan oleh ajakan Vindri Analekta, pada 8 Oktober 2016 nanti ia mengajak kami --tamasya band-- untuk ikut menyemarakkan acara Musikalisasi Puisi di sebuah dusun di ketinggian Jember, di lereng Gunung Argopuro, tempat dimana Sokola Kaki Gunung berada.

Menjelang Maghrib, ada sahabat muda Kalisat ajak saya dan istri bercengkerama, Wahyu Celot namanya. Kami banyak berbagi kisah tentang Kalisat, bagaimana sebaiknya memperlakukan jejaring sosial, tentang kehidupan, kesempatan untuk mengembangkan diri di desa, dan sedikit tentang dunia pencinta alam. Istri saya tak ikut nimbrung, ia ada di balik layar monitor, menulis untuk Mongabay-Indonesia. Katanya, tulisan bagiannya yang telah berjumlah tiga ribu kata itu ia rombak lagi sedari awal, sebab hal-hal baru terjadi di Tumpang Pitu Banyuwangi dengan begitu cepatnya.

Di Jember, hal-hal mengejutkan juga terjadi, perihal Pace. Tapi tentu kami harus fokus di satu tempat terlebih dahulu, meski kami tak bisa membendung tutur yang berdatangan dari 'gerilyawan senyap' di bidang lingkungan, teman-teman kami sendiri.

Malam harinya, saya dan istri, juga tiga sahabat dari Kalisat, kami meluncur ke Green Hill untuk menjumpai Mb Eri Andriani, teman baik yang kini tinggal di Jember wilayah selatan. Kami berbincang hingga larut malam. Saat pulang di Kalisat, angka di kalender telah berganti. Selamat 1 Muharram, teman-teman.

Di rumah, kami tak segera memejamkan mata. Masih kami sempatkan untuk menghidupkan laptop, memeriksa email, barangkali email yang kami tunggu-tunggu telah tiba.

Seperti itulah keseharian kami akhir-akhir ini. Menyenangkan. Ketika ada sedikit waktu luang, kami akan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Hal-hal baik itulah yang sering kami tuliskan di jejaring sosial Facebook. Seperti yang tampak pada foto sampul di atas.

Bulan Oktober ini ada banyak ajakan dari teman-teman, beberapa di antaranya mengharuskan kami untuk keluar kota, menulis. Semoga saja itu semua bisa kami penuhi. Amin.

Teman-teman, terima kasih.

Minggu, 2 Oktober 2016. Orang-orang memperingati Hari Batik Nasional. Hari-hari selanjutnya, saya banyak membagikan catatan lama di Facebook, dan mengunggah beberapa gambar di Instagram. Pada 8 Oktober 2016, tamasya tampil di acara Musikalisasi Puisi, seperti yang direncanakan. Itu saat terakhir kami berdendang bersama Noveri Eko Purnomo.

Catatan saya di 10 Oktober 2016 yang nylempit di antara komentar-komentar;

Dua hari lalu sore hari, saya update seperti ini, "Hai Prit, mari istirahat sejenak, tamasya hati." Sebenarnya saat itu kami memang sedang butuh-butuhnya tamasya. Rekreasi. Kami menghabiskan hari-hari dengan penat namun senang. Kami hanya butuh jeda sejenak dari buku-buku tebal, huruf, dan rekaman-rekaman narasumber yang kami putar berulang-ulang.

Malam hari sebelumnya --7 Oktober 2016-- Prit hanya tidur satu jam, saya tidur lebih banyak, sekitar empat jam.

Malam setelah update status di Facebook, kami benar-benar bertamasya hati, di sebuah padukuhan bernama Sukmailang. Malam itu, tamasya berdendang di sebuah ketinggian, di tempat yang sunyi, bersama IKL dan teman-teman komunitas seni. Itu malam yang indah, Prit tak merasa mengantuk. Di sana, ia justru tampil membacakan puisi. Bait-bait kata yang ia ciptakan sendiri, hampir empat tahun lalu, tentang bumi yang sedang tidak baik-baik saja.

