24.10.16

Penginapan itu Mengingatkanku Pada Losmen Bu Broto

24.10.16
Perempuan itu bernama Kardiyati. Ia berbadan gemuk, berkulit sawo matang, wajahnya membulat, dengan gaya rambut kesayangan memanjang sebahu. Ketika Kardiyati masih muda, ia pernah memiliki rambut yang panjang sekali. Kardiyati memiliki banyak kesukaan, di antaranya adalah menanam bunga di halaman rumah yang tak seberapa luas. Ada saat dimana dia akan memetik bunga-bunga itu, lalu mencabut beberapa bunga liar, untuk kemudian menatanya di sebuah vas bunga berisi air segar. Setelahnya, ia akan meletakkan hasil karyanya di atas meja ruang tamu. Tentu ia juga melengkapi meja kecil itu dengan taplak. Manis sekali. Tak jauh dari meja ruang tamu ada sebuah lemari buffet yang terbuat dari kayu jati. Tepat di tengah lemari itu, di bagian bawah, terdapat sebuah pesawat televisi mungil 12 inchi, hitam putih.


Kardiyati di masa muda, ketika masih gadis. Mei 1969

Pernah pada suatu hari, Kardiyati ngomel-ngomel pada suaminya yang seorang pegawai negeri biasa. Katanya, baterai aki habis, sementara nanti malam ada acara di TVRI, Penginapan Bu Broto. Bila isi dompet suaminya sedang menjelang maghrib dan tak ada jalan keluar untuk isi baterai aki, pasangan suami istri ini tentu hanya akan melihat televisi yang mati, tumpukan piring di lemari buffet, tenong, deretan cinderamata hasil koleman, dan seonggok radio merek National.

Bila baterai aki kosong, malam adalah sunyi.

Entah mengapa Kardiyadi begitu menyukai serial Penginapan Bu Broto, atau yang biasa ia sebut sebagai Losmen Bu Broto. Kardiyati bahkan hapal dengan nama-nama pemeran cerita. Tokoh sentral kisah ini adalah Mieke Wijaya yang berperan sebagai Bu Broto, serta Mang Udel sebagai Pak Broto. Misalnya keadaan baik-baik saja dan tak ada masalah dengan aki, maka ini yang terjadi. Selama siaran dunia dalam berita, Kardiyati akan mendengarkan kabar-kabar dunia di masa Orde Baru itu sambil bikin sesuatu di dapur, letaknya tak jauh dari ruang tamu yang mungil. Ada saja karya kulinernya, entah bikin pisang goreng tanpa tepung yang disajikan dengan taburan gula pasir, entah hanya menyediakan wedang hangat. Apa saja asal ia dan keluarga kecilnya bisa menikmati 'Losmen Bu Broto' dengan bahagia.

Dimanakah Losmen Bu Broto? Apakah ia benar-benar ada? Jika melihat latar cerita, penginapan itu berada di Yogyakarta. Losmen itu tak benar-benar ada.

Kardiyati dan suami, mereka menikah pada 21 Januari 1974, dan kelak memiliki dua buah hati, perempuan dan laki-laki.

Si bungsu baru satu tahun belajar di Sekolah dasar dan sedang senang-senangnya membaca. Bila malam telah tiba, ketika si bungsu telah pulang dari mengaji di surau kecil di seberang rumahnya, maka si bungsu akan segera mengambil sebuah buku paket lalu membaca 'sesuatu' dengan volume suara yang keras. Tak akan ada orang yang protes, sebab di masa yang lalu, kegiatan itu adalah umum. Akan ada pemakluman bersama, dan budaya kecil itu bakal tumbuh menjadi sebuah kewajaran. Ia serupa porkas atau SDSB bagi para lelaki dewasa. Sedangkan Kardiyati, dia hanya ibu rumah tangga biasa. Ia memulai hari dengan sibuk menyiapkan banyak hal. Ketika kedua anaknya telah berangkat sekolah dan sang suami telah ngantor, Kardiyati masih disibukkan oleh urusan dapur. Itulah mengapa, penting bagi Kardiyati untuk menikmati waktu luang, di sore hari ketika sandiwara radio telah dimulai kemudian dilanjut dengan dakwah Zainuddin MZ, dan menikmati hidup di malam hari, selonjoran di depan televisi kecil. Nyaris tak ada waktu untuk memikirkan negara.