Turun dari padukuhan itu, kami berdua --dan keluarga tamasya-- merasa bahagia. Kini kami punya waktu jeda. Akan kami nikmati sebaik-baiknya, sebelum kembali melanjutkan tulisan panjang yang penuh kisah itu.

Dua hari kemudian, saya beserta istri, juga seorang teman bernama Lozz Akbar, kami bertiga melakukan perjalanan dari stasiun Kalisat menuju stasiun Lempuyangan. Ya benar, kami hendak menuju Pesona Jogja Homestay.

Seperti perjalanan-perjalanan yang lain, ketika itu saya membuat beberapa catatan, di antaranya saya unggah di Facebook pada keesokan harinya, 13 Oktober 2016. Catatan itu bertutur ketika kereta api yang kami tumpangi sedang berhenti di stasiun Walikukun, Ngawi.

Kemarin sore di stasiun Walikukun, Ngawi, kereta sritanjung yang kami tumpangi berhenti. Ada kres dengan kereta dari arah yang berlawanan. Suasana menunggu itu adalah kabar baik bagi para ahli hisap. Kami turun, berbagi senyum, lalu begitulah.

Saya ada di jalur seberang, sekira lima meter dari bordes gerbong tiga. Di dekat saya ada seorang lelaki muda berjaket gortex warna cerah. Seperti biasa, kisah perkenalan lelaki kadang dimulai dari pinjam meminjam korek api.

Namanya Joki, dia berasal dari Banyuwangi. Tepatnya, dari kecamatan Purwoharjo,kabupaten Banyuwangi.

"Saya cuma pulang sehari di Banyuwangi, Mas. Ini balik Jogja lagi. Saya sedang mempersiapkan diri hendak ke Nabire dan ke beberapa tempat di Papua, bantu-bantu dosen saya."

Tertarik dengan ucapan Joki, saya bertanya, "Kuliah di mana?"

"Di Fakultas Kehutanan UGM, Mas."

Rupanya Joki sudah ada di semester akhir. Di antara kesibukannya urus tugas akhir, dia punya banyak waktu luang. Waktu luang itu ia gunakan untuk bantu salah satu dosennya bikin penelitian di Papua.

"Kan di Papua mau diadakan petak-petak sawah gitu, Mas. Biar bisa jadi lumbung pangan negara. Ini masih proses penelitian. Dosen saya hanya menjadi bagian dari program itu, dan saya ada di posisi membantunya."

Kata Joki, masa depan sawah-sawah di Jawa buruk terkait jumlah penduduk dan beberapa hal lainnya.

Saya kembali bertanya, "Tahu kabar tentang Tumpang Pitu?"

"Hutannya hancur Mas. Ajur! Pengelolaannya tidak jelas, ngawur."

Ingin rasanya bertanya lebih banyak lagi perihal Tumpang Pitu pada lelaki muda asal Banyuwangi yang menimba ilmu di Fakultas Kehutanan ini. Tapi sayangnya waktu kami tak banyak. Kami hanyalah sekumpulan lelaki yang memanfaatkan kres kereta api.

Terima kasih, Joki. Ada saat kelak kamu harus pulang untuk mengamalkan ilmu kehutanan. Ohya, lain kali bawalah korek api sendiri, karena Tuhan bersama orang-orang yang punya korek api.


Dalam catatan itu, ada satu komentar manis dari teman lama bernama Nanda Sukmana. Ia bilang, Walikukun adalah latar tempat puisi Piek Ardijanto Soeprijadi berjudul Paman Paman Tani Utun. HB Jassin memasukkannya ke dalam angkatan 66. Kumpulan puisinya di antaranya Burung-burung di Ladang (1983), Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983), Desaku Sayang (1983), Lelaki di Pinggang Bukit.

Di detik-detik selanjutnya, saya dan hana sudah sibuk bikin catatan tentang Pesona Jogja Homestay, ini di antaranya.

Tentu kami berdua senang menerima undangan Mbak Irma Devita untuk menginap di Pesona Jogja Homestay selama lima malam. Di sela kesibukan beberapa waktu terakhir, saya dan istri memang butuh udara segar di tempat yang berbeda.

Di sini, kami berjumpa pula dengan rekan-rekan blogger. Mereka orang-orang baik dengan gaya hidup dan pola pikir yang berbeda-beda.

Semalam, di sebuah diskusi yang digelar ala pesta kebun, teman-teman mengangkat tema, fenomena blogger. Menarik! Tampil sebagai pembicara adalah agensi seksi asal Jakarta, saya lupa namanya. Jika tak keliru, namanya Yunika. Moderatornya, Mbak Injul dari Jogja. Mereka lebih banyak membahas blogger traveller dan review blog. Saya tak ahli di keduanya, jadi memilih diam. Mojok bareng Agus Mulyadi.

Sore ini, satu persatu teman blogger sudah pada pulang. Saya dan istri masih di homestay, pulang besok pagi. Jika tepat waktu, pukul tujuh malam sudah tiba di stasiun Jember, dan segera meluncur bersama teman-teman tamasya, kami akan berdendang di UIJ.

Sahabat blogger, terima kasih ya. Maaf tak bisa menemani jagongan pagi, sebab itu adalah waktu terindah untuk terlelap 😊

Untuk Bapak Sri Margana, terima kasih atas diskusinya. Mulanya saya tak menyangka bila rumah Pak Margana berdekatan dengan Pesona Jogja Homestay, hanya cukup ditempuh jalan kaki saja, tinggal melewati rumah Ki Hajar Dewantara. Terima kasih pula untuk masukannya atas tulisan kami di Mongabay.

Jogja, 16 Oktober 2016

Esok harinya kami packing, persiapan pulang ke Jember. Waktu santai telah usai.

Malam harinya, 17 Oktober 2016, saya menulis seperti ini di Instagram. "Sudah di Jember. Tiba di stasiun Jember, segera dijemput oleh sedulur dari Kalisat. Sudah ngopi di WTC. Kini telah ada di lokasi acara, tamasya siap berdendang. Eh, kok tiba-tiba kangen @atanasia_rian ya?"

Dalam catatan itu saya sertakan juga foto ketika kami sudah berada di kedai WTC Jember, bersama Apex, Fanggi, dan Amin Rais. Ketiganya adalah pemuda Kalisat yang saya kenal dengan baik. Tak lama kemudian, kami sudah meluncur ke Universitas Islam Jember, tamasya band ada undangan berdendang. Lelah? Tentu saja. Badan masih bau besi kereta api, tapi kami harus melaksanakan janji kepada teman-teman Pencinta Alam Egalitarian UIJ.


Tamasya Band, 17 Oktober 2016

Foto di atas saya unggah di Instagram dengan keterangan sebagai berikut.

Teman-teman UIJ dan Mapala Egalitarian, terima kasih telah berdendang bersama tamasya band. Malam yang indah. Maaf, saya dan istri belum sempat pulang ke kontrakan --Kalisat-- untuk ganti baju. Dari Pesona Jogja Homestay meluncur ke stasiun Jember, dan ke lokasi acara. Saya masih pakai kaos andalan, pemberian Kakak saya, Nchie Hanie namanya. Wajah kami masih kusut, badan masih beraroma besi kereta api, tapi saya bahagia ada di antara teman-teman.

Ohya, tadi di jeda lagu, terlantun pula ucapan dan doa pada hari lahir seseorang. Itu untuk teman saya, Topan namanya, belahan jiwa Pungky Prayitno.

Kini saya dan istri telah ada di Kalisat, sudah leyeh-leyeh di atas kasur. Selamat dini hari, selamat beristirahat. Terima kasih.

Sore harinya, saya ajak teman-teman Kalisat untuk sowan ke rumah seorang pejuang yang menikmati masa tuanya di desa Subo kecamatan Pakusari. Ada sesuatu yang lupa saya sampaikan padanya. Berikut catatan pendek yang sempat saya tuliskan.