Suatu hari, keadaan ekonomi keluarga itu memburuk. Hilang sudah lemari buffet tempat nangkringnya pesawat televisi, piring-piring, radio merek National, cinderamata, dan tenong. Belum sebulan, nasib serupa dialami juga oleh meja makan beralaskan triplek melamin yang warnanya seperti warna kolam renang. Ketika pada akhirnya pesawat televisi beserta baterai aki ikut terjual, mata Kardiyati sembab. Tapi dapur harus tetap mengepul agar si bungsu bisa tetap kuat membaca buku keras-keras.

Nasib sial kembali terulang ketika si bungsu menginjak kelas lima sekolah dasar. Ekonomi keluarga kecil itu jatuh ke dasar, hingga tak mungkin bisa jatuh lagi sebab telah sampai pada dasar yang paling dasar. Itu terjadi justru ketika keluarga tersebut telah bisa pasang listrik negara bertegangan 110 Volt, dan ketika suami Kardiyati baru saja dipercaya warga untuk didapuk sebagai Ketua RW.

Hari berganti, keluarga ini mencoba bertahan. Tiga perempat rumahnya disewakan kepada keluarga dari Singaraja, Bali. Mereka yang terdiri dari empat nyawa, pada akhirnya bikin hunian sendiri di sudut belakang rumah yang mula-mula adalah gudang dan kandang ayam. Dindingnya dari bekas papan reklame, di antaranya bekas papan reklame baterai ABC. Sebuah keluarga yang tak pernah kaya raya, terjatuh pula! Berkeping-keping. Mereka mencoba kuat. Hampir berhasil, jika saja si bungsu tak melakukan kesalahan fatal.

Tanpa kardiyati sadari, itu adalah masa-masa sulit bagi si bungsu. Di sekolahnya, ketika teman-teman si bungsu mulai bercerita tentang film yang mereka tonton dari video player, si bungsu tak mau kalah. Ia seperti tak sudi hanya menjadi pendengar. Lalu lahirlah dusta dari bibirnya. "Semalam aku nonton video di rumah saudaraku, begini ceritanya.." Teman-temannya tak tahu bila si bungsu hanya mengarang-ngarang saja, berdasarkan imajinasi yang entah bermula dari mana. Semuanya dusta. Rupanya dusta-dusta itu tak berlangsung lama, hanya terbilang bulan saja. Teman-temannya segera tahu bahwa si bungsu hanya sedang berbohong. Dia tentu malu. Sangat malu. Pelajaran pertama dalam hidupnya tentang dampak dusta.

Hari berlalu, si bungsu bertumbuh besar.

Suatu hari, sedari tanggal 12 Oktober hingga 17 Oktober 2016, si bungsu mengajak istrinya menyegarkan diri di Jogja, di sebuah tempat penginapan bernama Pesona Jogja Homestay. Ruang yang nyaman, letaknya ada di tengah-tengah pemukiman masyarakat Umbulharjo, namun akses ke sudut-sudut Jogja pun mudah.

Setiap kali ada waktu senggang, si bungsu akan berlama-lama merenung di dalam kamar, sambil kedua matanya menatap layar televisi berteknologi LED yang menempel di dinding kamar. Sepanjang menginap di Pesona Jogja Homestay, TV itu tak pernah ia nyalakan. Cukuplah ia memandang layar yang mati itu, namun imajinasinya telah kembali terbang ke masa kecil, saat dimana keluarga kecilnya masih memiliki buffet beserta isinya, meja makan dengan triplek melamin warna kolam renang, dan TV hitam putih 12 inchi bertenaga baterai aki. TV yang tergolek mati di dalam kamar itu bercerita tentang segalanya.

Si bungsu dalam kisah ini adalah saya, sedangkan Kardiyati adalah nama Almarhumah Ibu saya. Pesona Jogja Homestay, dalam imajinasi saya, ia memiliki suasana seindah dalam kisah Losmen Bu Broto.

Pesona Jogja Homestay, terima kasih. Tak lama lagi akan saya tuliskan kisah tentang suasana nyaman di Pesona Jogja Homestay. Tanpa dusta, sebab berdusta adalah buruk, sangat buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

acacicu © 2014