Tadi saya sowan ke rumah Pak Mohari, saya ajak pula teman-teman Kalisat. Tiba-tiba beliau bicara tentang kursi roda. "Jika saya diajari, mungkin saya bisa duduk di kursi roda. Yang sakit bukan punggung saya, tapi pinggul. Saya tidak bisa berdiri. Mau bersandar pun tak bisa. Tapi jika hanya merebah saja, berhari-hari, kadang saya merasa bosan." Begitu kira2 yang tadi diucapkan Pak Mohari, lelaki pejuang kelahiran tahun 1926 ini.

18 Oktober pukul 19:52

Ada satu kunjungan lagi di hari itu yang perlu saya cantumkan di sini, sebelum saya dan Hana menuju ke rumah Pak Mohari. Ya, kami menepati janji untuk sesegera mungkin menjumpai pasangan Suporahardjo-Farha Ciciek di Tanoker Ledokombo, kabupaten Jember. Ketika itu saya ajak pula dua adik saya yang aktif berproses di bawah naungan Yayasan Sokola, Ananda Firman Jauhari beserta Fitri, serta dua sahabat baik dari Kalisat, Mas Roni dan Mas Krisna Kurniawan namanya.


Di Tanoker Ledokombo, 18 Oktober 2016

Saya memiliki kisah yang baik di Tanoker, setidaknya sejak tahun lalu ketika saya menulis untuk mereka di acara Jambore Buruh Migran.

Pada 22 Oktober 2016 saya dan istri telah melakukan perjalanan menuju sebuah kampung di kabupaten Banyuwangi. Kampung itu bernama Bongkoran. Untuk menuju ke sana, kami harus melalui jalur Utara, melintasi Bondowoso dan Situbondo. Dalam perjalanan itu, kami sempatkan untuk singgah di kediaman rekan-rekan satu pemikiran.

Di Bongkoran Banyuwangi, kami banyak belajar dari Ika Ningtyas dan Gus Muhammad Al-Fayyadl. Tak hanya tentang perjuangan masyarakat petani Bongkoran, melainkan juga tentang memandang ketidakadilan yang terjadi di Tumpang Pitu Banyuwangi, dari sisi ilmu fiqih. Tema yang berat, saya merasa tak mengerti apa-apa. Senang bisa singgah sejenak di Pesantren Agraria Bongkoran.

Esok harinya, 23 Oktober 2016, kami berdua telah ada di kediaman Tita di Bondowoso. Hari itu, kami sempatkan pula untuk mengunjungi Museum Kereta Api Bondowoso yang baru diresmikan pada 17 Agustus 2016.

Esok harinya, kami menemani keluarga Cak Har di desa Sumberjeruk, Kalisat. Harga tembakau buruk, kami menemani mereka. Meski tak melakukan apa-apa, semoga kehadiran kami memiliki arti meskipun hanya secuil saja.

Setelah itu, di hari-hari selanjutnya hingga 1 November 2016, kami kedatangan tamu, dua sahabat Ghuiral dari Amerika Serikat. Mereka berdua adalah Palmeer dan Logan. Dua-duanya mencintai musik, dan tak terkejut bila harus tinggal di desa. Bersama Palmeer dan Logan, saya aktif terlibat diskusi seputar tentang sejarah dan etnomusikologi. Tentu saja perjumpaan budaya ini menjadi penutup yang manis untuk catatan hidup saya di sepanjang bulan Oktober.

2.11.16

Mengenang Hotel Seroja Jember

2.11.16
Jember pernah punya penginapan di dekat pusat kota, namanya Hotel Seroja. Pemiliknya adalah pengusaha dari Kalisat. Ia pernah direnovasi di era 1980an, kemudian mengalami kemandegan, dan mulai dibongkar sejak akhir September 2013. Kini di atas tanah 'Hotel Seroja' berdiri deretan waralaba modern.

Ketika Seroja telah tinggal cerita, beberapa orang mulai bertanya-tanya, 'Mengapa Hotel Seroja justru gulung tikar di saat bisnis penginapan di Jember sedang bergeliat?' Ada yang bilang, ia telah berganti kepemilikan. Ada juga yang berkata, usaha penginapan tersebut kembang-kempis sebab tak pernah melakukan inovasi alias reka baru.


Hotel Seroja. Foto milik Dodit Rahadi, diunggah di grup Nostalgia Kampung Jember pada 14 April 2012

Di sebuah grup Facebook Nostalgia Kampung Jember, Joyce Köhler, Ibunda dari Ahmad Dhani, ia menulis, "Tahun 1982 saya pernah nginep bersama anak-anak."

Nostalgia tentang Hotel Seroja rupanya bukan hanya milik Joyce Köhler saja. Banyak orang yang memiliki kenangan dengan Seroja.

Di penghujung tahun 2012, seorang teman bernama Achmad Bachtiar pernah bilang begini kepada saya, "Jare Ibukku, mbiyen Hotel Seroja iku jenenge duduk Seroja, tapi Hotel Serudji." Di tahun berikutnya, ketika saya tanyakan itu kepada cucu pejuang Jember, Letkol Moch. Sroedji, Irma Devita Purnamasari namanya, ternyata apa yang dikatakan Ibu teman saya benar. Mulanya Hotel Seroja bernama Hotel Serudji. Karena berbagai pertimbangan, pada akhirnya pihak keluarga meminta secara baik-baik kepada pihak pemilik hotel untuk berganti nama, maka jadilah Hotel Seroja.

Kini, ketika akan menulis kembali tentang Pesona Jogja Homestay, tiba-tiba saya teringat akan Hotel Seroja. Bukan karena apa, sebab Pesona Jogja Homestay adalah milik suami dari Irma Devita Purnamasari, cucu pejuang kemerdekaan Moch. Sroedji.

Tambahan

Baca tulisan saya tentang Pesona Jogja Homestay, berjudul; Penginapan itu Mengingatkanku Pada Losmen Bu Broto. Catatan selanjutnya berjudul; Jalan Menuju Pesona Jogja Homestay.

25.10.16

Jalan Menuju Pesona Jogja Homestay

25.10.16
Bila harus menggambarkan Pesona Jogja Homestay, maka akan saya ajak Anda untuk berimajinasi tentang hunian ala cluster dan atau town house. Tentang sebuah kotak lahan dimana di kiri kanannya terdapat enam rumah. Masing-masing terdiri dari tiga deret rumah dan saling berhadap-hadapan, dua lantai, serta dilengkapi dengan garasi. Bagian tengah adalah tanah lapang berpaving persegi panjang warna abu-abu. Ia kadang digunakan untuk sebuah pertemuan, tinggal ditata deretan kursi, dengan konsep pesta kebun. Bagian paling belakang yang berlawanan arah dengan gerbang adalah sebuah tembok, memisahkan antara homestay dengan persawahan yang membentang. Tepat di bagian bawah tembok adalah kolam ikan dengan suara gemericik air. Merdu.


Istri saya sedang foto bersama Atanasia Rian


Bersama Kak Widhi dari pihak Pesona Jogja Homestay

Adalah Kak Widhi, perempuan tomboy yang sigap menyetir mobil dan memiliki ketenangan yang stabil ketika harus menemani dan memperlakukan para tamu di Pesona Jogja Homestay. Dialah yang menjemput kami di stasiun Lempuyangan, saat saya dan istri serta Lozz Akbar telah tiba di Jogja.

Jarak antara stasiun Lempuyangan menuju lokasi Pesona Jogja Homestay tak jauh, hanya kami tempuh sekitar lima menit saja, dengan moda transportasi roda empat. Namun yang sedikit membuat saya bingung menghapal jalan, lokasi Pesona Jogja Homestay terletak di tengah-tengah pemukiman yang padat. Ia ada di kelurahan Tahunan, kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta.

Saya punya cara khusus untuk mengingat lokasi Pesona Jogja Homestay. Mula-mula, saya akan mencari Taman Makam Pahlawan Kusumanegara yang terletak di Umbulharjo. Taman Makam Pahlawan ini berada di tepi jalan besar yang ramai, di depannya terdapat pertigaan dan sebuah Perguruan Tingi bernama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja. Di samping kiri Taman Makam Pahlawan terdapat sebuah jalan beraspal bernama JL. Soga. Meskipun beraspal namun ia bukan jalan arus utama, melainkan jalan alternatif. Orang-orang mengenalnya sebagai jalan menuju Taman Siswa, sebab JL. Soga memang akan mengantarkan kita ke rumah Ki Hajar Dewantara. Rumah itu masih terawat baik hingga kini.


Jalan menuju Pesona Jogja Homestay yang saya hapal

Berikut adalah ancer-ancer Pesona Jogja Homestay yang pernah saya tulis di instagram, sepulang jalan kaki dari homestay menuju Taman Makam Pahlawan Umbulsari.

Sepulang dari TMP Kusumanegara, kami kembali berjalan kaki, melintas di trotoar JL. Soga, sebuah jalan yang berada tepat di sisi kiri taman makam. Setelah melalui JL. Soga, kita hanya harus mencari JL. Celeban. Ia mudah dijumpai sebab ada di pertigaan kecil yang ancer-ancernya adalah rumah Ki Hajar Dewantara. Jalan lagi hingga menjumpai Gang Pandu. Dari mulut gang, masih harus berjalan sedikit lagi, kurang dari 100 meter. Setelah itu, sampailah kita di depan gerbang Pesona Jogja Homestay, sebuah penginapan dengan suasana yang nyaman, mirip rumah sendiri.

24.10.16

Penginapan itu Mengingatkanku Pada Losmen Bu Broto

24.10.16
Perempuan itu bernama Kardiyati. Ia berbadan gemuk, berkulit sawo matang, wajahnya membulat, dengan gaya rambut kesayangan memanjang sebahu. Ketika Kardiyati masih muda, ia pernah memiliki rambut yang panjang sekali. Kardiyati memiliki banyak kesukaan, di antaranya adalah menanam bunga di halaman rumah yang tak seberapa luas. Ada saat dimana dia akan memetik bunga-bunga itu, lalu mencabut beberapa bunga liar, untuk kemudian menatanya di sebuah vas bunga berisi air segar. Setelahnya, ia akan meletakkan hasil karyanya di atas meja ruang tamu. Tentu ia juga melengkapi meja kecil itu dengan taplak. Manis sekali. Tak jauh dari meja ruang tamu ada sebuah lemari buffet yang terbuat dari kayu jati. Tepat di tengah lemari itu, di bagian bawah, terdapat sebuah pesawat televisi mungil 12 inchi, hitam putih.


Kardiyati di masa muda, ketika masih gadis. Mei 1969

Pernah pada suatu hari, Kardiyati ngomel-ngomel pada suaminya yang seorang pegawai negeri biasa. Katanya, baterai aki habis, sementara nanti malam ada acara di TVRI, Penginapan Bu Broto. Bila isi dompet suaminya sedang menjelang maghrib dan tak ada jalan keluar untuk isi baterai aki, pasangan suami istri ini tentu hanya akan melihat televisi yang mati, tumpukan piring di lemari buffet, tenong, deretan cinderamata hasil koleman, dan seonggok radio merek National.

Bila baterai aki kosong, malam adalah sunyi.

Entah mengapa Kardiyadi begitu menyukai serial Penginapan Bu Broto, atau yang biasa ia sebut sebagai Losmen Bu Broto. Kardiyati bahkan hapal dengan nama-nama pemeran cerita. Tokoh sentral kisah ini adalah Mieke Wijaya yang berperan sebagai Bu Broto, serta Mang Udel sebagai Pak Broto. Misalnya keadaan baik-baik saja dan tak ada masalah dengan aki, maka ini yang terjadi. Selama siaran dunia dalam berita, Kardiyati akan mendengarkan kabar-kabar dunia di masa Orde Baru itu sambil bikin sesuatu di dapur, letaknya tak jauh dari ruang tamu yang mungil. Ada saja karya kulinernya, entah bikin pisang goreng tanpa tepung yang disajikan dengan taburan gula pasir, entah hanya menyediakan wedang hangat. Apa saja asal ia dan keluarga kecilnya bisa menikmati 'Losmen Bu Broto' dengan bahagia.

Dimanakah Losmen Bu Broto? Apakah ia benar-benar ada? Jika melihat latar cerita, penginapan itu berada di Yogyakarta. Losmen itu tak benar-benar ada.

Kardiyati dan suami, mereka menikah pada 21 Januari 1974, dan kelak memiliki dua buah hati, perempuan dan laki-laki.

Si bungsu baru satu tahun belajar di Sekolah dasar dan sedang senang-senangnya membaca. Bila malam telah tiba, ketika si bungsu telah pulang dari mengaji di surau kecil di seberang rumahnya, maka si bungsu akan segera mengambil sebuah buku paket lalu membaca 'sesuatu' dengan volume suara yang keras. Tak akan ada orang yang protes, sebab di masa yang lalu, kegiatan itu adalah umum. Akan ada pemakluman bersama, dan budaya kecil itu bakal tumbuh menjadi sebuah kewajaran. Ia serupa porkas atau SDSB bagi para lelaki dewasa. Sedangkan Kardiyati, dia hanya ibu rumah tangga biasa. Ia memulai hari dengan sibuk menyiapkan banyak hal. Ketika kedua anaknya telah berangkat sekolah dan sang suami telah ngantor, Kardiyati masih disibukkan oleh urusan dapur. Itulah mengapa, penting bagi Kardiyati untuk menikmati waktu luang, di sore hari ketika sandiwara radio telah dimulai kemudian dilanjut dengan dakwah Zainuddin MZ, dan menikmati hidup di malam hari, selonjoran di depan televisi kecil. Nyaris tak ada waktu untuk memikirkan negara.

Suatu hari, keadaan ekonomi keluarga itu memburuk. Hilang sudah lemari buffet tempat nangkringnya pesawat televisi, piring-piring, radio merek National, cinderamata, dan tenong. Belum sebulan, nasib serupa dialami juga oleh meja makan beralaskan triplek melamin yang warnanya seperti warna kolam renang. Ketika pada akhirnya pesawat televisi beserta baterai aki ikut terjual, mata Kardiyati sembab. Tapi dapur harus tetap mengepul agar si bungsu bisa tetap kuat membaca buku keras-keras.

Nasib sial kembali terulang ketika si bungsu menginjak kelas lima sekolah dasar. Ekonomi keluarga kecil itu jatuh ke dasar, hingga tak mungkin bisa jatuh lagi sebab telah sampai pada dasar yang paling dasar. Itu terjadi justru ketika keluarga tersebut telah bisa pasang listrik negara bertegangan 110 Volt, dan ketika suami Kardiyati baru saja dipercaya warga untuk didapuk sebagai Ketua RW.

Hari berganti, keluarga ini mencoba bertahan. Tiga perempat rumahnya disewakan kepada keluarga dari Singaraja, Bali. Mereka yang terdiri dari empat nyawa, pada akhirnya bikin hunian sendiri di sudut belakang rumah yang mula-mula adalah gudang dan kandang ayam. Dindingnya dari bekas papan reklame, di antaranya bekas papan reklame baterai ABC. Sebuah keluarga yang tak pernah kaya raya, terjatuh pula! Berkeping-keping. Mereka mencoba kuat. Hampir berhasil, jika saja si bungsu tak melakukan kesalahan fatal.

Tanpa kardiyati sadari, itu adalah masa-masa sulit bagi si bungsu. Di sekolahnya, ketika teman-teman si bungsu mulai bercerita tentang film yang mereka tonton dari video player, si bungsu tak mau kalah. Ia seperti tak sudi hanya menjadi pendengar. Lalu lahirlah dusta dari bibirnya. "Semalam aku nonton video di rumah saudaraku, begini ceritanya.." Teman-temannya tak tahu bila si bungsu hanya mengarang-ngarang saja, berdasarkan imajinasi yang entah bermula dari mana. Semuanya dusta. Rupanya dusta-dusta itu tak berlangsung lama, hanya terbilang bulan saja. Teman-temannya segera tahu bahwa si bungsu hanya sedang berbohong. Dia tentu malu. Sangat malu. Pelajaran pertama dalam hidupnya tentang dampak dusta.

Hari berlalu, si bungsu bertumbuh besar.

Suatu hari, sedari tanggal 12 Oktober hingga 17 Oktober 2016, si bungsu mengajak istrinya menyegarkan diri di Jogja, di sebuah tempat penginapan bernama Pesona Jogja Homestay. Ruang yang nyaman, letaknya ada di tengah-tengah pemukiman masyarakat Umbulharjo, namun akses ke sudut-sudut Jogja pun mudah.

Setiap kali ada waktu senggang, si bungsu akan berlama-lama merenung di dalam kamar, sambil kedua matanya menatap layar televisi berteknologi LED yang menempel di dinding kamar. Sepanjang menginap di Pesona Jogja Homestay, TV itu tak pernah ia nyalakan. Cukuplah ia memandang layar yang mati itu, namun imajinasinya telah kembali terbang ke masa kecil, saat dimana keluarga kecilnya masih memiliki buffet beserta isinya, meja makan dengan triplek melamin warna kolam renang, dan TV hitam putih 12 inchi bertenaga baterai aki. TV yang tergolek mati di dalam kamar itu bercerita tentang segalanya.

Si bungsu dalam kisah ini adalah saya, sedangkan Kardiyati adalah nama Almarhumah Ibu saya. Pesona Jogja Homestay, dalam imajinasi saya, ia memiliki suasana seindah dalam kisah Losmen Bu Broto.

Pesona Jogja Homestay, terima kasih. Tak lama lagi akan saya tuliskan kisah tentang suasana nyaman di Pesona Jogja Homestay. Tanpa dusta, sebab berdusta adalah buruk, sangat buruk.

14.8.16

Kopi Dangdut On the Blog

14.8.16


Lagu berjudul Kopi Dangdut ini kali pertama dipopulerkan oleh penyanyi asal Palembang, Fahmi Shahab, pada 1991. Ia juga disukai oleh negeri jiran, Malaysia.

Pakde Cholik, selamat hari lahir. Merdeka!



6.5.16

Kami Hanya Sedang Rindu

6.5.16

Kalisat, 17 Mei 2015

Apakah kamu masih ingat detik-detik ketika foto ini diabadikan? Waktu itu kalian berempat sedang macak bermain ayunan, seusai perayaan Isra Miraj. Mas Bajil yang mengabadikannya. Aku dan Hana tentu masih mengingatnya, hari dimana kami tinggal di rumah kontrakan lama, di hari yang ke-27. Ia beralamatkan di JL. Kartini 28 Kalisat. Kamu tampak anggun saat mengenakan baju berwarna kuning, jilbab, dan sebuah kalung.

Dua tahun sebelumnya, Mei 2013, aku dan Hana serta VJ Lie, kami bermain ke rumahmu di Semboro. Di ruang tamu, tampak sebingkai foto yang berbeda. Itu foto dirimu ketika masih SMP. Lucu. Kau berdandan ala Kartini, dengan polesan makeup tebal. Foto itu kami repro dan simpan hingga sekarang.

Pada 28 November 2013, aku menulis sebuah catatan pendek untukmu, berjudul; Ada banyak cara untuk terbang meskipun kita tak bersayap. Kiranya itu adalah tahun penuh perenungan untukmu.

Kadang, saat sedang rebahan dan hendak berangkat terlelap, kami memperbincangkan dirimu. Sedari kali pertama mengenalmu, hingga hari-hari yang lain. Nostalgia sebelum tidur.

Hari pun berlalu. Kita semakin jarang berjumpa.

Kami membaca catatan-catatanmu, dan kami senantiasa bahagia mendengarmu bahagia. Rupanya sejak pertengahan bulan Juni 2015 kau telah punya tokoh utama di buku harianmu. Kabar yang baik. Merdu.

Ini catatan yang biasa. Kami hanya sedang rindu.
acacicu © 2014